5 Hal yang Membuat Jogja Selalu Layak Kurindukan

blog2

“Pergi karena semangat, pulang karena rindu.”

Nama Jogja terdengar begitu istimewa, apabila kata itu terucap, tiba-tiba rasa rindu segera mendekap. Seringkali teman-teman bertanya heran, mengapa aku begitu baper dengan Jogja. Apakah ada pengalaman buruk atau manis yang pernah terjadi di sana?

Continue reading “5 Hal yang Membuat Jogja Selalu Layak Kurindukan”

Dusun Kragilan, Mendadak Tenar Karena Pinus

Kragilan kini tak lagi sama, ia ramai menghiasi linimasa instagram dan mengundang penasaran orang-orang. Sejatinya, Kragilan hanyalah sebuah dusun di lereng Merbabu yang tepatnya berada di kecamatan Pakis, kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Tak dipungkiri, kehadiran media sosial dengan cepat menaikkan pamor seseorang juga suatu tempat, dan yang menuai berkah tersebut adalah Kragilan, si dusun mungil yang kini menjadi terkenal.

Sore ini Kragilan ditutupi mendung yang menggelayut sejak siang hari, juga tak banyak wisatawan yang berkunjung. Ketakutan akan hujan bisa jadi alasan penyebab sepinya Kragilan hari ini. Tak menyerah karena sepi, Lilis, seorang bocah kelas VIII SMP duduk dengan manis menanti pembeli di warungnya yang ia namai “warung pojok.”

“Sore dek, kula nyuwun teh anget, wonten?” tanyaku. “Nggih, wonten mas,” jawab Lilis mantap. Dengan cekatan ia menyuguhkan segelas teh manis hangat yang ia bandrol seharga Rp 1.000,-. “Piyambakan mawon toh, dek? Ibu pundi?” tanyaku dalam bahasa Jawa tentang mengapa ia sendiri. Lilis menjawab dengan malu-malu kalau ibunya berada di kebun hingga sore, dan ia ditugasi sang ibu untuk menjaga warung setiap hari.

img_8882
Warung Pojok Dek Lilis

Lilis adalah salah satu dari sekian warga yang menikmati berkah lewat terkenalnya Kragilan menjadi spot wisata favorit. Menawarkan lanskap alam berupa hutan pinus yang terbelah oleh jalan dusun, Kragilan kini bersolek dan dinamai sebagai “Kragilan Top Selfie” akibat dari banyaknya wisatawan yang datang untuk berfoto ria.

Seiring dengan naiknya pamor Kragilan, fasilitas turut dibangun, namun tetap melibatkan warga lokal yang dikelola oleh Pokdarwis. Lantas, apakah yang membuat Kragilan menjadi begitu mempesona sehingga digandrungi ratusan hingga ribuan wisatawan muda setiap minggunya?

Secara geografis, Kragilan berada di ketinggian sekitar 1.000 meter dpl dan berlokasi di lereng Gunung Merbabu. Praktis, udara di sini terasa sejuk sekalipun matahari bersinar terik. Hutan pinus kini menjadi daya tarik tersendiri. Selain Kragilan, daerah lain berhutan pinus yang terkenal duluan adalah Mangunan di Yogyakarta, namun saking terkenalnya kini hutan Mangunan telah bersifat komersial,  hingga sempat ada komplain dari mahalnya harga tiket masuk.

Berbeda dengan Mangunan, Kragilan menawarkan sensasi hutan pinus yang lebih sepi. Suasana sekitar masih terjaga keasriannya. Warga lokal menambahi fasilitas tambahan berupa bangku kayu, mck juga tambahan beberapa warung, namun selebihnya hutan pinus masih alami.

kragilan1
Kragilan Best Spot 

Sejatinya, di mana-mana hutan pinus ya bentukannya sama saja, tapi Kragilan agak berbeda. Di tengah hutan pinus terdapat jalan dusun yang membelah hutan, dan kehadiran jalan inilah yang menjadi daya tarik utama. Banyak orang mengatakan hutan Kragilan sangat instagrammable banget, alias sangat cocok untuk masuk aplikasi Instagram. Untuk menambah kesan instagrammable tersebut, maka ditambahkan juga tulisan-tulisan lucu di beberapa pohon, seperti “Otw Move On”, “Biar Jomblo asal happy”, “Selfie mulu, kapan pre wedding?” 

img_8843
Seorang wisatawan duduk termenung berkontemplasi

Singkatnya, Kragilan kini bersuka karena dikenal. Warga sekitar belajar untuk berdaya dengan hadirnya produk baru bernama wisata instagrammable. Kini setiap wisatawan bisa menikmati Kragilan dengan beragam fasilitas. Mau menginap disediakan persewaan tenda seharga Rp 40.000,-. Mau Pre Wedding, ada. Mau flying fox,  ada. Mau menikmati kejombloan sendiri? Juga sangat boleh!

