Cerita Tentang 3 Sahabat

Layar ponselku menyala. Tampak sebuah pesan masuk di grup LINE.

Gw udah beres interview, katanya sih keputusan malam ini, tulis Iko.

Pesan itu disambut dengan balasan-balasan pertanyaan lainnya dariku dan seorang lainnya bernama Yoses. Hari itu, Iko baru saja menyelesaikan tahapan interview yang menentukan ke mana hidupnya akan menuju setelah dinyatakan lulus sebagai sarjana. Satu hari berselang, Iko diterima bekerja di perusahaan tempatnya melamar di Jakarta dan harus segera berkemas pindah dari Bandung, kota yang mempertemukan dan membesarkan persahabatan kami bertiga.

Continue reading “Cerita Tentang 3 Sahabat”

Surat untuk Temanku yang Tak Lagi Bujang Hari Ini

Aku masih tidak menyangka bahwa obrolan ngalor-ngidul di pelataran Candi Barong tahun 2013 lalu itu menjadi kenyataan. Waktu itu, kami saling mengejek diri kami masing-masing sebagai seorang jomblo. Johannes, alias Paijo, pernah berpacaran di negerinya, kemudian putus. Senada dengannya, bahkan lebih tragis lagi, aku belum pernah berpacaran sama sekali.

Continue reading “Surat untuk Temanku yang Tak Lagi Bujang Hari Ini”

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Dari Jakarta ke Sidareja—Perjalanan Singkat Bertemu Sahabat

IMG_3307Sidareja, mungkin tak banyak orang yang kenal dengan nama ini, sebuah kecamatan yang berjarak 350 kilometer dari Jakarta. Sidareja bukanlah nama tempat yang tersohor, tapi tempat inilah yang selalu jadi agenda wajibku tatkala akhir pekan atau tanggal merah datang menyapa.

Jauh-jauh hari sebelum libur Paskah mendekat, aku sudah bersiap di depan laptop untuk membeli tiket kereta api secara daring. Waktu itu masih satu setengah bulan sebelum hari Jumat Agung, tapi tiket kereta api Serayu Malam dari Jakarta Pasar Senen menuju Purwokerto telah ludes tak bersisa. Alhasil, aku hanya bisa gigit jari sambil berpikir keras mencari alternatif transportasi lain.

Akhirnya kuputuskan untuk kembali menggunakan bis malam menuju Sidareja. Sebenarnya, naik bis itu tidak buruk-buruk amat, malah lebih mudah daripada naik kereta karena lokasi terminal hanya satu kilometer dari kantor, jadi tentu lebih mudah mencapainya. Tapi, dua bulan lalu saat naik bis dari Jakarta ke Sidareja, bis yang kutumpangi malah mogok dan seluruh penumpangnya ditelantarkan di pinggiran tol Jagorawi sampai tengah malam. Tapi, apa boleh buat, daripada liburan hanya membusuk di kost, lebih baik bersusah sejenak di atas bus.

Ketika hari keberangkatan tiba, mimpi burukku ternyata tidak terjadi. Perjalanan dari Jakarta menuju Sidareja ditempuh selama 15 jam karena macet parah yang mengular dari Jakarta Barat hingga Bekasi Timur. Macet itu sungguh menyiksa! AC bis yang dingin menjadi pemicu tubuh untuk memproduksi urin, tapi tidak tersedia wc di dalam bus. Menahan pipis berjam-jam adalah hal yang paling menyebalkan dari bepergian menaiki bis malam.

Selamat datang di Sidareja

Pukul 07:30, bis yang kutumpangi tiba di terminal Sidareja. Baru saja bis menepi, puluhan tukang ojek dengan logat ngapak-nya segera merangsek ke dalam bis untuk mencari penumpang. Tapi, mereka sepertinya agak menyesal karena kebanyakan penumpang telah dijemput oleh kerabatnya masing-masing. Dengan lunglai, satu per satu tukang ojek itu turun ke luar bus.

Pagi itu masih sepi. Kehidupan di desa belum menunjukkan geliatnya sekalipun matahari telah benderang. Toko-toko di sekitar terminal masih tutup, juga jalanan begitu lengang. Tak lama sebuah sepeda motor tua menghampiriku. Pengemudinya bertubuh gempal dan matanya masih sembab karena baru bangun tidur. Dia tidak memakai helm, ataupun atribut keselamatan lainnya.

