Dari Perbukitan Menoreh, Kami Belajar Arti Hidup

Jam telah menyentuh pukul satu dini hari. Delapan anak tergopoh-gopoh memasuki rumah seraya kedinginan, kelaparan, dan kelelahan akibat hujan-hujanan di lapangan kecamatan. Simbah yang telah tertidur jadi terbangun. Tak tega melihat kedelapan anaknya kedinginan, ia pun melupakan kantuknya, bergegas ke dapur, membuat perapian, dan memasak mie rebus untuk kami berdelapan.

Continue reading “Dari Perbukitan Menoreh, Kami Belajar Arti Hidup”

Aku Tidak Pernah Memilih untuk Jadi Penulis, Tapi Inilah Pekerjaanku Sekarang

karier

Pandanganku terarah kepada sebuah layar gadget berukuran 5 inchi di depanku, sementara itu jari-jariku mengusap-usap layar itu bolak-balik seperti sebuah setrikaan. Sejujurnya aku tidak tahu hendak berbuat apa ketika teman-temanku mulai bercerita panjang lebar tentang masalah-masalah yang mereka hadapi di pekerjaan  masing-masing.

Aku dan teman-temanku menuntaskan studi di pendidikan tinggi pada tahun 2016 dan berganti status dari seorang mahasiswa menjadi “pengangguran sementara” sampai mendapatkan pekerjaan tetap. Usia pekerjaan kami barulah seumur jagung, jadi wajar ketika kami masih harus melakukan banyak penyesuaian diri dengan budaya yang baru—budaya kerja yang bukan lagi budaya mahasiswa.

Kebanyakan teman-temanku bekerja di perusahaan-perusahaan besar dengan deadline yang super padat. Ada yang mendapatkan gaji besar, ada pula yang mendapat pas-pasan. Ada yang begitu menikmati, tak jarang pula ada yang menderita dan ingin segera resign atau berharap dipecat saja. Kisah -kisah itulah yang selalu jadi bumbu pelengkap setiap kami bertemu di manapun.

Sekalipun aku dan teman-temanku sama-sama bekerja, tetapi aku memilih jalur yang agak melenceng. Aku tidak bekerja di sebuah perusahaan terkenal yang menawarkan presitise dan gaji mentereng walau sejujurnya aku pun ingin seperti itu. Tetapi, di suara hatiku yang terdalam, aku memilih untuk mengisi hidupku dengan sesuatu yang berbeda.

Awal mula perjalanan mencari karier

Setelah ujian pendadaran dan aku dinyatakan lulus, aku segera mencari kerja dengan mengikuti aneka macam Job Fair, dari yang virtual sampai datang ke kampus-kampus. Aku merasakan hidupku saat itu mirip seperti serial televisi yang berisi adegan seseorang tengah susah payah melamar kerja. Setumpuk CV bersama berkas lain kubawa.

Ada lima Job Fair yang kuikuti selama tiga bulan itu, tetapi aku tidak pernah sreg untuk mendaftarkan diriku di perusahaan-perusahaan yang terdaftar di sana. Kalaupun aku mendaftar, sebenarnya aku hanya coba-coba supaya bisa mengerti gambaran tentang psikotes dan wawancara kerja itu seperti apa. Satu, dua, tiga, empat hingga berkali-kali mendaftar dan aku pun gagal. Tapi aku tidak kecewa, toh karena aku juga tidak mau bekerja di perusahaan yang kulamar.

Sebetulnya sejak Agustus aku mengetahui ada sebuah lowongan kerja sebagai seorang editor dan penulis di sebuah lembaga pelayanan nirlaba. Aku sama sekali tidak tertarik untuk mengisi lowongan itu, mendengar kata “nirlaba” saja membuatku merinding. “Jika tidak mengejar laba, terus nanti aku digaji pakai apa?” pikirku. Jadi, kusingkirkan opsi untuk melamar ke organisasi itu.

Tapi, saat aku mengabaikan lowongan itu, pikiranku malah selalu membawaku ke situ. Saat aku naik motor, mandi, dan merenung, hati kecilku bicara kuat supaya aku melamar ke tempat itu. Aku masih bergeming dan tetap pada pendirianku untuk mencari perusahaan lain yang lebih bonafide.

