Sekelumit Ceritaku Sebagai Seorang Editor

Pekerjaan adalah panggilan hidup. Kalimat ini sekilas terdengar klise buatku yang waktu itu masih tidak tahu apa panggilan hidupku sebenarnya. Menjelang lulus kuliah, panggilan hidupku adalah untuk bekerja mencari gaji besar, hidup mapan, orangtua bahagia, dan pokoknya segalanya baik. Tapi, lewat waktu demi waktu, lambat laun aku mulai menyadari apa yang menjadi panggilan hidupku sebenarnya.

Continue reading “Sekelumit Ceritaku Sebagai Seorang Editor”

Traveling, Sebuah Filosofi Hidup

IMG_3909

“Harus banget ya main air aja sampai ke Jogja?!” ucap temanku dengan heran. Aku tahu, pertanyaan itu bukan sekadar pertanyaan, melainkan lebih kepada sebuah protes mengapa aku niat pergi jauh-jauh dari Jakarta ke Jogja di Jumat malam, lalu pulang lagi di hari Minggu. Padahal, jika ingin bermain air, Jakarta punya banyak wahana yang asyik.

Sebagai seorang pemuda usia 23 tahun, keputusan untuk traveling di sela-sela pekerjaan bukanlah tanpa risiko. Ada yang mendukung, menyanjung, tapi tak sedikit pula yang mencibir. “Gak mikir apa, mending duitnya dipake nabung”, “Wah, udah banyak duit ya elu,” atau “Inget, modal kawin mahal, bro!” Aku tahu dengan pasti bahwa menabung itu amat perlu dan biaya resepsi kelak tidak murah. Tapi, aku juga tahu bahwa hidup ini hanya terjadi satu kali. Jadi, apa yang hanya satu kali ini akan kumanfaatkan semaksimal mungkin. Toh, siapa pula yang menyangka bahwa seorang Jupe di usianya yang masih kepala tiga ternyata sudah dipanggil pulang?

Bepergian beberapa kali dalam satu bulan bukan berarti aku menjadi seorang yang sembrono, yang menghamburkan uang hanya untuk traveling dan traveling. Aku tetap memiliki kebijakan yang mengatur supaya pengeluaran dan pemasukan itu tetap selaras dan digunakan sebaik mungkin. Bagiku, bekerja dan bepergian adalah dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan. Pekerjaan itu mengisi dompet, dan perjalanan itu mengisi jiwa. Jika dua-duanya sama-sama terisi, tentu hidup akan lebih nikmat.

Singkirkan sejenak gambaran liburan yang serba mudah dan mewah. Sekalipun anggaranku pas-pasan, tapi sebisa mungkin aku berusaha untuk mendapatkan kesan yang maksimal. Tidak boleh menggunakan kereta api selain kelas ekonomi. Sebisa mungkin tidak masuk ke dalam mal. Makan makanan di kaki lima saja. Hal-hal inilah yang justru membuat perjalanan travelingku terasa menyenangkan. Lewat tulisan ini, aku hendak membagikan sedikit apa yang menjadi filosofiku di balik kesukaanku menghilang dari belantara Jakarta di tiap akhir pekan.

Terlahir di keluarga yang dulu hidupnya pas-pasan membuat bibit traveling tertanam sejak dini. Sewaktu aku masih balita, ayah bekerja sebagai penjual kue pukis keliling. Setiap pagi, kue-kue yang telah siap itu dimasukkan ke dalam keranjang dan diikat di bagian belakang sepeda. Kue-kue pukis itu harus segera didistribusikan ke beberapa pasar di kota Bandung sebelum matahari beranjak tinggi.

