Di Balik Senyum Hangat Simbah Ngatilah

 

Setiap kali hendak berkunjung ke rumah kerabat di desa, aku sengaja tidak pernah memberitahukannya dulu kepada mereka. Bukan karena ingin memberi kejutan, tapi supaya tidak merepotkan. Kalau aku mengabari terlebih dahulu, mereka pasti akan merepotkan diri dengan memasak berbagai makanan. Padahal, aku bukanlah tamu istimewa, hanya seorang biasa yang suka melarikan diri dari Jakarta tiap akhir pekan.

Continue reading “Di Balik Senyum Hangat Simbah Ngatilah”

Dari Perbukitan Menoreh, Kami Belajar Arti Hidup

Jam telah menyentuh pukul satu dini hari. Delapan anak tergopoh-gopoh memasuki rumah seraya kedinginan, kelaparan, dan kelelahan akibat hujan-hujanan di lapangan kecamatan. Simbah yang telah tertidur jadi terbangun. Tak tega melihat kedelapan anaknya kedinginan, ia pun melupakan kantuknya, bergegas ke dapur, membuat perapian, dan memasak mie rebus untuk kami berdelapan.

Continue reading “Dari Perbukitan Menoreh, Kami Belajar Arti Hidup”

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Kedai Kopi Menoreh: Ketika Kudapan Desa Naik Kasta

suroloyo1

Senyum lebar tersungging di wajah Pak Rohmat ketika mempersilahkan kami berdua masuk ke dalam kedainya yang sederhana. Hari itu di Sabtu pagi, kami adalah pengunjung pertama yang datang ke kedai kopi nan legendaris di perbukitan Menoreh.

“Monggo mas, mlebet mawon,” sapa Pak Rohmat dalam bahasa Jawa halus sambil mengarahkan kami ke area parkiran motor. Setelah mesin motor dimatikan kami mengamati sekeliling—begitu teduh dan menurut kami kedai ini lebih kelihatan seperti rumah biasa daripada sebuah kedai kopi.

Waktu itu jam belum genap menunjukkan pukul 07:00 dan sinar matahari masih malu-malu menerobos lebatnya pepohonan—juga masih tersisa embun-embun pagi yang menggelayut di ujung dedaunan.

Kami menghela nafas dalam-dalam dan merasakan kesegaran udara desa yang masih asri. Sebetulnya tujuan utama kami ke Kedai Kopi Menoreh ini adalah untuk mencari tempat istirahat supaya nanti bisa pulang kembali ke Jogja tanpa ngantuk. Sejak pukul 02:00 kami telah berkendara dari Jogja menuju Kulonprogo demi mengejar sunrise di Puncak Suroloyo. Dan sebelum kami bertolak pulang, Kedai Kopi Menoreh kami putuskan untuk disinggahi sejenak.

Pak Rohmat, sesosok pria paruh baya yang begitu ramah. Beliau berbicara bahasa Indonesia  dalam logat Jawa yang medhok namun nyaman didengar. Berhubung kami adalah pengunjung pertama di hari itu, maka kami berkesempatan untuk mengobrol panjang lebar dengan beliau.

Awal terciptanya Kedai Kopi Menoreh

Sejatinya nama Kedai Kopi Menoreh sendiri kami kenal lewat sebuah postingan teman di media sosial. Waktu itu kami jadi penasaran karena melihat aneka macam kuliner desa yang disajikan secara sederhana namun terlihat elok dan menggoda lidah. Setelah mencari informasi lewat Mbah Google, maka kami pikir tidak ada salahnya untuk singgah sejenak di kedai ini.

Pak Rohmat menuturkan kalau pada awalnya dia tidak menyangka kalau usaha kedai kopinya ini akan terkenal—setidaknya di kalangan wisatawan lokal. Waktu itu dia berinisiatif untuk mulai membudidayakan tanaman kopi di sekitar rumahnya. Tak puas dengan hanya menanam kopi, dia mencoba untuk memasarkannya lewat kedai yang dia bangun.

“Ya awalnya tetangga itu pada ketawa. Masak iya ada orang yang mau makan ke desa? Bikin restoran kok di tengah desa, ya lucu!” ucap Pak Rohmat sembari menirukan ekspresi tetangga-tetangganya ketika tahu rencana awal beliau untuk membuka kedai kopi.

