Cerita Tentang 3 Sahabat

Layar ponselku menyala. Tampak sebuah pesan masuk di grup LINE.

Gw udah beres interview, katanya sih keputusan malam ini, tulis Iko.

Pesan itu disambut dengan balasan-balasan pertanyaan lainnya dariku dan seorang lainnya bernama Yoses. Hari itu, Iko baru saja menyelesaikan tahapan interview yang menentukan ke mana hidupnya akan menuju setelah dinyatakan lulus sebagai sarjana. Satu hari berselang, Iko diterima bekerja di perusahaan tempatnya melamar di Jakarta dan harus segera berkemas pindah dari Bandung, kota yang mempertemukan dan membesarkan persahabatan kami bertiga.

Continue reading “Cerita Tentang 3 Sahabat”

Yang Tak Hilang Selepas Masa SMA

Berteman selagi bersama memang indah, tapi jauh lebih indah dan teruji ketika tetap berteman sekalipun jarak memisahkan, waktu menjauhkan dan kesibukan mendera.

 Ada banyak cara tentang bagaimana seseorang bisa berteman dan memaknai pertemanan itu. Ada yang berteman karena memiliki hobi yang sama, musuh yang sama, atau banyak kesamaan lainnya. Ada pula pertemanan yang terjalin kuat karena banyak perbedaan. SImpul-simpul perbedaan yang akhirnya membentuk kombinasi yang indah.

Setelah lenyapnya status sebagai siswa SMA pada tahun 2012, kami berpencar ke berbagai perguruan tinggi juga kesibukan. Berbekal harapan untuk bisa meraih sukses, masing-masing kami mengambil jalan hidupnya sendiri-sendiri. Ada yang memilih menetap di Bandung juga ada yang merantau.

Kini, empat tahun selepas perpisahan itu ada pertemuan kembali yang kami gagas untuk menghangatkan kembali tali pertemanan yang telah dibangun. Dahulu, kami merayakan kelulusan SMA dengan camping, dan kini kami pun melakukan hal serupa untuk merayakan kelulusan beberapa rekan yang telah sah menjadi sarjana.

—————————————————————————–

Bandung kala subuh masih menyimpan dingin layaknya kulkas. Kabut tipis masih enggan pergi meskipun mentari perlahan hadir dan menerangi bumi. Pagi itu jadi pagi yang bersemangat untuk kami berduabelas karena rencana camping yang dikhawatirkan sebatas wacana kini menjadi nyata!

Camping bagi kami adalah moment yang super istimewa. Empat tahun lalu ketika sebagian teman-teman merayakan kelulusan dengan pergi ke Bali, kami tak memiliki cukup uang untuk pergi kesana. Dengan budget seadanya, kami menggagas acara camping yang waktu itu digelar di sebuah camping ground Capolaga, di lereng utara Tangkuban Parahu.

camping2
Hutan Pinus

Camping kali ini lumayan berbeda. Jika dahulu camping tidak perlu hiking, kali ini ada usaha sedikit untuk berjalan selama tiga jam menuju gunung Putri. Trek yang kami lalui bermula dari Hutan Jayagiri, Lembang, kemudian berjalan kami sejauh 4 Kilometer sampai di puncak Gunung Putri.

Di bawah naungan hutan pinus, langkah kami berpacu dengan trek yang menanjak. Bagi yang suka naik gunung, trek Jayagiri adalah trek biasa, tapi bagi yang belum pernah naik gunung, trek Jayagiri ini bisa dianggap sebagai neraka. “Udah 500 meter belum sih?!”, “Udah deket ya?””Udah, camping disini aja!” celetuk Larissa, yang baru pertama kali ikut camping.

Nasi Liwet, Belalang sampai Cerita Malam

Berada di alam jadi kenikmatan tersendiri. Pertama, uang tak perlu keluar banyak. Kedua, suasana bisa lebih akrab karena tak ada listrik dan sinyal yang membuat orang tak usil dengan smartphone.

20160704_162144
Belalang Goreng

Siang hari kami buka dengan memasak nasi liwet sederhana yang dibarengi dengan belalang goring tangkapan sendiri. Makanan istimewa ini dimasak oleh Dewi, rekan kami yang memang piawai sejak zaman SMA untuk memasak. Hanya saja, di camping ini, Dewi yang dahulu tomboy kini jadi lebih feminim dengan rambut panjang yang terurai.

Tak ada orang lain selain kami berdua belas di hutan. Sementara para lelaki membangun tenda, menyiapkan kayu api unggun, para perempuan bersiap memasak, juga ada yang mencari belalang untuk dijadikan camilan.

camping3
Liwet Spesial ala Chef Dewi

Ada yang tak pernah hilang dari kebersamaan kami sekalipun waktu empat tahun telah terlalui. Ada yang dahulu playboy, hingga kini tetaplah playboy! Bedanya, kini dia lebih selektif berpacaran karena memikirkan soal biaya resepsi. Ada pula yang dulu kalau bercanda selalu garing, dan kini tetap garing. Bedanya, kini si garing ini ternyata diberikan kesempatan untuk menjadi pahlawan tanpa jasa alias guru.

