Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Kedai Kopi Menoreh: Ketika Kudapan Desa Naik Kasta

suroloyo1

Senyum lebar tersungging di wajah Pak Rohmat ketika mempersilahkan kami berdua masuk ke dalam kedainya yang sederhana. Hari itu di Sabtu pagi, kami adalah pengunjung pertama yang datang ke kedai kopi nan legendaris di perbukitan Menoreh.

“Monggo mas, mlebet mawon,” sapa Pak Rohmat dalam bahasa Jawa halus sambil mengarahkan kami ke area parkiran motor. Setelah mesin motor dimatikan kami mengamati sekeliling—begitu teduh dan menurut kami kedai ini lebih kelihatan seperti rumah biasa daripada sebuah kedai kopi.

Waktu itu jam belum genap menunjukkan pukul 07:00 dan sinar matahari masih malu-malu menerobos lebatnya pepohonan—juga masih tersisa embun-embun pagi yang menggelayut di ujung dedaunan.

Kami menghela nafas dalam-dalam dan merasakan kesegaran udara desa yang masih asri. Sebetulnya tujuan utama kami ke Kedai Kopi Menoreh ini adalah untuk mencari tempat istirahat supaya nanti bisa pulang kembali ke Jogja tanpa ngantuk. Sejak pukul 02:00 kami telah berkendara dari Jogja menuju Kulonprogo demi mengejar sunrise di Puncak Suroloyo. Dan sebelum kami bertolak pulang, Kedai Kopi Menoreh kami putuskan untuk disinggahi sejenak.

Pak Rohmat, sesosok pria paruh baya yang begitu ramah. Beliau berbicara bahasa Indonesia  dalam logat Jawa yang medhok namun nyaman didengar. Berhubung kami adalah pengunjung pertama di hari itu, maka kami berkesempatan untuk mengobrol panjang lebar dengan beliau.

Awal terciptanya Kedai Kopi Menoreh

Sejatinya nama Kedai Kopi Menoreh sendiri kami kenal lewat sebuah postingan teman di media sosial. Waktu itu kami jadi penasaran karena melihat aneka macam kuliner desa yang disajikan secara sederhana namun terlihat elok dan menggoda lidah. Setelah mencari informasi lewat Mbah Google, maka kami pikir tidak ada salahnya untuk singgah sejenak di kedai ini.

Pak Rohmat menuturkan kalau pada awalnya dia tidak menyangka kalau usaha kedai kopinya ini akan terkenal—setidaknya di kalangan wisatawan lokal. Waktu itu dia berinisiatif untuk mulai membudidayakan tanaman kopi di sekitar rumahnya. Tak puas dengan hanya menanam kopi, dia mencoba untuk memasarkannya lewat kedai yang dia bangun.

“Ya awalnya tetangga itu pada ketawa. Masak iya ada orang yang mau makan ke desa? Bikin restoran kok di tengah desa, ya lucu!” ucap Pak Rohmat sembari menirukan ekspresi tetangga-tetangganya ketika tahu rencana awal beliau untuk membuka kedai kopi.

Pada awalnya omongan para tetangga itu sempat membuat Pak Rohmat berpikir dua kali. Tapi, Pak Rohmat bersikeras untuk mencoba usahanya ini karena menurutnya di zaman digital ini semua mungkin—termasuk membawa orang kota datang ke desa untuk mencicipi makanan kampung.

Bulan-bulan pertama usahanya belum terlihat membuahkan hasil. Tetapi, dia terus gigih mengenalkan produk kopi dan kedainya kepada rekan-rekannya di kota Jogja. Sampai suatu ketika mulai ada orang-orang yang tertarik dengan kopinya. Yap! Kopi yang disajikan di kedai Pak Rohmat adalah kopi yang dia tanam sendiri dan juga diolah sendiri.

Lama-lama, kabar tentang Kopi Menoreh ini dengan cepat menyebar. Setiap pengunjung yang hadir memberikan kesan dan pesan mereka lewat akun media sosial sehingga secara tidak langsung ini juga menjadi berkah promosi bagi Pak Rohmat.

