Sebuah Amplop (Lagi) dari Jerman

Minggu kemarin (24/9), saya menerima sebuah pesan Whatsapp dari seorang kerabat di gereja. “Ada surat buatmu dari Jerman,” katanya. Saya mengernyit. Sebelumnya tidak ada pemberitahuan terlebih dulu dari Johannes Tschauner (Jo), sahabat saya yang berada di Jerman kalau dia akan mengirimkan sepucuk surat ke Indonesia. Continue reading “Sebuah Amplop (Lagi) dari Jerman”

Iklan

Berawal dari Blog, Bersua di Semarang

Sejak mulai aktif menulis sebagai blogger di awal tahun 2017 ini, aku mengenal beberapa teman baru. Mereka sering mampir di blogku, membaca tulisanku, dan tak lupa meninggalkan komentar berupa apresiasi atau juga kritikan. Walaupun aku dan mereka tak pernah bertemu secara tatap muka, tetapi entah mengapa ada rasa akrab yang terbangun. Continue reading “Berawal dari Blog, Bersua di Semarang”

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Dari Jakarta ke Sidareja—Perjalanan Singkat Bertemu Sahabat

IMG_3307Sidareja, mungkin tak banyak orang yang kenal dengan nama ini, sebuah kecamatan yang berjarak 350 kilometer dari Jakarta. Sidareja bukanlah nama tempat yang tersohor, tapi tempat inilah yang selalu jadi agenda wajibku tatkala akhir pekan atau tanggal merah datang menyapa.

Continue reading “Dari Jakarta ke Sidareja—Perjalanan Singkat Bertemu Sahabat”

Dua Pejalan Nekat—Disatukan Karena Tekad!

backpacker1

Kami tak terlalu sering bertemu, seingatku hanya tiga kali pertemuan yang pernah kami lakukan. Dua kali di Bogor dan satu kali di Yogyakarta. Tapi, jarangnya bertemu bukan menjadi jurang yang membuat pembicaraan kami tidak nyambung, malah tiap kali bertemu mulut kami seolah tak mau berhenti bicara tentang pengalaman dan mimpi kami masing-masing.

Continue reading “Dua Pejalan Nekat—Disatukan Karena Tekad!”

Dikumpulkan Sekali, Dipencar Selamanya

Tak ada pekerjaan yang terlebih mulia ketimbang pekerjaan yang dijalani dengan hati yang tulus.

Selamat berkarya, kawan! Ada doa dan bangga dari rekanmu, wartawan di kota Jogja!

Tahun 2016 menjadi penanda kalau sudah enam tahun aku meninggalkan bangku SMA. Masa belajar putih abu-abu itu telah usai, demikian juga dengan segala pelajaran yang dulu dipelajari kini telah menguap seluruhnya. Nyaris tak ada yang diingat dari mata pelajaran Matematika dengan integralnya, Fisika dengan rumus-rumusnya ataupun Biologi dengan ratusan nama latinnya. Hanya satu yang masih diingat, pertemanannya!

Pagi ini, di sudut kota Jogja hape biruku bunyi pertanda ada yang menelpon. “Halo, Ary! Aku ditempatin ke Toraja, Sulawesi Selatan, jauh banget, gak nyangka bakal ditaruh disana!” suara dari seberang telepon. Dari nadanya terdengar jelas ada campuran antara rasa panik sekaligus sukacita. Panik karena ia akan pergi jauh ke tempat yang sama sekali tak terpikirkan olehnya, sekaligus ada sukacita karena cita-citanya mulai terwujud.

Sosok di seberang telepon itu adalah Willi Kristian, rekan sepermaian juga seperjuanganku selama masa SMA berlangsung. Pertemanan kami cukup singkat, kenal saat duduk di kelas XI kemudian menjadi karib. Alasannya sederhana, waktu itu Willi adalah sosok paling rajin di kelas. Seluruh pekerjaan rumah sudah pasti dia selesaikan sebelum waktunya dikumpulkan, alhasil 29 anak lainnya melakukan copy paste dari Willi, terutama untuk PR Matematika.

Wili, Si Rajin yang Panik

Namun, di balik sosok rajinnya Willi tersimpan rasa gugup yang mendalam. Sekalipun dia paham semua materi pelajaran, tapi hampir di setiap ulangan Matematika nilainya rendah. Suatu ketika, hasil ulangan Matematika dibagikan. Tatkala teman-teman lainnya bersorak riang karena nilai yang bagus, Willi tertunduk lesu, nilai Matematikanya kala itu mendapatkan nol, padahal di PR sebelumnya hampir seluruh siswa mencontek pekerjaan Willi.

Sekalipun ia gugup dan minder, tapi itu tidak membuatnya putus asa. Wili tetap setia belajar hingga menjelang Ujian Nasional tiba kami meluangkan waktu setiap sore untuk belajar bersama. Hasil UN pun memuaskan dan kami lulus dengan kejujuran. Terlepas dari sukacita menamatkan sekolah, rasa sedih pun hadir karena waktu kami bersama telah habis.

