Pantai Aston, Spot Ciamik Nikmati Senja di Anyer

Pantai bukanlah tempat yang asing saya kunjungi. Jika ada waktu luang, biasanya saya akan memilih pantai sebagai destinasi, entah untuk bermain basah-basahan, atau sekadar duduk diam diterpa angin dan menikmati senja. Continue reading “Pantai Aston, Spot Ciamik Nikmati Senja di Anyer”

Senja di Halaman Belakang

Menghabiskan senja di kaki gunung adalah momen yang begitu nyaman. Di kaki gunung Ungaran, angin sejuk bertiup lembut dan langitnya berwarna biru muda. Tak ada suara bising kendaraan bermotor ataupun suara klakson yang bersahutan. Satu-satunya suara yang berpadu dengan suasana senja waktu itu adalah lantunan lagu-lagu dari sebuah gereja Katolik yang berada di tengah dusun.

Continue reading “Senja di Halaman Belakang”

Rona Senja Yogyakarta (1)

Senja selalu istimewa. Ia hadir sebagai pembatas antara terang dan gelap. Rasa haru, sendu, gulana, syukur serta sukacita berbaur satu seiring surya yang perlahan turun ke peraduannya.

Ada banyak cara menikmati hari, terkhusus kala senja yang bisa juga disebut nyore. Ada yang terjebak kemacetan berjam-jam. Ada pula yang tetap harus bekerja, namun ada pula yang bersantai ria dan membiarkan angannya terbang melayang.

Hari belum terlampau sore ketika jam kantor berhenti tepat di pukul tiga. Langit sedang bersahabat, tak tampak mendung kelabu yang biasanya mewarnai angkasa Jogja. Ketimbang pulang ke kamar kost dan menghabiskan waktu dengan tidur, kuambil kamera dan segera memacu motor ke wilayah timur Yogyakarta.

Yogyakarta memang tak pernah ada habisnya. Jika di dunia luar ia dikenal akan candi-candi megah, keramahan penduduk serta nasi kucing yang murah meriah di angkringan, sore ini Jogja menyuguhkan ketenangan yang lain daripada yang lain. Area timur Yogyakarta, agak dekat dengan Prambanan terdapat beberapa spot menarik untuk melepas penat dan menikmati kemilau senja.

Abang1
Candi Abang “Bukit Teletubbies”

Candi Abang

Karakteristik candi di Yogyakarta adalah tumpukan batu yang disusun rapi membentuk suatu bangunan yang megah. Borobudur, Plaosan, Sewu, Prambanan serta candi-candi lainnya adalah candi terkenal yang dibangun pada masa Mataram Kuno menggunakan batu-batu kali yang disusun rapi.

Berbeda dengan candi lainnya, Candi Abang nyaris membuat semua pengunjungnya bertanya-tanya “dimana sih candinya?” Jika candi umumnya bangunan berbatu yang tampak megah, Candi Abang hanyalah berupa gundukan bukit berumput setinggi enam meter. Lebih tepatnya, candi Abang lebih mirip Bukit Teletubbies ketimbang sebuah candi.

Tak banyak referensi jelas yang berbicara spesifik mengenai Candi Abang, terutama mengapa kini ia berbentuk bukit rumput. Berdasarkan penelitian yang dilakukan ahli arkeolog, Candi Abang tersusun atas batu bata merah yang kini batu tersebut tak lagi terlihat utuh karena telah terkubur  oleh tanah dan terbalut rerumputan hijau.

Candi yang bukan candi inilah yang menjadi pemikat orang untuk hadir dan menuntaskan penasarannya. Berlokasi tak jauh dari Bandara, pengunjung dapat berkendara sepeda motor menuju arah Berbah dan mengikuti papan penunjuk jalan menuju Candi Abang. Di atas gundukan bukit teletubbies inilah terbentang panorama sebagian daerah istimewa Yogyakarta yang berlatarkan bukit-bukit hijau membentang.

abang2
Kehangatan Senja dari atas bukit “teletubbies” Candi Abang

Ketika hari sedang cerah, pasangan kekasih datang dan mengabadikan kemesraan mereka di atas bukit Candi Abang. Tak hanya pasangan yang berpacaran, jomblowan jomblowati juga diundang untuk turut hadir dan menikmati Candi Abang.

Candi Abang hanyalah salah satu dari sekian banyak tempat menikmati senja di Yogyakarta. Lantunan senja, perjalanan surya kembali ke peraduan tetap menjadi daya tarik bagi manusia untuk berkontemplasi.

Bersambung…………..