Menemukan Roh Perjalanan di antara Tegal dan Jakarta

TegalCoverBepergian naik kereta ekonomi memang tidak senyaman pergi dengan kereta eksekutif, mobil pribadi, ataupun juga pesawat. Namun, di balik harga tiketnya yang murah dan tempat duduknya yang sempit, gerbong-gerbong kereta ekonomi menyajikan nuansa lain suatu perjalanan, yaitu kebersamaan. Berawal dari sebuah senyuman dan tegur sapa, perjalanan nan panjang menjadi lebih asyik diselingi obrolan hangat.

Ratusan penumpang mulai berbaris tatkala petugas stasiun mengumumkan kalau kereta api Tegal Ekspress telah tersedia di peron 3 Stasiun Pasar Senen. Hari itu, di Sabtu pagi tidak terlalu banyak kereta api yang berangkat jika dibandingkan dengan Jumat malam. Setelah kereta api Bogowonto dengan tujuan Yogyakarta diberangkatkan, kini tibalah kereta api Tegal Ekspress menunggu giliran untuk berangkat.

Tidak sampai 15 menit setelah pengumuman boarding disiarkan, seluruh gerbong kereta api Tegal Ekspress sudah dipenuhi oleh penumpang.  Ketika kulayangkan pandangan ke seluruh penjuru gerbong, tidak ada kursi kosong yang tersisa untuk keberangkatan hari itu. “Sungguh beruntung!” gumamku dalam hati karena masih bisa mendapatkan tiket walaupun membelinya secara mendadak.

Sebetulnya ada perasaan menyesal karena kursi yang kududuki hari itu bukanlah kursi di samping jendela. Aku harus duduk di kursi nomor 16B, kursi yang sangat kuhindari karena bisa mengakibatkan mati gaya! Duduk selama berjam-jam diapit dua orang itu memang tidak nyaman. Kepala tidak bisa bersandar kemana-mana, belum lagi posisi bokong yang terasa sempit. Tapi, akhirnya aku harus menerima kenyataan dengan ikhlas dan kecewa itu perlahan pudar seiring dengan kereta yang beranjak pergi.

tegal6
KA Tegal Ekspress tunggu bersilang di Stasiun Haurgeulis, Subang

Tiga orang yang duduk di depanku adalah sebuah keluarga yang terdiri dari suami, isteri, dan anak. Mereka bertiga hendak bertolak ke Cirebon. Sang suami tampak sudah cukup berumur dengan kerutan-kerutan tebal di wajahnya, demikian juga dengan istrinya. Mereka juga membawa serta dua karung ukuran besar dan sebuah kardus televisi. “Buat oleh-oleh di kampung mas,” ujar mereka kepadaku sambil diselingi tawa kecil.

Penumpang di sebelah kiriku adalah seorang pemuda yang sedari naik gerbong sudah memakai headset dan langsung menyandarkan kepalanya di jendela. Sedangkan penumpang di sebelah kananku ini cukup unik. Dia memakai topi dan masker biru, juga tidak membawa apapun selain tiga buah handphone yang digenggamnya.

Dua jam berlalu dan lama kelamaan kaki mulai terasa pegal. Duduk di kereta ekonomi memang harus pandai berkoordinasi dengan penumpang di depan, kalau tidak kita akan sulit untuk meluruskan kaki. Bapak yang duduk persis di depanku telah tertidur pulas dan posisi kakinya menyulitkanku untuk mengerakkan kaki. Daripada duduk membeku akhirnya kuputuskan untuk jalan-jalan saja ke ruang restorasi.

tegal7
Menikmati pemandangan sambil menulis buku harian. Terbaik!

Ruang restorasi berada di posisi tengah rangkaian kereta, jadi aku harus berjalan sejauh empat gerbong ke depan untuk mencapainya. Puji syukur karena walaupun kereta hari itu penuh, gerbong restorasi kosong melompong. Sambil menikmati makanan berupa ayam kecap seharga Rp 22.000,- aku menikmati hamparan sawah yang terbentang dari balik jendela kereta.

