Memaknai Merdeka dari Atas Rel Besi

Foto oleh Leandro Maldini dari Unsplash

Tujuh tahun lalu, di atas kereta api lokal lintas Bandung – Padalarang, ponsel temanku raib dicopet. Sesaat sebelum kereta api menepi di stasiun Cimahi, dia merasa kalau sakunya telah kosong. Malang tak dapat dihindari dan untung tak dapat diraih, akhirnya dia memasrahkan saja ponselnya. Tak ada yang bisa disalahkan, pun kami juga tidak tahu siapa malingnya. Ada ribuan manusia yang berjejal tidak karuan di atas gerbong nan butut kala itu.

Pengalaman buruk yang temanku alami itu hanyalah salah satu dari ribuan kasus kriminalitas dan kesan negatif yang terjadi di atas rel kereta api. Satu dekade lalu, satu-satunya alasan yang menjadikanku dan beberapa temanku tetap setia menaiki kereta api adalah karena faktor harga. Untuk satu kali perjalanan dari Bandung hingga ke Padalarang yang berjarak lebih dari 20 kilometer, tarif yang dipatok hanya seribu rupiah. Jauh lebih murah daripada naik angkot yang tarifnya mencapai 4000 rupiah sekali jalan. Sudah lebih mahal, waktu tempuh naik angkot pun seringkali lebih lama karena banyak berhenti.

Setiap pulang sekolah tiba, bersama seorang teman, kami berdua berjalan kaki di atas rel kereta api yang membentang di antara stasiun Bandung dan Ciroyom. Waktu itu memang sudah ada larangan tidak boleh berjalan di atas rel karena berbahaya. Tapi, siapa peduli. Tak ada yang menegur, dan kami juga acuh tak acuh dengan keselamatan diri. Yang penting bisa sampai lebih cepat. Setibanya di stasiun, biasanya kami berpencar. Temanku naik kereta ke Padalarang dan aku berjalan kaki pulang. Tapi, sesekali aku ikut menemaninya hingga kereta api datang. Kata temanku, jika tak ada kereta api yang menghubungkan rumahnya di Padalarang dengan kota Bandung, mungkin dia akan pindah sekolah saja. Bayangkan saja jika dia harus bepergian naik angkot yang tarifnya 4 kali lebih mahal dari karcis kereta, mungkin dia akan bangkrut.

Akan tetapi, di balik tarif murahnya itu, kereta api kelas ekonomi memandang manusia bukan sebagaimana manusia. Pernah suatu ketika, bersama temanku aku ikut menaiki kereta hingga ke stasiun Padalarang. Kala itu, manusia dipandang tak ubahnya seperti barang yang bisa seenaknya dijejali hingga penuh sesak. Tak hanya di dalam kereta, manusia-manusia ini juga dibiarkan saja bergelantungan di luar gerbong, di depan lokomotif, bahkan di atap kereta. Keselamatan dan kenyamanan adalah prioritas nomor buncit. Yang penting kereta bisa tiba di tujuan, titik.

Kereta api sebelum berbenah diri. Sumber: https://naningisme.files.wordpress.com/2013/04/krl-ekonomi.jpg

Tak ada kata nyaman. Dan, sepertinya penumpang pun sudah tidak lagi memikirkan apa itu kenyamanan dan keamanan selama mereka bisa tiba di tujuan. Kalau keretanya tidak terlambat, ya puji syukur. Tapi, kalaupun terlambat, ya sudah. Penumpang begitu pasrah dan menerima keadaan dengan legowo. Mungkin karena mereka juga menganggap diri mereka sebagai penumpang kereta kelas tiga.

Satu dekade berselang, fajar baru bagi kereta api Indonesia pun terbit. Sebagai perusahaan pelat merah, kereta api Indonesia menyadari posisinya sebagai pelayan masyarakat. Oleh karena itu, berbagai pembaharuan dan pembenahan mulai gencar dilakukan di sana-sini. Salah satu pembaharuan yang dilakukan adalah dengan re-branding. Kereta api yang dahulu dicitrakan sebagai transportasi massal yang tidak peduli keselamatan dan murah, kini berubah wajah menjadi moda transportasi yang aman dan nyaman. Konsekuensi dari perubahan dan pembenahan ini adalah tarif kereta yang turut meningkat. Tiket kereta api, khususnya kereta api ekonomi tidak lagi semurah-meriah seperti dulu. Bahkan, tak ada lagi kesempatan untuk coba-coba jadi penumpang abal-abal yang tidak memiliki tiket. Semua sistem kereta api menjadi lebih modern.

Sekarang, setiap kali aku duduk di atas gerbong kereta api ekonomi, suasana telah banyak sekali berubah. Kelasnya tetap ekonomi, tetapi standar pelayanannya sama dengan kereta kelas-kelas lainnya. Dulu, jika ingin duduk nyaman tanpa kipas-kipas, monggo naik kereta api eksekutif yang ada AC-nya. Sekarang, semua kelas diberikan AC, termasuk kereta api ekonomi lokal yang dulu sering kunaiki ke Padalarang. Suasana gerbong jauh lebih nyaman. Tak ada lagi pengamen. Selamat tinggal juga WC yang bau busuk karena dalam setiap perjalanan ada dua hingga tiga petugas kebersihan yang hilir mudik dalam kereta.

