Kereta Api Serayu, 16 April 2017: Kenikmatan Perjalanan di Atas Gerbong Ekonomi

WhatsApp Image 2017-04-21 at 2.50.33 PM (1)Momen senja baru saja berlalu. Semburat keemasan di langit telah tertutup oleh gelapnya malam yang baru saja dimulai. Dari kejauhan, sebuah cahaya sorot yang terpancar dari lokomotif semakin mendekat. Tatkala kereta itu hampir tiba di stasiun, suara gesekan antara besi dengan besi pun semakin terdengar. Puluhan penumpang yang semula duduk santai bergegas untuk berdiri dan menanti di pinggiran peron.

Hari itu, kereta api Serayu Malam baru saja memulai perjalanan dinasnya yang lumayan panjang. Kereta diberangkatkan dari stasiun Purwokerto tepat pukul 17:00. Sebelum tiba di tujuan akhir, Jakarta Pasar Senen, kereta ini harus melibas malam sepanjang 12 jam, melewati jalur berkelok dan menanjak dari Banjar hingga Purwakarta.

Ketika kereta telah berhenti dengan sempurna di peron 2 stasiun Sidareja, aku bergegas mencari posisi gerbong nomor lima yang ada di bagian belakang. Berhubung hari itu adalah akhir dari libur Paskah, maka seluruh kursi kereta telah terisi penuh. Seharusnya aku duduk di kursi nomor 3E yang berada persis di sebelah jendela. Tapi, seorang perempuan telah terlebih dahulu duduk di tempat itu dan memohon supaya dia boleh duduk di situ sepanjang perjalanan dan aku memilih untuk mengalah.

WhatsApp Image 2017-04-21 at 2.50.33 PM (3)
Senja di stasiun Sidareja, Jawa Tengah

Setelah proses naik turun penumpang rampung, kereta kembali bertolak ke arah barat. Suara berisik dari bawah gerbong berpadu dengan tawa dan teriakan dari puluhan bapak-bapak yang sepertinya adalah satu rombongan. Dalam bahasa Jawa ngapak, mereka bercanda tentang banyak hal. Sesekali tawa mereka semakin meledak tatkala pramugari kereta datang menjajakan makanan. Pramugari itu hanya tersenyum kecut ketika bapak-bapak tadi melayangkan banyak rayuan kepadanya.

Dua jam berlalu, beberapa penumpang termasuk kelompok bapak-bapak itu memilih untuk tidur. Ketika keadaan gerbong sedikit lebih tenang, aku menyapa seorang penumpang yang duduk di sebelahku. Seperti biasa, setiap obrolan yang dilakukan di atas kereta selalu dimulai dengan pertayaan, “Turun di mana pak?” Kalimat itu adalah kalimat sakti. Apabila lawan bicara adalah orang yang ramah, buntut dari kalimat itu bisa menghasilkan obrolan nan panjang dan ngalor-ngidul. Tapi, apabila lawan bicara ternyata adalah orang yang irit ngomong, obrolan akan terasa kaku.

IMG_3334
Kereta Api Serayu relasi Purwokerto – Kiaracondong – Pasar Senen saat berhenti silang di stasiun Ciawi, Tasikmalaya, Jawa Barat

Penumpang sebelahku itu bernama Pak Supri

“Nanti dari Senen, rumahnya mana mas?” tanyanya kepadaku. “Saya di Kalideres pak, masih lumayan jauh dari Senen,” jawabku. Penumpang sebelahku itu bernama pak Supri. Dengan nada bicara bersemangat dia bercerita kalau dia bekerja sebagai cleaning service di sebuah gereja di kawasan Jakarta Utara selama lebih dari 15 tahun.

“Alhamdullilah mas, tapi saya Muslim kok,” tambahnya sambil terkekek. Bekerja di tempat yang secara jelas berbeda iman dari kepercayaan yang dianutnya, Pak Supri tidak merasa khawatir. “Saya betah di sana mas, sudah punya anak tiga, dan gak ada pikiran mau pindah kerjaan,” katanya lagi.