Akhir Oktober aku memutuskan untuk pergi sejenak ke sebuah desa tempat temanku tinggal. Maksud hatiku adalah ingin melepaskan pikiran dari rasa stress mencari pekerjaan. Selama beberapa hari kuhabiskan dengan pergi ke pantai dan sawah. Tapi, ibarat nabi Yunus yang dipanggil-panggil oleh Tuhan, suara hatiku untuk mencoba melamar ke organisasi nirlaba itu semakin kuat hingga suatu malam akhirnya aku menyerah.

Saat panggilan itu semakin dekat

Aku meminjam komputer milik temanku dan mencoba menyiapkan aplikasi lamaran yang diperlukan. Tak butuh waktu lama, hanya sekitar sepuluh menit karena ternyata aku sudah membawa flashdisk yang berisikan data-data untuk melamar kerja. Setelah semua tulisan dan surat-surat terkumpul jadi satu dalam email, aku menghela nafas sejenak. “Aku manut deh, Tuhan,” ucapku dalam hati dan kutekan tombol send.

Satu hari tidak ada tanggapan, hari kedua aku menerima sebuah email yang berisikan undangan interview. Aku tidak tahu harus senang atau sedih saat itu, tapi aku mencoba tetap tenang dan mengikuti prosesnya. Waktu itu aku masih tinggal di Jogja jadi wawancara akan dilakukan via Google Hangouts dan menggunakan bahasa Inggris! Sekalipun aku sudah terbiasa bicara dengan bule-bule, tapi hari itu aku gugup, karena wawancara nanti bukan pembicaraan main-main.

Aku pergi mencari warnet dengan koneksi internet yang super cepat karena tidak ingin wawancara nanti terhambat. Saat wawancara dilakukan, aku bertambah gugup karena salah seorang pewawancaraku (yang kelak menjadi atasanku) adalah orang Singapura yang hanya bisa berbahasa Inggris. Enam puluh menit di bilik warnet itu adalah waktu yang paling menegangkan buatku. Setelah wawancara usai, aku merasa lega dan pasrah.

Waktu itu masih tersisa sekitar satu bulan sebelum aku resmi melepas status mahasiswa dan sejujurnya aku khawatir. Aku ingin sekali mendapatkan pekerjaan sebelum aku wisuda supaya tidak membebani orang tuaku yang sudah mengeluarkan biaya banyak sepanjang 22 tahun hidupku. Tapi hari itu belum ada jawaban dari organisasi tempatku melamar kerja.

Saat aku sedang menunggu jawaban itu, sebuah perusahaan media raksasa di Jakarta menelponku dan mengatakan kalau aku lolos psikotes dan harus melakukan wawancara lanjutan di kantornya di Jakarta. Sejujurnya pekerjaan inilah yang aku tunggu-tunggu, tapi entah mengapa hari itu aku tidak ingin bekerja di sana. Aku semakin bulat pada tekadku untuk bekerja di sebuah Non-Profit Organization yang memang sesuai dengan passionku.

Dipanggil menuju Ibukota

Aku ingat betul waktu itu adalah hari Senin ketika aku mengatur teleponku dalam mode silent, sehingga aku tidak tahu kalau ada lima panggilan telepon dari Jakarta. Jam 15:00 aku baru sadar kalau aku ditelpon, dengan panik segera aku menelpon balik dan aku kaget karena organisasi nonprofit tempatku melamar kerja itu memintaku untuk datang besok pagi ke Jakarta.

Dengan segera aku mengiyakan dan bergegas ke stasiun untuk naik kereta malam. Tapi, di luar dugaanku ternyata pihak kantor membelikanku sebuah tiket pesawat untuk ke Jakarta di hari Selasa pagi. Aku malah jadi bingung, antara harus terharu, sedih, atau bahagia. Malam itu aku berlatih wawancara dan menyiapkan portofolio yang perlu kubawa.

