Arsip

“Dulu waktu kamu belum lahir, Gunung Galunggung meletus. Bandung gelap gulita. Hujan abu, ke mana-mana jadi susah.” Saya ingat, perkataan ini diucapkan Mama di tahun 2006, sewaktu berita tentang letusan Gunung Merapi menghiasi layar kaca.

  Di hari Minggu pagi yang kelabu, saya terduduk di pinggiran rel Stasiun Sidareja. Sembari memandang langit yang sebentar lagi akan turun hujan, saya menanti kedatangan sang ular besi yang akan mengantar saya kembali ke Jakarta. Agak jauh dari tempat saya terduduk, ada puluhan penumpang lainnya yang juga akan meninggalkan Sidareja pagi itu.

Momen senja baru saja berlalu. Semburat jingga di langit telah tertutup oleh gelapnya malam. Dari kejauhan, sorot lampu yang terpancar lokomotif semakin mendekat. Lama-lama makin terang dan suara gesekan antara besi dengan besi pun semakin terdengar. Puluhan penumpang yang tadinya duduk-duduk santai jadi bergegas menyiapkan diri. Kereta yang akan mengantar mereka menuju Ibukota akan segera datang.