Sumatra Overland Journey (3) | Jalan Panjang Menuju Bumi Syariat

Etape ketiga. Kami berpindah menuju provinsi paling barat di Nusantara. Aceh masih menjadi misteri bagi kami yang belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di tanahnya. Tapi, misteri itulah yang menjadi magnet, menarik kami untuk hadir dan merasakan langsung nuansa kehidupan di bawah naungan hukum syariat.

Senin, 29 Juni 2015. Perjalanan kami memasuki etape ketiga. Setelah sebelumnya membenamkan diri dalam belantara abadi di Bukit Lawang, destinasi kami selanjutnya adalah menjajaki Bumi Serambi Mekah.

Tatkala matahari baru menampakkan sinarnya, ransel-ransel kami telah siap untuk dipanggul. Hari itu, kami akan melakukan perjalanan nan panjang menuju Sabang. Dari Bukit Lawang, kami harus segera berangkat menuju Binjai, mengejar bus malam tujuan Banda Aceh. Menurut buku Lonely Planet yang kami pegang, disebutkan bahwa bus-bus itu akan melewati kota Binjai sebelum pukul 19:00. Sebenarnya, jika ingin perjalanan lebih pasti, kami bisa pergi dulu ke Medan, kemudian menaiki bus dari sana. Tapi, nama Medan telah kami coret dari daftar perjalanan kami. Sebisa mungkin, apapun keadaannya, kami tidak mau kembali ke Medan.

Ide mengunjungi Aceh sebenarnya tidak datang tiba-tiba. Sewaktu masih di Jogja, aku sempat bertukar pesan dengan Johannes. “How about if we try to spend Ramadhan in Aceh?” Pertanyaanku itu bersambut manis. Dengan segera Johannes mengiyakan. “Why not ?!” Pada mulanya sempat ada perasaan takut. Baik aku dan Johannes, kami tak memiliki imaji apapun tentang Aceh selain dari Tsunami 2004, GAM (Gerakan Aceh Merdeka), dan Syariat Islam.

Dari ketiga hal itu, salah satu yang paling menarik bagi kami adalah tentang Syariat itu sendiri. Kebetulan pula waktu kami menjelajah itu bertepatan dengan bulan Ramadhan. Kami penasaran dan ingin tahu bagaimana semaraknya suasana bulan suci di Bumi Serambi Mekah.

Dengan semangat yang tinggi, kami berjalan kaki meninggalkan Bukit Lawang. Perjalanan menuju Banda Aceh dimulai dengan menumpang mobil elf renta menuju kota Binjai. Di terminal yang amat lowong ini, seraya menunggu mobil datang, kami mengamati keadaan sekeliling.

Kami duduk di sebuah bangunan terbuka di tengah lapangan. Hari itu sudah bulan puasa, tapi sepertinya tidak ada perbedaan dengan hari biasa. Asap-asap rokok tetap mengambur ke udara. Bapak-bapak duduk di kursi panjang, sesekali tawa membuncah dan meja digebrak. “Woy! Hahahaha!” Mereka bermain kartu remi. Wajah-wajah sumringah para bapak itu seolah menunjukkan bahwa mereka amat bahagia. Di tengah suasana terminal yang sepi, gelak tawa mereka menjadi hiburan tersendiri.

Terminal Bukit Lawang. Kosong, sunyi, dan sepi.

Sekitar setengah jam menanti, mobil elf oranye akhirnya tiba di terminal. Mesin mobil dimatikan dan sang sopir segera menghampiri kami. “Berangkatnya setengah jam lagi!” Kecewa. Kami pikir mobil akan berangkat saat itu juga, tapi sopir yang penuh keringat itu sepertinya ingin beristirahat sejenak.

Setelah ransel dimasukkan ke bagian belakang mobil, aku iseng bertanya kepada pak sopir. “Bang, sampe Binjai berapa duit?”. “50 ribu,” tukasnya. Aku coba menawar menggunakan cara memelas dan memaksa. “Mana ada bang, kemarin aku dari Pinang Baris ke sini aja cuma 40 kok!” Sebenarnya aku tidak tahu persis harga yang resmi dipatok untuk perjalanan ke Binjai. Hanya, untuk menyelamatkan kantong, kami harus mendapatkan harga semurah mungkin. Jadi, tatkala hendak menaiki kendaraan, kami harus menggunakan dua jurus: ngotot dan memelas.

Jurus itu membuahkan hasil, setidaknya untuk hari itu. Perjalanan dari Bukit Lawang ke Binjai hanya dipatok tariff Rp 25.000,- per orang. Hmm, kalau begitu, di perjalanan dari Medan ke Bukit Lawang kami ditipu. Bagaimana caranya, perjalanan pergi dihargai Rp 40.000,- sedangkan perjalanan pulangnya hanya Rp 25.000,-? Sudahlah, kami tak mau terlalu berpusing. Yang penting hari itu harga murah kami dapatkan.

Menuju kota Binjai

Deru mesin diesel mobil elf membuat telinga kami berasa budheg. Mobil terhempas ke kanan dan kiri. Sopir dengan lihai melakukan manuver supaya mobil ini tidak masuk ke dalam lubang-lubang yang menganga di sepanjang jalanan. Belantara telah berganti menjadi pemukiman penduduk, kemudian berganti lagi menjadi ladang sawit yang menghampar amat luas.

Sumatra yang dulu amat lebat dan dijuluki paru-paru dunia, kini mulai kritis. Kupikir itu hanya isapan jempol belaka. Tapi, tatkala mataku memandangi hamparan sawit, aku menyadari bahwa sesungguhnya deforestasi itu nyata. Penebangan hutan memang buruk untuk kebaikan iklim, tapi apalah daya isu tentang iklim jika ia harus berhadapan dengan ekonomi? Tentunya, di zaman sekarang ini, uang punya suara yang lebih kuat.

Kritisnya belantara Sumatra ini didukung dengan data yang dirilis Kementrian Kehutanan. Dalam kurun waktu 1990-2010, Sumatra telah kehilangan 7,5 juta hektar hutannya. Dari total keseluruhan pulau, hanya 8% yang masih dikategorikan sebagai hutan perawan, salah satunya adalah di Taman Nasional Gunung Leuser, yang di dalamnya termasuk Bukit Lawang.

Salah satu faktor penyebat direnggutnya keperawanan belantara Sumatra adalah karena si sawit. Kelapa sawit adalah komoditas yang cukup seksi. Statistik mengatakan, bahwa pada 2016, ekspor sawit Indonesia mencapai 12% dari total produksi ekspor nasional. Dan, dari angka itu lahir nilai uang sebesar Rp 231, 4 triliun yang mengalir dari transaksi sawit-menyawit. Selain uang, sawit pun menyerap tenaga kerja hingga 5,6 juta orang. (Tempo Online, 2 Februari 2017; 18:42)

Jika bumi adalah pribadi, kupikir hutan adalah rambutnya. Aku membayangkan bagaimana perasaan bumi ketika hutan-hutannya yang lebat itu dibakar. Hangus tak bersisa, kemudian, tak lama, dari tanah yang hangus itu ditanami oleh pohon-pohon sawit. Ibarat digunduli paksa, kemudian diberikan rambut baru yang keras. Ah, bumi, maafkan kami manusia yang amat jahat kepadamu.

Sementara Johannes tertidur, sawit-sawit itu membuatku berpikir. Satu sisi aku mengutuk sawit sebagai pemerkosa hutan Sumatra, tapi tanpa kusadari, aku pun punya andil dalam pengrusakan itu. Bagaimana tidak, tiap hari aku mengonsumsi makanan yang digoreng dengan miyak sawit. Bukankah aku juga adalah orang yang amat bergantung dengan sawit kalau begitu? Perenungan itu membuat meringis. “Iya juga ya,” pikirku.

Brakk! Mobil kami tiba-tiba berhenti mendadak. Rupa-rupanya, ada seekor kucing yang menyebrang. Sopir berusaha menghindari kucing itu, kemudian dia turun melihat apakah kucing itu tewas terlindas atau selamat. Tapi, dia tak menemukan apapun di kolong mobil.

Tak sampai lima menit berlalu, di tengah mobil yang sedang berpacu terdengar suara “miaauuww!” Aku mengernyitkan dahi. “Jo, do you hear it, miauw?” Johannes mengangguk dan memintaku untuk memberitahu si sopir. “Pak, kayaknya ada kucing nyangkut di kolong,” tuturku. Tapi, bapak sopir bergeming. Seketika dia menjadi ganas. “Biar sajalah, tanggung ini, dikit lagi sampai Binjai.”

Seketika aku merasa ngeri. Aku tak sanggup membayangkan apa yang terjadi pada si kucing di kolong mobil kami. Sepanjang satu jam perjalanan yang tersisa, kami terus mendengar suara miauw..miauw.. Suara kucing malang itu beradu dengan deru diesel yang amat keras. “Duh, aduh, meng..meng” gumamku dalam hati.

Persinggahan di Binjai

Satu-satunya yang aku tahu tentang Binjai adalah karena buah durian yang sering disebut dengan durian Binjai. Karena mobil yang kami tumpangi tujuannya adalah ke Medan, maka kami pun diturunkan di pinggir jalan.

Ketika kami turun dan memanggul ransel, puluhan tukang ojek yang sok kenal mengerubungi kami. Ada yang menawarkan jasa ojek, ada yang menawarkan kamar hotel, ada pula yang sok tahu menebak-nebak. “Where you going mister? Aceh, Medan? Come with me.” Kami tak yakin niat mereka sepenuhnya baik. Kami terus berjalan, tak menggubris satu pun dari mereka.  Kemudian, beberapa dari mereka berlalu, tapi ada pula yang mengumpat. “Sombong kali, kau!”

