Berastagi, Kota Singgah Backpacker Kelas Dunia

Hampir lima puluh jam perjalanan kami membelah pegunungan tengah Aceh. Tiba di Berastagi seolah melupakan penatnya badan dari perjalanan panjang. Pusat kota Berastagi begitu sejuk, ditambah semerbak aroma makanan dari pedagang kaki lima juga puncak Sibayak yang menjulang menjadi magnet kota kecil ini. Walaupun kecil, Berastagi jadi tempat persinggahan bagi para backpacker yang hendak melakukan perjalanan ke utara menuju Aceh ataupun ke selatan menuju Toba.

Bagi kami Berastagi adalah kebahagiaan. Sebelumnya, selama di Aceh tidak memungkinkan bagi kami untuk membeli makan siang mengingat hukum Syariat di Aceh mengakibatkan tak adanya penjual makanan di siang hari. Namun, di Berastagi kami bisa kembali bersantap siang namun dengan tetap menghormati saudara-saudara Muslim yang beribadah puasa.

Penginapan kelas Backpacker 

Berastagi umumnya dipadati wisatawan lokal dari Medan setiap akhir pekan. Kota kecil ini memiliki udara sejuk karena berada di lereng antara Sibayak dan Sinabung. Jika hari sedang cerah kita dapat melihat kedua gunung ini secara jelas. Selain udaranya, Berastagi juga memiliki kolam rendam air panas yang nyaman serta murah yang dapat dicapai sekitar 1 jam dari pusat kota.

Tak hanya turis lokal yang betah untuk tinggal di Berastagi, backpacker lintas benua pun merasa nyaman menetap di Berastagi. Kami menginap di sebuah homestay atau tepatnya hostel khusus untuk backpacker bernama Wisma Sibayak. Penginapan ini cukup murah untuk pejalan berkantong tipis karena hanya dipatok harga Rp 80.000,- per malam untuk satu kamar.

Penginapan ini dikelola oleh sebuah keluarga dan terkenal lantaran namanya tercantum dalam Lonely Planet sebuah travel guide paling laris di dunia. Untungnya kami pun mendapatkan rekomendasi Wisma Sibayak dari Lonely Planet. Ketika kami bermalam di Wisma Sibayak semua tamu disana adalah bule, kecuali saya sendiri orang Indonesia yang tersesat.

Hari pertama di Berastagi kami habiskan dengan beristirahat sejenak. “Dari mana dek, berdua saja sama kawan bulenya?” tanya ibu pemilik penginapan. “Iya bu, saya dari Jogja dan ini sedang keliling Sumatra sama rekan dari Jerman.” sahutku. Entah mengapa, status sebagai mahasiswa Jogja selalu memberikan kesan positif selama perjalanan di Sumatra ini, untuk itulah aku merasa bersyukur sekali.

Ibu pemilik penginapan ini memiliki segudang peta untuk dibagikan kepada setiap tamunya. Ia menjelaskan dengan detail tempat-tempat maupun kuliner yang wajib dikunjungi selama di Berastagi. Saking detailnya, ia pun menjelaskan rute angkot hingga tarif yang harus dibayar per sekali jalan.

IMG_3446
Sinabung terlihat jelas dari Sibayak

Pendakian Puncak Sibayak

Baiklah, setelah informasi yang didapat cukup kami menata rencana untuk dilakukan besok. Pendakian ke Sibayak kami pilih sebagai bagian dari petualangan di Berastagi. Berangkat pukul 08:00 dari penginapan, kami menaiki angkot bertuliskan “CV.KAMA” dan membayar Rp 4.000,- per orang hingga di muka gerbang retribusi Sibayak. Setiap pendaki diwajibkan menuliskan nama mereka terlebih dahulu di pos sebelum memulai pendakian. Tak lupa kami juga membeli dua botol air minum sebagai perbekalan.

Ibu di penginapan bilang kalau pendakian membutuhkan waktu sekitar tiga hingga empat jam berjalan kaki dengan medan yang tak begitu sulit. Baru saja memulai pendakian kami bertemu dengan bapak-bapak pekerja kebun. Mereka meneriaki kami dan meminta air minum. Hmmm, kalau kami beri maka kami harus berhemat air, sedangkan jika tidak diberi ya kasihan. Oke, kami pun merelakan satu botol air untuk mereka.

Dengan perasaan lega kami kembali berjalanan. Jalan menuju puncak di etape awal ini masih jalan beraspal namun naik-turun dan terkadang ada monyet-monyet yang mengikuti. Lambat laun nafas mulai tersengal-sengal sekalipun jalanan masih beraspal. Kami tetap semangat mendaki karena sayang sekali sudah jauh-jauh ke Berastagi kalau tidak sampai ke Puncak Sibayak.

