Sumatra Overland Journey (3) | Jalan Panjang Menuju Bumi Syariat

Etape ketiga. Kami berpindah menuju provinsi paling barat di Nusantara. Aceh masih menjadi misteri bagi kami yang belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di tanahnya. Tapi, misteri itulah yang menjadi magnet, menarik kami untuk hadir dan merasakan langsung nuansa kehidupan di bawah naungan hukum syariat. Continue reading “Sumatra Overland Journey (3) | Jalan Panjang Menuju Bumi Syariat”

Iklan

Sumatra Overland Journey (2) | Bukit Lawang: Belantara Abadi Negeri Sumatra

 

Mobil elf renta yang membawa kami bergoyang-goyang tidak karuan di sepanjang jalan menuju Bukit Lawang. Lubang-lubang yang menganga itu menjadikan perjalanan ini jauh dari kata nyaman. Asap rokok penumpang pria turut berpadu dengan udara panas. Sungguh, lima jam perjalanan itu amat menyiksa. Continue reading “Sumatra Overland Journey (2) | Bukit Lawang: Belantara Abadi Negeri Sumatra”

Samosir, Primadona Danau Toba

Laju bus yang lambat harus berpacu dengan waktu yang beranjak sore. Bus tua nan sesak mengantarkan kami menembus jalan berliku menuju Parapat, sebuah kota kecil di tepi kaldera Toba yang dilintasi jalan Trans-Sumatra. Perlahan tapi pasti, bau keringat ditambah kesesakan dalam bus memicu rasa mual namun syukurlah panorama Toba dari kejauhan mengobati diri dari kepenatan perjalanan.

Tak sampai dua jam, bus bernama “Sejahtera” yang kami tumpangi dari Pematangsiantar ini tiba di Parapat. Beruntung penumpang yang duduk di sebelah kami adalah seorang mahasiswa USU yang tengah mudik ke Samosir. “Oh baru pertama ke Samosir, iya nanti turun di Tigaraja, terus nyeberang ke Tuktuk bang,” jelasnya memberikan informasi mengenai Samosir.

IMG_3497
PO Sepadan, bus umum rute Kabanjahe – Pematangsiantar

Berdasarkan informasi, Ferry menuju Tuk-tuk di Samosir berangkat setiap satu jam sekali. Beruntung kami tiba di Tigaraja tepat pukul 14:30 sehingga tersisa waktu lumayan banyak untuk kami beristirahat karena Ferry terakhir akan berangkat pukul 17:30.

Perjalanan kami tidak terlalu berat jika dibandingkan dengan lintas Aceh beberapa hari sebelumnya. Dari Berastagi kami cukup menaiki angkot seharga Rp 4.000,- untuk tiba di Terminal Kabanjahe. Dari sanalah kami mengganti kendaraan dengan Bus PO Sepadan tujuan Kabanjahe – Siantar. Layaknya bus-bus AKDP lainnya di Sumatra, bus ukuran 3/4 atau elf ini berfasilitas seadanya. Jangan tanyakan AC, bisa berjalan selamat pun rasanya sudah syukur.

Satu hal yang mendebarkan hati selama perjalanan lintas Sumatra adalah soal keselamatan di jalan raya. Selain turis rawan ditipu, pengemudi di sini kurang peduli soal keselamatan, mereka lebih mengutamakan kecepatan. Maka, tak ayal jalanan sempit berkelok dibuat seperti arena balapan tanpa memikirkan ada penumpang yang berjejal bagaikan teri dalam bus.

Penumpang juga tidak peduli akan kenyamanan penumpang lain. Kondisi bus yang penuh sesak masih harus diperparah dengan perokok-perokok yang entah usil atau memang tak merasa salah. Mereka dengan santainya merokok sementara asapnya meracuni puluhan penumpang lain yang juga tak berani menegur.

Setelah sekitar tiga jam mengarungi jalanan, bus PO Sepadan yang kami tumpangi di Pematangsiantar. Seperti biasa, di terminal puluhan calo akan menawarkan angkutan wisata ke Toba. Kami menolak, karena kami sudah dipesani oleh ibu pemilik penginapan Sibayak untuk segera menaiki bus Sejahtera setibanya di Siantar. Tak perlu membayar mahal, cukup Rp 15.000,- bus tua renta ini akan mengantarkan kami sampai di tepi danau Toba.

IMG_3499
Kota Parapat yang terletak di sisi Danau Toba

Tuk-tuk Desa Mungil di Tengah Toba

Tujuan utama kami selama di Toba adalah Tuk-tuk, sebuah desa yang namanya tersohor di kalangan backpacker. Maklum, Tuk-tuk tercantum dalam Lonely Planet, maka tiap harinya puluhan bule yang menggendong ransel raksasa selalu datang ke Tuk-tuk. Perjalanan ke Tuk-tuk dilakukan dengan menaiki Ferry dari pelabuhan Tigaraja selama satu jam. Penumpang Ferry diwajibkan membayar Rp 15.000,- per orang.

