Traveling, Sebuah Filosofi Hidup

IMG_3909

“Harus banget ya main air aja sampai ke Jogja?!” ucap temanku dengan heran. Aku tahu, pertanyaan itu bukan sekadar pertanyaan, melainkan lebih kepada sebuah protes mengapa aku niat pergi jauh-jauh dari Jakarta ke Jogja di Jumat malam, lalu pulang lagi di hari Minggu. Padahal, jika ingin bermain air, Jakarta punya banyak wahana yang asyik.

Sebagai seorang pemuda usia 23 tahun, keputusan untuk traveling di sela-sela pekerjaan bukanlah tanpa risiko. Ada yang mendukung, menyanjung, tapi tak sedikit pula yang mencibir. “Gak mikir apa, mending duitnya dipake nabung”, “Wah, udah banyak duit ya elu,” atau “Inget, modal kawin mahal, bro!” Aku tahu dengan pasti bahwa menabung itu amat perlu dan biaya resepsi kelak tidak murah. Tapi, aku juga tahu bahwa hidup ini hanya terjadi satu kali. Jadi, apa yang hanya satu kali ini akan kumanfaatkan semaksimal mungkin. Toh, siapa pula yang menyangka bahwa seorang Jupe di usianya yang masih kepala tiga ternyata sudah dipanggil pulang?

Bepergian beberapa kali dalam satu bulan bukan berarti aku menjadi seorang yang sembrono, yang menghamburkan uang hanya untuk traveling dan traveling. Aku tetap memiliki kebijakan yang mengatur supaya pengeluaran dan pemasukan itu tetap selaras dan digunakan sebaik mungkin. Bagiku, bekerja dan bepergian adalah dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan. Pekerjaan itu mengisi dompet, dan perjalanan itu mengisi jiwa. Jika dua-duanya sama-sama terisi, tentu hidup akan lebih nikmat.

Singkirkan sejenak gambaran liburan yang serba mudah dan mewah. Sekalipun anggaranku pas-pasan, tapi sebisa mungkin aku berusaha untuk mendapatkan kesan yang maksimal. Tidak boleh menggunakan kereta api selain kelas ekonomi. Sebisa mungkin tidak masuk ke dalam mal. Makan makanan di kaki lima saja. Hal-hal inilah yang justru membuat perjalanan travelingku terasa menyenangkan. Lewat tulisan ini, aku hendak membagikan sedikit apa yang menjadi filosofiku di balik kesukaanku menghilang dari belantara Jakarta di tiap akhir pekan.

Terlahir di keluarga yang dulu hidupnya pas-pasan membuat bibit traveling tertanam sejak dini. Sewaktu aku masih balita, ayah bekerja sebagai penjual kue pukis keliling. Setiap pagi, kue-kue yang telah siap itu dimasukkan ke dalam keranjang dan diikat di bagian belakang sepeda. Kue-kue pukis itu harus segera didistribusikan ke beberapa pasar di kota Bandung sebelum matahari beranjak tinggi.

Di bagian depan sepeda, ayah membuat sebuah boncengan khusus untuk anak-anak. Boncengan itu berwarna hijau dan diikat kuat di besi sepeda. Di situlah aku duduk selama beberapa jam, wara-wiri di jalanan kota Bandung, dari pasar ke pasar. Aku lupa bagaimana perasaanku waktu itu, tapi aku ingat sebuah peristiwa yang paling kusuka. Setiap kali pukis-pukis itu selesai didistribusikan, sebelum pulang ayah akan membawaku melewati rel kereta api di timur stasiun Bandung. Ada jembatan penyeberangan di sana dan kami berdiri selama beberapa menit di atasnya. Sebagai keluarga pas-pasan, hiburan yang paling bisa dilakukan waktu itu adalah menonton kereta api. Aku yang masih bocah itu senang bukan kepalang tatkala kereta melintas, kemudian menunjuk-nunjuk tiap-tiap gerbongnya sambil merengek, “kapan naik kereta?” Ayah hanya menjawabnya dengan senyum dan “Nanti ya”.

Seiring waktu beranjak, kehidupan ekonomi keluarga mulai membaik dan sekarang aku telah bekerja. Pengalaman duduk di atas sepeda dan kesukaanku pada kereta api itulah yang akhirnya membuat jiwa traveling ini tetap hidup. Setidaknya satu bulan sekali, aku akan pergi menggunakan kereta api kelas ekonomi. Entah itu ke Cilacap, Tegal, Jogja, Bandung, Purwokerto, atau lainnya. Di kota-kota yang kusinggahi itu aku tidak menginap di hotel, melainkan di rumah-rumah teman yang sebelumnya sudah aku hubungi terlebih dahulu.

