Sejumput Kenangan Minum Teh di Ndoro Donker

Lawatan saya ke kaki Gunung Lawu Oktober setahun silam bukanlah sesuatu yang disengaja. Berkendara sepeda motor dari Yogya, tujuan saya waktu itu adalah mengikuti bursa pameran kerja yang diselenggarakan di Mal Solo Square. Tapi, tak ada satu perusahaan pun yang saya berminat untuk melamar. Cukup 5 menit berada di lokasi, kemudian saya keluar lagi, sambil memboyong map berisi sepuluh surat dan CV lamaran kerja. Continue reading “Sejumput Kenangan Minum Teh di Ndoro Donker”

Iklan

Keliling Bandung Bersama Dua Bule

Akhir pekan kemarin adalah jadwal saya pulang kampung ke rumah. Tak ada agenda apapun selain mengajak dua keponakan jalan-jalan ke Kebun Binatang. Tapi, karena langit yang mendadak berubah gelap, niatan jalan-jalan tersebut kandas setengah jalan. Daripada dua ponakan yang masih bocah sakit karena kehujanan, jadi saya mengajak mereka pulang lebih awal. Continue reading “Keliling Bandung Bersama Dua Bule”

Catatan 9 Jam Di Atas Kereta Serayu Pagi

Di hari Minggu pagi yang kelabu, saya terduduk di pinggiran rel Stasiun Sidareja. Sembari memandang langit yang sebentar lagi akan turun hujan, saya menanti kedatangan sang ular besi yang akan mengantar saya kembali ke Jakarta. Agak jauh dari tempat saya terduduk, ada puluhan penumpang lainnya yang juga akan meninggalkan Sidareja pagi itu. Continue reading “Catatan 9 Jam Di Atas Kereta Serayu Pagi”

Sumatra Overland Journey (8) |Ganja di Tanah Syariat

sampul

Sebuah baliho besar bertuliskan “Anda Memasuki Kawasan Syariat Islam” terpampang besar tatkala angkutan yang kami naiki bersiap memasuki kota Takengon. Sebelumnya kami berangkat dari Banda Aceh dan membutuhkan waktu nyaris sepuluh jam untuk tiba di Takengon. Berhubung waktu itu adalah bulan Ramadhan, hampir di tiap jam kendaraan kami selalu singgah di masjid-masjid kecil.

Continue reading “Sumatra Overland Journey (8) |Ganja di Tanah Syariat”

Sumatra Overland Journey (7) | Ketika Kami Diselamatkan oleh Keluarga Polisi

Berpose bersama Ibu Rohani, istri dari Pak Manullang yang telah menyediakan tumpangan kepada kami selama tiga hari

Langit telah sepenuhnya gelap tapi kami belum juga tiba di Takengon. Sudah 10 jam bokong kami tertanam di jok mobil yang melibas jalanan Trans-Aceh. Sementara udara di dalam mobil terasa pengap, di luar hujan turun dengan deras. Suasana kota menjadi amat sepi, apalagi saat itu adalah jam di mana orang-orang tengah menikmati santapan berbuka puasa.

Continue reading “Sumatra Overland Journey (7) | Ketika Kami Diselamatkan oleh Keluarga Polisi”