Sabang, Potret Keindahan Pariwisata Aceh

Sabang bisa jadi tidak setenar Bali, namun Sabang setidaknya selalu jadi daerah yang turut disebut ketika orang mengatakan Nusantara yang membentang luas hingga Merauke di timur. Sebetulnya, ada pulau yang lebih barat lagi daripada Sabang, yaitu pulau Rondo. Namun, pulau Rondo hanya dijadikan tempat mercusuar saja mengingat ukurannya yang kecil.

Selepas Banda Aceh, tepatnya pada 1 Juli 2015 kami melanjutkan perjalanan menyeberangi selat antara Sumatra dan Pulau Weh. Ferry bertolak dari pelabuhan Ulee-Lheue pukul 14:30 dan melesat lambat ke tengah lautan nan biru. Kala itu kami tak memiliki gambaran apapun soal keindahan Sabang, tapi lautan biru sepanjang perjalanan membuat kami yakin kalau Sabang layak mendapat predikat surga.

IMG_3078
Berlayar menuju Sabang menggunakan Ferry

Kelelahan akibat perjalanan semalam suntuk dari Binjai ke Banda Aceh, kami pun tertidur hingga beberapa saat sebelum Ferry berlabuh. Sekitar tiga jam kurang, Ferry mulai bersiap merapat ke Pelabuhan Balohan. Ketika kami menghampiri geladak, lautan nan biru menghampar luas dihiasi dengan bukit-bukit hijau yang menandakan kami semakin dekat dengan Pulau Weh.

Butuh waktu sekitar 30 menit untuk Ferry merapat sempurna di dermaga. Penumpang yang tak sabaran mulai berebut turun, ada yang dorong-dorongan bahkan ada pula yang memanjat pagar ketimbang menunggu antrian lancar.Tak acuh dengan ratusan penumpang lainnya, senyum tipis mengembang di wajah kami. “Sabang, kami segera datang!”

IMG_3093
Sesaat sebelum merapat di Pelabuhan Balohan

Seperti biasa, puluhan ojek dan penyewa mobil merangsek masuk ke antara kerumuman penumpang untuk mencari turis. Kami pun tak luput dari incaran, beragam penawaran mereka berikan. “Sir, need homestay? come with me!” sahutnya. Namun, kami menolak karena kami sudah menetapkan untuk mencari persewaan motor di Pelabuhan Balohan.

Keluar dari gerbang pelabuhan kami menemukan sebuah kios kecil bertuliskan sewa motor, namun kios itu tutup dan kami kebingungan. Seorang pemuda menghampiri kami sambil mengendarai sepeda motor Yamaha Mio tanpa spion dan helm. Dia menawarkan untuk menyewakan motor dengan harga Rp 150.000,- per hari. “Wah! Mahal kali bang, kami tak ada uang segitu besar, cuma mahasiswa dari Jogja. Lima puluh lah sehari, kami pakai lima hari!” tawarku. Namun, ia menolak dengan tetap mematok harga Rp 100.000,-

Kondisi saat itu adalah sama-sama butuh. Kami butuh motor untuk berkeliling Sabang sedangkan dia juga butuh uang. Akhirnya kami sepakat di harga Rp 70.000,- per hari. Ya sudah, tak apalah pikir kami, toh, motornya juga masih baru walaupun tak ada spion dan helm.

Pukul 16:00 transaksi sewa menyewa selesai. Tak ada kwitansi ataupun uang jaminan. Cukup hanya KTP yang dititipkan, setelah itu motor bebas dibawa sesuka hati. Perjalanan kami dimulai menuju Pantai Iboih yang menurut Lonely Planet adalah spot terbaik untuk menikmati Pulau Weh.

IMG_3156
Iboih nan sepi

Kami harus menempuh jarak 40 Km untuk tiba di Iboih. Tapi, jarak bukan hambatan karena jalan di Pulau Weh ini sangat mulus, nyaris tak ada lubang di setiap ruasnya. Jalanan akan menanjak dan melewati gapura bertuliskan “Selamat Datang di Sabang, Titik Nol Indonesia” kemudian jalan mulai berkelok dan memasuki belantara yang masih terjaga. Perlu diwaspadai, banyak kawanan monyet nongkrong di pinggiran jalan mengais rezeki. Tak jarang ada monyet yang ganas dan berusaha mencegat motor yang melintas.

