Trip Report: Menjajal Bus Malam Rosalia Indah Kelas Paling Mewah

Di akhir Januari 2019 lalu, saya pulang ke Jakarta dari Temanggung dengan naik bus. Meski bus OBL yang saya naiki tidak nyaman-nyaman amat, tapi perjalanan itu membuat saya jadi mempertimbangkan untuk naik bus di perjalanan selanjutnya.

Di minggu kedua bulan Maret 2019, saya kembali pergi ke Solo. Dari Jakarta, saya menaiki kereta api Gaya Baru Malam Selatan yang ongkosnya 98 ribu sampai ke Purwosari. Untuk pulangnya, saya bingung. Jika memilih naik kereta lagi, semua tiket kereta subsidi kala itu sudah ludes. Tersisa KA Senja Utama Solo kelas ekonomi, tarifnya 300, atau KA Argo Dwipangga yang tarifnya 550 ribu. Harga segitu agaknya terlalu mahal buat saya. Jadi, saya pun mencoba mencari alternatif lain.

Saya coba mencari-cari informasi dari beberapa rekan dan referensi di internet. Terbersitlah ide untuk menaiki bus malam saja, tapi bus malam dengan kelas yang paling wahid alias mewah supaya saya bisa istirahat dan sampai di Jakarta langsung kerja. Saya screening Perusahaan Otobis (PO) mana sajakah yang menyediakan layanan ini dan pilihan saya jatuh kepada PO Rosalia Indah.

Pemesanan online

Oh ya, sebelumnya artikel ini ditulis bukan sebagai artikel endorse atau paid-promote, melainkan karena saya merasa puas akan pengalaman yang diberikan PO Rosalia Indah. Saya ingin membagikan pengalaman ini kepada teman-teman sekalian, agar teman-teman bisa mempertimbangkan opsi perjalanan antar kota di Pulau Jawa yang lebih beragam dan menyenangkan.

Awalnya saya sempat bingung hendak pesan tiketnya bagaimana. Saya agak kurang yakin dengan pesan tiket bus online. Takut kalau tiba-tiba busnya tidak datang, atau bahkan takut kalau saya nanti tidak tahu busnya akan naik dari mana. Tapi, setelah saya buka website resmi PO Rosalia Indah, saya merasa lebih yakin. Dari tampilannya, website PO Rosalia Indah tampak profesional dan meyakinkan sehingga saya pun memberanikan diri untuk mengikuti prosedur pemesanan.

Sebelum memesan, di website juga tersedia informasi berupa fasilitas dan kelas-kelas bus yang tersedia. Saya kepincut dengan kelas Super Top SHD. Busnya berwarna kelabu, bermerek Scania, dan konfigurasinya tempat duduknya 2-1. Bus kelas paling atas ini kapasitas penumpangnya hanya 21 orang. Sehingga jarak antar kakinya lega. 

Singkat cerita, saya berhasil memesan satu tiket perjalanan dari Agen Gilingan, Solo menuju Kalideres Jakarta. Kelas bus yang saya ambil adalah Super Top SHD dan saya duduk di hot seat, kursi nomor 1.

Prosedur pemesanan sangat mudah. Tinggal isi data diri, lalu bayar menggunakan beberapa metode (saya pilih pakai Debit Visa), lalu keluarlah tiket elektroniknya. Tiket elektronik ini rupanya tidak dikirimkan ke alamat email (mungkin ini hanya kasus saya saja), jadi silakan difoto, atau dicatat kode pemesanannya. 

Hari keberangkatan

Saya berangkat di hari Senin, 18 Maret 2019. Di tiket elektronik tertulis bus akan berangkat pukul 15:00. Satu jam sebelum jadwal berangkat, saya sudah tiba di agen Rosalia Indah Gilingan, Solo. Ukuran bangunannya tidak terlalu besar, tetapi sangat mudah diakses karena lokasinya di pinggir jalan dekat dengan Stasiun Solo Balapan dan Terminal Tirtonadi. Kebersihan agen pun terjaga. Ada kursi-kursi dengan jumlah memadai. Dan di pojok ruangan tersedia tempat untuk mengisi baterai ponsel.

Saya check-in terlebih dulu. Tiket elektronik lalu ditukar dengan selembar tiket dari kertas HVS dan satu kupon makan. Saya juga diberi sebotol air minum. Bus yang nanti akan saya tumpangi berkode SHD 104, keberangkatan dari Madiun tujuan Jakarta (Tangerang) via Terminal Kalideres.

Loket di agen Gilingan. Saat tiba di sini, segera lapor untuk tahu kode bus dan mendapatkan air serta kupon makan.

Lapangan terbuka di belakang agen, digunakan sebagai tempat bus putar balik.