Jika liburan ditujukan untuk memanjakan diri, traveling yang kulakukan bertujuan untuk melatih diri. Ketika aku duduk berjam-jam di atas kursi tegak kereta ekonomi, aku belajar bahwa hidup tidak selamanya memberi kita kenyamanan. Namun, apabila ingin tiba di tujuan, aku harus bersabar. Ketika duduk berhadap-hadapan dengan orang asing yang sama sekali tidak kukenal, aku belajar untuk bagaimana membuka percakapan. Teori komunikasi boleh menjabarkan puluhan teori tentang interaksi antar manusia, tapi untuk memulai percakapan itu aku belajar bahwa hanya ada satu hal yang diperlukan untuk mencairkan suasana, yaitu dengan senyum dan sapaan tulus.

Tatkala aku kelelahan karena memanggul ransel, aku belajar bahwa dalam hidup ini ada beban yang harus dibawa. Ketika punggungku sakit, aku tidak menjadi bad mood, mengakhiri traveling lalu pulang, tapi aku beristirahat sejenak, sekadar duduk-duduk di peron stasiun, lalu kembali berjalan. Demikian juga dengan hidup. Ketika beban hidup terasa terlalu berat dan membuatku lelah, aku tidak menyerah, melainkan beristirahat sejenak, kemudian melanjutkan rutinitasku lagi.

Tatkala aku menginap di rumah teman-temanku, bukan semata-mata karena aku pelit tidak mau keluar uang banyak. Tapi, dari sanalah aku belajar memahami teman-temanku. Aku belajar untuk bertegur sapa dan bersahabat bukan hanya kepadanya seorang, tapi juga dengan seisi keluarganya. Ketika mereka menerimaku dengan tangan terbuka, aku belajar dan menyadari bahwa sesungguhnya aku dicintai dan memiliki orang-orang yang mendukungku.

Teman-temanku inilah yang mengajarkanku bahwa keluarga itu tidak selalu berkaitan dengan darah. Kebersamaan itu bisa dibangun melintasi sekat-sekat perbedaan. Ketika kami duduk makan bersama-sama dan saling mengobrol, di situlah kami bertukar pikiran dan memperkaya pandangan kami masing-masing.

IMG_3904
Bersama keluarga Bp. F. Sumaryo di dusun Gebiri, Banjarasri, Kalibawang. Pertama kali bertemu di tahun 2011, sejak saat itu hingga kini kami menjadi erat layaknya keluarga.

Tatkala aku membeli sebuah pop-mie di ibu-ibu asongan pinggiran stasiun, aku tidak sekadar membuat perutku yang keroncongan itu terisi. Tapi, lebih dari itu, mungkin saja selembar uang sepuluh ribu yang kubayarkan kepada sang ibu itu dia digunakan untuk membeli beras bagi keluarganya, merawat suaminya yang sakit, membayar tagihan listrik, juga untuk membiayai sekolah anak-anaknya.

Dompetku tidak tebal. Oleh karena itu, aku mau memastikan setiap rupiah yang keluar dari dompetku itu bisa diterima di orang-orang yang tepat. Aku tidak anti terhadap mal dan makan di restoran, hanya saja hatiku terasa lebih nyaman dan sejahtera tatkala aku duduk makan di pinggiran jalan, bersama sepiring pecel lele dan mangkok kobokan.

Aku tidak tahu di mana aku akan berada di masa depan. Namun, satu yang pasti, ke mana sang Khalik menuntun, ke situlah aku kan menuju.

Mengapa Harus Membeli kalau Tidak Butuh?

Beli1Hari itu Minggu sore. Seorang bocah lelaki menghampiriku dengan baju sedikit basah karena kehujanan. Di tangan kanannya ada dua buah kemasan tissue, sedangkan di tangan kirinya ada sebuah kantong plastik besar berisikan puluhan kemasan tissue.

“Kak, dibeli tissuenya, 5 ribu satu,” ucapnya kepadaku dengan nada lesu. Menanggapi penawarannya, pertama-tama aku membalasnya dengan tersenyum. “Kok hujan-hujanan dek?” tanyaku padanya. Dia tidak menjawab, hanya tersenyum tipis kemudian menunduk.

Kuambil dua buah tissue dari tangan kanannya. Alih-alih langsung membayar, kuajaknya duduk sejenak di kursi kosong sebelahku seraya menunggu hujan. Bukan sebuah kebetulan, saat itu aku membawa serta aneka camilan yang sedianya akan kubawa ke kantor di Jakarta. Melihat anak itu duduk di sampingku, kusodorkan kantong plastik berisi aneka camilan itu padanya.

“Kamu mau yang mana, nih ambil yang kamu mau,” kataku. Tanpa bertanya lebih lanjut, bocah itu mengulurkan tangannya ke dalam kantong dan mulai memilih makanan mana yang hendak dia ambil. Pilihannya jatuh pada sebungkus astor cokelat. Kemudian dia memasukkan astor itu ke dalam kantong plastik hitam yang dibawanya.

