Air Terjun Kembang Soka: Sensasi Segarnya Mandi di Air Kapur

Setelah melewatkan 9 jam perjalanan di atas kereta api ekonomi Progo, tibalah aku di stasiun Lempuyangan. Walaupun di kereta sempat tertidur sejenak, tapi rasa kantuk sepertinya masih enggan beranjak dari kepala. Dari Lempuyangan, perjalanan panjang masih berlanjut. Destinasi hari itu adalah menjelajah Kulonprogo untuk menceburkan diri di air sungai yang segar.

Continue reading “Air Terjun Kembang Soka: Sensasi Segarnya Mandi di Air Kapur”

Jalan Dago: Kembalinya Nuansa Romantis Kota Bandung

Udara dingin kota Bandung masih terasa ketika angin semilir berhembus meniup pepohonan di jalan Dago. Malam itu Bandung terasa begitu syahdu ditemani lampu-lampu jalan yang berbentuk bulat berpendar memancarkan warna kekuningan. Tampak satu dua orang berjalan santai di atas trotoar baru nan lebar sambil sesekali mengambil swafoto. Inilah secuplik adegan ketika Bandung sedang berbenah untuk mengembalikan jati dirinya sebagai “Parijs van Java.” 

Jalan Dago bukanlah sesuatu yang baru di kota Bandung. Sejak dulu jalan Dago terkenal dengan deretan kaki lima penjual jagung bakar yang selalu laris setiap malam datang, apalagi saat malam minggu tiba. Sampai hari ini pun keberadaan penjaja jagung bakar ini masih eksis walaupun berbagai gerai makanan dan factory outlet sudah bertebaran di sepanjang jalan Dago.

Jalan Dago di masa lampau

Jika kita menilik kembali ke tahun-tahun yang silam, pada masa kolonial jalan Dago masih berupa hutan dan masih sepi dari manusia. Penduduk yang kala itu hendak bertolak ke kota Bandung tidak berani melewati kawasan ini sendirian, jadi mereka selalu jalan secara berkelompok. Sebelum orang-orang yang sama-sama mau melintas itu terkumpul, mereka pun saling menunggu, dan kata menunggu dalam bahasa Sunda adalah “dagoan”.

Ketika kota Bandung semakin berkembang, pemerintah kolonial mulai membuka jalan menuju area utara Bandung melewati daerah jalan Dago. Sisa-sisa pembangunan itu masih bisa kita lihat hingga saat ini, yaitu ada SMAK Dago yang sekarang telah tutup, dan ada pula Institut Teknologi Bandung, juga rumah sakit St. Borromeus yang berlokasi persis di pinggir jalan Dago.

Kini, berpuluh-puluh tahun sejak era kolonial berlalu, jalan Dago telah berubah muka. Jalan Dago semakin terkenal. Kawasan yang dulunya merupakan hutan nan sepi ini kemudian dibidik oleh pelaku usaha. Mereka mendirikan factory outlet, hotel, restoran dan gerai-gerai lainnya di sepanjang jalan Dago yang menanjak ini.

Setiap akhir pekan dan libur panjang tiba, jalan Dago akan berubah menjadi antrian parkir yang mengular panjang. Ratusan, bahkan juga ribuan kendaraan yang didominasi plat “B” akan tumpah ruah memadati jalan Dago. Namun, di tahun 2017 ini berkat usaha dari pemerintah kota Bandung yang giat memperbaiki estetika kota, jalan Dago tampak berbeda.

Wajah baru trotoar jalan Dago

Duduk santai di fasilitas publik yang disediakan pemerintah kota

Trotoar yang dahulu tidak begitu dianggap kini digarap begitu serius. Trotoar sepanjang jalan Dago mulai diperlebar dan diperbaiki. Lalu diletakkan kursi-kursi dan meja di setiap beberapa ratus meter. Ditambah lagi dengan lampu-lampu jalan berbentuk bulat yang berpendar kekuningan. Semuanya bersatu padu membuat jalan Dago menjadi lebih nikmat dipandang dan dinikmati.

