Hal Terbodoh yang Pernah Kulakukan

1

Ketika aku membuka kembali kumpulan foto-foto lama di hardisk-ku, pandanganku terhenti di sebuah foto ketika aku berpose di depan sebuah mobil pikap.  Di atas pikap itu, ada kasur, lemari, dan puluhan perabotan lainnya yang siap diangkut. Seingatku, foto itu diambil pada hari Sabtu—hari di mana aku amat sumringah karena akan pindah ke rumah kos yang baru.

Continue reading “Hal Terbodoh yang Pernah Kulakukan”

Iklan

Bertemu Oma Tilly: Walau Tak Dapat Melihat, Tapi Masih Mau Menulis

oma1
Bersama oma Tilly Palar

Selalu saja ada hal menarik dari pekerjaan sebagai editor. Tulisan-tulisan yang masuk ke redaksi setiap harinya beraneka-ragam seperti sepiring rujak buah. Ada tulisan yang manis mengaharukan tapi ada juga tulisan yang kecut dan harus membuat si editor garuk-garuk kepala.

Beberapa minggu lalu, ada sebuah kiriman tulisan yang masuk. Biasanya pengirim-pengirim tulisan itu adalah anak-anak muda yang usianya dari 15 – 20 tahunan. Tapi, kali ini berbeda, seorang oma berusia 70 tahun mengirimkan tiga judul tulisan sekaligus ke email redaksi.

Setelah dibaca-baca, dari tiga tulisan yang dikirimkan, ada satu yang topiknya cukup relevan dengan kehidupan generasi muda masa kini. Sang oma yang bernama Tilly Palar itu menulis sebanyak delapan halaman cerita, tanpa spasi dan ukuran font 11! Beliau bercerita panjang lebar dan begitu rinci tentang pengalaman hidupnya ketika membesarkan anak-anaknya. Tulisan tersebut lebih cocok dengan tulisan-tulisan yang ditulis dalam sebuah novel.

Awalnya sempat ada rasa ragu, apakah tulisan ini harus diterima atau ditolak? Jika diterima, berarti harus berusaha keras untuk melakukan editing. Tulisan nan panjang itu harus dipangkas, karena pembaca website itu tidak suka tulisan yang terlalu panjang. Lalu, gaya bahasa juga harus disesuaikan ulang dengan karakter umum pembaca. Tapi, jika ditolak pun sebenarnya ada rasa tidak enak, terlebih karena beliau tentu sudah berusaha banyak untuk menuliskan delapan halaman itu.

Akhirnya proses penyuntingan pun dimulai. Karena faktor usia, agak sulit untuk berkorespondensi dengan beliau sehingga kami pun memutuskan untuk bertemu dan mengobrol langsung saja daripada harus berkorespondensi melewati email atau telepon.

Sang Oma tak lagi prima, tapi jiwanya tetap menyala

Singkat cerita, hari Minggu (2/4/17) aku menemui sang Oma di sebuah gereja di kawasan Lippo Karawaci, Tangerang. Dalam gambaranku waktu itu, sang Oma tentulah masih segar bugar dan terampil menggunakan perangkat gadget. Toh bisa menulis delapan halaman, pasti Oma yang keren deh. 

Setelah menunggu beberapa menit di depan pelataran gereja, sang oma pun datang. Beliau turun dari mobil, kemudian dituntun secara perlahan oleh seorang kawanku. Setelah mencapai tempat duduk, aku pun berkenalan dengan Oma.

Ternyata dugaanku salah. Kupikir oma ini keren, ternyata, dia jauh lebih keren! Di usianya yang ternyata sudah menginjak usia ke-70 tahun ini, beliau sudah tidak dapat lagi melihat. Pandangannya telah kabur sehingga dia harus dituntun kemanapun pergi. Beberapa tahun yang lalu pun beliau pernah mengalami serangan jantung.

