Teras Cihampelas: Ruang Publik Gratisan untuk Pecinta Jalan Kaki

sampulblog
Penampakan Teras Cihampelas

Bandung, kota yang dijuluki “Kota Kembang” ini sedang tersengal-sengal nafasnya. Jalanannya kian sesak, tanahnya kian menyempit, manusianya semakin banyak, dan udaranya tak lagi sejuk. Beragam upaya digagas untuk mengembalikan pamor Bandung sebagai Kota Kembang, salah satunya adalah dengan menata kembali beberapa fasilitas publik.

Continue reading “Teras Cihampelas: Ruang Publik Gratisan untuk Pecinta Jalan Kaki”

Tetirah Singkat di Penyangga Jakarta

IMG_3670

Lima puluh kilometer di selatan Ibukota, Bogor tak hanya sekadar rumah bagi para komuter yang mencari nafkah di Jakarta. Di tengah pemukiman yang kian padat dan jalanannya yang semerawut, Kebun Raya Bogor masih menjadi paru-paru alami yang terjaga, sebuah warisan masa lalu dari masa kolonial.

Continue reading “Tetirah Singkat di Penyangga Jakarta”

Jalan Dago: Kembalinya Nuansa Romantis Kota Bandung

Udara dingin kota Bandung masih terasa ketika angin semilir berhembus meniup pepohonan di jalan Dago. Malam itu Bandung terasa begitu syahdu ditemani lampu-lampu jalan yang berbentuk bulat berpendar memancarkan warna kekuningan. Tampak satu dua orang berjalan santai di atas trotoar baru nan lebar sambil sesekali mengambil swafoto. Inilah secuplik adegan ketika Bandung sedang berbenah untuk mengembalikan jati dirinya sebagai “Parijs van Java.” 

Jalan Dago bukanlah sesuatu yang baru di kota Bandung. Sejak dulu jalan Dago terkenal dengan deretan kaki lima penjual jagung bakar yang selalu laris setiap malam datang, apalagi saat malam minggu tiba. Sampai hari ini pun keberadaan penjaja jagung bakar ini masih eksis walaupun berbagai gerai makanan dan factory outlet sudah bertebaran di sepanjang jalan Dago.

Jalan Dago di masa lampau

Jika kita menilik kembali ke tahun-tahun yang silam, pada masa kolonial jalan Dago masih berupa hutan dan masih sepi dari manusia. Penduduk yang kala itu hendak bertolak ke kota Bandung tidak berani melewati kawasan ini sendirian, jadi mereka selalu jalan secara berkelompok. Sebelum orang-orang yang sama-sama mau melintas itu terkumpul, mereka pun saling menunggu, dan kata menunggu dalam bahasa Sunda adalah “dagoan”.

Ketika kota Bandung semakin berkembang, pemerintah kolonial mulai membuka jalan menuju area utara Bandung melewati daerah jalan Dago. Sisa-sisa pembangunan itu masih bisa kita lihat hingga saat ini, yaitu ada SMAK Dago yang sekarang telah tutup, dan ada pula Institut Teknologi Bandung, juga rumah sakit St. Borromeus yang berlokasi persis di pinggir jalan Dago.

Kini, berpuluh-puluh tahun sejak era kolonial berlalu, jalan Dago telah berubah muka. Jalan Dago semakin terkenal. Kawasan yang dulunya merupakan hutan nan sepi ini kemudian dibidik oleh pelaku usaha. Mereka mendirikan factory outlet, hotel, restoran dan gerai-gerai lainnya di sepanjang jalan Dago yang menanjak ini.

Setiap akhir pekan dan libur panjang tiba, jalan Dago akan berubah menjadi antrian parkir yang mengular panjang. Ratusan, bahkan juga ribuan kendaraan yang didominasi plat “B” akan tumpah ruah memadati jalan Dago. Namun, di tahun 2017 ini berkat usaha dari pemerintah kota Bandung yang giat memperbaiki estetika kota, jalan Dago tampak berbeda.