Dalam satu dekade, perubahan terjadi begitu cepat di tubuh kereta api Indonesia. Jika aku mengingat kembali kenangan-kenangan dulu ketika bepergian naik kereta ekonomi, aku masih tidak percaya dengan perubahan positif yang terjadi sedemikian nyata ini. Akan tetapi, sepositif apapun perubahan yang terjadi, tetap ada konsekuensi yang harus dipetik. Dengan semakin nyaman dan amannya kereta api, tak ada lagi tarif murah-meriah yang bisa disawer-sawer kepada penumpangnya. Beberapa kereta api kelas ekonomi pun diputuskan untuk dicabut subsidinya. Di tahun 2014 dulu, aku masih sempat menikmati tarif KA Progo yang bersubsidi, hanya 50 ribu saja untuk perjalanan sejauh 517 kilometer dari Jakarta ke Jogja. Sekarang, tarif KA Progo telah meningkat jadi 125 ribu per sekali jalan. Aku pikir kenaikan tarif ini wajar terjadi selama ada peningkatan kinerja dari kereta api. Selain itu, dari tarif yang tinggi ini aku rasa penumpang juga diajak belajar untuk mencintai kereta api. Ada harga yang harus dibayar untuk mempertahankan kualitas. Jika hanya mau murah melulu, lantas bagaimana cara kereta api mempertahankan kualitasnya agar tetap prima? Semua kenyamanan ini pada akhirnya dikembalikan lagi kepada konsumen, dalam ini adalah penumpang.

Interior kereta api Pasundan rute Kiaracondong-Surabaya. Dengan tarif kurang dari 100ribu, penumpang bisa bepergian sejauh lebih dari 600 kilometer dan dilengkapi dengan AC.

Dalam perjalanan menggunakan KA Serayu di bulan April silam, aku duduk sebangku  dengan pak Supri. Sehari-harinya dia bekerja di Jakarta sebagai seorang cleaning service dan setiap dua minggu sekali dia selalu menyempatkan diri untuk pulang kampung ke Gandrungmangun, Cilacap. “Ya lumayan mas, harga 67 ribu bisa tekan di kampung, dan bisa tidur di kereta” katanya. Sekarang, walaupun kursi di kereta ekonomi tetap tegak, tapi penumpang setidaknya bisa tidur dengan nyaman. Udaranya dingin, ada colokan listrik, dan yang penting tak perlu lagi khawatir akan copet dan maling yang suka berkeliaran. Dalam satu rangkaian kereta api, biasanya ada dua orang Polsuska (petugas keamanan) yang mondar-mandir untuk memastikan keamanan penumpang.

Hari ini, ketika Indonesia merayakan dan mensyukuri hari jadinya yang ke-72 tahun, aku berdoa supaya transformasi yang terjadi di dalam tubuh kereta api bisa juga menular hingga ke lingkup yang lebih luas, yaitu Indonesia. Alangkah luar biasanya negeri ini ketika pemimpin dan masyarakatnya sepakat untuk memulai sebuah perubahan, untuk bekerja nyata, bersama-sama dan bergotong royong. Seperti kereta api yang telah sukses melakukan pembenahan, aku percaya bahwa saat ini Indonesia pun sedang memulai perubahan positif itu. Akan tetapi, seringkali perubahan ini terasa pahit, seperti sebuah obat. Tetapi, alih-alih membunuh, sejatinya pahit itu adalah sesuatu yang berguna untuk menyembuhkan. Ya, menyembuhkan dari sakit dan juga borok-borok yang sudah lama dibiarkan menganga dan membusuk.

Perubahan tidak instan terjadi, tetapi bukan juga sesuatu yang mustahil untuk dilakukan. Ibarat kapal nan besar, tentu ketika kemudinya diputar kapal tersebut tidak akan langsung seketika berbelok. Butuh waktu, butuh jeda hingga akhirnya kapal itu perlahan-lahan mulai mengikuti arah kemudi. Demikian juga dengan negeri ini, sebuah negeri nan besar dengan 260 juta lebih penduduknya. Perubahan itu mungkin akan membutuhkan waktu yang lama, tetapi pasti akan terjadi.

Pilihan perubahan itu ada di tanganku, dan juga di tanganmu. Sebelum aku beraksi untuk mengubah Indonesia yang teramat besar, aku harus mengubah dulu diriku terlebih dahulu. Sebelum aku mengubah diriku secara keseluruhan, terlebih dahulu aku harus mengubah pola pikirku. Alih-alih menggerutu melihat kemelut negeri ini yang tak kunjung usai, aku memulainya dengan melipat tangan, dan berdoa. Setelah berdoa, kuaplikasikan isi doa itu ke dalam kehidupan. Mulai dari hal yang paling sederhana, tidak melanggar lalu lintas, tidak membuang sampah sembarangan, menyapa tetangga di lingkungan kos walaupun muka mereka semuanya masam, dan ada sekian banyak hal lainnya yang bisa kita lakukan walaupun skalanya kecil.

Pada akhirnya, perubahan tidak akan terjadi pada mereka yang hanya bermimpi. Tetapi, perubahan hanya akan sudi terjadi pada orang yang mau bertindak.

Selamat hari kemerdekaan yang ke-72 tahun!

Dirgahayu negeriku, jayalah bangsaku, Indonesia.

Iklan

One thought on “Memaknai Merdeka dari Atas Rel Besi

  1. rasanya baru kemarin ya liat kereta yang gerbongnya penuh dengan orang2 hingga atap2nya, dulu sih belum pernah naik kereta api jadi tidak tau gimana rasanya tapi sering lihat di tv, kemarin nyoba KRL, sekaligus KAI nya dan ga nyangka aja sebegitu cepat perubahannya, dari antrian tiket sampai masuk stasiun semuanya rapi, kemarin juga sempat ke stasiun untuk nuker tiket yang berubah jadwalnya dan mudah banget, tinggal ke CS terus ngisi form perubahan terus ngantri di loket, bayar dan tiket yang baru sudah di tangan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s