Catatan 9 Jam Di Atas Kereta Serayu Pagi

Di hari Minggu pagi yang kelabu, saya terduduk di pinggiran rel Stasiun Sidareja. Sembari memandang langit yang sebentar lagi akan turun hujan, saya menanti kedatangan sang ular besi yang akan mengantar saya kembali ke Jakarta. Agak jauh dari tempat saya terduduk, ada puluhan penumpang lainnya yang juga akan meninggalkan Sidareja pagi itu. Continue reading “Catatan 9 Jam Di Atas Kereta Serayu Pagi”

Iklan

Kereta Api Progo, Si Penyambung Rindu antara Jogja dan Jakarta

Gerbong 7 KA Progo saat tengah berhenti di stasiun Purwokerto (16/7/17)

“Ayah jangan turun,” kata Rosi. Wajahnya semula sumringah jadi takut ketika ayahnya hendak keluar sebentar dari gerbong, padahal kereta belum berangkat. Rosi, bocah perempuan berusia 5 tahun dan ayahnya, mereka adalah penumpang di depanku, juga teman perjalanan selama 9 jam perjalanan menuju Jakarta di atas kereta api Progo.

Satu jam sebelum diberangkatkan pada pukul 14:45, rangkaian kereta api Progo telah tersedia di peron 3 Stasiun Lempuyangan. Hari itu, kedelapan gerbong kereta semuanya terisi penuh. Rute Yogya – Jakarta adalah rute yang gemuk, alias okupansinya tinggi. Di akhir pekan, sangat jarang atau mungkin juga mustahil menemukan kursi kosong yang tersisa untuk perjalanan kembali ke Jakarta. Untuk perjalanan hari itu, aku bahkan sudah memesan tiket nyaris 3 bulan sebelum keberangkatan.

Aku duduk di gerbong 8, kursi nomor 24E yang berhadapan dengan kursi nomor 23 D dan E. Sementara Rosi dan ayahnya duduk di depanku, di sebelahku duduk seorang mahasiswa yang irit bicara. Sejak memasuki gerbong, telinganya sudah dipasang headset dan tatapannya tak pernah lepas dari layar ponsel. Sementara dia asyik sendiri dengan gawainya, aku bersama Rosi dan ayahnya mengobrol bersama dan bertukar makanan.

“Turun mana mas?” tanya ayahnya Rosi. “Saya di Senen, mas, kalau mas-nya?” tanyaku balik. Aku sengaja memanggil ayahnya Rosi dengan sebutan “mas” daripada pak, karena dari penampilannya sih dia masih cukup muda. Duduk berhadapan dengan anak kecil itu ada untung dan ruginya. Sepanjang perjalanan, Rosi menyanyi dan berbicara tanpa lelah. “Ayah, ayah, itu sawah!” teriaknya. Ayahnya menanggapi santai, kemudian membuka tas berisi aneka perbekalan. Ada kue, buah-buahan, minuman, juga permen untuk sang buah hati. “Monggo mas, dimakan bareng-bareng,” kata ayah Rosi sembari menyodorkan makanan. Inilah rejeki dari naik kereta ekonomi! Keakraban yang dibangun sedari kereta belum berangkat ternyata berbuah menjadi dapat camilan cuma-cuma.

Rosi, bocah perempuan berusia 5 tahun yang duduk di depanku
Hamparan sawah nan luas di daerah Gombong, Jawa Tengah
Interior KA Progo. Konfigurasi tempat duduk 2-3 dan saling berhadapan

Sejak diresmikan pada tahun 2002 silam, entah sudah berapa ribu manusia yang dilayani oleh kereta api Progo. Sebelum kereta api Progo diluncurkan, dulu terdapat kereta api Empu Jaya yang merupakan singkatan dari Lempuyangan – Jakarta. Sepanjang perjalanannya, Empu Jaya banyak mengalami kecelakaan yang mengakibatkan korban jiwa. Pada tahun 2001, Empu Jaya menabrak lokomotif Cirebon Ekspress di daerah Brebes. Akibat peristiwa nahas ini, 31 nyawa melayang. Lokomotif KA Cirebon Ekspress juga hancur tak berbentuk karena ditabrak oleh Empu Jaya yang sedang dalam kecepatan tinggi. Tak lama setelah kecelakaan nahas itu terjadi, pihak kereta api akhirnya memutuskan untuk mengganti penamaan Empu Jaya menjadi Progo. Nama “Progo” diambil dari nama sungai yang membelah bagian barat Yogyakarta. Selain itu, nama “Progo” juga dinilai lebih baik daripada nama “Empu” yang dalam bahasa Jawa artinya adalah pembuat keris.