img_8900
Jomblo? Happy dong

Setelah puas menikmati tingkah para wisatawan di Kragilan, kembali ku berbicang dengan Lilis. Semakin kutanya, semakin malu tersipu ia menjawab. Namun, di balik sipu malunya, Lilis mau menjadi berdaya seperti Kragilan yang juga telah bersolek. Lilis dalam jiwa mudanya tidak menyerah dengan keadaan. Setiap hari ia menjaga warung pojoknya, seorang diri, tanpa hiburan apapun selain suara alam. Ia tidak juga bermain dengan teman sebayanya, ia lebih memilih membantu orang tuanya mencari uang.

Kala hari semakin gelap, segera kembali ku berkemas meninggalkan Kragilan. Tak lupa kutambahkan beberapa rupiah untuk Lilis yang segera dijawabnya dengan senyum malu-malu namun ikhlas.

img_8880
Jangan lupa mampir ke warung Lilis. Segelas teh panas yang kita beli membantunya untuk tetap sekolah dan tersenyum

Jadi, saudaraku, yuk, berwisata ke Kragilan selagi badan sehat, dan jangan lupa untuk memberdayakan potensi warga lokal dengan membeli produk mereka. Kalau bukan kita yang peduli dengan bangsa kita, siapa lagi?

*

*

Rute menuju Kragilan:

Jogja – Jalan Magelang – Muntilan – Pertigaan Borobudur masih lurus – Pertigaan Ketep belok kanan ke arah Ketep, ikuti jalan sampai tiba di Ketep – Dari Ketep masih terus sekitar beberapa Km, dan di kiri jalan ada gapura “Kragilan Top Selfie”, masuk ke situ

Tarif: Parkir dan Karcis Masuk Rp 3.000,-

Jogjakarta, 26 September 2016

Berastagi, Kota Singgah Backpacker Kelas Dunia

Hampir lima puluh jam perjalanan kami membelah pegunungan tengah Aceh. Tiba di Berastagi seolah melupakan penatnya badan dari perjalanan panjang. Pusat kota Berastagi begitu sejuk, ditambah semerbak aroma makanan dari pedagang kaki lima juga puncak Sibayak yang menjulang menjadi magnet kota kecil ini. Walaupun kecil, Berastagi jadi tempat persinggahan bagi para backpacker yang hendak melakukan perjalanan ke utara menuju Aceh ataupun ke selatan menuju Toba.

Bagi kami Berastagi adalah kebahagiaan. Sebelumnya, selama di Aceh tidak memungkinkan bagi kami untuk membeli makan siang mengingat hukum Syariat di Aceh mengakibatkan tak adanya penjual makanan di siang hari. Namun, di Berastagi kami bisa kembali bersantap siang namun dengan tetap menghormati saudara-saudara Muslim yang beribadah puasa.

Penginapan kelas Backpacker 

Berastagi umumnya dipadati wisatawan lokal dari Medan setiap akhir pekan. Kota kecil ini memiliki udara sejuk karena berada di lereng antara Sibayak dan Sinabung. Jika hari sedang cerah kita dapat melihat kedua gunung ini secara jelas. Selain udaranya, Berastagi juga memiliki kolam rendam air panas yang nyaman serta murah yang dapat dicapai sekitar 1 jam dari pusat kota.

Tak hanya turis lokal yang betah untuk tinggal di Berastagi, backpacker lintas benua pun merasa nyaman menetap di Berastagi. Kami menginap di sebuah homestay atau tepatnya hostel khusus untuk backpacker bernama Wisma Sibayak. Penginapan ini cukup murah untuk pejalan berkantong tipis karena hanya dipatok harga Rp 80.000,- per malam untuk satu kamar.

Penginapan ini dikelola oleh sebuah keluarga dan terkenal lantaran namanya tercantum dalam Lonely Planet sebuah travel guide paling laris di dunia. Untungnya kami pun mendapatkan rekomendasi Wisma Sibayak dari Lonely Planet. Ketika kami bermalam di Wisma Sibayak semua tamu disana adalah bule, kecuali saya sendiri orang Indonesia yang tersesat.

Hari pertama di Berastagi kami habiskan dengan beristirahat sejenak. “Dari mana dek, berdua saja sama kawan bulenya?” tanya ibu pemilik penginapan. “Iya bu, saya dari Jogja dan ini sedang keliling Sumatra sama rekan dari Jerman.” sahutku. Entah mengapa, status sebagai mahasiswa Jogja selalu memberikan kesan positif selama perjalanan di Sumatra ini, untuk itulah aku merasa bersyukur sekali.

