5 Hal yang Membuat Jogja Selalu Layak Kurindukan

blog2

“Pergi karena semangat, pulang karena rindu.”

Nama Jogja terdengar begitu istimewa, apabila kata itu terucap, tiba-tiba rasa rindu segera mendekap. Seringkali teman-teman bertanya heran, mengapa aku begitu baper dengan Jogja. Apakah ada pengalaman buruk atau manis yang pernah terjadi di sana?

Continue reading “5 Hal yang Membuat Jogja Selalu Layak Kurindukan”

Iklan

Berkat Tuhan Sehabis Lulus

Kisah hidup mahasiswa itu beragam dan nyaris tak pernah bisa ditebak. Ada mereka yang lulus lama tapi cepat mendapat kerja atau wirausaha, ada pula yang lulus cepat namun menganggur lama. Pertanyaan mau kemana setelah lulus kuliah jauh lebih sulit dijawab ketimbang saat SMA dulu. IPK tinggi belum menjamin karier, pergaulan luas juga belum tentu menjamin akses pekerjaan, demikian juga dengan tebalnya CV. Tapi, satu hal yang pasti menjamin adalah ketekunan.

Sehari setelah dinyatakan lulus sebagai sarjana pada 5 September 2016 lalu pertanyaan “mau kerja di mana dan ngapain?” segera menghantui. Mau tidak mau pertanyaan itu menghinggapi di pikiran setiap saat. Setiap kali melihat website lowongan kerja, ada banyak banget lowongan tapi nyaris tak ada yang sreg di hati. Berpacu dengan waktu, segera kudatangi berbagai acara Job Fair yang diselenggarakan oleh banyak kampus. Tapi, usaha itu belum jadi jalan yang tepat untuk mengantarkanku mendapat pekerjaan impian.

Setiap kali datang Job Fair, nyali serasa ciut. Pasalnya, Job Fair diisi oleh orang-orang yang sangat membutuhkan pekerjaan. Berseragam rapi, membawa setumpuk berkas sambil harap-harap cemas bisa lolos seleksi. Aku pun demikian, hanya aku tak terlalu berharap banyak dengan Job Fair.

Selama seminggu penuh aku mengikuti tes seleksi psikotes yang diselenggarakan dari perusahaan tempatku melamar. Gagal di pertama kali tidak masalah, aku masih punya cukup semangat. Tapi, ketika gagal di yang kedua, ketiga dan seterusnya, perlahan semangat mulai tergerus. Juga ketika satu perusahaan yang diminati ternyata tidak menerima kita sebagai kriteria rekrutmennya, tambah menipislah semangat ini.

Aku belajar banyak dari setiap tes yang diikuti, belajar untuk teliti dan mengerti realita mencari pekerjaan. Satu hal yang membekas adalah kegagalan-kegagalan tersebut mengantarkanku untuk tekun dan tidak menyerah walau keadaan seolah memaksa untuk kita menyerah.

Sebulan setelah bergulat dengan aneka pekerjaan yang dilamar, aku memutuskan untuk berhenti sejenak. Momen berhenti ini kugunakan untuk mengoreksi diri dan menanyakan kembali “sebenarnya aku ini mau apa?”. Aku menyadari, ibarat mencari sebuah arloji di tumpukan segunung jerami, aku terlalu sibuk mengorek hingga tak menemukan arloji itu. Hingga ketika aku memutuskan untuk berhenti dan hening, perlahan aku mendengar suara detak arloji tersebut. Dari suara itulah akhirnya aku bisa menemukan letak arloji tersembunyi itu.

Nampaknya perumpaan ini menyadarkanku. Aku berhenti, menggali potensi diri, berserah dan mulai fokus dengan pekerjaan part time yang sebelumnya sudah kujalani sejak semester empat. Kesetiaan dalam perkara kecil akan membawa pada perkara besar, setidaknya aku percaya hal itu.