Gunung Sibayak sendiri adalah gunung berapi aktif setinggi +/- 2.300 meter yang bertetangga dengan Gunung Sinabung. Sibayak relatif lebih tenang ketimbang Sinabung yang sering erupsi. Dari kestabilannya, Sibayak dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik tenaga Geothermal, juga sebagai wisata air panas.

Setelah berjalan sekitar dua jam, jalan aspal pun semakin rusak dan menanjak. Sebenarnya tidak ada tantangan berarti ketika mendaki di trek aspal, hanya nafas saja yang tersengal-sengal. Untungnya dua minggu lalu kami sudah trekking di Gunung Leuser jadi pendakian Sibayak tidak terlalu menyulitkan.

IMG_3480
Trek Pendakian Sibayak

Sesekali ada mobil melintas menawarkan angkutan hingga ke pos atas, namun jalanan rusak dan kami memutuskan berjalan saja. Di pos atas pendakian akan mulai memasuki bibir kawah. Jalanan yang semula aspal berganti ke jalanan berbatu. Pendakian dari titik ini memakan waktu sekitar 1 jam tergantung dari kecepatan berjalan.

Kawah Sibayak jika dilihat sekilas menyerupai dataran tinggi Dieng, namun posisinya lebih tinggi. Berjalan lebih jauh mendaki punggung kawah kami disuguhi pemandangan menakjubkan. Duduk di ketinggian 2.300 meter di atas permukaan laut membuat awan serasa begitu dekat untuk digapai. Angin semilir dingin, suara hembusan gas belerang dan pemandangan langit biru semua tersuguh di hadapan kami.

IMG_3459
Menyetuh awan 

Gunung Sinabung yang sedang batuk pun terlihat jelas, hanya sayang kerucutnya terutup kabut tebal. Keindahan Sibayak yang medan pendakiannya tak terlalu sulit ini ternyata pernah juga memakan korban. Dahulu pernah ada beberapa turis yang tersesat karena mengambil jalan pulang yang lain, mereka pun merangsek masuk ke hutan dan kehilangan arah.

Untuk mencari aman kami mengikuti instruksi dari ibu penginapan. Pukul 14:00 kami sudahi perjalanan kami di Sibayak dan beranjak turun. Tiba di pos yang berisi parkiran angkot kami memutuskan naik kendaraan saja supaya bisa mandi air panas sejenak. Waw, pemandian air panas di Sibayak sangat terjangkau. Cukup membayar Rp 3.000,- tersedia beberapa kolam dengan tingkat suhu panas yang berbeda. Berhubung kala itu tidak ada pengunjung, kami bebas menceburkan diri di seluruh kolam yang ada.

Air panas Sibayak mengandung belerang dan berwarna keruh kehijauan. Berbeda dengan air panas di Tangkuban Perahu, Subang yang berwarna bening. Tapi jangan kuatir dengan warnanya karena berendam air panas di tengah hawa dingin pegunungan adalah surga yang nyata.

IMG_3485
Air panas Sibayak, cukup membayar seharga Rp 3.000,- untuk berendam

Wisata Kuliner Berastagi

Puas berendam di air panas Sibayak, wisata kuliner telah menanti. Di sepanjang jalan utama Berastagi tersaji ratusan penjaja kuliner kaki lima yang menggoda. Dari pecel lele Lamongan, sate padang, sate madura hingga chinese food semua tersedia lengkap.

Badan yang lelah dan perut kosong adalah moment sempurna untuk makan sate padang seharga Rp 12.000,- per porsi. Namun disela-sela makan kami harus terganggu dengan kehadiran 12 orang turis Australia yang tiba-tiba memenuhi tenda. Celakanya, tak ada satupun mereka yang bisa berbahasa Indonesia.

Aku membantu keduabelas turis tersebut dengan menerjemahkan apa itu sate padang dan juga membantu mereka memesan makanan. “Wah mas, asik ya bisa bahasa Inggris kayak gitu, pasti dibayar mahal ya mas,” ucap wanita di sebelahku.”Wah, nggak mbak, ini belajar sendiri kok dan gak dibayar, saya bukan tour guide,” jawabku.

Puluhan turis-turis asing larut dalam kenikmatan kuliner Berastagi. Walaupun mereka tidak bisa berbahasa Indonesia namun dari raut wajah mereka terlihat senyum bahagia dan menikmati kuliner Indonesia. Untungnya pedagang kaki lima di Berastagi tidak nakal, mereka tidak menaikkan harga makanannya sekalipun konsumennya bule. 