Ibu pemilik penginapan ini memiliki segudang peta untuk dibagikan kepada setiap tamunya. Ia menjelaskan dengan detail tempat-tempat maupun kuliner yang wajib dikunjungi selama di Berastagi. Saking detailnya, ia pun menjelaskan rute angkot hingga tarif yang harus dibayar per sekali jalan.

IMG_3446
Sinabung terlihat jelas dari Sibayak

Pendakian Puncak Sibayak

Baiklah, setelah informasi yang didapat cukup kami menata rencana untuk dilakukan besok. Pendakian ke Sibayak kami pilih sebagai bagian dari petualangan di Berastagi. Berangkat pukul 08:00 dari penginapan, kami menaiki angkot bertuliskan “CV.KAMA” dan membayar Rp 4.000,- per orang hingga di muka gerbang retribusi Sibayak. Setiap pendaki diwajibkan menuliskan nama mereka terlebih dahulu di pos sebelum memulai pendakian. Tak lupa kami juga membeli dua botol air minum sebagai perbekalan.

Ibu di penginapan bilang kalau pendakian membutuhkan waktu sekitar tiga hingga empat jam berjalan kaki dengan medan yang tak begitu sulit. Baru saja memulai pendakian kami bertemu dengan bapak-bapak pekerja kebun. Mereka meneriaki kami dan meminta air minum. Hmmm, kalau kami beri maka kami harus berhemat air, sedangkan jika tidak diberi ya kasihan. Oke, kami pun merelakan satu botol air untuk mereka.

Dengan perasaan lega kami kembali berjalanan. Jalan menuju puncak di etape awal ini masih jalan beraspal namun naik-turun dan terkadang ada monyet-monyet yang mengikuti. Lambat laun nafas mulai tersengal-sengal sekalipun jalanan masih beraspal. Kami tetap semangat mendaki karena sayang sekali sudah jauh-jauh ke Berastagi kalau tidak sampai ke Puncak Sibayak.

Gunung Sibayak sendiri adalah gunung berapi aktif setinggi +/- 2.300 meter yang bertetangga dengan Gunung Sinabung. Sibayak relatif lebih tenang ketimbang Sinabung yang sering erupsi. Dari kestabilannya, Sibayak dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik tenaga Geothermal, juga sebagai wisata air panas.

Setelah berjalan sekitar dua jam, jalan aspal pun semakin rusak dan menanjak. Sebenarnya tidak ada tantangan berarti ketika mendaki di trek aspal, hanya nafas saja yang tersengal-sengal. Untungnya dua minggu lalu kami sudah trekking di Gunung Leuser jadi pendakian Sibayak tidak terlalu menyulitkan.

IMG_3480
Trek Pendakian Sibayak

Sesekali ada mobil melintas menawarkan angkutan hingga ke pos atas, namun jalanan rusak dan kami memutuskan berjalan saja. Di pos atas pendakian akan mulai memasuki bibir kawah. Jalanan yang semula aspal berganti ke jalanan berbatu. Pendakian dari titik ini memakan waktu sekitar 1 jam tergantung dari kecepatan berjalan.

Kawah Sibayak jika dilihat sekilas menyerupai dataran tinggi Dieng, namun posisinya lebih tinggi. Berjalan lebih jauh mendaki punggung kawah kami disuguhi pemandangan menakjubkan. Duduk di ketinggian 2.300 meter di atas permukaan laut membuat awan serasa begitu dekat untuk digapai. Angin semilir dingin, suara hembusan gas belerang dan pemandangan langit biru semua tersuguh di hadapan kami.

IMG_3459
Menyetuh awan 

Gunung Sinabung yang sedang batuk pun terlihat jelas, hanya sayang kerucutnya terutup kabut tebal. Keindahan Sibayak yang medan pendakiannya tak terlalu sulit ini ternyata pernah juga memakan korban. Dahulu pernah ada beberapa turis yang tersesat karena mengambil jalan pulang yang lain, mereka pun merangsek masuk ke hutan dan kehilangan arah.

Untuk mencari aman kami mengikuti instruksi dari ibu penginapan. Pukul 14:00 kami sudahi perjalanan kami di Sibayak dan beranjak turun. Tiba di pos yang berisi parkiran angkot kami memutuskan naik kendaraan saja supaya bisa mandi air panas sejenak. Waw, pemandian air panas di Sibayak sangat terjangkau. Cukup membayar Rp 3.000,- tersedia beberapa kolam dengan tingkat suhu panas yang berbeda. Berhubung kala itu tidak ada pengunjung, kami bebas menceburkan diri di seluruh kolam yang ada.

Air panas Sibayak mengandung belerang dan berwarna keruh kehijauan. Berbeda dengan air panas di Tangkuban Perahu, Subang yang berwarna bening. Tapi jangan kuatir dengan warnanya karena berendam air panas di tengah hawa dingin pegunungan adalah surga yang nyata.