Acuh tak acuh, kami terus berjalan menuju terminal. Hari itu jam baru menunjukkan pukul 14:00. Ada banyak kios-kios bis yang berjejeran di pelataran terminal. Dari kios-kios itu, para agen-agen bus berteriak lantang. “Ke mana bang? Where you go, mister?” Langkah kami tertuju kepada sebuah kios yang terletak di paling pojok terminal. CV Putra Pelangi Perkasa, tertulis di bagian atas kios itu. Agen bus yang menjaga kios hari itu adalah seorang perempuan. Dengan nada ketus dia bertanya, “Ke Aceh? Kapan? Hari ini sisa dua kursi.” Untung kami datang dengan tepat, karena ternyata kursi yang tersisa hanya cukup untuk kami berdua.

Harga yang dibandrol untuk perjalanan ke Banda Aceh adalah Rp 200.000,-. “Gak bisa kurang, bu?” tanyaku. Dia menggeleng, mengatakan bahwa harga itu adalah harga yang amat ‘spesial’. Seharusnya, dia bisa saja menaikkan harga lebih tinggi. Ya sudah, kami tidak punya pilihan lain. Setelah membayar total biaya tiket sebesar Rp 400.000,-, kami masih memiliki waktu empat jam sampai bus tiba di Binjai.

Hari itu, ponsel butut Johannes rusak. Jadi, sembari menunggu bus, kami masuk ke sebuah mal yang berlokasi persis di seberang terminal. “Pokoknya jam setengah enam balik ke sini ya!” ucap si ibu agen bus sebelum kami pergi.

Perasaan kami cukup lega. Aceh tinggal selangkah lagi di depan. Tak apalah kami membayar cukup mahal, yang penting bisa tiba di Banda Aceh dengan selamat.

Dengan badan kumal dan memanggul ransel berat, kami masuk ke dalam mal. Pengunjung yang tadinya sibuk dengan urusannya, sesekali menorehkan pandangannya ke arah kami. Mereka menatap gerak gerik kami dari ujung kepala hingga kaki. Mungkin mereka merasa aneh melihat satu bule berjanggut berjalan bersama satu lelaki ceking, sambil memanggul ransel raksasa pula.

Waktu itu kami ingin masuk ke dalam swalayan untuk sekadar melihat-lihat. Saat kami hendak menitipkan tas, si mbak malah menolak. “Bawa saja bang.” Sial, pikirku. Ransel seberat 15 kilogram itu membuat punggungku tegang. Ingin rasanya kulepaskan saja sejenak.

Kami seperti orang salah kostum. Mau petualangan kok masuk ke supermarket? Satpam, pengunjung, semua memandang heran ke arah kami. Tiba-tiba ada seorang ibu. Dia berjalan ke arah kami dan tersenyum lebar. Sepertinya aku bisa menebak apa maksud ibu itu. Dia meminta berfoto dengan Johannes.

Johannes hanya bisa pasrah. Sebagai bule yang ramah, Indonesia telah membuatnya menjadi selebriti mendadak. Berjalan ke manapun, selalu saja ada orang yang terpesona pada tubuh bulenya. “Why, they love to take picture with bule? For what?” Sambil terkekeh, aku menjawab pertanyaan Johannes.  “Don’t know, maybe they love you?”

Bicara soal perilaku orang Indonesia kepada bule memang unik. Bagi Johannes, orang Indonesia itu sangat teramat ramah. Bahkan, saking ramahnya, mereka jadi usil dan kepo, alias sok ingin tahu. Dengan senyum merekah, ibu tadi bertanya. Siapa namanya? Ngapain di Indonesia? Berapa lama? Kamu suka sama perempuan Indonesia? Pertanyaan-pertanyaan itu dilontarkan dengan penuh semangat. Bagi Johannes, pertanyaan itu aneh untuk ditanyakan, apalagi pertanyaan terakhir. Johannes hanya tertawa kecil sambil menggeleng-geleng kepala tiap pertanyaan itu diberikan.

Sesi foto itu ternyata berlanjut. Ketika kami tiba di kios ponsel, si mbak penjaganya terpincut dengan wajah Johannes. Alih-alih berkonsentrasi melayani konsumen, dia malah senyum-senyum sendiri. Hari itu Johannes membeli sebuah ponsel ala kadarnya seharga Rp 250.000,- saja. Ponsel Nokia itu dibelinya karena ponsel lamanya wafat tak bangkit lagi.

Johannes adalah bule yang unik. Dia tidak pernah terpikirkan untuk membeli sebuah smartphone. Baginya, bisa menelpon dan sms saja sudah cukup. Titik. Media sosial pun dia hanya memiliki Facebook. Diminta membuat Whatsapp pun dia ogah. Memang, bule yang tidak update.

Menuju bumi syariat

Kami kembali di terminal tepat pukul 17:30. Si ibu agen bus itu sibuk menelpon. Suaranya keras dan terdengar lugas. Sepanjang hari-hariku di Sumatra, aku terbiasa mendengar orang bicara keras-keras di tempat umum. Sangat kontras dengan di Jogja di mana seseorang berbicara dengan suara pelan.

Setelah menutup telponnya. Ibu itu memanggil kami, dia meminta kami naik bentor di pojok terminal untuk diantar ke pinggir jalan raya. “Busnya gak masuk terminal, jadi kalian naik saja dari pinggir jalan. Nah, itu bentor, kalian diantar naik itu.” Ongkos bentor itu sudah ditanggung oleh pihak agen bus. Hari itu, penumpang dari terminal hanya kami berdua, jadi sopir bus merasa enggan untuk singgah ke dalam terminal.

Di pinggir jalan raya kami melihat banyak bus-bus besar berseliweran. Hampir semuanya bertujuan ke Aceh. Bus-bus Sumatra ini unik menurutku. Di kaca depannya terpasang tralis besi yang kekar. Belakangan aku tahu bahwa tralis itu berfungsi untuk melindungi kaca dari lemparan batu. Orang iseng macam apa yang suka melempar batu ke bus?

Aku jadi ingat ketika dahulu sering menaiki kereta api dari Bandung ke Jombang. Biasanya, selepas stasiun Cipeundeuy, selalu saja ada orang kurang kerjaan yang melempar batu ke arah gerbong. Pernah suatu ketika, sebuah batu bata merah yang dilempar memecahkan kaca. Batu itu masuk ke dalam gerbong. Untunya, batu itu mendarat di bordes kereta sehingga tidak ada orang yang terluka.

Tralis besi dipasang sebagai pelindung kaca bus dari lemparan batu.

Perilaku kurang kerjaan itu nampaknya masih lestari. Entah apa yang memotivasi pelaku melakukan itu. Tapi, yang jelas, perilaku itu sama sekali tidak terpuji.

Bus Putra Pelangi yang kami tumpangi tiba. Bus yang gagah itu berwarna putih. Lampu di dalam kabinnya berwarna-warni, seperti warna pelangi, membuat bus itu lebih mirip seperti akuarium berjalan. Kami duduk di kursi bagian belakang. Ah, betapa nyamannya kursi bus ini. Selama beberapa hari kami harus duduk di mobil tua renta dengan kursi yang ala kadarnya. Ketika menemukan jok kursi yang empuk, hati kami pun turut luluh.

Akuarium berjalan.
Menuju Banda Aceh.

Pukul 18:15, bus kami melaju meninggalkan Binjai menuju Banda Aceh. Kami tak tahu seperti apa rupa Bumi Serambi Mekah itu, namun hati kami amat yakin bahwa petualangan yang seru menanti kami di sana.

 

 

 

Sumatra Overland Journey (2) | Bukit Lawang: Belantara Abadi Negeri Sumatra

 

Mobil elf renta yang membawa kami bergoyang-goyang tidak karuan di sepanjang jalan menuju Bukit Lawang. Lubang-lubang yang menganga itu menjadikan perjalanan ini jauh dari kata nyaman. Asap rokok penumpang pria turut berpadu dengan udara panas. Sungguh, lima jam perjalanan itu amat menyiksa.

Ketika akhirnya mobil tua itu tiba di tujuan akhir, betapa leganya hatiku. Petualangan yang menantang baru saja dimulai. Sebelumnya, kota Medan telah membuatku kecewa dan nyaris bangkrut, pun ruas-ruas jalan rayanya yang semrawut membuatku muak. Tapi, syukurlah semua mimpi buruk itu telah berlalu. Tak ada lagi kemacetan. Tak ada lagi sahut-sahutan klakson. Semua hiruk-pikuk metropolitan telah berganti menjadi nuansa pedesaan yang begitu asri.

Siang itu kami terdampar di terminal yang lebih layak disebut lapangan bola. Tak ada satupun kendaraan lain selain dari mobil tua yang baru saja kami tumpangi. Tak ada bangunan luas ataupun papan informasi petunjuk arah. Semua terasa begitu lowong, apalagi waktu itu matahari tengah bersinar dengan teriknya.