IMG_3529
Ferry menuju Tuk-tuk 

Danau Toba begitu luas sehingga nyaris sama dengan lautan. Saking luasnya, air danau pun berombak cukup besar seperti di laut. Terkadang ferry menghujam ombak yang tinggi sehingga limpahan air membasahi geladak.

Tiba di Tuk-tuk, hamparan persawahan menghijau dan dihiasi oleh tebing-tebing kekar di belakangnya. Tersedia puluhan hotel hingga homestay di desa ini, kami memilih untuk bermalam di Liberta Guest House. Penginapan ini merupakan yang termurah di seluruh Tuk-tuk, kami berdua cukup membayar Rp 44.000,- per malam untuk kamar ukuran besar.

Selain menyediakan kamar, Liberta juga menyediakan fasilitas restoran sederhana dengan kebanyakan menu western. Penginapan kecil ini sudah mendunia lantaran juga tercantum dalam lonely planet. Tak hanya kami yang menginap disana, melainkan juga rekan-rekan backpacker dari Jerman, Belanda, Perancis, Inggris dan Taiwan.

IMG_3667
Halaman belakang Liberta Homestay, langung danau!

Kami harus berdiam di Tuk-tuk selama 12 hari karena tak ada lagi tiket bus yang tersisa untuk pergi ke Padang, Sumatra Barat. Kami baru memperoleh tiket bus ALS pada tanggal 22 Juli malam, sehingga kami harus menghabiskan masa Idul Fitri di Samosir. Namun, tak apalah menetap lebih lama di Tuk-tuk karena akomodasi yang murah di sini.

Tuk-tuk menjadi favorit karena tersedia berbagai macam atraksi serta fasilitas. Rental sepeda motor dan sepeda bisa dengan mudah dijumpai, namun harus pandai menawar habis-habisan. Terbiasa dengan turis asing terkadang membuat harga menjadi sangat mahal ketika dilihat dari kacamata Rupiah.

IMG_3705
Hijaunya tuk-tuk

Berjalan sedikit ke arah jalan utama trans-Samosir, padang rumput nan hijau membentanng luas. Naik lah ke padang rumput itu makan Danau Toba akan terhampar luas, sedangkan tebing-tebing kekar menghiasi di belakangnya. Paling nikmat untuk menikmati tempat ini ketika senja. Sinar matahari yang meredup seiring juga dengan suhu yang semakin sejuk, sambil berbaring di padang rumput tentunya melepaskan kita dari kepenatan.

IMG_3698
Dari atas bukit Tuk-tuk

Jika malam, Tuk-tuk bisa dibilang mirip kawasan wisata di Bali. Kafe-kafe bertebaran, namun tidak bising karena sedikit kendaraan bermotor yang berlalu lalang di sini. Untuk rekan-rekan yang Muslim dapat memilih warung makanan halal yang tersedia di beberapa lokasi di Tuk-tuk.

Kuliner khas Tuk-tuk selain daripada tuaknya adalah Babi Panggang Karo. Kami beruntung karena memiliki rekan yang berkuliah di Jogja namun orang tuanya adalah pemilik restoran Elios di Samosir. Kami mendapatkan babi panggang secara gratis, sungguh nikmat dan bahagia.

IMG_3534
Babi panggang karo di Restoran Elios

Babi Panggang di Restoran Elios memang tersohor se-Samosir. Masakan Babi diolah secara segar lengkap dengan bumbu-bumbu spesial. Sensasi menyantap panggang karo ini akan semakin sempurna ketika dibarengi dengan segelas jus markisa.

Jelajah Samosir 

Tuk-tuk hanyalah sebagian kecil dari Pulau Samosir yang berlokasi tepat di tengah kaldera Toba. Selain Tuk-tuk kami juga menjelajahi Tomok, Ambarita, Nainggolan hingga Pangururuan yang terletak di daratan utama Sumatra.

Dengan bermodalkan sepeda motor sewaan seharga Rp 80.000,- per hari (termasuk bensin tapi tanpa helm) kami mengeliling Samosir. Rute pertama adalah menjelajah ke wilayah Tomok lalu ke utara. Beberapa tempat seperti Makam Raja Sidabutar juga atraksi tari Batak dapat dijumpai disini. Tomok sedikit lebih ramai ketimbang Tuk-tuk karena Ferry besar yang mengangkut kendaraan berlabuh di sini.