Wajah baru trotoar jalan Dago

Duduk santai di fasilitas publik yang disediakan pemerintah kota

Trotoar yang dahulu tidak begitu dianggap kini digarap begitu serius. Trotoar sepanjang jalan Dago mulai diperlebar dan diperbaiki. Lalu diletakkan kursi-kursi dan meja di setiap beberapa ratus meter. Ditambah lagi dengan lampu-lampu jalan berbentuk bulat yang berpendar kekuningan. Semuanya bersatu padu membuat jalan Dago menjadi lebih nikmat dipandang dan dinikmati.

Trotoar yang bersih

Memang belum seluruh kota Bandung menjadi cantik seperti jalan Dago karena tentu membutuhkan usaha dan biaya yang tidak sedikit untuk mengatur kota yang sudah semrawut ini. Tapi, setidaknya jalan Dago telah menjadi tanda positif bahwa pemerintah kota mulai peduli akan keindahan lingkungan dan mendorong warga kota untuk lebih giat berjalan kaki.

Jika berkunjung ke Bandung, cobalah untuk memarkirkan kendaraanmu sejenak di salah satu factory outlet atau mini market lalu berjalan kakilah di sepanjang trotoar. Rasakan sejuknya udara malam kota Bandung dan pandanglah sekeliling. Jika bersama pasangan, bisa pula sambil berpegangan tangan. Jika sendiri, bisa sambil memotret suasana.

Di bawah pendaran cahaya kekuningan, slogan “Parijs van Java” yang sempat terkikis oleh kesemerawutan ini seolah hidup kembali. Mungkin hari ini baru sedikit bagian kota Bandung yang mulai berbenah, tapi kita percaya kelak kota Bandung akan menjadi kota yang semakin layak dan ramah untuk dihuni.

Romantisme Dago

Semua fasilitas di jalan Dago bisa dinikmati siapa saja tanpa dipungut biaya sedikitpun. Jadi, siapkah kamu untuk mampir ke Bandung di akhir pekan ini?

Menyapa Fajar nan Hangat di Puncak Suroloyo

suro5
Gunung Sumbing dan Sindoro

Langit masih gelap dan bunyi jangkrik masih terdengar jelas saat kami memarkirkan kendaraan di pelataran Puncak Suroloyo. Jam baru menunjukkan pukul 04:50, tapi kami tidak datang terlalu awal untuk menyaksikan pesona fajar. Langit yang semula pekat perlahan mulai meluntur namun masih tertutup awan-awan kelabu.

Perjalanan kami ke Suroloyo diawali dari rasa penasaran. Sore hari sebelumnya kami baru saja menjelajah area Panggang, Gunungkidul, tapi namanya jiwa muda, rasa capek bukan berarti perjalanan harus ditunda. Pukul 02:30 kami sudah memacu kembali sepeda motor, membelah jalanan lengang kota Yogyakarta menuju kabupaten Kulonprogo.

Jalanan di provinsi D.I Yogyakarta bisa dibilang sangat mulus, tak banyak lubang menganga yang dibiarkan begitu saja. Kontras dengan tempat asalku di Jawa Barat yang banyak sekali jalanan rusak. Selepas daerah Godean, deretan rumah penduduk berganti menjadi hamparan sawah nan luas lengkap dengan halimun pagi yang masih menggantung di atasnya. suro6

Nuansa pagi masih terasa begitu syahdu tatkala motor kami mulai ngos-ngosan melibas jalanan menanjak Kulonprogo. Ada baiknya sebelum berkunjung ke Suroloyo, pastikan dahulu kendaraan yang akan digunakan dalam kondisi prima. Tanjakan yang dilalui bisa dibilang cukup curam, apalagi ditambah tikungan-tikungan yang mewajibkan pengendara ekstra hati-hati.

Pagi itu kami adalah orang pertama yang tiba di Puncak Suroloyo. Tak ada motor lain yang diparkir, hanya motor bebek merah kepunyaanku yang akhirnya beristirahat di pelataran. Untuk tiba di Puncak Suroloyo, ada ratusan anak tangga yang harus ditapaki. Tapi, sayang seribu sayang karena tangan-tangan usil orang Indonesia masih suka mengotori pegangan tangga dengan coretan-coretan alay. 

