5 Hal yang Membuat Jogja Selalu Layak Kurindukan

blog2

“Pergi karena semangat, pulang karena rindu.”

Nama Jogja terdengar begitu istimewa, apabila kata itu terucap, tiba-tiba rasa rindu segera mendekap. Seringkali teman-teman bertanya heran, mengapa aku begitu baper dengan Jogja. Apakah ada pengalaman buruk atau manis yang pernah terjadi di sana?

Memang, aku tidak terlahir di Jogja, hanya empat tahun dari 23 tahun hidupku yang terselip di Jogja. Di waktu yang singkat itulah Jogja mengasuhku lewat kesederhanaan dan keramahannya. Aku diajari tentang arti membaur dari angkringan pinggir jalan, aku juga belajar tentang arti kenyang dari sebungkus nasi tempe. Ada banyak pelajaran yang telah kupetik dan kini membekas di hidupku.

Hampir tiga bulan telah berlalu sejak aku hijrah dari Jogja ke Jakarta. Waktu yang berlalu bukan alasan yang membuat rindu kian memudar. Inilah hal-hal yang membuat Jogja tak mungkin tergantikan:

  1. Angkringan “Bapak”, sebuah gerobak tanpa kasta

Angkringan di Jogja ibarat bintang di langit, ada di mana-mana. Setiap angkringan punya cerita. Jika ingin makan di angkringan yang elite, datanglah ke angkringan pendopo JAC yang harganya lumayan bikin kantong meringis. Jika ingin angkringan ber-wifi khas mahasiswa, bisa mampir ke angkringan “Tobat” yang berdiri sejak mendapat hidayah.

Dari puluhan angkringan yang pernah kusinggahi, ada satu angkringan yang paling favorit dan tak pernah absen kusinggahi. Angkringan “Bapak” aku menyebutnya. Angkringan ini unik karena baru buka pukul 00:00 tengah malam. Sang Bapak tua mendorong sendiri gerobak angkringannya, lalu menaikkannya di atas trotoar samping jembatan sungai Winongo, menata tikar, dan mulai memasak air panas. Semuanya ia lakukan sendiri, tapi nyaris tak ada raut sedih ataupun lelah di wajahnya.

blog3
Sebungkus nasi kucing seharga Rp 1.500,- beserta kudapan lainnya

Angkringan “Bapak” ini aku temuka pertama kali tahun 2010. Waktu itu aku masih SMA dan nekat backpackeran ke Jogja sendirian dari uang jajan yang disisihkan selama berbulan-bulan. Sebagai orang luar Jogja dan masih polos, melihat angkringan adalah sesuatu yang luar biasa bagiku. Selepas tahun 2010, di tahun 2012 aku kembali ke Jogja dan menetap untuk melanjutkan kuliah. Yes! Lalu aku menjadi pelanggan tetap angkringan Bapak.

Sensasi yang tak pernah terlupakan dari makan di angkringan “Bapak” adalah ketenangannya. Bayangkan, duduk di pinggir jembatan saat lewat tengah malam. Suasana begitu tenang, ditemani alunan lagu-lagu kuno berbahasa Jawa, menyeruput teh panas legit kentel sambil mengudap gorengan dan nasi kucing.

Nasi kucing di sini dibanderol Rp 1,500,- saja. Sepintas, nasi kucing tidaklah terlihat istimewa. Ia hanya sekepal nasi yang dibalut daun pisang dan dibubuhi sedikit tempe atau sambal teri di atasnya. Tapi, menikmati sebungkus nasi kucing tidak cukup hanya dengan lidah, tapi harus dengan hati. Makanan yang sederhana inilah yang merekatkan banyak orang di Jogja. Ada tukang becak hingga mahasiswa yang duduk bersama di gerobak angkringan dan mengobrol ngalor-ngidul hingga menjadi akrab.

img_0197
Angkringan Bapak

Aku lupa nama Bapak penjual angkringan itu. Tapi aku selalu ingat nada khasnya bicara. Dia selalu mengajak setiap pembelinya bercanda, kadang candaannya suka nyerempet saru, tapi ya itulah yang membuat angkringan ini hangat.