Dari Tomok jika dilanjutkan terus jalanan akan menanjak dan berkelok. Semakin jauh jalanan aspal akan rusak dan berlubang, namun masih aman untuk dilalui kendaraan roda dua maupun empat. Di wilayah Ambarita terdapat sebuah tempat untuk menangkan diri bernama Bukit Doa.

IMG_3660
Bukit Doa

Sebuah bukit hijau didedikasikan sebagai tempat berdoa untuk umat Kristen. Bukit doa ini dikelola oleh denominasi gereja setempat namun terbuka bagi khalayak umum. Sedikit cerita, Kekristenan mengakar kuat di wilayah Samosir, maka bangunan gereja dapat dengan mudah dijumpai di sini. Hadirnya Kekristenan di Tanah Batak dibawa oleh seorang Misionaris Jerman bernama Nommensen yang membaktikan hidupnya dalam pelayanan di tanah Batak.

Kini, karya Nommensen dapat terlihat nyata dengan mayoritas warga Samosir yang mengaku beriman Kristen, juga beberapa lembaga sekolah, gereja juga karya-karya lainnya yang tersebar di wilayah Samosir.

Beralih dari Bukit Doa, di wilayah utara Samosir terdapat beberapa pantai. Tentunya pantai disini bukan laut, melainkan pantai dari Danau Toba. Beberapa pantai terletak di wilayah Simanindo dan Parbaba, bagian utara Samosir.

IMG_3613
Pantaii….

Selain pantai, jika berkendara terus ke wilayah Pangururan, terdapat pemandian air panas dari sumber alami. Dari kejauhan, di seberang danau terdapat tebing vulkanik yang masih memancarkan fumarol, di sanalah lokasi air panas berada.

IMG_3649
Gereja Katolik Inkulturasi di Pangururan

Dari Pangururan, kami memacu kendaraan kami ke Menara Pandang Tele. Namun, sebelum tiba di Tele kami mampir sejenak ke air terjun Efrata yang terletak masih di wilayah Pangururan. Dari balik hijaunya bukit terlihat dua tingkatan air terjun mengalir deras, namun jangan berbangga dulu karena lokasi air terjun masih jauh.

IMG_3639
Ruas jalan tak beraspal di Pangururan

Setelah menanjak dengan jalanan rusak kami tiba di pelataran parkir. Tak dipungut bia masuk apapun selain parkir seharga Rp 2.000,-. Air terjun Efrata sungguh cantik, aliran airnya terpecah membentuk tirai-tirai tipis yang menyebarkan hawa sejuk. Debit airnya pun tak terlalu besar sehingga memungkinkan untuk sekedar bermain air disana.

IMG_3741
Air Terjun Efrata

Puas dengan air terjun Efrata, perjalanan kembali dilanjutkan menuju Menara Tele. Pengemudi harus ekstra hati-hati karena jalanan sempit. Lengah sedikit jurang di samping jalan akan jadi lubang maut seketika. Dari menara Tele kita dapat melihat panorama Samosir dengan jelas.

IMG_3768
Toba dilihat dari jalan raya menuju Menara Tele

Pepohonan, sawah dan luasnya Danau Toba membentuk goresan alam yang nyaris sempurna. Sedikit catatan, menara Tele ini kondisinya agak memprihatinkan. Menara yang digunakan sebagai gardu pandang ini agak rapuh secara konstruksi, dilihat dari kerusakan yang menyebar di dinding serta pondasi menara.

IMG_3773
Jalan menuju menara Tele

Jarak yang harus ditempuh dari Tuk-tuk ke meara Tele sekitar 80 kilometer atau selama tiga jam berkendara. Namun kepenatan berkendara akan terbayar lunas ketika menikmati panorama dari atas.

IMG_3775
Panorama dari Menara Tele

Samosir, ada Danau di dalam Danau

Bertolak ke bagian lain Samosir kita akan menemukan danau di dalam danau. Samosir sendiri terletak di tengah Danau Toba, dan di wilayah Simbolon kita akan menemukan aek Sidihoni, serta aek Natonang di wilayah Nainggolan.

IMG_3723
Berkendara bersama Jeff Ho, turis Inggris ke danau Natonang
IMG_3722
Danau Natonang

Kedua danau tersebut berisikan air yang tenang,namun jauh dari jangkauan turis. Umumnya turis hanya singgah sejenak menyaksikan danau sebelum kemudian bertolak ke wilayah wisata lainnya.

IMG_3636
Gembala Kerbau

Melaju ke wilayah Selatan jalanan berliku-liku namun kita akan menemukan panorama Danau Toba dengan perbukitan yang membentang bagai naga. Sesekali beberapa warga datang menghampiri turis-turis seraya membawa serta kerbau mereka.

