Sumatra Overland Journey (10) | Perjalanan Nestapa Menuju Tanah Surga

Bus antar kota dalam propinsi di Sumatra benar-benar menguras tenaga dan emosi. Tanpa AC, asap rokok yang mengepul, plus supir yang ugal-ugalan melebihi supir bus Sumber Kencono membuat perutku serasa diaduk. Seketika benakku terbang ke Jawa. Coba ada kereta api di sini, atau bis ac deh, gumamku dalam hati. Hari itu, kami harus kembali berdesakan di dalam kendaraan minibus demi sebuah tujuan yang amat kami nantikan, Pulau Samosir, yang dijuluki sebagai “Negeri Indah Kepingan Surga”.

Continue reading “Sumatra Overland Journey (10) | Perjalanan Nestapa Menuju Tanah Surga”

Sumatra Overland Journey (9) | Menggapai Puncak Sibayak

Hujan abu menyambut kami di Berastagi. Langit berwarna kelabu. Suasana kota terlihat muram dan orang-orang di jalan hampir semuanya mengenakan masker. Sehari sebelumnya, Gunung Sinabung kembali muntah-muntah. Kali ini muntahannya yang berupa abu halus terjatuh hingga ke tengah kota Berastagi. Perasaan kami seketika was-was, jika besok cuaca tidak membaik, mungkin kami harus mengurungkan niat untuk mendaki ke puncak Sibayak.

Continue reading “Sumatra Overland Journey (9) | Menggapai Puncak Sibayak”

Sumatra Overland Journey (8) |Ganja di Tanah Syariat

sampul

Sebuah baliho besar bertuliskan “Anda Memasuki Kawasan Syariat Islam” terpampang besar tatkala angkutan yang kami naiki bersiap memasuki kota Takengon. Sebelumnya kami berangkat dari Banda Aceh dan membutuhkan waktu nyaris sepuluh jam untuk tiba di Takengon. Berhubung waktu itu adalah bulan Ramadhan, hampir di tiap jam kendaraan kami selalu singgah di masjid-masjid kecil.

Continue reading “Sumatra Overland Journey (8) |Ganja di Tanah Syariat”

Sumatra Overland Journey (1) | Medan: Kota Terburuk untuk Backpacker?

Dua puluh satu tahun menghabiskan hidup di tanah Jawa membuatku bertanya-tanya, seperti apakah rupa Sumatra itu? Yang aku tahu, dulu kerajaan Sriwijaya pernah berdiri di sana, dan kini bencana kabut asap sering menjadi tamu tahunan yang bercokol di pulau Sumatra. Tapi, selebihnya, aku tidak tahu apa-apa tentang pulau nan besar itu hingga di Juni 2015, tanpa pengalamanan apapun, sebuah perjalanan ribuan kilometer mengitari Sumatra menyambutku.

Kamis, 25 Juni 2015

Di bandar udara Husein Sastranegara, Bandung, perasaanku campur aduk, antara senang bukan kepalang, tapi juga takut. Dalam beberapa jam aku akan segera memulai perjalanan backpacking pertamaku yang rencananya akan berlangsung satu bulan. Tujuanku waktu itu adalah Sumatra, tapi aku sendiri belum tahu bagian mana dari Sumatra yang nanti akan kujelajahi. Yang aku tahu hanyalah hari itu aku begitu bersemangat untuk sebuah petualangan baru ini.

Sebelum hari keberangkatan tiba, tidak banyak persiapan yang kulakukan. Johannes Tschauner, sahabatku dari Jerman yang menjadi sponsor perjalanan ini hanya memberitahuku untuk bertemu di Bandara Kuala Namu, Deli Serdang pada hari Kamis, 25 Juni 2015. Selebihnya kami tidak banyak berkomunikasi, hanya sesekali mengkonfirmasi mengenai tiket pesawat yang telah kami pesan masing-masing.

Pukul 14:30, sebuah pesawat jenis Airbus-320 tiba di pelataran bandara dan tak lama kemudian panggilan boarding untuk pesawat tujuan Medan pun diumumkan. Hari itu aku mempercayakan perjalananku dengan maskapai Citilink, dan betapa beruntungnya aku karena pesawat dengan kode registrasi PK-GQG yang digunakan hari itu masih sangat anyar! Usianya baru 0,3 bulan sejak pesawat itu didatangkan dari pabriknya di Toulouse, Perancis.

Tanpa ada keterlambatan waktu, burung besi yang kutumpangi segera mempersiapkan dirinya untuk mengangkasa. Setelah maskapai singa merah turun menyentuh bumi, kini giliran maskapai hijau menyiapkan ancang-ancang untuk mengudara. Deru mesin menyeruak keras, suaranya terdengar jelas ke dalam kabin. Beberapa detik berselang, pesawat telah mengangkasa dan perkasa melawan gravitasi bumi menuju ketinggian 35.000 kaki.