IMG_3097
Senja di Iboih

Tiba di Iboih, semua rasa lelah terbayar. Pantai yang jernih, berarus tenang dan sepi pengunjung ini laksana surga. Kami harus mencari penginapan dengan harga backpacker yang terjangkau. Penginapan di dekat area parkiran umumnya dihuni turis lokal dengan biaya Rp 200-500 ribu, sedangkan untuk kelas backpacker terletak di pojokan, jadi harus berjalan kaki dulu naik bukit.

IMG_3140
Yulia’s Guest House. Harganya sekitar 75.000-200.000 per malam

Harga penginapan kelas backpacker ini fantastis. Dengan view menghadap lautan hanya dibanderol Rp 50.000 – 200.000,-. Kami mendapatkan sebuah pondokan dari Fatimah Homestay. Pemiliknya memberikan kami harga Rp 50.000,- untuk dua malam pertama dan Rp 75.000,- untuk malam selanjutnya. Kami terima tawaran itu mengingat lokasi pondok kayu memang langsung menghadap ke laut.

IMG_3127
Homestay Fatimah seharga Rp 50.000,- per malam

Namun, sekali lagi patut wapada karena menjelang sore monyet-monyet akan turun dari hutan dan duduk-duduk di teras pondok. Entah apa yang ada di pikiran monyet itu, tapi mereka seolah membajak pondokan kami setiap sore tanpa menggubris jika diusir.

IMG_3233
Siapa yang tak tergoda untuk nyemplung?

Selama lima hari kami habiskan di Sabang. Aktivitas utama hanya bengong, meditasi, snorkeling, makan dan berjalan-jalan. Johannes memilih untuk diving , sedangkan aku bertugas memotret dan jalan-jalan sendiri.

IMG_3111
Beningnya air laut di Iboih

Untuk urusan konsumsi setiap hari kami datang ke Mama Mia, sebuah gubuk kayu yang dihuni sepasang ibu tua dan anaknya. Mereka menyediakan makan lengkap sehari tiga kali dengan harga Rp 25.000,- per sekali makan. Menu yang disediakan lebih ke menu rumahan namun dengan tambahan sea food. 

Mama, begitu para turis menyebutnya. Beliau telah puluhan tahun menetap di Pantai Iboih. Dengan bahasa Inggris sederhana, beliau melayani setiap turis yang hadir dan mampir ke tempatnya. Ketulusan “MamaMia” membuatnya tak pernah sepi dihampiri oleh turis-turis asing.

IMG_3216
Desa Iboih, Sabang, Pulau Weh

 

IMG_3292
Bersama Markus Semrau dan Johannes Tschauner. Kami menjadi satu tim selama di Sabang

Puas dengan aktivitas harian snorkeling, kami pun mencoba pergi ke Titik Nol Kilometer Indonesia. Perjalanan menembus hutan yang masih rimbun ini hanya butuh waktu satu jam kurang. Tiba di Titik Nol kami disambut sebuah monumen yang sedang dalam tahap pembangunan. Merinding sekaligus takjub, karena tidak menyangka bisa pergi ke titik nol. Kami menghabiskan senja hingga pukul 19:30 di Titik Nol. Oh ya, di Sabang matahari baru tenggelam sempurna sekitar pukul 19:30 WIB, jadi hari terasa lebih panjang disana.

IMG_3193
Yeah, Titik Nol Indonesia

Jumat, 4 Juli 2015 kami berencana pergi ke Kota Sabang. Masak sudah jauh-jauh ke Pulau Weh tapi tidak mengunjungi kota Sabang. Sebelumnya, seorang kawan dari Takengon menginfokan kalau di Sabang itu ada tradisi unik, biasanya penduduk akan tidur siang mulai pukul 13:00-15:00. Wah, selow amat ya bisa ada waktu tidur siang. Awalnya aku tidak percaya, tapi setibanya di Sabang memang kebanyakan orang tidur pada waktu itu, suasana begitu santai.

IMG_3170
Jalanan di Pulau Weh

Di Sabang mayoritas warganya tidak menggunakan helm saat berkendara, termasuk kami. Awalnya was-was ketika melewati kantor Polisi, tapi ternyata banyak juga yang tak pakai helm, ya sudah kami biasa saja.