IMG_3729
Toba dari sisi Selatan

Di wilayah ini kami sempat membeli makanan berupa mie goreng, melihat kami adalah turis maka sang pemilik warung memberikan kami satu teko tuak. “Kalau bisa minum tuak satu teko saya kasih gratiskan mie nya!” tantangnya sambil tertawa. Tapi kami menolak, daripada kecelakaan karena mabuk ya lebih baik bayar saja mie seharga Rp 15.000,-

Secara keseluruhan, jika menggunakan sepeda motor Samosir dapat dijelajahi dalam dua hingga tiga hari.

Sipiso-piso, Air Terjun Tertinggi di Indonesia

Bosan berkeliling Samosir, kami kembali ke wilayah Parapat untuk kemudian menuju Tongging. Pukul 09:00 kami mencari persewaan motor di Parapat, namun hasilnya nihil. Kami memutuskan untuk naik taksi menuju Tongging seharga Rp 40.000,-. Sebenarnya tidak ikhlas, tapi karena tidak ada pilihan angkutan lain maka dengan terpaksa kami naik taksi.

IMG_3574
Panorama Tongging

Perjalanan menuju Tongging ditempuh dalam waktu sekitar dua jam mengitari Toba. Kebetulan di dalam taksi kami bersama dengan sebuah keluarga yang terdiri dari istri orang Indonesia, suami orang Belanda dan kedua anak. Keluarga ini mengaku bertemu di Riau kemudian saling jatuh cinta. Kini, sang bule sedang mudik ke Indonesia untuk liburan.

Tiba di Tongging kami berpisah karena keluarga tadi bertujuan ke Berastagi sedangkan kami ke Sipiso-piso. Waw, sepanjang perjalanan di Tongging ini panorama Danau Toba tak bisa dihindari. Jalanan yang mengitari danau di satu sisi membuat mual namun sisi lain sungguh enak dilihat.

IMG_3589
Sempatkan diri untuk selalu berfoto

Untuk memasuki area air terjun Sipiso-piso kami harus menuruni ribuan anak tangga. Syukurlah pengalaman trekking di Gunung Leuser dan mendaki Sibayak membuat aku cukup kuat. Air terjun Sipiso-piso sendiri akan bermuara di danau Toba.

Tinggi mulut air terjun ke darat adalah sekitar 120 meter, menjadikan Sipiso-piso sebagai yang tertinggi di Indonesia. Saking tinggnya, hempasan air Sipiso-piso membuat basah baju pengunjung dari jarak 200 meter. Hanya pengunjung yang nekat basah kuyub sajalah yang berani mendekat ke pusat air terjun.

IMG_3572
Sipiso-piso Waterfall

Perjalanan kembali dari Sipiso-piso adalah hal yang menyebalkan. Anak tangga yang tadinya dituruni sekarang harus dinaiki. Jika tak pandai mengatur nafas pasti akan ngos-ngosan maksimal. Beberapa turis alih-alih menyerah mereka memperbanyak waktu istirahat. Jalan lima langkah, berheti, minum, selfie begitu seterusnya.

Dengan keringat bercampur basah air terjun kami melanjutkan perjalanan pulang menuju Tuk-tuk. Waktu sudah menunjukkan pukul 15:00 dan kami harus tiba di Parapat sebelum pukul 17:30 untuk mengejar Ferry terakhir. Jika ketinggalan, maka kami harus bermalam di Parapat.

Berjalan kaki dengan kecepatan penuh, kami terobati dengan hadirnya pedagang jeruk asli Jeruknya menggoda, kuning merona, manis dan murah sekali. Cukup membayar Rp 10.000,- per Kg, kami memborong sebanyak 3 Kg untuk cemilan malam.

IMG_3594
Jeruk yang kuning menggoda

Setelah dipuaskan jeruk, kami harus berjuang kembali. Tiga puluh menint menunggu, tak ada bus yang kosong untuk kami tumpangi. Hingga saat kami putus asa, ada satu bus yang nekat memasukkan kami ke dalam. Akibatnya, sepanjang dua jam perjalanan dari Tongging menuju Parapat kami harus menungging! Ya, menungging selama dua jam bukan perkara mudah apalagi kondisi bus penuh sesak, badan lelah sehabis hiking, plus ada jeruk seberat 3 kilogram.Pukul 17:20 tepat kami tiba di Tigaraja, dengan demikian kami tidak jadi ketinggalan Ferry.

Samosir, Akhir dari Perjalanan Kami

Selepas Samosir, tujuan kami selanjutnya adalah Padang, namun bukan untuk kembali menjelajah melainkan untuk berpisah. Johannes akan melanjutkan perjalanannya ke Malaysia, sedangkan aku akan kembali ke Jakarta untuk internship .

