Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

14 Februari 2014: Ketika Abu Vulkanik Mengguyur Hari Valentine

Stasiun Lempuyangan

Tiga tahun lalu, tepatnya di malam sebelum hari Valentine, linimasa media sosial dipenuhi informasi terbaru tentang aktivitas gunung Kelud yang kala itu sedang batuk-batuk. Malam itu angkasa Jogja cerah seperti biasanya, tak ada tanda-tanda apapun bahwa besoknya seisi kota akan menjadi kelabu.

Tanggal 14 waktu itu adalah tanggal keberangkatanku ke Surabaya. Saat subuh menjelang, kukemas barang-barang dan bersiap untuk berangkat. Tak ada curiga apapun waktu itu, semua begitu tenang karena pukul 04:00 seluruh anak di kost masih tertidur pulas. Ketika tiba waktunya berangkat, kubuka pintu kost dan kemudian aku tercengang. Titik-titik abu turun dengan senyap, perlahan tetapi pasti seluruh jalanan dan atap rumah berubah menjadi abu.

Hujan abu hari itu turun sejak dini hari dan baru berhenti menjelang pukul 06:30. Seluruh aktivitas kota Jogja hari itu lumpuh total. Sekalipun hari sudah beranjak pagi, jarak pandang di jalanan sangat rendah. Buatku yang baru pertama kali merasakan hujan abu, tentu ini adalah sensasi yang luar biasa.

Berhubung tiket kereta api menuju Surabaya sudah kubeli, aku tetap nekat berangkat ke stasiun Lempuyangan. Mungkin kereta tetap berangkat,” pikirku waktu itu. Perjalanan dari kost ke stasiun yang berjarak sekitar tujuh kilometer jadi peristiwa yang mencekam. Di sepanjang jalan hanya tampak pendaran lampu kendaraan bermotor dan setiap pengemudi harus ekstra hati-hati karena jalanan menjadi licin.

Seharusnya aku tidak usah berangkat, toh teman-teman juga sudah mengingatkan supaya aku membatalkan saja perjalanan ke Surabaya itu. Tapi, karena nekat akhirnya perjalananku ke stasiun berujung sia-sia. Kereta menuju Surabaya hari itu belum diputuskan akan berangkat atau tidak karena masih menunggu perkembangan lebih lanjut. Lagipula hari itu hampir seluruh Jawa bagian tengah dan timur tertutup abu vulkanik dari gunung Kelud yang tengah murka.

Sekalipun gagal berangkat, tapi pemandangan di stasiun hari itu sungguh menarik. Sepanjang mata memandang hanya berwarna abu-abu, aku membayangkannya seperti sebuah musim dingin di negara subtropis. Semua orang yang bepergian hari itu harus merelakan semua busananya kotor terkena abu dan wajib mengenakan masker.

Bencana yang merekatkan

Singkat cerita, aku dijemput oleh temanku di stasiun kemudian kembali lagi ke kost. Hari itu tidak ada satupun warung makan pinggir jalan yang buka. Tentu ini adalah bencana jilid dua bagi anak kost yang setiap harinya tidak pernah memasak.

Dengan uang seadanya, beberapa anak kost patungan membeli bahan makanan ke supermarket yang mulai buka di siang hari. Beberapa anak kost lainnya yang berkantong tebal memilih pergi ke restoran cepat saji dan mall. Tapi, semua harus antre berjam-jam karena hanya tempat-tempat itulah yang tetap buka untuk melayani konsumen.

Kami membeli chicken nugget, indomie, beras, sayur dan kentang goreng untuk dimakan bersama-sama. Dengan persediaan inilah kami bisa bertahan hingga tiga hari sampai beberapa warung mulai buka kembali.

Hujan abu di Jogja waktu itu membuat seisi kota sengsara hampir satu bulan penuh. Pasalnya, tidak ada hujan yang terjadi selama beberapa minggu setelah bencana itu terjadi. Setiap hari, kemanapun, bahkan di dalam ruangan harus selalu memakai masker. Apabila sudah selesai bepergian, harus segera mengganti baju karena kotor. Tapi, sulit sekali untuk mencuci baju karena abu masih berterbangan di mana-mana.

