Trip Report: Menjajal Argo Wilis, Si Raja Jalur Selatan

“April nanti kamu dinas ke Surabaya, mau berangkat naik apa?” tanya kepala divisi di kantor.

“Saya sih terserah dari kantor, tapi kalau boleh ya mau naik kereta aja.”

“Serius?” tanya sang kepala divisi dengan mata sedikit melotot. “Bandung Surabaya 12 jam lebih loh,” tambahnya.

Dengan mantap saya mengangguk. “Gini, Ci. Kalau naik kereta, tiket 500 ribu bisa buat nikmati perjalanan 12 jam. Kalau naik pesawat, sudah tiketnya 1 juta, cuma nikmatin perjalanan 1 jam doang. Rugi,” saya menanggapi sambil sedikit bercanda.

“Aneh kamu. Tapi, ya sudah kalau memang mau begitu”

***

Percakapan di atas adalah cerita pembuka dari perjalanan pertama saya menaiki kereta api Argo Wilis. Kantor saya di Jakarta, dan di tanggal 20 April 2019 lalu saya perlu pergi dinas ke Surabaya. Tapi, saya memilih berangkat dari Bandung karena di tanggal 19 Aprilnya saya hendak memperingati Jumat Agung di rumah. Singkat cerita, kantor menyetujui usulan saya untuk naik kereta. Buat mereka, yang penting perjalanan lama ini tidak membuat saya kelelahan hingga tidak bisa bekerja esok harinya.

Tiket kereta pun dibeli, dan kereta yang terpilih kali ini adalah Argo Wilis: kereta kelas wahid yang dijuluki sebagai raja di lintas selatan. Penamaan “Wilis” diambil dari nama Gunung Wilis yang berlokasi di daerah Bajulan, Nganjuk. Titik tertingginya mencapai 2.169 meter di atas permukaan laut. Brand “Argo” yang disematkan di depannya menunjukkan kasta tertinggi kereta. 

Interior KA Argo Wilis.

KA Argo Wilis pertama kali diresmikan layanannya pada tanggal 8 November 1998. Untuk menempuh perjalanan dari Bandung ke Surabaya Gubeng yang jaraknya 697 kilometer, Argo Wilis butuh waktu 12 jam.

Mengapa disebut sebagai raja lintas selatan?

Sebagai kelas Argo yang beroperasi di luar layanan dari dan menuju Jakarta, Argo Wilis mendapatkan nomor 5 (untuk perjalanan SGU-BD) dan 6 (untuk perjalanan BD-SGU). Kereta api dengan nomor 1 sampai 4 dimiliki oleh Argo Bromo Anggrek. Sejak awal beroperasinya sampai detik ini, Argo Wilis selalu menggunakan rangkaian kereta berkelas eksekutif. Belakangan ditambahkan satu kereta priority, yang merupakan kereta wisata yang dirangkaikan di depan atau belakang rangkaian.

Menyusuri jalur selatan

Perjalanan dari Bandung hingga keluar Jawa Barat adalah perjalanan yang memakan waktu, tapi sepadan dengan pemandangan yang disuguhkan. Tepat pukul 08:30, semboyan 35 dibunyikan. Kereta merayap pelan meninggalkan peron dan melewati viaduct yang di bawahnya mengalir Kali Cikapundung. Selepas Stasiun Bandung, kereta melaju kencang sampai Stasiun Cicalengka. Di Stasiun Cimekar, kereta bersilang dengan KA Mutiara Selatan yang berangkat dari Surabaya Gubeng.

Selepas Cicalengka, laju kereta melambat. Di jalur ini, lokomotif akan memaksimalkan dapur pacunya. Dari jendela toilet yang terbuka, deru mesin terdengar keras, seperti ngos-ngosan. Rel meliuk dan menanjak menuju Stasiun Nagreg yang berketinggian +848m di atas permukaan laut. Pemandangan spektakuler di lintasan antara Nagreg dan Lebakjero adalah Jembatan Citiis. Di bawah jembatan kita bisa melihat jalur lingkar Nagreg dibangun mengitari bukit-bukit.

Pegunungan di Bandung Timur.

Lintas selatan banyak dijumpai rel liukan. Di foto ini adalah KA Serayu ketika meliuk di petak Padalarang-Purwakarta.

Stasiun Tasikmalaya.