IMG_3168
Mas Paijo

Kota Sabang tidaklah besar, namun rapi dan asri. Pepohonan menghiasi setiap sudut kota. Untuk rumah ibadah, Sabang memiliki Masjid, Gereja dan juga Kelenteng kecil yang terdapat di dekat pasar. Nilai-nilai toleransi dan kebersamaan sejatinya sudah hadir bahkan dari pulau paling luar dan barat Indonesia.

IMG_3289
Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat (GPIB) Sabang

Di sudut kota terdapat sebuah pantai bernama Pantai Kasih. Entah apa yang mendasari pemberian nama pantai ini, namun Pantai Kasih sungguh teduh. Gelombang relatif besar dan berangin, pasir putih lembut dan tak banyak orang di sana. Di ujung pantai berdiri sebuah homestay dengan nama Homestay Pantai Kasih.

IMG_3249 copy
Pantai Kasih

Selain pantai Kasih, terdapat banyak pantai lain di seputaran kota Sabang ini. Jika ingin melihat panorama spektakuler bisa mengelilingi jalan berbukit yang mengarah ke Pelabuhan Balohan, bisa dipastikan kita akan terpukau melihatnya.

IMG_3277
Jalan menuju pelabuhan Balohan

Satu pengalaman unik selama di Sabang adalah ketika siang bolong, kami kelaparan. Mama Mia tertidur pulas sehingga tak sopan jika kami membangunkan beliau. Akhirnya di tengah bulan Ramadhan kami berusaha mencari tempat makan siang. Mengelilingi wilayah Sabang, tepatnya di bagian selatan kami bertemu dengan seorang bule Perancis.

Kami putus asa dan kelaparan. Semua warung tutup, ataupun jika buka pastilah tak akan mungkin melayani pembeli di bulan Ramadhan. Kami hanya duduk-duduk di pinggir pantai sembari melamun, tiba-tiba dari sebuah gubuk warung yang tutup keluar seorang Bule sudah tua dan jangkung. Dia meneriaki kami, awalnya menggunakan bahasa Inggris.

IMG_3186
Pantai di Selatan Pulau Weh

Namun, kami kaget ketika kemudian dia berbicara dalam bahasa Indonesia logat sabang yang kental. Namanya Philip, seoarang Perancis yang terlanjur jatuh cinta dengan Sabang. Ia sudah menetap selama 25 tahun di Sabang namun setiap tahun pasti pulang ke Perancis untuk menunaikan pekerjaannya sebagai pembersih cerobong asap. Tinggal di Sabang, ia beralih profesi sebagai nelayan yang memiliki dua kapal.

 

IMG_3189
Pantai di depan gubuk milih Philip

Seraya bercerita ia bertanya, “Kalian lapar? Aku bisa masak mie buat kalian, tapi masuk ke dalam jangan sampai dilihat orang.” Oke, kami menurut. Dia memasakkan kami sebuah mie goreng lengkap plus jus sirsak campur terong belanda. Waw, segar sekali. Berdasar penuturannya, Philip telah dikaruniai seorang anak dari hasil pernikahannya dengan seorang wanita yang ia temui di Medan.

Hidup di Sabang bagai hidup di surga jelasnya. Damai dan tenang, tak ada beban hidup selain pergi melaut membuatnya ogah untuk pulang kembali ke Eropa. Namun, ia masih tidak mau melepas kewarganegaraan Perancisnya. Perbincangan kami dengan Philip sungguh mengasyikkan, ia punya segudang cerita unik pengalaman bersama warga Sabang.

“Dulu waktu Tsunami, hampir tidak ada korban di wilayah ini karena memang berbukit-bukit. Rumah juga dikit yang rusak tapi waktu itu bantuan datang banyak sekali,” kenangnya tentang peristiwa Tsunami. Jadi, jalanan yang mulus di Pulau Weh salah satu penyebabnya adalah masuknya bantuan Internasional untuk revitalisasi infrastruktur akibat bencana alam Tsunami.

Puas bercerita, kami dipatok harga Rp 30.000,- untuk sepiring mie dan segelas jus tadi. Harga yang cukup murah untuk ukuran Sabang. Berhubung matahari yang semakin tenggelam kami meninggalkan Philip di warungnya dan bergegas kembali ke Pantai Iboih.