Sambil mengobrol, tangan Pak Supri tidak pernah lepas dari sebuah telepon pintar yang digenggamnya. Sembari telepon itu diisi daya, puluhan notifikasi saling bersahutan. Kelihatan olehku kalau nyaris setiap detik selalu ada pesan masuk di Whatsappnya. Tidak ketinggalan, Facebook dan Instagramnya juga memunculkan notifikasi yang bersahut-sahutan.

Menyadari kalau aku memperhatikannya, dia kemudian tertawa. “Saya sih gak bisa lepas dari hape mas. Selalu aja ada yang nyari. Tapi alhamdullilah jadi punya banyak teman,” katanya. Kemudian dia memamerkan beberapa orang yang dia kenal di Facebook, mulai dari bapak-bapak, ibu-ibu, hingga orang-orang luar negeri kenalannya diperlihatkan padaku.

WhatsApp Image 2017-04-21 at 2.59.49 PM
Bersama pak Supri

Teknologi telah merambah semua orang, tak hanya anak muda, bahkan orangtua seperti Pak Supri pun tidak mau kalau update dibanding anak muda. Sesekali dia mengambil foto dengan kamera depannya, lalu mengirimkannya ke grup Whatsapp keluarganya yang terdiri dari dia, istri, dan anaknya yang pertama.

Anak Pak Supri yang pertama telah bekerja di Padang, Sumatra Barat sedangkan anak keduanya baru duduk di kelas 2 SD, dan anak ketiganya masih balita. “Loh kok beda umur anak pertama sama keduanya jauh amat pak?” tanyaku. “Iya mas, abis kerja di Jakarta toh, jadi jarang pulang, susah bikin!” jawabnya sambil tertawa.

Tidak ada opsi ‘tidur cantik’ di kereta ekonomi

Pukul 21:30 ketika kereta api telah melewati Stasiun Tasikmalaya, Pak Supri memutuskan untuk tidur. Karena tak lagi mengobrol, aku mulai mengeluarkan kamera handphone dan mengambil beberapa jepretan dari penumpang yang tertidur.

WhatsApp Image 2017-04-21 at 2.50.33 PM (2)
Penumpang di sebelah kiriku

Posisi kursi yang tegak membuat penumpang harus kreatif untuk bisa tidur. Ada yang membawa bantal, ada yang saling bersandar dengan pasangannya, ada pula yang tidur dengan mengangkat kaki dan mulutnya mangap. Bagi yang baru pertama kali menaiki kereta ekonomi, bisa jadi hal ini menjadi masalah. Tapi bagi kebanyakan warga, kursi yang tegak, perjalanan panjang, dan penuh sesak bukan masalah selama harga tiket murah bisa membawa mereka bertemu dengan orang tercinta.

Beberapa tahun lalu, sebelum pihak kereta api melakukan reformasi pelayanan, penumpang masih diperbolehkan untuk tidur bergeletakan di lantai kereta. Akibatnya, jika mau berjalan kaki ke WC harus ekstra hati-hati karena ada banyak tubuh manusia bertebaran di lantai. Jika salah langkah, bisa-bisa menginjak kepala atau kaki penumpang yang sedang tidur.

Karena tidur di lantai dirasa tidak baik untuk kenyamanan penumpang, akhirnya pihak kereta api secara resmi melarang penumpang untuk tidur di lantai dan merokok di bordes kereta.

Beberapa penumpang membawa penutup kepala. Ketika mereka sudah mulai mengantuk, mereka menutup seluruh kepalanya supaya lebih nyaman bagi mereka dan orang lain. Tapi, tak sedikit pula penumpang yang tidur apa adanya. Suara dengkuran dan mulut-mulut yang menganga jadi pemandangan yang sangat lumrah sepanjang perjalanan malam di atas gerbong kereta ekonomi.

IMG_3342
Tidur nyenyak berkat bantuan headset

Seharusnya kereta api Serayu Malam hari itu tiba di Pasar Senen pukul 04:02, tapi jadwal kedatangannya meleset jauh. Kereta harus terlambat selama satu jam, sehingga tepat di pukul 05:02, kereta baru merapat di stasiun Pasar Senen.

Aku berpamitan dengan pak Supri dan segera mencari ojek untuk melanjutkan perjalanan ke Kalideres. Pagi itu menjadi pagi yang melelahkan karena pukul 08:00, kantor sudah memanggil untuk kembali bekerja.

Jadi, nikmatnya di mana?