Bukit Gundaling

Selain wisata kuliner dan Sibayak, bagi wisatawan yang tak mau berjalan terlalu jauh dapat menikmati panorama Berastagi dari Bukit Gundaling. Jika naik angkot cukup membayar Rp 2.000,- jika berjalan kaki cukup menempuh sekitar 1 jam. Sebagai backpacker miskin kami memilih berjalan kaki, selain berolahraga tentu menghemat duit. 

IMG_3493
Panorama Berastagi dari bukit Gundaling

Bukit Gundaling sendiri adalah bukit yang tak terlalu tinggi, namun memiliki posisi yang pas untuk menonton panorama SInabung. Sayang, seribu sayang di beberapa bagian bukit tidak terawat. Sampah menumpuk dan terlihat beberapa pasangan muda berpacaran tanpa menghiraukan pengunjung lainnya.

Baiklah, kita lupakan pasangan pacaran itu dan berfokus pada Sinabung. Sambil menikmati panorama, pengunjung bisa juga membeli teh dan kopi panas dari pedagang asongan ataupun dari warung-warung semi permanen yang tesebar di sekitaran bukit.

 

Perjalanan kami di Berastagi harus kami sudahi pada 15 Juli 2015. Perjalanan dilanjutkan menuju Toba melewati Kabanjahe.

20150713_105900
PO Sepadan. Kembali lagi ke jalanan

 

Iklan

Menapaki Jejak Tsunami di Banda Aceh

Sebelas tahun setelah diterjang gelombang mahadahsyat Tsunami, Banda Aceh kini telah berbenah diri. Deretan bangunan berdiri kokoh di sepanjang jalanan utama seolah bencana itu tak pernah terjadi. Namun dari balik geliat kota yang telah bangkit menata diri ini masih tersimpan saksi bisu yang menjadi bukti dari sebuah bencana dahsyat di bulan Desember 2004.

Beberapa hari sebelumnya perjalanan kami telah singgah di Banda Aceh selama beberapa jam. Kini, selepas dari Pulau Weh kami pun kembali ke Banda Aceh untuk melakukan perjalanan napak tilas bencana Tsunami. Kami tiba di pelabuhan Ulee-Lheue pada Selasa, 6 Juli 2015 dan berencana hanya singgah selama satu malam saja di Banda Aceh. Mas Tri sudah menanti kami di depan gerbang pelabuhan dengan mobil Colt L-300nya.

IMG_3305
kediaman mas Tri di Ulee-Lheue

Kala itu Banda Aceh cukup sejuk selepas diguyur hujan deras, namun dengan segera mendung pun sirna digantikan matahari yang menyengat. Masih dalam suasana Ramadhan, kami diajak singgah kembali di kediaman Mas Tri untuk menyantap sarapan sekaligus makan siang. Karena waktu sudah pukul 11:00 tidak memungkinkan bagi kami untuk pergi mencari makan di Pasar Peunayong.

Mas Tri bersama istrinya, Yuliana menyediakan penganan sederhana dan dilengkapi dengan kopi Aceh, nikmat sekali rasanya. Sambil menyantap makan siang, kami mendengarkan penuturan Mas Tri dan istrinya tentang apa yang menyebabkan mereka bisa memutuskan untuk tinggal di Aceh. Singkatnya, bagi mereka Aceh adalah suatu panggilan hidup, lebih dari sekedar mimpi.

20150706_103948
Cemilan di siang bolong yang panas

Sebagai pendatang, awalnya mereka mendapati penolakan karena berbagai hal. Namun, warga lambat laun menerima bahkan menyambut baik kehadiran mereka karena Mas Tri dan keluarganya tidak pernah melakukan hal buruk di masyarakat. “Ya, awalnya ada penolakan, tapi lama-lama semua bisa menerima kami, bahkan sekarang ibu-ibu kalau mau minta air langsung masuk ke dalam rumah tanpa sungkan lagi,” jelas Yuliana.

Mas Tri mengelola sebuah koperasi simpan pinjam yang dinaungi oleh Yayasan Rebana. Koperasi ini memberikan kredit ringan kepada warga sekitar Ulee-Lheue untuk mengembangkan usaha mereka. Uniknya, kebanyakan anggota koperasi adalah perempuan. Mengapa perempuan? Karena jika uang diserahkan ke bapak-bapak biasanya akan habis untuk ngopi .

