Membandingkan Layanan Bus Malam dengan Kereta Api

Bulan lalu saya pergi ke Solo untuk mengunjungi seseorang. Pulangnya tidak langsung ke Jakarta, tapi ke Jogja dan Temanggung dulu. Biasanya kalau keluar kota naik kereta, saya selalu beli tiket sekaligus pulang pergi. Tapi di perjalanan kali ini saya cuma beli tiket searah. Rencananya pulang ke Jakarta mau lewat Semarang naik kereta.

Setelah urusan di Jogja usai dan saya berangkat ke Temanggung, otak ini memperhitungkan ongkos pulang ke Jakarta nanti. Kalau saya naik kereta dari Semarang atau Jogja, tiket termurahnya adalah 220 ribu (tiket PSO alias subsidi sudah ludes). Itu belum ditambah ongkos bus dari Temanggung sampai ke stasiun. Dan, nanti dari Stasiun Pasar Senen sampai ke kantor. Kalau ditotal, jatuhnya bisa lebih dari 350 ribu.

Sambil memandangi jalan raya Magelang-Jogja yang sedang lengang, saya mendadak ingat kalau Temanggung itu adalah markasnya perusahaan otobis Safari Dharma Raya atau kerap disebut OBL. Kenapa tidak coba naik bus saja ya? Dari Temanggung tinggal naik, tidak perlu jauh-jauh ke Semarang atau Jogja dulu.

Saya lalu menelepon kantor OBL di Temanggung dan tanya-tanya dulu.

“Halo, mbak, dengan OBL ya. Mau tanya kalau bus yang berangkat ke Kalideres ada gak ya?”

“Ada, nanti masnya ikut yang ke arah Tangerang.”

“Kelasnya apa mbak?”

“Patas mas. 135 ribu harganya. Kumpul di pool jam 5 ya.”

Wah, harganya bersahabat. Saya lalu memesan tiket satu kursi dan meminta Tegar, rekan saya yang tinggal di Temanggung untuk menjemput tiket itu.

Hari keberangkatan

Selasa, 29 Januari 2019 jam setengah lima sore saya sudah stand by di Pool OBL. Kandang PO. OBL ini besar sekali. Seukuran lapangan bola. Tapi, sepi penumpang. Dari banyak bus yang parkir, cuma ada tiga bus yang siap berangkat. Bus-bus itu menuju ke Bogor dan Kebayoran. Mereka berangkat lebih awal ketimbang bus saya yang tujuannya ke Tangerang via Kalideres.

Ruang tunggu keberangkatan. Sederhana jika dibandingkan dengan ruang tungu keberangkatan di stasiun kereta.
Pool atau garasi PO OBL di Temanggung.

Livery Bus Safari Dharma Raya ini unik. Warna utamanya putih diselingi garis biru muda. Dan sesuai dengan namanya yang mengandung kata “Safari”, terdapat gambar gajah yang sedang berjalan di padang rumput.

Perusahaan otobis ini mulai berdiri tahun 1960 di kota Temanggung dengan nama PT. Safari Dharma Sakti dan Safari Dharma Raya sebagai nama operasionalnya. Tapi, masyarakat Temanggung lebih akrab dengan sebutan OBL yang adalah nama dari pemiliknya, Oei Bie Lay. Rute Yogyakarta-Jakarta dibuka pada tahun 1974, dan rute inilah yang akan saya naiki malam itu.

Livery OBL yang khas.

Meski kata mbaknya saya harus standby jam 5 sore, tapi sampai jam lima lewat pun saya tidak menjumpai ada tanda-tanda kedatangan bus. Jam setengah enam, ada bus yang lewat, tapi tujuannya bukan ke Tangerang. Saya tanya ke petugas, katanya bus terjebak macet dari Jogja. Jadi mau tidak mau perjalanannya molor.

Nah, inilah salah satu kelemahan bus daripada kereta api. Waktu tempuhnya tidak bisa dipastikan. Kereta punya jalan sendiri. Sedangkan bus berbagi jalan dengan aneka kendaraan lainnya. Sekali macet, mau tak mau waktu tempuh bertambah.

Di tiket tertera keberangkatan jam 5, tapi kenyataannya terlambat dua jam.

Jam enam lewat saya mulai jenuh, tapi pasrah. Saya khawatir kalau bus terlalu lambat, saya bisa sampai Jakarta kesiangan dan harus cuti kerja lagi. Bus akhirnya baru datang jam tujuh. Tapi, bukan bus itu yang ternyata akan saya naiki. Para penumpang yang sudah naik dari Jogja diminta turun dan kami pun masuk ke satu bus pariwisata yang baru keluar kandang. Karena kelasnya cuma patas AC, maka kondisi interior bus tidak nyaman-nyaman amat. Jarak antar kursinya sempit. Suram buat saya yang membawa ransel ukuran 45 liter. Ransel yang bentuknya agak gendut tidak muat diletakkan di depan kaki. Mau diletakkan di bagasi atas kursi pun tak cukup. Ditaruh di bagasi penumpang di bagian bawah bus jelas bukan pilihan sebab saya membawa kamera besar di dalam tas.