“Ambil satu lagi gih, tadi kan yang manis, sekarang ambil yang asin,” kataku lagi. Kembali dia memasukkan tangannya ke dalam kantong makanan itu dan diambilnya seplastik kerupuk pedas. Ekspresinya pun berubah, kemudian ada senyum lebar tersungging dari wajahnya hingga akhirnya kami menjadi akrab dan mengobrol.  

Ditemani hujan yang rintik, bocah tadi bercerita tentang keluarganya. Ia adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Setiap sore dia berjualan tissue di sepanjang jalan Cihampelas. Tak peduli terik maupun hujan, yang dia tahu hanyalah berjualan tissue untuk membantu orangtua dan adik-adiknya. Ketika ada orang yang membeli jualannya, ia akan berterima kasih, namun apabila ada orang-orang yang menolak jualannya, ia akan berlalu dan pergi kepada orang yang lain, demikian seterusnya.

Ketika aku melihat senyum lebar di wajah bocah kecil itu, hatiku yang semula hambar berubah menjadi penuh rasa. Sejenak aku lupa tentang cicilan dan uang kost yang harus kubayar di awal bulan nanti. Senyum sumringah anak tadi begitu polos dan menegurku. Bocah ini mampu tersenyum penuh syukur ketika tangannya menggenggam dua plastik camilan yang harganya tidak seberapa.

Ketika hujan akhirnya reda, kusodorkan selembar uang dua puluh ribuan kepadanya. “Ambil kembaliannya buat kamu, dek,” kataku lagi kepadanya. Dia pun mengangguk, mengucapkan terima kasih dan kembali melanjutkan pekerjaannya sebagai penjaja tissue keliling.

Pertemuan sore itu membuatku merenung sepanjang jalan menuju Jakarta. Di tengah kemacetan jalan tol yang seolah tak berujung, wajah anak tadi terus terbayang. Aku membayangkan bagaimana keluarganya, juga masa depannya kelak. Dari bocah kecil itu kembali disadarkan kalau semua di dunia ini relatif. Kekayaan seringkali tidak bisa diukur dari deretan angka di rekening, tapi dari seberapa puas diri kita dengan apa yang ada.

Aku mungkin tidak membutuhkan dua kemasan tissue itu, tapi aku butuh untuk belajar memberi. Dari memberi, aku pun diberi. Selembar uang yang kuberikan kepada bocah itu bisa jadi memberi sukacita bagi dia dan seisi rumahnya.

Aku teringat akan perkataan sang Guru Agung yang menjadi panutanku. “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, apa saja yang telah kamu lakukan kepada seseorang yang terkecil dari saudara-saudara-Ku ini, kamu telah melakukannya kepada-Ku.”

Jika saat itu sang Guru Agung ditawari tissue oleh bocah kecil tadi, mungkin dia akan melakukan hal serupa sepertiku. Atau, bisa jadi juga dia akan melakukan lebih dari sekadar yang kulakukan, yaitu memberi kelegaan dan sukacita yang abadi.

Bandung, 26 Maret 2017

beli2

Menemukan Roh Perjalanan di antara Tegal dan Jakarta

TegalCoverBepergian naik kereta ekonomi memang tidak senyaman pergi dengan kereta eksekutif, mobil pribadi, ataupun juga pesawat. Namun, di balik harga tiketnya yang murah dan tempat duduknya yang sempit, gerbong-gerbong kereta ekonomi menyajikan nuansa lain suatu perjalanan, yaitu kebersamaan. Berawal dari sebuah senyuman dan tegur sapa, perjalanan nan panjang menjadi lebih asyik diselingi obrolan hangat.

Ratusan penumpang mulai berbaris tatkala petugas stasiun mengumumkan kalau kereta api Tegal Ekspress telah tersedia di peron 3 Stasiun Pasar Senen. Hari itu, di Sabtu pagi tidak terlalu banyak kereta api yang berangkat jika dibandingkan dengan Jumat malam. Setelah kereta api Bogowonto dengan tujuan Yogyakarta diberangkatkan, kini tibalah kereta api Tegal Ekspress menunggu giliran untuk berangkat.

Tidak sampai 15 menit setelah pengumuman boarding disiarkan, seluruh gerbong kereta api Tegal Ekspress sudah dipenuhi oleh penumpang.  Ketika kulayangkan pandangan ke seluruh penjuru gerbong, tidak ada kursi kosong yang tersisa untuk keberangkatan hari itu. “Sungguh beruntung!” gumamku dalam hati karena masih bisa mendapatkan tiket walaupun membelinya secara mendadak.