Kondisi sengsara itu berangsur-angsur pulih. Ada satu hal yang menarik dari bencana hujan abu ini. Kadang bencana datang untuk membawa berkah. Karena hujan abu ini teman-teman kost yang sedianya selalu sibuk sendiri akhirnya bisa berkumpul, duduk bersama, memasak dan berbagi cerita. Lalu, warga masyarakat bergotong-royong keluar dari rumah, saling membersihkan jalanan di depan kediamannya, juga saling mengangkut tumpukan abu yang sudah dimasukkan ke dalam karung.

Dua, tiga bulan berlalu sejak abu itu mengguyur, Jogja mulai pulih kembali seiring dengan hujan yang menyapu bersih setiap titik-titik abu. Tidak terasa, kini tiga tahun sudah berlalu sejak abu itu mengguyur bumi. Semoga Kelud tak lagi murka, dan semoga pula manusia tetap bermawas diri dan sadar bahwa dia adalah ciptaan yang kecil, yang tidak selayaknya memegahkan diri.

5 Hal yang Membuat Jogja Selalu Layak Kurindukan

blog2

“Pergi karena semangat, pulang karena rindu.”

Nama Jogja terdengar begitu istimewa, apabila kata itu terucap, tiba-tiba rasa rindu segera mendekap. Seringkali teman-teman bertanya heran, mengapa aku begitu baper dengan Jogja. Apakah ada pengalaman buruk atau manis yang pernah terjadi di sana?

Memang, aku tidak terlahir di Jogja, hanya empat tahun dari 23 tahun hidupku yang terselip di Jogja. Di waktu yang singkat itulah Jogja mengasuhku lewat kesederhanaan dan keramahannya. Aku diajari tentang arti membaur dari angkringan pinggir jalan, aku juga belajar tentang arti kenyang dari sebungkus nasi tempe. Ada banyak pelajaran yang telah kupetik dan kini membekas di hidupku.

Hampir tiga bulan telah berlalu sejak aku hijrah dari Jogja ke Jakarta. Waktu yang berlalu bukan alasan yang membuat rindu kian memudar. Inilah hal-hal yang membuat Jogja tak mungkin tergantikan:

  1. Angkringan “Bapak”, sebuah gerobak tanpa kasta

Angkringan di Jogja ibarat bintang di langit, ada di mana-mana. Setiap angkringan punya cerita. Jika ingin makan di angkringan yang elite, datanglah ke angkringan pendopo JAC yang harganya lumayan bikin kantong meringis. Jika ingin angkringan ber-wifi khas mahasiswa, bisa mampir ke angkringan “Tobat” yang berdiri sejak mendapat hidayah.

Dari puluhan angkringan yang pernah kusinggahi, ada satu angkringan yang paling favorit dan tak pernah absen kusinggahi. Angkringan “Bapak” aku menyebutnya. Angkringan ini unik karena baru buka pukul 00:00 tengah malam. Sang Bapak tua mendorong sendiri gerobak angkringannya, lalu menaikkannya di atas trotoar samping jembatan sungai Winongo, menata tikar, dan mulai memasak air panas. Semuanya ia lakukan sendiri, tapi nyaris tak ada raut sedih ataupun lelah di wajahnya.

blog3
Sebungkus nasi kucing seharga Rp 1.500,- beserta kudapan lainnya

Angkringan “Bapak” ini aku temuka pertama kali tahun 2010. Waktu itu aku masih SMA dan nekat backpackeran ke Jogja sendirian dari uang jajan yang disisihkan selama berbulan-bulan. Sebagai orang luar Jogja dan masih polos, melihat angkringan adalah sesuatu yang luar biasa bagiku. Selepas tahun 2010, di tahun 2012 aku kembali ke Jogja dan menetap untuk melanjutkan kuliah. Yes! Lalu aku menjadi pelanggan tetap angkringan Bapak.

Sensasi yang tak pernah terlupakan dari makan di angkringan “Bapak” adalah ketenangannya. Bayangkan, duduk di pinggir jembatan saat lewat tengah malam. Suasana begitu tenang, ditemani alunan lagu-lagu kuno berbahasa Jawa, menyeruput teh panas legit kentel sambil mengudap gorengan dan nasi kucing.

