1 November 2016: Babak Baru Perjalanan di Jakarta

Tepat hari ini, setahun lalu adalah hari yang tak mungkin saya lupakan. Usaha seorang sarjana yang belum diwisuda dalam mencari-cari pekerjaan akhirnya membuahkan hasil. Saya dipanggil ke Jakarta untuk sebuah wawancara kerja. Continue reading “1 November 2016: Babak Baru Perjalanan di Jakarta”

Iklan

Mengawali dengan Semangat, Menutup dengan Manis

Ada awal, juga akhir. Ada suka, juga duka. 

Kadang, akhir tak selalu berakhir suka 

pun awal tak tentu dimulai dengan duka

adalah proses yang menjadikan kita kaya

kaya akan pengalaman, juga kenangan dari orang-orang tercinta

Masih berasa mimpi ketika menyadari kalau waktuku di Jogja kurang dari satu minggu tersisa. Rasa-rasanya baru kemarin memasuki kampus, ospek, kenalan sana-sini, mbribik gebetan, sibuk organisasi, dan sekarang semua itu seolah berjalan begitu cepat tak bersisa.

Satu bulan setelah pengumuman diterima bekerja di Jakarta, ada rasa sukacita yang bercampur aduk dengan sedih. Satu sisi senang karena bekerja, tapi ada rasa sedih karena harus meninggalkan Jogja dengan segudang isinya yang begitu memikat hati. Aku menyadari kalau masa transisi, atau masa perpindahan memang berat, tapi harus dijalani dengan tegar.

Ada satu hal yang membuatku begitu mencintai Jogja setengah mati, sampai-sampai ada teman yang bertanya, “kok lu bisa sebegitunya banget sih sama Jogja?”. Kadang aku pun tak tahu harus menjawab apa, karena rasa cinta itu hanya bisa dirasakan dengan hati, dan sulit dituangkan dalam beragam kata.

Merantau untuk Mengenali Hidup 

Keputusanku untuk pindah ke Jogjakarta empat tahun lalu rasa-rasanya adalah keputusan sepele pada waktu itu. Ada banyak kampus di Bandung, tapi aku memilih Jogja dengan satu alasan, yaitu nyaman. Berbekal kenyamanan itu, Jogja menjadi tempatku berlabuh selama empat tahun.

Berasal dari keluarga broken, membuatku tak menemukan jati diri yang pas semasa sekolah dahulu. Aku minder ketika teman-temanku terkenal dengan pencapaiannya sendiri, sedangkan aku merasa useless dan tak dicintai. Perlahan ketika perkuliahan dimulai, aku tahu kalau merasa rendah diri itu buruk. Alih-alih menyalahkan keadaan, lebih baik aku mulai menggali potensi diri.

Aku lupakan soal minderku, kucoba mulai berorganisasi, menekuni hobbyku dan bergaul dengan lebih banyak orang. Perlahan tapi pasti, pertemuanku dengan orang-orang baru inilah yang menempa karakterku, dari seorang yang lembek menjadi seorang yang kuat. Diperhadapkan dengan berbagai karakter teman mengajariku untuk mengerti orang lain terlebih dahulu ketimbang bersikap egois.

Dari merantau, aku mengenali apa itu yang namanya kangen dengan teman, juga keluarga. Jarak yang terpisah membuatku lebih menghargai suatu pertemuan. Jogja juga mengenalkanku pada apa yang disebut sebagai pertemuan dan perpisahan. Sambilanku sebagai travel guide mengantarku pada pertemuan dengan sahabat-sahabat dari berbagai negara. Ketika sudah dekat dengan mereka, tiba-tiba harus berpisah dan tidak tahu lagi kapan bertemu. Sedih memang, tapi perpisahan ini terjadi supaya aku menghargai arti pertemuan.

Merantau kadang memang membuat nyaman, namun tak selamanya nyaman itu baik untuk kita. Nyaris tak ada yang bertumbuh di zona nyaman selain rasa manja. Hidup itu adil dan memiliki prosesnya sendiri, ketika kita terlalu nyaman di suatu tempat, otomatis akan ada masanya di mana kenyamanan itu akan dicabut.

Tunas harapan yang kecil kini telah tumbuh dengan subur di sebuah pot bernama Jogja, namun pot ini tak lagi cukup untuk memuat akar-akar yang kian memanjang. Tuhan mencabutku dan menempatkanku pada pot baru bernama Jakarta.