Kami membuka buku Lonely Planet yang menjadi pedoman perjalanan. Tatkala mata kami sibuk menerawang informasi tentang Bukit Lawang, seorang pemuda datang dan menepuk pundakku. Sambil menebar senyum, dia berkata “You need homestay, sir? Come with me, its cheap.” Hmmmm. “How much?” tanyaku. Dia menjawab ,“75, sir.” Aku tidak terlalu percaya dengan pemuda itu, jangan-jangan dia ingin menjebloskan kami ke penginapan dengan harga selangit. Lagipula, harga 75 ribu itu masih tergolong mahal bagi kami.

Pengalaman diberi harga tak wajar selama di Medan membuatku merasa antipati dengan tawaran-tawaran seperti itu. Sambil memanggul ransel, aku mengajak Johannes untuk berlalu dan meninggalkan pemuda itu. Menurut buku Lonely Planet, ada penginapan-penginapan yang harganya 50 ribu Rupiah per malam. Kami memilih untuk berpedoman pada buku saja.

Warga lokal memanfaatkan aliran air sungai Bahorok untuk mencuci baju

Tapi, pemuda itu terus mengikuti kami. Dengan kosa-kata bahasa Inggris yang ala kadarnya dia terus membujuk kami untuk ikut dengannya. Lama-lama kami tidak tega juga dan Johannes pun menjawab tawarannya. “We don’t want to stay at yours, unless you give us price 50 thousand.” Dia menggeleng dan mengatakan harga itu terlalu murah. Ya sudah, kami terus berjalan. Tapi, bukannya berhenti dan pulang, dia malah terus mengikuti kami. Akhirnya setelah melakukan tawar menawar yang cukup pelik, dia pun menyetujui harga yang kami inginkan, 50 ribu untuk kamar penginapan.

“Makasih ya, bang!” ucapku seraya tersenyum. Dia malah menjawabku dengan ekspresi kaget. “Loh, abang bisa bahasa Indonesia? Kirain orang Singapur bang!” Jawabannya malah membuatku balik merasa kaget. Masa iya wajahku menyerupai orang Singapura? Mungkin mataku yang agak sipit inilah yang jadi penyebabnya. Tapi, siapa peduli! Yang penting hari itu kami mendapatkan penginapan yang sesuai kantong.

Di tengah siang bolong kami berjalan kaki. Menembus jalan setapak melewati rumah-rumah sederhana. Sesekali anak-anak yang tengah bermain memanggil-manggil “Mister! Mister!” Aku tahu, yang mereka panggil itu Johannes, bukan aku. Tapi, dengan berlagak percaya diri aku turut melambaikan tanganku kepada mereka.

Di kanal irigasi yang sumbernya dari Sungai Bahorok, dua orang anak tengah bermain ban dan memintaku untuk menjepretnya.

Tiga puluh menit berjalan, tibalah kami di sebuah pondok sederhana yang terletak persis di tepi sungai Bahorok. Pondok ini berlantai keramik. Ada dua kasur kecil dan satu kamar mandi di dalamnya. Fasilitasnya hanya itu, tapi, tepat di depan pintu kamar tersaji pemandangan yang membuatku berdecak kagum. Aliran air sungai Bahorok yang jernih itu meluncur deras, menerjang batu-batu kali yang tersebar di alirannya.

“50 thousand is nice, Ary!” tukas Johannes. Aku amat bersyukur karena pemuda itu ternyata tidak menipu. Aku jadi merasa bersalah karena waktu di terminal malah sempat berpikiran negatif terhadapnya. Sebelum dia beranjak pergi, cepat-cepat kutemui dia. Kujabat tangannya seraya berkata “Makasih ya bang!” Kemudian ia berlalu. Katanya sih dia akan kembali ke terminal, mencari tamu-tamu turis mancanegara lainnya untuk diajak menginap di penginapan miliknya.

Aku masih terpukau akan pemandangan di sekitarku. Tatkala aku sibuk memotret, Johannes sudah melepas bajunya dan langsung menghujamkan badannya ke kasur. Kemudian tak sampai berapa lama, dia sudah ngorok. “Dasar bule pelor, nempel dikit, langsung molor” gumamku.

Tempat di mana penginapanku berdiri adalah tempat yang paling banyak diincar oleh backpacker-backpacker Barat. Ternyata, salah satu penginapan yang namanya tercantum di Lonely Planet juga berada di dekat lokasi penginapanku. Di seberang sungai yang dihubungkan dengan jembatan gantung terdapat pasar wisata yang menjual beraneka-ragam cindera mata. Jika kuperhatikan sekilas, pasar wisata ini mirip dengan pasar-pasar busana yang lumrah ditemui di sepanjang pantai Pangandaran, Jawa Barat.

Hari itu, tidak ada aktifitas berarti yang kami lakukan. Setelah Johannes terbangun, kami memilih untuk tidak mandi di kamar mandi, melainkan dengan membawa handuk kecil, kami menelusuri sungai. Aliran air di sini amat jernih dan menyegarkan. Airnya pun sejuk, tapi tidak terlalu dingin. Karena dalam beberapa hari itu tidak turun hujan, maka aliran air tidak terlalu deras dan kami bisa bermain hingga ke tengah sungai.

Johannes mencelupkan dirinya ke dalam air
Hanya kami berdua yang bermain di tepian sungai kala itu.

Suasana sore itu amat damai. Tak ada suara apapun selain dari suara-suara alam. Gemericik air, sahut-sahutan suara burung, dan suara angin semua berpadu menjadi satu menghasilkan simfoni alam yang amat merdu. Tanpa berpikir lama, kami berdua segera menenggelamkan badan ke dalam air. Satu, dua, tiga, byurrr. Amat segar. Kami merasa seperti berada di surga, walaupun kami sendiri belum pernah pergi ke surga.

Mimpi buruk kedua

Hari itu, Sabtu, 27 Juni 2015. Malam harinya kami menyusun rencana berapa lama akan kami habiskan di Bukit Lawang. Johannes amat bersemangat untuk bertemu Orang Utan secara langsung. Bukit Lawang adalah salah satu habitat alami Orang Utan yang terkenal di seluruh dunia. Inilah yang membuat lokasi wisata terpencil di tengah hutan ini menjadi amat terkenal di kalangan backpacker. “How about if we do trekking tomorrow?” Tanya Johannes. Aku mengangguk, dan mengikuti apa saja kemauannya. Setelah kesepakatan terwujud, kami beranjak menemui asosiasi guide lokal.

Tidak tanggung-tanggung, harga yang dipatok untuk satu kali trekking di Bukit Lawang adalah 80 Euro. Harga itu hanyalah untuk paket 2 hari 1 malam, sedangkan paket paling wahid untuk trekking satu minggu dibandrol hingga ratusan Euro. Mataku terbelalak. Buatku itu cukup aneh, bagaimana bisa masuk hutan biayanya lebih mahal daripada belanja ke mal?

Tapi, aku tidak terlalu ambil pusing karena Johannes yang membayari biaya trekking itu. Jadi aku hanya manut seraya tersenyum bahagia dalam hati. Setelah semua keperluan administrasi selesai, pemandu yang besok akan mengantar kami menjelajah jantung rimba Sumatra membawa kami untuk berkenalan dengan tim. Peserta trekking di Bukit Lawang akan dikelompokkan dalam kelompok kecil yang beranggotakan lima orang plus dua pemandu. Waktu itu, aku bergabung bersama Johannes, Annete, seorang backpacker dari Belanda, dan sepasang ayah anak dari Rusia.

Pukul 09:00 pagi kami tengah bersiap di pelataran sebuah kafe. Aku begitu bersemangat karena trekking dalam bayanganku adalah berjalan-jalan santai di hutan, mirip seperti jalan kaki di Tahura antara Dago dan Maribaya di Bandung. Dengan percaya diri, aku membawa serta ransel ukuran 35literku. Di dalamnya kujejali dua botol mineral besar, kamera, baju, handuk, dan sempat-sempatnya membawa satu buah buku.

Seharusnya kami segera berangkat, tapi sepasang ayah dan anak Rusia itu ternyata mengalami diare. Jadi, dengan ikhlas kami menanti hingga 30 menit. Setelah semua anggota rombongan siap, perjalanan pun dimulai. Dua orang pemandu berjalan masing-masing di depan dan belakang. Mereka bertugas menjaga agar kami tidak hilang tersesat. Perjalanan ini dalam waktu normal akan ditempuh 8 hingga 10 jam. Ya, ya, aku masih bersemangat.

Etape pertama amatlah mulus. Kami berjalan menyisir sungai. Walaupun jalanan berbatu, tapi aku masih tetap bisa mengikuti langkah kaki mereka. Tak sampai lima menit berlalu, mimpi buruk kedua segera dimulai. Jika dua hari sebelumnya aku harus mengalami mimpi buruk bersama kecoak-kecoak, hari itu aku kembali menyaksikan mimpi buruk, yang bahkan teramat buruk buatku.

Gambaran trekking yang menyenangkan seketika ambyar tatkala trek yang kulihat itu tidak berbentuk. “Kita ke mana ini?” tanyaku. Pertanyaanku segera dijawab dengan memanjat. Salah seorang pemandu segera memanjat sebuah batu cadas, kemudian dia mengulurkan tangannya untuk menarik tiap anggota naik. Aku menelan ludah dalam-dalam. “Mampus aku!” Aku pun jadi orang yang paling terakhir untuk naik ke atas batu cadas itu.

Perjalanan semakin liar. Trek hutan yang masih perawan itu dipenuhi oleh lumpur-lumpur, batu-batu cadas. Tak jarang trek yang kami lalui berakhir di depan tebing. Seperti laba-laba, kami harus merayap pelan-pelan. Tak sampai 30 menit, kakiku gemetar, wajahku memerah bak tomat kebakaran. Semua tim panik, mereka takut aku meninggal tiba-tiba jadi kami pun beristirahat sejenak.

