Menjajal KA Jayakarta Premium, Kereta Ekonomi Rasa Eksekutif

Hari Selasa (23/01) yang lalu, saya mencoba perjalanan Yogyakarta-Jakarta dengan sensasi baru. Jika biasanya saya selalu menaiki kereta api ekonomi lawas seperti Bengawan atau Progo, kali ini saya menaiki KA Jayakarta Premium, sebuah kereta kelas ekonomi yang digadang-gadang memiliki rasa eksekutif.

Sedikit cerita, kereta api Jayakarta Premium dulunya adalah kereta api Gaya Baru Malam Selatan (GBMS) tambahan yang biasanya berjalan hanya pada saat long-weekend. Setelah beroperasi beberapa bulan, KA GBMS tambahan ternyata diminati oleh penumpang sehingga PT. KAI memutuskan untuk membuat perjalanan kereta ini menjadi reguler alias setiap hari. Akhirnya, bertepatan dengan hari jadi PT. KAI yang ke-72 tahun, kereta api GBMS tambahan pun diresmikan menjadi kereta reguler dengan nama Jayakarta Premium.

Walaupun terdapat embel-embel ‘premium’ di belakangnya, sejatinya KA Jayakarta adalah kelas ekonomi. Lantas, apakah yang membedakan kereta ekonomi ‘premium’ dengan kereta api ekonomi lainnya?

Pertama, kereta ‘premium’ adalah kereta ekonomi terbaru generasi kedua. Pada tahun 2016, PT. KAI meluncurkan wajah baru kelas ekonomi yang terlihat mewah dan ditujukan untuk menggantikan posisi kelas bisnis. Namun, setelah dilakukan uji coba di rangkaian KA Senja/Fajar Utama Yogyakarta dan Mutiara Selatan, protes pun bermunculan. Jarak antar kaki yang sempit, plus sandaran yang tegak membuat perjalanan di atas 6 jam menjadi terasa begitu melelahkan. Akhirnya, baik KA Senja/Fajar dan Mutiara Selatan pun kembali kepada rangkaian bisnis.

Saat ini kereta api kelas ekonomi 2016 bisa kita nikmati di rangkaian KA Menoreh (Semarang Tawang-Pasar Senen), KA Tegal Bahari, KA Argo Parahyangan, KA Cirebon Ekspress, KA Sancaka.

Kedua, berbeda dengan kereta ekonomi generasi 2016 yang diprotes karena jarak antar kakinya yang sempit, kereta premium memberi jarak yang sedikit lebih lega. Selain itu, setiap kursinya pun kini dapat diatur sandarannya. Walaupun sandarannya tidak bisa turun-turun amat, tetapi hal ini cukup membantu memberikan kenyamanan pada punggung, terutama untuk perjalanan jauh.

Ketiga, kereta kelas premium adalah kereta yang ramah kaum difabel. Dalam satu rangkaiannya, terdapat dua kereta yang bisa mengakomodasi penyandang disabilitas; kapasitas kursi totalnya 64 penumpang. Sedangkan kereta premium yang tidak terdapat fasilitas ramah difabel memiliki kapasitas 80 tempat duduk. Selain itu, kereta premium juga menyediakan dua jenis toilet, yaitu toilet jongkok dan duduk.

Keempat. Perlu diingat, walaupun menyandang status sebagai kereta kelas ‘ekonomi’, terdapat perbedaan harga yang signifikan antara KA Jayakarta Premium dengan KA ekonomi lainnya, terutama KA Bengawan dan Gaya Baru Malam Selatan yang disubsidi oleh pemerintah (PSO). Jika KA Gaya Baru (Pasar Senen-Surabaya Gubeng via Yogya) mematok tarif  104 ribu sekali jalan, KA Jayakarta mematok tarif 170 ribu hingga 300 ribu per sekali jalan untuk rute yang sama.

Selesai dengan cerita singkat tentang siapa dan apa itu kereta kelas premium, sekarang saya akan bertutur tentang perjalanannya.

Pukul 19:55

Saya tiba di Stasiun Tugu Yogyakarta, 20 menit lebih awal sebelum jadwal kedatangan kereta yang tertera di tiket pukul 20:15.