Nasi kucing di sini dibanderol Rp 1,500,- saja. Sepintas, nasi kucing tidaklah terlihat istimewa. Ia hanya sekepal nasi yang dibalut daun pisang dan dibubuhi sedikit tempe atau sambal teri di atasnya. Tapi, menikmati sebungkus nasi kucing tidak cukup hanya dengan lidah, tapi harus dengan hati. Makanan yang sederhana inilah yang merekatkan banyak orang di Jogja. Ada tukang becak hingga mahasiswa yang duduk bersama di gerobak angkringan dan mengobrol ngalor-ngidul hingga menjadi akrab.

img_0197
Angkringan Bapak

Aku lupa nama Bapak penjual angkringan itu. Tapi aku selalu ingat nada khasnya bicara. Dia selalu mengajak setiap pembelinya bercanda, kadang candaannya suka nyerempet saru, tapi ya itulah yang membuat angkringan ini hangat.

  1. Rumah Kost yang Bukan Sekadar Kost

Selain angkringan, salah satu yang selalu membuat baper adalah mengingat kenangan tentang kost. Selama 4 tahun di Jogja, teman-teman kost sudah jadi seperti keluarga. Kami tinggal satu atap dan mau tidak mau saling mengamati dari awal bangun hingga tidur malam. Lambat laun, nyaris tak ada lagi sekat-sekat antar penghuni kost.

blog6
Rumah Kost Manunggal Budi

Jika yang satu sakit, teman-teman kost yang akan membelikan makan, kadang juga membantu kerokan. Jika sedang galau dan insomnia, teman kost juga yang menemani pergi ke angkringan atau pos ketan susu. Karena kepercayaan itulah kost kami menjadi kost yang sangat aman. Tak perlu khawatir jika lupa menutup atau mengunci pintu, toh tidak bakal ada yang nyolong.

Selain dari teman-teman yang solid, Ibu Kost adalah ibu yang super baik. Sewaktu salah satu teman kost kami berulang tahun, beliau datang dan membawakan kami makanan beragam jenis dan kue ulang tahun. Lalu kami berkumpul di bawah dan makan malam bersama. Tak cukup di situ, ketika aku dan seorang teman lulus kuliah, beliau kembali datang dan menggelar tumpengan.

img_8539
Masukkan keterangan

Kostku dahulu dibangun atas dasar kepercayaan. Jika ada keluarga atau teman menginap, tidak perlu membayar uang tambahan selama mampu menjaga ketertiban. Dan salah satu yang membuat kostku semakin erat adalah kehadiran Mbak Oneng yang dinobatkan oleh Ibu Kost untuk merawat kost itu. Kehadiran Mbak Oneng membuat kost kami semakin asyik. Kadang-kadang kalau dia memasak, anak-anak kost bisa mencicipi masakannya.

  1. Simbah Ngatilah di Samigaluh 

“Lek do maem riyen, mas, mbak!” adalah kalimat yang paling sering diucapkan Simbah selama aku dan teman-teman Kuliah Kerja Nyata (KKN) tinggal di rumahnya. Simbah selalu memaksa kami untuk makan lebih banyak walau perut kami sudah penuh. Simbah adalah sebuah anugerah bagiku, sosok ketulusan seorang perempuan Jawa yang tidak tergerus arus zaman.

Simbah Ngatilah adalah istri dari seorang kepala Desa Banjarsari, Samigaluh, D.I Yogyakarta. Waktu itu di bulan Desember 2015 – Januari 2016 aku menumpang di rumah beliau selama satu bulan karena proyek KKN dari kampus. Rumah Simbah adalah surga bagiku karena terletak di atas bukit yang masih hijau pepohonan, tanpa ada tetangga, hanya ada suara soang dan kambing yang menemani. Satu bulan di rumah Simbah waktu itu lebih terasa seperti di rumah sendiri ketimbang di lokasi KKN. blog5

Setelah KKN usai dilaksanakan, hubungan kami dengan Simbah tidak putus. Memang jarak memisahkan kami, dan sekarang pun sulit untuk bisa sering berkunjung ke rumah Simbah. Dulu saat kami berpamitan untuk pulang, Simbah sempat menangis karena merasa dirinya akan kesepian kembali setelah ditinggal “cucu-cucunya” ini.

Beberapa bulan sekali kami datang berkunjung ke rumah Simbah dan ia selalu menyambut kami dengan sukacita. Baru saja kami tiba di sana, beliau lansung pergi ke hutan mencari buah rambutan atau pisang untuk nanti kami bawa pulang. Tak cukup di situ, beliau segera menyiapkan perapian dan memasak buat kami. img_2032

Aku terharu dan berpikir, “siapakah aku ini?” tapi Simbah menganggap anak-anak KKN di rumahnya sebagai cucu. Simbah tidak mau diberi uang listrik, padahal listrik rumahnya setiap hari tersedot karena kami. Dan Simbah juga memanggilku dengan panggilan “Kelik”, sebagai panggilan akrabnya.