Mengawali dengan Semangat, Menutup dengan Manis 

“Manisnya hidup, kita yang tentukan,” tagline dari iklan produk gila. Nampaknya slogan iklan itu ada benarnya juga. Jika hari ini aku memutuskan untuk terlarut dalam duka karena perpisahan, maka rasa manis itu akan berubah menjadi manis yang merusak, tak lagi sehat.

img_0991img_1477img_1534img_1546img_1549img_1592img_7830img_8653

Dulu ketika aku mengawali petualangan untuk empat tahun di Jogja, aku mengawalinya dengan harapan kecil. Kini ketika petualangan itu tuntas, ditutup dengan kenangan manis yang dibentuk dari pertemuan dengan banyak orang. Ada keluarga di KKP yang mengajariku untuk bekerja dengan passion. Keluarga HMPSKom yang mengajariku apa arti dari totalitas bekerja. Keluarga di OnFire yang mengajariku tentang arti pelayanan. Juga seisi rumah kostku yang mengajariku tentang apa itu berbagi rasa dan menerima perbedaan.

Dan…di ujung perjalanan ini, Jogja menjadi terasa begitu manis. Saking manisnya, air mata pun terasa manis. Bukan tangis sedih yang terurai, tapi tangis bahagia, sebuah sukacita karena diberi kesempatan untuk bertemu dan berproses bersama orang-orang pilihan yang luar biasa!

Berkat Tuhan Sehabis Lulus

Kisah hidup mahasiswa itu beragam dan nyaris tak pernah bisa ditebak. Ada mereka yang lulus lama tapi cepat mendapat kerja atau wirausaha, ada pula yang lulus cepat namun menganggur lama. Pertanyaan mau kemana setelah lulus kuliah jauh lebih sulit dijawab ketimbang saat SMA dulu. IPK tinggi belum menjamin karier, pergaulan luas juga belum tentu menjamin akses pekerjaan, demikian juga dengan tebalnya CV. Tapi, satu hal yang pasti menjamin adalah ketekunan.

Sehari setelah dinyatakan lulus sebagai sarjana pada 5 September 2016 lalu pertanyaan “mau kerja di mana dan ngapain?” segera menghantui. Mau tidak mau pertanyaan itu menghinggapi di pikiran setiap saat. Setiap kali melihat website lowongan kerja, ada banyak banget lowongan tapi nyaris tak ada yang sreg di hati. Berpacu dengan waktu, segera kudatangi berbagai acara Job Fair yang diselenggarakan oleh banyak kampus. Tapi, usaha itu belum jadi jalan yang tepat untuk mengantarkanku mendapat pekerjaan impian.

Setiap kali datang Job Fair, nyali serasa ciut. Pasalnya, Job Fair diisi oleh orang-orang yang sangat membutuhkan pekerjaan. Berseragam rapi, membawa setumpuk berkas sambil harap-harap cemas bisa lolos seleksi. Aku pun demikian, hanya aku tak terlalu berharap banyak dengan Job Fair.

Selama seminggu penuh aku mengikuti tes seleksi psikotes yang diselenggarakan dari perusahaan tempatku melamar. Gagal di pertama kali tidak masalah, aku masih punya cukup semangat. Tapi, ketika gagal di yang kedua, ketiga dan seterusnya, perlahan semangat mulai tergerus. Juga ketika satu perusahaan yang diminati ternyata tidak menerima kita sebagai kriteria rekrutmennya, tambah menipislah semangat ini.

Aku belajar banyak dari setiap tes yang diikuti, belajar untuk teliti dan mengerti realita mencari pekerjaan. Satu hal yang membekas adalah kegagalan-kegagalan tersebut mengantarkanku untuk tekun dan tidak menyerah walau keadaan seolah memaksa untuk kita menyerah.

Sebulan setelah bergulat dengan aneka pekerjaan yang dilamar, aku memutuskan untuk berhenti sejenak. Momen berhenti ini kugunakan untuk mengoreksi diri dan menanyakan kembali “sebenarnya aku ini mau apa?”. Aku menyadari, ibarat mencari sebuah arloji di tumpukan segunung jerami, aku terlalu sibuk mengorek hingga tak menemukan arloji itu. Hingga ketika aku memutuskan untuk berhenti dan hening, perlahan aku mendengar suara detak arloji tersebut. Dari suara itulah akhirnya aku bisa menemukan letak arloji tersembunyi itu.

Nampaknya perumpaan ini menyadarkanku. Aku berhenti, menggali potensi diri, berserah dan mulai fokus dengan pekerjaan part time yang sebelumnya sudah kujalani sejak semester empat. Kesetiaan dalam perkara kecil akan membawa pada perkara besar, setidaknya aku percaya hal itu.