Di jalur 5 telah tersedia kereta api Taksaka yang akan bertolak menuju Gambir tepat pukul 20:00. Setelah KA Taksaka melesat, satu menit kemudian datang KA Lodaya dari Solo Balapan dengan tujuan akhir Bandung.

Pukul 20:15

Sesuai dengan jadwal, KA Jayakarta Premium tiba di Stasiun Tugu dan berhenti di jalur 5. Malam itu saya sengaja memesan kursi di kereta nomor 9 dengan harapan supaya kereta sepi penumpang. Dan, ternyata benar. Karena hari itu adalah hari biasa, jadi hanya ada segelintir penumpang yang naik. Artinya, saya bisa duduk dengan lebih leluasa.

Di stasiun Tugu, KA Jayakarta berhenti selama 22 menit dan kemudian disusul terlebih dahulu oleh KA Gajayana (Malang-Gambir). 

Gajayana (kiri) dan Jayakarta (kanan)

Pukul 20:37

Sesuai jadwal, KA Jayakarta Premium pun diberangkatkan meninggalkan Yogyakarta. Saat kereta melaju, getaran yang ditimbulkan dari gesekan antara roda dengan rel tidak terlalu kentara. Tapi, karena saya duduk di kursi nomor 5 yang jaraknya cukup dekat dengan bordes, maka suasana cukup berisik.

Setiap posisi kursi memiliki kelebihannya masing-masing. Kursi yang berada di tengah memiliki getaran yang lebih lembut dibandingkan kursi yang berada di dekat bordes atau di atas roda kereta. Tapi, bagi penumpang yang suka beser, apalagi kalau terkena udara dingin, lebih baik duduk di dekat bordes.

Sepanjang jalur Yogyakarta hingga Kutoarjo telah double-track. Kereta pun melesat dan berhenti satu jam kemudian setelah tiba di stasiun Kutoarjo.

Pukul 21:31

Sesuai jadwal, KA Jayakarta Premium tiba di stasiun Kutoarjo dan berhenti selama 4 menit saja. Hanya sedikit sekali penumpang yang naik dan turun di Kutoarjo.

Pukul 22:00 (kurang lebih)

Setelah bertolak dari Kutoarjo, kereta berhenti di Stasiun Sruweng. Saya lupa mencatat jam berapa kereta berhenti di sini.

Kereta berhenti selama lima menit untuk tunggu bersilang dengan KA Malabar (Bandung-Malang).

Pukul 22:36

Terlambat empat menit dari jadwal semestinya (22:32), KA Jayakarta Premium tiba di Stasiun Tambak. Di stasiun ini, kereta kembali berhenti untuk tunggu bersilang dengan KA Bima (Gambir-Malang). Pukul 22:48 KA Jayakarta diberangkatkan kembali.

Pukul 22:55

Lebih cepat tiga menit dari jadwal semestinya (22:58), KA Jayakarta Premium tiba di Stasiun Sumpiuh. Di stasiun ini, kereta kembali berhenti untuk disusul oleh KA Argo Dwipangga (Solo-Gambir) dan tunggu silang dengan KA Mutiara Selatan (Bandung-Malang).

Walaupun berangkat lebih dulu dari Argo Dwipangga, KA Jayakarta tetap harus mengakui statusnya sebagai kelas ekonomi sehingga harus ikhlas disalip oleh Argo Dwipangga yang kelas wahid.

Setelah disusul oleh KA Argo Dwipangga, KA Jayakarta masih menanti untuk berbagi jalur dengan KA Mutiara Selatan. Barulah setelahnya kembali berangkat.

Pukul 23:46

Terlambat 30 menit dari jadwal semestinya (23:16), KA Jayakarta Premium tiba di Stasiun Kroya dan berhenti selama beberapa menit untuk mengisi air dan tunggu silang dengan KA Gajayana (Gambir-Malang).

Di lintas Solo-Jakarta via jalur selatan, hanya petak antara Kutoarjo hingga Purwokerto yang saat ini masih menggunakan jalur tunggal. Akibatnya, di petak ini kereta-kereta harus saling berhenti dan berbagi jalan. Bagi sebagian orang mungkin momen ini menyebalkan karena waktu perjalanan jadi bertambah. Tapi, bagi saya dan juga penikmat kereta api, momen persilangan ini adalah momen yang menarik. Saya bisa turun keluar dari kereta, memotret, ataupun sekadar mengamat-ngamati suasana stasiun. Bagi pecinta kereta api, perjalanan yang lama bukan berarti menyebalkan, malah bisa jadi mengasyikkan. 