Doa Terjawab

Aku bergumam singkat, “Tuhan semesta, kemana engkau menuntun, ke situ aku berjalan.” Tepat hari Senin dua minggu lalu, aku melamar pekerjaan ke sebuah lembaga nirlaba yang bergerak dalam media online. Aku sangat tertarik dan bergairah untuk bisa bergabung dengan perusahaan itu, entah apa yang mendasarinya, tapi kupikir ini sesuai dengan passionku. 

Singkatnya, tiga hari setelah melamar aku mendapat panggilan dari bagian HR untuk melakukan wawancara. Berhubung aku tidak berada di Jakarta, maka pihak perusahaan menawarkanku untuk wawancara online menggunakan Google Hangouts. Aku mengiyakan dan mencari warnet dengan koneksi terbaik. Rasa gugup melanda karena pewawancaraku adalah tiga orang, di mana dua orang berlokasi di Singapura dan satu orang di Jakarta. Seluruh wawancara menggunakan Bahasa Inggris.

Sempat dibuat panik dan gugup, wawancara pun usai dan pihak perusahaan memberikan sebuah challenge untuk mengedit dan menerjemahkan artikel dari bahasa Indonesia ke Bahasa Inggris. Semua persyaratan telah kupenuhi dan tibalah saatya menunggu dengan damai. Tapi, rasa was-was tetap ada. “Kalau gak lolos, mau ke mana lagi ya?” gumamku.

Tiga hari setelah pengumpulan berkas, pihak perusahaan menghubungiku via email dan telepon. Kala itu hari Senin dan mereka meminta aku harus hadir di Jakarta pada Selasa pagi untuk wawancara. Aku panik, bagaimana caranya aku ke Jakarta padahal saat itu sudah pukul 15:00 di Jogja. Naik pesawat aku tak punya uang, solusinya adalah naik kereta.

Baru bersiap-siap untuk ke stasiun, pihak perusahaan menelpon. Mereka tidak membolehkanku untuk naik kereta api dan menyediakan tiket pesawat pertama hari Selasa. Tidak selesai sampai di situ, setibanya di Bandara Soetta Jakarta, aku pun dijemput oleh pihak perusahaan dan diajak makan siang hingga tibalah waktu untuk melakukan wawancara tahap akhir.

Hari itu adalah hari bersejarah bagiku karena wawancara akhir di perusahaan ini memberiku pengalaman akan proses yang berbuah manis. Perusahaan menerimaku untuk menjadi bagian dari mereka. Semua di luar ekspektasi awalku. Tak lupa, seorang staff juga membantuku untuk mencari kost-kosan. Tak habis sampai di situ, ongkos untuk kembali ke Jogja pun ditanggung oleh perusahaan.

“Siapalah aku ini,” gumamku. Aku terharu atas pengalaman hari itu. Aku yang berstatus mencari kerja seharusnya aku yang berusaha sendiri untuk mencapai perusahaan itu. Tapi, mereka malah menyambutku dengan sukacita, jauh lebih dari apa yang pernah kupikirkan sebelumnya.

Aku speechless, tapi sungguh bersyukur. Aku merasa begitu kerdil dan tak berdaya, namun diberkan kesempatan sebesar ini. Ada seberkas sukacita yang mengalir karena pada akhirnya aku mendapatkan karier pertama yang sesuai dengan passionku. Aku tak mau bekerja di bidang marketing walaupun nyaris di setiap Job Fair hanya posisi inilah yang ditawarkan.

Di akhir tahun ini, perjalanku akan berpindah. Dari kota Jogja menuju Ibukota Jakarta. Dari seorang pejalan low budget menjadi staff sebuah kantor. Karier permanen pertamaku diawali dengan sebuah posisi sebagai seorang content developer dari sebuah website pelayanan rohani yang memang adalah passionku. Berbagi cerita, menulis, menginspirasi pembaca tetap akan jadi bagian hidupku yang tertuang dalam pekerjaan baru ini.

Aku harus belajar mencintai Jakarta sebagaimana aku mencintai Jogja.