Arsip

Tahun ini adalah tahun ketiga saya tinggal di Jakarta, tepatnya di kawasan Jalan Daan Mogot. Jalanan ini tidak ada matinya, ia menjadi arteri yang menghubungkan Jakarta dengan Kota Tangerang. Di hari kerja, pagi-pagi aspalnya sudah dipadati roda-roda kendaraan dari arah timur ke barat, dan sebaliknya di sore hari. Jam tiga pagi pun, saat saya tiba naik kereta malam, jalanan ini tetap ramai lalu-lalang kendaraan.

  Delapan dekade lalu perang mahadahsyat pernah berkecamuk. Perang yang bermula di Eropa dengan cepat menjalar ke berbagai penjuru dunia, tak terkecuali kepulauan Nusantara yang kala itu masih bernama Hindia-Belanda. Meski pada tahun 1945 perang dinyatakan berakhir dan dimenangkan oleh pihak Sekutu, jerit dan pilu keganasannya tak pernah benar-benar sirna. Kemenangan sekalipun tak mampu memulihkan luka dari perang.

Bicara tentang jajah-menjajah bisa jadi hal yang cukup sensitif. Kendati Indonesia sudah meraih kemerdekaannya, masih ada beberapa kontroversi seputar sejarah penjajahan dulu. Salah satu yang pernah saya dengar adalah imaji jika saja seandainya Indonesia dulu dijajah Inggris.

Sebagai orang Bandung yang bekerja di Jakarta, untuk urusan bepergian di antara kedua kota ini saya lebih memilih menaiki kereta api. Ada beberapa kelebihan yang bisa didapat dari kereta api, antara lain: tarifnya bersahabat, waktu tempuhnya yang tidak lama-lama amat, dan tentunya bebas macet.

  Saat melakukan walking tour di kawasan Pecinan Jakarta beberapa bulan silam, langkah kaki saya terhenti di depan sebuah kelenteng. Sementara para umat yang jumlahnya puluhan tampak menunaikan sembahyang dengan khusyuk, aroma harum dari dupa yang mereka bakar menyeruak hingga ke luar bangunan. Aromanya begitu khas dan semerbak, seolah menghadirkan setitik kesan nirwana di atas bumi.

  Menjelang libur tahun baru kemarin, rekan-rekan di kantor bertanya: “Libur nanti mau ke mana?” “Ke Lasem,” jawab saya.