Menjadi Sibuk itu Menyenangkan

Tapi, kebersamaan antar anggota itulah yang menjadi suatu pelumas organisasi. Tanpa kebersamaan tentu mustahil program kerja dapat terealisasi sempurna. Tanpa kebersamaan, hanya keegoisan yang bertakhta yang ujungnya membawa kehancuran.

Namanya juga manusia, terkadang egois dan menyebalkan namun bisa juga merasakan sedih dan terharu. Ditemani lampu yang remang, perlahan air mata menetes seraya mulut berucap menceritakan pengalaman manis. Ada yang merasa ditolak, terasing, kecewa dan aneh, tapi hari itu, semua hal pahit berubah menjadi manis.

Menjadi mahasiswa yang berkontribusi aktif buat kampus mungkin gampang-gampang susah. Ada yang memaknainya dengan berdemonstrasi di jalanan seraya mengusung panji-panji almamaternya. Ada juga yang sekedar kuliah lalu pulang, ada yang getol selalu mengkritik apapun terkait kampusnya dan ada pula yang sibuk berorganisasi. Cara-cara itulah yang membuat dunia perkuliahan asik, unik, dan terasa hidup karena kebebasan kita mengekspresikan sesuatu.

Kami adalah HMPSKom, alias Himpunan Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi yang bernaung di bawah Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Sebagai himpunan mahasiswa, jumlah kami tidak banyak, hanya 12 orang per satu tahun kerja. Tim yang sedikit bukan berarti minim prestasi, tapi dengan sedikitnya SDM kami belajar untuk melakukan segalanya secara efisien dan yang terpenting adalah kekompakan tim yang harus dijaga.

Hari ini, HMPSKom harus memulai awal yang baru karena angkatan 2012 telah selesai menjalankan tugasnya. Artinya, kini HMPSKom murni dijalankan oleh 12 orang saja yang terdiri dari angkatan 2013 dan 2014. Perpisahan dengan angkatan 2012 ini lah yang menjadi suatu cerita, cerita tentang sebuah organisasi biasa di kampus yang menjelma menjadi sebuah rumah bagi anggotanya.

Diiringi dengan suara genset listrik yang menderu, kami memulai acara berteman Evaluasi Kinerja di Pantai Siung. Alih-alih evaluasi, suasana malah semakin haru. Satu per satu menceritakan kembali kesan dan pengalamannya selama bernaung di dalam organisasi himpunan. Ada yang berangkat dari semangat tinggi lalu kecewa, ada yang merasa heran, dan ada pula yang merasa biasa saja.

Satu hal yang paling menyentuh adalah ketika Yohanita Rosediana alias si Melon bercerita. Dia menangis terisak, namun tetap melanjutkan ceritanya hingga suaranya hilang ditelan isakan. Tak ada yang berani menyela, semua larut mendengar. Walau kata-kata tak tercerna jelas, tapi ungkapan syukur dan ketulusannya terdengar jelas di hati setiap kami.

Tak lama, menyusul pula tangisan-tangisan lainnya dari setiap anggota. Bukan tangis sesal yang tercurah hari itu, melainkan tangisan bahagia dan rasa syukur atas sebuah kebersamaan yang telah dibangun bersama.

Kawan, menjadi anggota Himpunan di Universitas manapun berarti mengemban sebuah tanggung jawab mulia. Bertindak sebagai himpunan, artinya kita adalah jembatan komunikasi antara Universitas dengan Mahasiswa. Rusaknya himpunan bisa menjadi indikasi ketidaksehatan dinamika berpolitik di kampus.

Ada program-program kerja yang harus dilakukan oleh Himpunan, dan semuanya dilakukan bersamaan dengan kuliah serta kesibukan lain. Jika tidak pandai mengatur waktu, tentu semuanya akan berantakan. Rapat, rapat dan rapat pada titik jenuh akan jadi aktivitas memuakkan.

“Menjadi sibuk itu menyenangkan!” itu pernah menjadi motto kami selama satu tahun. Sibuk bukan sekedar sok sibuk. Ada yang mengaku diri sibuk, tapi kenyataannya hanya sibuk main. Ada pula yang merasa sibuk tapi jadwal tak terkontrol, akibatnya semuanya berantakan. Jika sibuk sekedar sibuk, itu mudah, tapi menjadi sebuah seni ketika sibuk itu produktif.

