Gondangwinangoen, Saksi Ketika Jawa Pernah Manis

Seabad lalu, negeri kepulauan di tenggara Asia bernama Hindia-Belanda pernah menjadi pengekspor gula terbesar kedua di dunia setelah Rusia. Tingginya produksi gula menjadikan Jawa sebagai tanah yang manis di mana ratusan pabrik gula berdiri. Kini, seabad telah berlalu dan Hindia Belanda telah berganti menjadi Republik Indonesia. Seiring waktu berlalu, kejayaan manisnya Jawa pun pudar. Dari pengekspor terbesar, kini Indonesia menjadi negara pengimpor gula terbesar ketiga di dunia.

img_3723
Menara air di stasiun lori

Belanda pernah berkuasa dan mendandani negeri ini dengan gaya mereka. Gula, si manis yang menjadi komoditi dipandang Belanda sebagai aspek bisnis yang menggiurkan. Klaten yang seabad lalu dianggap sebagai Jawa pedalaman dirasa cocok untuk bertanam tebu dan dibangunlah sembilan parbik gula, salah satunya Gondangwinangoen.

Dijejali rasa penasaran untuk menemukan apa yang menarik dari Klaten, laju motorku terhenti di jalan raya Jogonalan, tepatnya di depan sebuah gapura bertuliskan PG Gondangwinangoen. Ada rel kereta di samping jalan yang mengarah masuk ke dalam kompleks pabrik. Penasaran di mana rel itu berujung, kuparkirkan motor dan melangkah masuk ke dalam kompleks pabrik.

Masuk ke area pabrik lebih jauh, suasana berubah, seolah kita sedang berjalan mundur satu abad sebelumnya. Hari ketika kuberkunjung adalah tanggal merah dan aktivitas pabrik diliburkan, tapi tak tampak pula ada wisatawan yang berkunjung. Rel tua berjejeran dengan gerbong besi pengangkut gula teronggok di atasnya. Sepi dan sunyi, tak ada aktivitas apapun di dalam kompleks Gondangwinangoen.

gondang2
Lokomotif tua yang kini teronggok tak berdaya

Pabrik Gula Gondangwinangoen didirikan pada abad ke-19, tepatnya di tahun 1860 oleh sebuah perusahaan Belanda yang berkedudukan di Amsterdam. Pabrik gula Gondangwinangoen telah merasakan berbagai pengalaman sepanjang perjalanan sejarah Indonesia. Sebagai pabrik gula yang memainkan peranan penting pada masanya, Gondangwinangon pernah terhenti operasinya akibat agresi Jepang, agresi militer Belanda, transisi ke republik hingga kini dikelola oleh pemerintah Indonesia.

Mengikuti ke mana rel tua ini berujung juga terdapat rumah-rumah tua yang dibangun pada era Belanda dan digunakan sebagai tempat tinggal staff. Kesan mistis dan angker memang menyelimuti Gondangwinangoen karena sepi, tapi di balik heningnya Gondang, pabrik ini menyimpan cerita panjang tentang perjalanan gula di Indonesia.

gondang4
Rumah tua yang tak lagi dihuni

Dari ratusan pabrik gula yang berdiri seabad lalu, hanya segelintir yang bisa bertahan. Gondangwinangoen masih bertahan namun tak lagi sejaya dulu. Untuk menjadikannya tetap hidup, dibangunlah museum gula dan sarana wisata di sekitar kompleks pabrik. Atraksi wisata yang menarik adalah menaiki lori tebu berkeliling kebun. Sekalipun tua, rel di sini masih bisa digunakan dan pengunjung diajak untuk kembali ke lorong waktu.