Di bagian depan sepeda, ayah membuat sebuah boncengan khusus untuk anak-anak. Boncengan itu berwarna hijau dan diikat kuat di besi sepeda. Di situlah aku duduk selama beberapa jam, wara-wiri di jalanan kota Bandung, dari pasar ke pasar. Aku lupa bagaimana perasaanku waktu itu, tapi aku ingat sebuah peristiwa yang paling kusuka. Setiap kali pukis-pukis itu selesai didistribusikan, sebelum pulang ayah akan membawaku melewati rel kereta api di timur stasiun Bandung. Ada jembatan penyeberangan di sana dan kami berdiri selama beberapa menit di atasnya. Sebagai keluarga pas-pasan, hiburan yang paling bisa dilakukan waktu itu adalah menonton kereta api. Aku yang masih bocah itu senang bukan kepalang tatkala kereta melintas, kemudian menunjuk-nunjuk tiap-tiap gerbongnya sambil merengek, “kapan naik kereta?” Ayah hanya menjawabnya dengan senyum dan “Nanti ya”.

Seiring waktu beranjak, kehidupan ekonomi keluarga mulai membaik dan sekarang aku telah bekerja. Pengalaman duduk di atas sepeda dan kesukaanku pada kereta api itulah yang akhirnya membuat jiwa traveling ini tetap hidup. Setidaknya satu bulan sekali, aku akan pergi menggunakan kereta api kelas ekonomi. Entah itu ke Cilacap, Tegal, Jogja, Bandung, Purwokerto, atau lainnya. Di kota-kota yang kusinggahi itu aku tidak menginap di hotel, melainkan di rumah-rumah teman yang sebelumnya sudah aku hubungi terlebih dahulu.

Jika liburan ditujukan untuk memanjakan diri, traveling yang kulakukan bertujuan untuk melatih diri. Ketika aku duduk berjam-jam di atas kursi tegak kereta ekonomi, aku belajar bahwa hidup tidak selamanya memberi kita kenyamanan. Namun, apabila ingin tiba di tujuan, aku harus bersabar. Ketika duduk berhadap-hadapan dengan orang asing yang sama sekali tidak kukenal, aku belajar untuk bagaimana membuka percakapan. Teori komunikasi boleh menjabarkan puluhan teori tentang interaksi antar manusia, tapi untuk memulai percakapan itu aku belajar bahwa hanya ada satu hal yang diperlukan untuk mencairkan suasana, yaitu dengan senyum dan sapaan tulus.

Tatkala aku kelelahan karena memanggul ransel, aku belajar bahwa dalam hidup ini ada beban yang harus dibawa. Ketika punggungku sakit, aku tidak menjadi bad mood, mengakhiri traveling lalu pulang, tapi aku beristirahat sejenak, sekadar duduk-duduk di peron stasiun, lalu kembali berjalan. Demikian juga dengan hidup. Ketika beban hidup terasa terlalu berat dan membuatku lelah, aku tidak menyerah, melainkan beristirahat sejenak, kemudian melanjutkan rutinitasku lagi.

Tatkala aku menginap di rumah teman-temanku, bukan semata-mata karena aku pelit tidak mau keluar uang banyak. Tapi, dari sanalah aku belajar memahami teman-temanku. Aku belajar untuk bertegur sapa dan bersahabat bukan hanya kepadanya seorang, tapi juga dengan seisi keluarganya. Ketika mereka menerimaku dengan tangan terbuka, aku belajar dan menyadari bahwa sesungguhnya aku dicintai dan memiliki orang-orang yang mendukungku.

Teman-temanku inilah yang mengajarkanku bahwa keluarga itu tidak selalu berkaitan dengan darah. Kebersamaan itu bisa dibangun melintasi sekat-sekat perbedaan. Ketika kami duduk makan bersama-sama dan saling mengobrol, di situlah kami bertukar pikiran dan memperkaya pandangan kami masing-masing.

IMG_3904
Bersama keluarga Bp. F. Sumaryo di dusun Gebiri, Banjarasri, Kalibawang. Pertama kali bertemu di tahun 2011, sejak saat itu hingga kini kami menjadi erat layaknya keluarga.

Tatkala aku membeli sebuah pop-mie di ibu-ibu asongan pinggiran stasiun, aku tidak sekadar membuat perutku yang keroncongan itu terisi. Tapi, lebih dari itu, mungkin saja selembar uang sepuluh ribu yang kubayarkan kepada sang ibu itu dia digunakan untuk membeli beras bagi keluarganya, merawat suaminya yang sakit, membayar tagihan listrik, juga untuk membiayai sekolah anak-anaknya.