Samosir tetap menjadi primadona, setidaknya di hati kami. 🙂

IMG_3715
Senja di Samosir

 

Berastagi, Kota Singgah Backpacker Kelas Dunia

Hampir lima puluh jam perjalanan kami membelah pegunungan tengah Aceh. Tiba di Berastagi seolah melupakan penatnya badan dari perjalanan panjang. Pusat kota Berastagi begitu sejuk, ditambah semerbak aroma makanan dari pedagang kaki lima juga puncak Sibayak yang menjulang menjadi magnet kota kecil ini. Walaupun kecil, Berastagi jadi tempat persinggahan bagi para backpacker yang hendak melakukan perjalanan ke utara menuju Aceh ataupun ke selatan menuju Toba.

Bagi kami Berastagi adalah kebahagiaan. Sebelumnya, selama di Aceh tidak memungkinkan bagi kami untuk membeli makan siang mengingat hukum Syariat di Aceh mengakibatkan tak adanya penjual makanan di siang hari. Namun, di Berastagi kami bisa kembali bersantap siang namun dengan tetap menghormati saudara-saudara Muslim yang beribadah puasa.

Penginapan kelas Backpacker 

Berastagi umumnya dipadati wisatawan lokal dari Medan setiap akhir pekan. Kota kecil ini memiliki udara sejuk karena berada di lereng antara Sibayak dan Sinabung. Jika hari sedang cerah kita dapat melihat kedua gunung ini secara jelas. Selain udaranya, Berastagi juga memiliki kolam rendam air panas yang nyaman serta murah yang dapat dicapai sekitar 1 jam dari pusat kota.

Tak hanya turis lokal yang betah untuk tinggal di Berastagi, backpacker lintas benua pun merasa nyaman menetap di Berastagi. Kami menginap di sebuah homestay atau tepatnya hostel khusus untuk backpacker bernama Wisma Sibayak. Penginapan ini cukup murah untuk pejalan berkantong tipis karena hanya dipatok harga Rp 80.000,- per malam untuk satu kamar.

Penginapan ini dikelola oleh sebuah keluarga dan terkenal lantaran namanya tercantum dalam Lonely Planet sebuah travel guide paling laris di dunia. Untungnya kami pun mendapatkan rekomendasi Wisma Sibayak dari Lonely Planet. Ketika kami bermalam di Wisma Sibayak semua tamu disana adalah bule, kecuali saya sendiri orang Indonesia yang tersesat.

Hari pertama di Berastagi kami habiskan dengan beristirahat sejenak. “Dari mana dek, berdua saja sama kawan bulenya?” tanya ibu pemilik penginapan. “Iya bu, saya dari Jogja dan ini sedang keliling Sumatra sama rekan dari Jerman.” sahutku. Entah mengapa, status sebagai mahasiswa Jogja selalu memberikan kesan positif selama perjalanan di Sumatra ini, untuk itulah aku merasa bersyukur sekali.

Ibu pemilik penginapan ini memiliki segudang peta untuk dibagikan kepada setiap tamunya. Ia menjelaskan dengan detail tempat-tempat maupun kuliner yang wajib dikunjungi selama di Berastagi. Saking detailnya, ia pun menjelaskan rute angkot hingga tarif yang harus dibayar per sekali jalan.

IMG_3446
Sinabung terlihat jelas dari Sibayak

Pendakian Puncak Sibayak

Baiklah, setelah informasi yang didapat cukup kami menata rencana untuk dilakukan besok. Pendakian ke Sibayak kami pilih sebagai bagian dari petualangan di Berastagi. Berangkat pukul 08:00 dari penginapan, kami menaiki angkot bertuliskan “CV.KAMA” dan membayar Rp 4.000,- per orang hingga di muka gerbang retribusi Sibayak. Setiap pendaki diwajibkan menuliskan nama mereka terlebih dahulu di pos sebelum memulai pendakian. Tak lupa kami juga membeli dua botol air minum sebagai perbekalan.

Ibu di penginapan bilang kalau pendakian membutuhkan waktu sekitar tiga hingga empat jam berjalan kaki dengan medan yang tak begitu sulit. Baru saja memulai pendakian kami bertemu dengan bapak-bapak pekerja kebun. Mereka meneriaki kami dan meminta air minum. Hmmm, kalau kami beri maka kami harus berhemat air, sedangkan jika tidak diberi ya kasihan. Oke, kami pun merelakan satu botol air untuk mereka.

Dengan perasaan lega kami kembali berjalanan. Jalan menuju puncak di etape awal ini masih jalan beraspal namun naik-turun dan terkadang ada monyet-monyet yang mengikuti. Lambat laun nafas mulai tersengal-sengal sekalipun jalanan masih beraspal. Kami tetap semangat mendaki karena sayang sekali sudah jauh-jauh ke Berastagi kalau tidak sampai ke Puncak Sibayak.