Senyumku tersungging, demikian juga senyumnya. Kami berjabat tangan erat, lalu saling menepuk pundak dan mengejek satu sama lain. “Gendut koe, mirip Kim Jong Un! Jam segini baru bangun piye toh,” ejekku. Memang candaan kami sesekali diselingi dengan ejekan, tapi inilah yang membuat kami akrab. Sekalipun jarak telah memisahkan, tapi kami berdua masih dan tetap berkawan erat. Sahabatku itu bernama Roland, yang sering kusebut Kim Jong Un dan masih bergulat dengan skripsinya yang belum kunjung tuntas.

IMG_0546
Jaga toko 

Rumah temanku, tempat aku tinggal adalah sebuah rumah yang sederhana. Rumah ini tidak punya pekarangan baik di depan ataupun belakangnya. Bagian depan rumah adalah toko kelontong yang sudah berdiri sejak puluhan tahun silam. Toko kelontong ini telah bertahan melewati rintangan zaman. Sekalipun di kanan dan kiri mini-market sudah menjamur, tapi toko ini tetap tidak kehilangan pesonanya.

Menemukan rumah kesekian di Sidareja

Sejatinya, tidak ada yang istimewa dari Sidareja. Layaknya desa-desa pada umumnya, di Sidareja menghampar sawah nan luas, sungai-sungai yang meliuk, dan senyuman hangat dari tiap penduduknya. Tapi, bagiku sendiri, Sidareja tidak hanya sebuah desa, tapi dia juga adalah rumahku yang kesekian.

IMG_3042
Senja di tepi persawahan Sidareja

Aku dan temanku itu baru saling mengenal empat tahun lalu karena kami sama-sama menempuh kuliah di Jogja. Karena pernah beberapa kali duduk dalam satu kelas yang sama, akhirnya kami menjadi teman dan akrab. Salah satu hal yang membuat pertemanan ini menjadi akrab adalah ejekan dan guyonan. Dulu, tiap kali bertemu selalu saja ada ejekan baru yang tercipta. Lalu, ketika aku sudah lulus duluan, ejekan-ejekan yang dulu pernah dibuat ternyata masih abadi. Itu tidak melukai hati kami masing-masing, tapi ternyata malah menjadi pupuk yang menyuburkan pertemanan.

Sekalipun aku adalah orang lain, tapi penghuni rumah kediaman temanku itu selalu menyambutku dengan hangat. Ada makanan yang special selalu tersaji di meja makan setiap kali aku datang. Aku bebas melakukan apapun di sana, seolah aku telah menjadi bagian dari rumah itu selama bertahun-tahun.

Ada sayur bening, gorengan, mie goreng, ayam goreng, dan kerupuk yang menjadi suguhan setiap kali makan digelar. Sang ibu pemilik rumah tahu betul kalau aku adalah anak kost yang merana di ibukota, jadi dengan semangat dia membuatkan makanan itu. Kalau nasi di piringku dilihatnya terlalu sedikit, dia akan memaksaku untuk mengambil lebih banyak lagi, lagi, dan lagi sampai aku menyerah.

Tiga hari yang kuhabiskan di Sidareja membuatku merasa amat bersyukur karena diberi anugerah dan kesempatan Tuhan untuk menikmati kebaikan-Nya lewat orang-orang yang hadir di sekitarku.

Tiga hari di Sidareja adalah hari-hari yang menyembuhkan penatku. Aku belajar dan menikmati kehidupan sebagai seorang warga desa, juga sebagai seorang pedagang Tionghoa. Setiap hari, aku ikut duduk menjaga toko dan sedikit-sedikit belajar tentang bahasa ngapak dan barang-barang yang dijual.

Ketika mini-market datang menyerbu Sidareja, toko temanku ini masih bertahan dan laris karena memiliki banyak kelebihan. Memang secara fasilitas tidak senyaman mini-market modern, tapi soal kelengkapan barang jangan ditanya. Barang-barang dari zaman super lawas hingga saat ini masih lengkap tersedia, dan itulah yang dicari oleh pembeli yang kebanyakan adalah petani.