  1. Rumah Kost yang Bukan Sekadar Kost

Selain angkringan, salah satu yang selalu membuat baper adalah mengingat kenangan tentang kost. Selama 4 tahun di Jogja, teman-teman kost sudah jadi seperti keluarga. Kami tinggal satu atap dan mau tidak mau saling mengamati dari awal bangun hingga tidur malam. Lambat laun, nyaris tak ada lagi sekat-sekat antar penghuni kost.

blog6
Rumah Kost Manunggal Budi

Jika yang satu sakit, teman-teman kost yang akan membelikan makan, kadang juga membantu kerokan. Jika sedang galau dan insomnia, teman kost juga yang menemani pergi ke angkringan atau pos ketan susu. Karena kepercayaan itulah kost kami menjadi kost yang sangat aman. Tak perlu khawatir jika lupa menutup atau mengunci pintu, toh tidak bakal ada yang nyolong.

Selain dari teman-teman yang solid, Ibu Kost adalah ibu yang super baik. Sewaktu salah satu teman kost kami berulang tahun, beliau datang dan membawakan kami makanan beragam jenis dan kue ulang tahun. Lalu kami berkumpul di bawah dan makan malam bersama. Tak cukup di situ, ketika aku dan seorang teman lulus kuliah, beliau kembali datang dan menggelar tumpengan.

img_8539
Masukkan keterangan

Kostku dahulu dibangun atas dasar kepercayaan. Jika ada keluarga atau teman menginap, tidak perlu membayar uang tambahan selama mampu menjaga ketertiban. Dan salah satu yang membuat kostku semakin erat adalah kehadiran Mbak Oneng yang dinobatkan oleh Ibu Kost untuk merawat kost itu. Kehadiran Mbak Oneng membuat kost kami semakin asyik. Kadang-kadang kalau dia memasak, anak-anak kost bisa mencicipi masakannya.

  1. Simbah Ngatilah di Samigaluh 

“Lek do maem riyen, mas, mbak!” adalah kalimat yang paling sering diucapkan Simbah selama aku dan teman-teman Kuliah Kerja Nyata (KKN) tinggal di rumahnya. Simbah selalu memaksa kami untuk makan lebih banyak walau perut kami sudah penuh. Simbah adalah sebuah anugerah bagiku, sosok ketulusan seorang perempuan Jawa yang tidak tergerus arus zaman.

Simbah Ngatilah adalah istri dari seorang kepala Desa Banjarsari, Samigaluh, D.I Yogyakarta. Waktu itu di bulan Desember 2015 – Januari 2016 aku menumpang di rumah beliau selama satu bulan karena proyek KKN dari kampus. Rumah Simbah adalah surga bagiku karena terletak di atas bukit yang masih hijau pepohonan, tanpa ada tetangga, hanya ada suara soang dan kambing yang menemani. Satu bulan di rumah Simbah waktu itu lebih terasa seperti di rumah sendiri ketimbang di lokasi KKN. blog5

Setelah KKN usai dilaksanakan, hubungan kami dengan Simbah tidak putus. Memang jarak memisahkan kami, dan sekarang pun sulit untuk bisa sering berkunjung ke rumah Simbah. Dulu saat kami berpamitan untuk pulang, Simbah sempat menangis karena merasa dirinya akan kesepian kembali setelah ditinggal “cucu-cucunya” ini.

Beberapa bulan sekali kami datang berkunjung ke rumah Simbah dan ia selalu menyambut kami dengan sukacita. Baru saja kami tiba di sana, beliau lansung pergi ke hutan mencari buah rambutan atau pisang untuk nanti kami bawa pulang. Tak cukup di situ, beliau segera menyiapkan perapian dan memasak buat kami. img_2032

Aku terharu dan berpikir, “siapakah aku ini?” tapi Simbah menganggap anak-anak KKN di rumahnya sebagai cucu. Simbah tidak mau diberi uang listrik, padahal listrik rumahnya setiap hari tersedot karena kami. Dan Simbah juga memanggilku dengan panggilan “Kelik”, sebagai panggilan akrabnya.