Gunung Sibayak sendiri adalah gunung berapi aktif setinggi +/- 2.300 meter yang bertetangga dengan Gunung Sinabung. Sibayak relatif lebih tenang ketimbang Sinabung yang sering erupsi. Dari kestabilannya, Sibayak dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik tenaga Geothermal, juga sebagai wisata air panas.

Setelah berjalan sekitar dua jam, jalan aspal pun semakin rusak dan menanjak. Sebenarnya tidak ada tantangan berarti ketika mendaki di trek aspal, hanya nafas saja yang tersengal-sengal. Untungnya dua minggu lalu kami sudah trekking di Gunung Leuser jadi pendakian Sibayak tidak terlalu menyulitkan.

IMG_3480
Trek Pendakian Sibayak

Sesekali ada mobil melintas menawarkan angkutan hingga ke pos atas, namun jalanan rusak dan kami memutuskan berjalan saja. Di pos atas pendakian akan mulai memasuki bibir kawah. Jalanan yang semula aspal berganti ke jalanan berbatu. Pendakian dari titik ini memakan waktu sekitar 1 jam tergantung dari kecepatan berjalan.

Kawah Sibayak jika dilihat sekilas menyerupai dataran tinggi Dieng, namun posisinya lebih tinggi. Berjalan lebih jauh mendaki punggung kawah kami disuguhi pemandangan menakjubkan. Duduk di ketinggian 2.300 meter di atas permukaan laut membuat awan serasa begitu dekat untuk digapai. Angin semilir dingin, suara hembusan gas belerang dan pemandangan langit biru semua tersuguh di hadapan kami.

IMG_3459
Menyetuh awan 

Gunung Sinabung yang sedang batuk pun terlihat jelas, hanya sayang kerucutnya terutup kabut tebal. Keindahan Sibayak yang medan pendakiannya tak terlalu sulit ini ternyata pernah juga memakan korban. Dahulu pernah ada beberapa turis yang tersesat karena mengambil jalan pulang yang lain, mereka pun merangsek masuk ke hutan dan kehilangan arah.

Untuk mencari aman kami mengikuti instruksi dari ibu penginapan. Pukul 14:00 kami sudahi perjalanan kami di Sibayak dan beranjak turun. Tiba di pos yang berisi parkiran angkot kami memutuskan naik kendaraan saja supaya bisa mandi air panas sejenak. Waw, pemandian air panas di Sibayak sangat terjangkau. Cukup membayar Rp 3.000,- tersedia beberapa kolam dengan tingkat suhu panas yang berbeda. Berhubung kala itu tidak ada pengunjung, kami bebas menceburkan diri di seluruh kolam yang ada.

Air panas Sibayak mengandung belerang dan berwarna keruh kehijauan. Berbeda dengan air panas di Tangkuban Perahu, Subang yang berwarna bening. Tapi jangan kuatir dengan warnanya karena berendam air panas di tengah hawa dingin pegunungan adalah surga yang nyata.

IMG_3485
Air panas Sibayak, cukup membayar seharga Rp 3.000,- untuk berendam

Wisata Kuliner Berastagi

Puas berendam di air panas Sibayak, wisata kuliner telah menanti. Di sepanjang jalan utama Berastagi tersaji ratusan penjaja kuliner kaki lima yang menggoda. Dari pecel lele Lamongan, sate padang, sate madura hingga chinese food semua tersedia lengkap.

Badan yang lelah dan perut kosong adalah moment sempurna untuk makan sate padang seharga Rp 12.000,- per porsi. Namun disela-sela makan kami harus terganggu dengan kehadiran 12 orang turis Australia yang tiba-tiba memenuhi tenda. Celakanya, tak ada satupun mereka yang bisa berbahasa Indonesia.

Aku membantu keduabelas turis tersebut dengan menerjemahkan apa itu sate padang dan juga membantu mereka memesan makanan. “Wah mas, asik ya bisa bahasa Inggris kayak gitu, pasti dibayar mahal ya mas,” ucap wanita di sebelahku.”Wah, nggak mbak, ini belajar sendiri kok dan gak dibayar, saya bukan tour guide,” jawabku.

Puluhan turis-turis asing larut dalam kenikmatan kuliner Berastagi. Walaupun mereka tidak bisa berbahasa Indonesia namun dari raut wajah mereka terlihat senyum bahagia dan menikmati kuliner Indonesia. Untungnya pedagang kaki lima di Berastagi tidak nakal, mereka tidak menaikkan harga makanannya sekalipun konsumennya bule. 