Berbagai jenis tembakau, kertas rokok, kemenyan, pil-pil obat oplosan, jamu kuat lelaki, obat nyamuk cap king-kong hingga beragam kuliner dan perkakas kecantikan semua tersedia di toko ini. Hebatnya, pembeli desa adalah pembeli yang loyal. Untuk urusan obat nyamuk, warga desa di sini hanya mau membeli obat nyamuk cap king-kong, bukan yang lain. Sekalipun obat nyamuk sekarang telah tersedia dalam berbagai jenis, tapi obat nyamuk bakar cap king-kong ini tidak pernah susut pamornya. Memang luar biasa cap king-kong ini.

Bagiku yang tinggal di Jakarta, bahasa Jawa ngapak di Sidareja ini selalu unik untuk didengar. Jika dulu di Jogja orang-orang berbicara bahasa Jawa dengan halus, Sidareja jauh dari kata halus. “Aduh, wetenge inyong kencod!” adalah kalimat favoritku! Aduh, perutku lapar, begitulah arti kalimat itu. Bahasa Jawa ngapak dilantunkan dengan cepat dan intonasinya unik! Sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata.

Perjalanan tidak selalu tentang tempat

Setelah melewatkan tiga hari di Sidareja, tibalah saatnya untuk aku kembali bekerja ke Jakarta. Saat berpamitan untuk pulang, ibunda dari temanku itu berpesan, “Kamu jangan sombong ya. Jangan lupa sama rumah ini. Kalau ada libur harus ke sini, ini rumahmu juga loh. Ditunggu ya, ati-ati di jalan!” ucapnya sambil tersenyum lebar.

Kata-kata itu bukan hanya isapan jempol. Hingga detik itu, sudah lebih dari lima kali aku bolak-balik berkunjung ke Sidareja sejak tahun 2013 lalu. Sambutan rumah itu setiap kali aku datang tetaplah sama, bahkan lebih hangat setiap harinya.

Hari itu aku kembali menyadari bahwa perjalanan tidak selalu bicara soal tujuan yang eksotis, tapi seringkali perjalanan adalah tentang siapa yang kita temui. Perjalanan adalah sarana terbaik untuk membentuk kita. Orang bijak pada masa lampau pernah berkata, “Besi menajamkan besi, dan manusia menajamkan manusia.” Pertemuanku dengan rupa-rupa manusia dalam perjalanan, itulah yang membentuk diriku. Yap, membentuk diriku untuk senantiasa memahami perbedaan, rendah hati, dan bijaksana dalam berpikir maupun bertindak.

Terima kasih Sidareja untuk tiga hari yang singkat namun penuh cerita ini!
Sampai bertemu di lain kesempatan ya!

 

Dua Pejalan Nekat—Disatukan Karena Tekad!

backpacker1

Kami tak terlalu sering bertemu, seingatku hanya tiga kali pertemuan yang pernah kami lakukan. Dua kali di Bogor dan satu kali di Yogyakarta. Tapi, jarangnya bertemu bukan menjadi jurang yang membuat pembicaraan kami tidak nyambung, malah tiap kali bertemu mulut kami seolah tak mau berhenti bicara tentang pengalaman dan mimpi kami masing-masing.

Hari Minggu yang lalu ketika hujan baru selesai mengguyur bumi Yogyakarta kami bertemu di Stasiun Tugu. Satu jam sebelum keberangkatanku kembali ke Ibukota Jakarta, seorang kawan sesama backpacker bernama Hendry Sianipar datang menghampiri. Sejatinya kami berdua bukanlah teman dekat yang saling mengenal sejak lahir. Kami baru saling mengenal di tahun 2015, itupun dari pertemuan tidak sengaja!

Temanku ini tahu betul makna dari sebuah pertemuan sehingga dia rela menyempatkan dirinya untuk bertemu denganku barang sejenak. Jika hari itu dia tidak datang ke stasiun Tugu dan memilih untuk berkutat dengan kegiatannya, itu pun tidak masalah buatku, toh masih bisa bertegur sapa lewat media sosial. Tapi, jiwa seorang traveler-nya masih membara, dan memalingkan diri dari bertemu seorang kawan bukanlah naluri seorang traveler. 