Dua orang pemandu itu agak takut dengan keadaanku. Aku dapat mendengar mereka bergumumam, “Payah kali itu orang lokal! Baru segini dah mau mati dia.” Emosiku terbakar. Aku merasa malu. Bagaimana bisa, aku yang lahir dan besar di Indonesia, yang katanya kaya dengan hutan, eh malah harus mati di tengah hutan? Aku bergumam keras dalam hati. “Bisa, bisa bisa bisa!” Kemudian perjalanan dilanjutkan.

Setiap 15 menit, aku meminta berhenti. Aku tak tahu apa yang ada di pikiran anggota timku yang lain. Entah mereka marah, kesal, atau apapun, aku tidak peduli. Perjalanan trekking itu membuatku mengucap doa setiap menitnya. “Ya Tuhan, jangan mati sekarang, belum lulus, belum nikah. Tapi, kalau harus mati, jangan sakit, ya Tuhan!” Rupanya, Tuhan mendengar doaku.

Dalam perjalanan, kami berjumpa dengan beberapa Orang Utan.

Menjelang tengah hari, Johannes menarawarkan dirinya untuk menggendong ranselku. Otomatis punggungku pun terasa lebih lega dan aku bisa bergerak dengan leluasa. Setelah melakukan trekking selama lima jam, tibalah kami di tahap yang lebih mengerikan. Jika sebelumnya perjalanan didominasi dengan trek menanjak, kali ini kami harus menuruni bukit. Rasa takutku jadi berlipat ganda. Jika trek menanjak membutuhkan tenaga ekstra, trek turun membutuhkan nyali yang ekstra.

Aku iri melihat Johannes, Anette, dan dua Rusia itu bisa turun dengan cepat. Seperti siluman kera, mereka berjalan dengan luwes, sambil tangannya memegang erat dahan-dahan yang bergantung. Johannes dan Annet sempat beberapa kali terjatuh hingga tangannya terluka. Tapi, mereka acuh tak acuh terhadap luka itu. Mereka terus menuruni bukit dengan perlahan tapi pasti.

Melihat gaya mereka menuruni bukit, aku malah tertegun. Doaku semakin intens kuucapkan dalam hati. Jika mereka menuruni bukit itu menggunakan kaki, aku menggunakan pantat. Ternyata, cara ini terbukti ampuh! Walaupun aku memakan waktu jauh lebih lama, tapi setidaknya aku selamat sampai tujuan.

Setibanya di bibir sungai, mereka semua tertawa melihatku. Badan penuh keringat, wajah merah, kaki bergetar, dan pantat penuh lumpur. Alih-alih mengejek, mereka malah menjabat tanganku dan berkata, “Great job, Ary! You did it!” Aku termangu. Seharusnya mereka marah karena aku membuat trekking ini jadi jauh lebih lama. Bagaimana bisa mereka malah memberiku semangat dan mengucapkan selamat?

Kusimpan pertanyaan itu dalam hati. Sebelum aku mendapatkan jawabannya, kami harus segera menyeberangi sungai sebelum hari semakin gelap. Karena malam sebelumnya hujan turun cukup deras, debit air di sungai menjadi tinggi. Rasa takutku kembali membuncah. Air sungai nan deras itu menerjang tubuh hingga setinggi dada. Sesekali aku hampir terhanyut, namun tangan Johannes terus memegangku dengan erat hingga aku pun tiba dengan selamat di seberang sungai.

Kemah tempat kami melewatkan malam
Sungai Bahorok berada persis di depan perkemahan kami

Akhirnya, perjalanan hari itu selesai! Kami membutuhkan waktu 11 jam untuk tiba di lokasi. Setiap persendianku terasa mau putus. Pantatku lecet, juga sekujur kaki dan tangan. Ada darah-darah segar yang menetes karena sepanjang jalan aku membiarkan pacet-pacet hinggap di kulit.

Gulita di tengah belantara

Tim berbagi tugas. Aku menyiapkan tiang gantungan untuk menjemur pakaian kotor. Dua pemandu menyalakan api dan mempersiapkan makan. Johannes dan Annet membantu mendirikan tenda. Sedangkan dua orang Rusia itu malah jatuh tertidur.

Ketika langit telah sepenuhnya menjadi gulita, api unggun menjadi sumber cahaya satu-satunya. Sambil mengahangatkan diri, kami menikmati santapan makan malam amat sederhana. Mie rebus dicampur dengan daun-daun yang kami petik di hutan. Karena perut yang lapar, santapan itu terasa amat istimewa. Seketika perut kami menjadi hangat.

Malam itu begitu teduh. Tak ada distraksi apapun yang memisahkan kami dengan kehangatan alam. Baterai ponselku telah sepenuhnya wafat, demikian juga dengan ponsel anggota tim lainnya. Lagipula, buat apa berpusing soal baterai ponsel, toh tidak ada sinyal juga di sana.

Setelah perut kami semua terisi, tibalah kami pada sesi yang paling menyenangkan, yaitu diskusi. Akhirnya, setelah berjam-jam mengadu nasib di tengah belantara, kami dapat saling mengenal. Orang pertama yang mengenalkan dirinya adalah Anette. Dia adalah seorang perempuan Belanda yang ‘ditugasi’ oleh perusahaannya untuk pergi berlibur. Bosnya, kata Anet, menyuruhnya untuk melakukan traveling selama tiga minggu, bebas ke manapun yang dia mau. Karena Anet menyuaki petualangan, maka dia memilih Sumatra sebagai destinasi utamanya.

Setelah Anet selesai, kini giliran dua Rusia yang adalah sepasang ayah dan anak memperkenalkan diri. Alex, nama sang Ayah adalah seorang insinyur yang ditugaskan bekerja di Banda Aceh. Dalam rangka liburan sekolah, dia mengajak putranya yang tinggal di Rusia untuk datang berkunjung ke Indonesia. Ayah dan anak ini membuatku iri. Aku lahir dan tumbuh di keluarga broken-home. Jangankan bepergian bersama ayah, ditepon untuk ditanyai kabar pun tidak pernah.

Sesi berkenalan itu berubah menjadi pembicaraan tak keruan. Tatkala Anet memilih untuk tidur, pembicaraan kami mulai menjurus ke sesuatu tentang seks. Sejujurnya aku merasa takut. Di Jawa, biasanya tabu atau pamali apabila berbicara sesuatu yang jorok di tengah hutan. Bisa-bisa membuat makhluk halus marah. Aku memilih untuk pergi tidur daripada hantu-hantu hutan menyerangku.

Malam itu aku tidur dengan amat nyenyak. Tentunya dengan bantuan berlembar-lembar koyo salonpas yang kutempel di sekujur tubuh. Tulang-tulang yang remuk itu seolah bersatu kembali. Kupejamkan mata rapat-rapat seraya berbisik, “Matur nuwun, Gusti!”

Hari itu, ada secuil kebanggaan dan rasa syukur tak terkatakan dalam hatiku. Destinasi kedua ini mengajarkanku untuk mengalahkan rasa takut. Walaupun aku harus berjalan terseok-seok, menuruni bukit dengan pantat hingga lecet, tapi aku belajar untuk berjuang. Ada kalanya perjalanan hidup tidak sesuai dengan ekspektasi. Ada kalanya trek kehidupan yang dilalui seolah menjerumuskan kita ke lubang maut. Tapi, satu yang aku syukuri adalah Dia yang membawaku memulai perjalanan ini, tentu Dia jugalah yang membimbingku hingga aku bisa tampil sebagai pemenang.

***

Senin, 29 Juni 2015. Ketika mentari mulai naik, halimun pagi masih mendekap sebagian sudut belantara. Sementara sarapan pagi dibuat, dua Rusia sudah asyik mencemplungkan dirinya ke dalam aliran air. “Gila” pikirku. Apa mereka tidak dingin ya, tapi mungkin air sungai ini tidak apa-apanya untuk mereka. Toh, di negaranya mereka terbiasa hidup di tengah es.

Sarapan pagi kembali disajikan. Masih dengan menu berupa mie, namun ditambahi dengan aneka buah segar sebagai penutup. Buah-buah itu didapat dari hutan. Ada nanas, papaya, pisang, dan jambu air. Kami menyantap dengan lahap semua makanan itu.

Di hari kedua tidak banyak yang kami lakukan. Kami berjalan-jalan di sekitar lokasi kemah. Bermain air, mandi di air terjun, menyeruput teh panas, dan juga berkemas untuk perjalanan pulang.

Aku bisa bernafas lega karena perjalanan pulang ini akan jadi perjalanan paling mengasyikkan. Kami akan pulang dengan river tubbing. Di lokasi kemah ternyata sudah disediakan empat ban besar, mungkin seukuran ban truk. Ban-ban itu kemudiaan diikat secara berbaris menyerupai kereta api. Di bagian depan dikhususkan untuk seorang pemandu. Dia membawa tongkat panjang yang berfungsi mencegah ban menabrak cadas. Sedangkan di bagian paling belakang, seorang pemandu bertugas menjaga barang bawaan yang sebelumnya telah dibungkus plastik raksasa agar tidak terhempas. Dia juga membawa kayu panjang untuk membantu mengarahkan laju ban-ban kami.

