Sumatra Overland Journey (1) | Medan: Kota Terburuk untuk Backpacker?

Dua puluh satu tahun menghabiskan hidup di tanah Jawa membuatku bertanya-tanya, seperti apakah rupa Sumatra itu? Yang aku tahu, dulu kerajaan Sriwijaya pernah berdiri di sana, dan kini bencana kabut asap sering menjadi tamu tahunan yang bercokol di pulau Sumatra. Tapi, selebihnya, aku tidak tahu apa-apa tentang pulau nan besar itu hingga di Juni 2015, tanpa pengalamanan apapun, sebuah perjalanan ribuan kilometer mengitari Sumatra menyambutku.

Kamis, 25 Juni 2015

Di bandar udara Husein Sastranegara, Bandung, perasaanku campur aduk, antara senang bukan kepalang, tapi juga takut. Dalam beberapa jam aku akan segera memulai perjalanan backpacking pertamaku yang rencananya akan berlangsung satu bulan. Tujuanku waktu itu adalah Sumatra, tapi aku sendiri belum tahu bagian mana dari Sumatra yang nanti akan kujelajahi. Yang aku tahu hanyalah hari itu aku begitu bersemangat untuk sebuah petualangan baru ini.

Sebelum hari keberangkatan tiba, tidak banyak persiapan yang kulakukan. Johannes Tschauner, sahabatku dari Jerman yang menjadi sponsor perjalanan ini hanya memberitahuku untuk bertemu di Bandara Kuala Namu, Deli Serdang pada hari Kamis, 25 Juni 2015. Selebihnya kami tidak banyak berkomunikasi, hanya sesekali mengkonfirmasi mengenai tiket pesawat yang telah kami pesan masing-masing.

Pukul 14:30, sebuah pesawat jenis Airbus-320 tiba di pelataran bandara dan tak lama kemudian panggilan boarding untuk pesawat tujuan Medan pun diumumkan. Hari itu aku mempercayakan perjalananku dengan maskapai Citilink, dan betapa beruntungnya aku karena pesawat dengan kode registrasi PK-GQG yang digunakan hari itu masih sangat anyar! Usianya baru 0,3 bulan sejak pesawat itu didatangkan dari pabriknya di Toulouse, Perancis.

Tanpa ada keterlambatan waktu, burung besi yang kutumpangi segera mempersiapkan dirinya untuk mengangkasa. Setelah maskapai singa merah turun menyentuh bumi, kini giliran maskapai hijau menyiapkan ancang-ancang untuk mengudara. Deru mesin menyeruak keras, suaranya terdengar jelas ke dalam kabin. Beberapa detik berselang, pesawat telah mengangkasa dan perkasa melawan gravitasi bumi menuju ketinggian 35.000 kaki.

Cakrawala membentang di ketinggan 35.000 kaki

Penerbangan dari Bandung ke Medan memakan waktu dua jam. Hari itu langit sangat cerah, jadi, sebagai orang yang jarang naik pesawat, segera kukeluarkan kamera dan jepret sana-sini. Sebenarnya di luar jendela tidak ada apapun yang menarik selain gumpalan awan, tapi apa yang tersaji di balik jendela pesawat itu membuatku takjub. Tatkala tubuh pesawat masuk ke dalam awan-awan yang menggumpal, goncangan kecil pun terjadi. Harus kuakui, rasa antusiasku sempat memudar tatkala pesawat terus bergoyang. Pikiranku melayang dan berspekulasi aneh-aneh, akankan pesawat itu mendarat dengan selamat? Atau jangan-jangan pesawat ini akan terjun bebas mencium bumi? Ah, entahlah gumamku. Segera kusingkirkan pikiran-pikiran buruk itu dan berpikir tentang petualangan apa yang nanti akan menyapa di tanah Sumatra.

Pukul 17:20 pesawat mendarat dengan sempurna di landas pacu bandara Kuala Namu. Aku memandang dengan takjub dari dalam jendela kabin. Bagiku, Kuala Namu tampak begitu megah, persis seperti apa yang ditulis di berita-berita. Landasan pacunya panjang, bandaranya mewah, juga lengkap ada kereta api khusus yang bisa mengantarkan penumpang langsung ke kota Medan.