Pada awalnya omongan para tetangga itu sempat membuat Pak Rohmat berpikir dua kali. Tapi, Pak Rohmat bersikeras untuk mencoba usahanya ini karena menurutnya di zaman digital ini semua mungkin—termasuk membawa orang kota datang ke desa untuk mencicipi makanan kampung.

Bulan-bulan pertama usahanya belum terlihat membuahkan hasil. Tetapi, dia terus gigih mengenalkan produk kopi dan kedainya kepada rekan-rekannya di kota Jogja. Sampai suatu ketika mulai ada orang-orang yang tertarik dengan kopinya. Yap! Kopi yang disajikan di kedai Pak Rohmat adalah kopi yang dia tanam sendiri dan juga diolah sendiri.

Lama-lama, kabar tentang Kopi Menoreh ini dengan cepat menyebar. Setiap pengunjung yang hadir memberikan kesan dan pesan mereka lewat akun media sosial sehingga secara tidak langsung ini juga menjadi berkah promosi bagi Pak Rohmat.

Selain kopi, Pak Rohmat juga menyajikan aneka wedangan lainnya. Penyajiannya pun unik karena setiap makanan diletakkan di sebuah nampan yang terbuat dari kayu dan disajikan lengkap dengan aneka kudapan desa lainnya seperti kacang rebus, singkong rebus, dan geblhek yang adalah makanan khas Kulonprogo.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Setiap akhir pekan kedai Pak Rohmat akan ramai dikunjungi oleh banyak orang. Ada komunitas pesepeda, komunitas motor, juga banyak orang yang seusai menikmati matahari terbit di Suroloyo akan mampir menyempatkan diri di kedai Pak Rohmat.

Tak terasa seraya berbicang dengan Pak Rohmat ternyata kami sudah menghabiskan seluruh makanan di atas meja. Untuk memuaskan gelora perut di pagi hari, kami pun memesan dua piring mie goreng ditambah sepaket kacang rebus.

Ragam Kudapan khas Desa

Satu paket wedangan yang disajikan di kedai Pak Rohmat dibanderol antara harga Rp 12.000,- hingga Rp 25.000,-. Menu yang kami pesan adalah paket teh panas seharga Rp 12.000,-. Terlepas dari harganya yang bersahabat, menikmati kudapan di Kedai Pak Rohmat mengingatkanku tentang kehidupan di desa yang dulu pernah dijalani selama masa Kuliah Kerja Nyata.

Makanan khas desa memang terlihat sederhana tapi sungguh nikmat untuk disantap. Aroma teh dan empuknya singkong rebus membangkitkan memori tentang nuansa pedesaan yang aman, damai, dan tenteram.

Lewat kedai ini Pak Rohmat ingin membuktikan kalau kudapan desa itu nikmat dan bisa dinikmati oleh siapapun. Dari balik kesederhanaannya, kudapan desa mengandung filosofi hidup. Sekilas mungkin kudapan itu tampak biasa, tapi ketika dinikmati bersama teman sebagai pelengkap obrolan tentu rasanya akan jadi lebih nikmat!

Setelah mie goreng datang dan habis kami santap, kami pun larut dalam mimpi selama dua jam. Sungguh nikmat berada di kedai kopi Pak Rohmat karena suasana begitu tenang dan teduh. Tak ada suara bising kendaraan bermotor, yang ada hanyalah suara ayam dan bebek yang sesekali terdengar.

Setelah perut terisi penuh, kami undur diri kepada Pak Rohmat. Dan tak lupa, untuk melengkapi dokumentasi perjalanan, aku pun berfoto dulu dengan Pak Rohmat!

IMG_9823
Bersama juragan kopi, Pak Rohmat

Terima kasih pak, kapan-kapan kita berjumpa lagi!


Nama: Kedai Kopi Menoreh Pak Rohmat

Lokasi: Dusun Madigondo, Kecamatan Samigaluh, Kabupaten Kulonprogo

Jarak tempuh: Sekitar 1-2 jam dari kota Yogyakarta ke arah Samigaluh, bisa juga masuk melewati Gereja Boro (Banjarasri), Kalibawang.