Kondisi fisik yang terus menurun ternyata tidak sejalan dengan jiwanya. Semangatnya tetap menyala. Dengan senyum dia menyapaku. “Oh ini Ary ya, wah Oma senang sekali bisa duduk mengobrol bareng,” ucapnya hangat. Selama beberapa menit kami pun mengobrol. Beberapa pertanyaan kulontarkan kepadanya, dan oma pun menjawabnya dengan sangat detail, bahkan terlampaui detail. Ingatannya masih begitu kuat sehingga dia menjawab tiap pertanyaan dengan antusias.

oma2
Mewawancarai oma terkait tulisannya

Dalam kondisi telah rabun, oma masih semangat menulis. Tentu dia tidak mampu lagi menulis sendiri, melainkan ada seorang asistennya yang akan menuliskan apa yang diucapkan oleh oma.

Setelah semua pertanyaan usai dijawab oleh oma, kami pun mengobrol ngalor-ngidul tentang banyak hal. Di ujung pembicaraan, oma kembali mengundangku untuk datang menemaninya bercerita di minggu depan, juga minggu depannya lagi. Terakhir, dia menyampaikan minatnya kalau beliau masih ingin menulis buku! Oleh karena itu beliau ingin sekali memiliki teman bicara yang dapat membantunya bertukar pikiran.

Tulisan oma mungkin tulisan yang biasa-biasa saja, tetapi roh semangatnya merasuk hadir di setiap kata-kata yang dituliskannya. Pertemuan dengan oma mengajariku satu hal, yaitu tidak pernah ada kata terlambat untuk berkarya dan belajar. Jika oma yang usianya telah senja dan fisik yang terbatas saja masih semangat menulis, terlebih aku yang usianya masih hijau bagai pisang yang masih mentah di pohon.

Demikianlah sepenggal kisah dari keseharian sebagai seorang editor.

“There is joy in the Lord.”

 

Jakarta Barat, 3 April 2017

Mengawali dengan Semangat, Menutup dengan Manis

Ada awal, juga akhir. Ada suka, juga duka. 

Kadang, akhir tak selalu berakhir suka 

pun awal tak tentu dimulai dengan duka

adalah proses yang menjadikan kita kaya

kaya akan pengalaman, juga kenangan dari orang-orang tercinta

Masih berasa mimpi ketika menyadari kalau waktuku di Jogja kurang dari satu minggu tersisa. Rasa-rasanya baru kemarin memasuki kampus, ospek, kenalan sana-sini, mbribik gebetan, sibuk organisasi, dan sekarang semua itu seolah berjalan begitu cepat tak bersisa.

Satu bulan setelah pengumuman diterima bekerja di Jakarta, ada rasa sukacita yang bercampur aduk dengan sedih. Satu sisi senang karena bekerja, tapi ada rasa sedih karena harus meninggalkan Jogja dengan segudang isinya yang begitu memikat hati. Aku menyadari kalau masa transisi, atau masa perpindahan memang berat, tapi harus dijalani dengan tegar.

Ada satu hal yang membuatku begitu mencintai Jogja setengah mati, sampai-sampai ada teman yang bertanya, “kok lu bisa sebegitunya banget sih sama Jogja?”. Kadang aku pun tak tahu harus menjawab apa, karena rasa cinta itu hanya bisa dirasakan dengan hati, dan sulit dituangkan dalam beragam kata.

Merantau untuk Mengenali Hidup 

Keputusanku untuk pindah ke Jogjakarta empat tahun lalu rasa-rasanya adalah keputusan sepele pada waktu itu. Ada banyak kampus di Bandung, tapi aku memilih Jogja dengan satu alasan, yaitu nyaman. Berbekal kenyamanan itu, Jogja menjadi tempatku berlabuh selama empat tahun.