Singkatnya aku terbang ke Jakarta dan setibanya di bandara, aku dijemput oleh seorang dari kantor yang kelak menjadi managerku. Aku semakin bingung, kok aku yang pencari kerja malah difasilitasi seperti ini? Sepanjang jalan ke kantor pikiranku bergelora, aku bingung apakah jika diterima aku harus melepas tawaran wawancara di perusahaan besar yang beberapa hari menelponku?

Setelah bertemu dengan project manager dan melakukan wawancara selama beberapa jam, aku diminta untuk menunggu. Kemudian country director memanggilku ke ruangannya. Saat itu aku harus mantap menerima kenyataan. “Kalau diterima, berapapun gajinya akan kuambil”, gumamku dalam hati.

“Selamat ya! Kami memutuskan untuk menerimamu bergabung dengan kami, dan kami senang untuk menyambut anak muda yang memiliki passion kuat menjadi bagian dari pelayanan ini,” ucap sang Ibu direktur. Aku menjabat erat tangannya dan setelah mendengar pemaparannya tentang pekerjaan yang nantinya akan kupegang, aku semakin mantap.

Kububuhkan tanda tanganku di atas surat perjanjian bahwa mulai 1 Desember 2016 aku akan menjadi staff pelayanan dari Our Daily Bread Ministries, sebuah lembaga pelayanan global yang telah berdiri sejak tahun 1938 dan melayani jutaan orang di seluruh dunia dengan berbagai materi yang mengantarkan setiap orang Kristen untuk lebih dekat dengan Tuhan.

Satu bulan setelah itu petualanganku berganti. Dulu aku bertualang dengan menjelajah pulau-pulau, melihat laut dan gunung, tapi kini petualanganku menjadi sebuah penjelajahan dalam dunia maya. Aku bekerja sebagai seorang content developer yang bertugas menulis, mengedit, dan mengisi situs website dengan konten-konten yang menarik. Petualanganku telah berganti, tetapi visi dan misi hidupku tetaplah sama.

Setelah tiga bulan bekerja…..

Tiga bulan telah kulalui dan kini aku menjadi bagian dari jutaan warga Jakarta. Tentu ada suka duka yang kualami, ada proses adaptasi yang harus kulakukan, dan hingga kini pun aku masih belajar banyak hal-hal baru.

Tim kerjaku terdiri dari beberapa orang content-developer yang berlokasi di Tiongkok, Singapura, dan Malaysia. Jadi setiap dua minggu sekali kami melakukan rapat online. Sebagai content-developer Indonesia, aku bertanggung jawab untuk mengisi konten-konten artikel dalam bahasa Indonesia, menerjemahkannya ke bahasa Inggris atau juga sebaliknya.

Satu hal paling berharga yang aku pelajari adalah tentang kecukupan hidup. Ketika dunia mengajarkanku untuk mengejar kelimpahan, Tuhan mengajariku untuk mengejar kecukupan. Sebab, di dalam kecukupanlah aku bisa merasa puas dan bersyukur.

Pekerjaan yang kulakukan ini bukanlah persoalanku menyambung hidup dan membahagiakan orang tua lewat gaji yang kuterima semata. Tetapi,lebih dari itu, pekerjaan ini mengajariku untuk hidup dengan tulus. Ketika aku melihat ke atas, ke orang yang lebih “sukses” tentu aku akan minder, tetapi ketika aku mampu mengucap syukur atas keadaanku sekarang, di situlah aku sedang belajar untuk hidup dalam kedamaian.

Aku percaya bahwa tanggung jawab demi tanggung jawab akan Tuhan berikan tepat pada waktu-Nya. Dan hari ini, ketika Dia memintaku untuk melayani-Nya sebagai seorang penulis, itu bukan tawaran sembarangan. Kelak, kemana Dia menuntunku pergi, ke sana pulalah aku kan menuju.

