Menyapa Fajar nan Hangat di Puncak Suroloyo

suro5
Gunung Sumbing dan Sindoro

Langit masih gelap dan bunyi jangkrik masih terdengar jelas saat kami memarkirkan kendaraan di pelataran Puncak Suroloyo. Jam baru menunjukkan pukul 04:50, tapi kami tidak datang terlalu awal untuk menyaksikan pesona fajar. Langit yang semula pekat perlahan mulai meluntur namun masih tertutup awan-awan kelabu.

Perjalanan kami ke Suroloyo diawali dari rasa penasaran. Sore hari sebelumnya kami baru saja menjelajah area Panggang, Gunungkidul, tapi namanya jiwa muda, rasa capek bukan berarti perjalanan harus ditunda. Pukul 02:30 kami sudah memacu kembali sepeda motor, membelah jalanan lengang kota Yogyakarta menuju kabupaten Kulonprogo.

Jalanan di provinsi D.I Yogyakarta bisa dibilang sangat mulus, tak banyak lubang menganga yang dibiarkan begitu saja. Kontras dengan tempat asalku di Jawa Barat yang banyak sekali jalanan rusak. Selepas daerah Godean, deretan rumah penduduk berganti menjadi hamparan sawah nan luas lengkap dengan halimun pagi yang masih menggantung di atasnya. suro6

Nuansa pagi masih terasa begitu syahdu tatkala motor kami mulai ngos-ngosan melibas jalanan menanjak Kulonprogo. Ada baiknya sebelum berkunjung ke Suroloyo, pastikan dahulu kendaraan yang akan digunakan dalam kondisi prima. Tanjakan yang dilalui bisa dibilang cukup curam, apalagi ditambah tikungan-tikungan yang mewajibkan pengendara ekstra hati-hati.

Pagi itu kami adalah orang pertama yang tiba di Puncak Suroloyo. Tak ada motor lain yang diparkir, hanya motor bebek merah kepunyaanku yang akhirnya beristirahat di pelataran. Untuk tiba di Puncak Suroloyo, ada ratusan anak tangga yang harus ditapaki. Tapi, sayang seribu sayang karena tangan-tangan usil orang Indonesia masih suka mengotori pegangan tangga dengan coretan-coretan alay. 

Usia kami boleh muda, tetapi gaya hidup kota harus membuat kami takluk pada Suroloyo. Anak tangga yang kami lalui segera membuat keringat mengalir deras dan nafas tersengal-sengal. Setiap lima anak tangga kami berhenti sejenak, menghela nafas seraya agak membungkuk.suro3

Perjuangan kami terbayar lunas ketika kaki berhasil menjejak Puncak Suroloyo. Kami berdiri di titik tertinggi Kabupaten Kulonprogo, yaitu 1.600 meter dpl. Dari titik kami berdiri terhampar panorama pagi–aku menyebutnya sebagai Kahyangan versi Jawa. Tiga gunung nan agung tersaji jelas di depan pandangan, yaitu Merbabu, Sumbing dan Sindoro.

Kami sangat beruntung karena awan-awan kelabu dengan ikhlas menyingkirkan dirinya dan memberi kami kesempatan untuk melihat pemandangan nan agung itu. Semburat cahaya fajar yang kekuningan memudarkan kepekatan gulita malam. Lambat laun cahaya fajar itu menjadi semakin oranye yang menghasilkan paduan yang nikmat dipandang.

suro2
Awan Pagi

Kami memandang gunung-gunung itu dengan penuh takjub, angin pagi pun berhembus keras menerpa tubuh kami. Jika berdiri agak lama, lambat laun rasa dingin pagi itu mulai menusuk. Kami pun duduk-duduk di sebuah pendopo yang sengaja dibangun di atas puncak.

Tapi, kami harus menahan rasa kecewa karena ulah turis-turis lokal yang memang kelewat iseng. Hampir setiap sudut pendopo diberi coretan, entah tulisan siapa sayang siapa, atau sekedar nama-nama tidak jelas. Aneh memang, tak bisakah mereka hanya mengambil foto dan menikmati alam tanpa merusak?

suro4
Pondok kecil di atas Puncak Suroloyo

Ketika jam menunjukkan pukul 06:30, kami pun kembali ke area pelataran parkir. Hari itu adalah weekday, sehingga belum ada warung yang buka. Di udara nan dingin itu paling nikmat adalah menyeruput segelas teh panas, tapi karena waktu masih terlalu pagi maka perjalanan kami dilanjutkan dengan turun ke Desa Madigondo.

Kami akan kembali lagi ke Suroloyo, entah kapan. Pesona pagi di tempat itu telah menghipnotis kami untuk kembali singgah kepadanya.

Mangunan, Menyapa Fajar dari Kahyangan

Empat tahun lalu, nama Mangunan belum tersohor sebagai deretan spot terbaik menikmati lanskap Yogyakarta. Kini, sejak media sosial Instagram memuat foto spektakuler Mangunan, ia menjadi buah bibir bagi para calon wisatawan yang hendak berkunjung ke Jogja. Nama Mangunan tak lagi tertinggal, ia masuk menjadi agenda kunjungan wajib para wisatawan urban pemburu kemolekan alam.