4. Jangan sampai kuliah menganggu jalan-jalan 

Itulah prinsip yang kupegang selama kuliah dulu. Tapi jangan pikir karena prinsip itu kuliahku berantakan ya karena di akhir studi aku bisa lulus dengan predikat cum laude. Jadi kurasa prinsip itu tidaklah salah sekalipun banyak orang yang terkadang nyinyir setiap kali melihat postingan jalan-jalanku.

Jogja adalah surga wisata dan menjadi gerbangku untuk bertemu dengan teman-teman dari dunia luar. Dari Jogjalah aku belajar bahasa Inggris secara otodidak dan bertemu dengan rekan-rekan backpacker dari seluruh dunia. Yap, semua terjadi di Jogja. Jika waktu itu aku tidak tinggal di Jogja, mungkin tidak ada namanya jalan-jalan keliling Indonesia.

IMG_5500.JPG
berkeliling ke sekolah di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Desember 2015

Aku bersyukur karena kampus tempatku belajar ternyata mendukungku untuk tak hanya kuliah, tapi juga untuk berkarya lewat jalan-jalan. Selama kuliah sejak semester empat hingga sembilan, aku bekerja sebagai seorang student staff di Kantor Kerjasama dan Promosi.

Tugasku adalah mengenalkan kampusku kepada anak-anak SMA di seluruh Indonesia. Bekerja di kantor ini adalah suatu kehormatan karena kampusku yang besar ini mempercayakan tanggung jawab kepada mahasiswa yang memang belum banyak pengalaman. Aku belajar mengelola waktu antara kuliah dan pekerjaan, belajar juga ilmu-ilmu marketing, belajar tentang menjadi seorang pekerja yang baik.

Bandar Lampung, Medan, Siantar, Pontianak, Bangka Belitung, Madiun, Semarang, hingga Palangkaraya telah kusinggahi karena pekerjaan ini. Ada satu sukacita besar ketika bisa bekerja sesuai dengan passion. Melihat semangat anak-anak sekolah di berbagai daerah di Indonesia itu sungguh menarik. Di kantor ini kami tidak hanya bercerita mempromosikan kampus, tapi kami juga berbagi pengalaman tentang tantangan, juga harapan yang bisa diperoleh ketika mereka memutuskan pergi ke Jogja.

5. Teman-teman istimewa: madhang ora madhang, sing penting guyub!

Makan atau tidak, yang penting ngumpul. Inilah semangat kebersamaan dari teman-teman Jogja. Kini saat aku bekerja di Jakarta, teman-teman kampus dari Jogja adalah teman yang bisa dibilang paling kompak dan memiliki solidaritas tinggi. Dibesarkan di kota yang sama membuat kita bisa sama-sama baper ketika saling menyebut kata “Jogja”.

Selama empat tahun, aku mendapati temanku telah menjadi sebuah keluarga. Saat kuliah teman-teman itu berasal dari berbagai daerah di Indonesia, dan ketika liburan tiba seringkali aku ikut mudik ke rumah mereka. Berawal dari iseng-iseng ikut mudik inilah yang akhirnya membawaku memiliki keluarga baru. HMPSKOOM

Pergi kemanapun selalu ada teman, mulai dari Aceh, hingga Papua. Saat pertengahan 2015 ketika sedang berada di Aceh Tengah, aku sempat bingung karena tidak mendapat tempat untuk menginap. Beruntung ada teman satu kampus yang berasal dari daerah sana. Kami memang tidak terlalu dekat, tapi kemudian temanku itu memberiku nomor orang tuanya dan akhirnya aku mendapatkn tempat bermalam di sana.

Salah satu harta terbesar di masa muda adalah teman-teman. Memiliki teman itu memperkaya pemikiran kita. Lewat diskusi, curhat, makan bareng, nangis bareng, di situlah pemikiran kita dibentuk dan saling membentuk. Lewat kegiatan-kegiatan organisasi di kampus yang diikuti, kehadiran teman-teman itu terlalu indah untuk dilupakan.

****

Tiga bulan hampir berlalu sejak aku meninggalkan Jogja. Rasa rinduku pada Jogja tak akan pudar. Ibarat benih yang ditanam di tanah dan bertumbuh, demikian juga rasa rindu itu. Waktu dan jarak menjadi matahari dan air yang menumbuhkan benih itu.