*aku masih tetap jadi bolang, alias si bocah ilang yang selalu keluyuran setiap akhir pekan 

Banyak Jalan, Banyak Cerita – Jalancerita.com

Aryanto Wijaya
Aryanto Wijaya

Baca Juga:

Petualanganku Menjadi Seorang Content Developer

Tidak terasa, tepat hari ini satu bulan telah berlalu sejak hari pertamaku kerja dimulai. Berpindah kota dari Jogja ke Jakarta bukanlah perkara yang mudah, aku butuh berminggu-minggu untuk melarutkan diriku bersama dengan ritme kota khas metropolitan. Aku memang pernah terpikir untuk kerja di Jakarta saat masih mahasiswa dulu, tapi tak pernah membayangkan juga kalau itu akan jadi kenyataan.

Habis Lulus: Kampus cuma Inkubator, Bukan Kenyataan

Awal September lalu, statusku sebagai mahasiswa dinyatakan selesai seiring dengan sidang skripsi yang dinyatakan lulus. Rasa senang atas lulus ini turut dimeriahkan dengan kehadiran teman-teman yang memberi selamat, bunga, boneka lulus, surat, jabat tangan juga foto-foto. Tapi, beberapa jam setelah rasa sukacita itu, timbul pertanyaan, “mau kemana, terus ngapain udah ini?”

Pertanyaan itu terus menggantung, namun kusingkirkan sejenak. “Fokus revisi skripsi dulu deh,” pikirku. Seusai revisi, praktis aku kehilangan kesibukan utama sebagai mahasiswa, sekalipun ada pekerjaan part time , tapi rasanya kini jadi berbeda. Fokus pikiran kini bercabang dan menjalar dalam gelap. Satu sisi memikirkan pekerjaan, passion, masa depan, jodoh dan banyak lainnya. Satu hal yang paling mengganjal adalah karir.

Ketika membuka situs lowongan kerja, scrolling dari atas ke bawah, kenyataan mulai berbicara. Pasar dunia tidak terlalu butuh idealisme, mereka lebih membutuhkan pekerja. Terlepas dari segala idealisme yang didapatkan selama di kelas, dunia industri membutuhkan sekedar tenaga untuk menjalankan rodanya.

Baiklah, karena akupun butuh makan lewat penghasilan, maka statusku bergerak menjadi Jobseeker. Bergabung dengan komunitas Jobseeker lainnya dari Jogja yang jumlahnya ratusan membuatku cukup mengernyit. “Apa iya dari segini banyak bakal diterima kerja semua?” 

Petualangan pertama sebagai Jobseeker dimulai dari cari-cari lowongan lewat online. Hasilnya ada ribuan lowongan, tapi hanya sedikit yang sreg di hati karena kebanyakan lowongan menawarkan posisi sebagai sales atau marketing. Petualangan kedua adalah menjadi pengembara di kampus orang. Setiap kali ada event Jobfair, maka disitu Jobseeker akan berada. Memanggul ransel berisi puluhan CV, mengantre bersama ribuan orang lainnya demi melamar pekerjaan yang belum tentu diminati.

Petualangan masih berlanjut, jika perusahaan menerima CV, maka tahap selanjutnya adalah Psikotest. Dan, inilah tahap yang cukup menguras otak dan tenaga. Hampir setiap hari aku mengikuti piskotest dan rasanya sulit. Bagaimana tidak, di kampus selama kuliah jurusan Komunikasi hampir tidak pernah ada hitung-hitungan. Ketika psikotes dihadapkan dengan soal-soal matematika dasar seketika otak shock dan berhenti bekerja.

Tak menyerah di situ, gagal di satu perusahaan bukan berarti dunia runtuh. Belajar sedikit lewat internet, kemudian psikotes lagi di perusahaan lainnya, dan siklus itu berulang. Aku sendiri masih tidak tahu di psikotes ke berapa aku akan lulus, tapi yang terpenting adalah tetap belajar dan tidak menyerah.

Lewat serangkaian tes-tes perusahaan tersebut, aku menyadari kalau empat tahunku di kuliah bukanlah sebuah kenyataan, melainkan pra-kenyataan. Tepatnya, kampus adalah sebuah inkubator sebelum kita “dilahirkan” secara sempurna ke kenyataan. Memang sekarang trendnya adalah lulus cari kerja, tapi banyak pula yang berupaya membuka wirausaha. Aku pun sebenarnya ingin begitu, tapi karena berwirausaha butuh modal maka kuputuskan untuk mencari pekerjaan dulu sebagai langkah menambah ilmu, pengalaman juga modal uang kelak.