Tapi, kenyamanan ini tidak berlangsung lama karena ada penumpang lain yang juga datang ke restorasi. Berhubung meja di gerbong ini terbatas maka aku pun mengalah dan kembali ke gerbong ekor tempatku duduk.

Pertemuan dengan kawan baru: Mbak Dewi

Setelah kereta api melintasi Cirebon dan keluarga di depanku turun, masih tersisa sekitar satu setengah jam sebelum kereta ini tiba di stasiun Tegal sebagai tujuan akhir. Penumpang yang duduk di sebelah kananku membuka maskernya dan mengajakku mengobrol.

“Tegalne ndi mas?” tanyanya dalam logat Ngapak. “Ndak di mana-mana mbak, Cuma nang stasiun wae. Abis itu aku balik lagi Jakarta kok,” jawabku. Mendengar jawaban itu, si mbak mengernyit dan penasaran. Kemudian dia menatapku dari ujung rambut hingga ujung kaki. Mungkin dia pikir kalau aku itu kurang kerjaan karena jauh-jauh naik kereta ke Tegal, lalu sampai di stasiun sana langsung pulang lagi ke Jakarta.

“Lah, mas nya aneh, apa gak cape ya, hahaha. Ngomong-ngomong kerjaannya apa mas?” Tanya mbak Dewi sambil tertawa. “Aku sih kerjaannya berhubungan sama tulisan mbak, kadang nulis, kadang ngedit. Makanya jalan-jalan supaya ada ide,” jawabku padanya. Merasa tak terlalu puas dengan jawaban itu, dia memandangiku sekali lagi dan kembali bertanya. “Mas nya sipit, orang mana sih mas? Bukan muslim ya?” tanyanya. Aku menjawabnya dengan tertawa kecil, “Orang Indonesia kok mbak, asli Bandung, aku Kristen.”

Perawakanku yang kurus, berambut kriting, dan bermata lumayan sipit (menurutku begitu) memang menjadi perhatian tersendiri ketika aku bepergian naik kereta ekonomi. Sambil memanggul ransel besar dan kamera di samping, orang seringkali bertanya ke mana tujuanku. Tak berhenti sampai di situ, biasanya mereka juga akan menanyakan hingga ke identitas pribadi, termasuk ras dan keyakinan.

Tapi, buatku itu tidak masalah. Toh, mereka bertanya itu kan murni atas dasar kepo alias ingin tahu. Lagipula sebagai sarjana Komunikasi, aku tentu mengerti kalau orang Indonesia adalah tipe orang yang sangat suka berbasa-basi.

tegal 6
Mbak Dewi 

Obrolan aku dan mbak Dewi pun berlanjut hingga akhirnya aku mengetahui kalau umurku dengannya itu tidak terpaut jauh—hanya berbeda dua tahun saja. “Gue pikir kamu orangya sombong mas, tapi taunya ramah haha,” katanya sedikit memujiku. Awalnya memang aku tidak mau berbicara dengan dia karena sejak awal masuk ke gerbong, si mbak Dewi ini hanya memegang handphone dan sesekali menelpon rekannya dengan kata-kata kasar.

Kami pun semakin larut dalam obrolan. Setelah aku menceritakan maksudku datang ke Tegal hanya untuk pulang lagi, kini giliran dia untuk bercerita tentang dirinya. Awalnya obrolan kami hanya sekadar basa basi, tapi lama-lama mbak Dewi menganggap kalau aku orang yang tepat untuknya mencurahkan segala beban hidup.

Aku pikir dia adalah perempuan yang sangat tegar. Bagaimana tidak, di usianya yang hampir sepantar denganku ternyata dia sudah berstatus sebagai janda. Beberapa tahun lalu dia menikah dengan suaminya yang berasal dari Cilacap. Setelah pernikahan mereka dikaruniai seorang putri, suaminya pergi entah kemana tanpa pernah memberi kabar hingga hari ini.