Berasal dari keluarga broken, membuatku tak menemukan jati diri yang pas semasa sekolah dahulu. Aku minder ketika teman-temanku terkenal dengan pencapaiannya sendiri, sedangkan aku merasa useless dan tak dicintai. Perlahan ketika perkuliahan dimulai, aku tahu kalau merasa rendah diri itu buruk. Alih-alih menyalahkan keadaan, lebih baik aku mulai menggali potensi diri.

Aku lupakan soal minderku, kucoba mulai berorganisasi, menekuni hobbyku dan bergaul dengan lebih banyak orang. Perlahan tapi pasti, pertemuanku dengan orang-orang baru inilah yang menempa karakterku, dari seorang yang lembek menjadi seorang yang kuat. Diperhadapkan dengan berbagai karakter teman mengajariku untuk mengerti orang lain terlebih dahulu ketimbang bersikap egois.

Dari merantau, aku mengenali apa itu yang namanya kangen dengan teman, juga keluarga. Jarak yang terpisah membuatku lebih menghargai suatu pertemuan. Jogja juga mengenalkanku pada apa yang disebut sebagai pertemuan dan perpisahan. Sambilanku sebagai travel guide mengantarku pada pertemuan dengan sahabat-sahabat dari berbagai negara. Ketika sudah dekat dengan mereka, tiba-tiba harus berpisah dan tidak tahu lagi kapan bertemu. Sedih memang, tapi perpisahan ini terjadi supaya aku menghargai arti pertemuan.

Merantau kadang memang membuat nyaman, namun tak selamanya nyaman itu baik untuk kita. Nyaris tak ada yang bertumbuh di zona nyaman selain rasa manja. Hidup itu adil dan memiliki prosesnya sendiri, ketika kita terlalu nyaman di suatu tempat, otomatis akan ada masanya di mana kenyamanan itu akan dicabut.

Tunas harapan yang kecil kini telah tumbuh dengan subur di sebuah pot bernama Jogja, namun pot ini tak lagi cukup untuk memuat akar-akar yang kian memanjang. Tuhan mencabutku dan menempatkanku pada pot baru bernama Jakarta.

Mengawali dengan Semangat, Menutup dengan Manis 

“Manisnya hidup, kita yang tentukan,” tagline dari iklan produk gila. Nampaknya slogan iklan itu ada benarnya juga. Jika hari ini aku memutuskan untuk terlarut dalam duka karena perpisahan, maka rasa manis itu akan berubah menjadi manis yang merusak, tak lagi sehat.

img_0991img_1477img_1534img_1546img_1549img_1592img_7830img_8653

Dulu ketika aku mengawali petualangan untuk empat tahun di Jogja, aku mengawalinya dengan harapan kecil. Kini ketika petualangan itu tuntas, ditutup dengan kenangan manis yang dibentuk dari pertemuan dengan banyak orang. Ada keluarga di KKP yang mengajariku untuk bekerja dengan passion. Keluarga HMPSKom yang mengajariku apa arti dari totalitas bekerja. Keluarga di OnFire yang mengajariku tentang arti pelayanan. Juga seisi rumah kostku yang mengajariku tentang apa itu berbagi rasa dan menerima perbedaan.

Dan…di ujung perjalanan ini, Jogja menjadi terasa begitu manis. Saking manisnya, air mata pun terasa manis. Bukan tangis sedih yang terurai, tapi tangis bahagia, sebuah sukacita karena diberi kesempatan untuk bertemu dan berproses bersama orang-orang pilihan yang luar biasa!

Ironi Ganja di Balik Gunung Leuser

Pertama kali seumur hidup, kami digirng masuk ke dalam kantor polisi bersama seluruh penumpang minibus. Perempuan tua renta yang duduk di samping kami ternyata kedapatan membawa ganja seberat lima kilogram untuk dibawa ke Medan. Kaget sekaligus miris, bagaimana bisa sesosok wanita renta berkerudung itu menyembunyikan barang haram di balik tas bahkan jilbabnya. Namun, itulah yang terjadi di Aceh Tenggara dimana ganja masih menjadi ironi antara kemiskinan dan bisnis yang menggiurkan.