Cakrawala membentang di ketinggan 35.000 kaki

Penerbangan dari Bandung ke Medan memakan waktu dua jam. Hari itu langit sangat cerah, jadi, sebagai orang yang jarang naik pesawat, segera kukeluarkan kamera dan jepret sana-sini. Sebenarnya di luar jendela tidak ada apapun yang menarik selain gumpalan awan, tapi apa yang tersaji di balik jendela pesawat itu membuatku takjub. Tatkala tubuh pesawat masuk ke dalam awan-awan yang menggumpal, goncangan kecil pun terjadi. Harus kuakui, rasa antusiasku sempat memudar tatkala pesawat terus bergoyang. Pikiranku melayang dan berspekulasi aneh-aneh, akankan pesawat itu mendarat dengan selamat? Atau jangan-jangan pesawat ini akan terjun bebas mencium bumi? Ah, entahlah gumamku. Segera kusingkirkan pikiran-pikiran buruk itu dan berpikir tentang petualangan apa yang nanti akan menyapa di tanah Sumatra.

Pukul 17:20 pesawat mendarat dengan sempurna di landas pacu bandara Kuala Namu. Aku memandang dengan takjub dari dalam jendela kabin. Bagiku, Kuala Namu tampak begitu megah, persis seperti apa yang ditulis di berita-berita. Landasan pacunya panjang, bandaranya mewah, juga lengkap ada kereta api khusus yang bisa mengantarkan penumpang langsung ke kota Medan.

Setelah mengantre bagasi selama setengah jam, agenda selanjutnya adalah mencari rekan sekolahku dulu yang berjanji akan menjemputku di Medan. Seorang lelaki bertubuh gempal menepuk pundakku, ternyata dia adalah Suryadi, temanku di SMA dulu yang sekarang menetap di Medan. Sambil bercakap dan melepas kangen, kami berpindah menuju pintu kedatangan internasional. Kulihat di papan informasi bahwa pesawat yang bertolak dari Bangkok telah mendarat.

Aku coba mengingat kembali rupa Johannes, rekanku dari Jerman itu, jangan sampai aku malah lupa dan tidak mengenalinya. Sambil aku mengingat kembali rupa wajahnya, tak lama sesosok bule berjanggut keluar sambil memanggul dua ransel ukuran besar. Mataku terbelalak melihat Johannes yang dahulu polos, kini berjanggut tebal bak belantara Amazon. Kami berpelukan erat, menepuk punggung masing-masing, dan seolah tidak percaya bahwa akhirnya jarak ribuan kilometer antara Indonesia dan Jerman itu akhirnya luluh. Hari itu kami tak lagi berjarak, dan kami siap memulai petualangan 30 hari di tanah Sumatra!

Kami tidak menggunakan angkutan kereta api menuju pusat kota Medan. Sebenarnya aku sangat ingin mencoba bagaimana rasanya duduk di kereta bandara itu, tapi tarif satu kali jalannya dibandrol seharga Rp 100.000,-. Terlalu mahal! Jadi, kami memilih menggunakan angkutan yang ramah kantong, yaitu bus Damri seharga Rp 20.000,- sampai ke pusat kota Medan.

Medan, sebuah mimpi buruk

Sebagai backpacker, hemat adalah kunci utama dari perjalanan kami. Sebisa mungkin, jika memang itu bisa dilakukan, kami akan tinggal di rumah-rumah warga lokal daripada menyewa penginapan. Selain dari menghemat uang, tentu kami akan mendapatkan banyak pengalaman baru dari warga lokal. Setidaknya, itulah yang ada di pikiran kami saat itu.

Kami belum menyusun rencana apapun hari itu, semua masih belum jelas. Satu-satunya yang kami tahu adalah malam itu kami akan bermalam di Medan, di rumah teman SMA yang sudah menjemputku di bandara. Tidak ada firasat buruk apapun saat kami tiba di Bandara, semua berjalan begitu mulus. Kami bertiga begitu akrab mengobrol dan bercerita tentang pengalaman masing-masing.

Ketika kami tiba di pusat kota Medan, langit sudah gelap karena jam telah berada di angka 20:00. Udara Medan cukup gerah hari itu dan kami ingin segera tiba di rumah temanku itu, mandi, lalu tidur dengan nyenyak. Tapi, mimpi buruk itu sejatinya baru dimulai di sini.

Rumah temanku berada persis di tengah-tengah pasar Petisah, sebuah pasar tradisional cukup besar. Bau busuk begitu menyengat di sepanjang jalan, sementara lampu jalanan yang temaram sesekali membuatku melihat kecoak-kecoak berseliweran di jalanan. Aku bergidik, tapi berusaha tetap berpikir positif.

“Krakk!” sebuah pintu besi dibuka. Tibalah kami di sebuah rumah yang tidak mirip rumah. Rumah itu adalah sebuah toko plastik tiga lantai. Lantai satu digunakan sebagai lapak berjualan, lantai dua dan tiga sebagai rumah tinggal. “Mari, silahkan masuk, dek,” sambut ibu temanku sang pemilik rumah. Aku menyalami lengannya dan memperkenalkan diriku, sekaligus memperkenalkan Johannes yang tak bisa berbahasa Indonesia. Di pojokan ruangan terdapat tempat pedupaan dengan dewi Guan Yin yang bertaktha. Nampaknya rumah ini masih kental dengan nuansa dan budaya Tionghoa.

Meja pedupaan di tiap lantai rumah

Sebelum naik ke lantai dua, aku melepaskan sepatu, tapi mataku dengan cepat menangkan gerakan-gerakan yang terbersit di depan mata. Kuarahkan pandanganku lebih teliti ke dinding, satu kecoak terbang kemudian merayap perlahan di atas tumpukan plastik. Kemudian, mataku terbelalak dan seketika itu juga ingin menangis tatkala melihat ada puluhan kecoak berseliweran di mana-mana.

