Pengalaman Satu Minggu Bekerja di Singapura

Senang.

Itulah satu kata yang sekiranya menggambarkan perasaan saya tatkala kaki ini berpijak di tanah Singapura, negeri tetangga yang jaraknya dekat tapi belum pernah saya kunjungi sebelumnya. Kunjungan selama delapan hari di Singapura kali ini bukan untuk melancong, melainkan karena urusan pekerjaan.

Beberapa bulan sebelumnya, atasan saya di Singapura sudah mewanti-wanti bahwa rapat kerja tahunan akan digelar di bulan November. Lokasinya masih menyusul, katanya. Dalam hati saya berharap supaya rapatnya digelar di Singapura saja supaya saya ada kesempatan untuk berkunjung dan melihat negeri orang secara langsung dengan mata kepala sendiri.

Singkat cerita, harapan itu terwujud. Direktur menyetujui Singapura sebagai tempat pelaksanaan rapat. Senyum saya pun sumringah. Tapi, di balik senyum sumringah tersebut sebenarnya ada rasa was-was juga. Seperti apa rasanya bekerja secara langsung dengan orang Singapura? Sekalipun setiap harinya saya memang selalu berkoordinasi dengan mereka, tapi karena jarak yang terpisah (saya di Jakarta), kami hanya bertukar pesan lewat chat ataupun video-call.

Senin, 13 November 2017

Sehari sebelumnya, saya dan tim lainnya dari Indonesia, Malaysia, dan Tiongkok telah mendarat di Singapura dan bermalam di sebuah apartemen yang disediakan oleh kantor. Di Senin pagi, kami semua berangkat ke kantor bersama-sama. Dari apartemen kami berjalan kaki menuju stasiun MRT terdekat, transit satu kali, kemudian berjalan kaki lagi hingga tiba di kantor.

Stasiun MRT Sengkang

Orang Singapura sangat suka berjalan kaki. Berdasarkan penelitian yang digagas oleh Stanford University, orang Singapura berada di peringkat ke-9 sebagai negara yang warganya gemar berjalan kaki, bandingkan dengan Indonesia yang berada di peringkat ke-46. Sebagai warga negara Indonesia, saya tersipu malu. Pasalnya, zaman kuliah di Jogja dulu, jarak antara kos ke kampus hanya 700 meteran. Tapi, alih-alih jalan kaki supaya sehat, saya malah lebih memilih naik motor dengan alasan lebih cepat. Prinsip ini tak hanya dianut oleh saya, tapi oleh ratusan mahasiswa lainnya yang notabene jarak antara kos dan kampusnya dekat. Akibatnya, lahan parkir selalu kebanjiran sepeda motor.

Staf kantor kami di Singapura tidak sebanyak staf yang berada di Indonesia, juga kebanyakan usianya sudah lumayan senior. Tapi, semangat mereka masih tetap  prima. Mereka menyapa saya dengan senyum dan jabatan tangan yang erat. Di hari pertama ini ada hal unik yang terjadi. Saat saya pergi ke kamar kecil, di sana terdapat seorang nenek petugas kebersihan yang sedang mengepel lantai. Tatkala melihat saya, dia langsung berbicara dalam bahasa Mandarin.

“Sorry, I can’t speak mandarin,” kata saya.

Tapi, nenek tadi terus mengoceh dengan bahasa yang sama sekali tak saya pahami. Akhirnya, saya teringat akan sebuah kosa kata bahasa Mandarin yang pernah diajari saat SMA dulu.

“Wo bu zhi dao,” sahut saya yang artinya “tidak tahu”.

“Oh, you can’t speak mandarin, hah?” kata si nenek.

Rupa-rupanya, karena mata saya yang masih lumayan sipit, nenek tersebut mengira bahwa saya orang Singapura asli, yang notabene pasti bisa atau minimal mengerti bahasa Mandarin.

Perlu diingat. Singapura memiliki empat bahasa resmi: Inggris, Mandarin, Melayu, dan India. Secara demografi, keturunan Tionghoa membentuk 77% penduduk dari total populasi (sensus 2000). Jadi, walaupun bisa berbahasa Inggris, kebanyakan mereka tetap berbicara dalam bahasa asli, yaitu bahasa Mandarin.

Kembali ke topik pekerjaan. Sesi pertama di hari pertama dihabiskan dengan saling berkenalan. Saya bekerja sebagai content-developer dan sebenarnya tidak bekerja sendirian, ada tim lainnya yang berasal dari beberapa negara. Tim inti saya terdiri dari content-developer dari Singapura, Tiongkok, Malaysia, dan Thailand. Masing-masing kami bertugas mengelola konten dalam website yang sesuai dengan bahasa kami masing-masing. Bertemu dengan tim kecil ini membuat hati terasa lega. Akhirnya bisa bertatap muka secara langsung.

Selasa, 14 November 2017

Hari kedua dihabiskan dengan rapat super padat untuk menyusun agenda selama tahun 2018 nanti. Rapat ini menjadi sangat penting karena kami tidak mungkin untuk sering-sering bertemu tatap muka, mengingat lokasi kami yang saling berbeda negara. Selama kurang lebih delapan jam, kami membicarakan banyak hal. Dari A menuju Z. 

Satu hal yang saya pelajari dari sini adalah: waktu harus dimanfaatkan se-efektif mungkin. Waktunya rapat ya rapat, tidak ada ada cengengesan dan ngobrol-ngobrol, walaupun saya ingin sekali banyak mengobrol dengan rekan-rekan sekerja lainnya. Dalam waktu kurang dari delapan jam, seluruh agenda dan perencanaan untuk setahun ke depan selesai. Luar biasa! Jam lima sore, selepas rapat usai, sepertinya otak saya mulai berasap. Rencana setahun dibabat habis hanya dalam delapan jam.

