Yang Paling Berharga dari Hidup di Rumah Kos

Saya tidak pernah menyangka 4,5 tahun yang dihabiskan di Jogja dampaknya begitu besar. Nyaris setahun setelah lulus dan merantau ke Ibukota, Jogja tak pernah bisa lepas dari memori. Dalam tiap tarikan napas sebelum tidur atau kala melamun, cerita tentang Jogja selalu muncul di benak. Terlalu banyak kisah manis yang pernah dikecap di kota ini. Continue reading “Yang Paling Berharga dari Hidup di Rumah Kos”

Catatan Singkat Liburan Impulsif di Bogor

Siapa tidak suka tanggal merah? Saya rasa semua orang yang sudah bekerja pasti bersyukur akan datangnya tanggal merah. Tapi, jika tanggal merah itu datang di tengah-tengah minggu, sukacitanya terasa berbeda. Rasanya kurang maksimal jika dibandingkan dengan tanggal merah yang jatuh di hari Jumat atau Senin. Continue reading “Catatan Singkat Liburan Impulsif di Bogor”

Sebuah Amplop (Lagi) dari Jerman

Minggu kemarin (24/9), saya menerima sebuah pesan Whatsapp dari seorang kerabat di gereja. “Ada surat buatmu dari Jerman,” katanya. Saya mengernyit. Sebelumnya tidak ada pemberitahuan terlebih dulu dari Johannes Tschauner (Jo), sahabat saya yang berada di Jerman kalau dia akan mengirimkan sepucuk surat ke Indonesia. Continue reading “Sebuah Amplop (Lagi) dari Jerman”

Memahami Jakarta dari Sunda Kelapa

Jika diibaratkan sebagai manusia, usia Jakarta tidak lagi belia. Detak jantunya tak beraturan karena jalan-jalannya begitu semerawut. Paru-parunya sesak karena polusi menyusupi setiap partikel udaranya. Nadinya pun kian menyempit karena setiap jengkal ruang kosong telah disulap menjadi hutan beton. Di usianya yang sepuh, Jakarta masih berjuang untuk memulihkan dan memuliakan dirinya menjadi sebuah megapolitan yang sehat dan ramah. Continue reading “Memahami Jakarta dari Sunda Kelapa”

Kawan, Sesekali Singgahlah ke Katedral

Aku bukan seorang pemeluk Katolik. Akan tetapi, aku sangat suka dengan Gereja Katedral dan sudah saban kali singgah di tempat ini. Ketika ada teman yang bertanya mengapa aku begitu getol pergi ke Katedral, jawabanku cuma satu: tempatnya adem, nenangin jiwa. Kalau mereka tidak puas dengan jawaban itu, aku akan menambahkan: Kalau gitu, mending coba aja mampir ke sana. Continue reading “Kawan, Sesekali Singgahlah ke Katedral”