Setelah segala perbekalan dikemas, kami bersiap pulang. Masing-masing kami siap di posisi. Tidak ada satupun di antara kami yang menggunakan pelampung. Tapi, kami tenang-tenang saja. Dalam hitungan satu, dua, tiga, kami pun hanyut terbawa aliran sungai yang deras. Perjalanan terasa kian menantang tatkala ban kami harus melewati jeram yang panjang. Tubuh kami terguncang-guncang, terayun ke kanan kiri. Seraya berpegangan tangan erat, kami menjerit-jerit kegirangan.

Perjalanan pulang menggunakan ban-ban karet selama dua jam lebih

Sungai Bahorok memang luar biasa. Aliran airnya amat jernih dan mengalir deras. Kehadiran kawasan konservasi Bukit Lawang telah menjadi penyelamat aliran air ini. Jika suatu saat hutan-hutan ini beralih menjadi ladang sawit, tentu cerita akan berubah. Sungai Bahorok yang kemudian mengalir ke hilir, menjadi berkat bagi ribuan jiwa yang tinggal di sisinya.

Perjalanan river tubbing kami telah mendekati tujuan akhir. Dari jauh aliran sungai mulai melambat dan bangunan-bangunan penginapan terlihat samar. Dua jam lebih kami habiskan dengan terayun-ayun di atas ban. Setelah tiba di lokasi, kami pun berpamitan. Sayang sekali karena tidak sempat berfoto bersama.

Sekembalinya di penginapan, kami menyusun rencana selanjutnya dari perjalanan ini. Setelah dari Bukit Lawang, kami memiliki dua pilihan. Pergi ke Nias, atau ke Aceh. Pilihan kami jatuh kepada Aceh. Setelah berkutat dengan pegunungan, tujuan kami selanjutnya adalah pesisir Aceh.

Senja di Bukit Lawang

 

 

Samosir, Primadona Danau Toba

Laju bus yang lambat harus berpacu dengan waktu yang beranjak sore. Bus tua nan sesak mengantarkan kami menembus jalan berliku menuju Parapat, sebuah kota kecil di tepi kaldera Toba yang dilintasi jalan Trans-Sumatra. Perlahan tapi pasti, bau keringat ditambah kesesakan dalam bus memicu rasa mual namun syukurlah panorama Toba dari kejauhan mengobati diri dari kepenatan perjalanan.

Tak sampai dua jam, bus bernama “Sejahtera” yang kami tumpangi dari Pematangsiantar ini tiba di Parapat. Beruntung penumpang yang duduk di sebelah kami adalah seorang mahasiswa USU yang tengah mudik ke Samosir. “Oh baru pertama ke Samosir, iya nanti turun di Tigaraja, terus nyeberang ke Tuktuk bang,” jelasnya memberikan informasi mengenai Samosir.

IMG_3497
PO Sepadan, bus umum rute Kabanjahe – Pematangsiantar

Berdasarkan informasi, Ferry menuju Tuk-tuk di Samosir berangkat setiap satu jam sekali. Beruntung kami tiba di Tigaraja tepat pukul 14:30 sehingga tersisa waktu lumayan banyak untuk kami beristirahat karena Ferry terakhir akan berangkat pukul 17:30.

Perjalanan kami tidak terlalu berat jika dibandingkan dengan lintas Aceh beberapa hari sebelumnya. Dari Berastagi kami cukup menaiki angkot seharga Rp 4.000,- untuk tiba di Terminal Kabanjahe. Dari sanalah kami mengganti kendaraan dengan Bus PO Sepadan tujuan Kabanjahe – Siantar. Layaknya bus-bus AKDP lainnya di Sumatra, bus ukuran 3/4 atau elf ini berfasilitas seadanya. Jangan tanyakan AC, bisa berjalan selamat pun rasanya sudah syukur.

Satu hal yang mendebarkan hati selama perjalanan lintas Sumatra adalah soal keselamatan di jalan raya. Selain turis rawan ditipu, pengemudi di sini kurang peduli soal keselamatan, mereka lebih mengutamakan kecepatan. Maka, tak ayal jalanan sempit berkelok dibuat seperti arena balapan tanpa memikirkan ada penumpang yang berjejal bagaikan teri dalam bus.

Penumpang juga tidak peduli akan kenyamanan penumpang lain. Kondisi bus yang penuh sesak masih harus diperparah dengan perokok-perokok yang entah usil atau memang tak merasa salah. Mereka dengan santainya merokok sementara asapnya meracuni puluhan penumpang lain yang juga tak berani menegur.

Setelah sekitar tiga jam mengarungi jalanan, bus PO Sepadan yang kami tumpangi di Pematangsiantar. Seperti biasa, di terminal puluhan calo akan menawarkan angkutan wisata ke Toba. Kami menolak, karena kami sudah dipesani oleh ibu pemilik penginapan Sibayak untuk segera menaiki bus Sejahtera setibanya di Siantar. Tak perlu membayar mahal, cukup Rp 15.000,- bus tua renta ini akan mengantarkan kami sampai di tepi danau Toba.

IMG_3499
Kota Parapat yang terletak di sisi Danau Toba

Tuk-tuk Desa Mungil di Tengah Toba

Tujuan utama kami selama di Toba adalah Tuk-tuk, sebuah desa yang namanya tersohor di kalangan backpacker. Maklum, Tuk-tuk tercantum dalam Lonely Planet, maka tiap harinya puluhan bule yang menggendong ransel raksasa selalu datang ke Tuk-tuk. Perjalanan ke Tuk-tuk dilakukan dengan menaiki Ferry dari pelabuhan Tigaraja selama satu jam. Penumpang Ferry diwajibkan membayar Rp 15.000,- per orang.

IMG_3529
Ferry menuju Tuk-tuk 

Danau Toba begitu luas sehingga nyaris sama dengan lautan. Saking luasnya, air danau pun berombak cukup besar seperti di laut. Terkadang ferry menghujam ombak yang tinggi sehingga limpahan air membasahi geladak.

Tiba di Tuk-tuk, hamparan persawahan menghijau dan dihiasi oleh tebing-tebing kekar di belakangnya. Tersedia puluhan hotel hingga homestay di desa ini, kami memilih untuk bermalam di Liberta Guest House. Penginapan ini merupakan yang termurah di seluruh Tuk-tuk, kami berdua cukup membayar Rp 44.000,- per malam untuk kamar ukuran besar.

Selain menyediakan kamar, Liberta juga menyediakan fasilitas restoran sederhana dengan kebanyakan menu western. Penginapan kecil ini sudah mendunia lantaran juga tercantum dalam lonely planet. Tak hanya kami yang menginap disana, melainkan juga rekan-rekan backpacker dari Jerman, Belanda, Perancis, Inggris dan Taiwan.

IMG_3667
Halaman belakang Liberta Homestay, langung danau!

Kami harus berdiam di Tuk-tuk selama 12 hari karena tak ada lagi tiket bus yang tersisa untuk pergi ke Padang, Sumatra Barat. Kami baru memperoleh tiket bus ALS pada tanggal 22 Juli malam, sehingga kami harus menghabiskan masa Idul Fitri di Samosir. Namun, tak apalah menetap lebih lama di Tuk-tuk karena akomodasi yang murah di sini.

Tuk-tuk menjadi favorit karena tersedia berbagai macam atraksi serta fasilitas. Rental sepeda motor dan sepeda bisa dengan mudah dijumpai, namun harus pandai menawar habis-habisan. Terbiasa dengan turis asing terkadang membuat harga menjadi sangat mahal ketika dilihat dari kacamata Rupiah.

IMG_3705
Hijaunya tuk-tuk

Berjalan sedikit ke arah jalan utama trans-Samosir, padang rumput nan hijau membentanng luas. Naik lah ke padang rumput itu makan Danau Toba akan terhampar luas, sedangkan tebing-tebing kekar menghiasi di belakangnya. Paling nikmat untuk menikmati tempat ini ketika senja. Sinar matahari yang meredup seiring juga dengan suhu yang semakin sejuk, sambil berbaring di padang rumput tentunya melepaskan kita dari kepenatan.

IMG_3698
Dari atas bukit Tuk-tuk

Jika malam, Tuk-tuk bisa dibilang mirip kawasan wisata di Bali. Kafe-kafe bertebaran, namun tidak bising karena sedikit kendaraan bermotor yang berlalu lalang di sini. Untuk rekan-rekan yang Muslim dapat memilih warung makanan halal yang tersedia di beberapa lokasi di Tuk-tuk.

Kuliner khas Tuk-tuk selain daripada tuaknya adalah Babi Panggang Karo. Kami beruntung karena memiliki rekan yang berkuliah di Jogja namun orang tuanya adalah pemilik restoran Elios di Samosir. Kami mendapatkan babi panggang secara gratis, sungguh nikmat dan bahagia.

IMG_3534
Babi panggang karo di Restoran Elios

Babi Panggang di Restoran Elios memang tersohor se-Samosir. Masakan Babi diolah secara segar lengkap dengan bumbu-bumbu spesial. Sensasi menyantap panggang karo ini akan semakin sempurna ketika dibarengi dengan segelas jus markisa.

Jelajah Samosir 

Tuk-tuk hanyalah sebagian kecil dari Pulau Samosir yang berlokasi tepat di tengah kaldera Toba. Selain Tuk-tuk kami juga menjelajahi Tomok, Ambarita, Nainggolan hingga Pangururuan yang terletak di daratan utama Sumatra.