IMG_3485
Air panas Sibayak, cukup membayar seharga Rp 3.000,- untuk berendam

Wisata Kuliner Berastagi

Puas berendam di air panas Sibayak, wisata kuliner telah menanti. Di sepanjang jalan utama Berastagi tersaji ratusan penjaja kuliner kaki lima yang menggoda. Dari pecel lele Lamongan, sate padang, sate madura hingga chinese food semua tersedia lengkap.

Badan yang lelah dan perut kosong adalah moment sempurna untuk makan sate padang seharga Rp 12.000,- per porsi. Namun disela-sela makan kami harus terganggu dengan kehadiran 12 orang turis Australia yang tiba-tiba memenuhi tenda. Celakanya, tak ada satupun mereka yang bisa berbahasa Indonesia.

Aku membantu keduabelas turis tersebut dengan menerjemahkan apa itu sate padang dan juga membantu mereka memesan makanan. “Wah mas, asik ya bisa bahasa Inggris kayak gitu, pasti dibayar mahal ya mas,” ucap wanita di sebelahku.”Wah, nggak mbak, ini belajar sendiri kok dan gak dibayar, saya bukan tour guide,” jawabku.

Puluhan turis-turis asing larut dalam kenikmatan kuliner Berastagi. Walaupun mereka tidak bisa berbahasa Indonesia namun dari raut wajah mereka terlihat senyum bahagia dan menikmati kuliner Indonesia. Untungnya pedagang kaki lima di Berastagi tidak nakal, mereka tidak menaikkan harga makanannya sekalipun konsumennya bule. 

Bukit Gundaling

Selain wisata kuliner dan Sibayak, bagi wisatawan yang tak mau berjalan terlalu jauh dapat menikmati panorama Berastagi dari Bukit Gundaling. Jika naik angkot cukup membayar Rp 2.000,- jika berjalan kaki cukup menempuh sekitar 1 jam. Sebagai backpacker miskin kami memilih berjalan kaki, selain berolahraga tentu menghemat duit. 

IMG_3493
Panorama Berastagi dari bukit Gundaling

Bukit Gundaling sendiri adalah bukit yang tak terlalu tinggi, namun memiliki posisi yang pas untuk menonton panorama SInabung. Sayang, seribu sayang di beberapa bagian bukit tidak terawat. Sampah menumpuk dan terlihat beberapa pasangan muda berpacaran tanpa menghiraukan pengunjung lainnya.

Baiklah, kita lupakan pasangan pacaran itu dan berfokus pada Sinabung. Sambil menikmati panorama, pengunjung bisa juga membeli teh dan kopi panas dari pedagang asongan ataupun dari warung-warung semi permanen yang tesebar di sekitaran bukit.

 

Perjalanan kami di Berastagi harus kami sudahi pada 15 Juli 2015. Perjalanan dilanjutkan menuju Toba melewati Kabanjahe.

20150713_105900
PO Sepadan. Kembali lagi ke jalanan

 

Takengon, Swiss van Sumatra

Jika Eropa memiliki Swiss yang khas dengan pegunungan Alpennya, Jawa yang memiliki dataran tinggi Dieng, Sumatra juga memiliki Takengon sebuah kota yang tak kalah dengan kota-kota dataran tinggi lainnya. Terletak di Aceh Tengah, Takengon sering juga dijuluki sebagai “Kota Dingin” karena jam 12 siang pun masih terasa sejuk.

Perjalanan kami telah menyentuh hari ke-12 dari total 30 hari. Bertolak dari Banda Aceh, kami menaiki sebuah mobil travel atau disebut juga taksi. Terlambat 30 menit dari jadwal semula, pukul 09:30 kami dijemput di Pasar Peunayong. Taksi yang sejatinya adalah mobil Mitsubishi Wagon L-300 ini bisa dibilang cukup nyaman walau tanpa pendingin udara.

IMG_3363
Kota Takengon dari ketinggian

Perjalanan ke Takengon normalnya memakan waktu 6 hingga 7 jam. Namun berhubung ini bulan Ramadhan perjalanan pun molor. Taksi yang kami tumpangi berputar-putar mencari alamat di Banda Aceh hampir dua jam. Saat menjemput penumpang terakhir pun masih harus menunggu karena yang dibawa oleh penumpang itu bukan barang biasa, melainkan sebuah sepeda motor Astrea Honda yang harus dimasukkan di kabin belakang mobil.

