Sumatra Overland Journey (1) | Medan: Kota Terburuk untuk Backpacker?

Dua puluh satu tahun menghabiskan hidup di tanah Jawa membuatku bertanya-tanya, seperti apakah rupa Sumatra itu? Yang aku tahu, dulu kerajaan Sriwijaya pernah berdiri di sana, dan kini bencana kabut asap sering menjadi tamu tahunan yang bercokol di pulau Sumatra. Tapi, selebihnya, aku tidak tahu apa-apa tentang pulau nan besar itu hingga di Juni 2015, tanpa pengalamanan apapun, sebuah perjalanan ribuan kilometer mengitari Sumatra menyambutku.

Kamis, 25 Juni 2015 Continue reading “Sumatra Overland Journey (1) | Medan: Kota Terburuk untuk Backpacker?”

Iklan

30 Hari Jelajah Sumatra ( Bagian II: Medan – Bukit Lawang)

IMG_2885

Tujuan 1 – Kota Medan

Bicara soal Medan, yang tergambar di benakku pertama kali adalah orang-orang yang berbicara keras, bika ambon dan cici-cici cantik. Kesan pertama melihat Medan cukup baik, ketika mendarat di Bandara Kuala Namu yang keren, paling tidak gambarannya adalah Medan akan sama keren dengan Bandaranya!

Seorang kawan lama dari SMA di Bandung telah menunggu di Bandara. Ketika pesawat mendarat dan aku menunggu bagasi, ia menghampiri dan legalah hatiku. Tak lama, pesawat Johannes dari Thailand mendarat di Medan pada 18:05.

Setelah selesai urusan di Bandara, kami bertiga melaju ke Kota Medan. Bermodal budget tipis, kami tidak menggunakan kereta bandara yang hits itu tapi naik bis Damri saja. Perjalanan sekitar dua jam dari Kuala Namu menuju pusat kota Medan. Rumah kawan SMAKu yang bernama Suryadi ini berada di kawasan Pasar Petisah. Aku pikir, hari pertama menginap di rumahnya akan menjadi pengalaman yang menyenangkan, atau mungkin biasa saja.

Melewati jalanan pasar yang bau dan gelap, sesekali ada orang-orang yang berteriak keras “Hei Mister!” kepada Johannes, karena dia seorang bule. Sesekali Johannes menyahut teriakan itu namun sambil langkah tetap melaju. Ketika tiba di depan pintu rumah Suryadi, ia berkata “Sorry ya kalau banyak kecoak, soalnya rumahku di pasar,” ucapnya. “Oke, nggak apa-apa kok,” jawabku. Padahal, kecoak adalah musuh terbesarku. Jika di Jogja, untuk membunuh satu kecoa saja aku bisa butuh satu kaleng baygon. Namun, okelah, aku berusaha berpikir positif.

Pintu rolling door dibuka, kami disambut hangat oleh Ibunda Suryadi. Perlahan kami beranjak masuk menuju lantai dua dan disitulah mimpi buruk pertama dimulai. Di bawah tangga yang juga merupakan gudang, puluhan kecoak asyik mondar-mandir. Kecoak dari segala ukuran, dari yang merayap sampai terbang semua ada disitu. Bergidik dan ingin mengangis, itulah yang aku rasakan tapi aku tidak berani bilang pada Suryadi karena takut menyakitinya.

Kami hanya mampir sejenak untuk menaruh ransel-ransel kami yang berbobot hampir 30kg lalu keluar untuk mampir makan malam. Suryadi mengajak kami untuk makan di restoran chinese food yang enak, tapi harganya tidak terlalu enak. Singkat cerita kami makan enak, dompet terkuras dan melihat fenomena kalau orang Medan ternyata “murah hati”, bagaimana tidak, satu orang pengamen bisa diberi uang Rp 2.000,- hingga 10.000,-. Sesuatu yang mustahil untuk terjadi di Jogja.

Kembali ke rumah Suryadi, mimpi buruk berlanjut. Kami diberi tempat sebuah kamar kecil di lantai tiga rumah. Panas, pengap, tanpa ventilasi, sarang laba-laba menghiasi langit-langit dan redup. Tapi, setidaknya kami bersyukur karena mendapatkan tempat menginap tanpa harus membayar, disamping itu sekaligus melepas kangen bersama kawan lama.

Belum sempat mata terpejam, sekelompok tikus hitam yang ukurannya besar berkejaran di samping ranjang kami. Wawww, antara jijik dan takut, antara mengantuk namun tak bisa tidur akhirnya kami melewati malam pertama dengan was-was. Keesokan harinya kami memutuskan untuk bisa sesegera mungkin berpindah dari kota Medan ke Bukit Lawang, ke tempat yang lebih alami ketimbang perkotaan besar seperti Medan.

Masjid Deli, Medan sesaat sebelum Shalat Jumat

Medan: Potret Metropolitan di Barat Indonesia

Tiga hari di Medan cukup, bahkan lebih dari cukup untuk mencoret kota itu dari daftar perjalanan kami. Bahkan, guide book terkenal sekelas Lonely Planet pun menyebutkan Medan sebagai kota yang tidak ramah dengan traveler. 

Peraturan lalu lintas hanya pajangan, hampir tak ada yang patuh. Bentor berseliweran bak orang kesurupan, tak peduli jalan satu atau dua arah yang penting terobos.Bunyi klakson melengking tak pernah hilang dari jalanan. Belum lagi pengamen-pengamen yang sewot kalau diberi uang receh Rp 500,-. Padahal uang segitu pun termasuk uang loh.

Entah memang di Medan begitu, atau memang kami yang sial. Pernah kami membeli sepiring nasi goreng seharga Rp 17.000,- padahal harga sesungguhnya hanya Rp 10.000,-. “Wah, kalau di Medan orang lihat bule itu kaya, banyak duit, jadi wajar aja harganya naik!” jelas temanku.

Waw, itu cukup jadi alasan kami untuk pergi menyingkir dari Medan. Tidak lucu kalau baru etape pertama perjalan uang dikuras habis di Medan.

Selama di Medan, kami hanya mengunjungi Masjid Raya, Istana Maimun dan Tjong A Fie Mansion. Semuanya bagus, tetapi tidak terlalu berkesan, mungkin karena kami terlalu irit sehingga tidak mampu membeli makanan yang enak-enak di Medan.

IMG_2893.jpg

BUKIT LAWANG

Tiga hari dua malam di Medan cukup membuat kepala pening. Bunyi klakson, pengamen yang gak mau diberi uang koin 500 perak, bentor yang lebih licin dari belut dan keruwetan kota besar lainnya jadi alasan yang cukup untuk segera hengkang.

Sabtu pagi, setelah kami mengisi perut dengan menu bubur Medan kami bertolak. Menaiki bentor, kami bertolak dari pasar Petisah ke terminal Pinang Baris. Sembari menikmati jalan, kami berpikir keras bagaimana caranya bisa tiba di Bukit Lawang dengan selamat, minimal tidak kena tipu orang di terminal.

Kami sadar upaya kami sangat terbatas. Johannes si bule Jerman sangat jelas tidak bisa bahasa Indonesia dan pasti dipandang sebagai bule berduit, sedangkan aku pun serupa. Logat campuran jawa-sunda, perawakan kurus dan belum pernah menginjakkan kaki di Sumatra sekiranya cukup jadi alasan jika nanti di terminal kami dicurangi soal harga bis. Tapi, kami tepis pikiran busuk itu dengan berdoa. Semoga yang Kuasa berpihak pada kami

Tiba di Pinang Baris, supir bentor yang awalnya sepakat dengan harga Rp 20.000,- meminta dengan paksa uang tambahan Rp 10.000. “Bang, ayolah tambah 10 ribu aja, mintakan ke kawan bulemu itu pasti dia banyak duit!” rayu si sopir bentor. Kami pun mengalah, sepuluh ribu melayang keluar dari dompet. Dengan senyum curang, sopir bentor pun meninggalkan kami di tepian terminal Pinang Baris.