Setelah mengantre bagasi selama setengah jam, agenda selanjutnya adalah mencari rekan sekolahku dulu yang berjanji akan menjemputku di Medan. Seorang lelaki bertubuh gempal menepuk pundakku, ternyata dia adalah Suryadi, temanku di SMA dulu yang sekarang menetap di Medan. Sambil bercakap dan melepas kangen, kami berpindah menuju pintu kedatangan internasional. Kulihat di papan informasi bahwa pesawat yang bertolak dari Bangkok telah mendarat.

Aku coba mengingat kembali rupa Johannes, rekanku dari Jerman itu, jangan sampai aku malah lupa dan tidak mengenalinya. Sambil aku mengingat kembali rupa wajahnya, tak lama sesosok bule berjanggut keluar sambil memanggul dua ransel ukuran besar. Mataku terbelalak melihat Johannes yang dahulu polos, kini berjanggut tebal bak belantara Amazon. Kami berpelukan erat, menepuk punggung masing-masing, dan seolah tidak percaya bahwa akhirnya jarak ribuan kilometer antara Indonesia dan Jerman itu akhirnya luluh. Hari itu kami tak lagi berjarak, dan kami siap memulai petualangan 30 hari di tanah Sumatra!

Kami tidak menggunakan angkutan kereta api menuju pusat kota Medan. Sebenarnya aku sangat ingin mencoba bagaimana rasanya duduk di kereta bandara itu, tapi tarif satu kali jalannya dibandrol seharga Rp 100.000,-. Terlalu mahal! Jadi, kami memilih menggunakan angkutan yang ramah kantong, yaitu bus Damri seharga Rp 20.000,- sampai ke pusat kota Medan.

Medan, sebuah mimpi buruk

Sebagai backpacker, hemat adalah kunci utama dari perjalanan kami. Sebisa mungkin, jika memang itu bisa dilakukan, kami akan tinggal di rumah-rumah warga lokal daripada menyewa penginapan. Selain dari menghemat uang, tentu kami akan mendapatkan banyak pengalaman baru dari warga lokal. Setidaknya, itulah yang ada di pikiran kami saat itu.

Kami belum menyusun rencana apapun hari itu, semua masih belum jelas. Satu-satunya yang kami tahu adalah malam itu kami akan bermalam di Medan, di rumah teman SMA yang sudah menjemputku di bandara. Tidak ada firasat buruk apapun saat kami tiba di Bandara, semua berjalan begitu mulus. Kami bertiga begitu akrab mengobrol dan bercerita tentang pengalaman masing-masing.

Ketika kami tiba di pusat kota Medan, langit sudah gelap karena jam telah berada di angka 20:00. Udara Medan cukup gerah hari itu dan kami ingin segera tiba di rumah temanku itu, mandi, lalu tidur dengan nyenyak. Tapi, mimpi buruk itu sejatinya baru dimulai di sini.

Rumah temanku berada persis di tengah-tengah pasar Petisah, sebuah pasar tradisional cukup besar. Bau busuk begitu menyengat di sepanjang jalan, sementara lampu jalanan yang temaram sesekali membuatku melihat kecoak-kecoak berseliweran di jalanan. Aku bergidik, tapi berusaha tetap berpikir positif.

“Krakk!” sebuah pintu besi dibuka. Tibalah kami di sebuah rumah yang tidak mirip rumah. Rumah itu adalah sebuah toko plastik tiga lantai. Lantai satu digunakan sebagai lapak berjualan, lantai dua dan tiga sebagai rumah tinggal. “Mari, silahkan masuk, dek,” sambut ibu temanku sang pemilik rumah. Aku menyalami lengannya dan memperkenalkan diriku, sekaligus memperkenalkan Johannes yang tak bisa berbahasa Indonesia. Di pojokan ruangan terdapat tempat pedupaan dengan dewi Guan Yin yang bertaktha. Nampaknya rumah ini masih kental dengan nuansa dan budaya Tionghoa.