20150707_100111
Motor yang dimasukkan ke dalam mobil

Cuaca kurang bersahabat. Selepas Bireun, jalanan mulai berkelok dan longsor terjadi di kanan-kiri jalan membuat perjalanan terasa lebih lama, belum lagi sopir yang selalu menepikan kendaraan setiap satu jam. Menjelang gelap kami pun tiba di Takengon. Namun, entah kami harus menginap di mana. Berdasarkan Lonely Planet terdapat hotel kelas backpacker bernama Buntul Kubu seharga Rp 100.000,- namun kami tidak beruntung karena hotel tersebut telah disulap jadi markas Satpol PP.

Bingung, akhirnya kami mendapatkan titik terang. Seorang kawan di Yogyakarta yang asli Takengon memberi kami kontak kediaman orang tuanya. Dia mempersilahkan kami untuk tinggal bersama keluarganya di sebuah Asrama Polisi Takengon. “Udah, gak apa-apa, tinggal di rumah ibu bapakku saja daripada harus di hotel, nanti motor juga boleh dipakai kok.” bujuk temaku. Baiklah, kami menuruti sarannya untuk bermalam di Asrama Polisi.

Kala itu sudah pukul 19:45 dan kami tiba di sebuah Asrama Polisi. Anak-anak yang tengah bermain sejenak hening melihat sosok bule berjanggut. “Dek, rumahnya Pak Manullang dimana ya?” tanyaku. Mereka pun serentak menunjuk sebuah rumah dengan warung di depannya. Tiba di depan warung kami disambut oleh Pak Manullang yang secara sekilas terlihat seram, tapi ternyata baik sekali.

Udara diluar dingin dan berkabut, segera kami dipersilahkan masuk dan dua gelas kopi panas telah terhidang. Senang bukan main karena sambutan yang sangat hangat dari keluarga Manullang, padahal sebelumnya kami belum pernah bertemu. Tak lama Ibu Manullang pun bergabung dengan kami selepas ia pulang dari Gereja.

Rumah Pak Manullang tidaklah besar, namun sangat hangat dan rapi. Bukan hanya hangat karena banyaknya selimut, namun keluarga ini sungguh harmonis sehingga menghasilkan aura yang hangat. Keluarga pak Manullang dikaruniai empat orang anak, dan ketiga anaknya berada di Yogyakarta untuk kuliah, sedangkan yang bungsu masih bersekolah di bangku SMA.

IMG_3413
Bersama ibu Manullang di warung depan rumahnya

Putra pak Manullang yang ketiga adalah rekanku selama kuliah di Yogyakarta. Sejatinya kami tidak terlalu dekat, namun karena di semester tiga kita memilih Jurnalisme sebagai konsentrasi studi, ternyata kita jadi banyak satu kelas.

Keesokan harinya perjalanan mengitari Takengon pun dimulai. Ibu Manullang mempersilahkan kami menggunakan satu motornya untuk berkeliling. Beliau memberikan kami juga uang jajan, namun kami tolak karena sudah terlalu banyak merepotkan.

Pagi itu baru pukul 09:00 dan udara dingin masih sangat terasa. Berjalan ke tengah kota, semerbak bau kopi menghambur ke udara. Ah, sungguh indah untuk dikenang, sebuah kota dengan semerbak aroma kopi! Mengarah ke Danau Laut Tawar, terdapat sebuah tugu bertuliskan “Gayo Highland”.

IMG_3402
Jalan aspal di sekeliling Danau Laut Tawar

Takengon si Kota Dingin ini terletak di dataran tinggi Gayo dan berada persis di sebelah Danau Laut Tawar. Namun, satu hal yang disayangkan dari Takengon adalah penduduknya yang kurang sabaran. Di sebuah SPBU, masyarakat tidak terbiasa mengantre akibatnya kacau balau, kendaraan menumpuk.

Selepas mengisi bensin, kami mengitari danau dan mencari tempat yang tepat untuk beristirahat. Danau Laut Tawar tidak sebesar danau Toba, jika dikelilingi menggunakan sepeda motor hanya membutuhkan sekitar 4 jam perjalanan. Satu pemandangan yang sangat menarik adalah persawahan yang telah menguning di pinggiran danau.

IMG_3393
Sawah di Takengon

Kabut sering merayap turun hingga ke permukaan danau. Ketika musim hujan tiba, kita bisa melihat awan hujan yang merayap di atas permukaan danau. Di sekelilingnya perbukitan hijau menjadi punggung danau, juga persawahan yang menghampar menjadi daya tarik tersendiri dari Danau Laut Tawar.

IMG_3389
Tidur siang di pinggir danau

Tepat di siang bolong, kami menemukan sebuah lahan terbuka yang ditutupi pepohonan. Kami memarkirkan kendaraan disana dan bersiap melakukan tidur siang. Hmm, sungguh nikmat tak terkira. Suasana begitu damai hanya ditemani suara riak air dari danau dan hembusan angin. Mungkin inilah yang dinamakan sebagai firdaus.