Doa Terjawab

Aku bergumam singkat, “Tuhan semesta, kemana engkau menuntun, ke situ aku berjalan.” Tepat hari Senin dua minggu lalu, aku melamar pekerjaan ke sebuah lembaga nirlaba yang bergerak dalam media online. Aku sangat tertarik dan bergairah untuk bisa bergabung dengan perusahaan itu, entah apa yang mendasarinya, tapi kupikir ini sesuai dengan passionku. 

Singkatnya, tiga hari setelah melamar aku mendapat panggilan dari bagian HR untuk melakukan wawancara. Berhubung aku tidak berada di Jakarta, maka pihak perusahaan menawarkanku untuk wawancara online menggunakan Google Hangouts. Aku mengiyakan dan mencari warnet dengan koneksi terbaik. Rasa gugup melanda karena pewawancaraku adalah tiga orang, di mana dua orang berlokasi di Singapura dan satu orang di Jakarta. Seluruh wawancara menggunakan Bahasa Inggris.

Sempat dibuat panik dan gugup, wawancara pun usai dan pihak perusahaan memberikan sebuah challenge untuk mengedit dan menerjemahkan artikel dari bahasa Indonesia ke Bahasa Inggris. Semua persyaratan telah kupenuhi dan tibalah saatya menunggu dengan damai. Tapi, rasa was-was tetap ada. “Kalau gak lolos, mau ke mana lagi ya?” gumamku.

Tiga hari setelah pengumpulan berkas, pihak perusahaan menghubungiku via email dan telepon. Kala itu hari Senin dan mereka meminta aku harus hadir di Jakarta pada Selasa pagi untuk wawancara. Aku panik, bagaimana caranya aku ke Jakarta padahal saat itu sudah pukul 15:00 di Jogja. Naik pesawat aku tak punya uang, solusinya adalah naik kereta.

Baru bersiap-siap untuk ke stasiun, pihak perusahaan menelpon. Mereka tidak membolehkanku untuk naik kereta api dan menyediakan tiket pesawat pertama hari Selasa. Tidak selesai sampai di situ, setibanya di Bandara Soetta Jakarta, aku pun dijemput oleh pihak perusahaan dan diajak makan siang hingga tibalah waktu untuk melakukan wawancara tahap akhir.

Hari itu adalah hari bersejarah bagiku karena wawancara akhir di perusahaan ini memberiku pengalaman akan proses yang berbuah manis. Perusahaan menerimaku untuk menjadi bagian dari mereka. Semua di luar ekspektasi awalku. Tak lupa, seorang staff juga membantuku untuk mencari kost-kosan. Tak habis sampai di situ, ongkos untuk kembali ke Jogja pun ditanggung oleh perusahaan.

“Siapalah aku ini,” gumamku. Aku terharu atas pengalaman hari itu. Aku yang berstatus mencari kerja seharusnya aku yang berusaha sendiri untuk mencapai perusahaan itu. Tapi, mereka malah menyambutku dengan sukacita, jauh lebih dari apa yang pernah kupikirkan sebelumnya.

Aku speechless, tapi sungguh bersyukur. Aku merasa begitu kerdil dan tak berdaya, namun diberkan kesempatan sebesar ini. Ada seberkas sukacita yang mengalir karena pada akhirnya aku mendapatkan karier pertama yang sesuai dengan passionku. Aku tak mau bekerja di bidang marketing walaupun nyaris di setiap Job Fair hanya posisi inilah yang ditawarkan.

Di akhir tahun ini, perjalanku akan berpindah. Dari kota Jogja menuju Ibukota Jakarta. Dari seorang pejalan low budget menjadi staff sebuah kantor. Karier permanen pertamaku diawali dengan sebuah posisi sebagai seorang content developer dari sebuah website pelayanan rohani yang memang adalah passionku. Berbagi cerita, menulis, menginspirasi pembaca tetap akan jadi bagian hidupku yang tertuang dalam pekerjaan baru ini.

Aku harus belajar mencintai Jakarta sebagaimana aku mencintai Jogja.

Habis Lulus: Kampus cuma Inkubator, Bukan Kenyataan

Awal September lalu, statusku sebagai mahasiswa dinyatakan selesai seiring dengan sidang skripsi yang dinyatakan lulus. Rasa senang atas lulus ini turut dimeriahkan dengan kehadiran teman-teman yang memberi selamat, bunga, boneka lulus, surat, jabat tangan juga foto-foto. Tapi, beberapa jam setelah rasa sukacita itu, timbul pertanyaan, “mau kemana, terus ngapain udah ini?”

