Yang Tetap Bertahan di Jakarta

Setiap bulan sekali, ada sebuah pertemuan rutin yang kami sebut sebagai “Jakarta Squad”. Biasanya, kami duduk melingkar di kamar kos yang sempit, atau kadang pula berkumpul di loteng, memandangi gedung-gedung tinggi menjulang sambil mengoceh tentang banyak hal. Continue reading “Yang Tetap Bertahan di Jakarta”

Iklan

Belajar Hidup di Ibukota dari Rumah Ibu Kost

sampul-blog
Bu Sri sudah lupa kapan terakhir kali dia berfoto. Jadi hari ini wajahnya tegang 😀

Konon katanya ibu tiri itu kejam, tapi ada pula yang bilang kalau ibu kota lebih kejam. Tapi, bagaimana dengan ibu kost? Apakah dia lebih kejam dari ibu tiri dan ibu kota? Jawabannya yaitu belum tentu, tergantung di kost mana kita tinggal dan sejauh mana rejeki beserta kita.

Sudah hampir tiga bulan berlalu sejak kali pertama aku menetap di Jakarta. Sewaktu di Jogja dulu aku sudah membayangkan hal-hal buruk yang akan terjadi ketika kost di Jakarta nanti. Pasti kostnya mahal, kamarnya sempit, tempatnya jorok, banyak maling, penghuni kostnya cuek, dan ibu kostnya menyebalkan—setidaknya itu yang ada di pikiranku dulu.

Kost yang kutempati di Jakarta bukanlah kost yang benar-benar rumah kost, tapi lebih kepada sebuah rumah tinggal biasa yang dihuni oleh seorang nenek (aku lebih senang memanggilnya ibu).  Ibu Sri, sang nenek yang empunya kost ini sudah menjanda dan dikaruniai enam orang anak, tapi dia tinggal seorang diri. Berhubung rumahnya ada banyak kamar, maka tiga kamar di lantai atas yang tidak terpakai disewakan untuk menambah penghasilan hari tuanya (mungkin juga supaya rumahnya tidak sepi).

Ada semacam jet lag atau cultural shock yang kualami saat tinggal di minggu-minggu pertama. Semasa kost di Jogja dulu, semua serba mudah. Mau mencuci ada tempat cucian, menjemur ada loteng, mau memasak ada dapur, kulkas, TV dan lainnya yang sudah disediakan oleh Ibu kost. Tapi, lain Jogja, lain pula Jakarta. Ibukota punya ceritanya sendiri.

Sekarang setiap kali mandi harus berhemat air, pasalnya air tidak langsung diambil dari sumur melainkan dari PAM, sehingga air hanya ngocor di jam-jam tertentu. Lalu jika mau mencuci tak ada lagi tempat yang lapang, aku harus mencuci di garasi, itupun baru bisa mencuci malam-malam saat air PAM ngocor. Ditambah lagi WC di lantai atas rusak, sehingga aku harus melakukan aktivitas MCK di WC bawah yang artinya aku harus antre dengan banyak orang (biasanya anak dan mantu si nenek datang pagi-pagi dan mandi juga).

Terlambat pulang, dikunci deh..

Salah satu kerepotan selama kost di sini adalah soal jam pulang. Ibu kost yang sudah berusia senja itu biasanya tidur sebelum jam 23:00 dan menjadi masalah kalau-kalau aku harus pulang di atas jam sebelas malam. Ibu Sri tidak memberikan kunci ke penghuni kost, jadi kalau mau pulang malam harus izin terlebih dulu supaya pintunya tidak dikunci.

Setiap kembali ke Jakarta dari Bandung biasanya aku akan tiba di kost di atas jam 00:00, supaya tidak dikunci aku selalu mengabari si ibu supaya setiap minggu malam pintunya jangan dikunci. Tapi, namanya juga orang tua kadang-kadang suka lupa atau berhalusinasi.

Suatu hari aku izin kalau akan pulang jam 22:30 karena harus pergi menemui teman di daerah Slipi. Saat tiba di kost jam 22:20 ternyata pintu sudah dikunci. Pintu kugedor-gedor sambil aku coba menelpon nomor rumah si ibu, tapi selama 30 menit hasilnya nihil, malahan tetangga sebelah jadi sewot karena suara gedoran pintuku membuat berisik. Akhirnya aku menyerah dan pergi kembali ke Slipi untuk menginap di tempat teman dan kembali lagi ke kost subuh-subuh.

heri
Hanya kami berdua yang kost. Sama-sama dari Jogja, yang satu jadi guru, dan aku jadi penulis plus editor.

Lucunya, saat pagi hari aku menemui ibu kost, tanpa rasa bersalah dia menyapaku. “Bu, piye toh, kan aku sudah bilang pulang jam sebelas, lha belum jam setengah sebelas mosok sudah dikunci?” keluhku padanya. “Masa iya? Bukannya jam sepuluh mas nya sudah pulang dan masukin motor ke garasi toh?” jawab si ibu. FIX! Malam itu si ibu berhalusinasi atau memang ada makhluk halus menyerupaiku yang datang ke kost. Awalnya ingin marah, tapi aku malah ngekek sendiri.

Jadi, supaya aman, sebelum jam 22:00 aku akan kembali ke kost. Lagipula tidak aman keluyuran malam-malam di Jakarta seorang diri. Ya, kan? 

Oase Batin di balik Kekelaman Ibu Kota

Terlepas dari segala kekurangannya, rumah kost ini menorehkan kesan mendalam untukku. Dari tempat ini aku mendapati bahwa ibukota tak sekejam yang ada di pikiranku, juga tak sekejam ibu tiri (tak semua ibu tiri juga kejam sih). Sudah selayaknya manusia itu hidup berdampingan walau ada begitu banyak perbedaan, bisa jadi beda usia, beda kelamin (tentu!), beda agama, ataupun beda cara hidup.

Setiap hari sepulang kerja, aku selalu disuguhi senyum hangat dari sang ibu kost, plus alunan musik dangdut koplo yang selalu diputarnya. Aku tidak terganggu dengan musik dangdut karena itu asyik didengar. Ibu kost sangat senang mengobrol, jika bertemu dengannya, minimal lima menit harus kuluangkan untuk mendengar curhatannya. Kadang aku harus memotong ucapannya dan pamit pergi, kalau tidak aku terlambat masuk kerja.

Dari ocehan ibu kost aku belajar untuk menjadi pendengar yang baik sekalipun apa yang didengar tidak selalu enak. Aku tahu bahwa ketika zaman semakin maju, orang lebih tidak peduli. Banyak anak muda seusiaku yang sudah bekerja lebih menginginkan rumah kost yang menjamin privasi, yang tak ada orang peduli satu sama lain. Tapi, aku tidak ingin itu terjadi dalam hidupku. Suka tidak suka, aku tetap harus menjadi manusia yang humanis, dan satu-satunya cara menjadi humanis adalah dengan tetap bergaul dengan siapapun tanpa memandang sekat perbedaan.

Suatu ketika, sehabis aku mencuci baju dan menjemurnya di depan kost, hujan besar turun. Waktu itu aku sedang berada di kantor dan baru pulang malam hari. Setibanya di kost, seluruh jemuranku sudah diangkat dan diletakkan di atas kursi. Waw, aku terharu. Padahal, waktu itu hanya ada jemuranku saja di atas, tak ada jemuran lain, dan ibu kost yang bawel itu ternyata memperhatikan baju-bajuku. Dia naik ke lantai atas dan mengambil baju itu satu per satu.

“Mas, itu bajunya sudah saya angkat, kasian mas nya kalau basah bajunya, nanti harus cuci lagi,” ucap ibu kost.

Hari demi hari, aku makin menikmati tinggal di rumah kost ini, layaknya aku sedang tinggal di rumah nenek. Memang tidak 100% nyaman tinggal di sini. Sulit sekali mengeluarkan motor dari garasi, lalu saat akhir pekan biasanya keluarga si Ibu kost yang jumlahnya hampir satu RT akan datang dan memenuhi kost. Kadang aku merasa awkward berada di antara kerumunan keluarga itu.

Tapi, aku mau berusaha menikmati apa yang Tuhan sudah berikan padaku, termasuk ketika Ia menunjuk rumah ini sebagai tempat tinggal sementaraku di Jakarta. Aku bisa mempraktekkan kasihku kepada ibu kost. Saat pagi aku menyapanya, kadang mengajarinya menggunakan smartphone, membantunya mengangkat perkakas berat, menjadi teman curhatnya, dan menjadi pendengar setia musik dangdut koplo yang diputarnya setiap hari.

Akhir kata, tidak pernah ada yang sempurna di dunia ini, selalu ada buruk di antara baik, dan ada baik di antara buruk. Terlepas dari potret kelamnya kehidupan Ibukota, aku menemukan sebuah oasis yang memperkaya batinku. Aku tak pernah tahu ke mana Tuhan akan membawa kelak,tapi aku tahu kalau Dia akan kembali membawaku pergi entah ke mana, dan Dia mau aku belajar sesuatu dari tiap fase hidup yang kulalui.

Di Jakarta inilah aku dididik untuk tetap menjadi pribadi yang mempunyai empati. Ketika kriminalitas merajelela, tentu mudah bagiku untuk meredupkan empatiku dan menaruh curiga akan setiap apapun. Tapi, satu yang kuyakini adalah imanku pada Tuhan telah mengalahkan segala kecurigaan itu.

“Tuhan yang maha kuasa tidak pernah terlelap menjagamu”

—-
Jakarta, 24 Februari 2017

Dari BolangJogja yang sudah tidak di Jogja

 

Natal: Sebuah Perjalanan Pulang

Semenjak kuliah, aku jarang pulang ke rumah saat Natal tiba. Dengan alasan hemat ongkos, aku memilih berdiam di kost dan mengerjakan aktifvitas lain, toh orang tua juga tidak menuntut aku untuk pulang. Tapi, kini setelah aku bekerja, pemikiranku berubah. Jika dahulu pulang sebagai sesuatu yang opsional, kini pulang adalah kerinduan.

Menghabiskan hari-hari di tempat kerja sejak matahari terbit hingga tenggelam bisa jadi rutinitas yang membosankan. Tatkala akhir pekan tiba, pulang ke rumah adalah salah satu cara untuk recharge kembali semangat yang terkuras habis. Beruntung rumahku berlokasi di Bandung, cukup dekat dari Jakarta dan tidak harus merogoh kocek terlalu dalam.

Tahun-tahun sebelumnya, aku pernah melewatkan Natal di rumah, tetapi hatiku tidak berada di sana. Hatiku terpusat pada apa yang bisa kulakukan dengan teman-teman di libur Natal, tentang pergi ke tempat baru, atau sekedar hang out untuk mengobrol. Itu tidaklah salah sejatinya, toh memang dengan hadirnya liburan Natal, teman-teman dari berbagai daerah bisa pulang dan itu jadi momen yang pas untuk bertemu.

Memaknai Natal tahun ini membawa pikiranku terbang ke masa ketika kisah Natal pertama berlangsung. Natal sejati dimulai dari sebuah keluarga, yap, keluarga kudus yang terdiri atas Yusuf, Maria dan bayi Yesus. Sang Juruselamat yang adalah Tuhan tidak memilih untuk datang secara tiba-tiba dalam wujud dewasa, melainkan dari titik paling awal hidup manusia yaitu dari kandungan seorang ibu.

Berbicara soal keluarga, dulu aku sempat pesimis tentang keluargaku. Bagiku tak mungkin ada harapan untuk keluargaku bisa bersatu, duduk bersama, tertawa dan melewatkan tanggal merah bersama. Belasan tahun waktu berlalu, pesimismeku dahulu terkikis oleh harapan yang terus menyala.

Terkadang, juga seringkali Tuhan tidak menjawab doa kita dengan mengubahkan keadaan. Aku tahu kalau Ia maha kuasa, tetapi Ia maha bijak. Tuhan tahu kapan dan bagaimana kuasa-Nya harus dinyatakan. Ketika kita berdoa, seringkali yang Ia ubahkan pertama adalah cara pikir kita akan sesuatu. Banyak permasalahan terjadi hanya karena kita tidak bisa memandang masalah itu dari kacamata sang Pencipta.

Aku pernah memandang keluargaku sebagai bencana, sebagai sebuah tempat yang penuh pertengkaran. Tuhan tidak serta merta mengubahkan keluargaku, tapi pertama kali ia ubah cara ku memandang keluarga. Ia bukakan mataku tentang perjuangan papa yang bekerja banting tulang berjualan siomay batagor. Sekalipun ia jarang menanyaiku, juga sering membentak, tapi di situlah letak cintanya. Cinta papa bukan diwujudkan dalam kata-kata romantis ataupun memberi pelukan dan benda-benda mahal. Tapi, wujud cintanya yang sejati adalah pada kerjanya, bentakannya, rasa marahnya juga bawelnya.

Aku tersadar kalau selama ini dalam hidup kita cenderung membandingkan diri dengan orang lain, padahal setiap orang, juga keluarga memiliki style nya masing-masing. Tidak menelpon bukan berarti lupa dan marah bukan berarti benci. Semua kembali tergantung pada cara kita memandang sesuatu.

Perubahan besar tidak pernah terjadi tanpa perubahan kecil. Ibarat seseorang jatuh tersandung bukan karena batu besar, tapi karena kerikil, demikian jugalah hidup. Cara pikir yang berbelas kasih dan mau memahami orang lain adalah kunci dari pemulihan. Jangan pernah berdoa dan berharap mau keadaan berubah kalau otak kita tidak mau diubahkan dahulu.

Natal di tahun 2016 ini menjadi Natal yang berbeda untukku. Suatu masa Natal yang kumaknai sebagai perjalanan pulang, kembali ke titik nol hidupku, kepada keluarga. Kutinggalkan Jakarta sejenak dan kusambut keluarga di rumah.

“What can you do to promote world peace? Go home and love your family.” – Mother Teresa

Kado Merantau dari Tuhan

Kadang, merantau itu sedih, tapi terkadang juga mengasyikkan. Intinya, ketika merantau ada banyak dinamika pahit manis yang dialami. Kita belajar buat menerima, juga melepas, dan terpenting belajar untuk hidup di macam-macam keadaan.

Minggu lalu bisa dibilang jadi minggu yang paling sedih buatku. Pasalnya, sudah empat tahun dan enam bulan kuhabiskan di Jogja, lengkap dengan teman-teman yang super menyenangkan dan erat bagai keluarga. Kenyataan berkata lain, setamat kuliah aku perlu bekerja dan kebetulan aku berhasil diterima di sebuah lembaga pelayanan global yang memiliki kantor cabang di Jakarta.

Minggu pagi (4/12), dengan hati berat aku duduk di gerbong paling belakang kereta api Fajar Utama. Kupikir gerbong paling ekor hari itu akan kosong, tapi ternyata penuh. Seorang ibu berjalan membawa koper dan kebingungan mencari tempat duduk. “Kursi nomor berapa bu? Sini sekalian saya bantu naikkan kopernya ke atas,” sambutku. Ternyata ibu itu duduk di sebelahku. Singkatnya kami mengobrol panjang tentang pengalaman diri masing-masing.

Sebelum berangkat, aku berjanji untuk tidak memesan makanan apapun di kereta. Aku harus berhemat karena gaji pertama bekerja baru akan diterima di akhir bulan, jadi hari itu aku hanya membawa selembar roti tawar. Aku pun tertidur, dan ketika hari menjelang siang, ada pramugari datang dan mengantarkan dua paket nasi rames.

Mari mas, silahkan makan siangnya, biar nemenin saya makan,” kata ibu sebelahku. “Wah bu, malah ngerepotin ini,” sahutku. “Gak apa-apa mas, dimakan saja, biar kita makan barengan,” kembali sahut ibu itu.

Suapan demi suapan nasi rames tak hanya mengenyangkan perut, tapi juga menghapus kesedihan. Sepaket nasi rames itu menjadi sebuah kado pertama dari Tuhan atas perjalanan perantauanku ke Ibukota, seolah Ia hendak berkata, “don’t worry bro! I’ll take care of you!” 

Seraya makan, pikiranku bertualang. Aku menyadari kalau sang Pencipta jauh lebih mengerti tentang kebutuhan anakNya, ketimbang aku sendiri. Aku mungkin berdalih tak mau makan karena minim uang, tapi Ia tahu kalau aku butuh makan, maka ia mengirimkan makanan lewat kebaikan sang ibu di sebelahku.

Hari itu, di atas kereta api, semangatku yang padam akibat meninggalkan Jogja perlahan berpendar kembali. Aku tahu, tantangan di depan tidaklah ringan, tapi lewat kejadian di atas kereta ini aku disadarkan kalau ada jawaban dari persoalan, ada bimbingan dari tantangan, dan ada berkat dari ketulusan.

Kini, seminggu nyaris sudah kulalui di Jakarta. Tidak tahu kemana Ia akan membawa nanti, tapi kemana Ia menuntun, ke situ aku kan menuju. Aku menikmati sekali pekerjaanku, dari pekerjaan ini aku dibawa untuk kembali menjadi inspirasi bagi ribuan anak-anak muda.

Jakarta, 9 Desember 2016

BolangJogja yang tak lagi di Jogja

Mengawali dengan Semangat, Menutup dengan Manis

Ada awal, juga akhir. Ada suka, juga duka. 

Kadang, akhir tak selalu berakhir suka 

pun awal tak tentu dimulai dengan duka

adalah proses yang menjadikan kita kaya

kaya akan pengalaman, juga kenangan dari orang-orang tercinta

Masih berasa mimpi ketika menyadari kalau waktuku di Jogja kurang dari satu minggu tersisa. Rasa-rasanya baru kemarin memasuki kampus, ospek, kenalan sana-sini, mbribik gebetan, sibuk organisasi, dan sekarang semua itu seolah berjalan begitu cepat tak bersisa.

Satu bulan setelah pengumuman diterima bekerja di Jakarta, ada rasa sukacita yang bercampur aduk dengan sedih. Satu sisi senang karena bekerja, tapi ada rasa sedih karena harus meninggalkan Jogja dengan segudang isinya yang begitu memikat hati. Aku menyadari kalau masa transisi, atau masa perpindahan memang berat, tapi harus dijalani dengan tegar.

Ada satu hal yang membuatku begitu mencintai Jogja setengah mati, sampai-sampai ada teman yang bertanya, “kok lu bisa sebegitunya banget sih sama Jogja?”. Kadang aku pun tak tahu harus menjawab apa, karena rasa cinta itu hanya bisa dirasakan dengan hati, dan sulit dituangkan dalam beragam kata.

Merantau untuk Mengenali Hidup 

Keputusanku untuk pindah ke Jogjakarta empat tahun lalu rasa-rasanya adalah keputusan sepele pada waktu itu. Ada banyak kampus di Bandung, tapi aku memilih Jogja dengan satu alasan, yaitu nyaman. Berbekal kenyamanan itu, Jogja menjadi tempatku berlabuh selama empat tahun.

Berasal dari keluarga broken, membuatku tak menemukan jati diri yang pas semasa sekolah dahulu. Aku minder ketika teman-temanku terkenal dengan pencapaiannya sendiri, sedangkan aku merasa useless dan tak dicintai. Perlahan ketika perkuliahan dimulai, aku tahu kalau merasa rendah diri itu buruk. Alih-alih menyalahkan keadaan, lebih baik aku mulai menggali potensi diri.

Aku lupakan soal minderku, kucoba mulai berorganisasi, menekuni hobbyku dan bergaul dengan lebih banyak orang. Perlahan tapi pasti, pertemuanku dengan orang-orang baru inilah yang menempa karakterku, dari seorang yang lembek menjadi seorang yang kuat. Diperhadapkan dengan berbagai karakter teman mengajariku untuk mengerti orang lain terlebih dahulu ketimbang bersikap egois.

Dari merantau, aku mengenali apa itu yang namanya kangen dengan teman, juga keluarga. Jarak yang terpisah membuatku lebih menghargai suatu pertemuan. Jogja juga mengenalkanku pada apa yang disebut sebagai pertemuan dan perpisahan. Sambilanku sebagai travel guide mengantarku pada pertemuan dengan sahabat-sahabat dari berbagai negara. Ketika sudah dekat dengan mereka, tiba-tiba harus berpisah dan tidak tahu lagi kapan bertemu. Sedih memang, tapi perpisahan ini terjadi supaya aku menghargai arti pertemuan.

Merantau kadang memang membuat nyaman, namun tak selamanya nyaman itu baik untuk kita. Nyaris tak ada yang bertumbuh di zona nyaman selain rasa manja. Hidup itu adil dan memiliki prosesnya sendiri, ketika kita terlalu nyaman di suatu tempat, otomatis akan ada masanya di mana kenyamanan itu akan dicabut.

Tunas harapan yang kecil kini telah tumbuh dengan subur di sebuah pot bernama Jogja, namun pot ini tak lagi cukup untuk memuat akar-akar yang kian memanjang. Tuhan mencabutku dan menempatkanku pada pot baru bernama Jakarta.

Mengawali dengan Semangat, Menutup dengan Manis 

“Manisnya hidup, kita yang tentukan,” tagline dari iklan produk gila. Nampaknya slogan iklan itu ada benarnya juga. Jika hari ini aku memutuskan untuk terlarut dalam duka karena perpisahan, maka rasa manis itu akan berubah menjadi manis yang merusak, tak lagi sehat.

img_0991img_1477img_1534img_1546img_1549img_1592img_7830img_8653

Dulu ketika aku mengawali petualangan untuk empat tahun di Jogja, aku mengawalinya dengan harapan kecil. Kini ketika petualangan itu tuntas, ditutup dengan kenangan manis yang dibentuk dari pertemuan dengan banyak orang. Ada keluarga di KKP yang mengajariku untuk bekerja dengan passion. Keluarga HMPSKom yang mengajariku apa arti dari totalitas bekerja. Keluarga di OnFire yang mengajariku tentang arti pelayanan. Juga seisi rumah kostku yang mengajariku tentang apa itu berbagi rasa dan menerima perbedaan.

Dan…di ujung perjalanan ini, Jogja menjadi terasa begitu manis. Saking manisnya, air mata pun terasa manis. Bukan tangis sedih yang terurai, tapi tangis bahagia, sebuah sukacita karena diberi kesempatan untuk bertemu dan berproses bersama orang-orang pilihan yang luar biasa!