Kisah Nestapa Perjalanan Ke Tanah Ngapak

nestapa2
Bus Gapuraning Rahayu mogok dan penumpangnya terlantar di Tol Jagorawi KM 19

Bepergian naik bus ekonomi selalu menyajikan kisah tersendiri. Di saat perusahaan otobis (PO) lain mulai mengganti armadanya menjadi lebih baru dan nyaman, tapi masih ada pula PO yang mengoperasikan bus-bus tua selagi masih bisa dipakai. Salah satunya adalah PO Gapuraning Rahayu yang akan menjadi pelengkap cerita nestapa tentang perjalanan selama 14 jam demi melepas penat dari Ibukota.

Aku pikir malam itu akan jadi malam yang berjalan lancar tanpa hambatan. Pukul 17:10 aku sudah tiba di terminal bus Kalideres dan mencari-cari bus yang akan berangkat ke daerah Cilacap, Jawa Tengah. Sebelumnya teman-teman kantor sudah memperingatkan kalau di terminal bus itu sangat rawan jambret dan pemalakan, malah ada seorang teman yang diperas preman-preman di sana. Tapi, cerita seram itu tidak menyurutkan niatku untuk pergi naik bus. Kupasang kupluk hitam di kepala, memakai masker, sebisa mungkin berjalan cepat dan tidak boleh terlihat linglung supaya tidak jadi sasaran kejahatan.

Terminal Kalideres – sebelum nestapa dimulai 

Berhubung hari itu adalah Jumat, jadi suasana terminal sedikit lebih ramai karena banyak penumpang yang memanfaatkan akhir pekan untuk bepergian, dan aku salah satunya. Ada sedikit kecewa ketika mengetahui kalau bus yang berangkat ke Sidareja, Cilacap ternyata bukanlah bus AC, melainkan bus ekonomi. Sebenarnya bukan soal kenyamanan yang aku keluhkan, tapi aku takut kalau-kalau bus tua ini nanti mengalami masalah di jalan. Namun, kutepis segala prasangka buruk itu dan berharap bus tua ini masih memiliki performa yang prima.

nestapa1
Interior bus ekonomi Gapuraning Rahayu tujuan Kawunganten – Sidareja

Satu jam menanti keberangkatan di terminal bus, lebih dari 15 pengamen telah datang silih berganti. Ada yang suaranya bagus, tapi ada pula yang sekadar genjreng gitar tanpa ada niat menyanyi. Seolah tak mau kalah dengan pengamen, puluhan pedagang juga merangsek masuk ke dalam bus yang pengap. Mereka menjajakan power bank, ikat pinggang, kaos kaki, permen, hingga racun tikus!

Dengan keringat yang mengalir deras di wajah, mereka seolah tidak merasa lelah. Sembari semerbak asap rokok menyeruak di kabin bus, mereka berteriak lantang mengharap agar dagangan mereka laris. “Aquaa, aquaa, mijon, kacang, tahu, tahunya , permen, tolak angin, telur puyuhnya, mas?” teriak mereka. Alih-alih terganggu, aku dibuat kagum oleh setiap perjuangan mereka demi sesuap nasi. Kurogoh kantong celanaku dan kubeli dua bungkus permen jahe, sebuah lontong, dan satu jamu tolak angin.

Bus sudah terisi penuh tapi tak kunjung beranjak dari terminal. Satu, dua menit kemudian beberapa penumpang mulai berteriak-teriak kepanasan karena udara semakin pengap, tapi sopir tetap bergeming. Barulah setelah 15 menit bus mulai melaju perlahan bak siput yang sedang mengikuti kompetisi balapan.

Untuk membunuh waktu, aku bercakap-cakap dengan penumpang di sebelahku. “Turun endi, mas e?” tanyanya. “Aku Sidareja mas,” jawabku. “Lha, asli wong sidareja? iki balik kampung po kepriwe? Wes pirang taun nang Jakarta?” pertanyaan-pertanyaan itu menarik karena diucapkan dalam logat Ngapak alias logat khas Cilacap yang buatku terdengar unik.