IMG_3433
Jalan lintas kabupaten antara Blangkejeren-Kutacane-Tigabinanga

13 Juli 2015, kami melanjutkan perjalanan dari Takengon menuju Berastagi via lintas Aceh Tenggara. Perjalann ini bisa dikatakan paling melelahkan dari seluruh etape yang telah kami lalui. Jalanan beraspal yang jarang, lubang menganga, dan longsoran sana-sini menyita waktu tempuh perjalanan. Ditambah lagi kondisi minibus yang seadanya membuat badan ini serasa remuk.

IMG_3416
Minibus rute Takengon – Kutacane melintasi jalan lintas provinsi via Aceh Tenggara

Dari Takengon kami harus transit di Ketambe, beberapa kilometer sebelum Kutacane untuk kemudian mencari angkutan lanjutan ke perbatasan provinsi. Di Ketambe suasana begitu teduh, kami menemukan sebuah pondokan di kaki Gunung Leuser seharga Rp 50.000,- per malam. Aturan syariat tidak terlalu ketat di sini sehingga pukul 17:00 sebelum buka puasa pun kami bisa makan dengan bebas di pondokan.

IMG_3428
Pondok Ketambe, sebagai tempat transit atau basecamp pendakian Gn. Leuser
IMG_3431
Ruang makan di Pondok Ketambe. Umumnya turis asing yang singgah disini karena tercantum dalam Lonely Planet

Gunung Leuser bak karpet hijau membentang, lebat sekali seolah tidak ada celah untuk masuk. Selain sebagai kanopi hijau terbesar yang masih tersisa di Sumatra, Gunung Leuser juga disinyalir menyimpan ladang-ladang ganja yang notabene ilegal. Dalam pembicaraan kami dengan petugas penjaga hutan ia mengatakan bahwa ada ladang-ladang yang terletak di jantung hutan. “Butuh jalan kaki dua minggu mas untuk bisa ketemu itu ladang,” sahutnya.

IMG_3427
Lebatnya hutan pegunungan Leuser dari Ketambe

Wilayah Aceh Tenggara bisa dikatakan wilayah yang cukup miskin. Kondisinya yang terpencil di antara pegunungan membuat akses masuk ke Blangkejeren atau Kutacane hanya bisa dilakukan via Tanah Karo (Sumatra Utara) atau memutar via Takengon (Aceh), namun kondisi jalan sangat mengenaskan.

Sekalipun tidak terdampak Tsunami karena letak geografisnya, tapi wilayah Aceh Tenggara ini sempat terkoyak oleh konflik bersenjata Gerakan Aceh Merdeka. Warga sekitar Aceh Tenggara menggantungkan hidup pada sektor pertanian. Potensi pariwisata belum dapat tergali sepenuhnya akibat akses dan juga keterbatasan sumber daya.

Selepas dari Ketambe, kami mencari angkutan umum untuk menuju kota kabupaten Kutacane, barulah dari sana kami mencari angkutan lain yang mengantarkan kami ke Berastagi. Tiba di Kutacane, kami sempat ditipu atau mungkin juga ditolong oleh sopir angkot. Kesepakatan awal kami membayar Rp 7.000,- namun tiba-tiba ditarik Rp 15.000,- per orang dengan alasan kami akan diantarkan langsung ke agen bis.

IMG_3438
Pasar kaget di wilayah Ketambe, Kutacane, Aceh Tenggara

Tiba di agen bis, kami beruntung karena satu bis menuju Berastagi akan segera berangkat sehingga tak perlu menunggu lebih lama. Kami duduk di kursi belakang, masih tersisa tiga kursi kosong. Bis pun melaju, tak lama naiklah seorang ibu tua, mungkin juga disebut nenek bersama anak perempuan dan cucunya. Mereka membawa satu tas besar dan juga ember berisikan sayuran segar dari pasar Kutacane.

