“April nanti kamu dinas ke Surabaya, mau berangkat naik apa?” tanya kepala divisi di kantor. “Saya sih terserah dari kantor, tapi kalau boleh ya mau naik kereta aja.”

Batavia! Meski kota tua ini kini telah berganti nama jadi Jakarta, saya suka memanggilnya dengan sebutan lamanya, “Batavia”, apalagi jika sedang jalan-jalan ke kawasan Kota Tua.

Hanya selemparan batu dari Istana Kepresidenan Kebun Raya Bogor, ada sebidang lahan yang nuansanya sendu. Pohon bambu besar tumbuh tinggi di dekatnya. Ketika ditiup angin, dedaunannya bergoyang dan menciptakan suasana magis. Dua tahun lalu berkunjung ke sana, sebidang lahan itu masih ditutupi pagar tembok, tapi kini pagar itu sudah dirobohkan. Kita bisa melenggang masuk dan berjalan-jalan santai di atas rerumputannya.

Sidareja. Mungkin nama tempat ini tidak begitu familiar di telingamu. Jika kamu mengetikkan namanya di peta Google, peranti itu akan menunjukkanmu sebuah wilayah di selatan Jawa, tepatnya di perbatasan antara Jawa Barat dan Jawa Tengah. Dan, di tempat itulah saya sering bertandang untuk berjumpa seorang kawan dan berjalan-jalan keliling kampung bersamanya.

Sekitar tahun 1970-an, ketika moda transportasi berbasis ban karet mulai menjamur, kereta api di jalur-jalur cabang mulai kehilangan pamornya. Alhasil banyak jalur-jalur itu pun ditutup, mati, dan menjadi kepingan sejarah seterusnya. Namun, ada satu jalur yang dulu sempat mati suri kini bangkit kembali. Jalur itu bisa kita nikmati di atas laju kereta yang lambat namun membangkitkan kesan nostalgia.

Tahun ini adalah tahun ketiga saya tinggal di Jakarta, tepatnya di kawasan Jalan Daan Mogot. Jalanan ini tidak ada matinya, ia menjadi arteri yang menghubungkan Jakarta dengan Kota Tangerang. Di hari kerja, pagi-pagi aspalnya sudah dipadati roda-roda kendaraan dari arah timur ke barat, dan sebaliknya di sore hari. Jam tiga pagi pun, saat saya tiba naik kereta malam, jalanan ini tetap ramai lalu-lalang kendaraan.