Arsip

Beberapa hari lalu, saya iseng membuka hardisk dan membongkar foto-foto lawas di dalamnya. Di salah satu folder yang dibuat tahun 2010, saya menemukan foto sesosok anak kelas dua SMA yang sedang duduk di atas kereta api Lodaya tujuan Solobalapan. Si anak itu tidak sedang hendak pergi ke Solo, dia cuma iseng jalan-jalan kala malam ke stasiun dan numpang foto. Dan…anak itu ialah saya sendiri.

  Stasiun Solokota siang itu mendadak ramai. Belasan orang berkumpul di pelatarannya, mengobrol satu sama lain seraya berteduh dari matahari yang terik.

Naik kereta api kelas ekonomi bukanlah peristiwa luar biasa dalam hidup saya. Setiap bulannya, minimal sekali, pasti saya akan naik kereta dan dari tiap perjalanan inilah lahir semangat baru untuk bertahan hidup di Jakarta.

  Hari Selasa (23/01) yang lalu, saya mencoba perjalanan Yogyakarta-Jakarta dengan sensasi baru. Jika biasanya saya selalu menaiki kereta api ekonomi lawas seperti Bengawan atau Progo, kali ini saya menaiki KA Jayakarta Premium, sebuah kereta kelas ekonomi yang digadang-gadang memiliki rasa eksekutif.

  Di hari Minggu pagi yang kelabu, saya terduduk di pinggiran rel Stasiun Sidareja. Sembari memandang langit yang sebentar lagi akan turun hujan, saya menanti kedatangan sang ular besi yang akan mengantar saya kembali ke Jakarta. Agak jauh dari tempat saya terduduk, ada puluhan penumpang lainnya yang juga akan meninggalkan Sidareja pagi itu.

  “Ayah! Jangan turun,” Rosi berteriak sambil meraih tangan ayahnya. Wajahnya yang semula sumringah berubah jadi takut ketika ia mendengar kalau ayahnya mau turun sebentar, padahal kereta masih belum berangkat. Rosi adalah bocah perempuan berusia lima tahun. Ia dan ayahnya duduk di depan saya, dan mereka akan jadi teman perjalanan selama 9 jam menuju Jakarta di atas kereta api Progo.