Arsip

  Hari itu, di pertengahan bulan November 2017, saya menyantap makan malam di sebuah pujasera di kawasan Marina Bay, Singapura. Saat kami asyik menyantap hidangan seraya mengobrol, datang seorang nenek. Wajahnya keriput dan ia mengenakan kacamata. Ia mendekati meja kami.

Senang. Itulah satu kata yang sekiranya menggambarkan perasaan saya tatkala kaki ini berpijak di tanah Singapura, negeri tetangga yang jaraknya dekat tapi belum pernah saya kunjungi sebelumnya. Kunjungan selama delapan hari di Singapura kali ini bukan untuk melancong, melainkan karena urusan pekerjaan.

  Tepat 31 Oktober 2017 lalu, Bandara Changi Singapura mengenalkan Terminal 4, terminal paling anyarnya kepada dunia. Hadirnya terminal baru seluas 225 ribu meter persegi, atau seluas 27 kali lapangan bola ini menjadi sebuah kebanggaan tersendiri bagi Singapura, sebuah negara mungil yang bandaranya sibuk menjadi tempat persinggahan jutaan manusia.