Belum sempat bernafas, puluhan calo atau preman atau entahlah namanya merubungi kami berdua. “Kemana, sir, bang? Bukit lawang? Aceh? Sini, sini bang!” celoteh puluhan orang itu bagai lebah di belantara. Berlaga sok pede, kami seolah tak peduli dengan mereka dan berjalan terus hingga menemukan kios agen bus.

“MEDAN-BUKIT LAWANG”, membaca tulisan tersebut langsung kami percepat langkah ke kios berwarna oranye. “Bang, Bukit Lawang dua orang, berapa?” tanyaku. “200 bang!” tukas kernet bus. “Ah, bohong itu bang, kali itu ku naik ini bis ke bukit lawang Cuma 30 seorang, nipu aku abang ini!” jawabku seraya menirukan logat medan. Terjadi tawar menawar yang cukup alot. Kami tidak menyerah, bagaimanapun juga setiap rupiah yang bisa kami simpan itu sangat berharga, apalagi ini baru hari ketiga kami di Sumatra.

Keberuntungan berpihak pada kami! Harga pun disepakati, Rp 40.000,- per orang untuk sampai ke Bukit Lawang. Sebetulnya 40.000 adalah harga yang wajar untuk perjalanan selama lima jam ke jantung Sumatra Utara. Jangan harap ada pendingin udara dan air suspension layakna bis AKDP di Jawa. Pengap, jok kursi yang sudah jebol, jendela yang macet, suara mesin bising dan penumpang bagai sarden jadi pelengkap perjalanan ini.

Karena badan sudah terlanjur lelah, kami pun terlelap setelah bis melewati kota Binjai. Menjelang pukul 13:00 hanya tersisa kami di dalam bis, penumpang lain sudah turun semua, tandanya kami akan segera tiba di Bukit Lawang. Hmmm, petulangan selanjutnya dimulai. Akankah kami harus tawar menawar harga lagi lalu ditipu? Entahlah, kami hanya bisa pasrah

Cuaca terik, namun angin sejuk berhembus pelan dibarengi dengan rimbunnya pepohonan. Bis butut yang kami tumpangi berhenti persis di terminal yang lebih tepat disebut lapangan bola. Nyaris tak ada bis yang parkir di sana, mungkin juga karena sepi penumpang. Beberapa pemuda setempat segera menghampiri dengan bicara bahasa Inggris. “Come on sir, come with me, a homestay only 50.000,- a nite, no cheat, I am honest,” jelas pemuda itu.

Kalimat no cheat, I am honest menarik minat kami untuk bertanya lebih lanjut kepadanya. “So, sir where are you from? Are you Malaysian or Singapore?” tanyanya padaku. “No, brother, we are fellow Indonesian, I am from Yogyakarta, not malaysian or Singaporean!” jawabku. Sontak pembicaraan kami segera beralih ke bahasa Indonesia, dan giliran Johannes yang roaming tak mengerti.

Singkat cerita pemuda ini memang jujur. Dia mengantarkan kami berjalan kaki melewati jalan pintas untuk tiba di kawasan Taman Nasional Bukit Lawang. Kami mendapatkan penginapan seharga Rp 50.000,- per malam tidak kurang dan tidak lebih. Haleluya! Bahagianya kami, bukan hanya penginapan yang murah, tapi pemandangan di bukit lawang ini memang laksana surga. Sungai yang airnya sejernih air galon, pepohonan super rimbun, ditambah lagi dengan warganya yang sangat ramah segera menghapuskan kelelahan kami akibat hiruk pikuk Medan.

Hari pertama kami habiskan dengan jalan kaki berkeliling area wisata sembari merencanakan kegiatan apa yang akan kami lakukan besok.