Nikmatnya Hidup (Masih) Sendiri

sendiri1

Di suatu siang menjelang sore yang agak kelabu, pikiranku melayang-layang entah kemana. Waktu itu aku baru selesai menuntaskan skripsi setelah bergulat lima bulan dengannya. Setelah melamun cukup lama, terbersit ide dalam pikiranku untuk melanjutkan sesi melamun tadi di tempat berbeda, ke pantai tepatnya. Tanpa pikir panjang segera kukemas ransel, mengecek peta sebentar, dan segera berangkat.

Setibanya di bibir pantai pandanganku terarah kepada lautan nan luas dan seolah tak berujung. Sebagai seorang lelaki yang usianya beranjak menuju 23 tahun tentu sedikit banyak topik tentang pasangan hidup itu mampir di pikiran. Dalam perenungan itu aku sendiri pun bertanya kepada diriku, “kok belum kelihatan toh jodohmu?” 

Pertanyaan itu hanya bisa kujawab, “tunggu.” Selebihnya kuserahkan kepada deburan ombak dan matahari yang menggantung di angkasa.

Tapi, kawan, aku memang sendiri dan seringkali merasakan kesepian. Hidup di kota perantauan seorang diri memang kadang terasa miris. Namanya juga manusia, ada rasa rindu yang terkadang muncul, tetapi kadang juga tidak tahu ke mana rasa rindu itu harus diungkapkan. Syukurlah karena Tuhan juga hadir lewat alam, maka seringkali kuungkapkan rasa rinduku itu kepada semilir angin, deburan ombak, juga kepada matahari senja.

Sendiri bukan alasan menyendiri

Terlepas dari statusku yang masih sendiri, itu bukan alasanku untuk menyendiri dari dunia. Sepanjang waktuku di Jogja dulu, aku menyadari bahwa ada point yang sangat istimewa dari kesendirian ini, yaitu teman-teman. Status sendiri membawaku untuk berteman dengan lebih banyak orang, dan pertemanan inilah yang akhirnya memberiku wawasan dan pengalaman.

Aku bebas berteman dengan siapa saja, pergi ke manapun, kapanpun dan dengan siapapun tanpa harus melapor terlebih dahulu. Aku tahu kebebasan ini bersifat sementara, segera, setelah pasangan hidup kutemukan tentu aku tak bisa lagi seenaknya seperti itu.

Aku tidak punya belahan jiwa

Aku memiliki prinsip bahwa aku tidak punya belahan jiwa karena Tuhan menciptakan jiwaku utuh. Jadi ketika Tuhan berkata bahwa sudah saatnya aku melepas masa single ku, maka di situ jugalah Dia sudah menyiapkan seseorang yang juga jiwanya utuh, tidak terbelah. Kelak, dua jiwa yang utuh inilah akan dilebur oleh Tuhan untuk menjadi satu, bukan ditempel karena sama-sama terbelah.

Kelengkapan hidup seseorang bukan ditentukan dari apakah dia memiliki pasangan atau tidak. Jadi, punya pacar ataupun tidak, sejatinya Tuhan menciptakan jiwa kita utuh, tidak kurang setengah hanya karena kita belum memiliki pasangan. Punya pacar ataupun tidak, Tuhan tetap memiliki rencana yang baik untuk kita, dan Dia mau supaya lewat hidup kita rencana itu bisa dinyatakan.

Sendiri adalah proses pemurnian 

Aku tahu bahwa selama masa sendiri ini, aku harus banyak memperbaiki diri, supaya kelak perempuan yang menjadi pasangan hidupku itu mendapatkan diriku dalam bentuk karakter yang terbaik. Aku belajar untuk mensyukuri apa yang ada padaku, bukan apa yang tidak ada. Jika sampai hari ini masih sendiri, itu artinya aku masih harus berkarya lagi dan lagi.

Lalu jika sampai nanti tidak dapat pasangan hidup karena keasyikan sendiri, bagaimana?

Jawabannya, sendiri ataupun berpasangan, Tuhan menciptakanku tetap spesial. Dan, alam semesta punya waktu dan ritmenya tersendiri. Sama seperti matahari yang selalu terbit di timur dan tenggelam di barat, demikian juga Semesta memiliki rancangan yang baik untukku.

*******

 

Aku berbahagia dengan masa-masa single yang kujalani saat ini. Ketika kesepian itu hadir, aku bisa mengalihkannya dengan karya-karya positif. Aku pergi traveling lalu menulis untuk situs jalan-jalan milikku, dan aku bisa memanfaatkan waktu yang ada untuk mencintai keluarga dan teman-temanku terlebih dahulu. Aku percaya, ketika aku bisa mencintai dan merasa cukup dengan apa yang Tuhan berikan saat ini, kelak pada waktu-Nya, Dia akan memberikanku tanggung jawab baru.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

14 Februari 2014: Ketika Abu Vulkanik Mengguyur Hari Valentine

Stasiun Lempuyangan

Tiga tahun lalu, tepatnya di malam sebelum hari Valentine, linimasa media sosial dipenuhi informasi terbaru tentang aktivitas gunung Kelud yang kala itu sedang batuk-batuk. Malam itu angkasa Jogja cerah seperti biasanya, tak ada tanda-tanda apapun bahwa besoknya seisi kota akan menjadi kelabu.

