Arsip

  Etape ketiga. Kami berpindah menuju provinsi paling barat di Nusantara. Aceh masih menjadi misteri bagi kami yang belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di tanahnya. Tapi, misteri itulah yang menjadi magnet, menarik kami untuk hadir dan merasakan langsung nuansa kehidupan di bawah naungan hukum syariat.

Mobil elf renta yang membawa kami bergoyang-goyang tidak karuan di sepanjang jalan menuju Bukit Lawang. Lubang-lubang yang menganga itu menjadikan perjalanan ini jauh dari kata nyaman. Asap rokok penumpang pria turut berpadu dengan udara panas. Sungguh, lima jam perjalanan itu amat menyiksa.

Laju bus yang lambat harus berpacu dengan waktu yang beranjak sore. Bus tua nan sesak mengantarkan kami menembus jalan berliku menuju Parapat, sebuah kota kecil di tepi kaldera Toba yang dilintasi jalan Trans-Sumatra.Ā Perlahan tapi pasti, bau keringat ditambah kesesakan dalam bus memicu rasa mual namun syukurlah panorama Toba dari kejauhan mengobati diri dari kepenatan perjalanan. Tak sampai dua jam, bus bernama “Sejahtera” yang kami tumpangi dari Pematangsiantar ini tiba di Parapat. Beruntung… Baca Selengkapnya

Hampir lima puluh jam perjalanan kami membelah pegunungan tengah Aceh. Tiba di Berastagi seolah melupakan penatnya badan dari perjalanan panjang. Pusat kota Berastagi begitu sejuk, ditambah semerbak aroma makanan dari pedagang kaki lima juga puncak Sibayak yang menjulang menjadi magnet kota kecil ini. Walaupun kecil, Berastagi jadi tempat persinggahan bagi paraĀ backpackerĀ yang hendak melakukan perjalanan ke utara menuju Aceh ataupun ke selatan menuju Toba. Bagi kami Berastagi adalah kebahagiaan. Sebelumnya, selama di Aceh… Baca Selengkapnya

Pertama kali seumur hidup, kami digirng masuk ke dalam kantor polisi bersama seluruh penumpangĀ minibus. Perempuan tua renta yang duduk di samping kami ternyata kedapatan membawa ganja seberat lima kilogram untuk dibawa ke Medan. Kaget sekaligus miris, bagaimana bisa sesosok wanita renta berkerudung itu menyembunyikan barang haram di balik tas bahkan jilbabnya. Namun, itulah yang terjadi di Aceh Tenggara dimana ganja masih menjadi ironi antara kemiskinan dan bisnis yang menggiurkan. 13 Juli 2015,… Baca Selengkapnya

Jika Eropa memiliki Swiss yang khas dengan pegunungan Alpennya, Jawa yang memiliki dataran tinggi Dieng, Sumatra juga memiliki Takengon sebuah kota yang tak kalah dengan kota-kota dataran tinggi lainnya. Terletak di Aceh Tengah, Takengon sering juga dijuluki sebagai “Kota Dingin” karena jam 12 siang pun masih terasa sejuk. Perjalanan kami telah menyentuh hari ke-12 dari total 30 hari. Bertolak dari Banda Aceh, kami menaiki sebuah mobilĀ travelĀ atau disebut jugaĀ taksi. Terlambat 30 menit dari… Baca Selengkapnya