Menjajal Terminal 4, Terminal Paling Anyar di Bandara Changi

Tepat 31 Oktober 2017 lalu, Bandara Changi Singapura mengenalkan Terminal 4, terminal paling anyarnya kepada dunia. Hadirnya terminal baru seluas 225 ribu meter persegi, atau seluas 27 kali lapangan bola ini menjadi sebuah kebanggaan tersendiri bagi Singapura, sebuah negara mungil yang bandaranya sibuk menjadi tempat persinggahan jutaan manusia. Continue reading “Menjajal Terminal 4, Terminal Paling Anyar di Bandara Changi”

Iklan

Bukan Kampung Halaman, Tapi Temanggung Selalu Memanggil Pulang

Kalau ada yang bertanya “kamu ini orang mana?” jujur, aku bingung menjawabnya. Secara geografis, aku lahir dan menghabiskan hidup selama 18 tahun di Bandung. Kemudian, selama 4,5 tahun aku hijrah di Jogja dan sekarang hampir setahun tinggal dan menyatu dengan ritme kehidupan di Jakarta. Continue reading “Bukan Kampung Halaman, Tapi Temanggung Selalu Memanggil Pulang”

Traveling, Sebuah Filosofi Hidup

IMG_3909

“Harus banget ya main air aja sampai ke Jogja?!” ucap temanku dengan heran. Aku tahu, pertanyaan itu bukan sekadar pertanyaan, melainkan lebih kepada sebuah protes mengapa aku niat pergi jauh-jauh dari Jakarta ke Jogja di Jumat malam, lalu pulang lagi di hari Minggu. Padahal, jika ingin bermain air, Jakarta punya banyak wahana yang asyik.

Sebagai seorang pemuda usia 23 tahun, keputusan untuk traveling di sela-sela pekerjaan bukanlah tanpa risiko. Ada yang mendukung, menyanjung, tapi tak sedikit pula yang mencibir. “Gak mikir apa, mending duitnya dipake nabung”, “Wah, udah banyak duit ya elu,” atau “Inget, modal kawin mahal, bro!” Aku tahu dengan pasti bahwa menabung itu amat perlu dan biaya resepsi kelak tidak murah. Tapi, aku juga tahu bahwa hidup ini hanya terjadi satu kali. Jadi, apa yang hanya satu kali ini akan kumanfaatkan semaksimal mungkin. Toh, siapa pula yang menyangka bahwa seorang Jupe di usianya yang masih kepala tiga ternyata sudah dipanggil pulang?

Bepergian beberapa kali dalam satu bulan bukan berarti aku menjadi seorang yang sembrono, yang menghamburkan uang hanya untuk traveling dan traveling. Aku tetap memiliki kebijakan yang mengatur supaya pengeluaran dan pemasukan itu tetap selaras dan digunakan sebaik mungkin. Bagiku, bekerja dan bepergian adalah dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan. Pekerjaan itu mengisi dompet, dan perjalanan itu mengisi jiwa. Jika dua-duanya sama-sama terisi, tentu hidup akan lebih nikmat.

Singkirkan sejenak gambaran liburan yang serba mudah dan mewah. Sekalipun anggaranku pas-pasan, tapi sebisa mungkin aku berusaha untuk mendapatkan kesan yang maksimal. Tidak boleh menggunakan kereta api selain kelas ekonomi. Sebisa mungkin tidak masuk ke dalam mal. Makan makanan di kaki lima saja. Hal-hal inilah yang justru membuat perjalanan travelingku terasa menyenangkan. Lewat tulisan ini, aku hendak membagikan sedikit apa yang menjadi filosofiku di balik kesukaanku menghilang dari belantara Jakarta di tiap akhir pekan.

Terlahir di keluarga yang dulu hidupnya pas-pasan membuat bibit traveling tertanam sejak dini. Sewaktu aku masih balita, ayah bekerja sebagai penjual kue pukis keliling. Setiap pagi, kue-kue yang telah siap itu dimasukkan ke dalam keranjang dan diikat di bagian belakang sepeda. Kue-kue pukis itu harus segera didistribusikan ke beberapa pasar di kota Bandung sebelum matahari beranjak tinggi.