Pertanyaan itu terus menggantung, namun kusingkirkan sejenak. “Fokus revisi skripsi dulu deh,” pikirku. Seusai revisi, praktis aku kehilangan kesibukan utama sebagai mahasiswa, sekalipun ada pekerjaan part time , tapi rasanya kini jadi berbeda. Fokus pikiran kini bercabang dan menjalar dalam gelap. Satu sisi memikirkan pekerjaan, passion, masa depan, jodoh dan banyak lainnya. Satu hal yang paling mengganjal adalah karir.

Ketika membuka situs lowongan kerja, scrolling dari atas ke bawah, kenyataan mulai berbicara. Pasar dunia tidak terlalu butuh idealisme, mereka lebih membutuhkan pekerja. Terlepas dari segala idealisme yang didapatkan selama di kelas, dunia industri membutuhkan sekedar tenaga untuk menjalankan rodanya.

Baiklah, karena akupun butuh makan lewat penghasilan, maka statusku bergerak menjadi Jobseeker. Bergabung dengan komunitas Jobseeker lainnya dari Jogja yang jumlahnya ratusan membuatku cukup mengernyit. “Apa iya dari segini banyak bakal diterima kerja semua?” 

Petualangan pertama sebagai Jobseeker dimulai dari cari-cari lowongan lewat online. Hasilnya ada ribuan lowongan, tapi hanya sedikit yang sreg di hati karena kebanyakan lowongan menawarkan posisi sebagai sales atau marketing. Petualangan kedua adalah menjadi pengembara di kampus orang. Setiap kali ada event Jobfair, maka disitu Jobseeker akan berada. Memanggul ransel berisi puluhan CV, mengantre bersama ribuan orang lainnya demi melamar pekerjaan yang belum tentu diminati.

Petualangan masih berlanjut, jika perusahaan menerima CV, maka tahap selanjutnya adalah Psikotest. Dan, inilah tahap yang cukup menguras otak dan tenaga. Hampir setiap hari aku mengikuti piskotest dan rasanya sulit. Bagaimana tidak, di kampus selama kuliah jurusan Komunikasi hampir tidak pernah ada hitung-hitungan. Ketika psikotes dihadapkan dengan soal-soal matematika dasar seketika otak shock dan berhenti bekerja.

Tak menyerah di situ, gagal di satu perusahaan bukan berarti dunia runtuh. Belajar sedikit lewat internet, kemudian psikotes lagi di perusahaan lainnya, dan siklus itu berulang. Aku sendiri masih tidak tahu di psikotes ke berapa aku akan lulus, tapi yang terpenting adalah tetap belajar dan tidak menyerah.

Lewat serangkaian tes-tes perusahaan tersebut, aku menyadari kalau empat tahunku di kuliah bukanlah sebuah kenyataan, melainkan pra-kenyataan. Tepatnya, kampus adalah sebuah inkubator sebelum kita “dilahirkan” secara sempurna ke kenyataan. Memang sekarang trendnya adalah lulus cari kerja, tapi banyak pula yang berupaya membuka wirausaha. Aku pun sebenarnya ingin begitu, tapi karena berwirausaha butuh modal maka kuputuskan untuk mencari pekerjaan dulu sebagai langkah menambah ilmu, pengalaman juga modal uang kelak.

Lantas, apakah kuliah di kampus tidak bermanfaat? Tentu ada manfaatnya! Nilai-nilai akademik tidak terlalu menjadi indikator utama keberhasilan seseorang. IPK tinggi belum jadi jaminan langsung diterima kerja. Aktif organisasi bukan berarti lebih mudah mendapatkan pekerjaan. Alurnya sama, setiap fresh graduate yang akan bekerja akan melewati seleksi administrasi, psikotes dan lainnya. Baik itu si kutu buku, kuper, aktivis, tukang tidur, sosialita, semua akan memasuki tahapan yang sama.

Realita tidak terlalu peduli dengan latar belakang kita, sepanjang kita bisa survive. Pengalaman berkuliah empat tahun di kampus semata-mata bukan untuk mendapatkan nilai akademik semata. Aku belajar untuk tidak pahit hati dan menyerah saat gagal ketika berharap dapat nilai A tapi malah C. Aku belajar memahami karakter orang lain ketika bekerja kelompok. Aku belajar arti menunggu dari dosen pembimbing skripsi yang kadang menghilang. Aku belajar apa arti berjuang karena orang tua yang bekerja mati-matian untuk membiayai kuliah. Juga, aku belajar kalau hidup sekali lagi adalah proses dan takdir. Jika takdirku sekarang terlahir biasa saja, maka aku harus berproses menjadi lebih dari biasa, untuk bisa menolong orang-orang lain yang hidupnya lebih rendah dari biasa.