Bukit Gundaling

Selain wisata kuliner dan Sibayak, bagi wisatawan yang tak mau berjalan terlalu jauh dapat menikmati panorama Berastagi dari Bukit Gundaling. Jika naik angkot cukup membayar Rp 2.000,- jika berjalan kaki cukup menempuh sekitar 1 jam. Sebagai backpacker miskin kami memilih berjalan kaki, selain berolahraga tentu menghemat duit. 

IMG_3493
Panorama Berastagi dari bukit Gundaling

Bukit Gundaling sendiri adalah bukit yang tak terlalu tinggi, namun memiliki posisi yang pas untuk menonton panorama SInabung. Sayang, seribu sayang di beberapa bagian bukit tidak terawat. Sampah menumpuk dan terlihat beberapa pasangan muda berpacaran tanpa menghiraukan pengunjung lainnya.

Baiklah, kita lupakan pasangan pacaran itu dan berfokus pada Sinabung. Sambil menikmati panorama, pengunjung bisa juga membeli teh dan kopi panas dari pedagang asongan ataupun dari warung-warung semi permanen yang tesebar di sekitaran bukit.

 

Perjalanan kami di Berastagi harus kami sudahi pada 15 Juli 2015. Perjalanan dilanjutkan menuju Toba melewati Kabanjahe.

20150713_105900
PO Sepadan. Kembali lagi ke jalanan

 

Ironi Ganja di Balik Gunung Leuser

Pertama kali seumur hidup, kami digirng masuk ke dalam kantor polisi bersama seluruh penumpang minibus. Perempuan tua renta yang duduk di samping kami ternyata kedapatan membawa ganja seberat lima kilogram untuk dibawa ke Medan. Kaget sekaligus miris, bagaimana bisa sesosok wanita renta berkerudung itu menyembunyikan barang haram di balik tas bahkan jilbabnya. Namun, itulah yang terjadi di Aceh Tenggara dimana ganja masih menjadi ironi antara kemiskinan dan bisnis yang menggiurkan.

IMG_3433
Jalan lintas kabupaten antara Blangkejeren-Kutacane-Tigabinanga

13 Juli 2015, kami melanjutkan perjalanan dari Takengon menuju Berastagi via lintas Aceh Tenggara. Perjalann ini bisa dikatakan paling melelahkan dari seluruh etape yang telah kami lalui. Jalanan beraspal yang jarang, lubang menganga, dan longsoran sana-sini menyita waktu tempuh perjalanan. Ditambah lagi kondisi minibus yang seadanya membuat badan ini serasa remuk.

IMG_3416
Minibus rute Takengon – Kutacane melintasi jalan lintas provinsi via Aceh Tenggara

Dari Takengon kami harus transit di Ketambe, beberapa kilometer sebelum Kutacane untuk kemudian mencari angkutan lanjutan ke perbatasan provinsi. Di Ketambe suasana begitu teduh, kami menemukan sebuah pondokan di kaki Gunung Leuser seharga Rp 50.000,- per malam. Aturan syariat tidak terlalu ketat di sini sehingga pukul 17:00 sebelum buka puasa pun kami bisa makan dengan bebas di pondokan.

IMG_3428
Pondok Ketambe, sebagai tempat transit atau basecamp pendakian Gn. Leuser
IMG_3431
Ruang makan di Pondok Ketambe. Umumnya turis asing yang singgah disini karena tercantum dalam Lonely Planet

Gunung Leuser bak karpet hijau membentang, lebat sekali seolah tidak ada celah untuk masuk. Selain sebagai kanopi hijau terbesar yang masih tersisa di Sumatra, Gunung Leuser juga disinyalir menyimpan ladang-ladang ganja yang notabene ilegal. Dalam pembicaraan kami dengan petugas penjaga hutan ia mengatakan bahwa ada ladang-ladang yang terletak di jantung hutan. “Butuh jalan kaki dua minggu mas untuk bisa ketemu itu ladang,” sahutnya.

IMG_3427
Lebatnya hutan pegunungan Leuser dari Ketambe

Wilayah Aceh Tenggara bisa dikatakan wilayah yang cukup miskin. Kondisinya yang terpencil di antara pegunungan membuat akses masuk ke Blangkejeren atau Kutacane hanya bisa dilakukan via Tanah Karo (Sumatra Utara) atau memutar via Takengon (Aceh), namun kondisi jalan sangat mengenaskan.

Sekalipun tidak terdampak Tsunami karena letak geografisnya, tapi wilayah Aceh Tenggara ini sempat terkoyak oleh konflik bersenjata Gerakan Aceh Merdeka. Warga sekitar Aceh Tenggara menggantungkan hidup pada sektor pertanian. Potensi pariwisata belum dapat tergali sepenuhnya akibat akses dan juga keterbatasan sumber daya.