Di bagian depan sepeda, ayah membuat sebuah boncengan khusus untuk anak-anak. Boncengan itu berwarna hijau dan diikat kuat di besi sepeda. Di situlah aku duduk selama beberapa jam, wara-wiri di jalanan kota Bandung, dari pasar ke pasar. Aku lupa bagaimana perasaanku waktu itu, tapi aku ingat sebuah peristiwa yang paling kusuka. Setiap kali pukis-pukis itu selesai didistribusikan, sebelum pulang ayah akan membawaku melewati rel kereta api di timur stasiun Bandung. Ada jembatan penyeberangan di sana dan kami berdiri selama beberapa menit di atasnya. Sebagai keluarga pas-pasan, hiburan yang paling bisa dilakukan waktu itu adalah menonton kereta api. Aku yang masih bocah itu senang bukan kepalang tatkala kereta melintas, kemudian menunjuk-nunjuk tiap-tiap gerbongnya sambil merengek, “kapan naik kereta?” Ayah hanya menjawabnya dengan senyum dan “Nanti ya”.

Seiring waktu beranjak, kehidupan ekonomi keluarga mulai membaik dan sekarang aku telah bekerja. Pengalaman duduk di atas sepeda dan kesukaanku pada kereta api itulah yang akhirnya membuat jiwa traveling ini tetap hidup. Setidaknya satu bulan sekali, aku akan pergi menggunakan kereta api kelas ekonomi. Entah itu ke Cilacap, Tegal, Jogja, Bandung, Purwokerto, atau lainnya. Di kota-kota yang kusinggahi itu aku tidak menginap di hotel, melainkan di rumah-rumah teman yang sebelumnya sudah aku hubungi terlebih dahulu.

Jika liburan ditujukan untuk memanjakan diri, traveling yang kulakukan bertujuan untuk melatih diri. Ketika aku duduk berjam-jam di atas kursi tegak kereta ekonomi, aku belajar bahwa hidup tidak selamanya memberi kita kenyamanan. Namun, apabila ingin tiba di tujuan, aku harus bersabar. Ketika duduk berhadap-hadapan dengan orang asing yang sama sekali tidak kukenal, aku belajar untuk bagaimana membuka percakapan. Teori komunikasi boleh menjabarkan puluhan teori tentang interaksi antar manusia, tapi untuk memulai percakapan itu aku belajar bahwa hanya ada satu hal yang diperlukan untuk mencairkan suasana, yaitu dengan senyum dan sapaan tulus.

Tatkala aku kelelahan karena memanggul ransel, aku belajar bahwa dalam hidup ini ada beban yang harus dibawa. Ketika punggungku sakit, aku tidak menjadi bad mood, mengakhiri traveling lalu pulang, tapi aku beristirahat sejenak, sekadar duduk-duduk di peron stasiun, lalu kembali berjalan. Demikian juga dengan hidup. Ketika beban hidup terasa terlalu berat dan membuatku lelah, aku tidak menyerah, melainkan beristirahat sejenak, kemudian melanjutkan rutinitasku lagi.

Tatkala aku menginap di rumah teman-temanku, bukan semata-mata karena aku pelit tidak mau keluar uang banyak. Tapi, dari sanalah aku belajar memahami teman-temanku. Aku belajar untuk bertegur sapa dan bersahabat bukan hanya kepadanya seorang, tapi juga dengan seisi keluarganya. Ketika mereka menerimaku dengan tangan terbuka, aku belajar dan menyadari bahwa sesungguhnya aku dicintai dan memiliki orang-orang yang mendukungku.

Teman-temanku inilah yang mengajarkanku bahwa keluarga itu tidak selalu berkaitan dengan darah. Kebersamaan itu bisa dibangun melintasi sekat-sekat perbedaan. Ketika kami duduk makan bersama-sama dan saling mengobrol, di situlah kami bertukar pikiran dan memperkaya pandangan kami masing-masing.

