Habis Lulus: Kampus cuma Inkubator, Bukan Kenyataan

Awal September lalu, statusku sebagai mahasiswa dinyatakan selesai seiring dengan sidang skripsi yang dinyatakan lulus. Rasa senang atas lulus ini turut dimeriahkan dengan kehadiran teman-teman yang memberi selamat, bunga, boneka lulus, surat, jabat tangan juga foto-foto. Tapi, beberapa jam setelah rasa sukacita itu, timbul pertanyaan, “mau kemana, terus ngapain udah ini?”

Pertanyaan itu terus menggantung, namun kusingkirkan sejenak. “Fokus revisi skripsi dulu deh,” pikirku. Seusai revisi, praktis aku kehilangan kesibukan utama sebagai mahasiswa, sekalipun ada pekerjaan part time , tapi rasanya kini jadi berbeda. Fokus pikiran kini bercabang dan menjalar dalam gelap. Satu sisi memikirkan pekerjaan, passion, masa depan, jodoh dan banyak lainnya. Satu hal yang paling mengganjal adalah karir.

Ketika membuka situs lowongan kerja, scrolling dari atas ke bawah, kenyataan mulai berbicara. Pasar dunia tidak terlalu butuh idealisme, mereka lebih membutuhkan pekerja. Terlepas dari segala idealisme yang didapatkan selama di kelas, dunia industri membutuhkan sekedar tenaga untuk menjalankan rodanya.

Baiklah, karena akupun butuh makan lewat penghasilan, maka statusku bergerak menjadi Jobseeker. Bergabung dengan komunitas Jobseeker lainnya dari Jogja yang jumlahnya ratusan membuatku cukup mengernyit. “Apa iya dari segini banyak bakal diterima kerja semua?” 

Petualangan pertama sebagai Jobseeker dimulai dari cari-cari lowongan lewat online. Hasilnya ada ribuan lowongan, tapi hanya sedikit yang sreg di hati karena kebanyakan lowongan menawarkan posisi sebagai sales atau marketing. Petualangan kedua adalah menjadi pengembara di kampus orang. Setiap kali ada event Jobfair, maka disitu Jobseeker akan berada. Memanggul ransel berisi puluhan CV, mengantre bersama ribuan orang lainnya demi melamar pekerjaan yang belum tentu diminati.

Petualangan masih berlanjut, jika perusahaan menerima CV, maka tahap selanjutnya adalah Psikotest. Dan, inilah tahap yang cukup menguras otak dan tenaga. Hampir setiap hari aku mengikuti piskotest dan rasanya sulit. Bagaimana tidak, di kampus selama kuliah jurusan Komunikasi hampir tidak pernah ada hitung-hitungan. Ketika psikotes dihadapkan dengan soal-soal matematika dasar seketika otak shock dan berhenti bekerja.

Tak menyerah di situ, gagal di satu perusahaan bukan berarti dunia runtuh. Belajar sedikit lewat internet, kemudian psikotes lagi di perusahaan lainnya, dan siklus itu berulang. Aku sendiri masih tidak tahu di psikotes ke berapa aku akan lulus, tapi yang terpenting adalah tetap belajar dan tidak menyerah.

Lewat serangkaian tes-tes perusahaan tersebut, aku menyadari kalau empat tahunku di kuliah bukanlah sebuah kenyataan, melainkan pra-kenyataan. Tepatnya, kampus adalah sebuah inkubator sebelum kita “dilahirkan” secara sempurna ke kenyataan. Memang sekarang trendnya adalah lulus cari kerja, tapi banyak pula yang berupaya membuka wirausaha. Aku pun sebenarnya ingin begitu, tapi karena berwirausaha butuh modal maka kuputuskan untuk mencari pekerjaan dulu sebagai langkah menambah ilmu, pengalaman juga modal uang kelak.

Lantas, apakah kuliah di kampus tidak bermanfaat? Tentu ada manfaatnya! Nilai-nilai akademik tidak terlalu menjadi indikator utama keberhasilan seseorang. IPK tinggi belum jadi jaminan langsung diterima kerja. Aktif organisasi bukan berarti lebih mudah mendapatkan pekerjaan. Alurnya sama, setiap fresh graduate yang akan bekerja akan melewati seleksi administrasi, psikotes dan lainnya. Baik itu si kutu buku, kuper, aktivis, tukang tidur, sosialita, semua akan memasuki tahapan yang sama.

Realita tidak terlalu peduli dengan latar belakang kita, sepanjang kita bisa survive. Pengalaman berkuliah empat tahun di kampus semata-mata bukan untuk mendapatkan nilai akademik semata. Aku belajar untuk tidak pahit hati dan menyerah saat gagal ketika berharap dapat nilai A tapi malah C. Aku belajar memahami karakter orang lain ketika bekerja kelompok. Aku belajar arti menunggu dari dosen pembimbing skripsi yang kadang menghilang. Aku belajar apa arti berjuang karena orang tua yang bekerja mati-matian untuk membiayai kuliah. Juga, aku belajar kalau hidup sekali lagi adalah proses dan takdir. Jika takdirku sekarang terlahir biasa saja, maka aku harus berproses menjadi lebih dari biasa, untuk bisa menolong orang-orang lain yang hidupnya lebih rendah dari biasa.

Habis lulus mau kemana dan ngapain? 

Habis lulus saya mau ngapa-ngapain! Enjoy the journey! 

 

Iklan

Dilema Skripsi, Dicaci tapi Lupa Dinikmati

Jika skripsi tanpa revisi, pasti ada banyak yang senang. Ibarat menanam tanpa merawat, lantas apa gunanya sebuah sebuah proses tanpa perbaikan? Tentu hambar dan tak ada seninya!  Continue reading “Dilema Skripsi, Dicaci tapi Lupa Dinikmati”