“Kenapa to, kamu takut sama kecoak? Di sini mah sudah biasa kecoak banyak,” ucap temanku dalam logat bahasa Sunda yang hancur. Aku merasa ingin melarikan diri saat itu juga, tapi rasanya tidak mungkin karena dengan demikian aku tidak hormat kepada temanku yang sudah memberikan tumpangan. Johannes mencoba menenangkanku, “It’s okay Ary, don’t worry

Aku tidak dapat tenang, melainkan berpura-pura tenang seraya mulut berkomat-kamit tiada henti memohon mujizat dari Tuhan. Jika Tuhan tidak bisa mengenyahkan seluruh kecoak di rumah itu, setidaknya kecoak itu tidak mendekati tubuhku, itu saja doaku.

Kami diberikan sebuah kamar kecil di pojok ruangan yang sejatinya nyaman untuk beristirahat. Tapi, kamar itu jarang sekali digunakan, sehingga tatkala kami datang, sebuah tikus hitam besar menyambut kehadiran kami. Rasanya aku mau mati lemas, tapi aku sebisa mungkin menenangkan diriku. Malam itu adalah mimpi buruk. Perjalanan yang kupikir akan begitu menyenangkan berubah menjadi acara uji nyali ketika aku harus dihadapkan pada binatang yang paling kubenci di jagad raya, kecoak!

Sebelum beranjak tidur, aku dan Johannes berpikir keras tentang kota mana saja yang akan kami kunjungi dalam waktu satu bulan ini. Awalnya kami ingin tinggal di Medan selama tiga malam, tetapi kami belum dapat memastikan apakah kami tinggal lebih lama atau lebih cepat. Karena lelah, sebelum keputusan yang tepat diambil, kami jatuh tertidur.

26 Juni 2016

Kota Medan yang Edan!

Seekor kecoak merayap naik ke perutku. Dalam keadaan tertidur, aku pikir itu tangan Johannes yang berusaha membangunkanku. Tapi, kok aku merasa sentuhan itu begitu lembut. Tatkala aku membuka mata, sontak aku terbangun, dan berteriak seperti orang kesurupan. Kecoak itu berjalan anggun di atas perutku! Dan itu adalah suatu kekejian yang begitu mengerikan!

Aku segera mengambil handuk dan mandi seraya berharap kuman-kuman yang dibawa kecoak itu turut mati terkena sabun. Setelah kami bergantian mandi, kami segera mengemas ransel dan bersiap berkeliling Medan. Waktu itu panduan kami adalah buku Lonely Planet yang lumrah dipakai sebagai panduan bertualang bagi wisatawan Barat. Tapi, berhubung ada temanku, maka yang bertidak sebagai tour guide adalah Suryadi.

Rute pertama, kami dibawa mengelilingi pasar Petisah. Pasar ini begitu ramai oleh beragam jenis manusia. Teriakan ibu-ibu penjual sayur lebih kuat daripada suara klakson bus akap, belum lagi pekikan klakson dari bentor dan mobil-mobil yang terjebak macet. Pagi itu bukanlah pagi yang syahdu, tapi syukurlah karena semangkuk bubur mengandung babi menjadi hidangan pembuka. Ketika kami memasuki pasar, dengan segera kami menjadi pusat perhatian. Johannes yang berjanggut itu mendadak menjadi primadona. “Mister, mister!” sahut orang-orang di dalam pasar. Johannes menanggapinya dengan tersenyum dan terus berjalan.

Hidangan pagi

Sebuah bentor, becak motor menjemput kami bertiga. Ketika si sopir melihat sosok bule di hadapannya, dia tersenyum lebar dan berusaha menyapa ramah. Tapi, kemudian dia berbisik ke arahku, “Bang, ongkosnya dobel ya! Kan temenmu bule!” Aku menanggapinya dengan protes. “Gak bisa lah bang!” kemudian aku meminta temanku untuk mencoba negosiasi harga. Namun, entah mengapa, sepertinya temanku memiliki pemikiran serupa dengan sopir itu bahwa bule pasti banyak uang. Mau tidak mau, kami membayar harga yang cukup mahal. Hari itu, untuk perjalanan ke Istana Maimun, Rumah Tjong A Fie, dan Masjid Deli, kami membayar Rp 150.000,-.

Masjid Deli nan megah
Salah satu sudut kediaman rumah Tjong A Fie

Sepanjang perjalanan, tatkala bentor yang kami tumpangi berhenti di lampu merah, pengendara-pengendara lain berteriak-teriak, “Mister, mister!” Awalnya panggilan “Mister” itu sepertinya sebagai wujud keramahan mereka terhadap orang asing, tapi lama kelamaan itu jadi menganggu ketika mereka mulai bertanya yang aneh-aneh. Dan, entah mengapa, apakah waktu itu kami sedang sial atau tidak, setiap kali kami mengunjungi tempat makan, para penjualnya selalu menaikkan harga dengan tidak wajar. Kami membeli nasi goreng polos, hanya ditambahi telur dadar di atasnya dan dipatok tarif Rp 22.000,-!