Kesibukan rapat, mengurusi acara Comminfest, Studi Perspektif, Kuliah Umum, Tes TOEFL dan lainnya bukan menjadi alasan untuk kami meninggalkan kuliah. Waktu memang semakin terbatas, begadang harus dilakoni setiap hari. Keterbatasan waktulah yang membuat waktu menjadi terasa berharga. Saking berharganya maka tidak boleh ada sedetik pun yang terbuang percuma hanya karena urusan sepele.

Tapi, kebersamaan antar anggota itulah yang menjadi suatu pelumas organisasi. Tanpa kebersamaan tentu mustahil program kerja dapat terealisasi sempurna. Tanpa kebersamaan, hanya keegoisan yang bertakhta yang ujungnya membawa kehancuran. Kebersamaan bukan berarti setiap saat dan kemanapun harus selalu barengan, tapi ada rasa saling mengerti antar anggota. Untuk saling mengerti harus dimulai dengan mau mendengarkan dulu orang lain.

Well, cukup panjang perjalanan ini. Tiga tahun di kampus menjadi waktu yang produktif. Mungkin secara fisik hasil kinerja kami tidak terlihat, ataupun ada pula pihak yang tidak merasakan dampak positif. Tapi, semua itu kembali lagi ke persepsi masing-masing orang yang melihatnya. Akhirnya, mengutip pernyataan dari Pak Jokowi, “Kerja..kerja..kerja”, fokuskan diri pada bekerja bukan pada gunjingan orang.

Terima Kasih HMPSKom!

“Gathered for once, scattered for a life time” Sebelum waktu melepas kita, kiranya tulisan ini boleh jadi kenangan manis buat rekan sekerja di HMPSKom tercinta. Benda bisa hilang, tapi kenangan tak akan pernah pudar dan cerita akan terus dikenang 🙂

Besi menajamkan besi dan manusia menajamkan manusia. Kalimat ini bukanlah sebuah omongan kosong, tapi memang sejatinya begitu. Karakter manusia hanya bisa dibentuk oleh manusia lainnya, tentunya lewat segudang pengalaman baik suka maupun duka yang terangkai sempurna.

Hari ini, Rabu 6 April 2016 bisa dibilang menjadi suatu awal yang baru. Ya, awal yang baru bagi HMPSKom untuk memulai langkahnya. Menjadi sebuah organisasi himpunan dengan sedikit orang bukan sebuah tugas yang gampang. Kalau ditanya kerjaannya ngapain, pasti orang di luar ngertinya kerjaan anak himpunan itu cuma rapat. Padahal rapat itu hanya sebagian kecil daripada gunung es kegiatan anak himpunan yang segudang.

Capek? Iya! Stress? Iya juga. Bosan? Nggak tuh! Yes, itu kesan yang terangkai sempurna. Tiga tahun lalu, tepatnya Oktober 2013 sekitar dua puluh orang angkata 2012 mendaftar seleksi HMPSKom. Duh! Pertama kesannya agak minder, kok yang daftar isinya anak-anak hits kampus semua? Sedangkan waktu itu aku ngerasa bukan siapa-siapa di kampus, bisa kuliah aja udah syukur apalagi bisa ikut aktif kegiatan di kampus.

Singkat cerita, awal November 2013 (lupa tanggal tepatnya) dinobatkanlah 6 makhluk dari angkatan 2012 menjadi anggota tetap HMPSKom. Pertama, jelas ada rasa bangga karena bisa diterima di organisasi yang katanya keren di FISIP! Kedua, minder pake banget! Dari kita ber-enam, ada si Ciput yang terkenal karena suaranya bagus, lalu ada si Putra yang eksisnya sampai ke planet Saturnus, ada Sofi yang galak nan jutek, ada Riestha yang kalem dan misterius, terakhir ada si Echel yang waktu itu aku gak punya gambaran apapun soal dia.

Tahun pertama terasa garing. Isinya cuma rapat dua jam tiap rabu, lalu tanpa basa basi langsung pulang seudah rapat. Duh, sempet sih ada rasa menyesal di HMPSKom, merasa aneh. Waktu itu Sofi, Putra dan Riesta kalau udah ketemu pasti bahas AJR. Kalau semuanya kumpul pasti pada gosipin kisah cinta masing-masing, dan waktu itu cuma aku yang bengong, roaming dan terlihat bego.

Perjalanan menuju kekompakan baru dimulai di pertengahan 2014 ketika kami, angkatan 2012 mulai dipercayakan memegang proker-proker. Proker terbesar kala itu adalah Studi Perspektif, alias SP yang dalam bayanganku super ribet! Gimana nggak, kita yang jumlahnya cuma ber-enam diminta menggarap kunjungan kerja ke Jakarta untuk mahasiswa satu angkatan yang jumlahnya hampir 300.

