Arsip

Hampir lima tahun pernah tinggal di Jogja, tapi belum pernah sekalipun saya menyambangi kompleks Imogiri. Barulah di bulan kemarin, kesempatan berkunjung ke sana akhirnya terwujud.

  Minggu, 30 September 2018 lalu saya pulang dari Cirebon menaiki kereta api Tegal Ekspress. Perjalanan hari itu menandai ke-72 kalinya saya menaiki kereta api lintas provinsi sepanjang tahun 2017-2018.

  Setelah PT. KAI meluncurkan kereta baru dengan eksterior stainless steel, beberapa kereta pun hijrah menggunakan rangkain baru ini. Salah satunya adalah KA Senja Utama Solo yang dulunya merupakan KA dengan rangkaian full bisnis.

  Namanya Lik Par. Usianya di atas 60 tahun, tapi penampakannya bugar. Selepas jam 12 malam, ia mendorong sebuah gerobak angkringan menyusuri Jalan Sugeng Jeroni. Di sisi barat jembatan, ia berhenti. Gerobak itu ia tata hingga menjadi angkringan yang siap menyambut tiap pengunjungnya.

  Jam sudah menunjukkan pukul dua siang ketika Tegar memacu sepeda motornya ke sebelah tenggara provinsi D.I. Yogyakarta. Saya tidak bisa mengendarai motor berkopling, jadi Tegarlah yang mengemudi di depan dan saya duduk manis di belakang sembari bokong terasa kaku. Kalau dihitung di peta, perjalanan kami siang itu berjarak sekitar 80 kilometer dari pusat kota dan memakan waktu tempuh tiga jam.