Teman yang Sedikit, Teman yang Asyik

Ketika Facebook baru mulai dikenal di tahun 2008 lalu, saya masih menjadi seorang bocah SMP yang sedang rajin-rajinnya singgah ke warnet untuk bermain Friendster, media sosial yang begitu populer pada zamannya. Buat saya pribadi, Friendster ini luar biasa menarik. Selain bisa menampilkan foto diri yang dinilai paling cakep, saya juga bisa menggonta-ganti latar halaman sesuai selera. Dan, yang paling menarik adalah saya bisa kepo sedikit-sedikit di akun gebetan. Continue reading “Teman yang Sedikit, Teman yang Asyik”

Sebuah Amplop (Lagi) dari Jerman

Minggu kemarin (24/9), saya menerima sebuah pesan Whatsapp dari seorang kerabat di gereja. “Ada surat buatmu dari Jerman,” katanya. Saya mengernyit. Sebelumnya tidak ada pemberitahuan terlebih dulu dari Johannes Tschauner (Jo), sahabat saya yang berada di Jerman kalau dia akan mengirimkan sepucuk surat ke Indonesia. Continue reading “Sebuah Amplop (Lagi) dari Jerman”

Bukan Kampung Halaman, Tapi Temanggung Selalu Memanggil Pulang

Kalau ada yang bertanya “kamu ini orang mana?” jujur, aku bingung menjawabnya. Secara geografis, aku lahir dan menghabiskan hidup selama 18 tahun di Bandung. Kemudian, selama 4,5 tahun aku hijrah di Jogja dan sekarang hampir setahun tinggal dan menyatu dengan ritme kehidupan di Jakarta. Continue reading “Bukan Kampung Halaman, Tapi Temanggung Selalu Memanggil Pulang”

Ketika Ejekan Jadi Perekat Persahabatan

Semua orang tahu bahwa mengejek adalah perbuatan yang kurang terpuji. Apalagi jika ejekan tersebut sudah mengarah kepada perundungan alias bullying. Tetapi, dalam kamus persahabatan, terkadang kasusnya berbeda. Alih-alih menjadi perusak, ejekan justru membuat keakraban antar sahabat kian erat. Sampai-sampai, ada sebuah quote anonim yang berkata: Level tertinggi sebuah persahabatan adalah ejekan dan makian.

Continue reading “Ketika Ejekan Jadi Perekat Persahabatan”

Cerita Tentang 3 Sahabat

Layar ponselku menyala. Tampak sebuah pesan masuk di grup LINE.

Gw udah beres interview, katanya sih keputusan malam ini, tulis Iko.

Pesan itu disambut dengan balasan-balasan pertanyaan lainnya dariku dan seorang lainnya bernama Yoses. Hari itu, Iko baru saja menyelesaikan tahapan interview yang menentukan ke mana hidupnya akan menuju setelah dinyatakan lulus sebagai sarjana. Satu hari berselang, Iko diterima bekerja di perusahaan tempatnya melamar di Jakarta dan harus segera berkemas pindah dari Bandung, kota yang mempertemukan dan membesarkan persahabatan kami bertiga.

Continue reading “Cerita Tentang 3 Sahabat”