Bahaya, pikir kami. Terlalu lama di Medan bisa membuat kami bangkrut, apalagi temanku yang sejatinya bertindak sebagai tour guide itu juga tidak terlalu cakap. Dia tidak mengerti bahwa kami bukanlah turis yang liburan ala koper, melainkan adalah traveler nekat yang pergi menjelajah dengan persediaan dana terbatas.

Saat kami tengah berjalan di pinggiran kota, seorang preman menghampiri kami dan memaksa meminta sejumlah uang. Temanku bergeming, aku panik berkeringat dingin, sementara itu Johannes tak paham apapun karena dia tak mengerti bahasa Indonesia. Aku tidak tahu bagaimana membela diri, yang kulakukan waktu itu adalah berkomat-kamit, berdoa, seraya memelas bahwa kami tidak punya uang. Entah mengapa, secara ajaib, si preman itu memperbolehkan kami pergi walaupun dia mengumpat kata-kata kasar.

Malam harinya, temanku itu tidak membawa kami ke tempat makan yang murah meriah, melainkan dia membawa kami ke rumah makan Chinese Food yang cukup besar. Awalnya kami ragu untuk makan di situ, tapi dia meyakinkan kami bahwa menu di sini sangat enak. Kami hanya berani memesan dua jenis menu untuk tiga orang, babi goreng dan fu yung hai. Memang makanannya amat lezat, tapi sebagai backpacker, kantong kami menjerit keras.

Seusai makan malam, kami memutuskan untuk segera pergi dari Medan keesokan paginya. Kami sepakat untuk melanjutkan perjalanan ke Bukit Lawang, pergi jauh-jauh dari keramaian Medan yang begitu aduhai. Ketika kami melihat-lihat kembali buku Lonely Planet, di sana tertulis bahwa Medan bisa dikatakan sebagai worst city untuk seorang backpacker. Aku pikir apa yang ditulis di situ hanyalah pandangan subjektif dari si penulis, tapi ternyata aku setelah aku mengalami apa itu Medan, aku pun berpandangan yang sama.

Dalam perjalananku selanjutnya, aku bertemu dengan sesama backpacker lainnya. Tanggapan mereka atas Medan itu beragam. Ada yang mengutuk, tapi ada juga yang menyanjung. Pengalaman tiga hari di Medan itu cukup membuatku bergidik, apalagi jika mengingat kerajaan kecoak yang pernah kudatangi.

Lonely Planet, buku ini sangat membantu kami dalam menyusun rencana perjalanan. Bahkan, buku ini juga menyediakan informasi untuk penginapan kelas backpacker yang harganya di bawah Rp 50.000,- per malam

Di balik semerawutnya Medan

Walaupun aku tidak betah, tapi Medan membukakan mataku akan sebuah realitas. Lahir dan dibesarkan di Jawa membuatku asing terhadap budaya-budaya yang lahir dan berkembang di Sumatra. Streotip-streotip yang berkembang di masyarakat seringkali mempersempit imajinasi dan pemahaman kita akan sesuatu.

Di Jawa, berbicara dengan nada keras kepada lawan bicara tidak terlalu lumrah, kecuali jika keduanya sudah saling mengenal erat. Tapi, lain Jawa, lain pula Medan. Seorang ibu di perempatan bisa berbicara begitu keras dan bertanya tentang janggutnya Johanes. Pertanyaan yang sesungguhnya tidak penting, tapi ibu itu ingin menunjukkan keramahannya lewat bertanya, walau menurutku dia melakukannya di tempat yang tidak tepat.

Lalu, ketika kami duduk makan bersama di pasar Petisah, kami melihat ada begitu banyak budaya yang hadir dan bercampur. Ada orang Tionghoa, Melayu, Arab, juga India. Layaknya kawasan pecinan di Indonesia, toko-toko besar di kawasan Petisah itu dimiliki oleh orang-orang Tionghoa dengan pembeli yang berbagai macam orang. Orang-orang Tionghoa Medan nampaknya jauh berbeda dari Tionghoa di Jawa. Sekalipun aku sendiri masih memiliki darah keturunan Tionghoa, tapi lidahku telah mati terhadap bahasa Mandarin. Satu-satunya yang menandai aku orang Tionghoa hanyalah mata yang lumayan sipit, sudah itu saja!

Di kamar tempat kami menginap, tergantung kertas berwarna-warni berisikan mantra-mantra doa.

Orangtuaku tidak memberiku nama Tionghoa sama sekali, pun tidak mengajariku atau memaksaku untuk belajar bahasa Mandarin. Satu-satunya kebudayaan Tionghoa yang masih kulakukan dan kusenangi hanyalah ritual bagi-bagi angpao saat Imlek. Selebihnya, aku tidak tahu sama sekali. Menyalakan dupa, berpakaian serba merah, semua telah lenyap dari kamus kehidupanku.

Berada di Petisah membuatku merasa jadi orang Tionghoa yang tidak Tionghoa. Ketika aku membeli bubur babi, baik itu penjual maupun pembeli berbicara dalam bahasa Mandarin tradisional, atau bahasa Khek. Aku hanya melongo, sekalipun mereka mengenali wajahku sebagai orang keturunan, tapi aku tak berkutik apabila mereka mulai bertanya menggunakan bahasa yang begitu asing buatku.