Saat ini, memang ada banyak pilihan untuk melanglang buana dari Jakarta ke Yogyakarta. Tetapi, buatku sendiri kereta api Progo adalah pilihan utama. Pertama, tarif Progo masih terjangkau di kantong, yaitu Rp 125.000,- per sekali jalan. Harga ini memang lebih mahal daripada kereta api Bengawan yang tarifnya Rp 80.000,- saja. Harga Progo memang dibuat lebih mahal karena berdasarkan peraturan kereta api, Progo menjadi kereta kelas ekonomi yang mandiri. Artinya, Progo tidak lagi mendapatkan subsidi harga dari pemerintah.

Selain Progo dan Bengawan, jalur antara Solo-Yogyakarta dan Jakarta juga diramaikan dengan kehadiran kereta-kereta lainnya. Untuk kelas ekonomi, terdapat duet mesra KA Bogowonto dan Gajahwong yang tarif maksimalnya adalah Rp 230.000,-. Untuk kelas bisnis, tersedia pasangan KA Fajar dan Senja Utama Yogya, juga Senja Utama Solo yang tarif maksimalnya Rp 280.000,-. Di atas dua kelas tadi, masih ada kereta api kelas wahid, yaitu KA Taksaka, Argo Lawu, Argo Dwipangga yang tarif maksimalnya Rp 400.000,-. Tarif-tarif tersebut adalah tarif hari biasa. Pada momen-momen khusus seperti Lebaran atau Natal, harganya bisa melambung lebih tinggi. Jadi, bisa dibayangkan kan, jika tak ada KA Progo, maka ritual melepas rindu dari Jakarta ke Jogja mustahil bisa dilakukan sebulan sekali. Selama sebulan aku memotong jatah uang makan malamku. Kemudian, uangnya ditabung untuk dibelikan tiket kereta api Progo.

Selain karena faktor harga, menurutku jadwal Progo adalah jadwal yang paling pas buatku. Untuk keberangkatan dari Jakarta menuju Yogyakarta, Progo berangkat pukul 22:20. Jadwal yang pas karena aku harus bekerja dulu hingga pukul 18:00. Sedangkan, untuk jadwal dari Yogyakarta menuju Jakarta, Progo diberangkatkan pukul 14:45. Menjelang sore, pemandangan hamparan sawah dan bukit-bukit yang tersaji di balik jendela gerbong masih tampak jelas, dan ini sungguh memanjakan mata.

Senada denganku, ayah Rosi juga mengungkapkan hal serupa. Baginya, kereta api Progo adalah jembatan pemuas rindunya. Setiap liburan dia selalu membawa anaknya pulang ke Yogyakarta, berkunjung ke rumah kakek-neneknya. “Maunya sih naik argo mas, yang enak, tapi harganya gak kuat,” kata ayah Rosi. Bagi penumpang yang berkantong tidak tebal, KA Progo adalah pahlawan sejati. Rasa rindu kepada Jogja bisa terlaksana berkat hadirnya kereta ini.

Sebelum memasuki Purwokerto, KA Progo berhenti selama 4 menit di Kroya, bertepatan dengan momen senja

Pukul 18:10, kereta api Progo yang kami tumpangi telah tiba di stasiun Purwokerto, lebih cepat lima menit dari jadwal semula yang seharusnya pukul 18:15. Walaupun kelasnya ekonomi, tapi soal ketepatan waktu, Progo memang juara. KA Progo adalah kereta dengan pemberangkatan paling awal untuk rute ke arah Jakarta. Bertolak dari Lempuyangan pada pukul 14:45, Progo membutuhkan waktu 8 jam 57 menit untuk tiba di tujuan akhir Pasar Senen pada pukul 23:42. Di kala tengah malam, kepadatan kereta api di lintas Bekasi – Jatinegara jauh lebih lengang karena Kereta Rel Listrik (KRL) berhenti beroperasi. Kepadatan kembali meningkat kala subuh. Kereta api jarak jauh harus berbagi rel yang sama dengan KRL, akibatnya keterlambatan pasti bisa dipastikan terjadi.