Sabang, Permata Kebanggaan Aceh

Hari Senin, 7 Juli 2015 kami bertolak meninggalkan Sabang menuju Banda Aceh.Berat karena hati kami masih tertambat di Pantai Iboih. Sabang memberikan tak hanya pesona, melainkan sebuah potret akan kemajemukan dan kearifan Indonesia sebagai bangsa maritim.

Warga Sabang paham betul akan menjaga lingkungan. Setiap Kamis hingga Jumat, warga memperingatinya sebagai “hari istirahat” untuk lautan. Tak ada aktivitas yang dilakukan di pantai. Memancing, snorkeling, berenang dan lainnya semua harus ditunda selama 24 jam dengan tujuan memberikan waktu bagi laut untuk terbebas dari tangan manusia.

Kearifan dan ketenangan Sabang inilah yang menjadi magnet bagi ribuan bacpacker dunia untuk singgah. Tak ada penyesalan untuk mengunjungi Sabang, hanya kagum yang akan terus membekas hingga hari tua.

IMG_3212
Senja di Pulau Weh

mari-rayakan-sabang-marine-festival-2016-lewat_tulisan

Video Pesona Sabang :

Iklan

Banda Aceh, Pesona di Balik Repihan Tsunami

Banda Aceh, sebuah kota yang masih sangat asing di telinga kami. Yang kami tahu hanyalah berita soal kota yang kini telah bangkit dan mapan menata diri dari bencana Tsunami 2004 silam. Tak banyak yang kami tahu, tapi kami ingin tahu banyak mengenai Aceh. Terlebih lagi Aceh selama bulan Ramadhan, kami yakin ada sesuatu yang istimewa disana.

IMG_3041
Suasana Banda Aceh di pagi hari 1 Juli 2015

Selasa, 30 Juni 2015

Hari keenam perjalanan kami melintasi Sumatra. Puas menikmati lebatnya belantara Gunung Leuser di Bukit Lawang, kami siap menapaki rute selanjutnya yaitu lintas timur Sumatra, Medan menuju Banda Aceh. Bermodalkan informasi dari warga sekitar Bukit Lawang, kami bergegas berangkat ke Binjai sebelum hari beranjak sore.

Dengan berat hati, kami meninggalkan Bukit Lawang. Tawa dan teriakan anak-anak yang bermain di sungai seolah memaksa kami untuk tinggal lebih lama, namun waktu tak memberi kami kesempatan itu. Berjalan kaki di bawah terik matahari dan memanggul ransel belasan kilogram, kami menuju terminal Bukit Lawang. Tempat yang sama seperti kami datang tiga hari yang lalu.

IMG_3033
Keceriaan anak-anak Bukit Lawang menggoda kami untuk tinggal lebih lama

Kala itu pukul 11:00, tak ada bis satupun yang parkir. Kami mendekat ke bangunan terminal di mana terdapat beberapa warga sedang berkumpul dan ngopi. Kala itu Ramadhan, namun entah warga di sana acuh tak acuh, bahkan mereka merokok bagai kereta api sekalipun mereka seorang Muslim. Kami hanya berdiskusi sedikit dengan beberapa orang disana, mereka selalu menanyakan dari mana asalku. Bagi mereka, unik melihat seorang Indonesia kurus ceking berjalan berdampingan dengan seorang Bule Jerman yang jangkung. Jika tidak dikira aku sebagai guidenya si Bule, kadang juga aku dikira sebagai pasangan homosex, tapi semuanya itu salah total.

IMG_3031
Memanggul ransel belasan kilogram setiap hari

Kembali ke kisah perjalanan, pukul 11:30 sebuah bis oranye tiba dan parkir. “Bang, mau ke Medan? Bentar ya, saya makan dulu, jam 12 lah kita berangkat.” ucap sopir bis tersebut. Kami manggut-manggut dan memasukkan tas ransel ke dalam bagasi. Tepat pukul 12:00 sopir pun masuk ke dalam bis dan kami siap berangkat. Kami kaget, karena kami hanya ditarik biaya Rp 25.000 untuk sampai ke Binjai. What?! Padahal kami bayar Rp 40.000,- per orang untuk perjalanan Medan-Bukit Lawang, intinya kami kena tipu lagi waktu itu. Tapi ya sudah, yang penting sekarang kami berangkat.