4. Jangan sampai kuliah menganggu jalan-jalan 

Itulah prinsip yang kupegang selama kuliah dulu. Tapi jangan pikir karena prinsip itu kuliahku berantakan ya karena di akhir studi aku bisa lulus dengan predikat cum laude. Jadi kurasa prinsip itu tidaklah salah sekalipun banyak orang yang terkadang nyinyir setiap kali melihat postingan jalan-jalanku.

Jogja adalah surga wisata dan menjadi gerbangku untuk bertemu dengan teman-teman dari dunia luar. Dari Jogjalah aku belajar bahasa Inggris secara otodidak dan bertemu dengan rekan-rekan backpacker dari seluruh dunia. Yap, semua terjadi di Jogja. Jika waktu itu aku tidak tinggal di Jogja, mungkin tidak ada namanya jalan-jalan keliling Indonesia.

IMG_5500.JPG
berkeliling ke sekolah di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Desember 2015

Aku bersyukur karena kampus tempatku belajar ternyata mendukungku untuk tak hanya kuliah, tapi juga untuk berkarya lewat jalan-jalan. Selama kuliah sejak semester empat hingga sembilan, aku bekerja sebagai seorang student staff di Kantor Kerjasama dan Promosi.

Tugasku adalah mengenalkan kampusku kepada anak-anak SMA di seluruh Indonesia. Bekerja di kantor ini adalah suatu kehormatan karena kampusku yang besar ini mempercayakan tanggung jawab kepada mahasiswa yang memang belum banyak pengalaman. Aku belajar mengelola waktu antara kuliah dan pekerjaan, belajar juga ilmu-ilmu marketing, belajar tentang menjadi seorang pekerja yang baik.

Bandar Lampung, Medan, Siantar, Pontianak, Bangka Belitung, Madiun, Semarang, hingga Palangkaraya telah kusinggahi karena pekerjaan ini. Ada satu sukacita besar ketika bisa bekerja sesuai dengan passion. Melihat semangat anak-anak sekolah di berbagai daerah di Indonesia itu sungguh menarik. Di kantor ini kami tidak hanya bercerita mempromosikan kampus, tapi kami juga berbagi pengalaman tentang tantangan, juga harapan yang bisa diperoleh ketika mereka memutuskan pergi ke Jogja.

5. Teman-teman istimewa: madhang ora madhang, sing penting guyub!

Makan atau tidak, yang penting ngumpul. Inilah semangat kebersamaan dari teman-teman Jogja. Kini saat aku bekerja di Jakarta, teman-teman kampus dari Jogja adalah teman yang bisa dibilang paling kompak dan memiliki solidaritas tinggi. Dibesarkan di kota yang sama membuat kita bisa sama-sama baper ketika saling menyebut kata “Jogja”.

Selama empat tahun, aku mendapati temanku telah menjadi sebuah keluarga. Saat kuliah teman-teman itu berasal dari berbagai daerah di Indonesia, dan ketika liburan tiba seringkali aku ikut mudik ke rumah mereka. Berawal dari iseng-iseng ikut mudik inilah yang akhirnya membawaku memiliki keluarga baru. HMPSKOOM

Pergi kemanapun selalu ada teman, mulai dari Aceh, hingga Papua. Saat pertengahan 2015 ketika sedang berada di Aceh Tengah, aku sempat bingung karena tidak mendapat tempat untuk menginap. Beruntung ada teman satu kampus yang berasal dari daerah sana. Kami memang tidak terlalu dekat, tapi kemudian temanku itu memberiku nomor orang tuanya dan akhirnya aku mendapatkn tempat bermalam di sana.

Salah satu harta terbesar di masa muda adalah teman-teman. Memiliki teman itu memperkaya pemikiran kita. Lewat diskusi, curhat, makan bareng, nangis bareng, di situlah pemikiran kita dibentuk dan saling membentuk. Lewat kegiatan-kegiatan organisasi di kampus yang diikuti, kehadiran teman-teman itu terlalu indah untuk dilupakan.