Selepas dari Ketambe, kami mencari angkutan umum untuk menuju kota kabupaten Kutacane, barulah dari sana kami mencari angkutan lain yang mengantarkan kami ke Berastagi. Tiba di Kutacane, kami sempat ditipu atau mungkin juga ditolong oleh sopir angkot. Kesepakatan awal kami membayar Rp 7.000,- namun tiba-tiba ditarik Rp 15.000,- per orang dengan alasan kami akan diantarkan langsung ke agen bis.

IMG_3438
Pasar kaget di wilayah Ketambe, Kutacane, Aceh Tenggara

Tiba di agen bis, kami beruntung karena satu bis menuju Berastagi akan segera berangkat sehingga tak perlu menunggu lebih lama. Kami duduk di kursi belakang, masih tersisa tiga kursi kosong. Bis pun melaju, tak lama naiklah seorang ibu tua, mungkin juga disebut nenek bersama anak perempuan dan cucunya. Mereka membawa satu tas besar dan juga ember berisikan sayuran segar dari pasar Kutacane.

“Mau kemana de?” tanya si Nenek di sebelahku. “Iya bu, mau ke Berastagi ini habis dari Takengon,” jawabku. “Wah Berastagi ya, itu bule yang lagi tidur temennya?” tanya si Ibu penasaran akan Johannes. Singkatnya, kami tertidur karena kelelahan

20150710_143254
Bis BTN Jaya yang kami tumpangi dari Kutacane menuju Berastagi

Di perbatasan antara Aceh dan Sumatra Utara kami yang sedang tertidur mendadak terbangun. Dua orang berpakaian preman menggeledah semua barang bawaan di bis, tak ada yang luput. Seluruh tas dibongkar, termasuk satu per satu kami digiring untuk diperiksa. Kami masih sangat kebingungan, tak ada satupun dari mereka yang bicara dalam Bahasa Indonesia.

Tak lama, seorang polisi berseragam preman itu meminta KTP ku dan paspor Johannes. Kemudian sikapnya mencair setelah mengetahui kalau aku adalah mahasiswa dari Jogja dan Johannes adalah turis Jerman alumni dari UGM. “Oh dari Jogja, kok bisa jauh banget mas sampai ke Aceh sini, bahaya loh disini,” ucapnya. “Iya mas, saya menemani temen saya ini keliling Sumatra 30 hari,” jawabku.

Kami dipersilahkan untuk mengemasi kembali ransel dan bawaan lainnya karena tidak terbukti ada barang yang mencurigakan di dalamnya. Tanya demi tanya, ternyata kami baru tahu kalau tiga penumpang yang terdiri dari si Nenek, Anak dan Cucu ternyata menyelundupkan ganja seberat 5 Kilogram. Keseluruhan ganja itu diletakkan di dalam ember yang diatas ditutup sayuran.

Sang Nenek menuturkan kalau ia dibayar Rp 2.000.000,- untuk membawa ganja tersebut dari Blangkejeren hingga Medan, namun ia keburu ditangkap jauh sebelum ia tiba di Medan. Entah hukuman apa yang akan didapatkan nenek itu, namun yang jelas, ia hanyalah orang biasa yang membutuhkan uang untuk hidup, dia bukanlah gembong utama dari sindikat ganja.

Bis kami menjadi lebih akrab setelah diperbolehkan pergi meninggalkan pos polisi. Satu per satu penumpang mulai membicarakan peristiwa tadi. “Gila bener itu si ibu, siang bolong gini bawa ganja!” ucap seorang Bapak di depanku. “Wah, kaget betul saya pak, nampaknya dia masukkan itu ganja juga dalam jilbabnya!” celetuk Pak Sopir sambil merokok.

Pukul 15:00 kami tiba di Berastagi mengakhiri setiap jengkal perjalanan kami di Aceh. Kami bersyukur karena perjalanan kami di Aceh ditutup dengan peristiwa yang sungguh menantang. Kami membayangkan, jika si ibu bermaksud jahat bisa saja ia menyelipkan sejumput ganja ke dalam kantong celanaku saat tidur, namun syukurlah ia tidak melakukannya.

Itulah setitik cerita tentang Aceh Tenggara, tentu kisah ini tidak bisa menjadi definisi umum dari Aceh secara luas. Tapi, apa yang kami alami adalah potret dari kehidupan Aceh Tenggara yang terlilit kemiskinan hingga beberapa warga nekat mencari jalan pintas dengan resiko yang tinggi.

Karena isu ganja yang tinggi, oleh karena itu setiap kendaraan yang akan berpindah dari Aceh Tenggara menuju Sumatra Utara akan diberhentikan dan diperiksa untuk mencegah ada ganja yang diselundupkan ke Sumatra Utara.

20150710_124018
Selfie dulu setelah meninggalkan Aceh