Meja pedupaan di tiap lantai rumah

Sebelum naik ke lantai dua, aku melepaskan sepatu, tapi mataku dengan cepat menangkan gerakan-gerakan yang terbersit di depan mata. Kuarahkan pandanganku lebih teliti ke dinding, satu kecoak terbang kemudian merayap perlahan di atas tumpukan plastik. Kemudian, mataku terbelalak dan seketika itu juga ingin menangis tatkala melihat ada puluhan kecoak berseliweran di mana-mana.

“Kenapa to, kamu takut sama kecoak? Di sini mah sudah biasa kecoak banyak,” ucap temanku dalam logat bahasa Sunda yang hancur. Aku merasa ingin melarikan diri saat itu juga, tapi rasanya tidak mungkin karena dengan demikian aku tidak hormat kepada temanku yang sudah memberikan tumpangan. Johannes mencoba menenangkanku, “It’s okay Ary, don’t worry

Aku tidak dapat tenang, melainkan berpura-pura tenang seraya mulut berkomat-kamit tiada henti memohon mujizat dari Tuhan. Jika Tuhan tidak bisa mengenyahkan seluruh kecoak di rumah itu, setidaknya kecoak itu tidak mendekati tubuhku, itu saja doaku.

Kami diberikan sebuah kamar kecil di pojok ruangan yang sejatinya nyaman untuk beristirahat. Tapi, kamar itu jarang sekali digunakan, sehingga tatkala kami datang, sebuah tikus hitam besar menyambut kehadiran kami. Rasanya aku mau mati lemas, tapi aku sebisa mungkin menenangkan diriku. Malam itu adalah mimpi buruk. Perjalanan yang kupikir akan begitu menyenangkan berubah menjadi acara uji nyali ketika aku harus dihadapkan pada binatang yang paling kubenci di jagad raya, kecoak!

Sebelum beranjak tidur, aku dan Johannes berpikir keras tentang kota mana saja yang akan kami kunjungi dalam waktu satu bulan ini. Awalnya kami ingin tinggal di Medan selama tiga malam, tetapi kami belum dapat memastikan apakah kami tinggal lebih lama atau lebih cepat. Karena lelah, sebelum keputusan yang tepat diambil, kami jatuh tertidur.

26 Juni 2016

Kota Medan yang Edan!

Seekor kecoak merayap naik ke perutku. Dalam keadaan tertidur, aku pikir itu tangan Johannes yang berusaha membangunkanku. Tapi, kok aku merasa sentuhan itu begitu lembut. Tatkala aku membuka mata, sontak aku terbangun, dan berteriak seperti orang kesurupan. Kecoak itu berjalan anggun di atas perutku! Dan itu adalah suatu kekejian yang begitu mengerikan!

Aku segera mengambil handuk dan mandi seraya berharap kuman-kuman yang dibawa kecoak itu turut mati terkena sabun. Setelah kami bergantian mandi, kami segera mengemas ransel dan bersiap berkeliling Medan. Waktu itu panduan kami adalah buku Lonely Planet yang lumrah dipakai sebagai panduan bertualang bagi wisatawan Barat. Tapi, berhubung ada temanku, maka yang bertidak sebagai tour guide adalah Suryadi.

Rute pertama, kami dibawa mengelilingi pasar Petisah. Pasar ini begitu ramai oleh beragam jenis manusia. Teriakan ibu-ibu penjual sayur lebih kuat daripada suara klakson bus akap, belum lagi pekikan klakson dari bentor dan mobil-mobil yang terjebak macet. Pagi itu bukanlah pagi yang syahdu, tapi syukurlah karena semangkuk bubur mengandung babi menjadi hidangan pembuka. Ketika kami memasuki pasar, dengan segera kami menjadi pusat perhatian. Johannes yang berjanggut itu mendadak menjadi primadona. “Mister, mister!” sahut orang-orang di dalam pasar. Johannes menanggapinya dengan tersenyum dan terus berjalan.

Hidangan pagi

Sebuah bentor, becak motor menjemput kami bertiga. Ketika si sopir melihat sosok bule di hadapannya, dia tersenyum lebar dan berusaha menyapa ramah. Tapi, kemudian dia berbisik ke arahku, “Bang, ongkosnya dobel ya! Kan temenmu bule!” Aku menanggapinya dengan protes. “Gak bisa lah bang!” kemudian aku meminta temanku untuk mencoba negosiasi harga. Namun, entah mengapa, sepertinya temanku memiliki pemikiran serupa dengan sopir itu bahwa bule pasti banyak uang. Mau tidak mau, kami membayar harga yang cukup mahal. Hari itu, untuk perjalanan ke Istana Maimun, Rumah Tjong A Fie, dan Masjid Deli, kami membayar Rp 150.000,-.