Dengan bermodalkan sepeda motor sewaan seharga Rp 80.000,- per hari (termasuk bensin tapi tanpa helm) kami mengeliling Samosir. Rute pertama adalah menjelajah ke wilayah Tomok lalu ke utara. Beberapa tempat seperti Makam Raja Sidabutar juga atraksi tari Batak dapat dijumpai disini. Tomok sedikit lebih ramai ketimbang Tuk-tuk karena Ferry besar yang mengangkut kendaraan berlabuh di sini.

Dari Tomok jika dilanjutkan terus jalanan akan menanjak dan berkelok. Semakin jauh jalanan aspal akan rusak dan berlubang, namun masih aman untuk dilalui kendaraan roda dua maupun empat. Di wilayah Ambarita terdapat sebuah tempat untuk menangkan diri bernama Bukit Doa.

IMG_3660
Bukit Doa

Sebuah bukit hijau didedikasikan sebagai tempat berdoa untuk umat Kristen. Bukit doa ini dikelola oleh denominasi gereja setempat namun terbuka bagi khalayak umum. Sedikit cerita, Kekristenan mengakar kuat di wilayah Samosir, maka bangunan gereja dapat dengan mudah dijumpai di sini. Hadirnya Kekristenan di Tanah Batak dibawa oleh seorang Misionaris Jerman bernama Nommensen yang membaktikan hidupnya dalam pelayanan di tanah Batak.

Kini, karya Nommensen dapat terlihat nyata dengan mayoritas warga Samosir yang mengaku beriman Kristen, juga beberapa lembaga sekolah, gereja juga karya-karya lainnya yang tersebar di wilayah Samosir.

Beralih dari Bukit Doa, di wilayah utara Samosir terdapat beberapa pantai. Tentunya pantai disini bukan laut, melainkan pantai dari Danau Toba. Beberapa pantai terletak di wilayah Simanindo dan Parbaba, bagian utara Samosir.

IMG_3613
Pantaii….

Selain pantai, jika berkendara terus ke wilayah Pangururan, terdapat pemandian air panas dari sumber alami. Dari kejauhan, di seberang danau terdapat tebing vulkanik yang masih memancarkan fumarol, di sanalah lokasi air panas berada.

IMG_3649
Gereja Katolik Inkulturasi di Pangururan

Dari Pangururan, kami memacu kendaraan kami ke Menara Pandang Tele. Namun, sebelum tiba di Tele kami mampir sejenak ke air terjun Efrata yang terletak masih di wilayah Pangururan. Dari balik hijaunya bukit terlihat dua tingkatan air terjun mengalir deras, namun jangan berbangga dulu karena lokasi air terjun masih jauh.

IMG_3639
Ruas jalan tak beraspal di Pangururan

Setelah menanjak dengan jalanan rusak kami tiba di pelataran parkir. Tak dipungut bia masuk apapun selain parkir seharga Rp 2.000,-. Air terjun Efrata sungguh cantik, aliran airnya terpecah membentuk tirai-tirai tipis yang menyebarkan hawa sejuk. Debit airnya pun tak terlalu besar sehingga memungkinkan untuk sekedar bermain air disana.

IMG_3741
Air Terjun Efrata

Puas dengan air terjun Efrata, perjalanan kembali dilanjutkan menuju Menara Tele. Pengemudi harus ekstra hati-hati karena jalanan sempit. Lengah sedikit jurang di samping jalan akan jadi lubang maut seketika. Dari menara Tele kita dapat melihat panorama Samosir dengan jelas.

IMG_3768
Toba dilihat dari jalan raya menuju Menara Tele

Pepohonan, sawah dan luasnya Danau Toba membentuk goresan alam yang nyaris sempurna. Sedikit catatan, menara Tele ini kondisinya agak memprihatinkan. Menara yang digunakan sebagai gardu pandang ini agak rapuh secara konstruksi, dilihat dari kerusakan yang menyebar di dinding serta pondasi menara.

IMG_3773
Jalan menuju menara Tele

Jarak yang harus ditempuh dari Tuk-tuk ke meara Tele sekitar 80 kilometer atau selama tiga jam berkendara. Namun kepenatan berkendara akan terbayar lunas ketika menikmati panorama dari atas.

IMG_3775
Panorama dari Menara Tele

Samosir, ada Danau di dalam Danau

Bertolak ke bagian lain Samosir kita akan menemukan danau di dalam danau. Samosir sendiri terletak di tengah Danau Toba, dan di wilayah Simbolon kita akan menemukan aek Sidihoni, serta aek Natonang di wilayah Nainggolan.

IMG_3723
Berkendara bersama Jeff Ho, turis Inggris ke danau Natonang
IMG_3722
Danau Natonang

Kedua danau tersebut berisikan air yang tenang,namun jauh dari jangkauan turis. Umumnya turis hanya singgah sejenak menyaksikan danau sebelum kemudian bertolak ke wilayah wisata lainnya.

IMG_3636
Gembala Kerbau

Melaju ke wilayah Selatan jalanan berliku-liku namun kita akan menemukan panorama Danau Toba dengan perbukitan yang membentang bagai naga. Sesekali beberapa warga datang menghampiri turis-turis seraya membawa serta kerbau mereka.

IMG_3729
Toba dari sisi Selatan

Di wilayah ini kami sempat membeli makanan berupa mie goreng, melihat kami adalah turis maka sang pemilik warung memberikan kami satu teko tuak. “Kalau bisa minum tuak satu teko saya kasih gratiskan mie nya!” tantangnya sambil tertawa. Tapi kami menolak, daripada kecelakaan karena mabuk ya lebih baik bayar saja mie seharga Rp 15.000,-

Secara keseluruhan, jika menggunakan sepeda motor Samosir dapat dijelajahi dalam dua hingga tiga hari.

Sipiso-piso, Air Terjun Tertinggi di Indonesia

Bosan berkeliling Samosir, kami kembali ke wilayah Parapat untuk kemudian menuju Tongging. Pukul 09:00 kami mencari persewaan motor di Parapat, namun hasilnya nihil. Kami memutuskan untuk naik taksi menuju Tongging seharga Rp 40.000,-. Sebenarnya tidak ikhlas, tapi karena tidak ada pilihan angkutan lain maka dengan terpaksa kami naik taksi.

IMG_3574
Panorama Tongging

Perjalanan menuju Tongging ditempuh dalam waktu sekitar dua jam mengitari Toba. Kebetulan di dalam taksi kami bersama dengan sebuah keluarga yang terdiri dari istri orang Indonesia, suami orang Belanda dan kedua anak. Keluarga ini mengaku bertemu di Riau kemudian saling jatuh cinta. Kini, sang bule sedang mudik ke Indonesia untuk liburan.

Tiba di Tongging kami berpisah karena keluarga tadi bertujuan ke Berastagi sedangkan kami ke Sipiso-piso. Waw, sepanjang perjalanan di Tongging ini panorama Danau Toba tak bisa dihindari. Jalanan yang mengitari danau di satu sisi membuat mual namun sisi lain sungguh enak dilihat.

IMG_3589
Sempatkan diri untuk selalu berfoto

Untuk memasuki area air terjun Sipiso-piso kami harus menuruni ribuan anak tangga. Syukurlah pengalaman trekking di Gunung Leuser dan mendaki Sibayak membuat aku cukup kuat. Air terjun Sipiso-piso sendiri akan bermuara di danau Toba.

Tinggi mulut air terjun ke darat adalah sekitar 120 meter, menjadikan Sipiso-piso sebagai yang tertinggi di Indonesia. Saking tinggnya, hempasan air Sipiso-piso membuat basah baju pengunjung dari jarak 200 meter. Hanya pengunjung yang nekat basah kuyub sajalah yang berani mendekat ke pusat air terjun.

IMG_3572
Sipiso-piso Waterfall

Perjalanan kembali dari Sipiso-piso adalah hal yang menyebalkan. Anak tangga yang tadinya dituruni sekarang harus dinaiki. Jika tak pandai mengatur nafas pasti akan ngos-ngosan maksimal. Beberapa turis alih-alih menyerah mereka memperbanyak waktu istirahat. Jalan lima langkah, berheti, minum, selfie begitu seterusnya.

Dengan keringat bercampur basah air terjun kami melanjutkan perjalanan pulang menuju Tuk-tuk. Waktu sudah menunjukkan pukul 15:00 dan kami harus tiba di Parapat sebelum pukul 17:30 untuk mengejar Ferry terakhir. Jika ketinggalan, maka kami harus bermalam di Parapat.

Berjalan kaki dengan kecepatan penuh, kami terobati dengan hadirnya pedagang jeruk asli Jeruknya menggoda, kuning merona, manis dan murah sekali. Cukup membayar Rp 10.000,- per Kg, kami memborong sebanyak 3 Kg untuk cemilan malam.

IMG_3594
Jeruk yang kuning menggoda

Setelah dipuaskan jeruk, kami harus berjuang kembali. Tiga puluh menint menunggu, tak ada bus yang kosong untuk kami tumpangi. Hingga saat kami putus asa, ada satu bus yang nekat memasukkan kami ke dalam. Akibatnya, sepanjang dua jam perjalanan dari Tongging menuju Parapat kami harus menungging! Ya, menungging selama dua jam bukan perkara mudah apalagi kondisi bus penuh sesak, badan lelah sehabis hiking, plus ada jeruk seberat 3 kilogram.Pukul 17:20 tepat kami tiba di Tigaraja, dengan demikian kami tidak jadi ketinggalan Ferry.