Usia kami boleh muda, tetapi gaya hidup kota harus membuat kami takluk pada Suroloyo. Anak tangga yang kami lalui segera membuat keringat mengalir deras dan nafas tersengal-sengal. Setiap lima anak tangga kami berhenti sejenak, menghela nafas seraya agak membungkuk.suro3

Perjuangan kami terbayar lunas ketika kaki berhasil menjejak Puncak Suroloyo. Kami berdiri di titik tertinggi Kabupaten Kulonprogo, yaitu 1.600 meter dpl. Dari titik kami berdiri terhampar panorama pagi–aku menyebutnya sebagai Kahyangan versi Jawa. Tiga gunung nan agung tersaji jelas di depan pandangan, yaitu Merbabu, Sumbing dan Sindoro.

Kami sangat beruntung karena awan-awan kelabu dengan ikhlas menyingkirkan dirinya dan memberi kami kesempatan untuk melihat pemandangan nan agung itu. Semburat cahaya fajar yang kekuningan memudarkan kepekatan gulita malam. Lambat laun cahaya fajar itu menjadi semakin oranye yang menghasilkan paduan yang nikmat dipandang.

suro2
Awan Pagi

Kami memandang gunung-gunung itu dengan penuh takjub, angin pagi pun berhembus keras menerpa tubuh kami. Jika berdiri agak lama, lambat laun rasa dingin pagi itu mulai menusuk. Kami pun duduk-duduk di sebuah pendopo yang sengaja dibangun di atas puncak.

Tapi, kami harus menahan rasa kecewa karena ulah turis-turis lokal yang memang kelewat iseng. Hampir setiap sudut pendopo diberi coretan, entah tulisan siapa sayang siapa, atau sekedar nama-nama tidak jelas. Aneh memang, tak bisakah mereka hanya mengambil foto dan menikmati alam tanpa merusak?

suro4
Pondok kecil di atas Puncak Suroloyo

Ketika jam menunjukkan pukul 06:30, kami pun kembali ke area pelataran parkir. Hari itu adalah weekday, sehingga belum ada warung yang buka. Di udara nan dingin itu paling nikmat adalah menyeruput segelas teh panas, tapi karena waktu masih terlalu pagi maka perjalanan kami dilanjutkan dengan turun ke Desa Madigondo.

Kami akan kembali lagi ke Suroloyo, entah kapan. Pesona pagi di tempat itu telah menghipnotis kami untuk kembali singgah kepadanya.

Gondangwinangoen, Saksi Ketika Jawa Pernah Manis

Seabad lalu, negeri kepulauan di tenggara Asia bernama Hindia-Belanda pernah menjadi pengekspor gula terbesar kedua di dunia setelah Rusia. Tingginya produksi gula menjadikan Jawa sebagai tanah yang manis di mana ratusan pabrik gula berdiri. Kini, seabad telah berlalu dan Hindia Belanda telah berganti menjadi Republik Indonesia. Seiring waktu berlalu, kejayaan manisnya Jawa pun pudar. Dari pengekspor terbesar, kini Indonesia menjadi negara pengimpor gula terbesar ketiga di dunia.

img_3723
Menara air di stasiun lori

Belanda pernah berkuasa dan mendandani negeri ini dengan gaya mereka. Gula, si manis yang menjadi komoditi dipandang Belanda sebagai aspek bisnis yang menggiurkan. Klaten yang seabad lalu dianggap sebagai Jawa pedalaman dirasa cocok untuk bertanam tebu dan dibangunlah sembilan parbik gula, salah satunya Gondangwinangoen.

Dijejali rasa penasaran untuk menemukan apa yang menarik dari Klaten, laju motorku terhenti di jalan raya Jogonalan, tepatnya di depan sebuah gapura bertuliskan PG Gondangwinangoen. Ada rel kereta di samping jalan yang mengarah masuk ke dalam kompleks pabrik. Penasaran di mana rel itu berujung, kuparkirkan motor dan melangkah masuk ke dalam kompleks pabrik.