Mengurusi satu orang saja sudah susah, ini malah harus ratusan orang. Celakanya, kami ber-enam adalah manusia super sibuk yang mungkin untuk nafas aja harus dijadwal. Rapat SP pertama mulai ketar-ketir, bingung sana-sini, masalah di dosen dan lainnya. Bulan lewat bulan, mulai ada perubahan positif sampai satu hal tolol menimpa kami semua. Kami salah hitung, akibat kesalahan itu, jika tidak diperbaiki kami harus nombok puluhan juta. Tapi, syukurlah itu berhasil diperbaiki.

Sadar apa nggak, pengalaman itu jadi titik awal kami untuk solid di HMPSKom. Bulan lewat bulan dan tahun pun berganti. Perlahan tapi pasti, kami mulai menjadi satu walau tetap berbeda. Sofi yang terkenal galak dan jutek itu ternyata orangnya humoris dan seneng banget ngucapin kata “B*go Lu!” ke si Putra dan Ciput. Echel yang dulu tak terdeteksi tabiatnya, ternyata adalah manusia super unik yang punya power, apalagi setelah dia menjabat jadi ketua HMPSKom. Satu hal yang gak berubah dari Echel yaitu selalu minta nebeng pulang sehabi rapat. Ciput tetap begitu, tetap menjadi sosok lelaki yang agak buaya. Putra semakin eksis, kini semenjak jadi barista tingkat keterkenalannya udah sampai ke planet Pluto. Terakhir, yang tetap tak ternodai sampai detik ini adalah Ariestha. Riestha, sosok pendiam, murah senyum, dan satu-satunya orang yang paling netral dan bisa berpikir jernih di antara kami berenam.

Tulisan ini sebenernya dituliskan khusus buat temen-temen HMPSKom. Waktu itu mengubah segalanya, tapi waktu itu akan tidak berarti ketika kita tidak dipertemukan dengan orang-orang lain. Percayalah, kawan, rekan kerjamu selama di himpunan bukan cuma sekedar rekan kerja. Secara waktu, kami berenam jarang banget yang namanya main bareng, makan bareng, apalagi liburan bareng. Tapi, satu prinsip yang kami pegang adalah kita “kerja bareng”. Kenapa kerja? Dalam kerja, tekanan itu nyata, dan dalam tekanan itulah karakter asli seseorang akan keluar.

Kami mencintai satu sama lain karena karakter, bukan karena lainnya. Karakter Sofi yang blak-blakanlah yang jadi tameng kita ketika kita diserang dengan argumen miring. Echel-lah yang mengkordinasi setiap proker kita. Ciput dan Putralah yang selalu membuat rapat kita asik tanpa stress. Riesthalah yang selalu teliti dan ngingetin kita akan hal-hal kecil.

Kawan, perjalanan kita mungkin selesai sampai di titik ini. Ada satu pepatah yang aku yakini dan percaya yaitu, “Gathered for one time, scattered for a life time.” Kita dikumpulkan untuk sesaat, dan akan dilepas untuk selamanya. Pengalaman tiga tahun di HMPSKom ini jadi cerita manis dan buah nyata pelayanan kami bagi kampus. Kami bersyukur dan bangga, karena setidaknya buah kami bisa dirasakan oleh rekan sekerja kami, karena memang apa yang kami lakukan belum sepenuhnya sempurna.

Sejatinya, HMPSKOM, kalianlah pelita buat kampus kita. Sebagai pelita, kita mungkin tidak benderang, tapi di situlah perjuangan kita untuk tetap menyala ketika angin mulai bertiup. Jika kita adalah pelita, Tuhan apinya, maka kebersamaan adalah minyaknya. Tanpa ada kebersamaan, HMPSKom niscaya akan bubar tak berjejak. Ataupun jika ada, buahnya tak akan dirasakan orang lain.

Satu kata, Terimakasih HMPSKOM! Tetap berkarya bagi FISIP, menorehkan hal yang baik untuk almamater kita.

Semangat ya Deta, Nia, Meki, Melon, Nindya, Gotik, Tika, Vivi, Grace, Clara, Juan dan Anna.

 

Dari kami, rekanmu 2012

(Ary, Echel, Riestha, Sopiyatun, Ciput dan Putra)