Akhirnya, mbak Dewi harus membesarkan sendiri anaknya yang tahun ini sudah harus masuk ke bangku sekolah. Perjuangannya tidak berhenti sampai di situ, setiap harinya mbak Dewi bekerja sebagai penjaga kantin di kawasan Bundaran HI Jakarta. Sejak subuh dia sudah harus memasak dan menyiapkan kantin dan baru kembali saat hari sudah malam. Untuk pekerjaan beratnya itu, upah maksimum yang bisa dia dapatkan adalah Rp 50.000,-.

“Sedih mas saya. Paling sebulan saya dapet duit sejuta, lima ratusnya saya kirim ke kampung buat anak. Lima ratusnya buat saya, buat makan, bayar kost, beli ini itu,” tuturnya lirih. Aku pun hanya bisa mengangguk-angguk tanpa tahu solusi apa yang bisa kuberikan padanya. “Terus, apa nggak rencana cari kerja di Tegal aja biar deket sama anak?” tanyaku. “Gak bisa mas, mau kerja apa saya di kampung? Sulit mas cari kerja di kampung!” jawabnya.

Jawaban itu membuatku merenung sejenak. Mbak dewi, termasuk juga diriku sama-sama bertarung dari daerah untuk memperebutkan rupiah di Ibukota. Mungkin aku lebih beruntung daripada mbak Dewi karena pekerjaanku terlihat lebih baik. Tapi, hati kecilku bertanya-tanya, mengapa di negeri yang begitu luas dan kaya akan sumber daya alam ini, semua perhatian orang-orang hanya terpusat kepada Jakarta?

Jakarta memang ibukota, dia menyediakan janji tentang hidup sukses. Apapun pekerjaannya, yang penting di Jakarta! Setidaknya prinsip itulah yang masih tertanam dalam benak beberapa orang, termasuk juga dalam benak mbak Dewi. Sekalipun pekerjaan di Jakarta hanya sebagai pekerja kasar, tapi ada rasa bangga sedikit ketika orang-orang di desanya mengetahui kalau dia telah bekerja di Jakarta.

Bagi sebagian orang, Jakarta masih menjadi segalanya—tempat mereka menggantungkan mimpi dan harapan. Sekalipun upah yang dia dapatkan di Jakarta itu sedikit, tapi mbak Dewi belum mau menyerah dengan hidupnya. “Saya gak mau anak saya nanti susah, mas” tuturnya bersemangat. Jerih keringatnya setiap hari seolah bukan menjadi beban yang berarti ketika dia mengingat kembali tanggung jawabnya sebagai seorang ibu.

Tak terasa obrolan kami yang serius dan panjang itu harus berhenti ketika kereta mulai melambat. “Wah, udah mau nyampe. Udah mas, mampir aja ke rumah saya nanti naek ojek!” ajak mbak Dewi. “Nggak bisa mbak, kan jam setengah tiga saya harus balik lagi ke Jakarta,” jawabku. Sebelum kami berpisah, kami sempat bertukar kontak dan mengakhiri pertemuan kami dengan jabatan tangan.

Tiba di Tegal, saatnya pulang ke Jakarta

Hanya kurang dari satu jam aku habiskan untuk berkeliling Tegal. Dari stasiun aku berjalan kaki menuju Taman Poci, lalu pindah lagi menuju alun-alun. Sambil berteduh sejenak, aku juga membeli seporsi tahu gejrot. Puas mengisi perut dan memotret beberapa sudut kota Tegal, aku bersiap untuk pulang kembali ke Jakarta.

Pukul 14:30, kereta Tegal Ekspress kembali membawaku ke Jakarta. Kali ini tempat dudukku adalah hotseat karena persis di samping kaca. Perjalanan kembali ke Jakarta ini tidak terlalu menyenangkan dan tak ada cerita unik untuk dibagikan. Setelah lima jam menembus pantura Jawa Barat, kereta pun tiba di Stasiun Jatinegara dan aku melanjutkan pulang ke Kalideres.

tegal3
Kereta api Tegal Ekspress tersedia di peron 3 Stasiun Tegal

Roh Perjalanan adalah Kawan 

Aku tahu dan sadar kalau perjalanan seperti ini membuatku capek dan sebagian orang menganggap ini sebagai sesuatu yang aneh. “Lu masih muda, cari duit tambahan kek!” atau “Mending lu tidur, istirahat.” Dan banyak komentar-komentar lainnya.