Masuk ke area pabrik lebih jauh, suasana berubah, seolah kita sedang berjalan mundur satu abad sebelumnya. Hari ketika kuberkunjung adalah tanggal merah dan aktivitas pabrik diliburkan, tapi tak tampak pula ada wisatawan yang berkunjung. Rel tua berjejeran dengan gerbong besi pengangkut gula teronggok di atasnya. Sepi dan sunyi, tak ada aktivitas apapun di dalam kompleks Gondangwinangoen.

gondang2
Lokomotif tua yang kini teronggok tak berdaya

Pabrik Gula Gondangwinangoen didirikan pada abad ke-19, tepatnya di tahun 1860 oleh sebuah perusahaan Belanda yang berkedudukan di Amsterdam. Pabrik gula Gondangwinangoen telah merasakan berbagai pengalaman sepanjang perjalanan sejarah Indonesia. Sebagai pabrik gula yang memainkan peranan penting pada masanya, Gondangwinangon pernah terhenti operasinya akibat agresi Jepang, agresi militer Belanda, transisi ke republik hingga kini dikelola oleh pemerintah Indonesia.

Mengikuti ke mana rel tua ini berujung juga terdapat rumah-rumah tua yang dibangun pada era Belanda dan digunakan sebagai tempat tinggal staff. Kesan mistis dan angker memang menyelimuti Gondangwinangoen karena sepi, tapi di balik heningnya Gondang, pabrik ini menyimpan cerita panjang tentang perjalanan gula di Indonesia.

gondang4
Rumah tua yang tak lagi dihuni

Dari ratusan pabrik gula yang berdiri seabad lalu, hanya segelintir yang bisa bertahan. Gondangwinangoen masih bertahan namun tak lagi sejaya dulu. Untuk menjadikannya tetap hidup, dibangunlah museum gula dan sarana wisata di sekitar kompleks pabrik. Atraksi wisata yang menarik adalah menaiki lori tebu berkeliling kebun. Sekalipun tua, rel di sini masih bisa digunakan dan pengunjung diajak untuk kembali ke lorong waktu.

Spot tempat parkir gerbong tua terkadang dijadikan lokasi untuk selfie juga pre-wedding. Pengunjung biasanya tertarik dengan objek-objek yang instagrammable, sehingga sekalipun ada unsur menyeramkan, Pabrik Gondang tetap didatangi wisatawan yang ingin merasakan sensasi abad kolonial.

gondang3
Gerbong tebu tua

Masuk ke bagian dalam pabrik, terdapat mesin pengolahan gula yang masih sama seperti seabad lalu. Peranti pengelola gula masih menggunakan teknologi Belanda, namun di hari libur pengunjung tidak dapat masuk ke dalam tempat pengolahan gula. Jelang dekade 1990-an, mesin-mesin produksi gula mulai uzur termakan usia hingga memaksa pabrik menurunkan produktivitasnya. Di samping itu, perkebunan tebu mulai meredup pamornya dan pemerintah Indonesia memilih untuk mendatangkan gula dari negeri luar.

Untuk segala sesuatu ada masanya, demikian bunyi sebuah frasa dalam kitab kebijaksanaan. Demikian juga dengan nasib industri gula di Indonesia. Dahulu pernah berjaya, kini telah meredup. Akankah bangkit atau tetap terpuruk, kita tidak pernah tahu. Dari pabrik Gondang kita belajar dan paham kalau tanah ini dahulu pernah manis. Hadirnya pabrik gula mendatangkan juga kemakmuran bagi masyarakat sekitar, namun manisnya itu kini telah hambar.

gondang6
Slogan yang terpampang di dinding pabrik.

Rute menuju Gondangwinangoen:

Dari Jogja

Menuju arah prambanan via jalan Solo. Setiba di Prambanan, terus ke timur arah Solo. Memasuki area Jogonalan, di kiri jalan terdapat Pabrik Gula Gondang.

HTM: Free

Parkir motor: Rp 2.000,-