Trotoar yang bersih

Memang belum seluruh kota Bandung menjadi cantik seperti jalan Dago karena tentu membutuhkan usaha dan biaya yang tidak sedikit untuk mengatur kota yang sudah semrawut ini. Tapi, setidaknya jalan Dago telah menjadi tanda positif bahwa pemerintah kota mulai peduli akan keindahan lingkungan dan mendorong warga kota untuk lebih giat berjalan kaki.

Jika berkunjung ke Bandung, cobalah untuk memarkirkan kendaraanmu sejenak di salah satu factory outlet atau mini market lalu berjalan kakilah di sepanjang trotoar. Rasakan sejuknya udara malam kota Bandung dan pandanglah sekeliling. Jika bersama pasangan, bisa pula sambil berpegangan tangan. Jika sendiri, bisa sambil memotret suasana.

Di bawah pendaran cahaya kekuningan, slogan “Parijs van Java” yang sempat terkikis oleh kesemerawutan ini seolah hidup kembali. Mungkin hari ini baru sedikit bagian kota Bandung yang mulai berbenah, tapi kita percaya kelak kota Bandung akan menjadi kota yang semakin layak dan ramah untuk dihuni.

Romantisme Dago

Semua fasilitas di jalan Dago bisa dinikmati siapa saja tanpa dipungut biaya sedikitpun. Jadi, siapkah kamu untuk mampir ke Bandung di akhir pekan ini?

Kisah Nestapa Perjalanan Ke Tanah Ngapak

nestapa2
Bus Gapuraning Rahayu mogok dan penumpangnya terlantar di Tol Jagorawi KM 19

Bepergian naik bus ekonomi selalu menyajikan kisah tersendiri. Di saat perusahaan otobis (PO) lain mulai mengganti armadanya menjadi lebih baru dan nyaman, tapi masih ada pula PO yang mengoperasikan bus-bus tua selagi masih bisa dipakai. Salah satunya adalah PO Gapuraning Rahayu yang akan menjadi pelengkap cerita nestapa tentang perjalanan selama 14 jam demi melepas penat dari Ibukota.

Aku pikir malam itu akan jadi malam yang berjalan lancar tanpa hambatan. Pukul 17:10 aku sudah tiba di terminal bus Kalideres dan mencari-cari bus yang akan berangkat ke daerah Cilacap, Jawa Tengah. Sebelumnya teman-teman kantor sudah memperingatkan kalau di terminal bus itu sangat rawan jambret dan pemalakan, malah ada seorang teman yang diperas preman-preman di sana. Tapi, cerita seram itu tidak menyurutkan niatku untuk pergi naik bus. Kupasang kupluk hitam di kepala, memakai masker, sebisa mungkin berjalan cepat dan tidak boleh terlihat linglung supaya tidak jadi sasaran kejahatan.

Terminal Kalideres – sebelum nestapa dimulai 

Berhubung hari itu adalah Jumat, jadi suasana terminal sedikit lebih ramai karena banyak penumpang yang memanfaatkan akhir pekan untuk bepergian, dan aku salah satunya. Ada sedikit kecewa ketika mengetahui kalau bus yang berangkat ke Sidareja, Cilacap ternyata bukanlah bus AC, melainkan bus ekonomi. Sebenarnya bukan soal kenyamanan yang aku keluhkan, tapi aku takut kalau-kalau bus tua ini nanti mengalami masalah di jalan. Namun, kutepis segala prasangka buruk itu dan berharap bus tua ini masih memiliki performa yang prima.

nestapa1
Interior bus ekonomi Gapuraning Rahayu tujuan Kawunganten – Sidareja

Satu jam menanti keberangkatan di terminal bus, lebih dari 15 pengamen telah datang silih berganti. Ada yang suaranya bagus, tapi ada pula yang sekadar genjreng gitar tanpa ada niat menyanyi. Seolah tak mau kalah dengan pengamen, puluhan pedagang juga merangsek masuk ke dalam bus yang pengap. Mereka menjajakan power bank, ikat pinggang, kaos kaki, permen, hingga racun tikus!