IMG_3383
Danau Laut Tawar

Menjelang sore kami kembali ke tengah kota untuk melihat aktivitas warga mempersiapkan buka puasa. Kota yang tadinya sepi mendadak padat. Warga berjubel ke pasar untuk membeli berbagai penganan berbuka puasa. Berhubung ini di Aceh, syariat masih tetap terjaga jadi tidak diperbolehkan makan di tempat umum sebelum Maghrib tiba.

IMG_3385
Danau nan teduh
IMG_3415
Jalan Trans Aceh Tengah

Aroma kopi menghambur harum di penjuru pasar mengingat ada beberapa kios yang melakukan penggilingan biji kopi. Takengon, memang layak jika disebut Swissnya Sumatra. Walaupun tidak dengan pegunungan Alpen yang mengelilingnya, namun pegunungan Gayo juga tak kalah menarik dengan Alpen, bedanya ya tidak ada salju saja.

Ibu Manullang telah mempersiapkan penganan istimewa untuk kami. Ia begitu bersemangat memasak dan memperlakukan kami layak anaknya. Kopi panas asli gayo, sup dan juga ikan asli Danau Laut Tawar dimasak balado telah terhidang di depan kami. Ibu Manullang memanggil suami dan anak bungsunya untuk makan malam bersama.

“Tuhan, kami berterimakasih atas pimpinanMu dan juga kehadiran Ary dan Johannes disini, kami bisa saling mengenal dan mengasihi layaknya keluarga,” penggalan doa yang diucapkan oleh Ibu Manullang sebelum kami menyantap makan malam. Inilah hal yang paling berkesan selama di Takengon, bukan melulu soal tujuan yang kami capai, tapi orang-orang luar biasa yang kami temui selama perjalanan.

Keluarga Manullang adalah keluarga yang berpemikiran terbuka. Mereka mengatakan jika jiwa muda harus diisi dengan petualangan, karena kelak waktu yang akan merenggut pengalaman-pengalaman kita. “Besok saat kembali ke Berastagi, terserah kamu mau lewat jalan mana. Kalau lewat Kutacane jalannya menantang, jauh tapi pemandangannya bagus. Kalau mau cepat lewat jalan utama via Medan,” ucap Pak Manullang.

Tidak, mendengar kata “Medan” kami pun merinding. Ketimbang harus terdampar kembali di Medan dan ditipu di terminal lebih baik kami masuk ke hutan. Opsi pertama pun kami pilih, melanjutkan perjalanan ke Berastagi lewat Kutacane membelah lebatnya pegunungan Gayo Lues di Aceh Tenggara.

Dua malam kami habiskan di Takengon karena waktu yang terbatas. Dengan berat hati kami meninggalkan keluaga Pak Manullang, namun perbuatan baik mereka akan selalu jadi cerita manis tiap kali kami menceritakan perjalanan kami.

Gunung Leuser, Surganya Pulau Sumatra

Gunung Leuser ibarat perawan yang masih terjaga. Sungai Bahorok mengalir jernih, nyaris menyerupai air galonan yang dijual di perkotaan. Sore itu di bulan Juni 2015 tidak banyak wisatawan menghabiskan waktu di Bukit Lawang. Terlihat beberapa bule sedang asik melakukan tubbing, aktivitas bersantai menggunakan ban raksasa mengikuti arus sungai. Sedangkan beberapa turis lokal asyik dengan tongkat selfienya mengabadikan moment-moment berharga di alam terbuka.

Tubuh kami cukup lelah setelah menempuh perjalanan dari Medan ke Bukit Lawang. Lelah secara fisik, juga pusing secara pikiran. Kami menghitung persediaan uang yang tersisa, jangan sampai pengeluaran kami bengkak padahal masih ada puluhan hari ke depan yang harus dijalani di Sumatra ini. “So, what should we do tomorrow, Jo?” tanyaku pada Johannes. Sambil nyeruput kopi, kami mempertimbangkan segala kemungkinan, mulai dari uang hingga cuaca.

IMG_2888
Sungai Bahorok, Bukit Lawang, Sumatra Utara, Indonesia

Pilihan kami jatuh pada Trekking. Ya, Trekking! Sebuah perjalanan semi mendaki, mengelilingi Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) selama dua hari satu malam. Waw, imajinasiku menjalar kemana-mana. Bagiku yang lahir dan besar di kota, trekking palingan sekedar jalan kaki di Taman Hutan Raya Juanda di Dago, Bandung, ataupun palingan seperti hiking di wilayah Lembang. Tanpa pikir panjang, kami sepakat untuk melakukan trekking. 