****

Tiga bulan hampir berlalu sejak aku meninggalkan Jogja. Rasa rinduku pada Jogja tak akan pudar. Ibarat benih yang ditanam di tanah dan bertumbuh, demikian juga rasa rindu itu. Waktu dan jarak menjadi matahari dan air yang menumbuhkan benih itu.

Mungkin Jogja tak kan pernah lagi jadi tempatku menetap, tapi dia akan selalu jadi tempat untuk kembali mengingat masa manis. Tempat untukku bertetirah dan menikmati dunia lewat segelas teh panas dan nasi kucing.
Jakarta Barat, 8 Februari 2017

 

 

Berkat Tuhan Sehabis Lulus

Kisah hidup mahasiswa itu beragam dan nyaris tak pernah bisa ditebak. Ada mereka yang lulus lama tapi cepat mendapat kerja atau wirausaha, ada pula yang lulus cepat namun menganggur lama. Pertanyaan mau kemana setelah lulus kuliah jauh lebih sulit dijawab ketimbang saat SMA dulu. IPK tinggi belum menjamin karier, pergaulan luas juga belum tentu menjamin akses pekerjaan, demikian juga dengan tebalnya CV. Tapi, satu hal yang pasti menjamin adalah ketekunan.

Sehari setelah dinyatakan lulus sebagai sarjana pada 5 September 2016 lalu pertanyaan “mau kerja di mana dan ngapain?” segera menghantui. Mau tidak mau pertanyaan itu menghinggapi di pikiran setiap saat. Setiap kali melihat website lowongan kerja, ada banyak banget lowongan tapi nyaris tak ada yang sreg di hati. Berpacu dengan waktu, segera kudatangi berbagai acara Job Fair yang diselenggarakan oleh banyak kampus. Tapi, usaha itu belum jadi jalan yang tepat untuk mengantarkanku mendapat pekerjaan impian.

Setiap kali datang Job Fair, nyali serasa ciut. Pasalnya, Job Fair diisi oleh orang-orang yang sangat membutuhkan pekerjaan. Berseragam rapi, membawa setumpuk berkas sambil harap-harap cemas bisa lolos seleksi. Aku pun demikian, hanya aku tak terlalu berharap banyak dengan Job Fair.

Selama seminggu penuh aku mengikuti tes seleksi psikotes yang diselenggarakan dari perusahaan tempatku melamar. Gagal di pertama kali tidak masalah, aku masih punya cukup semangat. Tapi, ketika gagal di yang kedua, ketiga dan seterusnya, perlahan semangat mulai tergerus. Juga ketika satu perusahaan yang diminati ternyata tidak menerima kita sebagai kriteria rekrutmennya, tambah menipislah semangat ini.

Aku belajar banyak dari setiap tes yang diikuti, belajar untuk teliti dan mengerti realita mencari pekerjaan. Satu hal yang membekas adalah kegagalan-kegagalan tersebut mengantarkanku untuk tekun dan tidak menyerah walau keadaan seolah memaksa untuk kita menyerah.

Sebulan setelah bergulat dengan aneka pekerjaan yang dilamar, aku memutuskan untuk berhenti sejenak. Momen berhenti ini kugunakan untuk mengoreksi diri dan menanyakan kembali “sebenarnya aku ini mau apa?”. Aku menyadari, ibarat mencari sebuah arloji di tumpukan segunung jerami, aku terlalu sibuk mengorek hingga tak menemukan arloji itu. Hingga ketika aku memutuskan untuk berhenti dan hening, perlahan aku mendengar suara detak arloji tersebut. Dari suara itulah akhirnya aku bisa menemukan letak arloji tersembunyi itu.

Nampaknya perumpaan ini menyadarkanku. Aku berhenti, menggali potensi diri, berserah dan mulai fokus dengan pekerjaan part time yang sebelumnya sudah kujalani sejak semester empat. Kesetiaan dalam perkara kecil akan membawa pada perkara besar, setidaknya aku percaya hal itu.

