Telaga Warna, Sebuah Loka untuk Meneduhkan Jiwa

Masa libur lebaran sudah mendekati ujungnya. Jalanan di daerah Puncak tumpah ruah dengan aneka jenis kendaraan. Ada yang berkendara untuk segera tiba kembali di kota perantauan, tapi tak sedikit pula yang pergi untuk mencari tempat pelesir. Jalanan yang hanya terdiri dari dua lajur berlawanan arah pun akhirnya kewalahan menampung beban ribuan kendaraan.

Continue reading “Telaga Warna, Sebuah Loka untuk Meneduhkan Jiwa”

Tetirah Singkat di Penyangga Jakarta

IMG_3670

Lima puluh kilometer di selatan Ibukota, Bogor tak hanya sekadar rumah bagi para komuter yang mencari nafkah di Jakarta. Di tengah pemukiman yang kian padat dan jalanannya yang semerawut, Kebun Raya Bogor masih menjadi paru-paru alami yang terjaga, sebuah warisan masa lalu dari masa kolonial.

Continue reading “Tetirah Singkat di Penyangga Jakarta”

Lembah Karmel Cikanyere: Tetirah untuk Jiwa yang Lelah

cikanyere2

Sabtu pagi, waktu di mana sebagian warga Jakarta masih terlelap dalam tidurnya, motor bebekku telah dipacu membelah jalanan Ibukota. Tujuan yang hendak dicapai pagi itu adalah Cikanyere yang berjarak sekitar 120 kilometer ke arah selatan. Untuk sesaat perjalanan terasa lancar tanpa kendala hingga persimpangan-persimpangan jalan datang menyapa, aku pun kebingungan dan akhirnya salah jalan.

Sebenarnya salah jalan bukanlah masalah besar karena bisa mencari jalan putar balik. Tapi buatku yang belum hafal jalanan Jakarta, itu sangat sulit. Apalagi sebulan sebelumnya aku pernah ditilang polisi karena tidak tahu jalan dan akhirnya memutar balik di tempat yang salah. Syukur kepada Mbah Google, dengan bantuan peta online akhirnya aku kembali ke jalan yang benar dan terus melaju ke tujuan.

Berangkat pagi bukan jaminan jalan bebas macet, namanya daerah megapolitan, tak ada hari libur untuk macet, termasuk itu di akhir pekan. Selepas Kota Bogor, jalanan semakin padat dan akhirnya berhenti total di daerah Ciawi. Angkot-angkot berbaris rapi menanti penumpang yang tak kunjung datang, sementara di belakangnya mobil-mobil bernopol B terus menekan klakson. Akhirnya terciptalah miniatur neraka di jalan raya pagi itu.

Mencari Tetirah 

Hidup di Ibukota memang menguras tenaga. Keluar kantor yang dilihat pertama kali adalah macet yang tak berujung, belum lagi berita politik yang kian hari kian panas, dan masih ditambah dengan segudang masalah khas perkotaan lainnya. Rutinitas ini lambat laun membuat hatiku menjadi tumpul. Aku tak lagi melihat pemulung-pemulung di pinggir jalan dengan iba, karena semua telah menjadi pemandangan sehari-hari yang “biasa”.

Aku membutuhkan sebuah tetirah, untuk menepi sejenak dari segala kepenatan dan mengisi kembali jiwaku dengan ketenangan. Aku teringat satu wejangan yang diberikan oleh Guru Agungku, “Kuasailah dirimu, dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa.” Oke, di zaman modern ini aku bisa berdoa di manapun dan kapanpun, tapi karena doa adalah pertemuan antara aku dan Pencipta, maka bolehlah aku melakukannya di tempat spesial. Dan aku memilih Cikanyere sebagai tujuan.