IMG_3904
Bersama keluarga Bp. F. Sumaryo di dusun Gebiri, Banjarasri, Kalibawang. Pertama kali bertemu di tahun 2011, sejak saat itu hingga kini kami menjadi erat layaknya keluarga.

Tatkala aku membeli sebuah pop-mie di ibu-ibu asongan pinggiran stasiun, aku tidak sekadar membuat perutku yang keroncongan itu terisi. Tapi, lebih dari itu, mungkin saja selembar uang sepuluh ribu yang kubayarkan kepada sang ibu itu dia digunakan untuk membeli beras bagi keluarganya, merawat suaminya yang sakit, membayar tagihan listrik, juga untuk membiayai sekolah anak-anaknya.

Dompetku tidak tebal. Oleh karena itu, aku mau memastikan setiap rupiah yang keluar dari dompetku itu bisa diterima di orang-orang yang tepat. Aku tidak anti terhadap mal dan makan di restoran, hanya saja hatiku terasa lebih nyaman dan sejahtera tatkala aku duduk makan di pinggiran jalan, bersama sepiring pecel lele dan mangkok kobokan.

Aku tidak tahu di mana aku akan berada di masa depan. Namun, satu yang pasti, ke mana sang Khalik menuntun, ke situlah aku kan menuju.

Mengapa Harus Membeli kalau Tidak Butuh?

Beli1Hari itu Minggu sore. Seorang bocah lelaki menghampiriku dengan baju sedikit basah karena kehujanan. Di tangan kanannya ada dua buah kemasan tissue, sedangkan di tangan kirinya ada sebuah kantong plastik besar berisikan puluhan kemasan tissue.

“Kak, dibeli tissuenya, 5 ribu satu,” ucapnya kepadaku dengan nada lesu. Menanggapi penawarannya, pertama-tama aku membalasnya dengan tersenyum. “Kok hujan-hujanan dek?” tanyaku padanya. Dia tidak menjawab, hanya tersenyum tipis kemudian menunduk.

Kuambil dua buah tissue dari tangan kanannya. Alih-alih langsung membayar, kuajaknya duduk sejenak di kursi kosong sebelahku seraya menunggu hujan. Bukan sebuah kebetulan, saat itu aku membawa serta aneka camilan yang sedianya akan kubawa ke kantor di Jakarta. Melihat anak itu duduk di sampingku, kusodorkan kantong plastik berisi aneka camilan itu padanya.

“Kamu mau yang mana, nih ambil yang kamu mau,” kataku. Tanpa bertanya lebih lanjut, bocah itu mengulurkan tangannya ke dalam kantong dan mulai memilih makanan mana yang hendak dia ambil. Pilihannya jatuh pada sebungkus astor cokelat. Kemudian dia memasukkan astor itu ke dalam kantong plastik hitam yang dibawanya.

“Ambil satu lagi gih, tadi kan yang manis, sekarang ambil yang asin,” kataku lagi. Kembali dia memasukkan tangannya ke dalam kantong makanan itu dan diambilnya seplastik kerupuk pedas. Ekspresinya pun berubah, kemudian ada senyum lebar tersungging dari wajahnya hingga akhirnya kami menjadi akrab dan mengobrol.  

Ditemani hujan yang rintik, bocah tadi bercerita tentang keluarganya. Ia adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Setiap sore dia berjualan tissue di sepanjang jalan Cihampelas. Tak peduli terik maupun hujan, yang dia tahu hanyalah berjualan tissue untuk membantu orangtua dan adik-adiknya. Ketika ada orang yang membeli jualannya, ia akan berterima kasih, namun apabila ada orang-orang yang menolak jualannya, ia akan berlalu dan pergi kepada orang yang lain, demikian seterusnya.

Ketika aku melihat senyum lebar di wajah bocah kecil itu, hatiku yang semula hambar berubah menjadi penuh rasa. Sejenak aku lupa tentang cicilan dan uang kost yang harus kubayar di awal bulan nanti. Senyum sumringah anak tadi begitu polos dan menegurku. Bocah ini mampu tersenyum penuh syukur ketika tangannya menggenggam dua plastik camilan yang harganya tidak seberapa.