Biaya trekking di Bukit Lawang tergolong mahal karena umumnya hanya wisatawan asing yang melakukan trekking. Kebanyakan turis lokal hanya bermain-main di sekitaran sungai saja tanpa berniat melakukan trekking ke jantung hutan. Kami membayar sekitar US$ 70 per orang kepada pengelola setempat. Berhubung aku juga orang Indonesia, maka terjadi tawar menawar. Kami mendapatkan potongan, sehingga kami berdua cukup membayar Rp 1.500.000,-.

IMG_2905
Seorang turis asing menikmati tubbing sendirian

Segala peraturan administrasi sudah kami lakukan, sekarang saatnya bengong menunggu Minggu pagi untuk berangkat. Tidak ada persiapan khusus yang aku lakukan akibat imajinasi bodoh yang ada di pikiran sebagai anak kota. Sedangkan si Johannes, tentu dia merasa baik-baik saja, namanya juga bule, sudah terbiasa manjat pohon bahkan terakhir kali dia sudah berhasil menaklukan Annapura, sebuah puncak di bawah Everest.

 

Minggu pagi pukul 08:00 perut kami diisi dengan sepiring pancake, juga ransel kami diisi dengan dua botol air ukuran 1,5 liter. Perjalanan kami seharusnya dimulai pukul 08:00 tapi terlambat hingga 09:30 akibat dua turis Rusia yang agak nyeleneh dan suka terlambat. Sebelum berangkat, kami dibagi kedalam tim yang terdiri dari aku, kawanku yang bernama Johannes dari Jerman, Annette Naber dari Belanda, dan sepasang ayah dan anak dari Rusia bernama Alex, sedangkan aku lupa nama anaknya. Tim kami didampingi oleh dua orang guide lokal.

IMG_2953
Si Bule Rusia memberi makan Orang Utan

Etape pertama dilakukan dengan menyusuri sungai sejauh 200 meter. Di sini aku merasa selow, imajinasiku tidak berbohong kalau trekking itu sejenis dengan hiking di Bandung. Selesai etape I, kami meninggalkan sungai dan mulai merangsek masuk ke lebatnya belantara Gunung Leuseur. Imajinasiku hancur lebur seketika. Tak ada jalan setapak yang mulus ataupun landai. Kami harus memanjat  di tanah yang basah dan licin.

Lima menit pertama memasuki etape kedua, aku langsung lemas tak berdaya. Nafas tersengal-sengal seperti mau meninggal dan muka memerah bagai tomat kebakaran. Sontak tim kami semua terhenti menanyakan apakah aku kuat atau tidak. Uniknya, para bule yang berada dalam timku sama sekali tidak mengasihani. “Come on! Just calm down, relax, and you can do it, yes we can do it together, we can walk slowly for you!” ucap Johannes menyemangatiku.

Oke, satu sisi aku tersemangati tapi di sisi lain terasa ditelanjangi. Bagaimana tidak, aku yang lahir dan besar di Indonesia yang konon katanya memiliki hutan hujan tropis terluas kedua setelah Brazil harus ngos-ngosan dan nyaris tewas ketimbang para Bule yang makan tempe saja belum pernah. Tapi, ya sudah, kita simpan dulu rasa malu itu karena masih ada 8 jam yang harus dilalui.

Mujizat dari langit, walaupun hampir pingsan tetapi aku tetap kuat berjalan. Menjelang pukul 10:00 kami berhenti selama hampir satu jam karena ada orang utan yang kebetulan melintas. Para bule terpesona, lebih terpesona daripada aku melihat seorang Julia Perez. Mereka takjub akan primata bernama orang utan. Sontak orang utan itu bagaikan artis, difoto dari berbagai sisi dan gaya oleh para bule. 

Sementara bule-bule berfoto, aku bengong, minum air dan berdoa memohon kekuatan ilahi supaya tidak pingsan, atau setidaknya bisa berjalan walau lebih lambat dari siput. Menjelang tengah hari, kami beristirahat dengan membuka perbekalan ala tarzan. Yaa, makan siang kami berupa buah-buahan tropis yang dipetik dari hutan. Markisa, pisang, mangga, jambu dan nanas jadi penganan ternikmat siang itu.

Namun, ketenangan siang hari itu harus berakhir ketika ada seorang Orang Utan yang aku lupa namanya datang. Guide kami bilang kalau orang utan itu pernah mengalami trauma sehingga dia antipati terhadap kehadiran manusia, dan ia pun menjadi ganas. Kami pun berlari seolah dikejar maling, sementara guide kami berusaha mengecoh si orang utan itu.

IMG_2979
Belantara Gunung Leuser, kanopi hijau terbesar di Sumatra

Lepas dari jerat orang utan, kami beristirahat kembali dan bertemu dengan serombongan tim lain dari Spanyol. Gila, tim Spanyol ini berisikan satu keluarga. Ayah dan ibu yang sudah lumayan tua, kira-kira umur 40an dan seorang anak berumur 10 tahun. Tangguh sekali mereka ini pikirku, dan kembali perasaanku ciut karena aku berfisik lemah.