Keistimewaan dari menggunakan angkutan umum kelas ekonomi (kecuali pesawat) adalah keakraban yang jarang didapat di kelas yang lebih tinggi. Ratusan perjalanan telah kulakukan, dan aku selalu memilih untuk duduk di kelas ekonomi daripada eksekutif. Teman duduk bisa jadi teman ngobrol, dan dari obrolan inilah seringkali ada nilai-nilai kehidupan yang terselip.

Hari itu penumpang bus didominasi oleh pekerja dari daerah Cilacap yang merantau ke Jakarta untuk menjadi buruh bangunan, sopir ojek, dan pekerjaan kasar lainnya.

Ketika Nestapa Dimulai 

nestapa3
Menyempatkan diri untuk selfie daripada tidak ada kerjaan

Setiap Jumat sore hingga malam, jalanan di Jakarta berubah menjadi statis alias macet total di mana-mana. Butuh waktu tiga jam untuk menempuh jarak 30 kilometer dari Jakarta Barat menuju Jakarta Timur. Pukul 20:00 bus yang kutumpangi baru tiba di bibir jalan tol Jagorawi yang mengarah ke Bogor. Selama tiga bulan sejak Desember 2016, bus-bus besar tidak diizinkan melewati tol Cipularang, sehingga banyak bus dengan tujuan Jawa Barat bagian selatan dan Cilacap memilih untuk mengambil jalur Puncak via Bogor.

Baru lima menit berlalu selepas gerbang tol Cibubur, kekhawatiranku ternyata menjadi nyata. Bus yang kutumpangi mendadak mati di tengah jalan tol! Puluhan pengendara segera membunyikan klasonnya keras-keras dan setelah dicoba dihidupkan selama tiga menitan, akhirnya bus bisa melaju kembali. Tapi, bus hanya mampu melaju beberapa meter sampai di bahu jalan, lalu setelahnya mesin bus pun wafat tak bernyawa.

Semua penumpang panik, tidak terima karena bus yang digunakan ternyata bus usang. Beberapa menuntut ganti rugi dan meminta segera dikirimkan bus cadangan, tapi awak bus tidak bisa memberi solusi apapun selain meminta penumpang untuk menunggu. Ada sekitar 50 penumpang hari itu dan semuanya terkatung-katung di pinggir jalan tol Jagorawi tanpa kepastian apakah ada bus baru yang dikirim atau tidak.

Satu jam berlalu hingga tiba sebuah bus Gapuraning AC dengan tujuan Karang Pucung. Bus itu berhenti dan segera diserbu semua penumpang yang terlantar, tapi bus itu sudah keburu penuh dan hanya mampu mengangkut 15 penumpang tambahan. Akhirnya 35 penumpang lain kembali terlantar tanpa kepastian.

Dua jam setelahnya aku merasa kantung kemihku mulai penuh dan berjalan agak jauh dari kerumumunan untuk buang air kecil. Sungguh beruntung! Ternyata saat aku selesai menuntaskan buang air, sebuah bus Gapuraning tujuan Karang Pucung datang dan berhenti sangat dekat denganku. Aku berlari sekencang-kencangnya dan jadi orang pertama yang naik ke atas bus, tapi ternyata bus itu juga sudah penuh karena hanya ada sekitar 10 kursi kosong.

Aku beruntung karena mendapatkan tempat duduk, sedangkan penumpang lainnya akhirnya nekat masuk ke bus walau harus duduk di lantai. Kisah nestapa ini masih berlanjut ketika bus yang penuh sesak harus melintas jalanan yang berkelok-kelok. Satu, dua jam kemudian mulai gugur beberapa penumpang yang akhirnya muntah. Aroma muntahan itu menyebar lewat udara dan memancing penumpang lainnya untuk ikut muntah.

Setelah 14 jam berlalu….. 