Kenikmatan dan sensasi dari bepergian naik kereta ekonomi bukanlah terdapat di fasilitasnya. Memang saat ini tiap gerbong kereta sudah jauh lebih baik karena dilengkapi dengan pendingin udara, tapi bukan di situ letak kenikmatannya.

Gerbong kereta ekonomi menyajikan aneka ragam manusia. Dari tua, muda, petani, backpacker, yang cantik, ganteng, hingga yang apa adanya. Tapi, semua itu bukan menjadi batasan. Pola tempat duduk yang berhadap-hadapan mau tidak mau membuat tiap penumpang kehilangan jarak proksemiknya, sehingga minimal akan tersenyum dengan penumpang sebelahnya (walaupun banyak juga kok yang cuek bebek).

DSC_0704
Kalau mau selonjor, harus koordinasi dengan penumpang di depan

Tempat duduk yang sempit juga mengharuskan tiap penumpang harus kooperatif. Karena antar lutut penumpang saling beradu, maka apabila hendak meluruskan kaki, harus berkoordinasi dengan penumpang yang ada di depannya. Jadi, secara tidak langsung, kereta ekonomi mengajarkan kita untuk tidak egois.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Dari Jakarta ke Sidareja—Perjalanan Singkat Bertemu Sahabat

IMG_3307Sidareja, mungkin tak banyak orang yang kenal dengan nama ini, sebuah kecamatan yang berjarak 350 kilometer dari Jakarta. Sidareja bukanlah nama tempat yang tersohor, tapi tempat inilah yang selalu jadi agenda wajibku tatkala akhir pekan atau tanggal merah datang menyapa.

Jauh-jauh hari sebelum libur Paskah mendekat, aku sudah bersiap di depan laptop untuk membeli tiket kereta api secara daring. Waktu itu masih satu setengah bulan sebelum hari Jumat Agung, tapi tiket kereta api Serayu Malam dari Jakarta Pasar Senen menuju Purwokerto telah ludes tak bersisa. Alhasil, aku hanya bisa gigit jari sambil berpikir keras mencari alternatif transportasi lain.

Akhirnya kuputuskan untuk kembali menggunakan bis malam menuju Sidareja. Sebenarnya, naik bis itu tidak buruk-buruk amat, malah lebih mudah daripada naik kereta karena lokasi terminal hanya satu kilometer dari kantor, jadi tentu lebih mudah mencapainya. Tapi, dua bulan lalu saat naik bis dari Jakarta ke Sidareja, bis yang kutumpangi malah mogok dan seluruh penumpangnya ditelantarkan di pinggiran tol Jagorawi sampai tengah malam. Tapi, apa boleh buat, daripada liburan hanya membusuk di kost, lebih baik bersusah sejenak di atas bus.

Ketika hari keberangkatan tiba, mimpi burukku ternyata tidak terjadi. Perjalanan dari Jakarta menuju Sidareja ditempuh selama 15 jam karena macet parah yang mengular dari Jakarta Barat hingga Bekasi Timur. Macet itu sungguh menyiksa! AC bis yang dingin menjadi pemicu tubuh untuk memproduksi urin, tapi tidak tersedia wc di dalam bus. Menahan pipis berjam-jam adalah hal yang paling menyebalkan dari bepergian menaiki bis malam.

Selamat datang di Sidareja

Pukul 07:30, bis yang kutumpangi tiba di terminal Sidareja. Baru saja bis menepi, puluhan tukang ojek dengan logat ngapak-nya segera merangsek ke dalam bis untuk mencari penumpang. Tapi, mereka sepertinya agak menyesal karena kebanyakan penumpang telah dijemput oleh kerabatnya masing-masing. Dengan lunglai, satu per satu tukang ojek itu turun ke luar bus.

Pagi itu masih sepi. Kehidupan di desa belum menunjukkan geliatnya sekalipun matahari telah benderang. Toko-toko di sekitar terminal masih tutup, juga jalanan begitu lengang. Tak lama sebuah sepeda motor tua menghampiriku. Pengemudinya bertubuh gempal dan matanya masih sembab karena baru bangun tidur. Dia tidak memakai helm, ataupun atribut keselamatan lainnya.