Spot tempat parkir gerbong tua terkadang dijadikan lokasi untuk selfie juga pre-wedding. Pengunjung biasanya tertarik dengan objek-objek yang instagrammable, sehingga sekalipun ada unsur menyeramkan, Pabrik Gondang tetap didatangi wisatawan yang ingin merasakan sensasi abad kolonial.

gondang3
Gerbong tebu tua

Masuk ke bagian dalam pabrik, terdapat mesin pengolahan gula yang masih sama seperti seabad lalu. Peranti pengelola gula masih menggunakan teknologi Belanda, namun di hari libur pengunjung tidak dapat masuk ke dalam tempat pengolahan gula. Jelang dekade 1990-an, mesin-mesin produksi gula mulai uzur termakan usia hingga memaksa pabrik menurunkan produktivitasnya. Di samping itu, perkebunan tebu mulai meredup pamornya dan pemerintah Indonesia memilih untuk mendatangkan gula dari negeri luar.

Untuk segala sesuatu ada masanya, demikian bunyi sebuah frasa dalam kitab kebijaksanaan. Demikian juga dengan nasib industri gula di Indonesia. Dahulu pernah berjaya, kini telah meredup. Akankah bangkit atau tetap terpuruk, kita tidak pernah tahu. Dari pabrik Gondang kita belajar dan paham kalau tanah ini dahulu pernah manis. Hadirnya pabrik gula mendatangkan juga kemakmuran bagi masyarakat sekitar, namun manisnya itu kini telah hambar.

gondang6
Slogan yang terpampang di dinding pabrik.

Rute menuju Gondangwinangoen:

Dari Jogja

Menuju arah prambanan via jalan Solo. Setiba di Prambanan, terus ke timur arah Solo. Memasuki area Jogonalan, di kiri jalan terdapat Pabrik Gula Gondang.

HTM: Free

Parkir motor: Rp 2.000,-

Umbul Cokro, Si Bening dari Klaten

Potret sungai mengalir jernih nampaknya telah menjadi barang langka, terutama untuk mereka yang tinggal di perkotaan. Langka bukan berarti punah, di sudut kabupaten Klaten masih terjaga sebuah kawasan mata air yang kini menjadi terkenal karena kejernihannya, saking jernihnya seolah bisa langsung diminum. Terdapat tiga mata air atau umbul yang kini menjadi primadona Klaten, yaitu Umbul Ponggok, Umbul Manten dan Umbul Cokro.

Umbul-umbul di Klaten memiliki karakteristik air jernih dan segar hingga dasar dari umbul tersebut bisa terlihat. Umbul Ponggok terkenal lebih dahulu berkat hadirnya media sosial dan dijuluki sebagai Bunaken dari Jawa. Berbeda dengan Umbul Ponggok yang berupa kolam, Umbul Cokro adalah sebuah mata air yang mengalir lewat aliran sungai dan dangkal.

img_8543
Jernih dan segar 

Nama Umbul Cokro diambil dari nama sungai yang mengalirinya, yaitu Sungai Cokro yang terletak di kecamatan Tulung, Kabupaten Klaten. Tak terlalu sulit menemukan Umbul Cokro. Jika berkendara dari Jogjakarta, melewati kecamatan Delanggu kemudian berbelok ke barat maka lokasi Umbul Cokro akan ditemukan.

Sekilas, Umbul Cokro terlihat kurang meyakinkan karena berlokasi di dekat pemukiman warga. Gambaranku pertama kali mengunjungi Umbul Cokro paling-paling hanya sebatas waterboom mini yang direnovasi. Tapi, gambaran itu sirna ketika melihat sungai kecil beraliran jernih yang membius setiap orang untuk segera nyemplung. 

Tiket masuk Umbul Cokro dipatok seharga Rp 7.000,- per orang, ditambah dengan parkir Rp 2.000,- per motor. Tiket tersebut tidak hanya berlaku untuk bermain di sekitaran sungai, tapi pengunjung juga bisa bebas bermain di area waterbom. Untuk memanjakan pengunjung, di sepanjang aliran sungai telah berdiri deretan warung, penjaja sate dan gorengan.

Awalnya sempat ragu untuk duduk menyewa tempat di sebuah pondokan karena takut harganya mahal. “Monggo mas, sepuluh ribu mawon kalau di atas, lima ribu kalau di bawah,” ucap seorang ibu menawarkan lapak tikarnya. Satu gazebo dibandrol seharga Rp 10.000,-, harga yang terjangkau. Sambil melepas penat di gazebo, juga disediakan gorengan seharga Rp 2.000,- per tiga biji. Karena lapar, kami bertujuh ludes melahap 75 biji gorengan.