Sebetulnya ada perasaan menyesal karena kursi yang kududuki hari itu bukanlah kursi di samping jendela. Aku harus duduk di kursi nomor 16B, kursi yang sangat kuhindari karena bisa mengakibatkan mati gaya! Duduk selama berjam-jam diapit dua orang itu memang tidak nyaman. Kepala tidak bisa bersandar kemana-mana, belum lagi posisi bokong yang terasa sempit. Tapi, akhirnya aku harus menerima kenyataan dengan ikhlas dan kecewa itu perlahan pudar seiring dengan kereta yang beranjak pergi.

tegal6
KA Tegal Ekspress tunggu bersilang di Stasiun Haurgeulis, Subang

Tiga orang yang duduk di depanku adalah sebuah keluarga yang terdiri dari suami, isteri, dan anak. Mereka bertiga hendak bertolak ke Cirebon. Sang suami tampak sudah cukup berumur dengan kerutan-kerutan tebal di wajahnya, demikian juga dengan istrinya. Mereka juga membawa serta dua karung ukuran besar dan sebuah kardus televisi. “Buat oleh-oleh di kampung mas,” ujar mereka kepadaku sambil diselingi tawa kecil.

Penumpang di sebelah kiriku adalah seorang pemuda yang sedari naik gerbong sudah memakai headset dan langsung menyandarkan kepalanya di jendela. Sedangkan penumpang di sebelah kananku ini cukup unik. Dia memakai topi dan masker biru, juga tidak membawa apapun selain tiga buah handphone yang digenggamnya.

Dua jam berlalu dan lama kelamaan kaki mulai terasa pegal. Duduk di kereta ekonomi memang harus pandai berkoordinasi dengan penumpang di depan, kalau tidak kita akan sulit untuk meluruskan kaki. Bapak yang duduk persis di depanku telah tertidur pulas dan posisi kakinya menyulitkanku untuk mengerakkan kaki. Daripada duduk membeku akhirnya kuputuskan untuk jalan-jalan saja ke ruang restorasi.

tegal7
Menikmati pemandangan sambil menulis buku harian. Terbaik!

Ruang restorasi berada di posisi tengah rangkaian kereta, jadi aku harus berjalan sejauh empat gerbong ke depan untuk mencapainya. Puji syukur karena walaupun kereta hari itu penuh, gerbong restorasi kosong melompong. Sambil menikmati makanan berupa ayam kecap seharga Rp 22.000,- aku menikmati hamparan sawah yang terbentang dari balik jendela kereta.

Tapi, kenyamanan ini tidak berlangsung lama karena ada penumpang lain yang juga datang ke restorasi. Berhubung meja di gerbong ini terbatas maka aku pun mengalah dan kembali ke gerbong ekor tempatku duduk.

Pertemuan dengan kawan baru: Mbak Dewi

Setelah kereta api melintasi Cirebon dan keluarga di depanku turun, masih tersisa sekitar satu setengah jam sebelum kereta ini tiba di stasiun Tegal sebagai tujuan akhir. Penumpang yang duduk di sebelah kananku membuka maskernya dan mengajakku mengobrol.

“Tegalne ndi mas?” tanyanya dalam logat Ngapak. “Ndak di mana-mana mbak, Cuma nang stasiun wae. Abis itu aku balik lagi Jakarta kok,” jawabku. Mendengar jawaban itu, si mbak mengernyit dan penasaran. Kemudian dia menatapku dari ujung rambut hingga ujung kaki. Mungkin dia pikir kalau aku itu kurang kerjaan karena jauh-jauh naik kereta ke Tegal, lalu sampai di stasiun sana langsung pulang lagi ke Jakarta.

“Lah, mas nya aneh, apa gak cape ya, hahaha. Ngomong-ngomong kerjaannya apa mas?” Tanya mbak Dewi sambil tertawa. “Aku sih kerjaannya berhubungan sama tulisan mbak, kadang nulis, kadang ngedit. Makanya jalan-jalan supaya ada ide,” jawabku padanya. Merasa tak terlalu puas dengan jawaban itu, dia memandangiku sekali lagi dan kembali bertanya. “Mas nya sipit, orang mana sih mas? Bukan muslim ya?” tanyanya. Aku menjawabnya dengan tertawa kecil, “Orang Indonesia kok mbak, asli Bandung, aku Kristen.”

Perawakanku yang kurus, berambut kriting, dan bermata lumayan sipit (menurutku begitu) memang menjadi perhatian tersendiri ketika aku bepergian naik kereta ekonomi. Sambil memanggul ransel besar dan kamera di samping, orang seringkali bertanya ke mana tujuanku. Tak berhenti sampai di situ, biasanya mereka juga akan menanyakan hingga ke identitas pribadi, termasuk ras dan keyakinan.