Senyumku tersungging, demikian juga senyumnya. Kami berjabat tangan erat, lalu saling menepuk pundak dan mengejek satu sama lain. “Gendut koe, mirip Kim Jong Un! Jam segini baru bangun piye toh,” ejekku. Memang candaan kami sesekali diselingi dengan ejekan, tapi inilah yang membuat kami akrab. Sekalipun jarak telah memisahkan, tapi kami berdua masih dan tetap berkawan erat. Sahabatku itu bernama Roland, yang sering kusebut Kim Jong Un dan masih bergulat dengan skripsinya yang belum kunjung tuntas.

IMG_0546
Jaga toko 

Rumah temanku, tempat aku tinggal adalah sebuah rumah yang sederhana. Rumah ini tidak punya pekarangan baik di depan ataupun belakangnya. Bagian depan rumah adalah toko kelontong yang sudah berdiri sejak puluhan tahun silam. Toko kelontong ini telah bertahan melewati rintangan zaman. Sekalipun di kanan dan kiri mini-market sudah menjamur, tapi toko ini tetap tidak kehilangan pesonanya.

Menemukan rumah kesekian di Sidareja

Sejatinya, tidak ada yang istimewa dari Sidareja. Layaknya desa-desa pada umumnya, di Sidareja menghampar sawah nan luas, sungai-sungai yang meliuk, dan senyuman hangat dari tiap penduduknya. Tapi, bagiku sendiri, Sidareja tidak hanya sebuah desa, tapi dia juga adalah rumahku yang kesekian.

IMG_3042
Senja di tepi persawahan Sidareja

Aku dan temanku itu baru saling mengenal empat tahun lalu karena kami sama-sama menempuh kuliah di Jogja. Karena pernah beberapa kali duduk dalam satu kelas yang sama, akhirnya kami menjadi teman dan akrab. Salah satu hal yang membuat pertemanan ini menjadi akrab adalah ejekan dan guyonan. Dulu, tiap kali bertemu selalu saja ada ejekan baru yang tercipta. Lalu, ketika aku sudah lulus duluan, ejekan-ejekan yang dulu pernah dibuat ternyata masih abadi. Itu tidak melukai hati kami masing-masing, tapi ternyata malah menjadi pupuk yang menyuburkan pertemanan.

Sekalipun aku adalah orang lain, tapi penghuni rumah kediaman temanku itu selalu menyambutku dengan hangat. Ada makanan yang special selalu tersaji di meja makan setiap kali aku datang. Aku bebas melakukan apapun di sana, seolah aku telah menjadi bagian dari rumah itu selama bertahun-tahun.

Ada sayur bening, gorengan, mie goreng, ayam goreng, dan kerupuk yang menjadi suguhan setiap kali makan digelar. Sang ibu pemilik rumah tahu betul kalau aku adalah anak kost yang merana di ibukota, jadi dengan semangat dia membuatkan makanan itu. Kalau nasi di piringku dilihatnya terlalu sedikit, dia akan memaksaku untuk mengambil lebih banyak lagi, lagi, dan lagi sampai aku menyerah.

Tiga hari yang kuhabiskan di Sidareja membuatku merasa amat bersyukur karena diberi anugerah dan kesempatan Tuhan untuk menikmati kebaikan-Nya lewat orang-orang yang hadir di sekitarku.

Tiga hari di Sidareja adalah hari-hari yang menyembuhkan penatku. Aku belajar dan menikmati kehidupan sebagai seorang warga desa, juga sebagai seorang pedagang Tionghoa. Setiap hari, aku ikut duduk menjaga toko dan sedikit-sedikit belajar tentang bahasa ngapak dan barang-barang yang dijual.

Ketika mini-market datang menyerbu Sidareja, toko temanku ini masih bertahan dan laris karena memiliki banyak kelebihan. Memang secara fasilitas tidak senyaman mini-market modern, tapi soal kelengkapan barang jangan ditanya. Barang-barang dari zaman super lawas hingga saat ini masih lengkap tersedia, dan itulah yang dicari oleh pembeli yang kebanyakan adalah petani.