Saya menunggu kira-kira satu jam. Satu per satu bus mulai berdatangan. Kebanyakan datang dari Madiun dengan aneka tujuan seperti Merak, Bogor, Bekasi Timur, dan sebagainya. Setiap kali bus datang, petugas memanggil penumpang menggunakan mikrofon. Bus lalu berhenti tak sampai 5 menit dan berangkat lagi.

Bus yang akan saya tumpangi rupanya tersendat macet, sehingga ia baru muncul di agen sekitar jam 15:30. Keterlambatan minor seperti ini adalah hal yang sangat wajar jika naik bus, mengingat bus tidak punya jalur sendiri. Kecepatan dan ketepatan waktu bus sangat menyesuaikan kondisi lalu lintas.

“SHD 104, penumpang dengan kode bus SHD 104 silakan naik ke dalam bus,” suara menggema dari speaker.

Saya bergegas menghampiri bus yang sedang putar balik di belakang agen. Dari penampakan luarnya, jelaslah bus ini usianya masih muda. Bus SHD adalah bus “kekinian”. Desain kabin penumpangnya dibuat lebih tinggi, sedangkan posisi kemudi lebih rendah. Kaca depannya terbagi dua, jadi bus mirip seperti sedang memakai topi. Ketika berhenti, tinggi bus akan direndahkan untuk memudahkan penumpang naik.

Tak sampai 5 menit, bus melaju meninggalkan agen Gilingan. Hanya ada sekitar 5 orang penumpang yang naik dari sini.

Ruang kaki di kursi 1A. Jaraknya lega. Ransel 45liter muat dan masih tersisa banyak ruang buat kaki.

Konfigurasi kursi 2-1. Super lega dan nyaman. Satu bus penumpangnya hanya 21 saja.

Mulus melaju di jalan raya

Dari Solo hingga Salatiga, bus tidak memasuki Tol Transjawa. Di Kartasura, Boyolali, dan Salatiga bus berhenti di terminal untuk menaikkan penumpang. Selepas Salatiga, bus masuk ke dalam tol dan keluar di Ungaran untuk kembali mengambil penumpang.

Selepas Ungaran, ke-21 kursi di dalam bus terisi penuh. Bus lalu kembali berbelok ke dalam tol dan melesat kencang menuju ke barat. Selimut pun dibagikan kepada penumpang. Selimutnya beraroma molto, dan dibungkus rapi dalam kemasan plastik. 

Saya mengamati speedometer, laju bus sekitar 100 hingga 120 km/jam, namun bus tidak terasa goyang ataupun terdengar bunyi kriyet…kriyet seperti bangunan reyot. Bus melaju mantap di atas aspal beton.

Selepas Salatiga, Tol Transjawa dalam balutan jingga.

Selepas Bawen, Gunung Ungaran tampak membiru dan di belakangnya rona jingga menyembul.

Sekitar jam 7 malam, bus tiba di Rumah Makan Sari Rasa untuk beristirahat dan santap makan malam. Penumpang dipersilakan turun dan dapat langsung menuju ruangan makan. Khusus untuk penumpang kelas Super Top SHD, ruang makannya terpisah dari penumpang kelas lain. Saya mendapatkan fasilitas berupa ruang makan prasmanan yang ber-ac dan dilengkapi toilet (jadi nggak usah bayar 2 ribu). Dan, makannya boleh sepuasnya, tidak dijatah. Ada nasi putih, sohun, tempe, telur dadar, ayam, sayur bayam, kerupuk, dan teh manis. Soal rasa, makanan di sini cukup nikmat dan mengenyangkan.

Bicara soal servis makan, saya rasa ini adalah juaranya bus malam. Layanan kelas termurah (patas) sekalipun mendapatkan servis makan malam, walaupun tentu porsi dagingnya dijatah. Ini adalah hal yang baik dan menguntungkan penumpang, apalagi perjalanan antar-provinsi di Jawa tentu di atas 8 jam.

Dulu, (saya lupa persisnya) kereta api pernah mengadakan servis tuslah, atau layanan makan gratis di atas kereta. Tapi, layanan ini khusus untuk penumpang kelas argo. Sekarang layanan tuslah tidak ada lagi. Penumpang kelas apapun jika ingin makan harus membeli di restorasi. Harga makanan berat berupa nasi goreng di KA Eksekutif/Bisnis/Premium berkisar 33 ribu. Sedangkan di KA PSO makanan berat berkisar 25 ribu rupiah.

Penumpang antre mengambil makanan.

Ini sedikit karena porsi makan saya memang sedikit. Rasa makanannya nikmat dan disajikan hangat.