Rel tua di peron 1 Stasiun Tasikmalaya

Jalur selatan Jawa Barat yang membentang dari Bandung hingga Banjar adalah mahakarya pembangunan peradaban manusia di masa lampau. Jika kita memperhatikan perjalanan dengan saksama, kereta melaju dengan pelan, merayap melintasi punggung bukit-bukit, menanjak, menurun, lalu meliuk tajam. Di banyak ruas, jurang-jurang dihubungkan dengan membangun jembatan. Dan, semua infrastruktur ini tidak dibangun di abad 21. Ia adalah produk dari pembangunan di akhir abad ke-19, sebuah masa di mana teknologi belum secanggih sekarang.

Dan, di saat jalur-jalur utama Pulau Jawa sudah menjadi jalur ganda, jalur selatan Bandung hingga Kroya masih setia dengan jalur tunggalnya. Di sinilah momen yang paling menyenangkan terjadi, yaitu tunggu silang. Kalau jalur sudah ada dua, kereta tak perlu saling tunggu untuk berbagi jalur. Di Stasiun Ciawi, Argo Wilis menyilang KA Serayu dari Purwokerto yang setia menanti di jalur satu. Di Stasiun Tasikmalaya, kereta berhenti cukup lama. Saya keluar dari kereta dan berjalan-jalan di sekitar area stasiun.

Selepas Tasikmalaya, ada lagi jembatan unik. Namanya Jembatan Cirahong. Jembatan ini berfungsi sebagai penghubung dua moda sekaligus: rel kereta api membentang di atasnya, sedangkan di dalam rongganya terdapat satu jalur untuk kendaraan roda karet. Ada mitos yang menyelimuti Jembatan Cirahong. Konon katanya, untuk membangun tiang penyangga jembatan ini diperlukan sepasang tumbal. Tapi, tumbalnya bukan tumbal biasa. Mereka haruslah pasangan pengantin yang masih perawan dan perjaka. Orang Belanda yang tidak terlalu percaya hal mistis menurut-nurut saja, yang penting pembangunan jalur ini cepat selesai. Disusunlah suatu rencana untuk mencari sepasang pengantin. Mereka diiming-imingi akan dinikahkan, tetapi pada hari pelaksanannya, mereka dibawa ke jembatan. Mereka diikat lalu dicor hidup-hidup di dalam salah satu tiang penyangga. Benar atau tidaknya kisah ini, saya tidak tahu.

Sekitar jam 12 siang, Argo Wilis tiba di Stasiun Banjar, stasiun besar terakhir sebelum kereta meninggalkan Jawa Barat. Setelah Banjar, laju kereta dipacu lebih kencang. Kereta akan melintasi daerah Cilacap. Rel membentang lurus melintasi pematang sawah. Kereta baru berhenti di Stasiun Kroya untuk tunggu silang dengan KA 5 Argo Wilis dari Surabaya Gubeng menuju Bandung.

Pemandangan dari atas Jembatan Cirahong.

Turun naik penumpang di Stasiun Banjar.

Bertemu kawan baru

Di Stasiun Kroya sedang ada pembangunan jalur ganda. Peron lama stasiun dihancurkan dan dibangun peron baru yang lebih tinggi. Rupanya di sini kereta berhenti lebih lama dari jadwal. Saya lalu keluar dari kereta dan memotret para pekerja yang sedang berjibaku dengan berbagai alat proyek.

Melihat saya turun dan berjalan-jalan santai, ada seorang bule berperawakan besar menyeletuk.

“Hei, how long will we stop here?”

“More than 5 minutes. We need to wait for another train to pass. We still use a single track ‘till we arrive in Kutoarjo.”

Dia lalu ikutan turun dari kereta dan memotret bersama saya sambil mengajukan saya beberapa pertanyaan terkait perjalanan Argo Wilis hari ini. Rupanya, dari diskusi itu saya mengenal dia sebagai seorang bule berkebangsaan Belanda bernama Bernd. Kunjungannya ke Indonesia adalah untuk berziarah ke makam kakeknya yang dikebumikan di Kerkhoff Leuwigajah.

“Wow! Its amazing!” ujar saya.

Obrolan kami lalu berkembang ke seputar makam-makam Belanda yang ada di Jawa. Karena sering berkunjung ke Ereveld yang ada di Jakarta, sedikit banyak saya punya pengetahuan tentang makam dan bagaimana kehidupan di masa kolonial dulu.

“How about if we continue our discussion on the train? We can have coffee or tea,” Bernd mengajak saya untuk masuk karena kereta api akan segera berangkat kembali.