Lembah Karmel Cikanyere digambarkan sebagai tempat yang tenang dan teduh, tapi untuk menuju ke sana harus menguji hati. Setelah melewati lembah kemacetan di jalur Puncak Bogor, pemandangan mulai berganti menjadi lanskap khas pegunungan. Berhubung Puncak sudah jadi wisata favorit orang Jakarta, maka hijaunya agak berkurang tergantikan deretan bangunan-bangunan beton.

Aku memacu kendaraan melewati Taman Bunga Nusantara, kemudian memasuki jalan desa menuju Cikanyere. Nah, jika sudah tiba di desa yang sesungguhnya, aku bisa menggunakan GPS yang asli, yaitu Gunakan Penduduk Setempat, bukan GPS besutan mbah Google. GPS versi desa jauh lebih akurat, kadang warga yang berbaik hati malah bersedia mengantar.

Setelah tanya sana-sini, motorku tiba di pelataran Lembah Karmel Cikanyere. Perlu diingat, tempat ini bukanlah tempat wisata, melainkan tempat sakral untuk berdoa. Setibanya di sana, KTPku harus dititipkan di pos satpam sebelum masuk ke area utama.

Suasana sangat hening, tampak beberapa suster berbaju coklat tengah membersihkan area pertapaan. Satu per satu mereka tersenyum kepadaku, dan kubalas juga dengan senyuman. Senyum mereka begitu teduh, apalagi terdengar pula sayup-sayup lagu pujian yang dikumandangkan. Ah, sungguh damai berada di sini!

Sebelum mencapai Kapel, Patung Yesus di depan taman hijau menyambutku. Kurapatkan tanganku, membungkuk kepadanya, menutup mata dan menghirup nafas dalam-dalam. Langkahku terus maju hingga tiba di depan kapel. cikanyere4

Tak ada orang di dalam kapel itu, hanya deretan kursi-kursi kecil untuk berdoa. Kuambil posisi duduk di belakang, dan mulai berdoa. Kuucapkan apapun yang ada dalam pikiran, baik itu keluh kesah, mimpi, harapan, apapun itu. Tak terasa nyaris satu jam kulalui dengan duduk mengheningkan diri.

Aku memang bukan orang Katolik, tapi aku kagum dengan cara-cara mereka berdoa kepada Tuhan. Seringkali kita terlalu “berisik” ketika menghadap Tuhan, namun ketika kita mengheningkan diri sejenak, suara sang Pencipta lambat laun bisa terdengar. Tentu suara-Nya bukan suara verbal seperti yang manusia ucapkan. Tapi Ia berbicara lewat hembusan angin, cuitan burung, bahkan lewat suara hembusan nafas kita.

Aku sendiri tidak paham tentang sejarah dari tempat ini dibentuk, tapi satu yang kutahu pasti adalah tempat ini didekasikan untuk berdoa kepada Tuhan. Dan karena Tuhan menyayangi semua orang, maka tempat ini terbuka untuk orang-orang yang memang rindu untuk berdoa. Untuk diingat sekali lagi, tempat ini bukanlah tempat wisata, tapi tempat berdoa. cikanyere5

Di atas kapel terdapat ruang serba guna St. Theresia. Bangunan ini membundar dan terletak di atas bukit. Cukup membuat ngos-ngosan untuk berjalan kaki sampai di sana. Ruang serba guna ini akan ditutup jika tidak ada acara besar, tapi berjalan-jalan di sekitarnya cukup mengasyikkan. Tak jauh dari ruang serba guna terdapat patung Pieta, sosok Bunda Maria tengah memangku Yesus.

cikanyere3
Pieta

Meluangkan waktu beberapa jam di Cikanyere membuat jiwaku merasa lega kembali, dan aku siap untuk menghadapi rutinitas Jakarta!

____________

Rute dari Jakarta:

Jika menggunakan motor, ikuti Jalan Bogor dari daerah Cawang/Cililitan, terus saja sampai tiba di Bogor. Ambil arah menuju Puncak dan ikuti jalan ke arah Taman Bunga Nusantara.