“Mau kemana de?” tanya si Nenek di sebelahku. “Iya bu, mau ke Berastagi ini habis dari Takengon,” jawabku. “Wah Berastagi ya, itu bule yang lagi tidur temennya?” tanya si Ibu penasaran akan Johannes. Singkatnya, kami tertidur karena kelelahan

20150710_143254
Bis BTN Jaya yang kami tumpangi dari Kutacane menuju Berastagi

Di perbatasan antara Aceh dan Sumatra Utara kami yang sedang tertidur mendadak terbangun. Dua orang berpakaian preman menggeledah semua barang bawaan di bis, tak ada yang luput. Seluruh tas dibongkar, termasuk satu per satu kami digiring untuk diperiksa. Kami masih sangat kebingungan, tak ada satupun dari mereka yang bicara dalam Bahasa Indonesia.

Tak lama, seorang polisi berseragam preman itu meminta KTP ku dan paspor Johannes. Kemudian sikapnya mencair setelah mengetahui kalau aku adalah mahasiswa dari Jogja dan Johannes adalah turis Jerman alumni dari UGM. “Oh dari Jogja, kok bisa jauh banget mas sampai ke Aceh sini, bahaya loh disini,” ucapnya. “Iya mas, saya menemani temen saya ini keliling Sumatra 30 hari,” jawabku.

Kami dipersilahkan untuk mengemasi kembali ransel dan bawaan lainnya karena tidak terbukti ada barang yang mencurigakan di dalamnya. Tanya demi tanya, ternyata kami baru tahu kalau tiga penumpang yang terdiri dari si Nenek, Anak dan Cucu ternyata menyelundupkan ganja seberat 5 Kilogram. Keseluruhan ganja itu diletakkan di dalam ember yang diatas ditutup sayuran.

Sang Nenek menuturkan kalau ia dibayar Rp 2.000.000,- untuk membawa ganja tersebut dari Blangkejeren hingga Medan, namun ia keburu ditangkap jauh sebelum ia tiba di Medan. Entah hukuman apa yang akan didapatkan nenek itu, namun yang jelas, ia hanyalah orang biasa yang membutuhkan uang untuk hidup, dia bukanlah gembong utama dari sindikat ganja.

Bis kami menjadi lebih akrab setelah diperbolehkan pergi meninggalkan pos polisi. Satu per satu penumpang mulai membicarakan peristiwa tadi. “Gila bener itu si ibu, siang bolong gini bawa ganja!” ucap seorang Bapak di depanku. “Wah, kaget betul saya pak, nampaknya dia masukkan itu ganja juga dalam jilbabnya!” celetuk Pak Sopir sambil merokok.

Pukul 15:00 kami tiba di Berastagi mengakhiri setiap jengkal perjalanan kami di Aceh. Kami bersyukur karena perjalanan kami di Aceh ditutup dengan peristiwa yang sungguh menantang. Kami membayangkan, jika si ibu bermaksud jahat bisa saja ia menyelipkan sejumput ganja ke dalam kantong celanaku saat tidur, namun syukurlah ia tidak melakukannya.

Itulah setitik cerita tentang Aceh Tenggara, tentu kisah ini tidak bisa menjadi definisi umum dari Aceh secara luas. Tapi, apa yang kami alami adalah potret dari kehidupan Aceh Tenggara yang terlilit kemiskinan hingga beberapa warga nekat mencari jalan pintas dengan resiko yang tinggi.

Karena isu ganja yang tinggi, oleh karena itu setiap kendaraan yang akan berpindah dari Aceh Tenggara menuju Sumatra Utara akan diberhentikan dan diperiksa untuk mencegah ada ganja yang diselundupkan ke Sumatra Utara.

20150710_124018
Selfie dulu setelah meninggalkan Aceh