Dompetku tidak tebal. Oleh karena itu, aku mau memastikan setiap rupiah yang keluar dari dompetku itu bisa diterima di orang-orang yang tepat. Aku tidak anti terhadap mal dan makan di restoran, hanya saja hatiku terasa lebih nyaman dan sejahtera tatkala aku duduk makan di pinggiran jalan, bersama sepiring pecel lele dan mangkok kobokan.

Aku tidak tahu di mana aku akan berada di masa depan. Namun, satu yang pasti, ke mana sang Khalik menuntun, ke situlah aku kan menuju.

Bantul, 1 Mei 2017: Ketika Pilihan Karier Kami Jatuh Bukan di Tempat Profit

resiz

Hari itu adalah hari buruh internasional. Ketika jagad media berisik membahas demo di Jakarta yang berujung bakar-bakaran bunga, kami bertemu di sebuah gang sempit, tepatnya di warung mangut lele yang paling terkenal se-antero Yogyakarta. Sambil mencicip ikan lele bertabur cabe, keringat bercucuran membasahi wajah, tapi pembicaraan kami hari itu bukan tentang lezatnya ikan lele, melainkan tentang sebuah topik yang cukup berat, yaitu idealisme.

Dulu semasa kuliah kami adalah teman satu perjuangan yang secara kebetulan berada di satu jurusan dan rumah kost yang sama. Latar belakang yang berbeda di antara kami ternyata bukan jadi jurang pemisah, melainkan jadi sesuatu yang menarik untuk kami pelajari lebih dalam. Aku lahir dan besar di Bandung, sedangkan temanku yang bernama Aloysius Dinora alias Dino ini lahir dan besar di Buntok, Kalimantan Tengah. Dari sekian banyak perbedaan itu, Yogyakartalah yang akhirnya mempertemukan kami.

Awal mula pergumulan di pikiran

Pada tahun 2015 kami sama-sama memilih magang di Jakarta. Aku di lembaga riset politik, sedangkan dia di lembaga public relations. Setiap kali bertemu waktu itu, pertanyaan yang selalu saling kami tanyakan adalah, “Jadi, nanti habis lulus mau kerja di Jakarta?” Aku selalu menjawab entahlah karena sebagai mahasiswa Jurnalistik, aku sendiri masih belum yakin dengan pilihan karier yang kelak harus kuambil. “Yang penting skripsi dulu deh, kerjaan nanti nyusul,” pikirku.

Pertanyaan itu semakin menguat ketika masa-masa skripsi kami semakin mendekati final. Aku yang lulus terlebih dahulu harus menerima kenyataan bahwa Jakarta adalah segalanya itu hampir menjadi kenyataan. Aku mencari pekerjaan ke sana-sini dengan harapan bukan Jakarta yang menjadi tempatku berlabuh. Tapi, kenyataan memang bicara lain. Harapanku terbentur dengan realita. Akhirnya, karena satu dan lain hal aku terpaut di Jakarta dan berkarier sebagai seorang editor untuk sebuah situs rohani yang dikelola oleh lembaga nirlaba.

Setelah lulus dan hijrah ke Jakarta, belakangan aku mendengar kabar bahwa Dino telah diterima bekerja di sebuah yayasan yang bergerak di bidang pendidikan. Dino tidak memilih untuk pergi melanjutkan kariernya di Jakarta. Pilihannya jatuh ke sebuah kabupaten di selatan Yogyakarta yang katanya memiliki upah minimum regional yang benar-benar minimum.

Esensi bekerja bukan pada gengsi

Pertemuan kami siang bolong di kedai mangut lele itu memberikan kami pandangan baru akan tantangan pekerjaan masing-masing. Dino belajar tentang tantangan yang kuhadapi di Jakarta, demikian juga aku belajar darinya tantangan maupun hambatan yang harus dia hadapi di Bantul. Sekalipun berbeda kota, tapi ada satu kesamaan dari kami berdua: kami sama-sama bekerja bukan untuk perusahaan profit, melainkan untuk lembaga non-profit.