Stasiun Kroya kala tengah malam

Pukul 00:00-04:45

Selama 4,5 jam lebih saya tak kuasa menahan kantuk dan jatuh tertidur. Kondisi kereta yang dingin, juga kursi sebelah yang kosong membuat tidur di perjalanan kali ini terasa lebih nyaman.

Saya mengatur posisi sandaran kursi condong ke belakang, mengenakan bantal leher, memakai kupluk, menutup mata dengan kain, dan dengan segera tertidur.

Bagi saya pribadi yang biasanya tiap bulan menaiki kereta ekonomi dengan kursi tegak dan duduk berhadap-hadapan, perjalanan kali ini sungguh nyaman. Kaki bisa selonjoran tanpa perlu beradu kaki dengan penumpang lain. Plus, posisi kursi yang bisa diatur sandarannya membuat punggung tak terlalu pegal.

Pukul 04:45

Saat membuka mata, rupanya kereta telah tiba di daerah Telukjambe, Karawang. Selepas Cirebon hingga Bekasi merupakan lintasan lurus sehingga kereta akan dipacu pada kecepatan maksimal.

Pukul 04:51

Kereta berjalan langsung melintasi stasiun Kedunggeduh, terus melesat ke barat. KA Jayakarta tidak berhenti di Stasiun Bekasi.

Pukul 05:25

Kereta berhenti di Stasiun Jatinegara.

Pukul 05:45

Terlambat 15 menit dari jadwal semestinya (05:30), kereta api Jayakarta Premium mengakhiri perjalanan dinasnya di Stasiun Pasar Senen.

Secara total, KA Jayakarta Premium menempuh perjalanan sejauh +/- 517 kilometer dari Yogyakarta ke Jakarta dalam waktu sekitar 9 jam. Lebih lama sedikit daripada kelas eksekutif karena KA Jayakarta harus tunggu silang dengan beberapa kereta api.

Untuk perjalanan nyaman tersebut, saya merogoh kocek 240 ribu. Cukup mahal untuk ukurang pejalan dompet tipis. Tetapi, kenyamanan yang didapatkan menurut saya sepadan dengan harganya.

Informasi Tambahan:

Kursi di kereta ekonomi premium tidak dapat diputar atau disesuaikan arahnya agar sejalan dengan arah kereta melaju. Jadi, bagi yang mabuk apabila kereta berjalan mundur, inilah tips memilih kursinya:

  • Dari arah timur ke barat (Surabaya ke Jakarta), kursi yang posisinya searah dengan laju kereta adalah kursi nomor 1-11.
  • Dari arah barat ke timur (Jakarta ke Surabaya), kursi yang posisinya searah dengan laju kereta adalah kursi nomor 12-21

Bagi yang ingin mendapatkan pemandangan maksimal, perhatikan posisi kursi berikut:

  • Kursi nomor 1 dan 21; tidak ada jendela di sini
  • Kursi nomor 2, 5, 8, 10, 15, 18 adalah kursi dengan ukuran jendela besar
  • Kursi nomor 11 dan 12 adalah kursi berhadap-hadapan
Kursi ZONK, tanpa jendela

Inilah sekelumit kesan dari perjalanan saya bersama KA Jayakarta Premium. Kelak, jika ada kesempatan, dengan senang hati saya akan menaiki kereta ini kembali.

Salam nyepur!

Salam nyepur! Jangan lupa naik kereta api.

40 respons untuk ‘Menjajal KA Jayakarta Premium, Kereta Ekonomi Rasa Eksekutif

  1. Banyak kereta tambahan ekonomi, dengan fasilitas bisnis, dan harga fantastis. Tapi dengan service yg sekarang, worth it lah kita bayar segitu. Salut sama KAI. Dan kereta baru itu buatan anak bangsa lho. Inka.