Saat matahari pagi mulai menampakkan wajahnya, bus yang kutumpangi sudah meninggalkan provinsi Jawa Barat dan memasuki area Wanareja, Jawa Tengah. Kisah nestapa tadi perlahan sirna seiring hijaunya sawah yang membentang dari balik bingkai kaca bus. Pemandangan ini sangat langka ditemukan di Jakarta, jadi ketika aku melihat halimun tipis masih menggantung di atas hamparan padi, seketika hati ini terasa begitu ayem. 

Sebenarnya tujuan utamaku adalah kecamatan Sidareja, tapi bus ganti yang kutumpangi ini hanya berhenti sampai Karang Pucung dan pihak manajemen bus tidak memberi kompensasi apapun kepada penumpang yang harus membayar ongkos lebih karena harus berganti tujuan. Tidak ada kata maaf, apalagi uang kompensasi. Tapi, itu semua dimaklumi karena ini adalah kelas ekonomi, dan penumpang pun tidak terlalu mengambil pusing soal itu selama akhirnya mereka bisa tiba di lokasi.

Pukul 07:00 akhirnya tiba di Karang Pucung setelah melewati perjalanan nestapa selama 14 jam dalam bus. Perjalanan menaiki bus itu selalu penuh cerita. Harus menahan pipis, menahan rasa mual, dan banyak bersabar karena kondisi jalan yang tidak dapat diprediksi. Jika dalam kondisi normal perjalanan Jakarta-Cilacap bisa ditempuk 7-9 jam, hari itu perjalananku lebih lama dua kali lipat dari biasanya.

nestapa4
Bersama keluarga gembala sidang dari Gereja Baptis Karangpucung

Sembari menunggu kendaraan untuk melanjutkan perjalanan ke Sidareja, aku berkunjung ke sebuah gereja yang terletak di dekat pasar Karang Pucung. Pagi itu menjadi lebih hangat dengan segelas teh panas yang disuguhkan keluarga pendeta. Sekitar 30 menit kami habiskan dalam obrolan hangat, dan di akhir sebelum berpamitan dan melanjutkan perjalananku, kami berfoto bersama.

*******

Perjalanan selalu memiliki ceritanya tersendiri, jadi selama kaki masih kuat melangkah dan dompet masih mampu bernafas, maka ransel hitamku kan selalu kupanggul setiap Jumat malam.
Sidareja, Jawa Tengah, 5 Feb 17

Ah, Jakarta!

Aku termenung dan tak sabar ingin segera sampai di tujuan sementara bus yang kutumpangi tetap tidak bergerak terjebak dalam macet. Jakarta, sebuah kota yang sempat kupikir akan mendatangkan sukacita karena menemukan pekerjaan di sana, tapi nyaris satu bulan berada Ibukota, aku belum menemukan diriku larut dalam ritme khas metrpolitan. Rutinitas, semerawutnya jalanan, macet, bising dan kesepian menjadi konsumsiku setiap hari.

Jam kantor menunjukkan pukul 17:00, segera kurapikan meja dan bergegas untuk pamit kepada teman-teman kantor. Pagi sebelum aktifitas dimulai aku terkena tilang di jalanan Jakarta karena kedapatan melanggar lalu lintas. Akibatnya aku harus membayar denda karena kesalahan itu. Aku meringis dan bertambahlah perasaanku untuk weekend agar segera datang dan aku mengungsi ke kota lain sejenak.

Aku memutuskan tidak menggunakan motor dulu hari itu karena selama aku belum hafal jalanan Jakarta, ada kemungkinan aku akan kembali ditilang. Lebih baik aku menjadi warga kota yang memanfaatkan transportasi publik dan kupilih menaiki busway di jam pulang kerja yang super padat.

Seperti biasa, setiap orang yang kutemui berkutat asyik dengan gadget mereka seolah dunianya hanya terdapat di layar 5 inchi dan orang-orang di sekelilingnya hanya menumpang ngontrak. Ada pula yang dengan segera memasang headphone kemudian larut dalam alunan musik. Tanpa interaksi, senyum pun sulit terlihat di sini apalagi saat jam-jam sibuk saat energi tiap orang telah habis terkuras.