Bagian paling mengasyikkan dari berkunjung ke Umbul Cokro adalah sesi nyebur. Sekilas, air yang jernih begitu menggoda, tapi begitu mencelup jari ke air, badan seketika akan bergidik karena dingin. Tapi, jika dirasa-rasa dinginnya maka bisa dipastikan agenda nyemplung akan batal karena takut. Jadi, segera celup badan ke air dan seketika rasa segar akan menyambut.

Perlu berhati-hati jika berjalan di aliran sungai karena batu-batu licin dan agak tajam. Tak perlu kuatir tenggelam karena tinggi air hanya maksimal se-dada orang dewasa. Jika malas berenang, tersedia pelampung dan ban sewaaan seharga Rp 5.000,- per buahnya.

Pengelolaan Umbul Cokro jauh lebih baik, terbukti dengan resiknya area wisata dari sampah bertebaran. Juga yang paling penting adalah kondisi kamar mandi dan kamar ganti yang tidak bau pesing. Jika membawa anak kecil, pengunjung bisa memanfaatkan area water boom  di bagian atas umbul.

So, jangan lupa mampir ke Umbul Ponggok kalau sedang ke Klaten. Dengan berwisata, kita memajukan potensi pariwisata dan masyarakat lokal.

img_8558
Musim panas di Khatulistiwa

———————

Rute menuju Cokro:

  1. Dari Jogja ambil arah menuju Solo
  2. Memasuki kota Klaten, ambil terus arah menuju Solo hingga sampai di Delanggu
  3. Di Delanggu, ada perempatan ambil ke kiri. Jika kurang yakin bisa gunakan GPS, Gunakan Penduduk Setempat.
  4. Ambil arah ke barat, ikuti jalan, ada pabrik aqua di kiri jalan, lurus terus.
  5. Ikuti arah panah menuju Umbul Cokro Tulung

Sendang Sriningsih, Oase Batin di Tenggara Prambanan

Ada kalanya di tengah ritme hidup yang semakin rumit, kita perlu berhenti sejenak. Berhenti untuk terlarut dalam liturgi, ataupun bisikan angin. Ketika jiwa telah kembali penuh, kembalilah kita pada ibadah yang sejati, “Pergilah dan perbuatlah demikian.”

Jalanan Yogyakarta tak lagi selenggang dulu, kini perlu waktu bermenit-menit untuk bisa lolos dari satu lampu merah ke lampu merah berikutnya. Perjalanan menuju Prambanan di jam-jam sibuk bisa jadi perjalanan yang cukup melelahkan lantaran macet yang cukup panjang.

Terlepas dari kemacetan panjang, di sebelah tenggara Prambanan berdiri sebuah tempat untuk menenangkan diri yang kini dikenal sebagai Sendang Sriningsih. Saya memacu sepeda motor melibas padatnya jalan raya Yogya-Solo dengan harapan bisa menemukan ketenangan di sendang nanti. Ini bukan kali pertama saya mengunjungi sendang yang membuat saya selalu ingin kembali.

IMG_2751
Sawah membentang di sepanjang jalan menuju Sendang Sriningsih

Perjalanan menuju Sriningsih bisa ditempuh melewati jalur utama Yogya-Solo melewati candi Prambanan. Sebetulnya ada jalan langsung menuju Sendang Sriningsih melewati Candi Boko, namun saya selalu tersesat karena minimnya papan penujuk. Jalan yang saya pilih adalah via Gantiwarno, Klaten. Cukup mudah menemukan Sendang Sriningsih. Selepas Prambanan, melaju terus hingga melewati dua lampu merah dan menemukan SPBU di kiri jalan. Segera putar balik dan berbelok menuju jalan kampung, dari sini papan penunjuk arah cukup memadai.