Selain kopi, Pak Rohmat juga menyajikan aneka wedangan lainnya. Penyajiannya pun unik karena setiap makanan diletakkan di sebuah nampan yang terbuat dari kayu dan disajikan lengkap dengan aneka kudapan desa lainnya seperti kacang rebus, singkong rebus, dan geblhek yang adalah makanan khas Kulonprogo.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Setiap akhir pekan kedai Pak Rohmat akan ramai dikunjungi oleh banyak orang. Ada komunitas pesepeda, komunitas motor, juga banyak orang yang seusai menikmati matahari terbit di Suroloyo akan mampir menyempatkan diri di kedai Pak Rohmat.

Tak terasa seraya berbicang dengan Pak Rohmat ternyata kami sudah menghabiskan seluruh makanan di atas meja. Untuk memuaskan gelora perut di pagi hari, kami pun memesan dua piring mie goreng ditambah sepaket kacang rebus.

Ragam Kudapan khas Desa

Satu paket wedangan yang disajikan di kedai Pak Rohmat dibanderol antara harga Rp 12.000,- hingga Rp 25.000,-. Menu yang kami pesan adalah paket teh panas seharga Rp 12.000,-. Terlepas dari harganya yang bersahabat, menikmati kudapan di Kedai Pak Rohmat mengingatkanku tentang kehidupan di desa yang dulu pernah dijalani selama masa Kuliah Kerja Nyata.

Makanan khas desa memang terlihat sederhana tapi sungguh nikmat untuk disantap. Aroma teh dan empuknya singkong rebus membangkitkan memori tentang nuansa pedesaan yang aman, damai, dan tenteram.

Lewat kedai ini Pak Rohmat ingin membuktikan kalau kudapan desa itu nikmat dan bisa dinikmati oleh siapapun. Dari balik kesederhanaannya, kudapan desa mengandung filosofi hidup. Sekilas mungkin kudapan itu tampak biasa, tapi ketika dinikmati bersama teman sebagai pelengkap obrolan tentu rasanya akan jadi lebih nikmat!

Setelah mie goreng datang dan habis kami santap, kami pun larut dalam mimpi selama dua jam. Sungguh nikmat berada di kedai kopi Pak Rohmat karena suasana begitu tenang dan teduh. Tak ada suara bising kendaraan bermotor, yang ada hanyalah suara ayam dan bebek yang sesekali terdengar.

Setelah perut terisi penuh, kami undur diri kepada Pak Rohmat. Dan tak lupa, untuk melengkapi dokumentasi perjalanan, aku pun berfoto dulu dengan Pak Rohmat!

IMG_9823
Bersama juragan kopi, Pak Rohmat

Terima kasih pak, kapan-kapan kita berjumpa lagi!


Nama: Kedai Kopi Menoreh Pak Rohmat

Lokasi: Dusun Madigondo, Kecamatan Samigaluh, Kabupaten Kulonprogo

Jarak tempuh: Sekitar 1-2 jam dari kota Yogyakarta ke arah Samigaluh, bisa juga masuk melewati Gereja Boro (Banjarasri), Kalibawang.

 

 

 

Menyapa Fajar nan Hangat di Puncak Suroloyo

suro5
Gunung Sumbing dan Sindoro

Langit masih gelap dan bunyi jangkrik masih terdengar jelas saat kami memarkirkan kendaraan di pelataran Puncak Suroloyo. Jam baru menunjukkan pukul 04:50, tapi kami tidak datang terlalu awal untuk menyaksikan pesona fajar. Langit yang semula pekat perlahan mulai meluntur namun masih tertutup awan-awan kelabu.

Perjalanan kami ke Suroloyo diawali dari rasa penasaran. Sore hari sebelumnya kami baru saja menjelajah area Panggang, Gunungkidul, tapi namanya jiwa muda, rasa capek bukan berarti perjalanan harus ditunda. Pukul 02:30 kami sudah memacu kembali sepeda motor, membelah jalanan lengang kota Yogyakarta menuju kabupaten Kulonprogo.