Doa Terjawab

Aku bergumam singkat, “Tuhan semesta, kemana engkau menuntun, ke situ aku berjalan.” Tepat hari Senin dua minggu lalu, aku melamar pekerjaan ke sebuah lembaga nirlaba yang bergerak dalam media online. Aku sangat tertarik dan bergairah untuk bisa bergabung dengan perusahaan itu, entah apa yang mendasarinya, tapi kupikir ini sesuai dengan passionku. 

Singkatnya, tiga hari setelah melamar aku mendapat panggilan dari bagian HR untuk melakukan wawancara. Berhubung aku tidak berada di Jakarta, maka pihak perusahaan menawarkanku untuk wawancara online menggunakan Google Hangouts. Aku mengiyakan dan mencari warnet dengan koneksi terbaik. Rasa gugup melanda karena pewawancaraku adalah tiga orang, di mana dua orang berlokasi di Singapura dan satu orang di Jakarta. Seluruh wawancara menggunakan Bahasa Inggris.

Sempat dibuat panik dan gugup, wawancara pun usai dan pihak perusahaan memberikan sebuah challenge untuk mengedit dan menerjemahkan artikel dari bahasa Indonesia ke Bahasa Inggris. Semua persyaratan telah kupenuhi dan tibalah saatya menunggu dengan damai. Tapi, rasa was-was tetap ada. “Kalau gak lolos, mau ke mana lagi ya?” gumamku.

Tiga hari setelah pengumpulan berkas, pihak perusahaan menghubungiku via email dan telepon. Kala itu hari Senin dan mereka meminta aku harus hadir di Jakarta pada Selasa pagi untuk wawancara. Aku panik, bagaimana caranya aku ke Jakarta padahal saat itu sudah pukul 15:00 di Jogja. Naik pesawat aku tak punya uang, solusinya adalah naik kereta.

Baru bersiap-siap untuk ke stasiun, pihak perusahaan menelpon. Mereka tidak membolehkanku untuk naik kereta api dan menyediakan tiket pesawat pertama hari Selasa. Tidak selesai sampai di situ, setibanya di Bandara Soetta Jakarta, aku pun dijemput oleh pihak perusahaan dan diajak makan siang hingga tibalah waktu untuk melakukan wawancara tahap akhir.

Hari itu adalah hari bersejarah bagiku karena wawancara akhir di perusahaan ini memberiku pengalaman akan proses yang berbuah manis. Perusahaan menerimaku untuk menjadi bagian dari mereka. Semua di luar ekspektasi awalku. Tak lupa, seorang staff juga membantuku untuk mencari kost-kosan. Tak habis sampai di situ, ongkos untuk kembali ke Jogja pun ditanggung oleh perusahaan.

“Siapalah aku ini,” gumamku. Aku terharu atas pengalaman hari itu. Aku yang berstatus mencari kerja seharusnya aku yang berusaha sendiri untuk mencapai perusahaan itu. Tapi, mereka malah menyambutku dengan sukacita, jauh lebih dari apa yang pernah kupikirkan sebelumnya.

Aku speechless, tapi sungguh bersyukur. Aku merasa begitu kerdil dan tak berdaya, namun diberkan kesempatan sebesar ini. Ada seberkas sukacita yang mengalir karena pada akhirnya aku mendapatkan karier pertama yang sesuai dengan passionku. Aku tak mau bekerja di bidang marketing walaupun nyaris di setiap Job Fair hanya posisi inilah yang ditawarkan.

Di akhir tahun ini, perjalanku akan berpindah. Dari kota Jogja menuju Ibukota Jakarta. Dari seorang pejalan low budget menjadi staff sebuah kantor. Karier permanen pertamaku diawali dengan sebuah posisi sebagai seorang content developer dari sebuah website pelayanan rohani yang memang adalah passionku. Berbagi cerita, menulis, menginspirasi pembaca tetap akan jadi bagian hidupku yang tertuang dalam pekerjaan baru ini.

Aku harus belajar mencintai Jakarta sebagaimana aku mencintai Jogja.