Perbedaan etnis sejatinya adalah sentimen yang paling sensitif. Kerukunan yang telah dibangun bertahun-tahun bisa saja sirna tatkala ada kesalahan kecil yang dibesar-besarkan. Dari kacamataku, aku tidak melihat orang-orang Medan itu cukup membaur, setidaknya itu yang aku lihat di Petisah. Temanku itu adalah seorang Tionghoa yang cukup protektif. Dia memandang dunia luar itu sebagai sesuatu yang menyeramkan dan rapuh. Belakangan, aku mengerti mengapa dia selalu membawa kami ke restoran mahal. Rupanya, dia ingin makan di tempat yang aman, karena menurutnya orang Tionghoa tidak aman apabila bepergian dan makan di tempat pinggiran.

Tapi, menurutku itu sama sekali tidak masuk akal! Pergaulanku dengan berbagai jenis manusia sudah melunturkan segala jenis antipati. Tapi, apa yang dilakukan oleh temanku itu sejatinya adalah cerminan dari kenyataan. Di masyarakat yang konon katanya telah modern ini, masih saja ada orang yang membiarkan pikirannya dikuasai sekat-sekat pemisah dan ketakutan. Aku mengerti bahwa itu tidak sepenuhnya salah mereka, terkadang lingkungan pun memaksa orang-orang menjadi protektif. Akan tetapi, mau sampai kapan kita terus membatasi diri?

Aku tidak tahu bagaimana keadaannya di bagian lain kota Medan, tapi apa yang kulihat hari itu membuatku termenung. Apakah memang kita lebih nyaman hidup secara terkotak-kotak?

Selamat tinggal Medan

Sabtu pagi, 27 Juni 2015. Selama tiga hari di Medan, kami mengeluarkan uang cukup besar, nyaris Rp 1 juta karena temanku itu membawa kami masuk ke restoran-restoran yang mahal. Setelah berpamit, berpelukan, dan berfoto, kami pergi menuju ke terminal Pinang Baris menggunakan bentor.

Sebelum kami pamit dan bertolak menyingkir dari Medan, kami berfoto dan menghaturkan terima kasih kepada Suryadi, yang telah menyediakan rumahnya untuk kami menginap selama dua malam.

Tiga hari di Medan mampu membuatku berbicara dengan nada sedikit berani. Setibanya di terminal, puluhan calo bagaikan laron segera mengerubungi kami. Mereka memaksa bahkan sempat menarik-narik ransel yang kami panggul. Tapi, kami acuh tak acuh, kami terus berjalan mencari bus warna oranye seperti yang dituliskan di buku Lonely Planet.

Ketika kami menemukan bus itu, waktu keberangkatan hampir tiba dan bus tepat hanya tersisa dua kursi. Sebelum naik, aku bertanya dulu mengenai harga. Si kenek mematok tarif Rp 100.000,- sekali jalan. “Mana ada bang harga segitu, mahal kali, terakhir aku naik sini Cuma 25!” ucapku. Aku terpaksa berbohong, padahal aku belum pernah sekalipun ke Sumatra. Tapi, ternyata itu cukup ampuh, akhirnya kami diberikan harga Rp 40.000,- per orang untuk tiba di Bukit Lawang.

Perjalanan hari itu ditutup dengan duduk di atas bus oranye tua selama enam jam. Meninggalkan hiruk-pikuk Medan menuju kanopi hijau Sumatra, Taman Nasional Gunung Leuser!.

Di atas bentor, kami beranjak menuju terminal Pinang Baris. Betapa senangnya kami hari itu, selamat tinggal, Medan!

 

Berlanjut……………..

 

 

Samosir, Primadona Danau Toba

Laju bus yang lambat harus berpacu dengan waktu yang beranjak sore. Bus tua nan sesak mengantarkan kami menembus jalan berliku menuju Parapat, sebuah kota kecil di tepi kaldera Toba yang dilintasi jalan Trans-Sumatra. Perlahan tapi pasti, bau keringat ditambah kesesakan dalam bus memicu rasa mual namun syukurlah panorama Toba dari kejauhan mengobati diri dari kepenatan perjalanan.

Tak sampai dua jam, bus bernama “Sejahtera” yang kami tumpangi dari Pematangsiantar ini tiba di Parapat. Beruntung penumpang yang duduk di sebelah kami adalah seorang mahasiswa USU yang tengah mudik ke Samosir. “Oh baru pertama ke Samosir, iya nanti turun di Tigaraja, terus nyeberang ke Tuktuk bang,” jelasnya memberikan informasi mengenai Samosir.

IMG_3497
PO Sepadan, bus umum rute Kabanjahe – Pematangsiantar

Berdasarkan informasi, Ferry menuju Tuk-tuk di Samosir berangkat setiap satu jam sekali. Beruntung kami tiba di Tigaraja tepat pukul 14:30 sehingga tersisa waktu lumayan banyak untuk kami beristirahat karena Ferry terakhir akan berangkat pukul 17:30.

Perjalanan kami tidak terlalu berat jika dibandingkan dengan lintas Aceh beberapa hari sebelumnya. Dari Berastagi kami cukup menaiki angkot seharga Rp 4.000,- untuk tiba di Terminal Kabanjahe. Dari sanalah kami mengganti kendaraan dengan Bus PO Sepadan tujuan Kabanjahe – Siantar. Layaknya bus-bus AKDP lainnya di Sumatra, bus ukuran 3/4 atau elf ini berfasilitas seadanya. Jangan tanyakan AC, bisa berjalan selamat pun rasanya sudah syukur.

