Tiga Tahun di Jakarta: Belajar Menjadi Lebih Tenang

5 Desember. Tanggal ini istimewa, di tahun 2016 lalu saya menjejakkan kaki di Jakarta dan paripurna melepas status mahasiswa menjadi karyawan swasta. Sekarang, perjalanan saya di Jakarta telah sampai di tahun ketiga dan tetap pula di kantor yang sama.  Sebenarnya, kalau boleh jujur, bertahan tiga tahun di Jakarta dan di pekerjaan yang ditekuni sekarang ini rasanya campur aduk. Ada keinginan untuk resign dan mencari ladang … Lanjutkan membaca Tiga Tahun di Jakarta: Belajar Menjadi Lebih Tenang

Semangkuk Timlo Sastro

Ketika kereta api Senja Utama Solo berhenti di jalur tujuh Stasiun Balapan, aku meraih sebuah ransel berukuran 45 liter dari kabin bagasi. Para penumpang berbaris, menanti giliran satu per satu keluar pintu kereta.  Pagi itu Stasiun Balapan riuh tetapi syahdu. Dari jalur lima, kereta api Lodaya siap bertolak menuju Bandung. Di sebelahnya, kereta api Prameks masih menanti waktu berangkat. Ada penumpang yang berjalan santai, ada … Lanjutkan membaca Semangkuk Timlo Sastro

Refleksi Dua Tahun Bekerja: Sebuah Perjalanan ke Puncak Bukit

Setiap kali melihat kalender yang letaknya di samping monitor, rasanya waktu berjalan sangat cepat. 5 Desember 2018, hari ini genap dua tahun saya masuk dan bekerja di Jakarta, di sebuah kantor lembaga nirlaba yang letaknya di pojok barat Jakarta. Kalau mengingat bagaimana kalutnya suasana hati kala pertama masuk kerja dulu, bisa bertahan sampai sejauh ini tentu adalah sebuah berkat dan kesempatan yang amat baik. Lanjutkan membaca “Refleksi Dua Tahun Bekerja: Sebuah Perjalanan ke Puncak Bukit”

Editor, Bukan Sekadar Duduk di Kantor

Kepalaku pening menatap layar laptop berjam-jam. Bokongku rasanya sudah menempel sempurna dengan kursi. Dari langit terang sampai gelap, tulisan-tulisan tidak pernah habis untuk diedit. Rutinitas edit-mengedit ini sepintas terlihat mudah. Editor kerjanya duduk dan memelototi deretan kata, lengkap dengan tanda bacanya. Lanjutkan membaca “Editor, Bukan Sekadar Duduk di Kantor”

Sekelumit Ceritaku Sebagai Seorang Editor

Pekerjaan adalah panggilan hidup. Kalimat ini sekilas terdengar klise buatku yang waktu itu masih tidak tahu apa panggilan hidupku sebenarnya. Menjelang lulus kuliah, panggilan hidupku adalah untuk bekerja mencari gaji besar, hidup mapan, membahagiakan orang tua, dan pokoknya mengejar segala yang baik. Tapi, lewat waktu demi waktu, lambat laun aku mulai menyadari apa yang menjadi panggilan hidupku sebenarnya.

Lanjutkan membaca “Sekelumit Ceritaku Sebagai Seorang Editor”