Tapi, buatku itu tidak masalah. Toh, mereka bertanya itu kan murni atas dasar kepo alias ingin tahu. Lagipula sebagai sarjana Komunikasi, aku tentu mengerti kalau orang Indonesia adalah tipe orang yang sangat suka berbasa-basi.

tegal 6
Mbak Dewi 

Obrolan aku dan mbak Dewi pun berlanjut hingga akhirnya aku mengetahui kalau umurku dengannya itu tidak terpaut jauh—hanya berbeda dua tahun saja. “Gue pikir kamu orangya sombong mas, tapi taunya ramah haha,” katanya sedikit memujiku. Awalnya memang aku tidak mau berbicara dengan dia karena sejak awal masuk ke gerbong, si mbak Dewi ini hanya memegang handphone dan sesekali menelpon rekannya dengan kata-kata kasar.

Kami pun semakin larut dalam obrolan. Setelah aku menceritakan maksudku datang ke Tegal hanya untuk pulang lagi, kini giliran dia untuk bercerita tentang dirinya. Awalnya obrolan kami hanya sekadar basa basi, tapi lama-lama mbak Dewi menganggap kalau aku orang yang tepat untuknya mencurahkan segala beban hidup.

Aku pikir dia adalah perempuan yang sangat tegar. Bagaimana tidak, di usianya yang hampir sepantar denganku ternyata dia sudah berstatus sebagai janda. Beberapa tahun lalu dia menikah dengan suaminya yang berasal dari Cilacap. Setelah pernikahan mereka dikaruniai seorang putri, suaminya pergi entah kemana tanpa pernah memberi kabar hingga hari ini.

Akhirnya, mbak Dewi harus membesarkan sendiri anaknya yang tahun ini sudah harus masuk ke bangku sekolah. Perjuangannya tidak berhenti sampai di situ, setiap harinya mbak Dewi bekerja sebagai penjaga kantin di kawasan Bundaran HI Jakarta. Sejak subuh dia sudah harus memasak dan menyiapkan kantin dan baru kembali saat hari sudah malam. Untuk pekerjaan beratnya itu, upah maksimum yang bisa dia dapatkan adalah Rp 50.000,-.

“Sedih mas saya. Paling sebulan saya dapet duit sejuta, lima ratusnya saya kirim ke kampung buat anak. Lima ratusnya buat saya, buat makan, bayar kost, beli ini itu,” tuturnya lirih. Aku pun hanya bisa mengangguk-angguk tanpa tahu solusi apa yang bisa kuberikan padanya. “Terus, apa nggak rencana cari kerja di Tegal aja biar deket sama anak?” tanyaku. “Gak bisa mas, mau kerja apa saya di kampung? Sulit mas cari kerja di kampung!” jawabnya.

Jawaban itu membuatku merenung sejenak. Mbak dewi, termasuk juga diriku sama-sama bertarung dari daerah untuk memperebutkan rupiah di Ibukota. Mungkin aku lebih beruntung daripada mbak Dewi karena pekerjaanku terlihat lebih baik. Tapi, hati kecilku bertanya-tanya, mengapa di negeri yang begitu luas dan kaya akan sumber daya alam ini, semua perhatian orang-orang hanya terpusat kepada Jakarta?

Jakarta memang ibukota, dia menyediakan janji tentang hidup sukses. Apapun pekerjaannya, yang penting di Jakarta! Setidaknya prinsip itulah yang masih tertanam dalam benak beberapa orang, termasuk juga dalam benak mbak Dewi. Sekalipun pekerjaan di Jakarta hanya sebagai pekerja kasar, tapi ada rasa bangga sedikit ketika orang-orang di desanya mengetahui kalau dia telah bekerja di Jakarta.

Bagi sebagian orang, Jakarta masih menjadi segalanya—tempat mereka menggantungkan mimpi dan harapan. Sekalipun upah yang dia dapatkan di Jakarta itu sedikit, tapi mbak Dewi belum mau menyerah dengan hidupnya. “Saya gak mau anak saya nanti susah, mas” tuturnya bersemangat. Jerih keringatnya setiap hari seolah bukan menjadi beban yang berarti ketika dia mengingat kembali tanggung jawabnya sebagai seorang ibu.

Tak terasa obrolan kami yang serius dan panjang itu harus berhenti ketika kereta mulai melambat. “Wah, udah mau nyampe. Udah mas, mampir aja ke rumah saya nanti naek ojek!” ajak mbak Dewi. “Nggak bisa mbak, kan jam setengah tiga saya harus balik lagi ke Jakarta,” jawabku. Sebelum kami berpisah, kami sempat bertukar kontak dan mengakhiri pertemuan kami dengan jabatan tangan.

Tiba di Tegal, saatnya pulang ke Jakarta

Hanya kurang dari satu jam aku habiskan untuk berkeliling Tegal. Dari stasiun aku berjalan kaki menuju Taman Poci, lalu pindah lagi menuju alun-alun. Sambil berteduh sejenak, aku juga membeli seporsi tahu gejrot. Puas mengisi perut dan memotret beberapa sudut kota Tegal, aku bersiap untuk pulang kembali ke Jakarta.