Satu hal yang mendebarkan hati selama perjalanan lintas Sumatra adalah soal keselamatan di jalan raya. Selain turis rawan ditipu, pengemudi di sini kurang peduli soal keselamatan, mereka lebih mengutamakan kecepatan. Maka, tak ayal jalanan sempit berkelok dibuat seperti arena balapan tanpa memikirkan ada penumpang yang berjejal bagaikan teri dalam bus.

Penumpang juga tidak peduli akan kenyamanan penumpang lain. Kondisi bus yang penuh sesak masih harus diperparah dengan perokok-perokok yang entah usil atau memang tak merasa salah. Mereka dengan santainya merokok sementara asapnya meracuni puluhan penumpang lain yang juga tak berani menegur.

Setelah sekitar tiga jam mengarungi jalanan, bus PO Sepadan yang kami tumpangi di Pematangsiantar. Seperti biasa, di terminal puluhan calo akan menawarkan angkutan wisata ke Toba. Kami menolak, karena kami sudah dipesani oleh ibu pemilik penginapan Sibayak untuk segera menaiki bus Sejahtera setibanya di Siantar. Tak perlu membayar mahal, cukup Rp 15.000,- bus tua renta ini akan mengantarkan kami sampai di tepi danau Toba.

IMG_3499
Kota Parapat yang terletak di sisi Danau Toba

Tuk-tuk Desa Mungil di Tengah Toba

Tujuan utama kami selama di Toba adalah Tuk-tuk, sebuah desa yang namanya tersohor di kalangan backpacker. Maklum, Tuk-tuk tercantum dalam Lonely Planet, maka tiap harinya puluhan bule yang menggendong ransel raksasa selalu datang ke Tuk-tuk. Perjalanan ke Tuk-tuk dilakukan dengan menaiki Ferry dari pelabuhan Tigaraja selama satu jam. Penumpang Ferry diwajibkan membayar Rp 15.000,- per orang.

IMG_3529
Ferry menuju Tuk-tuk 

Danau Toba begitu luas sehingga nyaris sama dengan lautan. Saking luasnya, air danau pun berombak cukup besar seperti di laut. Terkadang ferry menghujam ombak yang tinggi sehingga limpahan air membasahi geladak.

Tiba di Tuk-tuk, hamparan persawahan menghijau dan dihiasi oleh tebing-tebing kekar di belakangnya. Tersedia puluhan hotel hingga homestay di desa ini, kami memilih untuk bermalam di Liberta Guest House. Penginapan ini merupakan yang termurah di seluruh Tuk-tuk, kami berdua cukup membayar Rp 44.000,- per malam untuk kamar ukuran besar.

Selain menyediakan kamar, Liberta juga menyediakan fasilitas restoran sederhana dengan kebanyakan menu western. Penginapan kecil ini sudah mendunia lantaran juga tercantum dalam lonely planet. Tak hanya kami yang menginap disana, melainkan juga rekan-rekan backpacker dari Jerman, Belanda, Perancis, Inggris dan Taiwan.

IMG_3667
Halaman belakang Liberta Homestay, langung danau!

Kami harus berdiam di Tuk-tuk selama 12 hari karena tak ada lagi tiket bus yang tersisa untuk pergi ke Padang, Sumatra Barat. Kami baru memperoleh tiket bus ALS pada tanggal 22 Juli malam, sehingga kami harus menghabiskan masa Idul Fitri di Samosir. Namun, tak apalah menetap lebih lama di Tuk-tuk karena akomodasi yang murah di sini.

Tuk-tuk menjadi favorit karena tersedia berbagai macam atraksi serta fasilitas. Rental sepeda motor dan sepeda bisa dengan mudah dijumpai, namun harus pandai menawar habis-habisan. Terbiasa dengan turis asing terkadang membuat harga menjadi sangat mahal ketika dilihat dari kacamata Rupiah.

IMG_3705
Hijaunya tuk-tuk

Berjalan sedikit ke arah jalan utama trans-Samosir, padang rumput nan hijau membentanng luas. Naik lah ke padang rumput itu makan Danau Toba akan terhampar luas, sedangkan tebing-tebing kekar menghiasi di belakangnya. Paling nikmat untuk menikmati tempat ini ketika senja. Sinar matahari yang meredup seiring juga dengan suhu yang semakin sejuk, sambil berbaring di padang rumput tentunya melepaskan kita dari kepenatan.

IMG_3698
Dari atas bukit Tuk-tuk

Jika malam, Tuk-tuk bisa dibilang mirip kawasan wisata di Bali. Kafe-kafe bertebaran, namun tidak bising karena sedikit kendaraan bermotor yang berlalu lalang di sini. Untuk rekan-rekan yang Muslim dapat memilih warung makanan halal yang tersedia di beberapa lokasi di Tuk-tuk.

Kuliner khas Tuk-tuk selain daripada tuaknya adalah Babi Panggang Karo. Kami beruntung karena memiliki rekan yang berkuliah di Jogja namun orang tuanya adalah pemilik restoran Elios di Samosir. Kami mendapatkan babi panggang secara gratis, sungguh nikmat dan bahagia.