  2. saya pernah naik kereta ekonomi jenis ini tapi yang berbeda, yakni KA Menoreh, dan “menyepelekan” ACnya yang jauh lebih dingin ketimbang ekonomi “purba”

    naik dari Indramayu menuju Semarang Tawang, alih-alih beristirahat dan tidur nyenyak, yang ada malah kedinginan sampai semarang karena tidak pakai jaket

    1. Haha. Betul mas, kalau ekonomi ‘purba’ kan AC-nya pakai AC ruangan, jadi dinginnya gak dingin-dingin amat, plus satu kereta juga penumpangnya ada 106, jadi lebih penuh dan tentu jadi lebih hangat.

  3. Wah, railfans juga nih mas Yanto. Tulisannya detil banget mas, pasti selama perjalanan mas sibuk mencatat waktu precisely kereta tiba dan berangkat lagi ya.

    Aku pecinta kereta, tapi saat berhenti lama, aku nggak berani keluar2 karena takut keasyikan dan ditinggal, hahaha.

  4. Halo mas ..saya naik kreta jayakarta tgl 22 maret 2018 dari arah senen – kebumen… Di gerbong 7,Tp tempat duduk yg searah dgn laju kreta tmpt duduk no 1 sd 11 mas ..bukan 12 sd 21..kebalik opo yo mas?.

  5. menakutkan nggak sih mas buat cewek yang sendirian naik itu soalnya gapernah naik kereta dengan jarak jauh hehe

  6. Halo Mas Aryanto,, mw nanya lebih aman dan enakan mana naik kereta dari Pse-Lpn (Jogja) antara Gajagwong/Progo? Ada rekomendasi hotel/motel/penginapan bersih, aman&murah sekitaran malioboro atau tempat wisata dan tempat makan di Jogja? Saya&teman kali pertama naik kereta Pse-Lpn (Jogja) jadi butu informasi tambahan. Tolong dijawab dan terima kasih atas jawabannya

    1. Halo Mba Desi.

      Kalau aman sih sama2 aman. Kalau lebih nyaman, KA Gajahwong/Bogowonto lebih nyaman daripada Progo karena kursi di Gjwhwong dan Bogowonto itu 2-2, sdgkn Progo 3-2. Hanya, harga Bgowonto dan Gajahwong lebih mahal dari Progo.

      Kalau tempat pngnapn yg murah banyak di daerah Sosrokusuman, sblh Malioboro mall. Mbaknya bisa naik becak/ojek dari Lempuyangan. Kalau naik Bgowonto atau Gajahwong, lgsg turun di Tugu saja, jadi tinggal jalankaki ke Malioboro.

  7. Hemmh, sya belum pernah naik KA ini. Tpi kalau untuk sekedar naik kereta ekonomi primium sudah pernah pada tahun lalu, tepatnya saat naik KA mataram premium dri pasar senen ke lempuyangan..

    *trip reportnya bsa dilihat di blog sya

    Tpi penasaran jga sih pengen nyoba yg jayakarta premium, tpi yg full rute ben puas numpak keretone.. Hehe

    Oh ya salam kenal ya buat TSnya..

  8. mas mau nanya. saya mau naik jayakarta dari tugu ke gubeng, untuk kursi yg searah dengan jalannya kereta apakah masih tetep seperti yg mas tulis?

    trus untuk gerbong yg recommended gerbong brp ya? 5 kah? gabung restorasi?

  9. Keren tulisannya banyak membantu buat yang mau mencoba naik kereta jayakarta premium.terutama pemilihan tempat duduknya nyaman dgn harga yg bersahabat.

    1. 15A oke kok mbak.
      Gerbong sih mana aja nyaman.

      Kalau gerbong yang dekat dengan kereta makan itu gerbong 4, 5, atau 6. Aku sih suka di gerbong tengah ini, jadi dekat kalau misalkan lapar dan ingin jajan 😉

  10. mas,salam kenal.. ak rencana tgl 4 agustus mau naek kereta ini,jogja-seneb ak msh bingung milih kursi&gerbongnya..gmn,minta saran,yg penting deket jendela&toilet😁 mksh…

      1. Ndak mas. Ttep rangakaian itu, cuma kadang bisa saja tukeran. Misal rangkaian Jayakarta, tp yg dipake rangkain premium lainnya.

        Di KA Gopar ada bberapa rangkaian yang ditukar posisi, jadi kursi nomor 12-22 yang kalau dari Jkt harusnya maju, jadi mundur. Tp tidak di semua kereta kok

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s