Pukul 14:30, kereta Tegal Ekspress kembali membawaku ke Jakarta. Kali ini tempat dudukku adalah hotseat karena persis di samping kaca. Perjalanan kembali ke Jakarta ini tidak terlalu menyenangkan dan tak ada cerita unik untuk dibagikan. Setelah lima jam menembus pantura Jawa Barat, kereta pun tiba di Stasiun Jatinegara dan aku melanjutkan pulang ke Kalideres.

tegal3
Kereta api Tegal Ekspress tersedia di peron 3 Stasiun Tegal

Roh Perjalanan adalah Kawan 

Aku tahu dan sadar kalau perjalanan seperti ini membuatku capek dan sebagian orang menganggap ini sebagai sesuatu yang aneh. “Lu masih muda, cari duit tambahan kek!” atau “Mending lu tidur, istirahat.” Dan banyak komentar-komentar lainnya.

Komentar itu semua benar, tidak ada yang salah. Namun, aku memiliki pilihan tersendiri atas hidupku. Berhubung hidupku hanya satu kali, aku mau memaksimalkannya untuk menikmati apa yang aku suka. Karena kesukaanku adalah naik kereta api, maka selama aku punya anggaran, tidak ada salahnya aku jalan-jalan.

Dalam setiap perjalananku naik kereta ekonomi, selalu ada cerita-cerita yang kubagikan. Dari tiket kereta seharga Rp 40.000,- yang kubeli itu, aku bisa bertemu dengan mbak Dewi dan menjadi teman curhatnya selama satu jam lebih. Aku percaya bahwa tidak ada yang kebetulan. Jika hari itu aku duduk di gerbong dan bertemu dengan mbak Dewi, mungkin aku sedang dikirim oleh Tuhan untuk menjadi corong pendengar segala keluh kesahnya.

Ada satu quote yang selalu aku ingat dari Couchsurfing: “A journey is best measured in friends, not miles.” Perjalanan itu diukur dari teman, bukan jarak. Dalam perjalanan, tujuan dan jarak hanyalah bonus, tapi cara kita menikmati perjalanan itulah yang memang utama. Itulah yang menjadi spirit dari traveling. 

Sepuluh jam lebih duduk di atas kereta api, aku menemukan kembali roh perjalanan itu. Ketika dunia, khususnya kelas menengah ibukota mulai menjadi sibuk dengan urusan diri sendiri, aku mau tetap belajar untuk memberikan apa yang ada padaku kepada orang lain. Bukan cuma uang, tapi juga waktu. Sekecil apapun perhatian dan niatan tulus yang disebar kepada dunia, niscaya itu tidak akan kembali dengan sia-sia.

tegal2
Doraemon, kawan kecil seperjalanan yang selalu kubawa kemanapun

 

Gunung Leuser, Surganya Pulau Sumatra

Gunung Leuser ibarat perawan yang masih terjaga. Sungai Bahorok mengalir jernih, nyaris menyerupai air galonan yang dijual di perkotaan. Sore itu di bulan Juni 2015 tidak banyak wisatawan menghabiskan waktu di Bukit Lawang. Terlihat beberapa bule sedang asik melakukan tubbing, aktivitas bersantai menggunakan ban raksasa mengikuti arus sungai. Sedangkan beberapa turis lokal asyik dengan tongkat selfienya mengabadikan moment-moment berharga di alam terbuka.

Tubuh kami cukup lelah setelah menempuh perjalanan dari Medan ke Bukit Lawang. Lelah secara fisik, juga pusing secara pikiran. Kami menghitung persediaan uang yang tersisa, jangan sampai pengeluaran kami bengkak padahal masih ada puluhan hari ke depan yang harus dijalani di Sumatra ini. “So, what should we do tomorrow, Jo?” tanyaku pada Johannes. Sambil nyeruput kopi, kami mempertimbangkan segala kemungkinan, mulai dari uang hingga cuaca.

IMG_2888
Sungai Bahorok, Bukit Lawang, Sumatra Utara, Indonesia

Pilihan kami jatuh pada Trekking. Ya, Trekking! Sebuah perjalanan semi mendaki, mengelilingi Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) selama dua hari satu malam. Waw, imajinasiku menjalar kemana-mana. Bagiku yang lahir dan besar di kota, trekking palingan sekedar jalan kaki di Taman Hutan Raya Juanda di Dago, Bandung, ataupun palingan seperti hiking di wilayah Lembang. Tanpa pikir panjang, kami sepakat untuk melakukan trekking. 