IMG_3534
Babi panggang karo di Restoran Elios

Babi Panggang di Restoran Elios memang tersohor se-Samosir. Masakan Babi diolah secara segar lengkap dengan bumbu-bumbu spesial. Sensasi menyantap panggang karo ini akan semakin sempurna ketika dibarengi dengan segelas jus markisa.

Jelajah Samosir 

Tuk-tuk hanyalah sebagian kecil dari Pulau Samosir yang berlokasi tepat di tengah kaldera Toba. Selain Tuk-tuk kami juga menjelajahi Tomok, Ambarita, Nainggolan hingga Pangururuan yang terletak di daratan utama Sumatra.

Dengan bermodalkan sepeda motor sewaan seharga Rp 80.000,- per hari (termasuk bensin tapi tanpa helm) kami mengeliling Samosir. Rute pertama adalah menjelajah ke wilayah Tomok lalu ke utara. Beberapa tempat seperti Makam Raja Sidabutar juga atraksi tari Batak dapat dijumpai disini. Tomok sedikit lebih ramai ketimbang Tuk-tuk karena Ferry besar yang mengangkut kendaraan berlabuh di sini.

Dari Tomok jika dilanjutkan terus jalanan akan menanjak dan berkelok. Semakin jauh jalanan aspal akan rusak dan berlubang, namun masih aman untuk dilalui kendaraan roda dua maupun empat. Di wilayah Ambarita terdapat sebuah tempat untuk menangkan diri bernama Bukit Doa.

IMG_3660
Bukit Doa

Sebuah bukit hijau didedikasikan sebagai tempat berdoa untuk umat Kristen. Bukit doa ini dikelola oleh denominasi gereja setempat namun terbuka bagi khalayak umum. Sedikit cerita, Kekristenan mengakar kuat di wilayah Samosir, maka bangunan gereja dapat dengan mudah dijumpai di sini. Hadirnya Kekristenan di Tanah Batak dibawa oleh seorang Misionaris Jerman bernama Nommensen yang membaktikan hidupnya dalam pelayanan di tanah Batak.

Kini, karya Nommensen dapat terlihat nyata dengan mayoritas warga Samosir yang mengaku beriman Kristen, juga beberapa lembaga sekolah, gereja juga karya-karya lainnya yang tersebar di wilayah Samosir.

Beralih dari Bukit Doa, di wilayah utara Samosir terdapat beberapa pantai. Tentunya pantai disini bukan laut, melainkan pantai dari Danau Toba. Beberapa pantai terletak di wilayah Simanindo dan Parbaba, bagian utara Samosir.

IMG_3613
Pantaii….

Selain pantai, jika berkendara terus ke wilayah Pangururan, terdapat pemandian air panas dari sumber alami. Dari kejauhan, di seberang danau terdapat tebing vulkanik yang masih memancarkan fumarol, di sanalah lokasi air panas berada.

IMG_3649
Gereja Katolik Inkulturasi di Pangururan

Dari Pangururan, kami memacu kendaraan kami ke Menara Pandang Tele. Namun, sebelum tiba di Tele kami mampir sejenak ke air terjun Efrata yang terletak masih di wilayah Pangururan. Dari balik hijaunya bukit terlihat dua tingkatan air terjun mengalir deras, namun jangan berbangga dulu karena lokasi air terjun masih jauh.

IMG_3639
Ruas jalan tak beraspal di Pangururan

Setelah menanjak dengan jalanan rusak kami tiba di pelataran parkir. Tak dipungut bia masuk apapun selain parkir seharga Rp 2.000,-. Air terjun Efrata sungguh cantik, aliran airnya terpecah membentuk tirai-tirai tipis yang menyebarkan hawa sejuk. Debit airnya pun tak terlalu besar sehingga memungkinkan untuk sekedar bermain air disana.

IMG_3741
Air Terjun Efrata

Puas dengan air terjun Efrata, perjalanan kembali dilanjutkan menuju Menara Tele. Pengemudi harus ekstra hati-hati karena jalanan sempit. Lengah sedikit jurang di samping jalan akan jadi lubang maut seketika. Dari menara Tele kita dapat melihat panorama Samosir dengan jelas.

IMG_3768
Toba dilihat dari jalan raya menuju Menara Tele

Pepohonan, sawah dan luasnya Danau Toba membentuk goresan alam yang nyaris sempurna. Sedikit catatan, menara Tele ini kondisinya agak memprihatinkan. Menara yang digunakan sebagai gardu pandang ini agak rapuh secara konstruksi, dilihat dari kerusakan yang menyebar di dinding serta pondasi menara.

IMG_3773
Jalan menuju menara Tele

Jarak yang harus ditempuh dari Tuk-tuk ke meara Tele sekitar 80 kilometer atau selama tiga jam berkendara. Namun kepenatan berkendara akan terbayar lunas ketika menikmati panorama dari atas.

IMG_3775
Panorama dari Menara Tele

Samosir, ada Danau di dalam Danau

Bertolak ke bagian lain Samosir kita akan menemukan danau di dalam danau. Samosir sendiri terletak di tengah Danau Toba, dan di wilayah Simbolon kita akan menemukan aek Sidihoni, serta aek Natonang di wilayah Nainggolan.

IMG_3723
Berkendara bersama Jeff Ho, turis Inggris ke danau Natonang
IMG_3722
Danau Natonang

Kedua danau tersebut berisikan air yang tenang,namun jauh dari jangkauan turis. Umumnya turis hanya singgah sejenak menyaksikan danau sebelum kemudian bertolak ke wilayah wisata lainnya.

