Arsip

β€œKetemu di Stasiun Palmerah jam 8 ya Ry!” kata Advent, rekan saya yang akan menjadi kawan perjalanan jelajah Sabtu ini. Jam 07:45 saya sudah tiba di Stasiun Tanahabang. Buru-buru saya berlari, pindah peron dari jalur dua ke lima untuk menaiki KRL tujuan Rangkasbitung yang berangkat tepat pukul 07:50. Tapi saya bernasib sial. Stasiun dipadati penumpang. Eskalator pun mampet. Alhasil saya pun tertinggal kereta.

Nafasnya sedikit tersengal dan bulir-bulir keringat muncul di atas keningnya. Kaka baru saja berjalan sekitar satu kilometer, dari halte busway Pesakih menuju kantor. Setelah beristirahat barang semenit dua menit untuk mendinginkan badan, ia bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri lalu mulai bekerja.

Hari Sabtu. Kendati hari ini bukan weekday di mana orang-orang kantoran bekerja, kereta komuter tetap saja penuh. Dari Stasiun Jatinegara, kereta komuter tujuan Jakarta Kota yang saya naiki ini penuh sesak. Isinya kebanyakan keluarga yang membawa serta anak-anak yang masih kecil. Entah ke mana tujuan mereka, barulah di Stasiun Manggarai mereka turun dan kereta menjadi lebih lowong.

  β€œDi Jakarta mah kalaupun gaji lumayan, pengeluarannya juga gede bro!” kata temanku. Sejak kuliah di Jogja dulu, aku sudah tahu dan yakin benar kalau hidup di Jakarta itu tidak murah, apalagi jika dibandingkan dengan biaya hidup di Jogja yang hanya dengan modal selembar goceng bisa dapat sepiring nasi telur plus sayur dan minum. Tapi, apa daya, pada akhirnya pekerjaan harus membawaku hidup dan menjadi bagian dari metropolitan penopang jutaan jiwa lainnya.