Jalanan di provinsi D.I Yogyakarta bisa dibilang sangat mulus, tak banyak lubang menganga yang dibiarkan begitu saja. Kontras dengan tempat asalku di Jawa Barat yang banyak sekali jalanan rusak. Selepas daerah Godean, deretan rumah penduduk berganti menjadi hamparan sawah nan luas lengkap dengan halimun pagi yang masih menggantung di atasnya. suro6

Nuansa pagi masih terasa begitu syahdu tatkala motor kami mulai ngos-ngosan melibas jalanan menanjak Kulonprogo. Ada baiknya sebelum berkunjung ke Suroloyo, pastikan dahulu kendaraan yang akan digunakan dalam kondisi prima. Tanjakan yang dilalui bisa dibilang cukup curam, apalagi ditambah tikungan-tikungan yang mewajibkan pengendara ekstra hati-hati.

Pagi itu kami adalah orang pertama yang tiba di Puncak Suroloyo. Tak ada motor lain yang diparkir, hanya motor bebek merah kepunyaanku yang akhirnya beristirahat di pelataran. Untuk tiba di Puncak Suroloyo, ada ratusan anak tangga yang harus ditapaki. Tapi, sayang seribu sayang karena tangan-tangan usil orang Indonesia masih suka mengotori pegangan tangga dengan coretan-coretan alay. 

Usia kami boleh muda, tetapi gaya hidup kota harus membuat kami takluk pada Suroloyo. Anak tangga yang kami lalui segera membuat keringat mengalir deras dan nafas tersengal-sengal. Setiap lima anak tangga kami berhenti sejenak, menghela nafas seraya agak membungkuk.suro3

Perjuangan kami terbayar lunas ketika kaki berhasil menjejak Puncak Suroloyo. Kami berdiri di titik tertinggi Kabupaten Kulonprogo, yaitu 1.600 meter dpl. Dari titik kami berdiri terhampar panorama pagi–aku menyebutnya sebagai Kahyangan versi Jawa. Tiga gunung nan agung tersaji jelas di depan pandangan, yaitu Merbabu, Sumbing dan Sindoro.

Kami sangat beruntung karena awan-awan kelabu dengan ikhlas menyingkirkan dirinya dan memberi kami kesempatan untuk melihat pemandangan nan agung itu. Semburat cahaya fajar yang kekuningan memudarkan kepekatan gulita malam. Lambat laun cahaya fajar itu menjadi semakin oranye yang menghasilkan paduan yang nikmat dipandang.

suro2
Awan Pagi

Kami memandang gunung-gunung itu dengan penuh takjub, angin pagi pun berhembus keras menerpa tubuh kami. Jika berdiri agak lama, lambat laun rasa dingin pagi itu mulai menusuk. Kami pun duduk-duduk di sebuah pendopo yang sengaja dibangun di atas puncak.

Tapi, kami harus menahan rasa kecewa karena ulah turis-turis lokal yang memang kelewat iseng. Hampir setiap sudut pendopo diberi coretan, entah tulisan siapa sayang siapa, atau sekedar nama-nama tidak jelas. Aneh memang, tak bisakah mereka hanya mengambil foto dan menikmati alam tanpa merusak?

suro4
Pondok kecil di atas Puncak Suroloyo

Ketika jam menunjukkan pukul 06:30, kami pun kembali ke area pelataran parkir. Hari itu adalah weekday, sehingga belum ada warung yang buka. Di udara nan dingin itu paling nikmat adalah menyeruput segelas teh panas, tapi karena waktu masih terlalu pagi maka perjalanan kami dilanjutkan dengan turun ke Desa Madigondo.

Kami akan kembali lagi ke Suroloyo, entah kapan. Pesona pagi di tempat itu telah menghipnotis kami untuk kembali singgah kepadanya.