Berbagai jenis tembakau, kertas rokok, kemenyan, pil-pil obat oplosan, jamu kuat lelaki, obat nyamuk cap king-kong hingga beragam kuliner dan perkakas kecantikan semua tersedia di toko ini. Hebatnya, pembeli desa adalah pembeli yang loyal. Untuk urusan obat nyamuk, warga desa di sini hanya mau membeli obat nyamuk cap king-kong, bukan yang lain. Sekalipun obat nyamuk sekarang telah tersedia dalam berbagai jenis, tapi obat nyamuk bakar cap king-kong ini tidak pernah susut pamornya. Memang luar biasa cap king-kong ini.

Bagiku yang tinggal di Jakarta, bahasa Jawa ngapak di Sidareja ini selalu unik untuk didengar. Jika dulu di Jogja orang-orang berbicara bahasa Jawa dengan halus, Sidareja jauh dari kata halus. “Aduh, wetenge inyong kencod!” adalah kalimat favoritku! Aduh, perutku lapar, begitulah arti kalimat itu. Bahasa Jawa ngapak dilantunkan dengan cepat dan intonasinya unik! Sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata.

Perjalanan tidak selalu tentang tempat

Setelah melewatkan tiga hari di Sidareja, tibalah saatnya untuk aku kembali bekerja ke Jakarta. Saat berpamitan untuk pulang, ibunda dari temanku itu berpesan, “Kamu jangan sombong ya. Jangan lupa sama rumah ini. Kalau ada libur harus ke sini, ini rumahmu juga loh. Ditunggu ya, ati-ati di jalan!” ucapnya sambil tersenyum lebar.

Kata-kata itu bukan hanya isapan jempol. Hingga detik itu, sudah lebih dari lima kali aku bolak-balik berkunjung ke Sidareja sejak tahun 2013 lalu. Sambutan rumah itu setiap kali aku datang tetaplah sama, bahkan lebih hangat setiap harinya.

Hari itu aku kembali menyadari bahwa perjalanan tidak selalu bicara soal tujuan yang eksotis, tapi seringkali perjalanan adalah tentang siapa yang kita temui. Perjalanan adalah sarana terbaik untuk membentuk kita. Orang bijak pada masa lampau pernah berkata, “Besi menajamkan besi, dan manusia menajamkan manusia.” Pertemuanku dengan rupa-rupa manusia dalam perjalanan, itulah yang membentuk diriku. Yap, membentuk diriku untuk senantiasa memahami perbedaan, rendah hati, dan bijaksana dalam berpikir maupun bertindak.

Terima kasih Sidareja untuk tiga hari yang singkat namun penuh cerita ini!
Sampai bertemu di lain kesempatan ya!

 

Kisah Nestapa Perjalanan Ke Tanah Ngapak

nestapa2
Bus Gapuraning Rahayu mogok dan penumpangnya terlantar di Tol Jagorawi KM 19

Bepergian naik bus ekonomi selalu menyajikan kisah tersendiri. Di saat perusahaan otobis (PO) lain mulai mengganti armadanya menjadi lebih baru dan nyaman, tapi masih ada pula PO yang mengoperasikan bus-bus tua selagi masih bisa dipakai. Salah satunya adalah PO Gapuraning Rahayu yang akan menjadi pelengkap cerita nestapa tentang perjalanan selama 14 jam demi melepas penat dari Ibukota.

Aku pikir malam itu akan jadi malam yang berjalan lancar tanpa hambatan. Pukul 17:10 aku sudah tiba di terminal bus Kalideres dan mencari-cari bus yang akan berangkat ke daerah Cilacap, Jawa Tengah. Sebelumnya teman-teman kantor sudah memperingatkan kalau di terminal bus itu sangat rawan jambret dan pemalakan, malah ada seorang teman yang diperas preman-preman di sana. Tapi, cerita seram itu tidak menyurutkan niatku untuk pergi naik bus. Kupasang kupluk hitam di kepala, memakai masker, sebisa mungkin berjalan cepat dan tidak boleh terlihat linglung supaya tidak jadi sasaran kejahatan.