Mungkin Jogja tak kan pernah lagi jadi tempatku menetap, tapi dia akan selalu jadi tempat untuk kembali mengingat masa manis. Tempat untukku bertetirah dan menikmati dunia lewat segelas teh panas dan nasi kucing.
Jakarta Barat, 8 Februari 2017

 

 

Habis Lulus: Kampus cuma Inkubator, Bukan Kenyataan

Awal September lalu, statusku sebagai mahasiswa dinyatakan selesai seiring dengan sidang skripsi yang dinyatakan lulus. Rasa senang atas lulus ini turut dimeriahkan dengan kehadiran teman-teman yang memberi selamat, bunga, boneka lulus, surat, jabat tangan juga foto-foto. Tapi, beberapa jam setelah rasa sukacita itu, timbul pertanyaan, “mau kemana, terus ngapain udah ini?”

Pertanyaan itu terus menggantung, namun kusingkirkan sejenak. “Fokus revisi skripsi dulu deh,” pikirku. Seusai revisi, praktis aku kehilangan kesibukan utama sebagai mahasiswa, sekalipun ada pekerjaan part time , tapi rasanya kini jadi berbeda. Fokus pikiran kini bercabang dan menjalar dalam gelap. Satu sisi memikirkan pekerjaan, passion, masa depan, jodoh dan banyak lainnya. Satu hal yang paling mengganjal adalah karir.

Ketika membuka situs lowongan kerja, scrolling dari atas ke bawah, kenyataan mulai berbicara. Pasar dunia tidak terlalu butuh idealisme, mereka lebih membutuhkan pekerja. Terlepas dari segala idealisme yang didapatkan selama di kelas, dunia industri membutuhkan sekedar tenaga untuk menjalankan rodanya.

Baiklah, karena akupun butuh makan lewat penghasilan, maka statusku bergerak menjadi Jobseeker. Bergabung dengan komunitas Jobseeker lainnya dari Jogja yang jumlahnya ratusan membuatku cukup mengernyit. “Apa iya dari segini banyak bakal diterima kerja semua?” 

Petualangan pertama sebagai Jobseeker dimulai dari cari-cari lowongan lewat online. Hasilnya ada ribuan lowongan, tapi hanya sedikit yang sreg di hati karena kebanyakan lowongan menawarkan posisi sebagai sales atau marketing. Petualangan kedua adalah menjadi pengembara di kampus orang. Setiap kali ada event Jobfair, maka disitu Jobseeker akan berada. Memanggul ransel berisi puluhan CV, mengantre bersama ribuan orang lainnya demi melamar pekerjaan yang belum tentu diminati.

Petualangan masih berlanjut, jika perusahaan menerima CV, maka tahap selanjutnya adalah Psikotest. Dan, inilah tahap yang cukup menguras otak dan tenaga. Hampir setiap hari aku mengikuti piskotest dan rasanya sulit. Bagaimana tidak, di kampus selama kuliah jurusan Komunikasi hampir tidak pernah ada hitung-hitungan. Ketika psikotes dihadapkan dengan soal-soal matematika dasar seketika otak shock dan berhenti bekerja.

Tak menyerah di situ, gagal di satu perusahaan bukan berarti dunia runtuh. Belajar sedikit lewat internet, kemudian psikotes lagi di perusahaan lainnya, dan siklus itu berulang. Aku sendiri masih tidak tahu di psikotes ke berapa aku akan lulus, tapi yang terpenting adalah tetap belajar dan tidak menyerah.

Lewat serangkaian tes-tes perusahaan tersebut, aku menyadari kalau empat tahunku di kuliah bukanlah sebuah kenyataan, melainkan pra-kenyataan. Tepatnya, kampus adalah sebuah inkubator sebelum kita “dilahirkan” secara sempurna ke kenyataan. Memang sekarang trendnya adalah lulus cari kerja, tapi banyak pula yang berupaya membuka wirausaha. Aku pun sebenarnya ingin begitu, tapi karena berwirausaha butuh modal maka kuputuskan untuk mencari pekerjaan dulu sebagai langkah menambah ilmu, pengalaman juga modal uang kelak.