Komentar itu semua benar, tidak ada yang salah. Namun, aku memiliki pilihan tersendiri atas hidupku. Berhubung hidupku hanya satu kali, aku mau memaksimalkannya untuk menikmati apa yang aku suka. Karena kesukaanku adalah naik kereta api, maka selama aku punya anggaran, tidak ada salahnya aku jalan-jalan.

Dalam setiap perjalananku naik kereta ekonomi, selalu ada cerita-cerita yang kubagikan. Dari tiket kereta seharga Rp 40.000,- yang kubeli itu, aku bisa bertemu dengan mbak Dewi dan menjadi teman curhatnya selama satu jam lebih. Aku percaya bahwa tidak ada yang kebetulan. Jika hari itu aku duduk di gerbong dan bertemu dengan mbak Dewi, mungkin aku sedang dikirim oleh Tuhan untuk menjadi corong pendengar segala keluh kesahnya.

Ada satu quote yang selalu aku ingat dari Couchsurfing: “A journey is best measured in friends, not miles.” Perjalanan itu diukur dari teman, bukan jarak. Dalam perjalanan, tujuan dan jarak hanyalah bonus, tapi cara kita menikmati perjalanan itulah yang memang utama. Itulah yang menjadi spirit dari traveling. 

Sepuluh jam lebih duduk di atas kereta api, aku menemukan kembali roh perjalanan itu. Ketika dunia, khususnya kelas menengah ibukota mulai menjadi sibuk dengan urusan diri sendiri, aku mau tetap belajar untuk memberikan apa yang ada padaku kepada orang lain. Bukan cuma uang, tapi juga waktu. Sekecil apapun perhatian dan niatan tulus yang disebar kepada dunia, niscaya itu tidak akan kembali dengan sia-sia.

tegal2
Doraemon, kawan kecil seperjalanan yang selalu kubawa kemanapun

 

Iklan

Demi Mudik, Jarak Bukan Masalah

20140724_012219

Jupiter MX tercinta saat beristirahat di SPBU Losari

Mudik lebaran selalu menjadi momentum istimewa bagi hampir seluruh warga Indonesia. Lebaran tak hanya dinikmati oleh mereka yang Muslim, tapi oleh semua orang karena hampir seluruh kegiatan terhenti di hari istimewa ini. Gelombang jutaan pemudik yang terpusat dari kota besar mengalir dalam kurun waktu kurang dari satu minggu menuju kampung halaman. Alhasil, kota besar menjadi lengang tetapi jalur mudik menjadi padat bahkan macet. Menjadi unik karena berbagai upaya ditempuh orang demi merayakan hari istimewa bersama dengan orang terkasih.

Kesempatan libur lebaran 2014 ini menjadi momen pertama saya untuk mudik. Setelah menetap selama dua tahun di Yogyakarta, kali ini saya memilih mudik dengan cara sedikit menantang, yaitu mudik naik motor dari Jogja-Bandung pp sendirian. Sebetulnya ada rasa was-was mengingat setiap musim mudik tiba selalu ada ratusan pengendara motor yang naas mengalami kecelakaan bahkan meninggal. Namun, keinginan untuk bertemu keluarga sudah terlampau besar sehingga gambaran resiko buruk pun ditepis.

Berhubung saya sudah bekerja jadi waktu mudik baru bisa dilakukan empat hari sebelum lebaran, mengingat kantor baru memberikan cuti pada tanggal tersebut. Tepat hari Rabu, 23 Juli 2014 pukul 15:00 saya berangkat dari Babarsari, Sleman, Yogyakarta. Menggunakan sepeda motor Jupiter MX keluaran 2009 yang sudah diservis perjalanan mudik terasa riang. Motor melaju santai menembus ramainya Jogja, mulai dari jalan Solo hingga Malioboro yang kala itu padat oleh wisatawan.

