Arsip

Setiap kali hendak berkunjung ke rumah kerabat di desa, aku sengaja tidak pernah memberitahukannya dulu kepada mereka. Bukan karena ingin memberi kejutan, tapi supaya tidak merepotkan. Kalau aku mengabari terlebih dahulu, mereka pasti akan merepotkan diri dengan memasak berbagai makanan. Padahal, aku bukanlah tamu istimewa, hanya seorang biasa yang suka melarikan diri dari Jakarta tiap akhir pekan.

  Jam telah menyentuh pukul satu dini hari. Delapan anak tergopoh-gopoh memasuki rumah seraya kedinginan, kelaparan, dan kelelahan akibat hujan-hujanan di lapangan kecamatan. Simbah yang telah tertidur jadi terbangun. Tak tega melihat kedelapan anaknya kedinginan, ia pun melupakan kantuknya, bergegas ke dapur, membuat perapian, dan memasak mie rebus untuk kami berdelapan.

Senyum lebar tersungging di wajah Pak Rohmat ketika mempersilahkan kami berdua masuk ke dalam kedainya yang sederhana. Hari itu di Sabtu pagi, kami adalah pengunjung pertama yang datang ke kedai kopi nan legendaris di perbukitan Menoreh.

Dari titik kami berdiri terhampar panorama pagi–aku menyebutnya sebagai Kahyangan versi Jawa. Tiga gunung nan agung tersaji jelas di depan pandangan, yaitu Merbabu, Sumbing dan Sindoro.

Rasa rinduku pada Jogja tak akan pudar. Ibarat benih yang ditanam di tanah dan bertumbuh, demikian juga rasa rindu itu. Waktu dan jarak menjadi matahari dan air yang menumbuhkan benih itu.

Jalanan di Samigaluh sungguh sepi, tak ada lagi anak muda yang nongkrong bergerombol di minimarket ataupun warung mie ayam di pasar Plono. Papan-papan kayu penunjuk arah telah hilang sempurna. Samigaluh telah kembali ke ritmenya yang sepi dan tenang. Desember 2015 lalu, kecamatan di utara Kulonprogo ini kedatangan tamu sebanyak 800 orang mahasiswa dari Atma Jaya untuk melakukan KKN  alias Kuliah Kerja Nyata selama satu bulan. Mahasiswa yang hidup di kota mau tidak… Baca Selengkapnya