Selama di RM Sari Rasa, bus berhenti sekitar 40 menit. Lima belas menit pertama saya gunakan untuk makan, lalu ritual ke kamar mandi. Setelahnya, saya berjalan-jalan mengitari area rumah makan. Karena didesain khusus sebagai spot istirahat aneka bus malam, rumah makan ini areanya luas sekali. Bus Rosalia Indah bersama bus-bus malam lainnya tim Wonogiri (Gunung Mulia, dsb) mendapatkan jatah di bangunan yang agak di pojok. Di bangunan yang lain saya melihat ada bus Kramat Djati, Gunung Harta, Haryanto, Harapan Jaya, Garuda Mas, dan sebagainya.

Bus-bus lain pun turut beristirahat di sini.

Bokong bus dibuka biar adem.

Bus Gunung Mulia sedang parkir.

Si cantik Mbak Rosin.

Tol Trans Jawa

Berbeda dengan pengalaman saya di Januari. Ketika naik OBL kelas Patas, selepas santap malam di Weleri, bus tidak segera masuk tol. Bus menyusuri Pantura hingga Pemalang baru masuk tol. Namun, Rosalia Indah berbeda. Setelah makan malam, bus langsung masuk tol kembali melalui pintu tol Weleri.

Sepertinya manajemen bus telah mempersiapakan keberangkatan dengan cermat dan baik. Sewaktu driver menempelkan e-toll, terlihat saldonya adalah 1 juta rupiah! Jadi bus tidak perlu takut kehabisan saldo saat bayar tol. Selain itu, bus Rosalia Indah juga dilengkapi oleh pramugara berseragam yang memastikan perjalanan terasa nyaman. Kalau di bus-bus lain, pramugara ini menjelma dalam bentuk “kenek” yang tugasnya biasanya menagih ongkos.

Dari Weleri hingga Tegal, bus dipacu dengan kecepatan 120 km/jam. Kondisi jalan sangat sepi dan bus hanya sesekali mengerem. Di lintasan ini, bus belum banyak bertemu “lawan”. Dari arah Jakarta, bus-bus Muriaan seperti Shantika, Haryanto mulai berdatangan, disusul kemudian dengan Agra Mas, dsb.

Karena tidak ada adegan “balapan”, saya jadi mengantuk dan tertidur.

Memasuki Tol Pejagan-Palimanan, barulah saya terbangun. Di lintasan ini, jalan tol mulai ramai. Tol yang hanya memiliki dua lajur ini padat oleh bus-bus Sinar Jaya dari arah selatan yang sudah berangkat sejak sore. Adegan “balapan” pun dimulai.

Eits, tapi jangan antipati dulu bahwa bus Rosalia Indah yang saya naiki ini ugal-ugalan. Tidak kok. Hanya, dengan hadirnya bus-bus lain, mau tidak mau adengan menyalip dan disalip jadi momen yang sering terjadi. Dan, buat saya dan teman-teman yang suka naik bus tentu ini adalah kesempatan yang menyenangkan. Apalagi jika mendapatkan posisi duduk di hot seat.

Whuss. Bus melaju hendak menyusul Sinar Jaya, namun tetap, Sinar Jaya tidak terkejar. 

Rest area modern

Tanpa terasa, jam 12 malam bus telah tiba di Subang. Di sini bus keluar tol untuk masuk ke rest area khusus Rosalia Indah. Awalnya saya tidak tahu kalau bus akan masuk rest-area, saya pikir paling cuma minum solar.

Rest area Rosalia Indah di Subang ini bangunannya besar dan tanahnya lapang. Bentuknya mirip-mirip dengan bandara mini. Penumpang dipersilakan turun untuk beristirahat selama kurang lebih 10 menit. Jika bus berangkat dari barat (Jakarta), servis makan malam akan dilakukan di rest-area ini. Interior dan kebersihannya jauh lebih bagus daripada rest-area di RM. Sari Rasa, pun jika saya bandingkan dengan rest area milik PO-PO lainnya yang pernah saya naiki, ini yang terbaik.

Tempat makan didesain selayaknya restoran. Pun ada toilet yang dilengkapi dengan shower air panas.

Rest area kedua.

Tersedia spot selfie

Sedikit cerita, dari pengamatan pribadi saya sendiri, saya melihat perusahaan bus yang maju biasanya bisnisnya tidak hanya di satu lini saja. Sebut saja Rosalia Indah, selain menyediakan layanan bus malam AKAP, pemiliknya juga berekspansi bisnis ke bidang ekspedisi antar barang, restoran, hotel, bus pariwisata, SPBU, mini market dan sebagainya. Jika hanya menjadikan sektor bus AKAP sebagai tulang punggung utama, agaknya akan berat buat perusahaan bisa bertumbuh. Pasalnya, bus malam tak selalu penuh setiap harinya. Ada kalanya ketika penumpang sepi, bus harus tetap berangkat dan merugi. Belum ditambah biaya perawatan bus, dan lain sebagainya yang bisa membuat perusahaan merogoh kocek dalam-dalam.