Terminal Kalideres – sebelum nestapa dimulai 

Berhubung hari itu adalah Jumat, jadi suasana terminal sedikit lebih ramai karena banyak penumpang yang memanfaatkan akhir pekan untuk bepergian, dan aku salah satunya. Ada sedikit kecewa ketika mengetahui kalau bus yang berangkat ke Sidareja, Cilacap ternyata bukanlah bus AC, melainkan bus ekonomi. Sebenarnya bukan soal kenyamanan yang aku keluhkan, tapi aku takut kalau-kalau bus tua ini nanti mengalami masalah di jalan. Namun, kutepis segala prasangka buruk itu dan berharap bus tua ini masih memiliki performa yang prima.

nestapa1
Interior bus ekonomi Gapuraning Rahayu tujuan Kawunganten – Sidareja

Satu jam menanti keberangkatan di terminal bus, lebih dari 15 pengamen telah datang silih berganti. Ada yang suaranya bagus, tapi ada pula yang sekadar genjreng gitar tanpa ada niat menyanyi. Seolah tak mau kalah dengan pengamen, puluhan pedagang juga merangsek masuk ke dalam bus yang pengap. Mereka menjajakan power bank, ikat pinggang, kaos kaki, permen, hingga racun tikus!

Dengan keringat yang mengalir deras di wajah, mereka seolah tidak merasa lelah. Sembari semerbak asap rokok menyeruak di kabin bus, mereka berteriak lantang mengharap agar dagangan mereka laris. “Aquaa, aquaa, mijon, kacang, tahu, tahunya , permen, tolak angin, telur puyuhnya, mas?” teriak mereka. Alih-alih terganggu, aku dibuat kagum oleh setiap perjuangan mereka demi sesuap nasi. Kurogoh kantong celanaku dan kubeli dua bungkus permen jahe, sebuah lontong, dan satu jamu tolak angin.

Bus sudah terisi penuh tapi tak kunjung beranjak dari terminal. Satu, dua menit kemudian beberapa penumpang mulai berteriak-teriak kepanasan karena udara semakin pengap, tapi sopir tetap bergeming. Barulah setelah 15 menit bus mulai melaju perlahan bak siput yang sedang mengikuti kompetisi balapan.

Untuk membunuh waktu, aku bercakap-cakap dengan penumpang di sebelahku. “Turun endi, mas e?” tanyanya. “Aku Sidareja mas,” jawabku. “Lha, asli wong sidareja? iki balik kampung po kepriwe? Wes pirang taun nang Jakarta?” pertanyaan-pertanyaan itu menarik karena diucapkan dalam logat Ngapak alias logat khas Cilacap yang buatku terdengar unik.

Keistimewaan dari menggunakan angkutan umum kelas ekonomi (kecuali pesawat) adalah keakraban yang jarang didapat di kelas yang lebih tinggi. Ratusan perjalanan telah kulakukan, dan aku selalu memilih untuk duduk di kelas ekonomi daripada eksekutif. Teman duduk bisa jadi teman ngobrol, dan dari obrolan inilah seringkali ada nilai-nilai kehidupan yang terselip.

Hari itu penumpang bus didominasi oleh pekerja dari daerah Cilacap yang merantau ke Jakarta untuk menjadi buruh bangunan, sopir ojek, dan pekerjaan kasar lainnya.

Ketika Nestapa Dimulai 

nestapa3
Menyempatkan diri untuk selfie daripada tidak ada kerjaan

Setiap Jumat sore hingga malam, jalanan di Jakarta berubah menjadi statis alias macet total di mana-mana. Butuh waktu tiga jam untuk menempuh jarak 30 kilometer dari Jakarta Barat menuju Jakarta Timur. Pukul 20:00 bus yang kutumpangi baru tiba di bibir jalan tol Jagorawi yang mengarah ke Bogor. Selama tiga bulan sejak Desember 2016, bus-bus besar tidak diizinkan melewati tol Cipularang, sehingga banyak bus dengan tujuan Jawa Barat bagian selatan dan Cilacap memilih untuk mengambil jalur Puncak via Bogor.

Baru lima menit berlalu selepas gerbang tol Cibubur, kekhawatiranku ternyata menjadi nyata. Bus yang kutumpangi mendadak mati di tengah jalan tol! Puluhan pengendara segera membunyikan klasonnya keras-keras dan setelah dicoba dihidupkan selama tiga menitan, akhirnya bus bisa melaju kembali. Tapi, bus hanya mampu melaju beberapa meter sampai di bahu jalan, lalu setelahnya mesin bus pun wafat tak bernyawa.