 

 

 

Menyapa Fajar nan Hangat di Puncak Suroloyo

suro5
Gunung Sumbing dan Sindoro

Langit masih gelap dan bunyi jangkrik masih terdengar jelas saat kami memarkirkan kendaraan di pelataran Puncak Suroloyo. Jam baru menunjukkan pukul 04:50, tapi kami tidak datang terlalu awal untuk menyaksikan pesona fajar. Langit yang semula pekat perlahan mulai meluntur namun masih tertutup awan-awan kelabu.

Perjalanan kami ke Suroloyo diawali dari rasa penasaran. Sore hari sebelumnya kami baru saja menjelajah area Panggang, Gunungkidul, tapi namanya jiwa muda, rasa capek bukan berarti perjalanan harus ditunda. Pukul 02:30 kami sudah memacu kembali sepeda motor, membelah jalanan lengang kota Yogyakarta menuju kabupaten Kulonprogo.

Jalanan di provinsi D.I Yogyakarta bisa dibilang sangat mulus, tak banyak lubang menganga yang dibiarkan begitu saja. Kontras dengan tempat asalku di Jawa Barat yang banyak sekali jalanan rusak. Selepas daerah Godean, deretan rumah penduduk berganti menjadi hamparan sawah nan luas lengkap dengan halimun pagi yang masih menggantung di atasnya. suro6

Nuansa pagi masih terasa begitu syahdu tatkala motor kami mulai ngos-ngosan melibas jalanan menanjak Kulonprogo. Ada baiknya sebelum berkunjung ke Suroloyo, pastikan dahulu kendaraan yang akan digunakan dalam kondisi prima. Tanjakan yang dilalui bisa dibilang cukup curam, apalagi ditambah tikungan-tikungan yang mewajibkan pengendara ekstra hati-hati.

Pagi itu kami adalah orang pertama yang tiba di Puncak Suroloyo. Tak ada motor lain yang diparkir, hanya motor bebek merah kepunyaanku yang akhirnya beristirahat di pelataran. Untuk tiba di Puncak Suroloyo, ada ratusan anak tangga yang harus ditapaki. Tapi, sayang seribu sayang karena tangan-tangan usil orang Indonesia masih suka mengotori pegangan tangga dengan coretan-coretan alay. 

Usia kami boleh muda, tetapi gaya hidup kota harus membuat kami takluk pada Suroloyo. Anak tangga yang kami lalui segera membuat keringat mengalir deras dan nafas tersengal-sengal. Setiap lima anak tangga kami berhenti sejenak, menghela nafas seraya agak membungkuk.suro3

Perjuangan kami terbayar lunas ketika kaki berhasil menjejak Puncak Suroloyo. Kami berdiri di titik tertinggi Kabupaten Kulonprogo, yaitu 1.600 meter dpl. Dari titik kami berdiri terhampar panorama pagi–aku menyebutnya sebagai Kahyangan versi Jawa. Tiga gunung nan agung tersaji jelas di depan pandangan, yaitu Merbabu, Sumbing dan Sindoro.

Kami sangat beruntung karena awan-awan kelabu dengan ikhlas menyingkirkan dirinya dan memberi kami kesempatan untuk melihat pemandangan nan agung itu. Semburat cahaya fajar yang kekuningan memudarkan kepekatan gulita malam. Lambat laun cahaya fajar itu menjadi semakin oranye yang menghasilkan paduan yang nikmat dipandang.

suro2
Awan Pagi

Kami memandang gunung-gunung itu dengan penuh takjub, angin pagi pun berhembus keras menerpa tubuh kami. Jika berdiri agak lama, lambat laun rasa dingin pagi itu mulai menusuk. Kami pun duduk-duduk di sebuah pendopo yang sengaja dibangun di atas puncak.

Tapi, kami harus menahan rasa kecewa karena ulah turis-turis lokal yang memang kelewat iseng. Hampir setiap sudut pendopo diberi coretan, entah tulisan siapa sayang siapa, atau sekedar nama-nama tidak jelas. Aneh memang, tak bisakah mereka hanya mengambil foto dan menikmati alam tanpa merusak?

suro4
Pondok kecil di atas Puncak Suroloyo

Ketika jam menunjukkan pukul 06:30, kami pun kembali ke area pelataran parkir. Hari itu adalah weekday, sehingga belum ada warung yang buka. Di udara nan dingin itu paling nikmat adalah menyeruput segelas teh panas, tapi karena waktu masih terlalu pagi maka perjalanan kami dilanjutkan dengan turun ke Desa Madigondo.

