Yanto dan Paijo, Dua Sahabat Beda Bangsa

Yanto dan Paijo, Dua Sahabat Beda Bangsa

 

“Hey Ary!

How are you doing? it´s been a long time since we chatted last time. Hope you are doing well. Many things have happened, also strong earthquake etc. in sulawesi. I wish all the best for your country.” Lanjutkan membaca “Yanto dan Paijo, Dua Sahabat Beda Bangsa”

Ada di Jogja, Tiada di Jakarta

Ada di Jogja, Tiada di Jakarta

Kereta Api Jaka Tingkir mengantarkan saya tiba di Stasiun Lempuyangan. Di depan stasiun, Tegar sudah menanti. Di kepalanya masih terpasang helm hitam merek Honda, yang tak konsisten dengan motor bebeknya, Yamaha.  Lanjutkan membaca “Ada di Jogja, Tiada di Jakarta”

Teman yang Sedikit, Teman yang Asyik

Teman yang Sedikit, Teman yang Asyik

 

Ketika Facebook baru mulai dikenal di tahun 2008 lalu, saya masih menjadi seorang bocah SMP yang sedang rajin-rajinnya singgah ke warnet untuk bermain Friendster, media sosial yang begitu populer pada zamannya. Buat saya pribadi, Friendster ini luar biasa menarik. Selain bisa menampilkan foto diri yang dinilai paling cakep, saya juga bisa menggonta-ganti latar halaman sesuai selera. Dan, yang paling menarik adalah saya bisa kepo sedikit-sedikit di akun gebetan. Lanjutkan membaca “Teman yang Sedikit, Teman yang Asyik”

Sebuah Amplop (Lagi) dari Jerman

Sebuah Amplop (Lagi) dari Jerman

 

Minggu kemarin (24/9), saya menerima sebuah pesan Whatsapp dari seorang kerabat di gereja. “Ada surat buatmu dari Jerman,” katanya. Saya mengernyit. Sebelumnya tidak ada pemberitahuan terlebih dulu dari Johannes Tschauner (Jo), sahabat saya yang berada di Jerman kalau dia akan mengirimkan sepucuk surat ke Indonesia. Lanjutkan membaca “Sebuah Amplop (Lagi) dari Jerman”

Bukan Kampung Halaman, Tapi Temanggung Selalu Memanggil Pulang

Bukan Kampung Halaman, Tapi Temanggung Selalu Memanggil Pulang

 

Kalau ada yang bertanya “kamu ini orang mana?” jujur, aku bingung menjawabnya. Secara geografis, aku lahir dan menghabiskan hidup selama 18 tahun di Bandung. Kemudian, selama 4,5 tahun aku hijrah di Jogja dan sekarang hampir setahun tinggal dan menyatu dengan ritme kehidupan di Jakarta. Lanjutkan membaca “Bukan Kampung Halaman, Tapi Temanggung Selalu Memanggil Pulang”

Ketika Ejekan Jadi Perekat Persahabatan

Ketika Ejekan Jadi Perekat Persahabatan

 

Semua orang tahu bahwa mengejek adalah perbuatan yang kurang terpuji. Apalagi jika ejekan tersebut sudah mengarah kepada perundungan alias bullying. Tetapi, dalam kamus persahabatan, terkadang kasusnya berbeda. Alih-alih menjadi perusak, ejekan justru membuat keakraban antar sahabat kian erat. Sampai-sampai, ada sebuah quote anonim yang berkata: Level tertinggi sebuah persahabatan adalah ejekan dan makian.

Lanjutkan membaca “Ketika Ejekan Jadi Perekat Persahabatan”

Cerita Tentang 3 Sahabat

Cerita Tentang 3 Sahabat

Layar ponselku menyala. Tampak sebuah pesan masuk di grup LINE.

“Gw udah beres interview, katanya sih keputusan malam ini,” tulis Iko.

Pesan itu disambut dengan balasan-balasan pertanyaan lainnya dariku dan seorang lainnya bernama Yoses. Hari itu, Iko baru saja menyelesaikan tahapan interview yang menentukan ke mana hidupnya akan menuju setelah lulus jadi sarjana. Satu hari berselang, Iko pun diterima bekerja. Ia harus segera berkemas pindah dari Bandung, kota yang mempertemukan dan membesarkan persahabatan kami bertiga.

Lanjutkan membaca “Cerita Tentang 3 Sahabat”

Surat untuk Temanku yang Tak Lagi Bujang Hari Ini

Surat untuk Temanku yang Tak Lagi Bujang Hari Ini

 

Aku masih tidak menyangka bahwa obrolan ngalor-ngidul di pelataran Candi Barong tahun 2013 lalu itu menjadi kenyataan. Waktu itu, kami saling mengejek diri kami masing-masing sebagai seorang jomblo. Johannes, alias Paijo, pernah berpacaran di negerinya, kemudian putus. Senada dengannya, bahkan lebih tragis lagi, aku belum pernah berpacaran sama sekali.

Lanjutkan membaca “Surat untuk Temanku yang Tak Lagi Bujang Hari Ini”