20150630_123519
Selfie dulu sembari menunggu bis super panas ini berangkat

Berdasarkan info yang beredar, bis-bis besar dari Medan menuju Banda Aceh akan melewati Binjai sekitar pukul 17:00-18:00, jadi kami tak perlu ke Medan lagi, cukup berhenti di Binjai dan bengong di pinggir jalan menanti bis.

Pak Sopir menyetir bis dengan sangat gemulai dan lelet bak siput. Perjalanan terasa bosan, apalagi segerombolan ibu-ibu berseragam PNS masuk secara bergerombol dan tak menyisakan tempat bagi kami. Ya sudah, kami pasrah. Panas, suara mesin yang berisik sangat membuat kami mual. Namun, mual kami hilang ketika bis kami menabrak seekor kucing dan melakukan pengereman mendadak. Aneh, kucing tersebut tidak mati, atau mungkin sekarat. Sepanjang perjalanan hingga ke Binjai, kami mendengar suara Miauuw..Miauuww… dari kolong bis. Hih, bergidik kami membayangkan kondisi si kucing. Tapi apa daya, si Sopir tidak peduli pada kucing, yang ia peduli hanya setoran jadi tetap saja bis melaju.

Pukul 15:00 kami tiba di Binjai. Jujur, kami tidak tahu jalan mana yang menuju ke Banda Aceh. Kami paranoid untuk bertanya, karena sulit menemukan orang jujur rasanya. Dengan menahan kencing dan sok pede, kami berjalan lurus tanpa berhenti. Puluhan tukang bentor, angkot, bis dan prema meneriaki, mendekati kami sambil memaksa. Kami tak hiraukan mereka, tujuan kami hanya satu, menemukan tanah kosong untuk kencing dan juga terminal bis.

20150630_163728
Terminal Binjai. Sedikit bis yang masuk kesini, kebanyakan langsung melintas di jalan utama lintas Sumatra

Di pojok jalan kami melihat plang penunjuk arah terminal sejauh 200 meter. Langkah dipercepat dan tibalah kami di pelataran terminal yang tak luas-luas amat. Lagi-lagi puluhan calo mendekati kami, berlaku baik, dan menawarkan sejuta rayuan. Tapi, dengan jurus kebal rayuan kami berjalan tak menggubris. Tujuan kami adalah agen bus CV. Putra Pelangi yang terletak di ujung terminal.

Kami beruntung karena untuk keberangkatan ke Banda Aceh kala itu masih tersisa dua kursi, ya tepat dua kursi untuk kami di posisi belakang. Kami pun memesannya dengan harga Rp 200.000,- per kursi, sayang sekali mbak nya tidak memberikan diskon padahal kami sudah memelas dan bau teri. Tapi ya sudah, yang penting dapat tiket.

Bis baru tiba di Binjai paling cepat pukul 17:30 sedangkan kala itu baru pukul 15:00. Petualangan singkat pun kami mulai. Dengan pakaian kucel, kaki berlumpur, memanggul ransel belasan kilogram kami nekat masuk ke Binjai Mall untuk ngadem. Wow, kami bagaikan artis ibukota. Dilirik aneh lalu ditertawakan oleh pengunjung Mall tapi kami tak peduli, malah bersyukur kami jadi bahan hiburan untuk mereka.

Puas ngadem, kami kembali ke terminal. Pukul 17:15 kami dijemput dengan bentor, mbak penjaga tiket bilang kalau bis tidak akan masuk terminal. Jadi, kami diantar naik bentor ke jalan utama Lintas Sumatra. Tak sampai menunggu lama, bis besar dengan tralis besi di depannya tiba di depan kami. Muka sumringah namun badan bau keringat, kami pun naik dan duduk di kursi paling belakang.

20150630_185817
Bis Putra Pelangi. Bis khas Sumatra selalu menggunakan tralis besi tambahan supaya aman dari pelemparan batu

Kami bahagia, sungguh bahagia karena bisnya bagus, tidak seperti bis butut Medan-Bukitlawang. Selfie, satu, dua tiga, lalu kami pun tertidur. Selang beberapa jam kami berhenti di sebuah restoran Padang untuk buka puasa. Lagi-lagi jadi bahan sorotan karena semua penumpang pria di bis turun untuk menunaikan shalat sedangkan kami berdua tidak. Syukurlah semua penumpang mengerti bahwa kami bukan orang Muslim dan sesudahnya mereka mengajak kami untuk makan bersama.

20150630_180600
Selfie dulu di bus mewah.