Kami akan kembali lagi ke Suroloyo, entah kapan. Pesona pagi di tempat itu telah menghipnotis kami untuk kembali singgah kepadanya.

5 Hal yang Membuat Jogja Selalu Layak Kurindukan

blog2

“Pergi karena semangat, pulang karena rindu.”

Nama Jogja terdengar begitu istimewa, apabila kata itu terucap, tiba-tiba rasa rindu segera mendekap. Seringkali teman-teman bertanya heran, mengapa aku begitu baper dengan Jogja. Apakah ada pengalaman buruk atau manis yang pernah terjadi di sana?

Memang, aku tidak terlahir di Jogja, hanya empat tahun dari 23 tahun hidupku yang terselip di Jogja. Di waktu yang singkat itulah Jogja mengasuhku lewat kesederhanaan dan keramahannya. Aku diajari tentang arti membaur dari angkringan pinggir jalan, aku juga belajar tentang arti kenyang dari sebungkus nasi tempe. Ada banyak pelajaran yang telah kupetik dan kini membekas di hidupku.

Hampir tiga bulan telah berlalu sejak aku hijrah dari Jogja ke Jakarta. Waktu yang berlalu bukan alasan yang membuat rindu kian memudar. Inilah hal-hal yang membuat Jogja tak mungkin tergantikan:

  1. Angkringan “Bapak”, sebuah gerobak tanpa kasta

Angkringan di Jogja ibarat bintang di langit, ada di mana-mana. Setiap angkringan punya cerita. Jika ingin makan di angkringan yang elite, datanglah ke angkringan pendopo JAC yang harganya lumayan bikin kantong meringis. Jika ingin angkringan ber-wifi khas mahasiswa, bisa mampir ke angkringan “Tobat” yang berdiri sejak mendapat hidayah.

Dari puluhan angkringan yang pernah kusinggahi, ada satu angkringan yang paling favorit dan tak pernah absen kusinggahi. Angkringan “Bapak” aku menyebutnya. Angkringan ini unik karena baru buka pukul 00:00 tengah malam. Sang Bapak tua mendorong sendiri gerobak angkringannya, lalu menaikkannya di atas trotoar samping jembatan sungai Winongo, menata tikar, dan mulai memasak air panas. Semuanya ia lakukan sendiri, tapi nyaris tak ada raut sedih ataupun lelah di wajahnya.

blog3
Sebungkus nasi kucing seharga Rp 1.500,- beserta kudapan lainnya

Angkringan “Bapak” ini aku temuka pertama kali tahun 2010. Waktu itu aku masih SMA dan nekat backpackeran ke Jogja sendirian dari uang jajan yang disisihkan selama berbulan-bulan. Sebagai orang luar Jogja dan masih polos, melihat angkringan adalah sesuatu yang luar biasa bagiku. Selepas tahun 2010, di tahun 2012 aku kembali ke Jogja dan menetap untuk melanjutkan kuliah. Yes! Lalu aku menjadi pelanggan tetap angkringan Bapak.

Sensasi yang tak pernah terlupakan dari makan di angkringan “Bapak” adalah ketenangannya. Bayangkan, duduk di pinggir jembatan saat lewat tengah malam. Suasana begitu tenang, ditemani alunan lagu-lagu kuno berbahasa Jawa, menyeruput teh panas legit kentel sambil mengudap gorengan dan nasi kucing.

Nasi kucing di sini dibanderol Rp 1,500,- saja. Sepintas, nasi kucing tidaklah terlihat istimewa. Ia hanya sekepal nasi yang dibalut daun pisang dan dibubuhi sedikit tempe atau sambal teri di atasnya. Tapi, menikmati sebungkus nasi kucing tidak cukup hanya dengan lidah, tapi harus dengan hati. Makanan yang sederhana inilah yang merekatkan banyak orang di Jogja. Ada tukang becak hingga mahasiswa yang duduk bersama di gerobak angkringan dan mengobrol ngalor-ngidul hingga menjadi akrab.

img_0197
Angkringan Bapak

Aku lupa nama Bapak penjual angkringan itu. Tapi aku selalu ingat nada khasnya bicara. Dia selalu mengajak setiap pembelinya bercanda, kadang candaannya suka nyerempet saru, tapi ya itulah yang membuat angkringan ini hangat.