Lantas, apakah kuliah di kampus tidak bermanfaat? Tentu ada manfaatnya! Nilai-nilai akademik tidak terlalu menjadi indikator utama keberhasilan seseorang. IPK tinggi belum jadi jaminan langsung diterima kerja. Aktif organisasi bukan berarti lebih mudah mendapatkan pekerjaan. Alurnya sama, setiap fresh graduate yang akan bekerja akan melewati seleksi administrasi, psikotes dan lainnya. Baik itu si kutu buku, kuper, aktivis, tukang tidur, sosialita, semua akan memasuki tahapan yang sama.

Realita tidak terlalu peduli dengan latar belakang kita, sepanjang kita bisa survive. Pengalaman berkuliah empat tahun di kampus semata-mata bukan untuk mendapatkan nilai akademik semata. Aku belajar untuk tidak pahit hati dan menyerah saat gagal ketika berharap dapat nilai A tapi malah C. Aku belajar memahami karakter orang lain ketika bekerja kelompok. Aku belajar arti menunggu dari dosen pembimbing skripsi yang kadang menghilang. Aku belajar apa arti berjuang karena orang tua yang bekerja mati-matian untuk membiayai kuliah. Juga, aku belajar kalau hidup sekali lagi adalah proses dan takdir. Jika takdirku sekarang terlahir biasa saja, maka aku harus berproses menjadi lebih dari biasa, untuk bisa menolong orang-orang lain yang hidupnya lebih rendah dari biasa.

Habis lulus mau kemana dan ngapain? 

Habis lulus saya mau ngapa-ngapain! Enjoy the journey! 

 

Catatan Student-Staff: Mahasiswa Rasa Karyawan

Kemarin (27/8) kampusku menyelenggarakan wisuda yang lumayan akbar. Tujuh ratus wisudawan dilepas dan siap bekerja atau mungkin masih menganggur. Di antara ketujuh ratus itu ada tiga rekanku yang sedikit banyak telah mewarnai perjalanan sebagai mahasiswa di pojokan kota Jogja. Tapi, tulisan ini dibuat bukan untuk menyanjung, menyelamati atau mencemooh mereka. Tulisan ini hanya sekedar refleksi tentang perjalanan dunia kuliah yang penuh lika-liku juga beban yang terkadang bisa berat, bisa juga ringan.

Flashback kembali ke masa-masa awal jadi maba, masih polos, belum ternodai oleh ritual dusta macam titip absen, tidur di kelas dan bolos kuliah, aku punya impian untuk bisa kuliah sambil bekerja. Buatku sendiri kuliah itu menelan biaya mahal, apalagi di kampus swasta dan jauh dari orang tua. Pengeluaran ini dan itu harus keluar setiap bulannya, hingga niscaya satu juta rupiah pun tidak akan cukup untuk hidup mahasiswa rantau di jaman ini.

Di semester empat, kampusku membuka lowongan pekerjaan sebagai student staff, alias kerja part time. Kantor yang membuka lowongan adalah kantor yang bergerak di bidang partnership juga promotion, di mana tugas kami adalah membranding kampus kepada siswa SMA, juga menguatkan kerjasama internasional dengan perguruan tinggi ataupun institusi lain dalam dan luar negeri.

Melewati segudang tahapan seleksi, terpilihlah enam orang sebagai student staff yang siap untuk dipoles menjadi 100% mahasiswa, 100% juga karyawan.

1. Bukan soal upah atau gaji

CIyeee, karyawan kampus nih ye!” usil teman-teman lainnya. Julukan sebagai karyawan kampus tidak menyakitkan kok, tidak juga membanggakan, intinya adalah biasa saja. Bekerja sebagai student staff, artinya kita di samping belajar akademik selaku mahasiswa, juga bekerja di kantor sesuai dengan jobdesc. Gaji yang diberikan memang tidak terlampau besar, tapi setidaknya cukup untuk tambah-tambah. Tapi, persoalan utama di sini adalah bukan mengenai gaji yang besar atau kecil, namun seberapa besar kita menghargai jerih lelah. 

Gaji yang kecil seakan menamparku kalau inilah realita dunia, cari uang itu susah! Kalau gampang mah tidak akan ada yang namanya tuyul! Aku menyadari, untuk sepeser uang dibutuhkan kerja keras. Terlebih lagi orang tua di kampung halaman yang bekerja banting tulang untuk menguliahkan anaknya. Kecuali orang tuanya sudah kaya meleleh sampai mandi berlian, ya itu lain lagi sih ceritanya.

Naif rasanya ketika mengeluh soal lelahnya kuliah lalu membiarkan diri larut dalam lelah itu dan kuliah menjadi amburadul. Memang sekarang banyak quotes inspiratif tapi kampret yang berseliweran di Instagram soal sekolah bukan kunci utama sukses karena tokoh sukses semacam Thomas Alva Edison dll juga dulu pernah drop out. Bagi yang menjadikan quote semacam itu jadi pembenaran, mungkin mereka sesat pikir. Orang macam Thomas Edison, dll mereka tidak bisa meneruskan pendidikan bukan karena malas! Tapi, karena keadaan yang tidak memungkinkan mereka untuk sekolah. Ada yang memang tingkat kecerdasannya rendah, orang tuanya terlalu miskin, atau juga sakit. Nah, kalau kita yang sakit tidak, IQ jongkok banget juga tidak, juga orang tua masih mampu, lalu menyia-nyiakan kesempatan kuliah hanya karena malas dan yakin hidup sukses, itu sih namanya mimpi.

2. Kehilangan rekan sepermainan

Sepanjang semester, teman sedikit demi sedikit mulai rontok, hanya yang sejati yang bertahan. Kesibukan bekerja mau tidak mau akan menghilangkan waktu hang out dengan teman. Pertemanan secara kuantitas akan menurun drastis ketika kita telah menemukan fokus diri. Jika pertemanan dahulu diukur dari seberapa sering kita kumpul bareng sekarang diukur dari seberapa peduli temanmu ketika kamu butuh bantuan.

Imaji weekend tiba yang harusnya bisa dijadikan waktu tidur di kost, main, atau cicil tugas perlahan akan memudar. Sedikit demi sedikit zona nyaman direnggut dan mau tidak mau harus tetap dijalani. Namun, kehilangan teman sepermainan itu membawa kita pada penemuan teman baru. Teman yang dibentuk dari sebuah kerja keras, dari passion yang dihidupi, bukan sekedar teman karena punya waktu main bersama.

3. Pekerjaan Mulia untuk seorang biasa

Diutus pergi membawa nama besar Universitas bukan hal main-main. Ada tanggung jawab yang harus diemban dengan sungguh-sungguh. Suatu kebanggaan, karena kampus kita memilih kita untuk turut membesarkan namanya.

Terlepas dari segala capek dan bete yang kita alami, dari kantor kita bekerjalah datang ribuan mahasiswa baru yang datang setiap tahunnya. Mereka datang dengan harapan tentang masa depan. Gimana mereka bisa mantap untuk masuk kuliah ketika kita sebagai wakil kampus malah tidak bangga dan maksimal dengan kuliah kita?

Well, pekerjaan sebagai student staff inilah yang menambah nilai hidup kita. Kita belajar detail dari setiap perintah mengarsip yang membosankan. Kita belajar sabar dan senyum ketika dimarahi sekalipun kita merasa tidak salah. Kita belajar tekun dan tanggung jawab ketika ditugasi pergi ke luar, sekalipun hanya satu kilometer dari kampus.

Segala lelah kita akan hilang tatkala kita melihat senyum dan semangat anak-anak sekolah yang mengharap masuk kuliah. Kita tidak hanya menceritakan soal biaya kuliah ataupun fasilitas kampus, tapi kita share tentang sukacita dan tantangan jadi mahasiswa.

Inilah wujud bakti pelayanan kita juga, bukan seberapa sering kita hadir di rumah ibadah, tapi seberapa jauh kita melibatkan Tuhan hadir dalam pekerjaan kita. Ketika kita semangat, tidak cepat marah, dan menciptkan kedamaian, di situ ada Ia yang maha Agung dilibatkan dalam setiap perkara kita.

IMG_8934

Kelak, kesetiaan dalam perkara kecil akan membawa kita pada perkara besar.

Teruntuk rekanku, Silvia Bakti, Yohanes Bobby dan Adelia Putranti, kalian sudah purna tugas di sini, tapi perjalanan kali di kenyataan dunia kerja sesungguhnya baru di mulai.

Teruntuk yang masih setia mengemban tugas, Yashinta, Dicna, Shanty, Efando, Tian, Abdullah, Ancilla, Toni Hasa, Deta Agustina, Deta Anjani, Elmo, Ideo, Karol, Veka, dan Yomon. Perjalanan kalian belum selesai, jangan menyerah karena keadaan.

Great love for you all, karyawan kampus!