Masjid Deli nan megah
Salah satu sudut kediaman rumah Tjong A Fie

Sepanjang perjalanan, tatkala bentor yang kami tumpangi berhenti di lampu merah, pengendara-pengendara lain berteriak-teriak, “Mister, mister!” Awalnya panggilan “Mister” itu sepertinya sebagai wujud keramahan mereka terhadap orang asing, tapi lama kelamaan itu jadi menganggu ketika mereka mulai bertanya yang aneh-aneh. Dan, entah mengapa, apakah waktu itu kami sedang sial atau tidak, setiap kali kami mengunjungi tempat makan, para penjualnya selalu menaikkan harga dengan tidak wajar. Kami membeli nasi goreng polos, hanya ditambahi telur dadar di atasnya dan dipatok tarif Rp 22.000,-!

Bahaya, pikir kami. Terlalu lama di Medan bisa membuat kami bangkrut, apalagi temanku yang sejatinya bertindak sebagai tour guide itu juga tidak terlalu cakap. Dia tidak mengerti bahwa kami bukanlah turis yang liburan ala koper, melainkan adalah traveler nekat yang pergi menjelajah dengan persediaan dana terbatas.

Saat kami tengah berjalan di pinggiran kota, seorang preman menghampiri kami dan memaksa meminta sejumlah uang. Temanku bergeming, aku panik berkeringat dingin, sementara itu Johannes tak paham apapun karena dia tak mengerti bahasa Indonesia. Aku tidak tahu bagaimana membela diri, yang kulakukan waktu itu adalah berkomat-kamit, berdoa, seraya memelas bahwa kami tidak punya uang. Entah mengapa, secara ajaib, si preman itu memperbolehkan kami pergi walaupun dia mengumpat kata-kata kasar.

Malam harinya, temanku itu tidak membawa kami ke tempat makan yang murah meriah, melainkan dia membawa kami ke rumah makan Chinese Food yang cukup besar. Awalnya kami ragu untuk makan di situ, tapi dia meyakinkan kami bahwa menu di sini sangat enak. Kami hanya berani memesan dua jenis menu untuk tiga orang, babi goreng dan fu yung hai. Memang makanannya amat lezat, tapi sebagai backpacker, kantong kami menjerit keras.

Seusai makan malam, kami memutuskan untuk segera pergi dari Medan keesokan paginya. Kami sepakat untuk melanjutkan perjalanan ke Bukit Lawang, pergi jauh-jauh dari keramaian Medan yang begitu aduhai. Ketika kami melihat-lihat kembali buku Lonely Planet, di sana tertulis bahwa Medan bisa dikatakan sebagai worst city untuk seorang backpacker. Aku pikir apa yang ditulis di situ hanyalah pandangan subjektif dari si penulis, tapi ternyata aku setelah aku mengalami apa itu Medan, aku pun berpandangan yang sama.

Dalam perjalananku selanjutnya, aku bertemu dengan sesama backpacker lainnya. Tanggapan mereka atas Medan itu beragam. Ada yang mengutuk, tapi ada juga yang menyanjung. Pengalaman tiga hari di Medan itu cukup membuatku bergidik, apalagi jika mengingat kerajaan kecoak yang pernah kudatangi.

Lonely Planet, buku ini sangat membantu kami dalam menyusun rencana perjalanan. Bahkan, buku ini juga menyediakan informasi untuk penginapan kelas backpacker yang harganya di bawah Rp 50.000,- per malam

Di balik semerawutnya Medan

Walaupun aku tidak betah, tapi Medan membukakan mataku akan sebuah realitas. Lahir dan dibesarkan di Jawa membuatku asing terhadap budaya-budaya yang lahir dan berkembang di Sumatra. Streotip-streotip yang berkembang di masyarakat seringkali mempersempit imajinasi dan pemahaman kita akan sesuatu.