Biaya trekking di Bukit Lawang tergolong mahal karena umumnya hanya wisatawan asing yang melakukan trekking. Kebanyakan turis lokal hanya bermain-main di sekitaran sungai saja tanpa berniat melakukan trekking ke jantung hutan. Kami membayar sekitar US$ 70 per orang kepada pengelola setempat. Berhubung aku juga orang Indonesia, maka terjadi tawar menawar. Kami mendapatkan potongan, sehingga kami berdua cukup membayar Rp 1.500.000,-.

IMG_2905
Seorang turis asing menikmati tubbing sendirian

Segala peraturan administrasi sudah kami lakukan, sekarang saatnya bengong menunggu Minggu pagi untuk berangkat. Tidak ada persiapan khusus yang aku lakukan akibat imajinasi bodoh yang ada di pikiran sebagai anak kota. Sedangkan si Johannes, tentu dia merasa baik-baik saja, namanya juga bule, sudah terbiasa manjat pohon bahkan terakhir kali dia sudah berhasil menaklukan Annapura, sebuah puncak di bawah Everest.

 

Minggu pagi pukul 08:00 perut kami diisi dengan sepiring pancake, juga ransel kami diisi dengan dua botol air ukuran 1,5 liter. Perjalanan kami seharusnya dimulai pukul 08:00 tapi terlambat hingga 09:30 akibat dua turis Rusia yang agak nyeleneh dan suka terlambat. Sebelum berangkat, kami dibagi kedalam tim yang terdiri dari aku, kawanku yang bernama Johannes dari Jerman, Annette Naber dari Belanda, dan sepasang ayah dan anak dari Rusia bernama Alex, sedangkan aku lupa nama anaknya. Tim kami didampingi oleh dua orang guide lokal.

IMG_2953
Si Bule Rusia memberi makan Orang Utan

Etape pertama dilakukan dengan menyusuri sungai sejauh 200 meter. Di sini aku merasa selow, imajinasiku tidak berbohong kalau trekking itu sejenis dengan hiking di Bandung. Selesai etape I, kami meninggalkan sungai dan mulai merangsek masuk ke lebatnya belantara Gunung Leuseur. Imajinasiku hancur lebur seketika. Tak ada jalan setapak yang mulus ataupun landai. Kami harus memanjat  di tanah yang basah dan licin.

Lima menit pertama memasuki etape kedua, aku langsung lemas tak berdaya. Nafas tersengal-sengal seperti mau meninggal dan muka memerah bagai tomat kebakaran. Sontak tim kami semua terhenti menanyakan apakah aku kuat atau tidak. Uniknya, para bule yang berada dalam timku sama sekali tidak mengasihani. “Come on! Just calm down, relax, and you can do it, yes we can do it together, we can walk slowly for you!” ucap Johannes menyemangatiku.

Oke, satu sisi aku tersemangati tapi di sisi lain terasa ditelanjangi. Bagaimana tidak, aku yang lahir dan besar di Indonesia yang konon katanya memiliki hutan hujan tropis terluas kedua setelah Brazil harus ngos-ngosan dan nyaris tewas ketimbang para Bule yang makan tempe saja belum pernah. Tapi, ya sudah, kita simpan dulu rasa malu itu karena masih ada 8 jam yang harus dilalui.

Mujizat dari langit, walaupun hampir pingsan tetapi aku tetap kuat berjalan. Menjelang pukul 10:00 kami berhenti selama hampir satu jam karena ada orang utan yang kebetulan melintas. Para bule terpesona, lebih terpesona daripada aku melihat seorang Julia Perez. Mereka takjub akan primata bernama orang utan. Sontak orang utan itu bagaikan artis, difoto dari berbagai sisi dan gaya oleh para bule. 

Sementara bule-bule berfoto, aku bengong, minum air dan berdoa memohon kekuatan ilahi supaya tidak pingsan, atau setidaknya bisa berjalan walau lebih lambat dari siput. Menjelang tengah hari, kami beristirahat dengan membuka perbekalan ala tarzan. Yaa, makan siang kami berupa buah-buahan tropis yang dipetik dari hutan. Markisa, pisang, mangga, jambu dan nanas jadi penganan ternikmat siang itu.

Namun, ketenangan siang hari itu harus berakhir ketika ada seorang Orang Utan yang aku lupa namanya datang. Guide kami bilang kalau orang utan itu pernah mengalami trauma sehingga dia antipati terhadap kehadiran manusia, dan ia pun menjadi ganas. Kami pun berlari seolah dikejar maling, sementara guide kami berusaha mengecoh si orang utan itu.

IMG_2979
Belantara Gunung Leuser, kanopi hijau terbesar di Sumatra

Lepas dari jerat orang utan, kami beristirahat kembali dan bertemu dengan serombongan tim lain dari Spanyol. Gila, tim Spanyol ini berisikan satu keluarga. Ayah dan ibu yang sudah lumayan tua, kira-kira umur 40an dan seorang anak berumur 10 tahun. Tangguh sekali mereka ini pikirku, dan kembali perasaanku ciut karena aku berfisik lemah.