Dengan keringat yang mengalir deras di wajah, mereka seolah tidak merasa lelah. Sembari semerbak asap rokok menyeruak di kabin bus, mereka berteriak lantang mengharap agar dagangan mereka laris. “Aquaa, aquaa, mijon, kacang, tahu, tahunya , permen, tolak angin, telur puyuhnya, mas?” teriak mereka. Alih-alih terganggu, aku dibuat kagum oleh setiap perjuangan mereka demi sesuap nasi. Kurogoh kantong celanaku dan kubeli dua bungkus permen jahe, sebuah lontong, dan satu jamu tolak angin.

Bus sudah terisi penuh tapi tak kunjung beranjak dari terminal. Satu, dua menit kemudian beberapa penumpang mulai berteriak-teriak kepanasan karena udara semakin pengap, tapi sopir tetap bergeming. Barulah setelah 15 menit bus mulai melaju perlahan bak siput yang sedang mengikuti kompetisi balapan.

Untuk membunuh waktu, aku bercakap-cakap dengan penumpang di sebelahku. “Turun endi, mas e?” tanyanya. “Aku Sidareja mas,” jawabku. “Lha, asli wong sidareja? iki balik kampung po kepriwe? Wes pirang taun nang Jakarta?” pertanyaan-pertanyaan itu menarik karena diucapkan dalam logat Ngapak alias logat khas Cilacap yang buatku terdengar unik.

Keistimewaan dari menggunakan angkutan umum kelas ekonomi (kecuali pesawat) adalah keakraban yang jarang didapat di kelas yang lebih tinggi. Ratusan perjalanan telah kulakukan, dan aku selalu memilih untuk duduk di kelas ekonomi daripada eksekutif. Teman duduk bisa jadi teman ngobrol, dan dari obrolan inilah seringkali ada nilai-nilai kehidupan yang terselip.

Hari itu penumpang bus didominasi oleh pekerja dari daerah Cilacap yang merantau ke Jakarta untuk menjadi buruh bangunan, sopir ojek, dan pekerjaan kasar lainnya.

Ketika Nestapa Dimulai 

nestapa3
Menyempatkan diri untuk selfie daripada tidak ada kerjaan

Setiap Jumat sore hingga malam, jalanan di Jakarta berubah menjadi statis alias macet total di mana-mana. Butuh waktu tiga jam untuk menempuh jarak 30 kilometer dari Jakarta Barat menuju Jakarta Timur. Pukul 20:00 bus yang kutumpangi baru tiba di bibir jalan tol Jagorawi yang mengarah ke Bogor. Selama tiga bulan sejak Desember 2016, bus-bus besar tidak diizinkan melewati tol Cipularang, sehingga banyak bus dengan tujuan Jawa Barat bagian selatan dan Cilacap memilih untuk mengambil jalur Puncak via Bogor.

Baru lima menit berlalu selepas gerbang tol Cibubur, kekhawatiranku ternyata menjadi nyata. Bus yang kutumpangi mendadak mati di tengah jalan tol! Puluhan pengendara segera membunyikan klasonnya keras-keras dan setelah dicoba dihidupkan selama tiga menitan, akhirnya bus bisa melaju kembali. Tapi, bus hanya mampu melaju beberapa meter sampai di bahu jalan, lalu setelahnya mesin bus pun wafat tak bernyawa.

Semua penumpang panik, tidak terima karena bus yang digunakan ternyata bus usang. Beberapa menuntut ganti rugi dan meminta segera dikirimkan bus cadangan, tapi awak bus tidak bisa memberi solusi apapun selain meminta penumpang untuk menunggu. Ada sekitar 50 penumpang hari itu dan semuanya terkatung-katung di pinggir jalan tol Jagorawi tanpa kepastian apakah ada bus baru yang dikirim atau tidak.