Hari itu adalah pertemuan kami yang ke-empat sejak kali pertama bertemu. Waktu telah banyak berubah, dulu kami berdua masih mahasiswa namun kini sudah menyandang status sebagai pekerja, tetapi ada sesuatu yang belum berubah dari kami, yaitu naluri menjelajah. Di waktu pertemuan yang singkat itu kami bertukar cerita tentang keluh kesah dalam pekerjaan masing-masing, dan dalam keluhan itu terselip sebuah angan yang masih belum padam—sebuah harapan untuk pergi traveling mengelilingi dunia!

Sebelum berbicara lebih jauh tentang angan nan edan itu, ada baiknya aku ceritakan terlebih dahulu mengapa pertemuan kami malam itu, yang kurang dari 30 menit di Stasiun Tugu itu begitu berkesan.

Pertemuan di Buitenzorg 

Jakarta begitu membosankan, dan melewatkan akhir pekan di Ibukota adalah hal yang paling kutakuti! Itulah imaji tentang Jakarta yang tersaji di pikiranku selama masa Internship di sebuah lembaga riset pada Agustus 2015 silam. Di salah satu akhir pekan bulan Agustus, aku memutuskan untuk pergi ke Bogor supaya pikiran kembali jernih dari hiruk-pikuk Jakarta. Tapi, berhubung waktu itu aku adalah mahasiswa berkantong tipis maka menginap di hotel bukanlah pilihan yang baik.

Dengan modal aplikasi Couchsurfing, aku memasang status bahwa aku akan pergi ke Bogor pada tanggal sekian dan berharap ada sesama couchsurfers yang berbaik hati untuk menyediakan tumpangan. Satu dua hari berlalu dan ada satu tanggapan dari seorang mahasiswa Bogor yang dengan senang hati bersedia menyambutku.

Singkat cerita kami bertemu di Stasiun Bogor lewat tengah malam, tepatnya pukul 00:30! Dan, Hendry, seorang couchsurfers yang belum kukenal itu dengan setia menanti di depan stasiun. Aku pikir waktu itu seharusnya dia marah dan memilih pulang saja karena kereta yang kutumpangi dari Jakarta mengalami keterlambatan lebih dari tiga jam.

Tapi, itu tidak dia lakukan. Alih-alih marah dan pergi, dia menyambutku dengan hangat dan menunjukkan pertalian antar backpacker yang kuat tanpa memandang perbedaan. Malam itu seketika kami menjadi akrab—aku banyak berbicara tentang pengalamanku melakukan Sumatra Overland Journey selama satu bulan penuh, dia pun bersemangat menceritakan tentang rencana travelingnya menuju negara-negara Asia Tenggara.

Selepas pertemuan singkat itu kami kembali ke dunia masing-masing tetapi masih saling bertegur sapa lewat Facebook. Beberapa kesempatan setelah itu kami masih sempat bertemu, entah itu ketika aku datang ke Bogor, atau ketika dia mampir ke Yogyakarta. Setiap pertemuan kami habiskan dengan berbagi ide tentang rencana masa depan dan pemikiran-pemikiran kami yang agak di luar kebiasaan orang-orang umumnya.

Memanggul Ransel, itu sebuah kenikmatan

Setelah kami berdua melepas status mahasiswa dan hidup mencari uang secara mandiri, satu tekad yang belum berubah adalah tentang kenikmatan dari memanggul ransel. Seringkali kami merasa sedih tatkala melihat orang berjalan dengan memanggul ransel di punggungnya. Kami ingin sekali kembali menjadi backpacker, tetapi ada tugas dan tanggung jawab yang harus kami emban. Kami tak lagi bebas karena ada pekerjaan yang harus kami jalani dengan sepenuh hati.

Tapi, satu mimpi besar kami adalah kelak bisa pergi menjelajah banyak tempat di dunia. Tidak, kami tidak akan melakukan itu untuk memanjakan diri kami, tapi kami percaya kalau setiap perjalanan itu mengajari kami banyak hal-hal baru. Jika dahulu kami hanya mengurung diri dalam rutinitas harian sebagai mahasiswa, tentu kami tidak akan pernah bertemu dan bertukar pemikiran.

Sekalipun pekerjaan telah menjadi bagian dari hidup kami, tapi kami berusaha untuk seimbang. Ransel kami masih memanggil untuk dipanggul di punggung. Dan dalam beberapa kesempatan aku selalu menggunakan akhir pekan untuk pergi menjelajah karena kini bepergian tidak selalu harus merogoh kocek dalam-dalam selagi masih bisa menggunakan angkutan kereta api kelas ekonomi.