Bus pun melaju. Isi bensin dulu, lalu meluncur menuju Parakan hingga nanti keluar di Weleri. Jalanan di lintas ini berkelok-kelok dan sempit. Buat yang tidak kuat perjalanan darat naik bus, harus siap sedia amunisi anti mabuk seperti antimo atau tolak angin. Di lintasan ini, banyak penumpang yang naik sampai bus pun akhirnya terisi penuh.

Kalau bicara soal nyaman, tentu kereta api jauh lebih oke. Kereta tidak bikin pusing seperti bus. Di kereta kita bisa baca buku karena lampunya terang, atau disediakan lampu baca. Membaca buku dalam bus bisa bikin mabuk. Belum lagi kondisi kabin bus malam yang selalu digelapkan.

Servis makan

Tapi, ada satu kelebihan bus yang kini tidak dimiliki oleh kereta api, yaitu servis makan malam gratis. Jika kita naik kereta, kelas apapun (kecuali kelas priority yang harganya lebih mahal dari tiket pesawat), kita tidak akan mendapat fasilitas makan.

Bus OBL yang saya naiki berhenti di sebuah rumah makan di daerah Gringsing. Turun dari bus, petugas rumah makan langsung mengarahkan semua penumpang ke meja prasmanan. Di sana sudah tersedia nasi putih hangat, sohun, sop, gorengan, ayam goreng, dan segelas teh panas. Penumpang bebas ambil sesukanya, kecuali ayam gorengnya yang dijatah satu per orang.

Bus berhenti sekitar 30 menit. Setelah prosesi makan malam rampung, bus siap berangkat kembali. Di sekitar bus banyak simbok-simbok berjualan minuman hangat. Saya beli seplastik jahe panas seharga 5 ribu saja. Jika naik kereta, kita tidak punya akses untuk membeli cemilan ataupun minuman dari para pedagang karena stasiun sudah disterilkan. Sedangkan jika beli teh panas di restorasi, harganya 10 ribu per cup.

Servis makan dari PO OBL.
Ini penampakan bus yang saya naiki saat tengah berhenti di Gringsing.

Jalan mulus menuju Jakarta

Episode yang paling saya nantikan adalah ketika bus masuk ke jalan tol yang baru diresmikan. Saya pikir selepas Gringsing, bus akan segera masuk tol. Tapi, nyatanya bus tidak juga masuk-masuk tol. Bus melewati jalan pantura hingga Pekalongan. Jalanannya banyak bergelombang dan banyak lubang. Ditambah dengan suspensi bus yang kurang empuk, bangku bergetar dan tubuh seperti digoyang-goyang.

Barulah saat tiba di Pemalang, saya mendengar supir bertanya pada kenek.

“Jos tol wae iki?”

“Yo. Tol wae wes,” sahut si kenek.

Bus pun masuk ke jalan tol Trans-Jawa via gerbang tol Pemalang. Jam sudah pukul 23.20, dan ngantuk tidak terbendung. Saya cuma menikmati beberapa menit saja perjalanan bus melintas mulus di tol ini. Keadaannya gelap dan mobil atau bus yang lewat jarang sekali. Setelah itu saya tertidur.

Jam empat pagi saya terbangun. Kondisi di luar hujan besar dan bus sudah tiba di Gerbang Tol Cikarang Utama. Waw. Lumayan cepat. Pemalang-Cikarang dapat ditempuh kira-kira empat jam saja. Jam setengah lima bus keluar tol di depan Central Park, Jakarta Barat lalu berbelok kiri melintasi Jalan Daan Mogot.

Saya turun di Halte Busway Pesakih dan tinggal berjalan kaki saja untuk tiba di kantor. Praktis sekali. Kalau naik kereta api, masih harus naik ojol sejauh 17 kilometer.

Rangkuman

Secara fasilitas dan kenyamanan, naik kereta api bisa dikatakan lebih nyaman daripada naik bus malam kelas patas. Tapi, jika yang dibandingkan adalah kereta api kelas ekonomi subsidi versus bus malam super executive, ya jelas beda. Secara fasilitas bus akan menang.

Tapi jika bicara soal ketepatan waktu, kereta api jauh lebih akurat waktu tempuhnya. Kedatangan dan keberangkatan bus sangat menyesuaikan dengan kondisi jalanan. Meski begitu, hadirnya jalan tol Trans-Jawa sedikit banyak memangkas waktu tempuh jadi lebih singkat, kecuali terjebak kemacetan parah di Tol Jakarta-Cikampek.