Samosir, Akhir dari Perjalanan Kami

Selepas Samosir, tujuan kami selanjutnya adalah Padang, namun bukan untuk kembali menjelajah melainkan untuk berpisah. Johannes akan melanjutkan perjalanannya ke Malaysia, sedangkan aku akan kembali ke Jakarta untuk internship .

Samosir tetap menjadi primadona, setidaknya di hati kami. 🙂

IMG_3715
Senja di Samosir

 

Berastagi, Kota Singgah Backpacker Kelas Dunia

Hampir lima puluh jam perjalanan kami membelah pegunungan tengah Aceh. Tiba di Berastagi seolah melupakan penatnya badan dari perjalanan panjang. Pusat kota Berastagi begitu sejuk, ditambah semerbak aroma makanan dari pedagang kaki lima juga puncak Sibayak yang menjulang menjadi magnet kota kecil ini. Walaupun kecil, Berastagi jadi tempat persinggahan bagi para backpacker yang hendak melakukan perjalanan ke utara menuju Aceh ataupun ke selatan menuju Toba.

Bagi kami Berastagi adalah kebahagiaan. Sebelumnya, selama di Aceh tidak memungkinkan bagi kami untuk membeli makan siang mengingat hukum Syariat di Aceh mengakibatkan tak adanya penjual makanan di siang hari. Namun, di Berastagi kami bisa kembali bersantap siang namun dengan tetap menghormati saudara-saudara Muslim yang beribadah puasa.

Penginapan kelas Backpacker 

Berastagi umumnya dipadati wisatawan lokal dari Medan setiap akhir pekan. Kota kecil ini memiliki udara sejuk karena berada di lereng antara Sibayak dan Sinabung. Jika hari sedang cerah kita dapat melihat kedua gunung ini secara jelas. Selain udaranya, Berastagi juga memiliki kolam rendam air panas yang nyaman serta murah yang dapat dicapai sekitar 1 jam dari pusat kota.

Tak hanya turis lokal yang betah untuk tinggal di Berastagi, backpacker lintas benua pun merasa nyaman menetap di Berastagi. Kami menginap di sebuah homestay atau tepatnya hostel khusus untuk backpacker bernama Wisma Sibayak. Penginapan ini cukup murah untuk pejalan berkantong tipis karena hanya dipatok harga Rp 80.000,- per malam untuk satu kamar.

Penginapan ini dikelola oleh sebuah keluarga dan terkenal lantaran namanya tercantum dalam Lonely Planet sebuah travel guide paling laris di dunia. Untungnya kami pun mendapatkan rekomendasi Wisma Sibayak dari Lonely Planet. Ketika kami bermalam di Wisma Sibayak semua tamu disana adalah bule, kecuali saya sendiri orang Indonesia yang tersesat.

Hari pertama di Berastagi kami habiskan dengan beristirahat sejenak. “Dari mana dek, berdua saja sama kawan bulenya?” tanya ibu pemilik penginapan. “Iya bu, saya dari Jogja dan ini sedang keliling Sumatra sama rekan dari Jerman.” sahutku. Entah mengapa, status sebagai mahasiswa Jogja selalu memberikan kesan positif selama perjalanan di Sumatra ini, untuk itulah aku merasa bersyukur sekali.

Ibu pemilik penginapan ini memiliki segudang peta untuk dibagikan kepada setiap tamunya. Ia menjelaskan dengan detail tempat-tempat maupun kuliner yang wajib dikunjungi selama di Berastagi. Saking detailnya, ia pun menjelaskan rute angkot hingga tarif yang harus dibayar per sekali jalan.

IMG_3446
Sinabung terlihat jelas dari Sibayak

Pendakian Puncak Sibayak

Baiklah, setelah informasi yang didapat cukup kami menata rencana untuk dilakukan besok. Pendakian ke Sibayak kami pilih sebagai bagian dari petualangan di Berastagi. Berangkat pukul 08:00 dari penginapan, kami menaiki angkot bertuliskan “CV.KAMA” dan membayar Rp 4.000,- per orang hingga di muka gerbang retribusi Sibayak. Setiap pendaki diwajibkan menuliskan nama mereka terlebih dahulu di pos sebelum memulai pendakian. Tak lupa kami juga membeli dua botol air minum sebagai perbekalan.

Ibu di penginapan bilang kalau pendakian membutuhkan waktu sekitar tiga hingga empat jam berjalan kaki dengan medan yang tak begitu sulit. Baru saja memulai pendakian kami bertemu dengan bapak-bapak pekerja kebun. Mereka meneriaki kami dan meminta air minum. Hmmm, kalau kami beri maka kami harus berhemat air, sedangkan jika tidak diberi ya kasihan. Oke, kami pun merelakan satu botol air untuk mereka.

Dengan perasaan lega kami kembali berjalanan. Jalan menuju puncak di etape awal ini masih jalan beraspal namun naik-turun dan terkadang ada monyet-monyet yang mengikuti. Lambat laun nafas mulai tersengal-sengal sekalipun jalanan masih beraspal. Kami tetap semangat mendaki karena sayang sekali sudah jauh-jauh ke Berastagi kalau tidak sampai ke Puncak Sibayak.

Gunung Sibayak sendiri adalah gunung berapi aktif setinggi +/- 2.300 meter yang bertetangga dengan Gunung Sinabung. Sibayak relatif lebih tenang ketimbang Sinabung yang sering erupsi. Dari kestabilannya, Sibayak dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik tenaga Geothermal, juga sebagai wisata air panas.

Setelah berjalan sekitar dua jam, jalan aspal pun semakin rusak dan menanjak. Sebenarnya tidak ada tantangan berarti ketika mendaki di trek aspal, hanya nafas saja yang tersengal-sengal. Untungnya dua minggu lalu kami sudah trekking di Gunung Leuser jadi pendakian Sibayak tidak terlalu menyulitkan.

IMG_3480
Trek Pendakian Sibayak

Sesekali ada mobil melintas menawarkan angkutan hingga ke pos atas, namun jalanan rusak dan kami memutuskan berjalan saja. Di pos atas pendakian akan mulai memasuki bibir kawah. Jalanan yang semula aspal berganti ke jalanan berbatu. Pendakian dari titik ini memakan waktu sekitar 1 jam tergantung dari kecepatan berjalan.

Kawah Sibayak jika dilihat sekilas menyerupai dataran tinggi Dieng, namun posisinya lebih tinggi. Berjalan lebih jauh mendaki punggung kawah kami disuguhi pemandangan menakjubkan. Duduk di ketinggian 2.300 meter di atas permukaan laut membuat awan serasa begitu dekat untuk digapai. Angin semilir dingin, suara hembusan gas belerang dan pemandangan langit biru semua tersuguh di hadapan kami.

IMG_3459
Menyetuh awan 

Gunung Sinabung yang sedang batuk pun terlihat jelas, hanya sayang kerucutnya terutup kabut tebal. Keindahan Sibayak yang medan pendakiannya tak terlalu sulit ini ternyata pernah juga memakan korban. Dahulu pernah ada beberapa turis yang tersesat karena mengambil jalan pulang yang lain, mereka pun merangsek masuk ke hutan dan kehilangan arah.

Untuk mencari aman kami mengikuti instruksi dari ibu penginapan. Pukul 14:00 kami sudahi perjalanan kami di Sibayak dan beranjak turun. Tiba di pos yang berisi parkiran angkot kami memutuskan naik kendaraan saja supaya bisa mandi air panas sejenak. Waw, pemandian air panas di Sibayak sangat terjangkau. Cukup membayar Rp 3.000,- tersedia beberapa kolam dengan tingkat suhu panas yang berbeda. Berhubung kala itu tidak ada pengunjung, kami bebas menceburkan diri di seluruh kolam yang ada.

Air panas Sibayak mengandung belerang dan berwarna keruh kehijauan. Berbeda dengan air panas di Tangkuban Perahu, Subang yang berwarna bening. Tapi jangan kuatir dengan warnanya karena berendam air panas di tengah hawa dingin pegunungan adalah surga yang nyata.

IMG_3485
Air panas Sibayak, cukup membayar seharga Rp 3.000,- untuk berendam

Wisata Kuliner Berastagi

Puas berendam di air panas Sibayak, wisata kuliner telah menanti. Di sepanjang jalan utama Berastagi tersaji ratusan penjaja kuliner kaki lima yang menggoda. Dari pecel lele Lamongan, sate padang, sate madura hingga chinese food semua tersedia lengkap.

Badan yang lelah dan perut kosong adalah moment sempurna untuk makan sate padang seharga Rp 12.000,- per porsi. Namun disela-sela makan kami harus terganggu dengan kehadiran 12 orang turis Australia yang tiba-tiba memenuhi tenda. Celakanya, tak ada satupun mereka yang bisa berbahasa Indonesia.

Aku membantu keduabelas turis tersebut dengan menerjemahkan apa itu sate padang dan juga membantu mereka memesan makanan. “Wah mas, asik ya bisa bahasa Inggris kayak gitu, pasti dibayar mahal ya mas,” ucap wanita di sebelahku.”Wah, nggak mbak, ini belajar sendiri kok dan gak dibayar, saya bukan tour guide,” jawabku.

Puluhan turis-turis asing larut dalam kenikmatan kuliner Berastagi. Walaupun mereka tidak bisa berbahasa Indonesia namun dari raut wajah mereka terlihat senyum bahagia dan menikmati kuliner Indonesia. Untungnya pedagang kaki lima di Berastagi tidak nakal, mereka tidak menaikkan harga makanannya sekalipun konsumennya bule. 