Bangunan rumah perlahan pudar seiring dengan jalan aspal yang menerobos masuk melintas persawahan. Hijau membentang bagai permadani. Ketika sawah mulai menghilang, jalanan yang semula datar kini mulai menanjak dan dari sini terdapat beberapa percabangan jalan. Jangan pernah ragu untuk gunakan GPS alias Gunakan Penduduk Setempat, yaitu bertanya langsung pada warga tentang arah yang tepat.

Jalanan yang menanjak mengarahkan kita masuk ke dalam lebatnya hutan yang masih terjaga. Sekalipun menanjak, jalanan sudah teraspal rapi sehingga aman dilalui kendaraan bermotor. Jalan aspal akan berakhir dan digantikan oleh jalan tanah, itu tandannya kita telah tiba di pelataran Sendang Sriningsih. Sepeda motor bisa dititipkan di pekarangan warga dengan membayar tiket parkir serelanya.

Oase Batin dan Nikmat Ibadah

Sejatinya, Sendang Sriningsih adalah bangunan untuk umat Katolik berdoa dan memohon rahmat Tuhan, namun tidak ada larangan untuk orang lain non-katolik berkunjung. Siapapun bisa hadir dan menikmati ketenangan Sendang Sriningsih.

Menilik pada sejarah pendiriannya, usia sendang ini telah berpuluh-puluh tahun. Pendiriannya dimulai dari kemunculan sebuah sendang, atau sumber air  bernama Sendang Duren yang kala itu dianggap angker. Muncul sebuah ide dari seorang Romo juga Lurah setempat kala itu untuk menjadikan tempat yang konon katanya angker ini menjadi sebuah tempat peziarahan untuk berdoa.

IMG_2740
Lilin-lilin yang menyala sebagai perlambang harapan dan terang dunia

Sendang yang semula angker tersebut perlahan ditata dan dipercantik sehingga tak ada lagi kesan angker disana. Tepat di samping sendang terdapat Goa Maria yang dihiasi oleh pepohonan tua dengan akar menggantung. Suasana di sekeliling Goa Maria sungguh tenang, hanya suara anjing menggonggong yang sesekali memecah keheningan.

Saya tertegun menikmati keteduhan. Alih-alih berdoa, kaki saya mengajak untuk melangkah lebih jauh ke sisi lain sendang. Selain terdapat rute jalan salib yang memutari bukit, terdapat juga Puncak Golgota yang berdiri sebuah salib kokoh perlambang akhir sengsara Kristus. Akhir dari prosesi jalan salib akan mengantar peziarah pada Puncak Golgota yang dari situ pemandangan Bukit Mintorogo maupun kota Klaten tersaji dengan indah.

Memandangi salib di Puncak Golgota, kaki pun terasa lemas dan perlahan menarik dirinya hingga mencium tanah. Sungguh teduh suasana sore itu. Tak ada orang lain di Puncak Golgota, hanya saya sendiri bersama desiran angin nan lembut. Mengambil waktu beberapa menit untuk berdiam dan menziarahi hati, saya menemukan sebuah jawaban atas ibadah yang sejati.

IMG_2737
Salib kayu berdiri di puncak Golgota

“Pergilah dan perbuatlah demikian,” sebuah penggalan kalimat yang diucapkan oleh Kristus. Kalimat itu begitu menggema kuat dan menghancurkan semua konsep ibadah yang selama ini sering dianggap paling benar. Ibadah sejati bukanlah ketika seseorang duduk menikmati liturgi atau mengurung diri berjam-jam buat berdoa. Ibadah sejati terjadi ketika seseorang beranjak dari tempatnya, pergi, dan melakukan apa yang benar serta baik bagi sesama. Sebuah pemahaman akan ibadah yang sederhana namun memikat, kecil namun berdampak besar.

Ada kalanya di tengah ritme hidup yang semakin rumit, kita perlu berhenti sejenak. Berhenti untuk terlarut dalam liturgi, ataupun bisikan angin. Ketika jiwa telah kembali penuh, kembalilah kita pada ibadah yang sejati, “Pergilah dan perbuatlah demikian.”