Saya duduk di kereta 5 dan Bernd di kereta 4. Kami berjalan ke restorasi yang terletak di depan kereta 4. Sebelumnya, Bernd mengajak saya untuk menyambangi kursinya dulu. Dia lalu mengenalkan saya dengan penumpang yang duduk di sebelahnya. Jenna, namanya. Kami berkenalan dan ndilalah, rupanya Jenna adalah mantan mahasiswa Jogja, dan juga bekerja di satu perusahaan yang sama dengan seorang kakak kelas saya di SMA dulu.

Dari Kroya hingga Stasiun Tugu memakan waktu hampir 3 jam, dan selama waktu itu pulalah kami berdiskusi tentang banyak hal. Mulai dari perang dunia dua, hingga kami membantu Bernd untuk memesan penginapan yang tepat untuknya.

Di Stasiun Tugu, Bernd dan Jenna turun. Kami berpisah. Saya kembali ke kursi saya di Kereta 6.

Pembangunan peron tinggi Stasiun Kroya.

Bertemu kawan baru di atas kereta.

Terus melesat ke timur

Kereta agak terlambat. Di Stasiun Solo Balapan saya keluar sejenak untuk melemaskan kaki. Meski di stasiun-stasiun sebelumnya banyak penumpang yang turun, di Solo banyak pula penumpang yang naik. Selepas Solo, saya kurang bersemangat untuk melihat ke luar karena lumayan mengantuk.

Jam setengah sepuluh malam, saya tiba di Stasiun Surabaya Gubeng. Perjalanan selama 13 jam ini tidak terasa melelahkan. Saya merasa senang dan beruntung, karena bisa mendapat kesempatan untuk menaiki layanan si raja jalur selatan.

Silang dengan Bangunkarta di Madiun.

Meski lama, tapi Argo Wilis menyajikan nilai lebih yang tak dimiliki kereta lain. Menikmati pemandangan di lintas selatan Jawa paling baik adalah jika kita naik kereta pagi. Jika naik kereta malam, yang bisa dilihat dari balik jendela hanyalah gelap gulita.

Di pintu kedatangan, Brian, seorang rekan yang kini berkuliah di Surabaya menjemput saya. Dan, perjalanan dinas selama delapan hari di Kota Pahlawan pun dimulai.

Dijemput oleh Brian di parkiran St. Surabaya Gubeng.

Informasi penting terkait KA Argo Wilis: 

1. KA Argo Wilis menyediakan alternatif perjalanan siang. Berangkat dari Bandung pk 08:30 dan dari Surabaya Gubeng pk 07:00.

2. Rute yang dilalui KA Argo Wilis adalah lintas selatan dari Bandung menuju Tasikmalaya > Banjar > Kroya >Yogyakarta > Madiun > Surabaya Gubeng.

3. Pemandangan terbaik bisa dinikmati saat naik KA 6 dari Bandung menuju Surabaya. Selepas Cicalengka sampai Banjar, suguhan pemandangannya memanjakan mata.

4. Rata-rata tarifnya sekitar 350 sampai 600 ribu untuk kelas eksekutif, tergantung dari waktu keberangkatan dan kebijakan KAI.

5. Biasanya di ujung rangkaian diselipkan satu kereta priority.

6. Jendela di kursi ‘jomblo’ kaca filmnya dibuat lebih gelap. Agak menyebalkan buat mereka yang ingin melihat pemandangan dengan lebih jelas.

 

7 Comments on “Trip Report: Menjajal Argo Wilis, Si Raja Jalur Selatan

  1. 12 jam perjalanan tapi banyak tempat yang dilalui dan bisa sekalian cuci mata. Duh, aku belum pernah naik kereta api. Kapan-kapan penginlah naik mesti sekadar bolak-balik. 😂

  2. aku baru 2 kali lewat selatan, ka serayu dr purwokerto smp bandung sama ka solo bandung, yg ini lupa hehe.. ajib emang jalur selatan, mitos tumbal ini aku pernah dengar, u ntungnya sekarang “tumbal”nya cukup kepala kebo.. asik Ar ketemu temen yg asik di kereta 🙂

    • Iya nih mas Avant,

      Saya beruntung banget bisa dapet kesempatan naik Argo Wilis. Kalau ngandelin jatah cuti sndiri, kayaknya sy lebih pilih naik kereta malem haha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: