Cuek di Awal, Tuai Bencana Kemudian

“Ke Indomaret yuk, Ry,” kata-kata yang sering dilontarkan Brian tiap menjelang tengah malam. Dan, tak pernah kutolak pula ajakan itu. Kami lalu berjalan kaki, melompati portal depan gang yang selalu ditutup selepas jam sebelas. Hasil perjalanan itu beragam: Brian membawa nasi padang yang katanya cemilan tengah malam, dan aku menjilati es krim seharga lima ribuan.  Brian adalah kawan kalongku. Beserta dengan seisi kosan lainnya, kami … Lanjutkan membaca Cuek di Awal, Tuai Bencana Kemudian

Kawan-kawan di Bibir Kawah

Pohon-pohon cantigi bertengger teguh di tepi tebing-tebing curam yang menghujam ke kawah. Sesekali mereka bergoyang diterpa angin, menampilkan paras elok. Tetapi, lanskap yang tersaji di belakangnya berkebalikan dengan keelokan: kawah gunung berapi yang sewaktu-waktu bisa meletup. Agustus setahun lalu, kawah ini batuk tanpa pertanda. Air, abu, dan asap pekat tumpah ke udara. Wisatawan dan pedagang lari tunggang-langgang. Tak ada yang menyangka, kawah Ratu Tangkubanperahu akan … Lanjutkan membaca Kawan-kawan di Bibir Kawah