Terlepas dari segala sifat dan karakter yang dimiliki oleh masing-masing kami, ada satu hal yang tak pernah lepas dari sejak masa SMA berlalu, yaitu……

KEBERSAMAAN…

Kebersamaan yang tetap terjalin. Tahun demi tahun yang berlalu memang membuat semuanya menjadi renggang. Tapi, satu hal yang utama adalah pertemanan adalah soal kualitas, bukan tentang kuantitas. Jika pertemanan didasarkan pada frekuensi bertemu atau main bersama, tentu tak akan bertahan lama karena setiap orang memiliki kesibukan tersendiri.

Secara waktu kami hampir tidak pernah bertemu, sekalipun itu via chat di media sosial. Kini, ada sebagian kami yang telah bekerja, sedang mencari kerja dan sedang mengerjakan tugas akhir. Ada satu sukacita ketika salah satu diantara kami mendapatkan pekerjaan. Alih-alih menjadi sedih karena teman kami sukses duluan, kami merasakan sukacita mendalam ketika ada teman yang meraih suksesnya.

Kebersamaan yang baik adalah kebersamaan yang turut merasakan sukacita ketika temannya senang, juga sedih ketika temannya sedih, bukan sebaliknya. Juga, hal paling berharga untuk dibagikan bukanlah benda, melainkan sebuah cerita. Cerita tentang perjalanan hidup kita masing-masing yang memperkaya inspirasi untuk teman-teman.

Well, gathered for once and scattered for a life time. Dikumpulkan sesaat untuk dipencar selamanya. Selamat kawan! Selamat memasuki perjalanan lebih dalam, kelak kalau ada sumur di ladang kita kan jumpa lagi.

Dikumpulkan Sekali, Dipencar Selamanya

Tak ada pekerjaan yang terlebih mulia ketimbang pekerjaan yang dijalani dengan hati yang tulus.

Selamat berkarya, kawan! Ada doa dan bangga dari rekanmu, wartawan di kota Jogja!

Tahun 2016 menjadi penanda kalau sudah enam tahun aku meninggalkan bangku SMA. Masa belajar putih abu-abu itu telah usai, demikian juga dengan segala pelajaran yang dulu dipelajari kini telah menguap seluruhnya. Nyaris tak ada yang diingat dari mata pelajaran Matematika dengan integralnya, Fisika dengan rumus-rumusnya ataupun Biologi dengan ratusan nama latinnya. Hanya satu yang masih diingat, pertemanannya!

Pagi ini, di sudut kota Jogja hape biruku bunyi pertanda ada yang menelpon. “Halo, Ary! Aku ditempatin ke Toraja, Sulawesi Selatan, jauh banget, gak nyangka bakal ditaruh disana!” suara dari seberang telepon. Dari nadanya terdengar jelas ada campuran antara rasa panik sekaligus sukacita. Panik karena ia akan pergi jauh ke tempat yang sama sekali tak terpikirkan olehnya, sekaligus ada sukacita karena cita-citanya mulai terwujud.

Sosok di seberang telepon itu adalah Willi Kristian, rekan sepermaian juga seperjuanganku selama masa SMA berlangsung. Pertemanan kami cukup singkat, kenal saat duduk di kelas XI kemudian menjadi karib. Alasannya sederhana, waktu itu Willi adalah sosok paling rajin di kelas. Seluruh pekerjaan rumah sudah pasti dia selesaikan sebelum waktunya dikumpulkan, alhasil 29 anak lainnya melakukan copy paste dari Willi, terutama untuk PR Matematika.

Wili, Si Rajin yang Panik

Namun, di balik sosok rajinnya Willi tersimpan rasa gugup yang mendalam. Sekalipun dia paham semua materi pelajaran, tapi hampir di setiap ulangan Matematika nilainya rendah. Suatu ketika, hasil ulangan Matematika dibagikan. Tatkala teman-teman lainnya bersorak riang karena nilai yang bagus, Willi tertunduk lesu, nilai Matematikanya kala itu mendapatkan nol, padahal di PR sebelumnya hampir seluruh siswa mencontek pekerjaan Willi.

Sekalipun ia gugup dan minder, tapi itu tidak membuatnya putus asa. Wili tetap setia belajar hingga menjelang Ujian Nasional tiba kami meluangkan waktu setiap sore untuk belajar bersama. Hasil UN pun memuaskan dan kami lulus dengan kejujuran. Terlepas dari sukacita menamatkan sekolah, rasa sedih pun hadir karena waktu kami bersama telah habis.