Habis lulus mau kemana dan ngapain? 

Habis lulus saya mau ngapa-ngapain! Enjoy the journey! 

 

Lulus Kuliah, Cari Kerja apa Cari Kaya?

Ketika semester semakin senja, “kapan lulus” dan “terus mau ngapain?” menjadi semakin sering dilontarkan, terutama oleh keluarga dan kerabat. Well, sehabis bangku kuliah jalan hidup akan lebih menantang. Jika sepanjang sekolah hingga kuliah urusan finansial masih banyak disupport oleh orangtua, kini selepas lulus bantuan biaya tersebut harus segera diputus.

Setiap kali bertemu teman, diskusi yang semula hanya diskusi ringan mendadak berat ketika bertanya tentang rencana di masa depan. Respon setiap teman unik dan berbeda. Ada yang sudah mantap yakin dengan masa depannya, ada yang pasrah namun ada juga bingung. Respon manakah yang tepat dan paling baik? Jawabannya tergantung dari kesiapan diri masing-masing.

Pasrah, bingung ataupun yakin semuanya adalah respon yang wajar. Tapi, ada satu hal yang biasanya menjadi penambah panik, yaitu persoalan kerja. Tak bisa dipungkiri kalau tuntutan hidup semakin berat dari waktu ke waktu. Saat kuliah saja untuk ngeprint berkas revisi skripsi sudah kempat-kempot, apalagi nanti kalau harus bayar cicilan ini itu dengan gaji pas-pasan.

Jujur, aku sendiri pun seringkali bingung dengan apa yang akan terjadi nanti selepas lulus. Namun, aku menilik kembali ke dalam diriku, apakah aku bekerja untuk sekedar menjadi kaya secara materi atau aku memang cari pekerjaan yang menghidupi jiwa bukan sekedar kantong? Yap, aku sangat membutuhkan uang untuk kelangsungan hidup. Usaha orangtuaku sebagai penjual makanan kaki lima tak lagi mujur seperti dahulu, pun mereka sudah semakin renta untuk berjerih lelah. Kini tiba giliranku sebagai yang paling bontot untuk balik berkarya bagi mereka.

Sembari bekerja secara part time, aku menemukan jawaban untuk diriku sendiri. Jika aku bekerja dan terobsesi untuk sekedar menjadi kaya, tandanya aku egois. Kenapa? Tak semua kaya itu jahat loh! Yes, jelas itu, jika dari kekayaan kita malah bisa berderma tentu itu lebih baik. Tapi, gambaranku soal menjadi kaya pernah salah. Gambaranku saat itu, kaya adalah ketika semua gaya hidup dan keinginanku terpenuhi.

Permasalahannya, keinginan manusia adalah tak terbatas. Jika terus menerus berupaya memenuhi gengsi, tentu akan terasa berat. Ada rekan yang panik, selidik demi selidik ternyata setiap harinya ia bergaya hidup lumayan mewah untuk ukuran mahasiswa. Setiap kali makan harus di restoran, belum ditambah biaya nongkrong dan belanja, alhasil pengeluarannya per bulan melejit hingga angka hampir tiga juta, itu pun belum ditambah dengan uang kost dan uang kuliahnya yang masih dibiayai orang tua. Dengan pengeluaran tanpa bekerja sebanyak itu, tentulah ia panik apabila nanti bekerja gajinya tidak sebesar uang jajannya dulu.

Adalah benar sebuah pepatah mengatakan, “Orang yang kaya adalah orang yang merasa cukup.”  Mensyukuri apa yang kita miliki adalah lebih menenangkan jiwa ketimbang memaksakan untuk memiliki apa yang tidak kita punya.

Dan, ada satu kalimat penenang jiwa, terutama untuk rekan-rekan seperjuangan yang juga bingung,

barangsiapa setia dalam perkara kecil, ia juga setia dalam perkara besar” 

Aku percaya bahwa alam semesta memiliki rutenya tersendiri. Orang yang setia dan bertanggung jawab dengan apa yang ada padanya sekarang kelak akan mendapat bagiannya. Orang yang serius saat kuliah pasti akan mendapat bagiannya, entah dapat kerjaan atau buka usaha. Orang yang drop out tapi memiliki passion tentu pula akan sukses, layaknya sejarah telah mencatat seorang Bill Gates dan saksi sukses lainnya.

Permasalahannya, jika sekarang malas, malas kuliah, malas berpikir dan malas berkarya, mau jadi apa? Ya nggak jadi apa-apa!

 

Jogja, 18 Agustus 2016