Tidak ada kepadatan kendaraan hingga sekitar pukul 16:00 saya sudah keluar dari DIY menuju Purworejo. Pukul 16:40 tiba di Purworejo, Jawa Tengah dan istirahat sejenak di SPBU di barat kota. Disana membeli segelas teh panas dan tiga buah gorengan dari seorang ibu yang berjualan disana. Seraya menyeruput teh, sang Ibu tak henti-hentinya bercerita mengenai perjuangan cintanya dengan seorang mahasiswa yang kandas di tengah jalan.

Setelah 20 menit beristirahat, perjalanan dilanjutkan. Tepat pukul 17:00 motor kembali dipacu melewati jalan raya Purworejo-Kebumen yang sudah padat oleh kendaraan ke arah timur. Tiba di Gombong, Kebumen pada pukul 18:45 akibat jalanan yang padat merayap. Di sini saya singgah selama 1 jam di rumah seorang kawan untuk mandi dan alhamdullilah puji Gusti dapat makan malam gratis dan diberikan tempe mendoan mentah sebanyak satu karung.

20140723_234723

 

rest area SPBU Prupuk, Tegal

Pukul 20:00 perjalanan dilanjutkan kembali. Rute yang dilewati adalah Kebumen – Wangon – Ajibarang. Jalur selatan menuju Nagreg tidak dipilih karena saya ingin mencoba jalanan baru. Hujan deras mengguyur ketika tiba di Ajibarang. Sepanjang jalur Ajibarang hingga Prupuk, Tegal kendaraan didominasi oleh bus yang mengarah ke Purwokerto. Akibatnya kendaraan yang mengarah ke Jakarta harus banyak mengalah lantaran jalurnya dimakan oleh bus yang menyalip sembarangan.

Pukul 23:00 tiba di SPBU Prupuk, Tegal. Terdapat puluhan pemudik yang beristirahat disini, kebanyakan mereka berasal dari Jakarta dan hendak mudik ke Purwokerto, Cilacap, dan Jogjakarta. Sekitar 45 menit beristirahat, perjalanan dilanjutkan kembali dengan mengambil arah Prupuk – Ketanggungan – Cirebon. Jalur arah timur padat merayap dan sempat macet total di Ketanggungan akibat membeludaknya jumlah kendaraan imbas dari ditutupnya jembatan Comal.

Pukul 01:30 tiba di Losari, Jawa Barat. Mata sudah tidak kuat menahan kantuk. Tanpa ragu sebuah SPBU langsung disambangi dan mulai tidur disana hingga pukul 03:00. Walau hanya tidur singkat, namun cukup untuk memulihkan kembali stamina. Perjalanan etape terakhir ini dilanjutkan dengan penuh semangat, hingga tepat pukul 07:20 tiba dengan selamat di kota halaman tercinta, Bandung. Total perjalanan kali ini adalah 17 jam dengan bensin 9 liter.

 

PERJALANAN BALIK BANDUNG – YOGYAKARTA 

Setelah sembilan hari puas menikmati hangatnya kebersamaan keluarga, Sabtu, 2 Agustus 2014 dengan berat hati meninggalkan Bandung kembali. Pukul 17:30 berangkat dari Cibereum, Bandung membelah kota Bandung ke arah timur. Jalanan padat sepanjang Cicaheum – Cileunyi harus ditempuh selama hampir satu jam. Tidak ada kemacetan sepanjang ruas Cileunyi-Nagreg. Memasuki area Limbangan kemacetan parah terjadi arah Jakarta. Kendaraan yang hendak ke barat terhenti total nyaris tak bergerak.

Pukul 21:00 tiba di Ciawi, Tasikmalaya. Disini seraya berhenti, mengisi perut juga dengan sepiring nasi goreng seharga Rp 10.000,-. Kemacetan total kendaraan yang mengarah ke Jakarta terus terjadi hingga memasuki kota Ciamis. Memasuki kota Banjar pukul 23:00 dan bertemu dengan seorang pemudik motor dari Jakarta tujuan Karangpucung. Kami berjalan beriringan mengingat ruas jalan Banjar-Lumbir merupakan hutan yang gelap.