Tanggal 14 waktu itu adalah tanggal keberangkatanku ke Surabaya. Saat subuh menjelang, kukemas barang-barang dan bersiap untuk berangkat. Tak ada curiga apapun waktu itu, semua begitu tenang karena pukul 04:00 seluruh anak di kost masih tertidur pulas. Ketika tiba waktunya berangkat, kubuka pintu kost dan kemudian aku tercengang. Titik-titik abu turun dengan senyap, perlahan tetapi pasti seluruh jalanan dan atap rumah berubah menjadi abu.

Hujan abu hari itu turun sejak dini hari dan baru berhenti menjelang pukul 06:30. Seluruh aktivitas kota Jogja hari itu lumpuh total. Sekalipun hari sudah beranjak pagi, jarak pandang di jalanan sangat rendah. Buatku yang baru pertama kali merasakan hujan abu, tentu ini adalah sensasi yang luar biasa.

Berhubung tiket kereta api menuju Surabaya sudah kubeli, aku tetap nekat berangkat ke stasiun Lempuyangan. Mungkin kereta tetap berangkat,” pikirku waktu itu. Perjalanan dari kost ke stasiun yang berjarak sekitar tujuh kilometer jadi peristiwa yang mencekam. Di sepanjang jalan hanya tampak pendaran lampu kendaraan bermotor dan setiap pengemudi harus ekstra hati-hati karena jalanan menjadi licin.

Seharusnya aku tidak usah berangkat, toh teman-teman juga sudah mengingatkan supaya aku membatalkan saja perjalanan ke Surabaya itu. Tapi, karena nekat akhirnya perjalananku ke stasiun berujung sia-sia. Kereta menuju Surabaya hari itu belum diputuskan akan berangkat atau tidak karena masih menunggu perkembangan lebih lanjut. Lagipula hari itu hampir seluruh Jawa bagian tengah dan timur tertutup abu vulkanik dari gunung Kelud yang tengah murka.

Sekalipun gagal berangkat, tapi pemandangan di stasiun hari itu sungguh menarik. Sepanjang mata memandang hanya berwarna abu-abu, aku membayangkannya seperti sebuah musim dingin di negara subtropis. Semua orang yang bepergian hari itu harus merelakan semua busananya kotor terkena abu dan wajib mengenakan masker.

Bencana yang merekatkan

Singkat cerita, aku dijemput oleh temanku di stasiun kemudian kembali lagi ke kost. Hari itu tidak ada satupun warung makan pinggir jalan yang buka. Tentu ini adalah bencana jilid dua bagi anak kost yang setiap harinya tidak pernah memasak.

Dengan uang seadanya, beberapa anak kost patungan membeli bahan makanan ke supermarket yang mulai buka di siang hari. Beberapa anak kost lainnya yang berkantong tebal memilih pergi ke restoran cepat saji dan mall. Tapi, semua harus antre berjam-jam karena hanya tempat-tempat itulah yang tetap buka untuk melayani konsumen.

Kami membeli chicken nugget, indomie, beras, sayur dan kentang goreng untuk dimakan bersama-sama. Dengan persediaan inilah kami bisa bertahan hingga tiga hari sampai beberapa warung mulai buka kembali.

Hujan abu di Jogja waktu itu membuat seisi kota sengsara hampir satu bulan penuh. Pasalnya, tidak ada hujan yang terjadi selama beberapa minggu setelah bencana itu terjadi. Setiap hari, kemanapun, bahkan di dalam ruangan harus selalu memakai masker. Apabila sudah selesai bepergian, harus segera mengganti baju karena kotor. Tapi, sulit sekali untuk mencuci baju karena abu masih berterbangan di mana-mana.

Kondisi sengsara itu berangsur-angsur pulih. Ada satu hal yang menarik dari bencana hujan abu ini. Kadang bencana datang untuk membawa berkah. Karena hujan abu ini teman-teman kost yang sedianya selalu sibuk sendiri akhirnya bisa berkumpul, duduk bersama, memasak dan berbagi cerita. Lalu, warga masyarakat bergotong-royong keluar dari rumah, saling membersihkan jalanan di depan kediamannya, juga saling mengangkut tumpukan abu yang sudah dimasukkan ke dalam karung.

Dua, tiga bulan berlalu sejak abu itu mengguyur, Jogja mulai pulih kembali seiring dengan hujan yang menyapu bersih setiap titik-titik abu. Tidak terasa, kini tiga tahun sudah berlalu sejak abu itu mengguyur bumi. Semoga Kelud tak lagi murka, dan semoga pula manusia tetap bermawas diri dan sadar bahwa dia adalah ciptaan yang kecil, yang tidak selayaknya memegahkan diri.