Saat kami mengobrol, secara jujur aku bercerita bahwa memang sering ada perasaan minder ketika melihat teman-teman lain yang kariernya melejit dengan cepat. Kami tahu bahwa sekalipun dari luar karier mereka tampak cemerlang, tetap ada tantangan tersendiri yang mungkin juga berat yang harus dihadapi oleh mereka.

Menjawab pergumulanku itu, aku belajar dari sesosok Dino. Sebenarnya, dia pun mengalami pergumulan serupa denganku. Bicara soal gaji, kami sebagai lelaki di usia 20-an tentu berharap bisa memiliki karier yang menjamin penghasilan. Kelak kami akan menikah dan menafkahi keluarga, sehingga kami pikir perihal uang adalah hal yang sangat serius. Gaji dia di Bantul tidaklah besar, demikian juga dengan gajiku di Jakarta.

Tapi, seringkali permasalahan datang dan terjadi bukan karena uang itu sendiri, melainkan karena gengsi, begitulah Dino memberitahuku. Lalu, aku termenung sejenak. “Iya juga sih,” pikirku.

Hidup di zaman sekarang ini mau tidak mau kita sering terlibat dalam adu gengsi. Setiap hari kita dapat dengan mudah melihat apa yang menjadi pencapaian teman-teman kita lewat fitur-fitur di media sosial. Ketika kita sedang dikejar deadline dan melihat postingan teman yang sedang liburan, bisa-bisa kita langsung sambat (mengeluh) dan menghakimi. Bisa jadi kita menghakimi diri kita sendiri karena pekerjaan yang kita lakukan, atau bisa jadi kita menghakimi orang itu atas postingan liburan yang dia lakukan.

Alih-alih menemukan kedamaian dalam bekerja, gengsi membuat pekerjaan menjadi sebuah kompetisi yang menguras tenaga. Pekerjaan yang sejatinya berguna tuk mengisi dompet dan pengalaman malah berubah menjadi perlombaan tuk menunjukkan kesuksesan. Rasa-rasanya aku pernah terjebak dalam pemikiran seperti itu, dan untung saja aku dapat dengan segera bertobat.

Tak terasa, obrolan seputar gengsi siang itu segera berakhir tatkala ikan lele yang tersaji di atas piring tinggal tersisa tulang saja. Ada kepuasan hari itu, bukan saja karena perut yang berbahagia, melainkan pikiran yang tercerahkan. Sungguh, aku begitu bersyukur karena Tuhan boleh memberiku kesempatan hari itu berada di Bantul. Sulit bertemu teman berpikir di Jakarta, kalaupun ada teman seperti itu, tentu sulit ditemui karena kesibukan masing-masing.

Kami berdua menyadari bahwa keputusan kami bekerja di ladang non-profit secara sekilas memang tidak terkesan membanggakan. Tapi, inilah kehidupan yang kami pilih. Kami ingin mewarnai dunia dengan tekad dan semangat yang kami miliki. Kami percaya, ketika kami berbahagia dengan melihat orang lain berbahagia, niscaya Tuhanlah yang akan mencukupkan segalanya lewat cara-cara yang tidak pernah kami duga sebelumnya.

 

Bertemu Oma Tilly: Walau Tak Dapat Melihat, Tapi Masih Mau Menulis

oma1
Bersama oma Tilly Palar

Selalu saja ada hal menarik dari pekerjaan sebagai editor. Tulisan-tulisan yang masuk ke redaksi setiap harinya beraneka-ragam seperti sepiring rujak buah. Ada tulisan yang manis mengaharukan tapi ada juga tulisan yang kecut dan harus membuat si editor garuk-garuk kepala.

Beberapa minggu lalu, ada sebuah kiriman tulisan yang masuk. Biasanya pengirim-pengirim tulisan itu adalah anak-anak muda yang usianya dari 15 – 20 tahunan. Tapi, kali ini berbeda, seorang oma berusia 70 tahun mengirimkan tiga judul tulisan sekaligus ke email redaksi.