Kembali ke dalam tol

Pukul 00:15, bus kembali bertolak. Sampai di sini saya mengantuk dan memutuskan tidur. Besok pagi harus kembali kerja di kantor.

Saya mengakui kursi Rosalia Indah kelas Super Top SHD ini sangat nyaman. Ukurannya besar. Bisa direbahkan beberapa derajat. Ada bantal, selimut, dan foot-rest. Tak sampai lima menit, saya segera jatuh tertidur, dan bangun-bangun bus sudah tiba di Bekasi Timur, di spot macet abadi Jalan Tol Jakarta-Cikampek.

Titik kemacetan di Tol Japek ini adalah momok yang menyeramkan, yang membikin banyak orang berpikir dua kali kalau harus naik transportasi bus. Bersyukur di subuh kali ini macetnya hanya dua jam. Seminggu sebelumnya, saya terjebak macet di Karawang hingga Bekasi selama enam jam!

Macet di Cikarang Utama hingga Bekasi.

Pukul 02:50 bus telah keluar dari Tol Dalam Kota Jakarta dan berbelok menuju Jalan Daan Mogot. Pukul 03:00, bus tiba di depan Halte Busway Pesakih dan saya turun di sini. Saya tinggal menyeberang, jalan kaki 1 kilometer, dan tibalah di kantor.

Jika dihitung-hitung, perjalanan dengan bus kelas super wahid Rosalia Indah ini masih jauh lebih murah jika dibandingkan dengan naik kereta api Senja Utama Solo kelas ekonomi. Jika naik kereta, saya harus merogoh tiket 300 ribu. Itu belum ditambah makan di jalan dan ongkos ojek dari Stasiun Senen ke kantor yang tarifnya 50 ribu. Dan, belum juga ditambah dengan biaya sewa bantal  7 ribu.

Sedangkan jika naik bus Rosalia Indah, saya cuma perlu membayar 260 ribu saja sudah termasuk makan, minum, selimut, bantal, dan tidak perlu naik ojek lagi karena lokasi turunnya dekat dengan kantor.

Demikian kira-kira catatan perjalanan Jalancerita bersama Bus Malam Rosalia Indah. Jika diberi skala 1 sampai 10, saya akan menilai perjalanan kali ini dengan angka 9,5.

Teruntuk teman-teman yang membaca tulisan ini dari awal sampai akhir, semoga catatan ini membantu teman-teman dalam menentukan referensi perjalanan antar kota di Pulau Jawa.

Salam,
Jalancerita

 

10 Comments on “Trip Report: Menjajal Bus Malam Rosalia Indah Kelas Paling Mewah

  1. wah ternyata bus ada pengelompokan wonogiri, muria, dan selatan ya?

    perjalanan bus memang menjanjikan tidur yg lebih baik ketimbang KA ekonomi, apalagi ekonomi PSO 😅

    • Ada mas, tiap PO punya asal daerah masing-masing hehe. Semisal, Rosin: Solo; Gunung Harta: Malang; Budiman: Tasikmalaya, dll.

      Soal tidur, kursi bus lebih nyaman ketimbang K3 PSO hahaha.

  2. udah lama banget gak naik bus ke jakarta, terakhir tahun 2006 wkwkwk
    ini tiketnya berapa mas? boleh nih dicoba..

  3. Aku yo paling suka kalau pas menjelang petang melintas di TOL Semarang-Bawen, view-nya itu lho….menggoda buat jepret….wkwkw

    Dulu saya pas naik travel lihat spedometer sampai 130an, terus iseng cek speed di GPS, aslinya cuman 100an, gak kebayang kalau 130 asli kayak apa rasanya naik travel mobil kecil….hihihi

    • Aduh, kalau naik travel kecepatan segitu mah goyang banget kayaknya ya hehehe.

      Tp setuju, tol Semarang-Bawen viewnya memang ajib 😀

  4. Dibanding pesawat yang harganya kayak pungguk merindukan bulan, kereta yg mahal, kalo bus antar kota pelayanannya bagus n harganya masuk akal kayak gini aku yakin pada banyak yg mau balik lagi naik bus deh, apalagi kalo full lewat tol transjawa, makin cepet 😉 makasih infonya Aryanto..kayaknya aku pengen cobain deh

    • Btul mas, tinggal satu kendalanya nih: macet di Tol Japek. Kalau Tol Japek sudah jadi yang elevated dan tidak macet, makin cepat nih naik bus.

  5. oooh ini kayak Royal Damri gitu ya?!
    kirain yang tipe sleepers bus itu masih ada gak sih?

    • Iyap, sejenis Royal Damri.

      kalau yang sleeper di armada Rosalia-Indah sih nggk ada. Tapi dulu pernah dengar ada berita tentang sleeper bus jurusan Jkt-Purwokerto-Wonosobo.
      Ada pula seat sleeper di bus double-decker Putera Mulya yang via Tol Transjawa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: