Sumatra Overland Journey (8) |Ganja di Tanah Syariat

sampul

Sebuah baliho besar bertuliskan “Anda Memasuki Kawasan Syariat Islam” terpampang besar tatkala angkutan yang kami naiki bersiap memasuki kota Takengon. Sebelumnya kami berangkat dari Banda Aceh dan membutuhkan waktu nyaris sepuluh jam untuk tiba di Takengon. Berhubung waktu itu adalah bulan Ramadhan, hampir di tiap jam kendaraan kami selalu singgah di masjid-masjid kecil.

Continue reading “Sumatra Overland Journey (8) |Ganja di Tanah Syariat”

Iklan

Ironi Ganja di Balik Gunung Leuser

Pertama kali seumur hidup, kami digirng masuk ke dalam kantor polisi bersama seluruh penumpang minibus. Perempuan tua renta yang duduk di samping kami ternyata kedapatan membawa ganja seberat lima kilogram untuk dibawa ke Medan. Kaget sekaligus miris, bagaimana bisa sesosok wanita renta berkerudung itu menyembunyikan barang haram di balik tas bahkan jilbabnya. Namun, itulah yang terjadi di Aceh Tenggara dimana ganja masih menjadi ironi antara kemiskinan dan bisnis yang menggiurkan.

IMG_3433
Jalan lintas kabupaten antara Blangkejeren-Kutacane-Tigabinanga

13 Juli 2015, kami melanjutkan perjalanan dari Takengon menuju Berastagi via lintas Aceh Tenggara. Perjalann ini bisa dikatakan paling melelahkan dari seluruh etape yang telah kami lalui. Jalanan beraspal yang jarang, lubang menganga, dan longsoran sana-sini menyita waktu tempuh perjalanan. Ditambah lagi kondisi minibus yang seadanya membuat badan ini serasa remuk.

IMG_3416
Minibus rute Takengon – Kutacane melintasi jalan lintas provinsi via Aceh Tenggara

Dari Takengon kami harus transit di Ketambe, beberapa kilometer sebelum Kutacane untuk kemudian mencari angkutan lanjutan ke perbatasan provinsi. Di Ketambe suasana begitu teduh, kami menemukan sebuah pondokan di kaki Gunung Leuser seharga Rp 50.000,- per malam. Aturan syariat tidak terlalu ketat di sini sehingga pukul 17:00 sebelum buka puasa pun kami bisa makan dengan bebas di pondokan.

IMG_3428
Pondok Ketambe, sebagai tempat transit atau basecamp pendakian Gn. Leuser
IMG_3431
Ruang makan di Pondok Ketambe. Umumnya turis asing yang singgah disini karena tercantum dalam Lonely Planet

Gunung Leuser bak karpet hijau membentang, lebat sekali seolah tidak ada celah untuk masuk. Selain sebagai kanopi hijau terbesar yang masih tersisa di Sumatra, Gunung Leuser juga disinyalir menyimpan ladang-ladang ganja yang notabene ilegal. Dalam pembicaraan kami dengan petugas penjaga hutan ia mengatakan bahwa ada ladang-ladang yang terletak di jantung hutan. “Butuh jalan kaki dua minggu mas untuk bisa ketemu itu ladang,” sahutnya.

IMG_3427
Lebatnya hutan pegunungan Leuser dari Ketambe

Wilayah Aceh Tenggara bisa dikatakan wilayah yang cukup miskin. Kondisinya yang terpencil di antara pegunungan membuat akses masuk ke Blangkejeren atau Kutacane hanya bisa dilakukan via Tanah Karo (Sumatra Utara) atau memutar via Takengon (Aceh), namun kondisi jalan sangat mengenaskan.

Sekalipun tidak terdampak Tsunami karena letak geografisnya, tapi wilayah Aceh Tenggara ini sempat terkoyak oleh konflik bersenjata Gerakan Aceh Merdeka. Warga sekitar Aceh Tenggara menggantungkan hidup pada sektor pertanian. Potensi pariwisata belum dapat tergali sepenuhnya akibat akses dan juga keterbatasan sumber daya.

Selepas dari Ketambe, kami mencari angkutan umum untuk menuju kota kabupaten Kutacane, barulah dari sana kami mencari angkutan lain yang mengantarkan kami ke Berastagi. Tiba di Kutacane, kami sempat ditipu atau mungkin juga ditolong oleh sopir angkot. Kesepakatan awal kami membayar Rp 7.000,- namun tiba-tiba ditarik Rp 15.000,- per orang dengan alasan kami akan diantarkan langsung ke agen bis.

IMG_3438
Pasar kaget di wilayah Ketambe, Kutacane, Aceh Tenggara

Tiba di agen bis, kami beruntung karena satu bis menuju Berastagi akan segera berangkat sehingga tak perlu menunggu lebih lama. Kami duduk di kursi belakang, masih tersisa tiga kursi kosong. Bis pun melaju, tak lama naiklah seorang ibu tua, mungkin juga disebut nenek bersama anak perempuan dan cucunya. Mereka membawa satu tas besar dan juga ember berisikan sayuran segar dari pasar Kutacane.

“Mau kemana de?” tanya si Nenek di sebelahku. “Iya bu, mau ke Berastagi ini habis dari Takengon,” jawabku. “Wah Berastagi ya, itu bule yang lagi tidur temennya?” tanya si Ibu penasaran akan Johannes. Singkatnya, kami tertidur karena kelelahan

20150710_143254
Bis BTN Jaya yang kami tumpangi dari Kutacane menuju Berastagi

Di perbatasan antara Aceh dan Sumatra Utara kami yang sedang tertidur mendadak terbangun. Dua orang berpakaian preman menggeledah semua barang bawaan di bis, tak ada yang luput. Seluruh tas dibongkar, termasuk satu per satu kami digiring untuk diperiksa. Kami masih sangat kebingungan, tak ada satupun dari mereka yang bicara dalam Bahasa Indonesia.

Tak lama, seorang polisi berseragam preman itu meminta KTP ku dan paspor Johannes. Kemudian sikapnya mencair setelah mengetahui kalau aku adalah mahasiswa dari Jogja dan Johannes adalah turis Jerman alumni dari UGM. “Oh dari Jogja, kok bisa jauh banget mas sampai ke Aceh sini, bahaya loh disini,” ucapnya. “Iya mas, saya menemani temen saya ini keliling Sumatra 30 hari,” jawabku.

Kami dipersilahkan untuk mengemasi kembali ransel dan bawaan lainnya karena tidak terbukti ada barang yang mencurigakan di dalamnya. Tanya demi tanya, ternyata kami baru tahu kalau tiga penumpang yang terdiri dari si Nenek, Anak dan Cucu ternyata menyelundupkan ganja seberat 5 Kilogram. Keseluruhan ganja itu diletakkan di dalam ember yang diatas ditutup sayuran.

Sang Nenek menuturkan kalau ia dibayar Rp 2.000.000,- untuk membawa ganja tersebut dari Blangkejeren hingga Medan, namun ia keburu ditangkap jauh sebelum ia tiba di Medan. Entah hukuman apa yang akan didapatkan nenek itu, namun yang jelas, ia hanyalah orang biasa yang membutuhkan uang untuk hidup, dia bukanlah gembong utama dari sindikat ganja.

Bis kami menjadi lebih akrab setelah diperbolehkan pergi meninggalkan pos polisi. Satu per satu penumpang mulai membicarakan peristiwa tadi. “Gila bener itu si ibu, siang bolong gini bawa ganja!” ucap seorang Bapak di depanku. “Wah, kaget betul saya pak, nampaknya dia masukkan itu ganja juga dalam jilbabnya!” celetuk Pak Sopir sambil merokok.

Pukul 15:00 kami tiba di Berastagi mengakhiri setiap jengkal perjalanan kami di Aceh. Kami bersyukur karena perjalanan kami di Aceh ditutup dengan peristiwa yang sungguh menantang. Kami membayangkan, jika si ibu bermaksud jahat bisa saja ia menyelipkan sejumput ganja ke dalam kantong celanaku saat tidur, namun syukurlah ia tidak melakukannya.

Itulah setitik cerita tentang Aceh Tenggara, tentu kisah ini tidak bisa menjadi definisi umum dari Aceh secara luas. Tapi, apa yang kami alami adalah potret dari kehidupan Aceh Tenggara yang terlilit kemiskinan hingga beberapa warga nekat mencari jalan pintas dengan resiko yang tinggi.

Karena isu ganja yang tinggi, oleh karena itu setiap kendaraan yang akan berpindah dari Aceh Tenggara menuju Sumatra Utara akan diberhentikan dan diperiksa untuk mencegah ada ganja yang diselundupkan ke Sumatra Utara.

20150710_124018
Selfie dulu setelah meninggalkan Aceh

Gunung Leuser, Surganya Pulau Sumatra

Gunung Leuser ibarat perawan yang masih terjaga. Sungai Bahorok mengalir jernih, nyaris menyerupai air galonan yang dijual di perkotaan. Sore itu di bulan Juni 2015 tidak banyak wisatawan menghabiskan waktu di Bukit Lawang. Terlihat beberapa bule sedang asik melakukan tubbing, aktivitas bersantai menggunakan ban raksasa mengikuti arus sungai. Sedangkan beberapa turis lokal asyik dengan tongkat selfienya mengabadikan moment-moment berharga di alam terbuka.

Tubuh kami cukup lelah setelah menempuh perjalanan dari Medan ke Bukit Lawang. Lelah secara fisik, juga pusing secara pikiran. Kami menghitung persediaan uang yang tersisa, jangan sampai pengeluaran kami bengkak padahal masih ada puluhan hari ke depan yang harus dijalani di Sumatra ini. “So, what should we do tomorrow, Jo?” tanyaku pada Johannes. Sambil nyeruput kopi, kami mempertimbangkan segala kemungkinan, mulai dari uang hingga cuaca.

IMG_2888
Sungai Bahorok, Bukit Lawang, Sumatra Utara, Indonesia

Pilihan kami jatuh pada Trekking. Ya, Trekking! Sebuah perjalanan semi mendaki, mengelilingi Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) selama dua hari satu malam. Waw, imajinasiku menjalar kemana-mana. Bagiku yang lahir dan besar di kota, trekking palingan sekedar jalan kaki di Taman Hutan Raya Juanda di Dago, Bandung, ataupun palingan seperti hiking di wilayah Lembang. Tanpa pikir panjang, kami sepakat untuk melakukan trekking. 

Biaya trekking di Bukit Lawang tergolong mahal karena umumnya hanya wisatawan asing yang melakukan trekking. Kebanyakan turis lokal hanya bermain-main di sekitaran sungai saja tanpa berniat melakukan trekking ke jantung hutan. Kami membayar sekitar US$ 70 per orang kepada pengelola setempat. Berhubung aku juga orang Indonesia, maka terjadi tawar menawar. Kami mendapatkan potongan, sehingga kami berdua cukup membayar Rp 1.500.000,-.

IMG_2905
Seorang turis asing menikmati tubbing sendirian

Segala peraturan administrasi sudah kami lakukan, sekarang saatnya bengong menunggu Minggu pagi untuk berangkat. Tidak ada persiapan khusus yang aku lakukan akibat imajinasi bodoh yang ada di pikiran sebagai anak kota. Sedangkan si Johannes, tentu dia merasa baik-baik saja, namanya juga bule, sudah terbiasa manjat pohon bahkan terakhir kali dia sudah berhasil menaklukan Annapura, sebuah puncak di bawah Everest.

 

Minggu pagi pukul 08:00 perut kami diisi dengan sepiring pancake, juga ransel kami diisi dengan dua botol air ukuran 1,5 liter. Perjalanan kami seharusnya dimulai pukul 08:00 tapi terlambat hingga 09:30 akibat dua turis Rusia yang agak nyeleneh dan suka terlambat. Sebelum berangkat, kami dibagi kedalam tim yang terdiri dari aku, kawanku yang bernama Johannes dari Jerman, Annette Naber dari Belanda, dan sepasang ayah dan anak dari Rusia bernama Alex, sedangkan aku lupa nama anaknya. Tim kami didampingi oleh dua orang guide lokal.

IMG_2953
Si Bule Rusia memberi makan Orang Utan

Etape pertama dilakukan dengan menyusuri sungai sejauh 200 meter. Di sini aku merasa selow, imajinasiku tidak berbohong kalau trekking itu sejenis dengan hiking di Bandung. Selesai etape I, kami meninggalkan sungai dan mulai merangsek masuk ke lebatnya belantara Gunung Leuseur. Imajinasiku hancur lebur seketika. Tak ada jalan setapak yang mulus ataupun landai. Kami harus memanjat  di tanah yang basah dan licin.

Lima menit pertama memasuki etape kedua, aku langsung lemas tak berdaya. Nafas tersengal-sengal seperti mau meninggal dan muka memerah bagai tomat kebakaran. Sontak tim kami semua terhenti menanyakan apakah aku kuat atau tidak. Uniknya, para bule yang berada dalam timku sama sekali tidak mengasihani. “Come on! Just calm down, relax, and you can do it, yes we can do it together, we can walk slowly for you!” ucap Johannes menyemangatiku.

Oke, satu sisi aku tersemangati tapi di sisi lain terasa ditelanjangi. Bagaimana tidak, aku yang lahir dan besar di Indonesia yang konon katanya memiliki hutan hujan tropis terluas kedua setelah Brazil harus ngos-ngosan dan nyaris tewas ketimbang para Bule yang makan tempe saja belum pernah. Tapi, ya sudah, kita simpan dulu rasa malu itu karena masih ada 8 jam yang harus dilalui.

Mujizat dari langit, walaupun hampir pingsan tetapi aku tetap kuat berjalan. Menjelang pukul 10:00 kami berhenti selama hampir satu jam karena ada orang utan yang kebetulan melintas. Para bule terpesona, lebih terpesona daripada aku melihat seorang Julia Perez. Mereka takjub akan primata bernama orang utan. Sontak orang utan itu bagaikan artis, difoto dari berbagai sisi dan gaya oleh para bule. 

Sementara bule-bule berfoto, aku bengong, minum air dan berdoa memohon kekuatan ilahi supaya tidak pingsan, atau setidaknya bisa berjalan walau lebih lambat dari siput. Menjelang tengah hari, kami beristirahat dengan membuka perbekalan ala tarzan. Yaa, makan siang kami berupa buah-buahan tropis yang dipetik dari hutan. Markisa, pisang, mangga, jambu dan nanas jadi penganan ternikmat siang itu.

Namun, ketenangan siang hari itu harus berakhir ketika ada seorang Orang Utan yang aku lupa namanya datang. Guide kami bilang kalau orang utan itu pernah mengalami trauma sehingga dia antipati terhadap kehadiran manusia, dan ia pun menjadi ganas. Kami pun berlari seolah dikejar maling, sementara guide kami berusaha mengecoh si orang utan itu.

IMG_2979
Belantara Gunung Leuser, kanopi hijau terbesar di Sumatra

Lepas dari jerat orang utan, kami beristirahat kembali dan bertemu dengan serombongan tim lain dari Spanyol. Gila, tim Spanyol ini berisikan satu keluarga. Ayah dan ibu yang sudah lumayan tua, kira-kira umur 40an dan seorang anak berumur 10 tahun. Tangguh sekali mereka ini pikirku, dan kembali perasaanku ciut karena aku berfisik lemah.

Tak terasa perjalanan kami membelah hutan sudah memasuki pukul 17:30 dan kami hampir tiba di basecamp. Namun, derita belum berakhir karena etape terakhir ini bisa dikatakan yang terburuk daripada mimpi buruk manapun. Jalanan menurun nyaris 90 derajat, tanah basah dan licin. Aku bergidik, menelan ludah dan ingin pulang saja ke Jogja, tapi itu suatu kebodohan. Johannes dari belakang berteriak, “Come on! We almost reach our destination! Let me carry your backpack!” ucapnya. Dia membawakan ranselku dan itu sangat membantu. Kaki pun bergetar, aku turun tidak dengan kaki tapi dengan pantat alias ngesot. Mau bagaimana lagi ketimbang jatuh berguling-guling lalu hilang dari sejarah hidup, lebih baik ngesot dengan pantat memar asal selamat.