IMG_3636
Gembala Kerbau

Melaju ke wilayah Selatan jalanan berliku-liku namun kita akan menemukan panorama Danau Toba dengan perbukitan yang membentang bagai naga. Sesekali beberapa warga datang menghampiri turis-turis seraya membawa serta kerbau mereka.

IMG_3729
Toba dari sisi Selatan

Di wilayah ini kami sempat membeli makanan berupa mie goreng, melihat kami adalah turis maka sang pemilik warung memberikan kami satu teko tuak. “Kalau bisa minum tuak satu teko saya kasih gratiskan mie nya!” tantangnya sambil tertawa. Tapi kami menolak, daripada kecelakaan karena mabuk ya lebih baik bayar saja mie seharga Rp 15.000,-

Secara keseluruhan, jika menggunakan sepeda motor Samosir dapat dijelajahi dalam dua hingga tiga hari.

Sipiso-piso, Air Terjun Tertinggi di Indonesia

Bosan berkeliling Samosir, kami kembali ke wilayah Parapat untuk kemudian menuju Tongging. Pukul 09:00 kami mencari persewaan motor di Parapat, namun hasilnya nihil. Kami memutuskan untuk naik taksi menuju Tongging seharga Rp 40.000,-. Sebenarnya tidak ikhlas, tapi karena tidak ada pilihan angkutan lain maka dengan terpaksa kami naik taksi.

IMG_3574
Panorama Tongging

Perjalanan menuju Tongging ditempuh dalam waktu sekitar dua jam mengitari Toba. Kebetulan di dalam taksi kami bersama dengan sebuah keluarga yang terdiri dari istri orang Indonesia, suami orang Belanda dan kedua anak. Keluarga ini mengaku bertemu di Riau kemudian saling jatuh cinta. Kini, sang bule sedang mudik ke Indonesia untuk liburan.

Tiba di Tongging kami berpisah karena keluarga tadi bertujuan ke Berastagi sedangkan kami ke Sipiso-piso. Waw, sepanjang perjalanan di Tongging ini panorama Danau Toba tak bisa dihindari. Jalanan yang mengitari danau di satu sisi membuat mual namun sisi lain sungguh enak dilihat.

IMG_3589
Sempatkan diri untuk selalu berfoto

Untuk memasuki area air terjun Sipiso-piso kami harus menuruni ribuan anak tangga. Syukurlah pengalaman trekking di Gunung Leuser dan mendaki Sibayak membuat aku cukup kuat. Air terjun Sipiso-piso sendiri akan bermuara di danau Toba.

Tinggi mulut air terjun ke darat adalah sekitar 120 meter, menjadikan Sipiso-piso sebagai yang tertinggi di Indonesia. Saking tinggnya, hempasan air Sipiso-piso membuat basah baju pengunjung dari jarak 200 meter. Hanya pengunjung yang nekat basah kuyub sajalah yang berani mendekat ke pusat air terjun.

IMG_3572
Sipiso-piso Waterfall

Perjalanan kembali dari Sipiso-piso adalah hal yang menyebalkan. Anak tangga yang tadinya dituruni sekarang harus dinaiki. Jika tak pandai mengatur nafas pasti akan ngos-ngosan maksimal. Beberapa turis alih-alih menyerah mereka memperbanyak waktu istirahat. Jalan lima langkah, berheti, minum, selfie begitu seterusnya.

Dengan keringat bercampur basah air terjun kami melanjutkan perjalanan pulang menuju Tuk-tuk. Waktu sudah menunjukkan pukul 15:00 dan kami harus tiba di Parapat sebelum pukul 17:30 untuk mengejar Ferry terakhir. Jika ketinggalan, maka kami harus bermalam di Parapat.

Berjalan kaki dengan kecepatan penuh, kami terobati dengan hadirnya pedagang jeruk asli Jeruknya menggoda, kuning merona, manis dan murah sekali. Cukup membayar Rp 10.000,- per Kg, kami memborong sebanyak 3 Kg untuk cemilan malam.

IMG_3594
Jeruk yang kuning menggoda

Setelah dipuaskan jeruk, kami harus berjuang kembali. Tiga puluh menint menunggu, tak ada bus yang kosong untuk kami tumpangi. Hingga saat kami putus asa, ada satu bus yang nekat memasukkan kami ke dalam. Akibatnya, sepanjang dua jam perjalanan dari Tongging menuju Parapat kami harus menungging! Ya, menungging selama dua jam bukan perkara mudah apalagi kondisi bus penuh sesak, badan lelah sehabis hiking, plus ada jeruk seberat 3 kilogram.Pukul 17:20 tepat kami tiba di Tigaraja, dengan demikian kami tidak jadi ketinggalan Ferry.

Samosir, Akhir dari Perjalanan Kami

Selepas Samosir, tujuan kami selanjutnya adalah Padang, namun bukan untuk kembali menjelajah melainkan untuk berpisah. Johannes akan melanjutkan perjalanannya ke Malaysia, sedangkan aku akan kembali ke Jakarta untuk internship .

Samosir tetap menjadi primadona, setidaknya di hati kami. 🙂

IMG_3715
Senja di Samosir