Arsip

Suatu ketika di kota Yogyakarta saya bersantap pagi bersama seorang kawan lama. Perjalanan ke Jogja kali ini terjadi mendadak, tanpa direncanakan. Saya tiba di Stasiun Lempuyangan pagi hari dan siang harinya kembali bertolak ke Cilacap.

Sidareja. Mungkin nama tempat ini tidak begitu familiar di telingamu. Jika kamu mengetikkan namanya di peta Google, peranti itu akan menunjukkanmu sebuah wilayah di selatan Jawa, tepatnya di perbatasan antara Jawa Barat dan Jawa Tengah. Dan, di tempat itulah saya sering bertandang untuk berjumpa seorang kawan dan berjalan-jalan keliling kampung bersamanya.

  “Hey Ary! How are you doing? it´s been a long time since we chatted last time. Hope you are doing well. Many things have happened, also strong earthquake etc. in sulawesi. I wish all the best for your country.”

  Kereta Api Jaka Tingkir mengantarkan saya tiba di Stasiun Lempuyangan. Di depan stasiun, Tegar sudah menanti. Di kepalanya masih terpasang helm hitam merek Honda, yang tak konsisten dengan motor bebeknya, Yamaha. 

  Ketika Facebook baru mulai dikenal di tahun 2008 lalu, saya masih menjadi seorang bocah SMP yang sedang rajin-rajinnya singgah ke warnet untuk bermain Friendster, media sosial yang begitu populer pada zamannya. Buat saya pribadi, Friendster ini luar biasa menarik. Selain bisa menampilkan foto diri yang dinilai paling cakep, saya juga bisa menggonta-ganti latar halaman sesuai selera. Dan, yang paling menarik adalah saya bisa kepo sedikit-sedikit di akun gebetan.

  Minggu kemarin (24/9), saya menerima sebuah pesan Whatsapp dari seorang kerabat di gereja. “Ada surat buatmu dari Jerman,” katanya. Saya mengernyit. Sebelumnya tidak ada pemberitahuan terlebih dulu dari Johannes Tschauner (Jo), sahabat saya yang berada di Jerman kalau dia akan mengirimkan sepucuk surat ke Indonesia.