Soal servis, bus lebih unggul dengan menyediakan servis makan. Bus OBL kelas patas saja menyediakan layanan ini.

Soal harga tiket dan efisiensi, saya rasa bus juga unggul. Saya tidak perlu jauh-jauh ke stasiun. Tinggal naik dan turun di dekat lokasi tanpa perlu menggunakan moda transportasi lain (tapi jika rumahnya jauh dari terminal atau pool bus tentu lain cerita).

Bus malam Kereta api
Waktu tempuh Kurang bisa diprediksi. Bergantung pada kondisi jalanan.

Temanggung-Jakarta: 10 jam (tanpa macet)

Tepat waktu, kecuali terdapat gangguan operasional atau musibah.

Semarang-Jkt: 6.5 jam
Jogja-Jkt: 8-9 jam

Kenyamanan kursi Bus kelas patas kurang nyaman karena jarak antar kakinya sempit.

Bus kelas executive dan di atasnya lebih nyaman. Bahkan ada yang menyediakan sarana entertainment

Kereta api kelas ekonomi premium/ekonomi 2016/ekonomi ac plus lebih nyaman karena kondisi guncangan tidak terlalu kentara. Tempat penyimpanan kabin pun besar, bisa memuat banyak barang.
Keamanan Bergantung pada kondisi lalu lintas, kelaikan bus, dan kecakapan mengemudi Lebih aman karena perjalanan KAI diatur dengan detail.
Servis Tersedia layanan servis makan Makanan harus beli
Harga Lebih bersaing.
OBL yang saya naik dari Tmg-Kalideres hanya 135 ribu.
KA Brantas dari SMT-PSE sekitar 80 ribu (K3 Ekonomi PSO)

KA Menoreh atau Tawang Jaya Premium sekitar 200 ribuan. KA Sembrani, Argo Muria, dsb harga tiketnya di atas 350 ribu.

9 respons untuk ‘Membandingkan Layanan Bus Malam dengan Kereta Api

  1. Sekarang sih sebenernya bis unggul dalam hal jangkauan. Mereka berani buka rute meskipun harus pakai armada langsir ke kota-kota kecamatan yg lumayan pelosok. Terutama dari dan ke ibukota. Temen pernah bilang, Garuda Mas itu langganan para pekerja proyek yg berasal dr Grobogan/Blora dsb 😂

    1. Yoi mas. Aku kalau naik Gapuraning ke Sidareja dari Kalideres pas Jumat selalu full seat.

      Tp skrg aku lebih prefer bus sih kl soal kenyamanan ketimbang ekonomi k3 pso. Cuma kendala bus satu aja: macetnya gak bisa diprediksi

  2. Oalah, OBL itu Safari Dharma raya toh. Di awal-awal aku sempet bingung hehe.

    Ada masa-masa aku selalu naik bus patas buat mudik ke Jogja dan balik ke Bandung. Saat itu aku masih kuliah di sebuah PTN yang kampusnya di Jatinangor, pinggiran Bandung. Stasiun kereta api jauh banget, yang terdekat adalah pool bus Bandung Express di Cileunyi yang tinggal ngangkot Rp2.000 waktu itu. Bisa pilih jalur utara atau selatan. Kalau naik yang jalur utara bisa turun di Tegalmulyo yang cuma 1 km dari rumah. Saat itu kereta api ekonomi masih mengenaskan, sementara kereta api bisnis 2 kali lipat harga bus yang hanya Rp90.000 untuk AC. Jadi saat itu bus adalah opsi terbaik.

    Perlahan setelah kereta api berbenah dan aku mengalami kejadian naik bus yang cukup membuat trauma (ada penumpang kemalingan laptop, bensin habis di tengah jalan, macet luar biasa) lalu setelah lulus aku juga ngantor dan ngekost di pusat kota Bandung, aku berpindah hati ke kereta api. Jadi, selama harganya masih normal, aku akan memilih kereta api.

    Layanan prasmanan nggak terlalu menarik sih karena aku bukan pemakan besar dan untuk makanan berat bisa beli di luar. Colokan listrik, ruang gerak yang lega, kabin yang terang, jadwal yang banyak (malam atau siag), dan kereta makan masih jadi fasilitas menarik KAI buatku 🙂

    1. Yoi guh, kalau dari Bandung, layanan bus malamnya nggak sewow dari Jkt. Apalagi kalau naiknya Bandrex, alias Bandung Express. Perusahaan otobis ini agak ketinggalan dalam hal peremajaan armada, mungkin karena dana yang terbatas juga kali ya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s