Jauh berbeda dengan kehidupanku sebelumnya yang dengan orang tidak kenal pun bisa tercipta obrolan hangat. Semasa di Jogja dahulu kesepian adalah barang langka. Duduk di angkringan, teh panas disajikan lalu obrolan hangat mengalir. Pintu kamar kost dibuka, teman-teman datang menyapa. Kontras dengan Jogja, sekalipun pintu kostku dibuka tak mungkin ada teman menyapa, lebih mungkin maling yang datang ketimbang kawan.

Satu jam berlalu di atas bus yang bergerak perlahan bak siput. Sesampainya di lokasi, aku berjalan menyusuri lorong jembatan penyeberangan dan ada pemandangan yang menegurku. Aku melihat orang-orang berjualan di atas jembatan itu. Ada yang menjajakan kue, tissue, aksesoris handphone dan aneka cemilan. Mereka terduduk di samping dagangannya sambil sesekali menawarkan produknya kepada para pejalan kaki. Hanya sedikit yang akhirnya berhenti dan membeli, tapi mereka tidak menyerah.

Aku tahu kehidupan ibukota begitu keras. Ada orang-orang seperti mereka yang belum dapat mengecap manisnya kehidupan metropolitan, tapi satu yang pasti mereka tetap menaruh harapan sekalipun mereka sendiri tidak yakin akan dagangannya yang habis atau tidak hari itu.

Tak jauh dari jembatan, sekelompok anak kecil berlarian sambil tertawa karen dikejar seorang satpam dari sebuah perkantoran. Sambil membawa karung mereka bermain kucing-kucingan seolah tak peduli dengan bisingnya suara klakson. “Eh, mainnya jangan disini, disono nah, nanti dimarahin kalo disini!” tegas pak Satpam.

Tanpa menampilkan wajah kecewa, anak-anak tadi terus bercanda sambil berpindah tempat. Kali ini mereka memilih jalanan di samping sungai sebagai tempat untuk mereka menikmati pertemanan. Aku tertegun, lalu tersenyum lebar. Pandanganku tak lepas dari anak-anak itu hingga langit menjadi gelap.

Aku terdiam dan tak tahu kata-kata apa yang harus kuucapkan. Dalam hati aku mengucap, “aku terlalu bodoh, Tuhan! Aku tidak tahu bersyukur,” ucapku lirih. Anak-anak tadi mengobati kesepianku. Saat ini aku tidak tahu dan tidak dapat memberikan sesuatu untuk membantu mereka meraih masa depan. Aku hanya dapat mendoakan mereka agar negara tempat kita tinggal ini menaruh perhatian lebih bagi mereka yang papa.

Semangatku kembali dinyalakan. Aku harus semangat untuk bekerja, bukan supaya kelak aku bisa menghindar dari semerawutnya Jakarta, tapi supaya kelak aku bisa melakukan sesuatu yang berguna dan nyata bagi orang-orang yang terpinggirkan sebagaimana sumpahku sebagai seorang sarjana, “membela yang papa, mengingatkan yang mapan.”

Menuntaskan permasalahan khas metropolitan berupa kemiskinan memang tugas berat, dan tak pernah cukup hanya dengan melakukan pemberian. Harus ada sistem yang tertata baik di mana setiap fasilitas yang sejatinya untuk publik dapat dinikmati oleh semua golongan.

Dan, kota ini tak akan menjadi lebih baik ketika warganya memutuskan untuk tidak peduli dan menutup hati. Aku harus belajar untuk membuka hati bagi kota ini, lebih banyak berdoa ketimbang mengutuki kota ini dan satu hal sederhana lainnya adalah menikmati fasilitas transportasi publik tanpa menggerutu macet.

Akhir kata, Jakarta mungkin membosankan dan menjemukan. Tapi, Jakarta memberiku pelajaran kalau masih ada orang-orang yang tetap berharap walau kehidupan terlihat suram.

****************

Jakarta, 21 Desember 2016

@BolangJogja yang tidak lagi di Jogja