Lulus Kuliah, Cari Kerja apa Cari Kaya?

Ketika semester semakin senja, “kapan lulus” dan “terus mau ngapain?” menjadi semakin sering dilontarkan, terutama oleh keluarga dan kerabat. Well, sehabis bangku kuliah jalan hidup akan lebih menantang. Jika sepanjang sekolah hingga kuliah urusan finansial masih banyak disupport oleh orangtua, kini selepas lulus bantuan biaya tersebut harus segera diputus.

Setiap kali bertemu teman, diskusi yang semula hanya diskusi ringan mendadak berat ketika bertanya tentang rencana di masa depan. Respon setiap teman unik dan berbeda. Ada yang sudah mantap yakin dengan masa depannya, ada yang pasrah namun ada juga bingung. Respon manakah yang tepat dan paling baik? Jawabannya tergantung dari kesiapan diri masing-masing.

Pasrah, bingung ataupun yakin semuanya adalah respon yang wajar. Tapi, ada satu hal yang biasanya menjadi penambah panik, yaitu persoalan kerja. Tak bisa dipungkiri kalau tuntutan hidup semakin berat dari waktu ke waktu. Saat kuliah saja untuk ngeprint berkas revisi skripsi sudah kempat-kempot, apalagi nanti kalau harus bayar cicilan ini itu dengan gaji pas-pasan.

Jujur, aku sendiri pun seringkali bingung dengan apa yang akan terjadi nanti selepas lulus. Namun, aku menilik kembali ke dalam diriku, apakah aku bekerja untuk sekedar menjadi kaya secara materi atau aku memang cari pekerjaan yang menghidupi jiwa bukan sekedar kantong? Yap, aku sangat membutuhkan uang untuk kelangsungan hidup. Usaha orangtuaku sebagai penjual makanan kaki lima tak lagi mujur seperti dahulu, pun mereka sudah semakin renta untuk berjerih lelah. Kini tiba giliranku sebagai yang paling bontot untuk balik berkarya bagi mereka.

Sembari bekerja secara part time, aku menemukan jawaban untuk diriku sendiri. Jika aku bekerja dan terobsesi untuk sekedar menjadi kaya, tandanya aku egois. Kenapa? Tak semua kaya itu jahat loh! Yes, jelas itu, jika dari kekayaan kita malah bisa berderma tentu itu lebih baik. Tapi, gambaranku soal menjadi kaya pernah salah. Gambaranku saat itu, kaya adalah ketika semua gaya hidup dan keinginanku terpenuhi.

Permasalahannya, keinginan manusia adalah tak terbatas. Jika terus menerus berupaya memenuhi gengsi, tentu akan terasa berat. Ada rekan yang panik, selidik demi selidik ternyata setiap harinya ia bergaya hidup lumayan mewah untuk ukuran mahasiswa. Setiap kali makan harus di restoran, belum ditambah biaya nongkrong dan belanja, alhasil pengeluarannya per bulan melejit hingga angka hampir tiga juta, itu pun belum ditambah dengan uang kost dan uang kuliahnya yang masih dibiayai orang tua. Dengan pengeluaran tanpa bekerja sebanyak itu, tentulah ia panik apabila nanti bekerja gajinya tidak sebesar uang jajannya dulu.

Adalah benar sebuah pepatah mengatakan, “Orang yang kaya adalah orang yang merasa cukup.”  Mensyukuri apa yang kita miliki adalah lebih menenangkan jiwa ketimbang memaksakan untuk memiliki apa yang tidak kita punya.

Dan, ada satu kalimat penenang jiwa, terutama untuk rekan-rekan seperjuangan yang juga bingung,

barangsiapa setia dalam perkara kecil, ia juga setia dalam perkara besar” 

Aku percaya bahwa alam semesta memiliki rutenya tersendiri. Orang yang setia dan bertanggung jawab dengan apa yang ada padanya sekarang kelak akan mendapat bagiannya. Orang yang serius saat kuliah pasti akan mendapat bagiannya, entah dapat kerjaan atau buka usaha. Orang yang drop out tapi memiliki passion tentu pula akan sukses, layaknya sejarah telah mencatat seorang Bill Gates dan saksi sukses lainnya.

Permasalahannya, jika sekarang malas, malas kuliah, malas berpikir dan malas berkarya, mau jadi apa? Ya nggak jadi apa-apa!

 

Jogja, 18 Agustus 2016