Arsip

  Di Stasiun Pasar Senen, Kereta Api Serayu Malam berangkat pukul 21.00, mengantarkan saya pergi meninggalkan Jakarta untuk perjalanan singkat akhir pekan. Saya duduk di kereta nomor dua dan sembilan jam kemudian, saya tiba di tujuan akhir saya: Stasiun Sidareja.

  Setiap weekend saya paling suka pergi keluyuran dan waktu itu terbersit ide untuk menjelajah kawasan perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah. Ide pertamanya adalah pergi menelusuri rel mati di lintasan Banjar-Pangandaran yang telah ditutup sejak tahun 1970-an. Saya pun segera mengontak teman yang tinggal di Sidareja dan mengabarinya bahwa di Jumat malam saya akan menumpang di rumahnya. Teman saya mengiyakan dan singkat cerita tibalah saya di Sidareja pada hari Sabtu pagi.

  Bepergian menaiki bus ekonomi itu selalu menyajikan kisah tersendiri. Banyak pengamen, banyak pedagang, kabin bus yang tidak ber-ac, dan waktu tempuh yang lebih lama adalah bumbu penyedap yang senantiasa menyertai sepanjang perjalanannya.

  Di hari Minggu pagi yang kelabu, saya terduduk di pinggiran rel Stasiun Sidareja. Sembari memandang langit yang sebentar lagi akan turun hujan, saya menanti kedatangan sang ular besi yang akan mengantar saya kembali ke Jakarta. Agak jauh dari tempat saya terduduk, ada puluhan penumpang lainnya yang juga akan meninggalkan Sidareja pagi itu.

Momen senja baru saja berlalu. Semburat jingga di langit telah tertutup oleh gelapnya malam. Dari kejauhan, sorot lampu yang terpancar lokomotif semakin mendekat. Lama-lama makin terang dan suara gesekan antara besi dengan besi pun semakin terdengar. Puluhan penumpang yang tadinya duduk-duduk santai jadi bergegas menyiapkan diri. Kereta yang akan mengantar mereka menuju Ibukota akan segera datang.

Sidareja, mungkin tak banyak orang yang kenal dengan nama ini, sebuah kecamatan yang berjarak 350 kilometer dari Jakarta. Sidareja bukanlah nama tempat yang tersohor, tapi tempat inilah yang selalu jadi agenda wajibku tatkala akhir pekan atau tanggal merah datang menyapa.