Namun, puji syukur karena di hari kedua ini, sepulang kerja saya dan tim diajak untuk berjalan-jalan ke kawasan Marina, melihat lanskap gedung-gedung Singapura yang tinggi menjulang. Trip ini berakhir jam sepuluh malam. Lalu, kami kembali ke apartemen, dan keesokan harinya jam delapan kami sudah harus berangkat kembali ke kantor.

Rabu – Kamis, 15-16 November 2017

Dua hari sebelumnya, masing-masing tim dipecah ke dalam divisinya dan menggelar rapat kecil. Hari ini dan besok, seluruh tim berkumpul dan mempresentasikan hasil rapatnya untuk diketahui dan tentunya dikomentari oleh tim lain.

Sebagai orang Indonesia yang amat mencintai bahasa Indonesia, kendala terberat selama rapat ini adalah bahasa. Bahasa Inggris memang jadi bahasa resmi selama rapat. Namun, kadang saya butuh waktu beberapa detik lebih lama untuk mencerna apa maksud dari rencana ini atau itu. Sehari-hari memang saya sering berbahasa Inggris, tapi berbicara bahasa Inggris di depan atasan itu sesuatu yang berbeda, tidak seluwes bicara dengan teman-teman bacpacker dari Barat karena saya takut salah.

Dalam dua hari, seluruh agenda rapat selesai. Masing-masing divisi saling memberikan masukan. Buat saya pribadi, rapat ini sangat efisien, walaupun untuk bisa berkonsentrasi di tiap sesinya membutuhkan upaya ekstra. Rencana kerja selama tahun 2018 tuntas disetujui dan disahkan dalam hitungan empat hari kerja saja. Prinsip kalau bisa singkat kenapa harus dibuat lama sangat berlaku di sini.

Jumat, 17 November 2017

Agenda kerja hari ini sangat singkat, yaitu penyusunan anggaran tahunan. Masing-masing tim memberikan rincian kebutuhannya, kemudian saling dikoreksi oleh tim lainnya. Tak sampai tiga jam, anggaran untuk satu tahun pun selesai.

Setelah lima hari penuh hanya duduk rapat dan rapat, akhirnya hari ini direktur kami mengajak kami berjalan-jalan ke pusat kota Singapura. Jam empat sore, kami diajak pergi memancing udang. Dalam benak saya, pasti memancingnya di empang. Namun, dugaan saya salah. Kami dibawa ke sebuah mal, yang mana di lantai roof-topnya terdapat sebuah pemancingan udang.

Lahan terbuka dan sesuatu yang alami adalah barang langka di Singapura. Di tanah air, jika ingin memancing kita bisa pergi ke empang atau sungai. Tapi, tidak dengan Singapura yang lahannya terbatas. Jadi, memancing di mal adalah hal yang biasa di sini.

Kolam udang di atas mal

Weekend

Agenda pekerjaan selesai di hari Jumat kemarin. Di hari Sabtu, kami diberi kebebasan untuk melakukan aktivitas sendiri-sendiri. Buat saya pribadi, tak banyak wish-list tempat yang ingin saya kunjungi di Singapura. Berjalan-jalan di trotoarnya pun sudah membuat saya senang.

Satu minggu di Singapura memberikan wawasan dan pengalaman baru untuk saya. Bekerja dengan tim yang berasal dari berbagai negara memberikan saya kesempatan untuk mendengarkan cerita unik tentang negara mereka masing-masing.

Dan, akibat dari kunjungan seminggu ke Singapura inilah, seorang rekan kerja dari Tiongkok memberikan saya nama Mandarin: 陈书行 yang dibaca Chen Shu Xing.

Full-team :))

 

 

Iklan

10 thoughts on “Pengalaman Satu Minggu Bekerja di Singapura

  1. Pergi ke luar negeri itu benar-benar membuka mata, ya. Bisa belajar bagaimana budaya masyarakat di sana. Bisa belajar budaya kerjanya juga. Tapi bisa makin menghargai kekayaan negeri sendiri yang kadang kita sia-siakan, hehe.
    Saya setuju, budaya kerja di Indonesia masih ada di bawah Singapura. Apalagi di tempat saya (pemerintahan) yang terlalu kaya birokrasi, pepatahnya dibalik, kalau bisa lama kenapa harus cepat. Memang sih sudah mulai ada perubahan tapi masih sedikit banget, haha. Mudah-mudahan sajalah suatu hari nanti budaya di sini bisa berubah, paling tidak lebih efisien kalau soal waktu. Hehe.

    1. Betul mas.
      Tapi, sejak sebelum berangkat ke Singapura, saya mewanti-wanti diri sendiri supaya tidak terlalu kebablasan kalau membandingkan Indonesia dengan SG. Kalau dilihat dari ketertiban dan infrastruktur, jauh berbeda hehe. Tapi, saya optimis bahwa negeri kita sedang bergerak ke sana. Butuh waktu untuk membelokkan sebuah kapal raksasa 😀

    1. Halo mas Teguh,

      Ada gak ya? Hahaha. Kalau kata orang-orang, ada yang bilang mataku sipit, tapi ada pula yang bilang enggak.

      Aku ada turunan Tionghoa kok hehe krna ibu bapakku dua-duanya orang Tionghoa. Cuma udah gak bisa bahasa asli, sudah membumi dengan Indonesia, khususnya tanah Jawa 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s