Satu jam berlalu hingga tiba sebuah bus Gapuraning AC dengan tujuan Karang Pucung. Bus itu berhenti dan segera diserbu semua penumpang yang terlantar, tapi bus itu sudah keburu penuh dan hanya mampu mengangkut 15 penumpang tambahan. Akhirnya 35 penumpang lain kembali terlantar tanpa kepastian.

Dua jam setelahnya aku merasa kantung kemihku mulai penuh dan berjalan agak jauh dari kerumumunan untuk buang air kecil. Sungguh beruntung! Ternyata saat aku selesai menuntaskan buang air, sebuah bus Gapuraning tujuan Karang Pucung datang dan berhenti sangat dekat denganku. Aku berlari sekencang-kencangnya dan jadi orang pertama yang naik ke atas bus, tapi ternyata bus itu juga sudah penuh karena hanya ada sekitar 10 kursi kosong.

Aku beruntung karena mendapatkan tempat duduk, sedangkan penumpang lainnya akhirnya nekat masuk ke bus walau harus duduk di lantai. Kisah nestapa ini masih berlanjut ketika bus yang penuh sesak harus melintas jalanan yang berkelok-kelok. Satu, dua jam kemudian mulai gugur beberapa penumpang yang akhirnya muntah. Aroma muntahan itu menyebar lewat udara dan memancing penumpang lainnya untuk ikut muntah.

Setelah 14 jam berlalu….. 

Saat matahari pagi mulai menampakkan wajahnya, bus yang kutumpangi sudah meninggalkan provinsi Jawa Barat dan memasuki area Wanareja, Jawa Tengah. Kisah nestapa tadi perlahan sirna seiring hijaunya sawah yang membentang dari balik bingkai kaca bus. Pemandangan ini sangat langka ditemukan di Jakarta, jadi ketika aku melihat halimun tipis masih menggantung di atas hamparan padi, seketika hati ini terasa begitu ayem. 

Sebenarnya tujuan utamaku adalah kecamatan Sidareja, tapi bus ganti yang kutumpangi ini hanya berhenti sampai Karang Pucung dan pihak manajemen bus tidak memberi kompensasi apapun kepada penumpang yang harus membayar ongkos lebih karena harus berganti tujuan. Tidak ada kata maaf, apalagi uang kompensasi. Tapi, itu semua dimaklumi karena ini adalah kelas ekonomi, dan penumpang pun tidak terlalu mengambil pusing soal itu selama akhirnya mereka bisa tiba di lokasi.

Pukul 07:00 akhirnya tiba di Karang Pucung setelah melewati perjalanan nestapa selama 14 jam dalam bus. Perjalanan menaiki bus itu selalu penuh cerita. Harus menahan pipis, menahan rasa mual, dan banyak bersabar karena kondisi jalan yang tidak dapat diprediksi. Jika dalam kondisi normal perjalanan Jakarta-Cilacap bisa ditempuk 7-9 jam, hari itu perjalananku lebih lama dua kali lipat dari biasanya.

nestapa4
Bersama keluarga gembala sidang dari Gereja Baptis Karangpucung

Sembari menunggu kendaraan untuk melanjutkan perjalanan ke Sidareja, aku berkunjung ke sebuah gereja yang terletak di dekat pasar Karang Pucung. Pagi itu menjadi lebih hangat dengan segelas teh panas yang disuguhkan keluarga pendeta. Sekitar 30 menit kami habiskan dalam obrolan hangat, dan di akhir sebelum berpamitan dan melanjutkan perjalananku, kami berfoto bersama.

*******

Perjalanan selalu memiliki ceritanya tersendiri, jadi selama kaki masih kuat melangkah dan dompet masih mampu bernafas, maka ransel hitamku kan selalu kupanggul setiap Jumat malam.
Sidareja, Jawa Tengah, 5 Feb 17