Di Jawa, berbicara dengan nada keras kepada lawan bicara tidak terlalu lumrah, kecuali jika keduanya sudah saling mengenal erat. Tapi, lain Jawa, lain pula Medan. Seorang ibu di perempatan bisa berbicara begitu keras dan bertanya tentang janggutnya Johanes. Pertanyaan yang sesungguhnya tidak penting, tapi ibu itu ingin menunjukkan keramahannya lewat bertanya, walau menurutku dia melakukannya di tempat yang tidak tepat.

Lalu, ketika kami duduk makan bersama di pasar Petisah, kami melihat ada begitu banyak budaya yang hadir dan bercampur. Ada orang Tionghoa, Melayu, Arab, juga India. Layaknya kawasan pecinan di Indonesia, toko-toko besar di kawasan Petisah itu dimiliki oleh orang-orang Tionghoa dengan pembeli yang berbagai macam orang. Orang-orang Tionghoa Medan nampaknya jauh berbeda dari Tionghoa di Jawa. Sekalipun aku sendiri masih memiliki darah keturunan Tionghoa, tapi lidahku telah mati terhadap bahasa Mandarin. Satu-satunya yang menandai aku orang Tionghoa hanyalah mata yang lumayan sipit, sudah itu saja!

Di kamar tempat kami menginap, tergantung kertas berwarna-warni berisikan mantra-mantra doa.

Orangtuaku tidak memberiku nama Tionghoa sama sekali, pun tidak mengajariku atau memaksaku untuk belajar bahasa Mandarin. Satu-satunya kebudayaan Tionghoa yang masih kulakukan dan kusenangi hanyalah ritual bagi-bagi angpao saat Imlek. Selebihnya, aku tidak tahu sama sekali. Menyalakan dupa, berpakaian serba merah, semua telah lenyap dari kamus kehidupanku.

Berada di Petisah membuatku merasa jadi orang Tionghoa yang tidak Tionghoa. Ketika aku membeli bubur babi, baik itu penjual maupun pembeli berbicara dalam bahasa Mandarin tradisional, atau bahasa Khek. Aku hanya melongo, sekalipun mereka mengenali wajahku sebagai orang keturunan, tapi aku tak berkutik apabila mereka mulai bertanya menggunakan bahasa yang begitu asing buatku.

Perbedaan etnis sejatinya adalah sentimen yang paling sensitif. Kerukunan yang telah dibangun bertahun-tahun bisa saja sirna tatkala ada kesalahan kecil yang dibesar-besarkan. Dari kacamataku, aku tidak melihat orang-orang Medan itu cukup membaur, setidaknya itu yang aku lihat di Petisah. Temanku itu adalah seorang Tionghoa yang cukup protektif. Dia memandang dunia luar itu sebagai sesuatu yang menyeramkan dan rapuh. Belakangan, aku mengerti mengapa dia selalu membawa kami ke restoran mahal. Rupanya, dia ingin makan di tempat yang aman, karena menurutnya orang Tionghoa tidak aman apabila bepergian dan makan di tempat pinggiran.

Tapi, menurutku itu sama sekali tidak masuk akal! Pergaulanku dengan berbagai jenis manusia sudah melunturkan segala jenis antipati. Tapi, apa yang dilakukan oleh temanku itu sejatinya adalah cerminan dari kenyataan. Di masyarakat yang konon katanya telah modern ini, masih saja ada orang yang membiarkan pikirannya dikuasai sekat-sekat pemisah dan ketakutan. Aku mengerti bahwa itu tidak sepenuhnya salah mereka, terkadang lingkungan pun memaksa orang-orang menjadi protektif. Akan tetapi, mau sampai kapan kita terus membatasi diri?

Aku tidak tahu bagaimana keadaannya di bagian lain kota Medan, tapi apa yang kulihat hari itu membuatku termenung. Apakah memang kita lebih nyaman hidup secara terkotak-kotak?

Selamat tinggal Medan

Sabtu pagi, 27 Juni 2015. Selama tiga hari di Medan, kami mengeluarkan uang cukup besar, nyaris Rp 1 juta karena temanku itu membawa kami masuk ke restoran-restoran yang mahal. Setelah berpamit, berpelukan, dan berfoto, kami pergi menuju ke terminal Pinang Baris menggunakan bentor.