Lantas, apakah kuliah di kampus tidak bermanfaat? Tentu ada manfaatnya! Nilai-nilai akademik tidak terlalu menjadi indikator utama keberhasilan seseorang. IPK tinggi belum jadi jaminan langsung diterima kerja. Aktif organisasi bukan berarti lebih mudah mendapatkan pekerjaan. Alurnya sama, setiap fresh graduate yang akan bekerja akan melewati seleksi administrasi, psikotes dan lainnya. Baik itu si kutu buku, kuper, aktivis, tukang tidur, sosialita, semua akan memasuki tahapan yang sama.

Realita tidak terlalu peduli dengan latar belakang kita, sepanjang kita bisa survive. Pengalaman berkuliah empat tahun di kampus semata-mata bukan untuk mendapatkan nilai akademik semata. Aku belajar untuk tidak pahit hati dan menyerah saat gagal ketika berharap dapat nilai A tapi malah C. Aku belajar memahami karakter orang lain ketika bekerja kelompok. Aku belajar arti menunggu dari dosen pembimbing skripsi yang kadang menghilang. Aku belajar apa arti berjuang karena orang tua yang bekerja mati-matian untuk membiayai kuliah. Juga, aku belajar kalau hidup sekali lagi adalah proses dan takdir. Jika takdirku sekarang terlahir biasa saja, maka aku harus berproses menjadi lebih dari biasa, untuk bisa menolong orang-orang lain yang hidupnya lebih rendah dari biasa.

Habis lulus mau kemana dan ngapain? 

Habis lulus saya mau ngapa-ngapain! Enjoy the journey! 

 

Lulus Kuliah, Cari Kerja apa Cari Kaya?

Ketika semester semakin senja, “kapan lulus” dan “terus mau ngapain?” menjadi semakin sering dilontarkan, terutama oleh keluarga dan kerabat. Well, sehabis bangku kuliah jalan hidup akan lebih menantang. Jika sepanjang sekolah hingga kuliah urusan finansial masih banyak disupport oleh orangtua, kini selepas lulus bantuan biaya tersebut harus segera diputus.

Setiap kali bertemu teman, diskusi yang semula hanya diskusi ringan mendadak berat ketika bertanya tentang rencana di masa depan. Respon setiap teman unik dan berbeda. Ada yang sudah mantap yakin dengan masa depannya, ada yang pasrah namun ada juga bingung. Respon manakah yang tepat dan paling baik? Jawabannya tergantung dari kesiapan diri masing-masing.

Pasrah, bingung ataupun yakin semuanya adalah respon yang wajar. Tapi, ada satu hal yang biasanya menjadi penambah panik, yaitu persoalan kerja. Tak bisa dipungkiri kalau tuntutan hidup semakin berat dari waktu ke waktu. Saat kuliah saja untuk ngeprint berkas revisi skripsi sudah kempat-kempot, apalagi nanti kalau harus bayar cicilan ini itu dengan gaji pas-pasan.

Jujur, aku sendiri pun seringkali bingung dengan apa yang akan terjadi nanti selepas lulus. Namun, aku menilik kembali ke dalam diriku, apakah aku bekerja untuk sekedar menjadi kaya secara materi atau aku memang cari pekerjaan yang menghidupi jiwa bukan sekedar kantong? Yap, aku sangat membutuhkan uang untuk kelangsungan hidup. Usaha orangtuaku sebagai penjual makanan kaki lima tak lagi mujur seperti dahulu, pun mereka sudah semakin renta untuk berjerih lelah. Kini tiba giliranku sebagai yang paling bontot untuk balik berkarya bagi mereka.