  1. Rumah Kost yang Bukan Sekadar Kost

Selain angkringan, salah satu yang selalu membuat baper adalah mengingat kenangan tentang kost. Selama 4 tahun di Jogja, teman-teman kost sudah jadi seperti keluarga. Kami tinggal satu atap dan mau tidak mau saling mengamati dari awal bangun hingga tidur malam. Lambat laun, nyaris tak ada lagi sekat-sekat antar penghuni kost.

blog6
Rumah Kost Manunggal Budi

Jika yang satu sakit, teman-teman kost yang akan membelikan makan, kadang juga membantu kerokan. Jika sedang galau dan insomnia, teman kost juga yang menemani pergi ke angkringan atau pos ketan susu. Karena kepercayaan itulah kost kami menjadi kost yang sangat aman. Tak perlu khawatir jika lupa menutup atau mengunci pintu, toh tidak bakal ada yang nyolong.

Selain dari teman-teman yang solid, Ibu Kost adalah ibu yang super baik. Sewaktu salah satu teman kost kami berulang tahun, beliau datang dan membawakan kami makanan beragam jenis dan kue ulang tahun. Lalu kami berkumpul di bawah dan makan malam bersama. Tak cukup di situ, ketika aku dan seorang teman lulus kuliah, beliau kembali datang dan menggelar tumpengan.

img_8539
Masukkan keterangan

Kostku dahulu dibangun atas dasar kepercayaan. Jika ada keluarga atau teman menginap, tidak perlu membayar uang tambahan selama mampu menjaga ketertiban. Dan salah satu yang membuat kostku semakin erat adalah kehadiran Mbak Oneng yang dinobatkan oleh Ibu Kost untuk merawat kost itu. Kehadiran Mbak Oneng membuat kost kami semakin asyik. Kadang-kadang kalau dia memasak, anak-anak kost bisa mencicipi masakannya.

  1. Simbah Ngatilah di Samigaluh 

“Lek do maem riyen, mas, mbak!” adalah kalimat yang paling sering diucapkan Simbah selama aku dan teman-teman Kuliah Kerja Nyata (KKN) tinggal di rumahnya. Simbah selalu memaksa kami untuk makan lebih banyak walau perut kami sudah penuh. Simbah adalah sebuah anugerah bagiku, sosok ketulusan seorang perempuan Jawa yang tidak tergerus arus zaman.

Simbah Ngatilah adalah istri dari seorang kepala Desa Banjarsari, Samigaluh, D.I Yogyakarta. Waktu itu di bulan Desember 2015 – Januari 2016 aku menumpang di rumah beliau selama satu bulan karena proyek KKN dari kampus. Rumah Simbah adalah surga bagiku karena terletak di atas bukit yang masih hijau pepohonan, tanpa ada tetangga, hanya ada suara soang dan kambing yang menemani. Satu bulan di rumah Simbah waktu itu lebih terasa seperti di rumah sendiri ketimbang di lokasi KKN. blog5

Setelah KKN usai dilaksanakan, hubungan kami dengan Simbah tidak putus. Memang jarak memisahkan kami, dan sekarang pun sulit untuk bisa sering berkunjung ke rumah Simbah. Dulu saat kami berpamitan untuk pulang, Simbah sempat menangis karena merasa dirinya akan kesepian kembali setelah ditinggal “cucu-cucunya” ini.

Beberapa bulan sekali kami datang berkunjung ke rumah Simbah dan ia selalu menyambut kami dengan sukacita. Baru saja kami tiba di sana, beliau lansung pergi ke hutan mencari buah rambutan atau pisang untuk nanti kami bawa pulang. Tak cukup di situ, beliau segera menyiapkan perapian dan memasak buat kami. img_2032

Aku terharu dan berpikir, “siapakah aku ini?” tapi Simbah menganggap anak-anak KKN di rumahnya sebagai cucu. Simbah tidak mau diberi uang listrik, padahal listrik rumahnya setiap hari tersedot karena kami. Dan Simbah juga memanggilku dengan panggilan “Kelik”, sebagai panggilan akrabnya.

4. Jangan sampai kuliah menganggu jalan-jalan 

Itulah prinsip yang kupegang selama kuliah dulu. Tapi jangan pikir karena prinsip itu kuliahku berantakan ya karena di akhir studi aku bisa lulus dengan predikat cum laude. Jadi kurasa prinsip itu tidaklah salah sekalipun banyak orang yang terkadang nyinyir setiap kali melihat postingan jalan-jalanku.