IMG_2966
Basecamp sederhana di jantung belantara Gunung Leuser

Selama satu jam perjuangan dan kami tinggal menyeberang sungai. Perjalanan terakhir ini seolah mengantarkanku ke surga yang sebenarnya. Basecamp sederhana yang hanya terbuat dari plastik seolah jauh lebih mewah dari hotel berbintang. Tiba di basecamp, tandanya penderitaanku berakhir.

Namun, lagi-lagi penderitaan itu memang lama untuk berakhir. Setelah menyantap indomie rebus sambil ditemani keheningan hutan, giliran badanku yang mulai error. Sekujur persendian nyeri luar biasa, ditambah lagi pantat yang memar-memar. Tanpa balsem ataupun pijat-pijat, aku cuma termenung di depan api unggun mensyukuri atas nikmat hidup yang masih bisa dirasakan.

IMG_3010
Senja di belantara Sumatra. Tanpa listrik dan sinyal. Damainya tiada terkira

Singkatnya, perjalanan trekking kali ini mengubahkan paradigmaku atas gunung secara selamanya. Alam bukan untuk ditaklukan, tapi untuk menikmatinya diperlukan skill dan juga semangat. Salutnya, melihat fisikku yang lemah, para bule tidak mencela tetapi menyemangati untuk tetap kuat hingga garis akhir.

Malamnya, tim kami tertidur dengan lelap. Ditemani bintang yang cerah, suara gemuruh sungai dan aroma khas belantara membuat tidur kami nyenyak, tak peduli ratusan nyamuk yang mengerubungi.

Hari kedua, jam-jam terakhir kami di jantung belantara. Melihat kondisiku yang bagaikan mayat hidup, para bule berbesar hati untuk tidak menempuh jalan pulang via trekking. Puji Tuhan Alhamdullilah, kami pun memilih untuk tubbing , alias pulang naik ban di atas sungai. Namun, kami dikenakan biaya tambahan sebesar Rp 100.000,- tapi itu bukan masalah bagi para bule.

Pukul 09:00 seluruh barang dikemas, dimasukkan ke dalam plastik super besar. Ban-ban disusun, diikat dengan tali menyerupai kereta perahu. Tepat pukul 10:00 perjalanan tubbing pun dimulai. Awalnya menyeramkan, tapi tubbing ini jauh lebih menyenangkan ketimbang arung jeram di Dufan ataupun tubbing di Gunung Kidul. Tubbing di Bukit Lawang memakan waktu total 120 menit, lumayan lama. Melewati puluhan jeram, kami pun berteriak puas.

IMG_2986
Ban Raksasa yang siap mengantar kami pulang

Waktu dua jam bukan waktu yang lama, tak terasa kami sudah tiba di perhentian akhir. Gila, dengan tubbing hanya butuh waktu dua jam, sedangkan trekking butuh waktu hampir 12 jam berjalan kaki dengan resiko tewas masuk jurang.

Syukur tiada tara, aku bisa tiba kembali di penginapan Bukit Lawang. Ada secuil rasa bangga karena bisa menikmati gunung Leuser dengan mata kepala sendiri. Dan juga, ada perasaan untuk pantang menyerah lebih lagi.

Perjalanan kami di TNGL hampir usai seiring dengan trekking yang berhasil kami lalui. Hari sudah menunjukkan Senin, 29 Juni 2015. Kami memiliki waktu satu hari tersisa menikmati Bukit Lawang sebelum melanjutkan perjalan ke utara, Nanggroe Aceh Darussalam!

IMG_3023
Kepulangan kami dirayakan dengan nanas segar seharga Rp 6.000,-

NB: 

Orang Indonesia harus mampir ke Bukit Lawang, untuk berkenalan langsung dengan saudara kita, primata Orang Utan.