Tak terasa perjalanan kami membelah hutan sudah memasuki pukul 17:30 dan kami hampir tiba di basecamp. Namun, derita belum berakhir karena etape terakhir ini bisa dikatakan yang terburuk daripada mimpi buruk manapun. Jalanan menurun nyaris 90 derajat, tanah basah dan licin. Aku bergidik, menelan ludah dan ingin pulang saja ke Jogja, tapi itu suatu kebodohan. Johannes dari belakang berteriak, “Come on! We almost reach our destination! Let me carry your backpack!” ucapnya. Dia membawakan ranselku dan itu sangat membantu. Kaki pun bergetar, aku turun tidak dengan kaki tapi dengan pantat alias ngesot. Mau bagaimana lagi ketimbang jatuh berguling-guling lalu hilang dari sejarah hidup, lebih baik ngesot dengan pantat memar asal selamat.

IMG_2966
Basecamp sederhana di jantung belantara Gunung Leuser

Selama satu jam perjuangan dan kami tinggal menyeberang sungai. Perjalanan terakhir ini seolah mengantarkanku ke surga yang sebenarnya. Basecamp sederhana yang hanya terbuat dari plastik seolah jauh lebih mewah dari hotel berbintang. Tiba di basecamp, tandanya penderitaanku berakhir.

Namun, lagi-lagi penderitaan itu memang lama untuk berakhir. Setelah menyantap indomie rebus sambil ditemani keheningan hutan, giliran badanku yang mulai error. Sekujur persendian nyeri luar biasa, ditambah lagi pantat yang memar-memar. Tanpa balsem ataupun pijat-pijat, aku cuma termenung di depan api unggun mensyukuri atas nikmat hidup yang masih bisa dirasakan.

IMG_3010
Senja di belantara Sumatra. Tanpa listrik dan sinyal. Damainya tiada terkira

Singkatnya, perjalanan trekking kali ini mengubahkan paradigmaku atas gunung secara selamanya. Alam bukan untuk ditaklukan, tapi untuk menikmatinya diperlukan skill dan juga semangat. Salutnya, melihat fisikku yang lemah, para bule tidak mencela tetapi menyemangati untuk tetap kuat hingga garis akhir.

Malamnya, tim kami tertidur dengan lelap. Ditemani bintang yang cerah, suara gemuruh sungai dan aroma khas belantara membuat tidur kami nyenyak, tak peduli ratusan nyamuk yang mengerubungi.

Hari kedua, jam-jam terakhir kami di jantung belantara. Melihat kondisiku yang bagaikan mayat hidup, para bule berbesar hati untuk tidak menempuh jalan pulang via trekking. Puji Tuhan Alhamdullilah, kami pun memilih untuk tubbing , alias pulang naik ban di atas sungai. Namun, kami dikenakan biaya tambahan sebesar Rp 100.000,- tapi itu bukan masalah bagi para bule.

Pukul 09:00 seluruh barang dikemas, dimasukkan ke dalam plastik super besar. Ban-ban disusun, diikat dengan tali menyerupai kereta perahu. Tepat pukul 10:00 perjalanan tubbing pun dimulai. Awalnya menyeramkan, tapi tubbing ini jauh lebih menyenangkan ketimbang arung jeram di Dufan ataupun tubbing di Gunung Kidul. Tubbing di Bukit Lawang memakan waktu total 120 menit, lumayan lama. Melewati puluhan jeram, kami pun berteriak puas.

IMG_2986
Ban Raksasa yang siap mengantar kami pulang

Waktu dua jam bukan waktu yang lama, tak terasa kami sudah tiba di perhentian akhir. Gila, dengan tubbing hanya butuh waktu dua jam, sedangkan trekking butuh waktu hampir 12 jam berjalan kaki dengan resiko tewas masuk jurang.

Syukur tiada tara, aku bisa tiba kembali di penginapan Bukit Lawang. Ada secuil rasa bangga karena bisa menikmati gunung Leuser dengan mata kepala sendiri. Dan juga, ada perasaan untuk pantang menyerah lebih lagi.

Perjalanan kami di TNGL hampir usai seiring dengan trekking yang berhasil kami lalui. Hari sudah menunjukkan Senin, 29 Juni 2015. Kami memiliki waktu satu hari tersisa menikmati Bukit Lawang sebelum melanjutkan perjalan ke utara, Nanggroe Aceh Darussalam!

IMG_3023
Kepulangan kami dirayakan dengan nanas segar seharga Rp 6.000,-

NB: 

Orang Indonesia harus mampir ke Bukit Lawang, untuk berkenalan langsung dengan saudara kita, primata Orang Utan.