Selepas Purwokerto, Rosi dan ayahnya tertidur pulas. Sementara itu, suasana gerbong yang semula riuh juga mulai senyap. Tatkala penumpang terlelap, laju kereta meningkat. Mulai dari Purwokerto hingga Jakarta, lintasan ini telah dilengkapi dengan jalur ganda sehingga tidak ada lagi proses persilangan atau tunggu-menunggu kereta api. Selepas Cirebon, lintasan kereta api adalah lintasan lurus yang membuat laju kereta api bisa dipacu ke titik maksimal. Untuk KA Progo, kecepatan yang dipatok untuk lintas ini adalah 80 hingga 90 km/jam.

Tepat pukul 23:42, kereta api Progo mengakhiri perjalanan dinasnya dengan tepat waktu. Dua jempol untuk manajemen Kereta Api Indonesia. Walaupun harga Progo kini telah di atas seratus ribu, tapi hal ini berbanding lurus dengan pelayanannya, salah satunya dalam performa ketepatan waktu. Setibanya di Pasar Senen, kami saling berpamitan dan melanjutkan perjalanan ke kediaman masing-masing. Kuboyong ranselku ke depan stasiun dan menaiki ojek ke daerah paling barat di Jakarta. Kurang dari tujuh jam lagi, kisah perjalananku akan kembali lagi ke meja pekerjaan.

Terima kasih KA Progo. Tanpamu, datang ke Jogja mungkin hanya akan jadi angan buatku.

Matur nuwun, Progo

Sensasi Pertama Kali Naik Kereta Kelas Wahid!

argo1
Kereta api Gajayana tengah berhenti di Stasiun Tugu Yogyakarta (26/2/17)

Berburu tiket kereta api untuk berangkat di akhir pekan sekarang jadi aktivitas yang mengasyikkan sekaligus menantang. Mengasyikkan jika kursi kelas ekonomi masih tersedia, tapi menantang ketika tiket kelas ekonomi ludes dan harus mencari alternatif lain. Ketika tiket murah yang dicari ternyata ludes, hanya ada tiga pilihan yang kini tersedia—naik kelas ke bisnis atau eksekutif, cari alternatif lain dengan naik bis, atau gagal berangkat.

Beberapa minggu yang lalu aku menjatuhkan pilihanku ke nomor dua, yaitu berganti moda transportasi dengan naik bis. Hasilnya, perjalanan dari Jakarta ke Cilacap yang kalau naik kereta ekonomi Serayu bisa ditempuh 9 jam, menjadi 14 jam dengan naik bis. Itupun ditambah dengan bis yang mogok dan aku ditelantarkan di pinggiran tol Jagorawi hampir tiga jam tanpa kepastian.

Tidak ingin kejadian nestapa di jalanan itu berulang, akhirnya untuk keberangkatan pulang dari Yogyakarta ke Jakarta aku membeli tiket KA Argo Dwipangga seharga Rp 380.000,-. Harganya lumayan fantastis walau memang tidak semahal harga pesawat. Tapi, dengan harga setinggi itu aku bisa bepergian bolak-balik Jakarta- Jogja hingga tiga kali jika naik KA Ekonomi Bengawan yang harganya hanya Rp 74.000,- sekali jalan.

Kereta api yang berubah wajah

Sebetulnya, secara keseluruhan pelayanan kereta api di Indonesia, khususnya di Jawa saat ini sudah mengalami banyak sekali kemajuan. Tahun 2009 saat duduk di SMP kelas IX, kereta api selalu jadi transportasi andalanku untuk bepergian ke timur ataupun barat kota Bandung. Perjalanan puluhan kilometer dari Bandung ke Padalarang atau Cicalengka hanya dibandrol Rp 1.000,- saja. Jauh lebih murah dari tarif angkot pada masa itu.

Tapi, harga yang murah ternyata berbanding lurus dengan pelayanan. Dulu, hampir di setiap kereta ekonomi kenyamanan penumpang dianaktirikan. Tidak peduli seberapa penuh gerbong kereta, penumpang demi penumpang tetap merangsek masuk menjejali gerbong yang kian sesak. Tak hanya itu, copet-copet bergentayangan meraba-raba bawaan penumpang yang kala itu sedang apes. Semua itu masih ditambah dengan udara pengap, teriakan pedagang dan pengamen yang hilir mudik tiada henti.

Tapi, pemandangan itu kini sudah sirna ditelan badai! Kereta api jauh dan sangat manusiawi saat ini. Kereta ekonomi hingga eksekutif sudah dilengkapi dengan pendingin udara, stasiun disterilkan, setiap penumpang harus bertiket sehingga tidak ada lagi kereta kelebihan muatan, sistem reservasi telah online, dan jadwal keberangkatan kedatangan juga on time!