Bukit Gundaling

Selain wisata kuliner dan Sibayak, bagi wisatawan yang tak mau berjalan terlalu jauh dapat menikmati panorama Berastagi dari Bukit Gundaling. Jika naik angkot cukup membayar Rp 2.000,- jika berjalan kaki cukup menempuh sekitar 1 jam. Sebagai backpacker miskin kami memilih berjalan kaki, selain berolahraga tentu menghemat duit. 

IMG_3493
Panorama Berastagi dari bukit Gundaling

Bukit Gundaling sendiri adalah bukit yang tak terlalu tinggi, namun memiliki posisi yang pas untuk menonton panorama SInabung. Sayang, seribu sayang di beberapa bagian bukit tidak terawat. Sampah menumpuk dan terlihat beberapa pasangan muda berpacaran tanpa menghiraukan pengunjung lainnya.

Baiklah, kita lupakan pasangan pacaran itu dan berfokus pada Sinabung. Sambil menikmati panorama, pengunjung bisa juga membeli teh dan kopi panas dari pedagang asongan ataupun dari warung-warung semi permanen yang tesebar di sekitaran bukit.

 

Perjalanan kami di Berastagi harus kami sudahi pada 15 Juli 2015. Perjalanan dilanjutkan menuju Toba melewati Kabanjahe.

20150713_105900
PO Sepadan. Kembali lagi ke jalanan

 

Ironi Ganja di Balik Gunung Leuser

Pertama kali seumur hidup, kami digirng masuk ke dalam kantor polisi bersama seluruh penumpang minibus. Perempuan tua renta yang duduk di samping kami ternyata kedapatan membawa ganja seberat lima kilogram untuk dibawa ke Medan. Kaget sekaligus miris, bagaimana bisa sesosok wanita renta berkerudung itu menyembunyikan barang haram di balik tas bahkan jilbabnya. Namun, itulah yang terjadi di Aceh Tenggara dimana ganja masih menjadi ironi antara kemiskinan dan bisnis yang menggiurkan.

IMG_3433
Jalan lintas kabupaten antara Blangkejeren-Kutacane-Tigabinanga

13 Juli 2015, kami melanjutkan perjalanan dari Takengon menuju Berastagi via lintas Aceh Tenggara. Perjalann ini bisa dikatakan paling melelahkan dari seluruh etape yang telah kami lalui. Jalanan beraspal yang jarang, lubang menganga, dan longsoran sana-sini menyita waktu tempuh perjalanan. Ditambah lagi kondisi minibus yang seadanya membuat badan ini serasa remuk.

IMG_3416
Minibus rute Takengon – Kutacane melintasi jalan lintas provinsi via Aceh Tenggara

Dari Takengon kami harus transit di Ketambe, beberapa kilometer sebelum Kutacane untuk kemudian mencari angkutan lanjutan ke perbatasan provinsi. Di Ketambe suasana begitu teduh, kami menemukan sebuah pondokan di kaki Gunung Leuser seharga Rp 50.000,- per malam. Aturan syariat tidak terlalu ketat di sini sehingga pukul 17:00 sebelum buka puasa pun kami bisa makan dengan bebas di pondokan.

IMG_3428
Pondok Ketambe, sebagai tempat transit atau basecamp pendakian Gn. Leuser
IMG_3431
Ruang makan di Pondok Ketambe. Umumnya turis asing yang singgah disini karena tercantum dalam Lonely Planet

Gunung Leuser bak karpet hijau membentang, lebat sekali seolah tidak ada celah untuk masuk. Selain sebagai kanopi hijau terbesar yang masih tersisa di Sumatra, Gunung Leuser juga disinyalir menyimpan ladang-ladang ganja yang notabene ilegal. Dalam pembicaraan kami dengan petugas penjaga hutan ia mengatakan bahwa ada ladang-ladang yang terletak di jantung hutan. “Butuh jalan kaki dua minggu mas untuk bisa ketemu itu ladang,” sahutnya.

IMG_3427
Lebatnya hutan pegunungan Leuser dari Ketambe

Wilayah Aceh Tenggara bisa dikatakan wilayah yang cukup miskin. Kondisinya yang terpencil di antara pegunungan membuat akses masuk ke Blangkejeren atau Kutacane hanya bisa dilakukan via Tanah Karo (Sumatra Utara) atau memutar via Takengon (Aceh), namun kondisi jalan sangat mengenaskan.

Sekalipun tidak terdampak Tsunami karena letak geografisnya, tapi wilayah Aceh Tenggara ini sempat terkoyak oleh konflik bersenjata Gerakan Aceh Merdeka. Warga sekitar Aceh Tenggara menggantungkan hidup pada sektor pertanian. Potensi pariwisata belum dapat tergali sepenuhnya akibat akses dan juga keterbatasan sumber daya.

Selepas dari Ketambe, kami mencari angkutan umum untuk menuju kota kabupaten Kutacane, barulah dari sana kami mencari angkutan lain yang mengantarkan kami ke Berastagi. Tiba di Kutacane, kami sempat ditipu atau mungkin juga ditolong oleh sopir angkot. Kesepakatan awal kami membayar Rp 7.000,- namun tiba-tiba ditarik Rp 15.000,- per orang dengan alasan kami akan diantarkan langsung ke agen bis.

IMG_3438
Pasar kaget di wilayah Ketambe, Kutacane, Aceh Tenggara

Tiba di agen bis, kami beruntung karena satu bis menuju Berastagi akan segera berangkat sehingga tak perlu menunggu lebih lama. Kami duduk di kursi belakang, masih tersisa tiga kursi kosong. Bis pun melaju, tak lama naiklah seorang ibu tua, mungkin juga disebut nenek bersama anak perempuan dan cucunya. Mereka membawa satu tas besar dan juga ember berisikan sayuran segar dari pasar Kutacane.

“Mau kemana de?” tanya si Nenek di sebelahku. “Iya bu, mau ke Berastagi ini habis dari Takengon,” jawabku. “Wah Berastagi ya, itu bule yang lagi tidur temennya?” tanya si Ibu penasaran akan Johannes. Singkatnya, kami tertidur karena kelelahan

20150710_143254
Bis BTN Jaya yang kami tumpangi dari Kutacane menuju Berastagi

Di perbatasan antara Aceh dan Sumatra Utara kami yang sedang tertidur mendadak terbangun. Dua orang berpakaian preman menggeledah semua barang bawaan di bis, tak ada yang luput. Seluruh tas dibongkar, termasuk satu per satu kami digiring untuk diperiksa. Kami masih sangat kebingungan, tak ada satupun dari mereka yang bicara dalam Bahasa Indonesia.

Tak lama, seorang polisi berseragam preman itu meminta KTP ku dan paspor Johannes. Kemudian sikapnya mencair setelah mengetahui kalau aku adalah mahasiswa dari Jogja dan Johannes adalah turis Jerman alumni dari UGM. “Oh dari Jogja, kok bisa jauh banget mas sampai ke Aceh sini, bahaya loh disini,” ucapnya. “Iya mas, saya menemani temen saya ini keliling Sumatra 30 hari,” jawabku.

Kami dipersilahkan untuk mengemasi kembali ransel dan bawaan lainnya karena tidak terbukti ada barang yang mencurigakan di dalamnya. Tanya demi tanya, ternyata kami baru tahu kalau tiga penumpang yang terdiri dari si Nenek, Anak dan Cucu ternyata menyelundupkan ganja seberat 5 Kilogram. Keseluruhan ganja itu diletakkan di dalam ember yang diatas ditutup sayuran.

Sang Nenek menuturkan kalau ia dibayar Rp 2.000.000,- untuk membawa ganja tersebut dari Blangkejeren hingga Medan, namun ia keburu ditangkap jauh sebelum ia tiba di Medan. Entah hukuman apa yang akan didapatkan nenek itu, namun yang jelas, ia hanyalah orang biasa yang membutuhkan uang untuk hidup, dia bukanlah gembong utama dari sindikat ganja.

Bis kami menjadi lebih akrab setelah diperbolehkan pergi meninggalkan pos polisi. Satu per satu penumpang mulai membicarakan peristiwa tadi. “Gila bener itu si ibu, siang bolong gini bawa ganja!” ucap seorang Bapak di depanku. “Wah, kaget betul saya pak, nampaknya dia masukkan itu ganja juga dalam jilbabnya!” celetuk Pak Sopir sambil merokok.

Pukul 15:00 kami tiba di Berastagi mengakhiri setiap jengkal perjalanan kami di Aceh. Kami bersyukur karena perjalanan kami di Aceh ditutup dengan peristiwa yang sungguh menantang. Kami membayangkan, jika si ibu bermaksud jahat bisa saja ia menyelipkan sejumput ganja ke dalam kantong celanaku saat tidur, namun syukurlah ia tidak melakukannya.

Itulah setitik cerita tentang Aceh Tenggara, tentu kisah ini tidak bisa menjadi definisi umum dari Aceh secara luas. Tapi, apa yang kami alami adalah potret dari kehidupan Aceh Tenggara yang terlilit kemiskinan hingga beberapa warga nekat mencari jalan pintas dengan resiko yang tinggi.

Karena isu ganja yang tinggi, oleh karena itu setiap kendaraan yang akan berpindah dari Aceh Tenggara menuju Sumatra Utara akan diberhentikan dan diperiksa untuk mencegah ada ganja yang diselundupkan ke Sumatra Utara.

20150710_124018
Selfie dulu setelah meninggalkan Aceh