Dari koperasi inilah warga sekitar Ulee-Lheue yang merupakan wilayah terparah dampak tsunami ini mulai menata hidup. Warga belajar membiasakan diri untuk mengelola uang secara bijak, mengingat uang dari koperasi pada dasarnya adalah pinjaman, bukan hibah. Pasca tsunami memang banyak sekali bantuan berdatangan, dan hal itu membuat warga sulit membedakan mana hibah dengan pinjaman.

Beberapa tetangga Mas Tri ada yang mengembangkan usaha warung kopi, toko kelontong dan juga bengkel motor dari pinjaman koperasi. Atas dasar itulah warga menganggap kehadiran Mas Tri sebagai seorang yang memiliki niatan tulus untuk menolong.

IMG_3308
Kami berfoto dengan Mas Tri sekeluarga

Waktu telah menunjukkan pukul 12:00 dan kami pun bergegas pergi ke Museum Tsunami Banda Aceh. Mas Tri mengantarkan kami di pelataran Museum kemudian meninggalkan kami karena ada pekerjaan lain yang harus ia lakukan. Di Museum Tsunami ini tidak dikenakan tiket masuk, namun museum hanya buka hingga pukul 15:30.

IMG_3324
Diorama yang menggambarkan ketika warga menghindari gelombang Tsunami

Museum Tsunami dibangun dengan arsitektur yang luar biasa indah dan megah. Di dalamnya terdapat diorama mengenai perjuangan rakyat Aceh pra-kemerdekaan, GAM, juga detik-detik serta pasca tsunami. Pengelola museum juga menyediakan ruangan audio-visual untuk pengunjung dapat menonton video Tsunami Aceh. Di bagian bawah museum terdapat sebuah lobby yang di langit-langitnya tergantung banyak bendera negara-negara yang turut membantu proses revitalisasi Aceh dari bencana tsunami.

IMG_3328
Museum Tsunami Aceh

Selepas dari museum kami menyambangi monumen PLTD Apung. Monumen ini sejatinya adalah kapal pembangkit listrik asli yang pada Minggu, 26 Desember 2004 pagi bersandar di tepi pantai. Kala itu gelombang tsunami menerjang dengan dahsyatnya dan menghanyutkan kapal raksasa ini ke tengah kota. Seusai gelombang surut kapal itu pun terdampat dan tidak memungkinkan dikembalikan ke laut. Kini, kapal itu difungsikan sebagai monumen dari peristiwa tsunami.

IMG_3337
PLTD Apung yang terdampar di tengah kota

Selain PLTD Apung yang terdampar, ada juga perahu nelayan yang tersangkut di atap perkampungan. Berdasarkan penuturan Mas Tri, perahu yang tersangkut itu telah menyelamatkna 36 warga perkampungan. Ketika gelombang tsunami datang dan mulai meninggi, ke-36 warga itu seolah dijemput oleh kapal nelayan yang hanyut. Mereka lalu naik ke atas kapal dan terselamatkan nyawanya. Kini kapal itu pun dijadikan monumen di tengah perkampungan warga.

IMG_3311
Kapal Nelayan yang tersangkut di pemukiman warga

Seusai berjalan kaki mengelilingi Banda Aceh, kami mencari penginapan di kawasan Pasar Peunayong. Kami tidak dapat bermalam di kediaman mas Tri karena tidak tersedia ruangan yang cukup dan itu tidak jadi masalah karena mas Tri sudah begitu baik membantu kami. Penginapan di Pasar Peunayong ini sangat strategis karena lokasinya dekat dengan Masjid Raya Baiturrahman, ikon legendaris dari Bumi  Serambi Mekah.

Malam harinya aktivitas kami hanyalah wisata kuliner. Jika diperhatikan harga makanan di Banda Aceh ini lebih murah daripada di Medan berdasarkan pengalaman kami. Juga, soal rasa tidak kalah dengan kuliner lain terutama rasa dari Mie Aceh.

Kawasan Peunayong ketika malam berubah menjadi deretan kaki lima ping

IMG_3350
Kawasan Kuliner Peunayong, Banda Aceh

giran jalan lengkap dengan lampu-lampu yang menghiasi gerobak mereka. Berbagai penganan tersedia, mulai dari Mie Aceh hingga sate padang dan chinese food semua ada juga dengan harga yang terjangkau. Karena persediaan uang yang seadanya kami pun hanya menyantap nasi goreng seharga Rp 10.000,- per porsi.

Aktivitas kami di Banda Aceh diakhiri sampai Pasar Peunayon saja. Keesokan harinya kami harus menempuh perjalanan panjang menuju Takengon, sebuah kota yang terletak di dataran tinggi Gayo yang terkenal dengan aroma kopinya yang khas.