Lucu tapi agak merinding. Selama ini aku mengira kalau orang Aceh itu seram, apalagi terhadap orang yang tak seiman, Tetapi, itu tidak terbukti. Kami duduk bersama di satu meja makan dalam hidangan buka puasa, kami tertawa juga berbagi cerita. Pukul 19:30 bis kembali melaju menuju Banda Aceh. Hujan turun dengan lebatnya sehingga kami larut dalam balutan mimpi.

Pukul 03:00 bis yang kami tumpangi mogok di Bireun. Alhasil kami terlunta-lunta di pinggiran jalan sembari menunggu bis lain yang akan mengangkut kami. Takut, lapar dan mengantuk mengintai kami. Ini wilayah asing, kami bahkan tak tahu harus bicara apa karena semua orang menggunakan bahasa daerah masing-masing.

Pukul 04:00 bis dari Medan tujuan Banda Aceh lainnya tiba dan mengangkut kami, lagi-lagi kami beruntung. Kernet bis dengan baik hati mempersilahkan kami masuk ke bis karena kami dianggap orang baru yang tak paham Aceh, sedangkan semua penumpang lainnya masih harus menunggu di Bireun karena bis tambahan yang datang hanya tersisa dua kursi kosong.

Sebelumnya, di Banda Aceh kami sudah berkontak dengan Tri Nopianto, rekan relawan yang bekerja di sebuah koperasi di Banda Aceh. Beliau sudah enam tahun melayani disana dan kami beruntung karena beliau bersedia menjemput kami di Terminal. Artinya, kami tidak harus keluar uang untuk bayar angkot atau becak atau bentor. Hore!!

Bis hampir tiba di Banda Aceh, namun satu hal yang membuat kami muak selama perjalanan 14 jam ini. Pertama, lagu dangdut yang liriknya amburadul dan diputar dalam volume maksimal sungguh memekikkan telinga. Kedua, supir bis mengatur AC dingin sekali, bahkan Johannes yang hidup di Eropa pun harus menggigigil kedinginan.

Syukurlah tepat pukul 09:30 kami tiba di Banda Aceh. Ketika turun dari bis, puluhan sopir bentor dan ojek mengerubungi kami. Sosok penyelamat pun tiba, mas Tri, sapaan akrab dari Tri Nopianto masuk dalam kerumunan dan memegang tanganku. “Mas Ari ya dari Jogja?” tanyanya. “Wah mas Tri, nggih mas, ini aku Ary!” jawabku gembira.

20150701_085201
Diajak Mas Tri berkeliling naik L-300 Special Livery ke Pasar Peunayong

Mas Tri yang berperawakan kurus dan kecil mendadak kehilangan logat Acehnya. Ia larut dalam logat bahasa Jawa khas Solo. Sungguh baik dirinya, ia menjemput kami di terminal menggunakan mobil Mitsubishi Colt L-300 bak terbuka. Ransel kami yang berat itu diletakkan di belakang, sedangkan kami semua duduk di depan.

Sebelum singgah di kediamannya, kami diajak berkeliling sejenak dan menikmati sarapan di Pasar Peunayong. Waw, aku kaget, aku pikir tak ada orang Tionghoa di Aceh. Tapi, di Pasar Peunayong semua diisi pedagang Tionghoa yang masih bisa berbahasa Khek. Sedangkan aku yang keturunan Tinghoa jangankan berbahasa Khek, punya nama Tionghoa saja tidak punya.

Banda Aceh
Pasar Peunayong, atau dikenal juga dengan sebutan Pasar Tionghoa

Mas Tri menjelaskan kalau di Pasar Peunayong ini adalah satu-satunya tempat dimana warga yang tak berpuasa bisa sarapan dengan bebas. Aktivitas warga sangat ramai, dan seperti biasa kedatangan kami disambut meriah karena Johannes adalah bule berjaggut yang diidolakan ibu-ibu pasar.

Bahagianya bisa sarapan pagi di Pasar Peunayong. Sarapan ini menghancurkan streotip buruk mengenai Aceh. Memang di Aceh ketika Ramadhan semua orang harus menghormati dengan tidak makan di tempat umum, namun Peunayong adalah pengecualian. Tapi, sebelum membeli makanan pedagang disana akan memastikan dulu apakah pembelinya Muslim atau tidak, sebab jika ia Muslim, ia harus menjalankan ibadah puasa.