Aku memutuskan untuk keluar dari zona nyamanku di Bandung dan memulai hidup baru di Jogja, sebuah kota yang tak kukenal dan tak ada kerabat di dalamnya. Beberapa rekan yang lain diterima dengan bangga di perguruan tinggi negeri, ada pula yang kuliah di kampus swasta di Bandung. Dan, Willi, ia mendapatkan beasiswa penuh berkuliah di Fakultas Keguruan sebuah Universitas swsta di Tangerang.

Sesaat sebelum kami benar-benar berpencar, kami ragu akan Willi. Apakah dia akan bertahan dan sukses di perantauan? Memang, jarak Bandung dan Tangerang secara fisik dekat, tetapi bisa jadi sangat jauh secara psikis. Willi terlahir di keluarga yang tidak melimpah secara ekonomi. Setelah ditinggal sang ayah berpulang, ia bersama ibu dan kakaknya bertahan hidup dari membuka warung kecil di Pasar Cangkring, kota Bandung.

Teringat betul, moment ketika masing-masing anak SMA berpikir mencari perguruan tinggi favorit, Willi termenung memikirkan apakah ia bisa kuliah atau tidak. Untuk memasuki kampus swasta, biayanya terbatas, untuk masuk ke negeri ia tak yakin dengan SNMPTN yang harus dilalui. Hingga datanglah tawaran beasiswa penuh Fakultas Keguruan. Awalnya ia ragu, demikian juga dengan ibunya. Berkat perkenanan Tuhan dan sokongan dari guru-guru BP, maka jalan beasiswa itu dipilih Willi, dan dari sanalah sejarah baru hidupnya terukir.

Pertemuan di Medan 

Juli 2012, kami semua berpencar secara total. Tak ada komunikasi yang terbangun, hanya sesaat sebelum liburan semester tiba kami mulai berkontak menanyakan kabar. Tahun lewat tahun, tepatnya di 2015 aku mendapatkan kabar kalau Willi ternyata hampir rampung kuliahnya dan sedang menjalani magang sebagai guru di Medan.

Moment yang sangat tepat sekali karena Oktober 2015 lalu aku juga ditugaskan oleh kampus untuk berangkat ke Medan dan menceritakan tentang pendidikan di Jogja. Tanpa perencanaan sebelumnya, kami ternyata bertemu di Medan. Rasa haru dan bangga tercampur jadi satu.

Sosok Willi yang dahulu super panik, gemetar dan seperti mayat hidup ketika bicara di depan umum, kini tampil sebagai seorang guru yang harus dan pasti berdiri di depan kelas menghadapi puluhan murid yang mungkin nakal. Aku membayangkan sesosok Willi ketika ia di-bully oleh muridnya. Namun, dugaanku salah, Willi telah bertransformasi. Ia telah mengalahkan dirinya sendiri.

Di tengah keterbatasannya ia mau berusaha menjadi tidak terbatas. Selama di Medan ternyata ia menjelma menjadi sosok guru magang yang disayang oleh anak didiknya. “Iya, ada murid-murid yang bilang Pak Willi jangan pergi, tetap ngajar kami ya,” ucap Willi. Bagiku, kalimat itu menjadi suatu penanda bahwa menjadi guru adalah panggilan hidup Willi. Ada orang-orang lain yang merasakan manfaat dan berkat dari kehidupan Willy.

Pertemuan kami di Medan singkat, hanya satu hari dan kami habiskan untuk ngobrol dan berkeliling kota naik Bentor. Singkatnya pertemuan kami diisi dengan kekayaan cerita pengalaman hidup. Perjalanan hidup mampu mengubah takdir seseorang selama ia mau untuk diubahkan.

Gathered for Once, Scattered for Life Time 

Dikumpulkan untuk sesaat dan dipencarkan untuk seterusnya. Tidak selamanya pertemanan itu harus bersama secara fisik, akan ada waktunya setiap kita diutus untuk berkarya di ladang masing-masing. Pertemanan kami selama tiga tahun di SMA ternyata menjadi garis awal dari petualangan yang jauh nan panjang serta tak terduga.

Lewat tulisan ini, tersirat doa supaya tak hanya Willi yang bersukacita akan panggilan hidunya, melainkan juga untuk rekan-rekan lainnya. Mungkin tak semua impian kita akan menjadi kenyataan, bisa juga tenggelam bersama dengan permasalahan hidup. Tapi, satu yang pasti adalah alam semesta ini diciptakan dengan maksud baik dan untuk kebaikan. Jika kita tidak menemukan kebaikan dalam hidup ini, maka jadilah kebaikan itu.

Selamat, Willi, di zaman ketika manusia mengejar harta dan tahta sebagai karir utama, kamu mengejar pelayanan sebagai yang terutama dalam hidupmu. Menjadi seorang guru berarti mempersiapkan generasi selanjutnya untuk hidup. Tak ada pekerjaan yang terlebih mulia ketimbang pekerjaan yang dijalani dengan hati yang tulus.

 

Selamat berkarya, kawan! Ada doa dan bangga dari rekanmu, wartawan di kota Jogja!