Dari perjalanan, kami mensyukuri perbedaan 

Kami tak dapat membayangkan apa jadinya kami jika kami tidak terbiasa untuk hidup dengan berbagai macam manusia, mungkin kami adalah orang yang anti dengan perbedaan. Setiap kali bertemu, kami selalu membahas banyak masalah-masalah sosial dan mengutarakan pendapat masing-masing. Sekalipun hobi kami sama-sama suka jalan, tetapi mengenai pandangan hidup, tentu ada yang berbeda dari kami.

Dia melihat diriku sebagai orang yang religius, sedangkan aku melihat dirinya condong sebagai orang liberal yang memiliki banyak sekali pemikiran-pemikiran yang mendobrak norma. Tetapi, itu adalah karunia! Perbedaan apapun bukanlah suatu ancaman, melainkan sebuah kesempatan untuk kami membuka wawasan. Kami memiliki pandangan yang berbeda tentang Tuhan, tetapi satu yang pasti adalah kami sama-sama manusia yang hidup di bumi.

***

Tak terasa telah 30 menit kami lewatkan dalam sebuah diskusi singkat namun penuh makna. Kereta yang membawaku kembali ke perantauan segera akan segera datang dan tibalah saatnya kami untuk undur diri.

Bermimpi itu gratis, jadi kami mau banyak bermimpi tentang banyak hal sembari berusaha mewujudkannya satu per satu.

________________

Yogyakarta, 26 Februari 2017

 

 

Sebuah Amplop dari Jerman

Di zaman ketika segala pesan dikirimkan secara elektronik, minggu kemarin aku menerima sepucuk surat yang tersimpan rapi dalam sebuah amplop kecil. Kupikir itu hanyalah surat biasa yang berisikan promosi dari bank, tapi tebakanku salah. Setelah kulihat nama pengirimnya, ternyata amplop kecil itu dikirimkan jauh-jauh dari Eropa, melintasi samudera dan benua untuk tiba di tanganku.

Amplop itu dikirimkan oleh Johannes Tschauner, sahabatku dari Jerman. Tiga tahun lalu, tepatnya tanggal 8 September 2013 aku tidak pernah menyangka akan memiliki seorang sahabat dari bangsa yang berbeda. Kami bertemu di pinggir jalan kota Yogyakarta, tepatnya di depan sebuah gereja. Waktu itu aku sedang duduk-duduk di angkringan tatkala seorang bule jangkung menghampiri.

Aku tidak tahu harus berkata apa karena memang tidak fasih berbahasa Inggris. Bule itu menyapaku dan bertanya kapan jam ibadah gereja dimulai. Aku menjawabnya dengan terbata-bata kalau ibadah akan dimulai jam 17:30 dan saat itu waktu baru menunjukkan pukul 16:30. Kami pun mengobrol dan aku berkeringat dingin karena itu kali pertama aku berbicara seorang diri dengan seorang asing. Kami bertukar nomor telepon dan memutuskan untuk pergi ibadah bersama di minggu depan.

Pertemuan kali itu memacuku untuk berlatih bahasa Inggris secara otodidak. Sepulang di kost, kubuka google dan belajar tentang percakapan sederhana dalam bahasa Inggris. Kulatih diriku berbicara sendiri depan cermin di kamar. Terlihat konyol memang, tapi kupikir itu cara satu-satunya agar aku bisa berkomunikasi dan tak terlihat bodoh di depan si bule.

Minggu lewat minggu, kami menjadi akrab dan semakin akrab setelah mengetahui kalau kami memiliki hobby yang sama, yaitu jalan-jalan. Alhasil, setiap akhir pekan kami selalu melanglang buana berkeliling Jawa Tengah menggunakan sepeda motor. Aku yang berbadan kurus mengendarai motor dengan bule jangkung di belakangku.

Kami menikmati setiap jengkal perjalanan, melihat hijaunya sawah, segarnya air terjun, bertemu keluarga-keluarga baru. Tapi, setelah enam bulan berlalu, kami harus berpisah. Masa studi praktek Johannes di Yogyakarta telah berakhir, dan pada 1 Februari 2014 dia harus kembali ke Jerman.