Setelah dibaca-baca, dari tiga tulisan yang dikirimkan, ada satu yang topiknya cukup relevan dengan kehidupan generasi muda masa kini. Sang oma yang bernama Tilly Palar itu menulis sebanyak delapan halaman cerita, tanpa spasi dan ukuran font 11! Beliau bercerita panjang lebar dan begitu rinci tentang pengalaman hidupnya ketika membesarkan anak-anaknya. Tulisan tersebut lebih cocok dengan tulisan-tulisan yang ditulis dalam sebuah novel.

Awalnya sempat ada rasa ragu, apakah tulisan ini harus diterima atau ditolak? Jika diterima, berarti harus berusaha keras untuk melakukan editing. Tulisan nan panjang itu harus dipangkas, karena pembaca website itu tidak suka tulisan yang terlalu panjang. Lalu, gaya bahasa juga harus disesuaikan ulang dengan karakter umum pembaca. Tapi, jika ditolak pun sebenarnya ada rasa tidak enak, terlebih karena beliau tentu sudah berusaha banyak untuk menuliskan delapan halaman itu.

Akhirnya proses penyuntingan pun dimulai. Karena faktor usia, agak sulit untuk berkorespondensi dengan beliau sehingga kami pun memutuskan untuk bertemu dan mengobrol langsung saja daripada harus berkorespondensi melewati email atau telepon.

Sang Oma tak lagi prima, tapi jiwanya tetap menyala

Singkat cerita, hari Minggu (2/4/17) aku menemui sang Oma di sebuah gereja di kawasan Lippo Karawaci, Tangerang. Dalam gambaranku waktu itu, sang Oma tentulah masih segar bugar dan terampil menggunakan perangkat gadget. Toh bisa menulis delapan halaman, pasti Oma yang keren deh. 

Setelah menunggu beberapa menit di depan pelataran gereja, sang oma pun datang. Beliau turun dari mobil, kemudian dituntun secara perlahan oleh seorang kawanku. Setelah mencapai tempat duduk, aku pun berkenalan dengan Oma.

Ternyata dugaanku salah. Kupikir oma ini keren, ternyata, dia jauh lebih keren! Di usianya yang ternyata sudah menginjak usia ke-70 tahun ini, beliau sudah tidak dapat lagi melihat. Pandangannya telah kabur sehingga dia harus dituntun kemanapun pergi. Beberapa tahun yang lalu pun beliau pernah mengalami serangan jantung.

Kondisi fisik yang terus menurun ternyata tidak sejalan dengan jiwanya. Semangatnya tetap menyala. Dengan senyum dia menyapaku. “Oh ini Ary ya, wah Oma senang sekali bisa duduk mengobrol bareng,” ucapnya hangat. Selama beberapa menit kami pun mengobrol. Beberapa pertanyaan kulontarkan kepadanya, dan oma pun menjawabnya dengan sangat detail, bahkan terlampaui detail. Ingatannya masih begitu kuat sehingga dia menjawab tiap pertanyaan dengan antusias.

oma2
Mewawancarai oma terkait tulisannya

Dalam kondisi telah rabun, oma masih semangat menulis. Tentu dia tidak mampu lagi menulis sendiri, melainkan ada seorang asistennya yang akan menuliskan apa yang diucapkan oleh oma.

Setelah semua pertanyaan usai dijawab oleh oma, kami pun mengobrol ngalor-ngidul tentang banyak hal. Di ujung pembicaraan, oma kembali mengundangku untuk datang menemaninya bercerita di minggu depan, juga minggu depannya lagi. Terakhir, dia menyampaikan minatnya kalau beliau masih ingin menulis buku! Oleh karena itu beliau ingin sekali memiliki teman bicara yang dapat membantunya bertukar pikiran.

Tulisan oma mungkin tulisan yang biasa-biasa saja, tetapi roh semangatnya merasuk hadir di setiap kata-kata yang dituliskannya. Pertemuan dengan oma mengajariku satu hal, yaitu tidak pernah ada kata terlambat untuk berkarya dan belajar. Jika oma yang usianya telah senja dan fisik yang terbatas saja masih semangat menulis, terlebih aku yang usianya masih hijau bagai pisang yang masih mentah di pohon.

Demikianlah sepenggal kisah dari keseharian sebagai seorang editor.

“There is joy in the Lord.”

 

Jakarta Barat, 3 April 2017