Ketika hujan akhirnya reda, kusodorkan selembar uang dua puluh ribuan kepadanya. “Ambil kembaliannya buat kamu, dek,” kataku lagi kepadanya. Dia pun mengangguk, mengucapkan terima kasih dan kembali melanjutkan pekerjaannya sebagai penjaja tissue keliling.

Pertemuan sore itu membuatku merenung sepanjang jalan menuju Jakarta. Di tengah kemacetan jalan tol yang seolah tak berujung, wajah anak tadi terus terbayang. Aku membayangkan bagaimana keluarganya, juga masa depannya kelak. Dari bocah kecil itu kembali disadarkan kalau semua di dunia ini relatif. Kekayaan seringkali tidak bisa diukur dari deretan angka di rekening, tapi dari seberapa puas diri kita dengan apa yang ada.

Aku mungkin tidak membutuhkan dua kemasan tissue itu, tapi aku butuh untuk belajar memberi. Dari memberi, aku pun diberi. Selembar uang yang kuberikan kepada bocah itu bisa jadi memberi sukacita bagi dia dan seisi rumahnya.

Aku teringat akan perkataan sang Guru Agung yang menjadi panutanku. “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, apa saja yang telah kamu lakukan kepada seseorang yang terkecil dari saudara-saudara-Ku ini, kamu telah melakukannya kepada-Ku.”

Jika saat itu sang Guru Agung ditawari tissue oleh bocah kecil tadi, mungkin dia akan melakukan hal serupa sepertiku. Atau, bisa jadi juga dia akan melakukan lebih dari sekadar yang kulakukan, yaitu memberi kelegaan dan sukacita yang abadi.

Bandung, 26 Maret 2017

beli2

Menemukan Roh Perjalanan di antara Tegal dan Jakarta

TegalCoverBepergian naik kereta ekonomi memang tidak senyaman pergi dengan kereta eksekutif, mobil pribadi, ataupun juga pesawat. Namun, di balik harga tiketnya yang murah dan tempat duduknya yang sempit, gerbong-gerbong kereta ekonomi menyajikan nuansa lain suatu perjalanan, yaitu kebersamaan. Berawal dari sebuah senyuman dan tegur sapa, perjalanan nan panjang menjadi lebih asyik diselingi obrolan hangat.

Ratusan penumpang mulai berbaris tatkala petugas stasiun mengumumkan kalau kereta api Tegal Ekspress telah tersedia di peron 3 Stasiun Pasar Senen. Hari itu, di Sabtu pagi tidak terlalu banyak kereta api yang berangkat jika dibandingkan dengan Jumat malam. Setelah kereta api Bogowonto dengan tujuan Yogyakarta diberangkatkan, kini tibalah kereta api Tegal Ekspress menunggu giliran untuk berangkat.

Tidak sampai 15 menit setelah pengumuman boarding disiarkan, seluruh gerbong kereta api Tegal Ekspress sudah dipenuhi oleh penumpang.  Ketika kulayangkan pandangan ke seluruh penjuru gerbong, tidak ada kursi kosong yang tersisa untuk keberangkatan hari itu. “Sungguh beruntung!” gumamku dalam hati karena masih bisa mendapatkan tiket walaupun membelinya secara mendadak.

Sebetulnya ada perasaan menyesal karena kursi yang kududuki hari itu bukanlah kursi di samping jendela. Aku harus duduk di kursi nomor 16B, kursi yang sangat kuhindari karena bisa mengakibatkan mati gaya! Duduk selama berjam-jam diapit dua orang itu memang tidak nyaman. Kepala tidak bisa bersandar kemana-mana, belum lagi posisi bokong yang terasa sempit. Tapi, akhirnya aku harus menerima kenyataan dengan ikhlas dan kecewa itu perlahan pudar seiring dengan kereta yang beranjak pergi.

tegal6
KA Tegal Ekspress tunggu bersilang di Stasiun Haurgeulis, Subang

Tiga orang yang duduk di depanku adalah sebuah keluarga yang terdiri dari suami, isteri, dan anak. Mereka bertiga hendak bertolak ke Cirebon. Sang suami tampak sudah cukup berumur dengan kerutan-kerutan tebal di wajahnya, demikian juga dengan istrinya. Mereka juga membawa serta dua karung ukuran besar dan sebuah kardus televisi. “Buat oleh-oleh di kampung mas,” ujar mereka kepadaku sambil diselingi tawa kecil.