Sebelum kami pamit dan bertolak menyingkir dari Medan, kami berfoto dan menghaturkan terima kasih kepada Suryadi, yang telah menyediakan rumahnya untuk kami menginap selama dua malam.

Tiga hari di Medan mampu membuatku berbicara dengan nada sedikit berani. Setibanya di terminal, puluhan calo bagaikan laron segera mengerubungi kami. Mereka memaksa bahkan sempat menarik-narik ransel yang kami panggul. Tapi, kami acuh tak acuh, kami terus berjalan mencari bus warna oranye seperti yang dituliskan di buku Lonely Planet.

Ketika kami menemukan bus itu, waktu keberangkatan hampir tiba dan bus tepat hanya tersisa dua kursi. Sebelum naik, aku bertanya dulu mengenai harga. Si kenek mematok tarif Rp 100.000,- sekali jalan. “Mana ada bang harga segitu, mahal kali, terakhir aku naik sini Cuma 25!” ucapku. Aku terpaksa berbohong, padahal aku belum pernah sekalipun ke Sumatra. Tapi, ternyata itu cukup ampuh, akhirnya kami diberikan harga Rp 40.000,- per orang untuk tiba di Bukit Lawang.

Perjalanan hari itu ditutup dengan duduk di atas bus oranye tua selama enam jam. Meninggalkan hiruk-pikuk Medan menuju kanopi hijau Sumatra, Taman Nasional Gunung Leuser!.

Di atas bentor, kami beranjak menuju terminal Pinang Baris. Betapa senangnya kami hari itu, selamat tinggal, Medan!

 

Berlanjut……………..

 

 

30 Hari Jelajah Sumatra ( Bagian II: Medan – Bukit Lawang)

IMG_2885

Tujuan 1 – Kota Medan

Bicara soal Medan, yang tergambar di benakku pertama kali adalah orang-orang yang berbicara keras, bika ambon dan cici-cici cantik. Kesan pertama melihat Medan cukup baik, ketika mendarat di Bandara Kuala Namu yang keren, paling tidak gambarannya adalah Medan akan sama keren dengan Bandaranya!

Seorang kawan lama dari SMA di Bandung telah menunggu di Bandara. Ketika pesawat mendarat dan aku menunggu bagasi, ia menghampiri dan legalah hatiku. Tak lama, pesawat Johannes dari Thailand mendarat di Medan pada 18:05.

Setelah selesai urusan di Bandara, kami bertiga melaju ke Kota Medan. Bermodal budget tipis, kami tidak menggunakan kereta bandara yang hits itu tapi naik bis Damri saja. Perjalanan sekitar dua jam dari Kuala Namu menuju pusat kota Medan. Rumah kawan SMAKu yang bernama Suryadi ini berada di kawasan Pasar Petisah. Aku pikir, hari pertama menginap di rumahnya akan menjadi pengalaman yang menyenangkan, atau mungkin biasa saja.

Melewati jalanan pasar yang bau dan gelap, sesekali ada orang-orang yang berteriak keras “Hei Mister!” kepada Johannes, karena dia seorang bule. Sesekali Johannes menyahut teriakan itu namun sambil langkah tetap melaju. Ketika tiba di depan pintu rumah Suryadi, ia berkata “Sorry ya kalau banyak kecoak, soalnya rumahku di pasar,” ucapnya. “Oke, nggak apa-apa kok,” jawabku. Padahal, kecoak adalah musuh terbesarku. Jika di Jogja, untuk membunuh satu kecoa saja aku bisa butuh satu kaleng baygon. Namun, okelah, aku berusaha berpikir positif.

Pintu rolling door dibuka, kami disambut hangat oleh Ibunda Suryadi. Perlahan kami beranjak masuk menuju lantai dua dan disitulah mimpi buruk pertama dimulai. Di bawah tangga yang juga merupakan gudang, puluhan kecoak asyik mondar-mandir. Kecoak dari segala ukuran, dari yang merayap sampai terbang semua ada disitu. Bergidik dan ingin mengangis, itulah yang aku rasakan tapi aku tidak berani bilang pada Suryadi karena takut menyakitinya.

Kami hanya mampir sejenak untuk menaruh ransel-ransel kami yang berbobot hampir 30kg lalu keluar untuk mampir makan malam. Suryadi mengajak kami untuk makan di restoran chinese food yang enak, tapi harganya tidak terlalu enak. Singkat cerita kami makan enak, dompet terkuras dan melihat fenomena kalau orang Medan ternyata “murah hati”, bagaimana tidak, satu orang pengamen bisa diberi uang Rp 2.000,- hingga 10.000,-. Sesuatu yang mustahil untuk terjadi di Jogja.

Kembali ke rumah Suryadi, mimpi buruk berlanjut. Kami diberi tempat sebuah kamar kecil di lantai tiga rumah. Panas, pengap, tanpa ventilasi, sarang laba-laba menghiasi langit-langit dan redup. Tapi, setidaknya kami bersyukur karena mendapatkan tempat menginap tanpa harus membayar, disamping itu sekaligus melepas kangen bersama kawan lama.

Belum sempat mata terpejam, sekelompok tikus hitam yang ukurannya besar berkejaran di samping ranjang kami. Wawww, antara jijik dan takut, antara mengantuk namun tak bisa tidur akhirnya kami melewati malam pertama dengan was-was. Keesokan harinya kami memutuskan untuk bisa sesegera mungkin berpindah dari kota Medan ke Bukit Lawang, ke tempat yang lebih alami ketimbang perkotaan besar seperti Medan.

Masjid Deli, Medan sesaat sebelum Shalat Jumat

Medan: Potret Metropolitan di Barat Indonesia

Tiga hari di Medan cukup, bahkan lebih dari cukup untuk mencoret kota itu dari daftar perjalanan kami. Bahkan, guide book terkenal sekelas Lonely Planet pun menyebutkan Medan sebagai kota yang tidak ramah dengan traveler. 

Peraturan lalu lintas hanya pajangan, hampir tak ada yang patuh. Bentor berseliweran bak orang kesurupan, tak peduli jalan satu atau dua arah yang penting terobos.Bunyi klakson melengking tak pernah hilang dari jalanan. Belum lagi pengamen-pengamen yang sewot kalau diberi uang receh Rp 500,-. Padahal uang segitu pun termasuk uang loh.

Entah memang di Medan begitu, atau memang kami yang sial. Pernah kami membeli sepiring nasi goreng seharga Rp 17.000,- padahal harga sesungguhnya hanya Rp 10.000,-. “Wah, kalau di Medan orang lihat bule itu kaya, banyak duit, jadi wajar aja harganya naik!” jelas temanku.

Waw, itu cukup jadi alasan kami untuk pergi menyingkir dari Medan. Tidak lucu kalau baru etape pertama perjalan uang dikuras habis di Medan.

Selama di Medan, kami hanya mengunjungi Masjid Raya, Istana Maimun dan Tjong A Fie Mansion. Semuanya bagus, tetapi tidak terlalu berkesan, mungkin karena kami terlalu irit sehingga tidak mampu membeli makanan yang enak-enak di Medan.

IMG_2893.jpg

BUKIT LAWANG

Tiga hari dua malam di Medan cukup membuat kepala pening. Bunyi klakson, pengamen yang gak mau diberi uang koin 500 perak, bentor yang lebih licin dari belut dan keruwetan kota besar lainnya jadi alasan yang cukup untuk segera hengkang.

Sabtu pagi, setelah kami mengisi perut dengan menu bubur Medan kami bertolak. Menaiki bentor, kami bertolak dari pasar Petisah ke terminal Pinang Baris. Sembari menikmati jalan, kami berpikir keras bagaimana caranya bisa tiba di Bukit Lawang dengan selamat, minimal tidak kena tipu orang di terminal.

Kami sadar upaya kami sangat terbatas. Johannes si bule Jerman sangat jelas tidak bisa bahasa Indonesia dan pasti dipandang sebagai bule berduit, sedangkan aku pun serupa. Logat campuran jawa-sunda, perawakan kurus dan belum pernah menginjakkan kaki di Sumatra sekiranya cukup jadi alasan jika nanti di terminal kami dicurangi soal harga bis. Tapi, kami tepis pikiran busuk itu dengan berdoa. Semoga yang Kuasa berpihak pada kami

Tiba di Pinang Baris, supir bentor yang awalnya sepakat dengan harga Rp 20.000,- meminta dengan paksa uang tambahan Rp 10.000. “Bang, ayolah tambah 10 ribu aja, mintakan ke kawan bulemu itu pasti dia banyak duit!” rayu si sopir bentor. Kami pun mengalah, sepuluh ribu melayang keluar dari dompet. Dengan senyum curang, sopir bentor pun meninggalkan kami di tepian terminal Pinang Baris.

Belum sempat bernafas, puluhan calo atau preman atau entahlah namanya merubungi kami berdua. “Kemana, sir, bang? Bukit lawang? Aceh? Sini, sini bang!” celoteh puluhan orang itu bagai lebah di belantara. Berlaga sok pede, kami seolah tak peduli dengan mereka dan berjalan terus hingga menemukan kios agen bus.

“MEDAN-BUKIT LAWANG”, membaca tulisan tersebut langsung kami percepat langkah ke kios berwarna oranye. “Bang, Bukit Lawang dua orang, berapa?” tanyaku. “200 bang!” tukas kernet bus. “Ah, bohong itu bang, kali itu ku naik ini bis ke bukit lawang Cuma 30 seorang, nipu aku abang ini!” jawabku seraya menirukan logat medan. Terjadi tawar menawar yang cukup alot. Kami tidak menyerah, bagaimanapun juga setiap rupiah yang bisa kami simpan itu sangat berharga, apalagi ini baru hari ketiga kami di Sumatra.

Keberuntungan berpihak pada kami! Harga pun disepakati, Rp 40.000,- per orang untuk sampai ke Bukit Lawang. Sebetulnya 40.000 adalah harga yang wajar untuk perjalanan selama lima jam ke jantung Sumatra Utara. Jangan harap ada pendingin udara dan air suspension layakna bis AKDP di Jawa. Pengap, jok kursi yang sudah jebol, jendela yang macet, suara mesin bising dan penumpang bagai sarden jadi pelengkap perjalanan ini.

Karena badan sudah terlanjur lelah, kami pun terlelap setelah bis melewati kota Binjai. Menjelang pukul 13:00 hanya tersisa kami di dalam bis, penumpang lain sudah turun semua, tandanya kami akan segera tiba di Bukit Lawang. Hmmm, petulangan selanjutnya dimulai. Akankah kami harus tawar menawar harga lagi lalu ditipu? Entahlah, kami hanya bisa pasrah

Cuaca terik, namun angin sejuk berhembus pelan dibarengi dengan rimbunnya pepohonan. Bis butut yang kami tumpangi berhenti persis di terminal yang lebih tepat disebut lapangan bola. Nyaris tak ada bis yang parkir di sana, mungkin juga karena sepi penumpang. Beberapa pemuda setempat segera menghampiri dengan bicara bahasa Inggris. “Come on sir, come with me, a homestay only 50.000,- a nite, no cheat, I am honest,” jelas pemuda itu.

Kalimat no cheat, I am honest menarik minat kami untuk bertanya lebih lanjut kepadanya. “So, sir where are you from? Are you Malaysian or Singapore?” tanyanya padaku. “No, brother, we are fellow Indonesian, I am from Yogyakarta, not malaysian or Singaporean!” jawabku. Sontak pembicaraan kami segera beralih ke bahasa Indonesia, dan giliran Johannes yang roaming tak mengerti.

Singkat cerita pemuda ini memang jujur. Dia mengantarkan kami berjalan kaki melewati jalan pintas untuk tiba di kawasan Taman Nasional Bukit Lawang. Kami mendapatkan penginapan seharga Rp 50.000,- per malam tidak kurang dan tidak lebih. Haleluya! Bahagianya kami, bukan hanya penginapan yang murah, tapi pemandangan di bukit lawang ini memang laksana surga. Sungai yang airnya sejernih air galon, pepohonan super rimbun, ditambah lagi dengan warganya yang sangat ramah segera menghapuskan kelelahan kami akibat hiruk pikuk Medan.

Hari pertama kami habiskan dengan jalan kaki berkeliling area wisata sembari merencanakan kegiatan apa yang akan kami lakukan besok.