Hujan gerimis turun hingga memasuki Majenang. Mulai dari Wanareja, seluruh kendaraan terhenti total, baik yang mengarah ke Jakarta atau Jogja. Padatnya kendaraan dan ketidaktaatan akibat memakan jalur membuat kendaraan tak bisa bergerak sama sekali. Hanya motor yang dapat menembus kemacetan itu dengan berjalan di bahu jalan. Puluhan polisi berusaha keras mengatur lalu lintas agar dapat dilalui kembali. Kendaraan terhenti total dimulai dari Wanareja hingga Karangpucung.

Macet merayap di ruas Ciawi-Tasikmacet merayap di ruas ciawi-tasikmalaya

Pukul 00:45 baru tiba di Majenang, tak ada tempat istirahat karena SPBU sudah dipadati oleh ratusan pemudik yang kelelahan akibat macet. Perjalanan dilanjutkan kembali dan hujan besar turun di Karangpucung. Disini kendaraan sudah terurati macetnya, namun insiden terjadi. Sebuah bus Murni Jaya menyalip kencang saat tikungan tajam membuat saya membanting stir dan terjerembab dalam lumpur. Untung tidak terluka, hanya terjatuh biasa. Hujan semakin deras dan jalanan kian sepi, beruntung ada dua pemudik motor tujuan Purwokerto sehingga kami berjalan berdampingan melewati gelapnya hutan ruas Karangpucung-Lumbir.

Pukul 03:30 baru tiba di Jatilawang. Badan serasa remuk dan kaki penuh lumpur memaksa saya singgah di SPBU Jatilawang. Namun, lagi-lagi penuh oleh ratusan pemudik. Beruntung masih ada beberapa jengkal lantai kosong di depan musholla. Setelah membersihkan diri di WC umum, saya rehat sejenak. Tanpa pamit, badan segera jatuh tidur hingga adzan maghrib membangunkan pukul 04:50. Satu persatu pemudik motor melanjutkan perjalanannya, saya yang terakhir.

Pukul 05:00 hujan kembali mengguyur deras dan perjalanan dilanjutkan kembali. Memasuki Karanganyar, Kebumen pukul 06:30. Disini saya bertemu dengan seorang Bapak yang hendak mudik dari Jakarta menuju Pacitan. Ia telah menempuh perjalanan selama 36 jam dari Jakarta menuju Wangon akibat macet sepanjang ruas Cikampek dan Prupuk, Tegal. Kami berpisah karena saya mengendarai lebih cepat tak tahan ingin cepat sampai Jogja.

Pukul 08:20 tiba di Wates, Kulonprogo. Rasa bahagia dan semangat untuk cepat sampai kembali memuncak. Berhubung jalanan di DIY mulus tak berlubang motor pun dipacu hingga 100Km/jam. Tepat pukul 09:10 tiba dengan selamat di Babarsari, Yogyakarta.

Perjalanan mudik kali ini memang penuh resiko, tetapi inilah gambaran dari betapa besar harga sebuah kebersamaan. Jutaan orang rela bertaruh nyawa bersama anak isterinya dengan berkendara motor ratusan kilometer demi keluarga. Inilah hal yang tak dapat dibeli dengan uang, mereka bisa saja menghabiskan tabungan mereka untuk mudik satu kali tetapi itu berarti mereka harus menunda mudik selanjutnya. Tak semua orang diberi hidup berkelimpahan secara ekonomi, tetapi ada yang berkecukupan alias pas-pasan, tetapi rasa kasih sayang pada keluarga tidak pernah berkekurangan. 

Hidup memang adalah sebuah perjalanan, sebuah perjalanan mudik panjang menuju kekekalan. Setiap kita memiliki jalur mudiknya masing-masing, jalanilah itu dengan setia hingga kelak kita menghadap Pencipta. 

Salam,

Yogyakarta, 4 Agustus 2014