Penumpang di sebelah kiriku adalah seorang pemuda yang sedari naik gerbong sudah memakai headset dan langsung menyandarkan kepalanya di jendela. Sedangkan penumpang di sebelah kananku ini cukup unik. Dia memakai topi dan masker biru, juga tidak membawa apapun selain tiga buah handphone yang digenggamnya.

Dua jam berlalu dan lama kelamaan kaki mulai terasa pegal. Duduk di kereta ekonomi memang harus pandai berkoordinasi dengan penumpang di depan, kalau tidak kita akan sulit untuk meluruskan kaki. Bapak yang duduk persis di depanku telah tertidur pulas dan posisi kakinya menyulitkanku untuk mengerakkan kaki. Daripada duduk membeku akhirnya kuputuskan untuk jalan-jalan saja ke ruang restorasi.

tegal7
Menikmati pemandangan sambil menulis buku harian. Terbaik!

Ruang restorasi berada di posisi tengah rangkaian kereta, jadi aku harus berjalan sejauh empat gerbong ke depan untuk mencapainya. Puji syukur karena walaupun kereta hari itu penuh, gerbong restorasi kosong melompong. Sambil menikmati makanan berupa ayam kecap seharga Rp 22.000,- aku menikmati hamparan sawah yang terbentang dari balik jendela kereta.

Tapi, kenyamanan ini tidak berlangsung lama karena ada penumpang lain yang juga datang ke restorasi. Berhubung meja di gerbong ini terbatas maka aku pun mengalah dan kembali ke gerbong ekor tempatku duduk.

Pertemuan dengan kawan baru: Mbak Dewi

Setelah kereta api melintasi Cirebon dan keluarga di depanku turun, masih tersisa sekitar satu setengah jam sebelum kereta ini tiba di stasiun Tegal sebagai tujuan akhir. Penumpang yang duduk di sebelah kananku membuka maskernya dan mengajakku mengobrol.

“Tegalne ndi mas?” tanyanya dalam logat Ngapak. “Ndak di mana-mana mbak, Cuma nang stasiun wae. Abis itu aku balik lagi Jakarta kok,” jawabku. Mendengar jawaban itu, si mbak mengernyit dan penasaran. Kemudian dia menatapku dari ujung rambut hingga ujung kaki. Mungkin dia pikir kalau aku itu kurang kerjaan karena jauh-jauh naik kereta ke Tegal, lalu sampai di stasiun sana langsung pulang lagi ke Jakarta.

“Lah, mas nya aneh, apa gak cape ya, hahaha. Ngomong-ngomong kerjaannya apa mas?” Tanya mbak Dewi sambil tertawa. “Aku sih kerjaannya berhubungan sama tulisan mbak, kadang nulis, kadang ngedit. Makanya jalan-jalan supaya ada ide,” jawabku padanya. Merasa tak terlalu puas dengan jawaban itu, dia memandangiku sekali lagi dan kembali bertanya. “Mas nya sipit, orang mana sih mas? Bukan muslim ya?” tanyanya. Aku menjawabnya dengan tertawa kecil, “Orang Indonesia kok mbak, asli Bandung, aku Kristen.”

Perawakanku yang kurus, berambut kriting, dan bermata lumayan sipit (menurutku begitu) memang menjadi perhatian tersendiri ketika aku bepergian naik kereta ekonomi. Sambil memanggul ransel besar dan kamera di samping, orang seringkali bertanya ke mana tujuanku. Tak berhenti sampai di situ, biasanya mereka juga akan menanyakan hingga ke identitas pribadi, termasuk ras dan keyakinan.