Sembari bekerja secara part time, aku menemukan jawaban untuk diriku sendiri. Jika aku bekerja dan terobsesi untuk sekedar menjadi kaya, tandanya aku egois. Kenapa? Tak semua kaya itu jahat loh! Yes, jelas itu, jika dari kekayaan kita malah bisa berderma tentu itu lebih baik. Tapi, gambaranku soal menjadi kaya pernah salah. Gambaranku saat itu, kaya adalah ketika semua gaya hidup dan keinginanku terpenuhi.

Permasalahannya, keinginan manusia adalah tak terbatas. Jika terus menerus berupaya memenuhi gengsi, tentu akan terasa berat. Ada rekan yang panik, selidik demi selidik ternyata setiap harinya ia bergaya hidup lumayan mewah untuk ukuran mahasiswa. Setiap kali makan harus di restoran, belum ditambah biaya nongkrong dan belanja, alhasil pengeluarannya per bulan melejit hingga angka hampir tiga juta, itu pun belum ditambah dengan uang kost dan uang kuliahnya yang masih dibiayai orang tua. Dengan pengeluaran tanpa bekerja sebanyak itu, tentulah ia panik apabila nanti bekerja gajinya tidak sebesar uang jajannya dulu.

Adalah benar sebuah pepatah mengatakan, “Orang yang kaya adalah orang yang merasa cukup.”  Mensyukuri apa yang kita miliki adalah lebih menenangkan jiwa ketimbang memaksakan untuk memiliki apa yang tidak kita punya.

Dan, ada satu kalimat penenang jiwa, terutama untuk rekan-rekan seperjuangan yang juga bingung,

barangsiapa setia dalam perkara kecil, ia juga setia dalam perkara besar” 

Aku percaya bahwa alam semesta memiliki rutenya tersendiri. Orang yang setia dan bertanggung jawab dengan apa yang ada padanya sekarang kelak akan mendapat bagiannya. Orang yang serius saat kuliah pasti akan mendapat bagiannya, entah dapat kerjaan atau buka usaha. Orang yang drop out tapi memiliki passion tentu pula akan sukses, layaknya sejarah telah mencatat seorang Bill Gates dan saksi sukses lainnya.

Permasalahannya, jika sekarang malas, malas kuliah, malas berpikir dan malas berkarya, mau jadi apa? Ya nggak jadi apa-apa!

 

Jogja, 18 Agustus 2016

Dilema Skripsi, Dicaci tapi Lupa Dinikmati

Jika skripsi tanpa revisi, pasti ada banyak yang senang. Ibarat menanam tanpa merawat, lantas apa gunanya sebuah sebuah proses tanpa perbaikan? Tentu hambar dan tak ada seninya! 

Mahasiswa semester akhir mau tidak mau, suka tidak suka memang harus berhadapan dengan Skripsi. Sebuah momok mengerikan, juga menantang bagi sebagian mahasiswa. Studi selama delapan semester atau lebih pada akhirnya akan diakhiri dengan sebuah karya penelitian yang tak lebih dari untaian kata. Lantas, seberapa bermaknakah sebuah skripsi sejatinya?

Ada pepatah mengatakan “Proses takkan mengkhianati akhir”, tapi permasalahnnya di dunia yang serba modern ini banyak orang lebih memilih sesuatu yang cepat alias instant. Proses yang panjang dianggap melelahkan dan membosankan. Mahasiswa berfokus kepada hasil ketimbang proses, lebih peduli pada kecepatan ketimbang ketepatan, dan cepat iri dengan pencapaian orang lain.

Suatu saat ketika berkunjung ke kampus, ada banyak sekali tipe teman-teman dalam mengerjakan skripsi. Bagiku, respon mereka terhadap sebuah skripsi itu unik dan menarik untuk dibahas. Bisa jadi, respon mereka terhadap skripsi adalah respon mereka juga terhadap hidup yang mereka jalani setiap harinya.

Skripsi? Masa Bodo! 

Ada seorang teman, di semesternya yang sudah menginjak angka delapan, dia masih belum menyentuh skripsi sama sekali. Lama? Bisa jadi! Bodoh? Tentu tidak ada manusia bodoh! Malas? mungkin sih. Setiap harinya dia hanya berkutat dengan makan, tidur, kuliah ala kadarnya dan hang out. Luar biasanya adalah dia memiliki rekan sepergaulan yang serupa, sama-sama tidak peduli akan kuliahnya selama hang out jalan terus.