Pengalaman pertama kali naik Argo

Sekalipun hampir setiap bulan bepergian naik kereta api, tapi kereta dengan kelas eksekutif tidak pernah jadi pilihanku untuk bepergian. Dengan keterbatasan uang sebisa mungkin aku harus mendapatkan tiket semurah mungkin supaya agenda traveling bisa terus jalan setiap bulannya. Tapi berhubung di akhir Februari ada urusan penting di Yogyakarta yang tidak bisa ditunda, jadi mau tidak mau tiket semahal apapun harus dibeli.

argo2
Interior KA Argo Dwipangga (KA 9 Solo Balapan – Gambir)

Sekalipun harga tiket lumayan mahal, tapi ternyata fasilitas yang ditawarkan di kereta api Argo Dwipangga juga sebanding dengan harga. Minggu malam (26/2) kereta Argo Dwipangga datang membawa 11 rangkaian gerbong eksekutif keluaran terbaru. Kereta berangkat dari Solo Balapan pukul 20:00 dan tiba tepat waktu di Yogyakarta pukul 20:52.

argo3
Stasiun Tugu, stasiun penuh kenangan

Setelah sembilan menit menaikkan ratusan penumpang yang hendak beranjak ke Ibukota, kereta mulai melaju. Seketika aku berasa seperti orang udik, maklum karena jarang sekali naik kereta eksekutif dan pengalaman naik kereta api Argo Dwipangga ini adalah perjalanan pertamaku naik kereta dengan gerbong keluaran terbaru plus tiketnya dibeli dengan uang hasil keringat sendiri.

Membelah malam dalam kenyamanan

Getaran di dalam gerbong tidak terlalu kentara sehingga penumpang bisa beristirahat dengan nyaman tanpa guncangan yang berarti. Lalu jarak antar kursi yang lega juga membuat penumpang lebih leluasa. Dua layar televisi besar terpasang di depan dan belakang gerbong, tapi karena di kereta malam, kebanyakan penumpang lebih memilih tidur daripada menonton tv.

Di atas tempat televisi berada, ada papan indikator yang menunjukkan posisi gerbong, kursi penumpang dan jam. Ada yang menarik karena di gerbong eksekutif baru ini, penumpang juga bisa tahu berapa kecepatan kereta api yang dinaikinya dan stasiun mana yang akan dilewati oleh kereta. Suhu udara di dalam gerbong juga pas, sekitar 22-24 derajat celcius.

Untuk menempuh jarak sekitar 500 kilometer, kereta api Argo Dwipangga hanya berhenti di stasiun Kutoarjo, Purwokerto, Cirebon, Jatinegara dan Gambir sehingga waktu tempuhnya bisa lebih cepat dari 8 jam perjalanan. Satu jam setelah kereta api meninggalkan Yogyakarta, lampu gerbong yang benderang mulai diredupkan untuk mempersilahkan penumpang beristirahat. 

Kursi reclining seat dalam gerbong juga lumayan nyaman diduduki walaupun terasa agak keras. Untuk menambah kenyamanan tidur juga telah disediakan selimut dan bantal. Tapi karena ACnya tidak terlalu dingin jadi selimut itu tidak kugunakan. Oh ya, kereta Argo Dwipangga ini adalah salah satu kereta api pertama di Indonesia yang menggunakan rangkaian eksekutif 2017. Selain Dwipangga, jika ingin menjajal gerbong baru ini penumpang bisa naik kereta api Gajayana, Bima relasi Malang-Gambir, Argo Lawu relasi Solo Balapan – Gambir, juga Sembrani relasi Gambir – Pasar Turi, dan kereta dengan kelas-kelas Argo lainnya.

Tujuh setengah jam membelah malam, akhirnya si ular besi Dwipangga mengakhiri dinas malamnya di Stasiun Gambir pada pukul 04:50, meleset beberapa menit dari jadwal seharusnya karena kereta harus antre mendapatkan tempat parkir.

Sekalipun gerbong sudah didesain sedemikian nyaman, tapi tetap saja punggungku sakit dan pegal. Tapi, di situlah kenikmatan sebuah perjalanan traveling. Badan pegal adalah bonus, dan hati senang adalah anugerah. Jika suatu saat mendapatkan rejeki lebih, tidak ada salahnya berpaling sebentar ke kereta kelas eksekutif. Jadi, kapan kita mau naik kereta bareng nih?

 

Jogjakarta – 26 Februari 2017