Jogja adalah surga wisata dan menjadi gerbangku untuk bertemu dengan teman-teman dari dunia luar. Dari Jogjalah aku belajar bahasa Inggris secara otodidak dan bertemu dengan rekan-rekan backpacker dari seluruh dunia. Yap, semua terjadi di Jogja. Jika waktu itu aku tidak tinggal di Jogja, mungkin tidak ada namanya jalan-jalan keliling Indonesia.

IMG_5500.JPG
berkeliling ke sekolah di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Desember 2015

Aku bersyukur karena kampus tempatku belajar ternyata mendukungku untuk tak hanya kuliah, tapi juga untuk berkarya lewat jalan-jalan. Selama kuliah sejak semester empat hingga sembilan, aku bekerja sebagai seorang student staff di Kantor Kerjasama dan Promosi.

Tugasku adalah mengenalkan kampusku kepada anak-anak SMA di seluruh Indonesia. Bekerja di kantor ini adalah suatu kehormatan karena kampusku yang besar ini mempercayakan tanggung jawab kepada mahasiswa yang memang belum banyak pengalaman. Aku belajar mengelola waktu antara kuliah dan pekerjaan, belajar juga ilmu-ilmu marketing, belajar tentang menjadi seorang pekerja yang baik.

Bandar Lampung, Medan, Siantar, Pontianak, Bangka Belitung, Madiun, Semarang, hingga Palangkaraya telah kusinggahi karena pekerjaan ini. Ada satu sukacita besar ketika bisa bekerja sesuai dengan passion. Melihat semangat anak-anak sekolah di berbagai daerah di Indonesia itu sungguh menarik. Di kantor ini kami tidak hanya bercerita mempromosikan kampus, tapi kami juga berbagi pengalaman tentang tantangan, juga harapan yang bisa diperoleh ketika mereka memutuskan pergi ke Jogja.

5. Teman-teman istimewa: madhang ora madhang, sing penting guyub!

Makan atau tidak, yang penting ngumpul. Inilah semangat kebersamaan dari teman-teman Jogja. Kini saat aku bekerja di Jakarta, teman-teman kampus dari Jogja adalah teman yang bisa dibilang paling kompak dan memiliki solidaritas tinggi. Dibesarkan di kota yang sama membuat kita bisa sama-sama baper ketika saling menyebut kata “Jogja”.

Selama empat tahun, aku mendapati temanku telah menjadi sebuah keluarga. Saat kuliah teman-teman itu berasal dari berbagai daerah di Indonesia, dan ketika liburan tiba seringkali aku ikut mudik ke rumah mereka. Berawal dari iseng-iseng ikut mudik inilah yang akhirnya membawaku memiliki keluarga baru. HMPSKOOM

Pergi kemanapun selalu ada teman, mulai dari Aceh, hingga Papua. Saat pertengahan 2015 ketika sedang berada di Aceh Tengah, aku sempat bingung karena tidak mendapat tempat untuk menginap. Beruntung ada teman satu kampus yang berasal dari daerah sana. Kami memang tidak terlalu dekat, tapi kemudian temanku itu memberiku nomor orang tuanya dan akhirnya aku mendapatkn tempat bermalam di sana.

Salah satu harta terbesar di masa muda adalah teman-teman. Memiliki teman itu memperkaya pemikiran kita. Lewat diskusi, curhat, makan bareng, nangis bareng, di situlah pemikiran kita dibentuk dan saling membentuk. Lewat kegiatan-kegiatan organisasi di kampus yang diikuti, kehadiran teman-teman itu terlalu indah untuk dilupakan.

****

Tiga bulan hampir berlalu sejak aku meninggalkan Jogja. Rasa rinduku pada Jogja tak akan pudar. Ibarat benih yang ditanam di tanah dan bertumbuh, demikian juga rasa rindu itu. Waktu dan jarak menjadi matahari dan air yang menumbuhkan benih itu.

Mungkin Jogja tak kan pernah lagi jadi tempatku menetap, tapi dia akan selalu jadi tempat untuk kembali mengingat masa manis. Tempat untukku bertetirah dan menikmati dunia lewat segelas teh panas dan nasi kucing.
Jakarta Barat, 8 Februari 2017