Tak terasa perjalanan kami membelah hutan sudah memasuki pukul 17:30 dan kami hampir tiba di basecamp. Namun, derita belum berakhir karena etape terakhir ini bisa dikatakan yang terburuk daripada mimpi buruk manapun. Jalanan menurun nyaris 90 derajat, tanah basah dan licin. Aku bergidik, menelan ludah dan ingin pulang saja ke Jogja, tapi itu suatu kebodohan. Johannes dari belakang berteriak, “Come on! We almost reach our destination! Let me carry your backpack!” ucapnya. Dia membawakan ranselku dan itu sangat membantu. Kaki pun bergetar, aku turun tidak dengan kaki tapi dengan pantat alias ngesot. Mau bagaimana lagi ketimbang jatuh berguling-guling lalu hilang dari sejarah hidup, lebih baik ngesot dengan pantat memar asal selamat.

IMG_2966
Basecamp sederhana di jantung belantara Gunung Leuser

Selama satu jam perjuangan dan kami tinggal menyeberang sungai. Perjalanan terakhir ini seolah mengantarkanku ke surga yang sebenarnya. Basecamp sederhana yang hanya terbuat dari plastik seolah jauh lebih mewah dari hotel berbintang. Tiba di basecamp, tandanya penderitaanku berakhir.

Namun, lagi-lagi penderitaan itu memang lama untuk berakhir. Setelah menyantap indomie rebus sambil ditemani keheningan hutan, giliran badanku yang mulai error. Sekujur persendian nyeri luar biasa, ditambah lagi pantat yang memar-memar. Tanpa balsem ataupun pijat-pijat, aku cuma termenung di depan api unggun mensyukuri atas nikmat hidup yang masih bisa dirasakan.

IMG_3010
Senja di belantara Sumatra. Tanpa listrik dan sinyal. Damainya tiada terkira

Singkatnya, perjalanan trekking kali ini mengubahkan paradigmaku atas gunung secara selamanya. Alam bukan untuk ditaklukan, tapi untuk menikmatinya diperlukan skill dan juga semangat. Salutnya, melihat fisikku yang lemah, para bule tidak mencela tetapi menyemangati untuk tetap kuat hingga garis akhir.

Malamnya, tim kami tertidur dengan lelap. Ditemani bintang yang cerah, suara gemuruh sungai dan aroma khas belantara membuat tidur kami nyenyak, tak peduli ratusan nyamuk yang mengerubungi.

Hari kedua, jam-jam terakhir kami di jantung belantara. Melihat kondisiku yang bagaikan mayat hidup, para bule berbesar hati untuk tidak menempuh jalan pulang via trekking. Puji Tuhan Alhamdullilah, kami pun memilih untuk tubbing , alias pulang naik ban di atas sungai. Namun, kami dikenakan biaya tambahan sebesar Rp 100.000,- tapi itu bukan masalah bagi para bule.

Pukul 09:00 seluruh barang dikemas, dimasukkan ke dalam plastik super besar. Ban-ban disusun, diikat dengan tali menyerupai kereta perahu. Tepat pukul 10:00 perjalanan tubbing pun dimulai. Awalnya menyeramkan, tapi tubbing ini jauh lebih menyenangkan ketimbang arung jeram di Dufan ataupun tubbing di Gunung Kidul. Tubbing di Bukit Lawang memakan waktu total 120 menit, lumayan lama. Melewati puluhan jeram, kami pun berteriak puas.

IMG_2986
Ban Raksasa yang siap mengantar kami pulang

Waktu dua jam bukan waktu yang lama, tak terasa kami sudah tiba di perhentian akhir. Gila, dengan tubbing hanya butuh waktu dua jam, sedangkan trekking butuh waktu hampir 12 jam berjalan kaki dengan resiko tewas masuk jurang.

Syukur tiada tara, aku bisa tiba kembali di penginapan Bukit Lawang. Ada secuil rasa bangga karena bisa menikmati gunung Leuser dengan mata kepala sendiri. Dan juga, ada perasaan untuk pantang menyerah lebih lagi.

Perjalanan kami di TNGL hampir usai seiring dengan trekking yang berhasil kami lalui. Hari sudah menunjukkan Senin, 29 Juni 2015. Kami memiliki waktu satu hari tersisa menikmati Bukit Lawang sebelum melanjutkan perjalan ke utara, Nanggroe Aceh Darussalam!

IMG_3023
Kepulangan kami dirayakan dengan nanas segar seharga Rp 6.000,-

NB: 

Orang Indonesia harus mampir ke Bukit Lawang, untuk berkenalan langsung dengan saudara kita, primata Orang Utan.