Tapi, buatku itu tidak masalah. Toh, mereka bertanya itu kan murni atas dasar kepo alias ingin tahu. Lagipula sebagai sarjana Komunikasi, aku tentu mengerti kalau orang Indonesia adalah tipe orang yang sangat suka berbasa-basi.

tegal 6
Mbak Dewi 

Obrolan aku dan mbak Dewi pun berlanjut hingga akhirnya aku mengetahui kalau umurku dengannya itu tidak terpaut jauh—hanya berbeda dua tahun saja. “Gue pikir kamu orangya sombong mas, tapi taunya ramah haha,” katanya sedikit memujiku. Awalnya memang aku tidak mau berbicara dengan dia karena sejak awal masuk ke gerbong, si mbak Dewi ini hanya memegang handphone dan sesekali menelpon rekannya dengan kata-kata kasar.

Kami pun semakin larut dalam obrolan. Setelah aku menceritakan maksudku datang ke Tegal hanya untuk pulang lagi, kini giliran dia untuk bercerita tentang dirinya. Awalnya obrolan kami hanya sekadar basa basi, tapi lama-lama mbak Dewi menganggap kalau aku orang yang tepat untuknya mencurahkan segala beban hidup.

Aku pikir dia adalah perempuan yang sangat tegar. Bagaimana tidak, di usianya yang hampir sepantar denganku ternyata dia sudah berstatus sebagai janda. Beberapa tahun lalu dia menikah dengan suaminya yang berasal dari Cilacap. Setelah pernikahan mereka dikaruniai seorang putri, suaminya pergi entah kemana tanpa pernah memberi kabar hingga hari ini.

Akhirnya, mbak Dewi harus membesarkan sendiri anaknya yang tahun ini sudah harus masuk ke bangku sekolah. Perjuangannya tidak berhenti sampai di situ, setiap harinya mbak Dewi bekerja sebagai penjaga kantin di kawasan Bundaran HI Jakarta. Sejak subuh dia sudah harus memasak dan menyiapkan kantin dan baru kembali saat hari sudah malam. Untuk pekerjaan beratnya itu, upah maksimum yang bisa dia dapatkan adalah Rp 50.000,-.

“Sedih mas saya. Paling sebulan saya dapet duit sejuta, lima ratusnya saya kirim ke kampung buat anak. Lima ratusnya buat saya, buat makan, bayar kost, beli ini itu,” tuturnya lirih. Aku pun hanya bisa mengangguk-angguk tanpa tahu solusi apa yang bisa kuberikan padanya. “Terus, apa nggak rencana cari kerja di Tegal aja biar deket sama anak?” tanyaku. “Gak bisa mas, mau kerja apa saya di kampung? Sulit mas cari kerja di kampung!” jawabnya.

Jawaban itu membuatku merenung sejenak. Mbak dewi, termasuk juga diriku sama-sama bertarung dari daerah untuk memperebutkan rupiah di Ibukota. Mungkin aku lebih beruntung daripada mbak Dewi karena pekerjaanku terlihat lebih baik. Tapi, hati kecilku bertanya-tanya, mengapa di negeri yang begitu luas dan kaya akan sumber daya alam ini, semua perhatian orang-orang hanya terpusat kepada Jakarta?

Jakarta memang ibukota, dia menyediakan janji tentang hidup sukses. Apapun pekerjaannya, yang penting di Jakarta! Setidaknya prinsip itulah yang masih tertanam dalam benak beberapa orang, termasuk juga dalam benak mbak Dewi. Sekalipun pekerjaan di Jakarta hanya sebagai pekerja kasar, tapi ada rasa bangga sedikit ketika orang-orang di desanya mengetahui kalau dia telah bekerja di Jakarta.