Setiba di Taman Bunga, maju lagi ikuti jalan hingga menemukan perempatan belok ke kiri. Ikuti jalan lagi sampai menemukan plang Lembah Karmel Cikanyere.

HTM: Gratis…….

Bertetirah ke Jantung Ibukota

Hari minggu menjelang siang tatkala sebagian jalan arteri Ibukota masih lumayan lengang, ratusan manusia berjubel memadati Katedral. Satu per satu mobil mengantre mencari tempat parkir, sebagian yang tak sabar segera membunyikan klakson sementara pedagang makanan di luar pagar Katedral laris manis melayani pembeli.

Gereja Katedral Jakarta selalu ramai setiap hari Minggu sepanjang tahun. Pesonanya mampu mendatangkan banyak sekali orang, dari yang berhati tulus ingin beribadah hingga yang hanya sekedar numpang eksis dengan berfoto. Katedral memang unik, menaranya tinggi menjulang ke langit Jakarta dan bangunannya berdiri tepat di depan Masjid Istiqal, sebuah lambang akan damai yang berdampingan.

Aku datang jauh lebih awal sebelum misa Minggu jam 11:00 dimulai supaya mendapatkan tempat duduk di dalam gedung gereja. Jemaat yang hadir memaknai katedral dengan beragam. Tampak sepasang lansia berjalan pelan menuju deretan kursi depan, tanpa bercakap mereka membuat tanda salib, tak lansung duduk mereka memilih untuk berlutut terlebih dulu untuk menyatakan bakti pada Tuhan.

Jemaat semakin tenang ketika misa dimulai. Umat berdiri menyambut datangnya Romo pertanda ibadah nan khidmat dilangsungkan. Pujian merdu mengalir lembut, mazmur didaraskan, homili disampaikan hingga pemberian komuni semua berjalan tenang dan teduh.

Sambil terlarut dalam nuansa teduh itu mataku tertuju pada burung-burung gereja yang terbang di langit-langit. Mereka acuh tak acuh akan kehadiran ratusan jemaat di bawahnya, seolah mereka ingin mengatakan kalau gereja ini adalah rumah mereka, rumah yang Pencipta mereka ciptakan untuk segala makhluk ciptaan-Nya.

img_3871
Altar

Tak sampai dua jam berlangsung, ibadat misa pun usai ketika Romo memberikan pesan damai dan pengutusan kepada jemaat. Suasana yang semula khidmat mulai menjadi ramai, beberapa jemaat segera mengambil posisi ke depan untuk berfoto, sebagian lain memilih untuk keluar, dan ada juga yang memilih pergi ke bagian belakang untuk menyalakan lilin dan berdoa.

Aku memilih untuk berdiam di dalam bangunan tua ini dan melekatkan lututku di pijakan. Seraya berlutut, kututup mataku untuk sekali lagi berdoa, membiarkan Sang Khalik berbicara secara perlahan lewat keheningan.

Aku tidak terlahir sebagai seorang Katolik, tapi aku adalah pengunjung setia gereja Katedral. Tak kulupakan untuk singgah barang sejenak setiap kali aku merasa penat dalam rutinitas. Bangunan nan tua ini menawarkan ketenangan, tempat yang teduh untuk menemukan pribadi Tuhan yang tak terlihat.

Aku larut dalam suasana damai, sebuah suasana yang tak mampu aku deksripsikan dengan kata-kata. Tak ada yang kuingini selain berdiam diri di kursi gereja. Segala penatku perlahan gugur tergantikan syukur. Aku tahu, rumah Tuhan terbuka untuk siapapun, ya, siapapun yang merindukan merasakan damai-Nya, sebuah damai yang berbeda dari apa yang dunia berikan.

Di sela-sela rutinitas metropolitan yang terkadang menjemukan, kutemukan tempat bertetirah tepat di jantung Ibukota. Tak perlu membayar apapun, cukup dengan hati terbuka maka damai itu akan datang dan mengalir.

img_3867
Mengambil memori di Katedral