Pagi itu jalanan masih gelap, namun ketika menengadah ke langit jutaan bintang berpendar cerah sebagai tanda hari akan cerah. Menembus gulita pagi hari, sepeda motor terus kupacu melibas liukan jalan yang menanjak curam. Sesekali motor harus berhenti untuk melihat arah panah jalan yang menuju ke Mangunan.

Tak sulit menemukan Mangunan, seiring dengan meningkatnya kunjungan wisatawan, turut dibangun pula beragam fasilitas pendukung. Salah satunya adalah papan penujuk jalan, jadi tak perlu kuatir tersesat apabila berkendara dari Jogja menuju Mangunan. Sejatinya, nama panjang dari Mangunan adalah “Kebun Buah Mangunan” yang terletak di kecamatan Dlingo, Bantul, Yogyakarta.

img_8914
Semburat fajar 

Sebelum Instagram meramaikan jagad media sosial, Mangunan telah hadir dan dikenal oleh masyarakat lokal Yogyakarta. Berbagai kegiatan diselenggarakan di Mangunan, mulai dari camping, observasi burung dan berwisata. Spot terbaik yang dimiliki Mangunan bukanlah kebun buahnya, melainkan sebuah puncak yang dijadikan sebagai gardu pandang. Tepat di bawah gardu pandang meliuk aliran Sungai Oya yang diapit oleh hamparan perbukitan hijau. Jika musim kemarau, bukit hijau akan kehilangan kesegarannya dan berubah warna menjadi kecoklatan.

Negeri Kahyangan 

Foto-foto saat fajar di Mangunan yang diungguah ke Instagram perlahan mulai menarik minat wisatawan. Akun-akun traveling skala lokal Jogja dan nasional turut meramaikan peristiwa fajar spektakuler hingga jadilah Mangunan yang seperti sekarang ini.

img_8926
Negeri di Atas Awan

Sejatinya setiap orang tentu merasakan peristiwa fajar setiap harinya. Pagi-pagi ketika membuka mata, udara pagi masih terasa segar. Bedanya, bagi manusia urban, pagi hari tak selalu jadi awal yang penuh semangat, terkadang beban yang menumpuk membuat hari seketika runtuh dan momen fajar tak lagi berharga.

Berada di Mangunan membawa kita kembali ke sebuah masa di mana alam menawarkan ketenangan dan ritme yang teratur. Mentari hadir menyibak gulita, halimun merayap turun dari bukit-bukit kemudian sirna seiring dengan naiknya rembang tengah hari. Bagi manusia urban yang setiap hari hanya melihat deadline dan stress, halimun pagi Mangunan adalah sebuah misteri sekaligus perenungan.

Pukul lima pagi, semburat cahaya mentari mulai memecah kegelapan. Kelip bintang dan pendaran bulan mulai sirna tergantikan oleh cahaya surya yang lebih kuat. Namun ada yang tak turut sirna, yaitu kabut tipis atau halimun. Sungai Oya di bawah gardu pandang Mangunan tertutupi halimun seolah sungai tersebut bukanlah berisi air, tapi berisi awan yang mengalir lembut.

Kesunyian dan kesyahduan pagi di kahyangan Mangunan terkadang menjadi terusik oleh ulah pengunjung. Alih-alih berdiam diri dan menikmati udara pagi, ada yang sibuk dengan gadget dan berupaya mengambil gambar sebaik dan sebanyak mungkin. Tak ayal, pagi yang seharusnya tenang berubah menjadi berebut antrean mengambil gambar. Mungkin, bagi pengunjung yang hits tersebut moment ini sangat langka hingga harus diabadikan dengan segera walaupun menggunakan kamera handphone seadanya.

img_8955
Berpose ria selagi kabut mengalir

Abaikan sejenak tentang kepadatan pengunjung, kembali berfokus pada pemandangan Mangunan. Tanpa difoto pun kahyangan Mangunan sedap untuk dinikmati dan tersimpan abadi dalam memori otak. Ambillah foto namun tak perlu terlalu banyak. Duduklah manis, berbincanglah dengan rekanmu dan nikmati aroma pagi Mangunan.

Ketika pengunjung semakin banyak, pecah sudah kesunyian kahyangan Mangunan. Kurapikan ranselku  dan bergegas menuju warung milik warga untuk menyeruput teh panas. Ah, kawan, seandainya kita mengerti, halimun Mangunan mengajarkan kita satu hal. Ia hadir sejenak, mengalir bersama angin lalu sirna entah ke mana. Demikian juga dengan hidup kita sebagai manusia, hari ini ada dan esok entah ke mana akan berlabuh dan sirna.

Yogyakarta, 29 September 2016 –

************

Rute menuju Mangunan dari Yogyakarta

Kota Yogyakarta – ambil jalan menuju terminal Giwangan, bisa melewati Ring Road Selatan – Dari perempatan Giwangan, menuju selatan ke Jalan Imogiri Timur – Ikuti jalan hingga pasar Imogiri – ikuti arah panah menuju Dlingo / Kebuh Buah Mangunan

HTM: Rp 5.000,- per orang

Jam Buka: pk 04:30 WIB