Bagi sebagian orang, Jakarta masih menjadi segalanya—tempat mereka menggantungkan mimpi dan harapan. Sekalipun upah yang dia dapatkan di Jakarta itu sedikit, tapi mbak Dewi belum mau menyerah dengan hidupnya. “Saya gak mau anak saya nanti susah, mas” tuturnya bersemangat. Jerih keringatnya setiap hari seolah bukan menjadi beban yang berarti ketika dia mengingat kembali tanggung jawabnya sebagai seorang ibu.

Tak terasa obrolan kami yang serius dan panjang itu harus berhenti ketika kereta mulai melambat. “Wah, udah mau nyampe. Udah mas, mampir aja ke rumah saya nanti naek ojek!” ajak mbak Dewi. “Nggak bisa mbak, kan jam setengah tiga saya harus balik lagi ke Jakarta,” jawabku. Sebelum kami berpisah, kami sempat bertukar kontak dan mengakhiri pertemuan kami dengan jabatan tangan.

Tiba di Tegal, saatnya pulang ke Jakarta

Hanya kurang dari satu jam aku habiskan untuk berkeliling Tegal. Dari stasiun aku berjalan kaki menuju Taman Poci, lalu pindah lagi menuju alun-alun. Sambil berteduh sejenak, aku juga membeli seporsi tahu gejrot. Puas mengisi perut dan memotret beberapa sudut kota Tegal, aku bersiap untuk pulang kembali ke Jakarta.

Pukul 14:30, kereta Tegal Ekspress kembali membawaku ke Jakarta. Kali ini tempat dudukku adalah hotseat karena persis di samping kaca. Perjalanan kembali ke Jakarta ini tidak terlalu menyenangkan dan tak ada cerita unik untuk dibagikan. Setelah lima jam menembus pantura Jawa Barat, kereta pun tiba di Stasiun Jatinegara dan aku melanjutkan pulang ke Kalideres.

tegal3
Kereta api Tegal Ekspress tersedia di peron 3 Stasiun Tegal

Roh Perjalanan adalah Kawan 

Aku tahu dan sadar kalau perjalanan seperti ini membuatku capek dan sebagian orang menganggap ini sebagai sesuatu yang aneh. “Lu masih muda, cari duit tambahan kek!” atau “Mending lu tidur, istirahat.” Dan banyak komentar-komentar lainnya.

Komentar itu semua benar, tidak ada yang salah. Namun, aku memiliki pilihan tersendiri atas hidupku. Berhubung hidupku hanya satu kali, aku mau memaksimalkannya untuk menikmati apa yang aku suka. Karena kesukaanku adalah naik kereta api, maka selama aku punya anggaran, tidak ada salahnya aku jalan-jalan.

Dalam setiap perjalananku naik kereta ekonomi, selalu ada cerita-cerita yang kubagikan. Dari tiket kereta seharga Rp 40.000,- yang kubeli itu, aku bisa bertemu dengan mbak Dewi dan menjadi teman curhatnya selama satu jam lebih. Aku percaya bahwa tidak ada yang kebetulan. Jika hari itu aku duduk di gerbong dan bertemu dengan mbak Dewi, mungkin aku sedang dikirim oleh Tuhan untuk menjadi corong pendengar segala keluh kesahnya.

Ada satu quote yang selalu aku ingat dari Couchsurfing: “A journey is best measured in friends, not miles.” Perjalanan itu diukur dari teman, bukan jarak. Dalam perjalanan, tujuan dan jarak hanyalah bonus, tapi cara kita menikmati perjalanan itulah yang memang utama. Itulah yang menjadi spirit dari traveling. 

Sepuluh jam lebih duduk di atas kereta api, aku menemukan kembali roh perjalanan itu. Ketika dunia, khususnya kelas menengah ibukota mulai menjadi sibuk dengan urusan diri sendiri, aku mau tetap belajar untuk memberikan apa yang ada padaku kepada orang lain. Bukan cuma uang, tapi juga waktu. Sekecil apapun perhatian dan niatan tulus yang disebar kepada dunia, niscaya itu tidak akan kembali dengan sia-sia.

tegal2
Doraemon, kawan kecil seperjalanan yang selalu kubawa kemanapun