Aku memutuskan untuk keluar dari zona nyamanku di Bandung dan memulai hidup baru di Jogja, sebuah kota yang tak kukenal dan tak ada kerabat di dalamnya. Beberapa rekan yang lain diterima dengan bangga di perguruan tinggi negeri, ada pula yang kuliah di kampus swasta di Bandung. Dan, Willi, ia mendapatkan beasiswa penuh berkuliah di Fakultas Keguruan sebuah Universitas swsta di Tangerang.

Sesaat sebelum kami benar-benar berpencar, kami ragu akan Willi. Apakah dia akan bertahan dan sukses di perantauan? Memang, jarak Bandung dan Tangerang secara fisik dekat, tetapi bisa jadi sangat jauh secara psikis. Willi terlahir di keluarga yang tidak melimpah secara ekonomi. Setelah ditinggal sang ayah berpulang, ia bersama ibu dan kakaknya bertahan hidup dari membuka warung kecil di Pasar Cangkring, kota Bandung.

Teringat betul, moment ketika masing-masing anak SMA berpikir mencari perguruan tinggi favorit, Willi termenung memikirkan apakah ia bisa kuliah atau tidak. Untuk memasuki kampus swasta, biayanya terbatas, untuk masuk ke negeri ia tak yakin dengan SNMPTN yang harus dilalui. Hingga datanglah tawaran beasiswa penuh Fakultas Keguruan. Awalnya ia ragu, demikian juga dengan ibunya. Berkat perkenanan Tuhan dan sokongan dari guru-guru BP, maka jalan beasiswa itu dipilih Willi, dan dari sanalah sejarah baru hidupnya terukir.

Pertemuan di Medan 

Juli 2012, kami semua berpencar secara total. Tak ada komunikasi yang terbangun, hanya sesaat sebelum liburan semester tiba kami mulai berkontak menanyakan kabar. Tahun lewat tahun, tepatnya di 2015 aku mendapatkan kabar kalau Willi ternyata hampir rampung kuliahnya dan sedang menjalani magang sebagai guru di Medan.

Moment yang sangat tepat sekali karena Oktober 2015 lalu aku juga ditugaskan oleh kampus untuk berangkat ke Medan dan menceritakan tentang pendidikan di Jogja. Tanpa perencanaan sebelumnya, kami ternyata bertemu di Medan. Rasa haru dan bangga tercampur jadi satu.

Sosok Willi yang dahulu super panik, gemetar dan seperti mayat hidup ketika bicara di depan umum, kini tampil sebagai seorang guru yang harus dan pasti berdiri di depan kelas menghadapi puluhan murid yang mungkin nakal. Aku membayangkan sesosok Willi ketika ia di-bully oleh muridnya. Namun, dugaanku salah, Willi telah bertransformasi. Ia telah mengalahkan dirinya sendiri.

Di tengah keterbatasannya ia mau berusaha menjadi tidak terbatas. Selama di Medan ternyata ia menjelma menjadi sosok guru magang yang disayang oleh anak didiknya. “Iya, ada murid-murid yang bilang Pak Willi jangan pergi, tetap ngajar kami ya,” ucap Willi. Bagiku, kalimat itu menjadi suatu penanda bahwa menjadi guru adalah panggilan hidup Willi. Ada orang-orang lain yang merasakan manfaat dan berkat dari kehidupan Willy.

Pertemuan kami di Medan singkat, hanya satu hari dan kami habiskan untuk ngobrol dan berkeliling kota naik Bentor. Singkatnya pertemuan kami diisi dengan kekayaan cerita pengalaman hidup. Perjalanan hidup mampu mengubah takdir seseorang selama ia mau untuk diubahkan.

Gathered for Once, Scattered for Life Time 

Dikumpulkan untuk sesaat dan dipencarkan untuk seterusnya. Tidak selamanya pertemanan itu harus bersama secara fisik, akan ada waktunya setiap kita diutus untuk berkarya di ladang masing-masing. Pertemanan kami selama tiga tahun di SMA ternyata menjadi garis awal dari petualangan yang jauh nan panjang serta tak terduga.

Lewat tulisan ini, tersirat doa supaya tak hanya Willi yang bersukacita akan panggilan hidunya, melainkan juga untuk rekan-rekan lainnya. Mungkin tak semua impian kita akan menjadi kenyataan, bisa juga tenggelam bersama dengan permasalahan hidup. Tapi, satu yang pasti adalah alam semesta ini diciptakan dengan maksud baik dan untuk kebaikan. Jika kita tidak menemukan kebaikan dalam hidup ini, maka jadilah kebaikan itu.

Selamat, Willi, di zaman ketika manusia mengejar harta dan tahta sebagai karir utama, kamu mengejar pelayanan sebagai yang terutama dalam hidupmu. Menjadi seorang guru berarti mempersiapkan generasi selanjutnya untuk hidup. Tak ada pekerjaan yang terlebih mulia ketimbang pekerjaan yang dijalani dengan hati yang tulus.

 

Selamat berkarya, kawan! Ada doa dan bangga dari rekanmu, wartawan di kota Jogja!