Tidak ada yang bisa menjamin kesuksesan seseorang. Makhluk super rajin sekalipun belum jadi jaminan ketika lulus akan langsung dapat pekerjaan yang menggiurkan. Memang manusia punya nasib tersendiri, tapi berkaca pada tipe mahasiswa Masa Bodo ini, bisa dipastikan kalau mereka tidak disiplin terhadap diri mereka sendiri.

Ketika sebuah skripsi mereka abaikan demi persahabatan semu, bisa jadi mereka kehilangan esensi hidup mereka. Ketika zona nyaman menjadi pujaan, tentu mereka akan sakit ketika suatu ketika harus menghadapi tantangan yang di luar kendali.

Panik 

Duh, aduh, nanti gimana, ah entahlah, takut, stres, depresi, kata-kata itu menjadi kata yang menghiasi setiap kalimat yang terlontar. Mahasiswa dengan tipe ini merasa dirinya insecure dengan pekerjaan yang dia lakukan. Ada tendensi untuk selalu membandingkan proses dirinya dengan orang lain, sehingga yang didapat bukan rasa puas dan aman melainkan ketakutan berlebih.

Ketika orang lain prosesnya sudah melampaui jauh, dia akan merasa kecewa dengan dirinya sendiri, atau memacu dirinya terlalu keras. Apakah itu salah? Tentu tidak karena setiap orang punya pilihannya tersendiri. Tapi, tipe seperti ini melupakan kenikmatan sebuah proses, dimana hasil menjadi fokus utama. Padahal, dari proses yang terjadi, di situlah ada banyak hal terduga yang didapat.

Bahwasannya, Skripsi adalah Perjalanan

Setuju atau tidak, skripsi adalah perjalanan mahasiswa menuju gelar sarjana. Ketika kita pergi ke suatu tempat yang jauh, pilihannya ada dua, menikmatinya atau tidak. Ketika kita memilih tidak maka perjalanan akan sangat menyiksa. Tapi ketika kita memilih menikmatinya, tentu akan nyaman, sekalipun perjalanan itu dinikmati hanya dengan tidur.

Perjalanan ke tempat yang bagus tidak selalu berjalan mulus, ada kelokan, ada tanjakan bahkan bisa juga mogok kendaraannya. Skripsi pun serupa, tak selalu skripsi tanpa revisi, tak selalu judul langsung diterima, tak selalu dosen pembimbing menyenangkan, tak selalu ada teman yang mendukung. Tapi, siapa tahu dari dosen yang menyebalkan itu kita dilatih untuk telaten dan sabar, siapa tahu pula dari judul yang ditolak kita belajar mencari ide lebih kreatif. Bukankah dalam pekerjaan yang dicari adalah ide, karakter dan karya ketimbang nilai?

Ketika kita mengerjakan segala sesuatu dengan hati yang ikhlas, selalu ada hal tak terduga yang kita dapatkan. Sekalipun itu hal kecil, tapi hal itu pastilah bermakna bagi hidup kita. Terlalu banyak mencaci malah akan membuat kita kehilangan mood untuk bekerja, akhirnya skripsi terbengkalai dan kita hanya gigit jari melihat teman sudah mendahului pakai toga.

Lebih Lama bukan Berarti Lebih Buruk

Perjalanan yang baik bukanlah perjalanan yang cepat dan lancar, tapi perjalanan yang menumbuhkan semangat. Ketika proses kita lebih lambat dari orang lain tak perlu berkecil hati. Tetapkan timeline sendiri dan jangan ikut-ikutan orang lain. Sesekali memang bolehlah untuk membandingkan dengan orang lain untuk memacu diri, tapi jangan sampai underestimate pekerjaan kita sendiri.

Karya yang baik adalah karya yang buatan sendiri

Hasil terbaik adalah proses yang dinikmati

Skripsi yang asyik adalah skripsi yang direvisi

Hidup yang asyik adalah hidup yang dinikmati

so? Enjoy aja…… 🙂