Arsip

Sekitar tahun 1970-an, ketika moda transportasi berbasis ban karet mulai menjamur, kereta api di jalur-jalur cabang mulai kehilangan pamornya. Alhasil banyak jalur-jalur itu pun ditutup, mati, dan menjadi kepingan sejarah seterusnya. Namun, ada satu jalur yang dulu sempat mati suri kini bangkit kembali. Jalur itu bisa kita nikmati di atas laju kereta yang lambat namun membangkitkan kesan nostalgia.

Di akhir Januari 2019 lalu, saya pulang ke Jakarta dari Temanggung dengan naik bus. Meski bus OBL yang saya naiki tidak nyaman-nyaman amat, tapi perjalanan itu membuat saya jadi mempertimbangkan untuk naik bus di perjalanan selanjutnya.

Stasiun Pasar Senen rasanya tak pernah tertidur. Sejak kereta api Tawang Jaya bertolak jam sebelas malam, puluhan kereta dari arah timur berdatangan di pagi buta. Belum usai semua kereta itu tiba, jam setengah enam kurang lima menit, kereta api Kutojaya Selatan jadi yang pertama bertolak ke timur. Begitu seterusnya, menjadikan Stasiun Pasar Senen selalu hidup dan riuh tiap waktunya.

  Stasiun Solokota siang itu mendadak ramai. Belasan orang berkumpul di pelatarannya, mengobrol satu sama lain seraya berteduh dari matahari yang terik.

Naik kereta api kelas ekonomi bukanlah peristiwa luar biasa dalam hidup saya. Setiap bulannya, minimal sekali, pasti saya akan naik kereta dan dari tiap perjalanan inilah lahir semangat baru untuk bertahan hidup di Jakarta.

Melintasi empat provinsi di Jawa sejauh 570 kilometer bukanlah perjalanan yang pendek.