Aku masih ingat jelas, waktu itu kami berpisah di stasiun Lempuyangan karena sebelum bertolak ke Jerman, Jo ingin ke Bali dulu. Ketika kereta akan segera berangkat, kami saling memeluk, mengucapkan salam perpisahan dan menangis haru. Jika mengingat kembali kejadian itu, rasanya lucu sekali melihat dua orang saling berderai air mata di stasiun yang padat.

Ternyata, perpisahan itu bukan menjadi akhir dari persahabatan. Johannes adalah tipe orang yang sangat mengapresiasi persahabatan. Kami tidak putus kontak, lewat piranti facebook kami mengobrol tengah malam, bersenda gurau, bicara politik, bahkan pasangan hidup.

Aku sering bercanda pada Jo kalau dia mungkin akan lama menjadi jomblo karena hobbynya traveling. Tapi, dia tetap bersikukuh kalau dia akan menikah duluan daripada aku.

Pertemuan Kedua di Sumatra

Dua tahun setelah perpisahan itu, Jo menamatkan studinya di Jerman. Lewat hasil tabungan yang ia kumpulkan, ia pergi keliling dunia menuju Asia Tengah, dan ia kembali memasukkan Indonesia di daftar akhir kunjungannya.
Waktu itu aku masih kuliah semester enam, dan dia mengirimiku sebuah pesan singkat di Facebook. Dia mengajakku pergi berkeliling Sumatra selama satu bulan dan menanggung semua biaya akomodasi di sana. Waw, aku bergeming. Aku punya mimpi berkeliling Indonesia, tapi tak punya cukup uang, dan hari itu mimpiku menjadi nyata.

11800522_1033349216675506_5578529676289788536_n
Sabang, 2015

Singkatnya, kami bertemu pada 25 Juni 2015 di Kuala Namu dan menghabiskan satu bulan penuh dengan mengembara dari satu kota ke kota lainnya, dari Medan menuju Sabang di Aceh, lalu menyusuri pegunungan di Aceh Tengah, menikmati hari nan damai di Tuk-tuk Siadong Danau Toba, dan menaiki bus ALS menuju Padang, Sumatra Barat.

Perjalanan 30 hari itu memberikanku esensi dari sebuah petualangan. Perjalanan itu mengajariku bahwa perjalanan tidak selalu bicara soal jarak, tapi soal siapa yang kita temui. Dan, hal yang paling menarik untuk dibagikan adalah sebuah cerita, bukan barang untuk dipamerkan.

Selamat!

Kembali kepada sebuah amplop kecil, ketika kubuka ternyata isinya berupa sebuah undangan pernikahan! Kupikir Johannes sedang bercanda ketika dia mengatakan padaku di Facebook kalau dia akan mengirimkan undangan asli ke alamat rumahku. “Buat apa kirim, aku juga tidak mungkin datang, dan kamu juga tidak punya uang untuk membiayai ke sana, haha” tulisku padanya.
Tapi, ia tidak bercanda, ia tetap kirimkan undangan itu. Dan, ada satu kalimat yang Johannes tulis. “Sekalipun aku tahu kamu tidak bisa datang ke Jerman, tapi undangan ini tetap kukirim sebagai bukti bahwa kamu adalah orang spesial, sahabatku, yang kehadirannya kunantikan.”

Undangan itu hanyalah sebuah kertas dengan tinta hitam yang tertulis diatasnya. Sekilas, tak ada yang istimewa di sana. Tetapi, motivasi di balik surat itu dikirimlah yang begitu istimewa buatku. Aku memahami arti seorang sahabat yang melintasi sekat bangsa dan budaya, sebuah ikatan, sebuah perjalanan, dan sebuah kebersamaan yang selalu hadir walau tak dalam rupa fisik.

Selamat, Johannes! Ucapanmu benar, kamu ternyata menikah duluan dan aku turut berbahagia atas itu. Kiranya suatu saat nanti kita dipertemukan kembali, di sebuah tempat yang kita belum tahu. Mungkin kita akan merayakan Natal bersama di Indonesia, atau sekadar melihat kangguru di Australia, atau mungkin juga menonton tari perut di Turki sana.

——–

Congratulations, my brother!

surat2
undangan sederhana