Semua penumpang panik, tidak terima karena bus yang digunakan ternyata bus usang. Beberapa menuntut ganti rugi dan meminta segera dikirimkan bus cadangan, tapi awak bus tidak bisa memberi solusi apapun selain meminta penumpang untuk menunggu. Ada sekitar 50 penumpang hari itu dan semuanya terkatung-katung di pinggir jalan tol Jagorawi tanpa kepastian apakah ada bus baru yang dikirim atau tidak.

Satu jam berlalu hingga tiba sebuah bus Gapuraning AC dengan tujuan Karang Pucung. Bus itu berhenti dan segera diserbu semua penumpang yang terlantar, tapi bus itu sudah keburu penuh dan hanya mampu mengangkut 15 penumpang tambahan. Akhirnya 35 penumpang lain kembali terlantar tanpa kepastian.

Dua jam setelahnya aku merasa kantung kemihku mulai penuh dan berjalan agak jauh dari kerumumunan untuk buang air kecil. Sungguh beruntung! Ternyata saat aku selesai menuntaskan buang air, sebuah bus Gapuraning tujuan Karang Pucung datang dan berhenti sangat dekat denganku. Aku berlari sekencang-kencangnya dan jadi orang pertama yang naik ke atas bus, tapi ternyata bus itu juga sudah penuh karena hanya ada sekitar 10 kursi kosong.

Aku beruntung karena mendapatkan tempat duduk, sedangkan penumpang lainnya akhirnya nekat masuk ke bus walau harus duduk di lantai. Kisah nestapa ini masih berlanjut ketika bus yang penuh sesak harus melintas jalanan yang berkelok-kelok. Satu, dua jam kemudian mulai gugur beberapa penumpang yang akhirnya muntah. Aroma muntahan itu menyebar lewat udara dan memancing penumpang lainnya untuk ikut muntah.

Setelah 14 jam berlalu….. 

Saat matahari pagi mulai menampakkan wajahnya, bus yang kutumpangi sudah meninggalkan provinsi Jawa Barat dan memasuki area Wanareja, Jawa Tengah. Kisah nestapa tadi perlahan sirna seiring hijaunya sawah yang membentang dari balik bingkai kaca bus. Pemandangan ini sangat langka ditemukan di Jakarta, jadi ketika aku melihat halimun tipis masih menggantung di atas hamparan padi, seketika hati ini terasa begitu ayem. 

Sebenarnya tujuan utamaku adalah kecamatan Sidareja, tapi bus ganti yang kutumpangi ini hanya berhenti sampai Karang Pucung dan pihak manajemen bus tidak memberi kompensasi apapun kepada penumpang yang harus membayar ongkos lebih karena harus berganti tujuan. Tidak ada kata maaf, apalagi uang kompensasi. Tapi, itu semua dimaklumi karena ini adalah kelas ekonomi, dan penumpang pun tidak terlalu mengambil pusing soal itu selama akhirnya mereka bisa tiba di lokasi.

Pukul 07:00 akhirnya tiba di Karang Pucung setelah melewati perjalanan nestapa selama 14 jam dalam bus. Perjalanan menaiki bus itu selalu penuh cerita. Harus menahan pipis, menahan rasa mual, dan banyak bersabar karena kondisi jalan yang tidak dapat diprediksi. Jika dalam kondisi normal perjalanan Jakarta-Cilacap bisa ditempuk 7-9 jam, hari itu perjalananku lebih lama dua kali lipat dari biasanya.

nestapa4
Bersama keluarga gembala sidang dari Gereja Baptis Karangpucung

Sembari menunggu kendaraan untuk melanjutkan perjalanan ke Sidareja, aku berkunjung ke sebuah gereja yang terletak di dekat pasar Karang Pucung. Pagi itu menjadi lebih hangat dengan segelas teh panas yang disuguhkan keluarga pendeta. Sekitar 30 menit kami habiskan dalam obrolan hangat, dan di akhir sebelum berpamitan dan melanjutkan perjalananku, kami berfoto bersama.

*******

Perjalanan selalu memiliki ceritanya tersendiri, jadi selama kaki masih kuat melangkah dan dompet masih mampu bernafas, maka ransel hitamku kan selalu kupanggul setiap Jumat malam.
Sidareja, Jawa Tengah, 5 Feb 17