IMG_3038
Ayam potong yang dijual di Pasar Peunayong

Puas makan di Peunayong kami bergegas menuju kediaman Mas Tri di Pantai Ulee-Lheue (dibaca: Ulele). Kediaman Mas Tri sangat sederhana. Rumahnya yang hanya sepetak diwarnai dengan cinta kasih dari sang istri juga sepasang putri kembarnya.

Pelayanannya di Banda Aceh menuntunnya pada passion hidup. Bukan uang yang ia cari, melainkan membantu warga Aceh untuk lepas dari jerat kemiskinan lewat program edukasi dan simpan pinjam dari koperasi binaan Yayasan Rebana Indonesia.

Sembari disuguhi kopi, kami bercerita sana sini tentang kisah kami masing-masing. Satu hal yang membuat kami tersentuh adalah kegigihan Mas Tri. Ia berjuang menambah penghasilan dengan berjualan air galon juga tepung terigu. Namun, ia mengakui bahwa Tuhan selalu mencukupi kebutuhan hidupnya dan keluarga.

20150701_091051
Penulis bersama Trinopi

Tak jauh dari kediaman Mas Tri terdapat Tsunami Disaster Evacuation Centre dan juga Makam Massal. Seraya menunggu Ferry menuju Sabang yang akan berangkat pukul 14:15 kami sempatkan diri berkeliling kesana.

Kami merinding ketika menyambangi lahan ex Rumah Sakit Meuraxa yang hancur disapu Tsunami. Tersisa beberapa gelintir saja bangunan dan juga sebuah helikopter yang hancur. Tak jauh dari sana terdapat lapangan rumput luas, tapi itu bukan sekedar lapangan rumput. Melainkan, terbaring lebih dari 15.000 jiwa syuhada Tsunami disana yang tak dapat lagi teridentifikasi identitasnya.

IMG_3047
Bangunan sisa RS. Meuraxa yang kini dijadikan monumen

Kami merenung, membayangkan kondisi belasan tahun silam di Tanah Aceh ketika gelombang maut itu menerpa daratan. Bergidik, itulah perasaan kami. Doa-doa juga kami panjatkan di depan makam itu.

IMG_3061
Kuburan Massal Ulee-Lheue dimana terbaring 15.000 syuhada Tsunami

Kemudian kami juga menyambangi sebuah bangunan tinggi hasil kerjasama Indonesia dan Korea dalam hal mitigasi bencana Tsunami. Bangunan tinggi ini sejatinya diperuntukkan untuk edukasi dan juga saranan evakuasi Tsunami apabila bencana itu kembali hadir.

Sayang seribu sayang, bangunan ini tidak terawat. Jalan masuk diportal oleh bambu, namun kami diperbolehkan masuk dan naik hingga ke atas oleh Satpam. WC yang rusak, cat mengelupas dan kosong melompong membuat kami miris. Mengapakah bangunan yang sejatinya diperuntukkan untuk sarana penyelamatan jika bencana Tsunami datang lagi ini malah ditelantarkan bak anak tiri.

IMG_3052
Helikopter yang terbengkalai

Ya sudah,mungkin biarlah itu jadi pekerjaan rumah bagi pemerintah daerah. Tiba di puncak bangunan kami terkesima melihat pemandangan Banda Aceh yang indah. Di utara terhampar samudera biru, sedangkan di sisi lainnya menara Masjid indah menjulang seolah ingin menggapai langit. Sungguh harmoni yang indah, sebuah kota yang kini telah gagah bangkit dari kemelut duka Tsunami.

IMG_3057
Banda Aceh selayang pandang

Cuaca kala itu sangat panas, bisa dipastikan jika kami berdiam lebih lama lagi maka akan gosong bagai ikan pepes. Pukul 12:30 kami turun dan kembali ke kediaman Mas Tri. Kami dijamu makan siang super nikmat dan kemudian berpisah sejenak untuk berangkat menuju Titik Nol Indonesia di Pulau Weh.

Pukul 14:30 kami sudah tiba di Ferry dan berlayar menuju pulau terluar Indonesia. Namun, kisah kami di Banda Aceh masih akan terus berlanjut di hari selanjutnya.

IMG_3069
Meninggalkan daratan utama Sumatra menuju Pulau Weh, Indonesia